Anda di halaman 1dari 15

Ada 6 jenis tes garpu tala , yaitu:

1. Tes batas atas dan batas bawah


2. Tes Rinne
3. Tes Weber
4. Tes Schwabach
5. Tes Bing
6. Tes Stenger
Tes-tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda dan saling melengkapi. 14
1. TES BATAS ATAS BATAS BAWAH
Tujuan : menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar penderita melewati hantaran udara
bila dibunyikan pada intensitas ambang normal.
Cara Pemeriksaan : Semua garpu tala (dapat dimulai dari frekuensi terendah berurutan sampai
frekuensi tertinggi atau sebaliknya) dibunyikan satu persatu, dengan cara dipegang tangkainya
kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan dengan lunak (dipetik dengan ujung jari kuku,
didengarkan terlebih dahulu oleh pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapa intensitas
bunyi yang terendah bagi orang normal/nilai ambang normal), kemudian diperdengarkan pada
penderita dengan meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1-2 cm dalam posisi tegak dan 2
kaki pada garis yang menghubungkan MAE kanan dan kiri. 14
Gambar 8 : Dikutip dari kepustakaan 15
Interpretasi :
Normal : mendengar garpu tala pada semua frekuensi
Tuli Konduksi : batas bawah naik (frekunsi rendah tak terdengar)
Tuli sensori neural : batas atas turun (frekuensi tinggi tak terdengar)
Kesalahan terjadi bila garpu tala dibunyikan terlalu keras sehingga tidak dapat mendeteksi pada
frekuensi mana penderita tak mendengar. 14
2. TES RINNE
Tujuan : membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga penderita.

Cara Pemeriksaan :
Bunyikan garpu tala frekuensi 512 Hz, letakkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid
penderita (posterior dari MAE) sampai penderita tak mendengar, kemudian cepat pindahkan ke
depan MAE penderita. Apabila penderita masih mendengar garpu tala di depan MAE disebut Rinne
positif. Bila tidak mendengar disebut Rinne negatif.
Bunyikan garpu tala frekuensi 512 Hz, kemudian dipancangkan pada planum mastoid, kemudian
segera dipindahkan di dpan MAE, kemudian penderita ditanya mana yang terdengar lebih keras.
Bila lebih keras di depan disebut rinne positif, bila lebih keras di belakang disebut rinne negatif.
3,14,17,18,19
Gambar 9 : Dikutip dari kepustakaan 18
Interpretasi :
Normal : Rinne positif
Tuli konduksi : Rinne negatif
Tuli sensori neural : Rinne positif
Kadang-kadang terjadi false Rinne (pseudo positif atau pseudo negatif) terjadi bila stimulus bunyi di
tangkap oleh telinga yang tidak di tes, hal ini dapat terjadi bila telinga yang tidak tes
pendengarannya jauh lebih baik daripada yang di tes.
Kesalahan pada pemeriksaan ini dapat terjadi bila :
garpu tala diletakkan dengan baik pada mastoid atau miring, terkena rambut, jaringan lemak tebal
sehingga penderita tidak mendengar atau getaran terhenti karena kaki garpu tala tersentuh
aurikulum.
Penderita terlambat memberi isyarat waktu garpu tala sudah tak terdengar lagi, sehingga waktu di
pindahkan di depan MAE getaran garpu tala sudah berhenti. 15
3. TES WEBER
Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita
Cara Pemeriksaan :
Garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan, kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus di garis
median, biasanya di dahi (dapat pula pada vertex, dagu atau pada gigi insisivus) dengan kedua kaki
pada garis horisontal. Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yang tidak mendengar
atau mendengar lebih keras . Bila mendengar pada satu telinga disebut laterisasi ke sisi telinga

tersebut. Bila kedua telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar berarti tak ada laterisasi.
3,14,17,18,19
Gambar 9 : Dikutip dari kepustakaan 18
Interpretasi :
Normal : Tidak ada lateralisasi
Tuli konduksi : Mendengar lebih keras di telinga yang sakit
Tuli sensorineural : Mendengar lebih keras pada telinga yang sehat
Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinannya dapat lebih dari satu.
Contoh : lateralisasi ke kanan, telinga kiri normal, dapat diinterpretasikan :
Tuli konduksi kanan, telinga kiri normal
Tuli konduksi kanan dan kiri, tgetapi kanan lebih berat
Tuli sensorineural kiri, telinga kanan normal
Tuli sensorineural kanan dcan kiri, tetapi kiri lebih berat
Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri. 14
4. TES SCHWABACH
Tujuan : membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita dengan pemeriksa
Cara pemeriksaan :
garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus pada planum
mastoid pemeriksa, bila pemeriksa sudah tidak mendengar, secepatnya garpu tala dipindahkan ke
mastoid penderita. Bila penderita masih mendengar maka schwabach memanjang, tetapi bila
penderita tidak mendengar, terdapat 2 kemungkinan yaitu Schwabah memendek atau normal.
Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik, yaitu tes pada penderita dulu baru ke
pemeriksa.
Garpu tala 512 dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita, bila penderita
sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala dipindahkan pada mastoid pemeriksa, bila
pemeriksa tidak mendengar berarti sam-sama normal, bila pemeriksa masih masih mendengar
berarti schwabach penderita memendek. 3,14,17,18,19
Gambar 10 : Dikutip dari kepustakaan 18
Interpretasi :
Normal : Schwabach normal

Tuli konduksi : Schwabach memanjang


Tuli sensorineural : Schwabach memendek
Kesalahan terjadi bila :
Garpu tala tidak di letakkan dengan benar, kakinya tersentuh sehingga bunyi menghilang
Isyarat hilangnya bunyi tidak segera diberikan oleh penderita. 14
5. TES BING (Tes Oklusi)
Tes Bing adalah aplikasi dari apa yang disebut sebagai efek oklusi, dimana garpu tala terdengar
lebih keras bila telinga normal ditutup.
Cara pemeriksaan :
Tragus telinga yang diperiksa ditekan sampai menutup liang telinga, sehingga terdapat tuli
konduktif kira-kira 30 dB. Garpu tala digetarkan dan diletakkan pada pertengahan kepala (seperti
pada tes Weber).
Interpretasi :
Bila terdapat lateralisasi ke telinga yang ditutup, berarti telinga tersebut normal.
Bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras, berarti telinga tersebut menderita tuli
konduktif. 3,19
6. TES STENGER
Tes ini digunakan pada pemeriksaan tuli anorganik (simulasi atau pura-pura tuli).
Cara pemeriksaan : menggunakan prinsip masking.
Misalnya pada seseorang yang berpura-pura tuli pada telinga kiri. Dua buah garpu tala yang identik
digetarkan dan masing-masing diletakkan di depan telinga kiri dan kanan, dengan cara tidak
kelihatan oleh yang diperiksa. Garpu tala pertama digetarkan dan diletakkan di depan telinga kanan
(yang normal) sehingga jelas terdengar. Kemudian garpu tala yang kedua digetarkan lebih keras
dan diletakkan di depan telinga kiri (yang pura-pura tuli).
Interpretasi :
Apabila kedua telinga normal karena efek masking, hanya telinga kiri yang mendengar bunyi; jadi
telinga kanan tidak akan mendengar bunyi. Tetapi bila telinga kiri tuli, telinga kanan tetap mendengar
bunyi. 19
KESIMPULAN

Tes garpu tala adalah suatu tes untuk mengevaluasi fungsi pendengaran individu secara kualitatif.
Frekuensi yang dipakai untuk tes garis pendengaran digunakan garpu tala dengan frekuensi 128
Hz, 256 Hz, 152 Hz, 1024 Hz, dan 2048 Hz.
Frekuensi yang sering digunakan untuk tes garpu tala terutama pada tes Rinne, tes Weber, tes
Schwabach adalah 512 Hz, karena mewakili frekuensi percakapan normal.
Tes Weber dan tes Rinne adalah tes garpu tala yang penting untuk mendiagnosis atau
mengkonfirmasi ketulian, tapi hanya tes Rinne yang dapat mendiagnosis jenis ketuliannya,
sedangkan tes weber hanya mendeteksi perbedaan antara kedua telinga. Namun bila jenis
ketuliannya sudah ditegakkan misalnya tuli konduktif, tes Weber lah yang lebih sensitif untuk
mendeteksi tingkat keparahannya dibandingkan tes rinne. Berdasarkan tes-tes garpu tala yang
dapat dilakukan, disimpulkan seperti p ada tabel berikut:
Tes Garpu Tala Normal Tuli Konduktif Tuli Sensorineural
Garis pendengaran Seluruhnya didengar Batas bawah naik Batas atas menurun
Rinne Positif Negatif Positif atau false negatif
Weber Positif Lateralisasi ke sisi sakit Lateralisasi ke sisi sehat
Schwabach Normal Memanjang Memendek

ANATOMI TELINGA
Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga luar
Gambar 1 : Dikutip dari kepustakaan 2
Bagian luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar terdiri dari daun telinga, lubang
telinga, dan saluran telinga luar. Telinga luar meliputi daun telinga atau pinna, liang telinga atau
meatus auditorius eksternus (MAE), dan gendang telinga atau membrana timpani. Bagian daun
telinga berfungsi untuk membantu mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju
gendang telinga. Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk menangkap
suara dan bagian terpenting adalah liang telinga. Saluran ini merupakan hasil susunan tulang dan
rawan yang dilapisi kulit tipis. 3,4
Gambar 2 : Dikutip dari kepustakaan 5

Di dalam saluran terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan zat seperti lilin yang disebut serumen
atau kotoran telinga. Hanya bagian saluran yang memproduksi sedikit serumen yang memiliki
rambut. Pada ujung saluran terdapat gendang telinga yang meneruskan suara ke telinga dalam. 7
Gambar 3 : Dikutip dari kepustakaan 6
Membrana timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan
puncaknya, umbo, mengarah ke medial. Membrana timpani umumnya bulat. Membrana timpani
tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar, lapisan fibrosa di bagian tengah dimana
tangkai maleus diletakkan, dan lapisan mukosa bagian dalam. Lapisan fibrosa tidak terdapat di atas
prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timpani yang disebut membrana
Shrapnell menjadi lemas (flaksid). 3
Telinga Tengah
Telinga tengah meliputi gendang telinga, 3 tulang pendengaran (martir atau malleus, landangan atau
incus, dan sanggurdi atau stapes). Muara tuba Eustachi juga berada di telinga tengah. 7
Gambar 4 : Dikutip dari kepustakaan 2
Telinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan enam sisi. Dinding
posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut baji. Promontorium pada
dinding medial meluas ke lateral ke arah umbo dari membran timpani sehingga kotak tersebut lebih
sempit pada bagian tengah. 3
Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fossa kranii media. Pada bagian atas
dinding posterior terdapat aditus ad antrum tulang mastoid dan di dalamnya adalah saraf fasialis.
Otot stapedius timbul pada daerah saraf fasialis dan tendonnya menembus melalui suatu piramid
tulang menuju ke leher stapes. Saraf korda timpani timbul dari saraf fasialis dibawah stapedius dan
berjalan ke lateral depan menuju inkus tetapi di medial maleus, untuk keluar dari telinga tengah
lewat sutura petrotimpanika. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingualis dan
menghantarkan serabut-serabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan serabut-serabut
pengecap dari dua pertiga anterior lidah. 3
Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang disebelah superolateral menjadi sinus
sigmodeus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya adalah aliran vena utama
rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke telinga tengah dari dasarnya. Bagian
bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus. Di atas kanalis ini, muara tuba eustakius dan otot
tensor timpani yang menempati daerah superior tuba kemudian membalik, melingkari prosesus
kokleariformis dan berinsersi pada leher maleus.

Dinding lateral telinga tengah adalah dinding tulang epitimpanum di bagian atas, membran timpani,
dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah.
Bangunan yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran
koklea yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintas promontorium ini. Fenestra rotundum
terletak di posteroinferior dari promontorim, sedangkan kaki stapes terletak pada fenestra ovalis
pada batas atas posterosuperior promontorium. Kanalis falopii bertulang yang dilalui saraf fasialis
terletak di atas fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis di anterior hingga piramid
stapedius di posterior.
Rongga mastoid berbentuk seperti piramid berisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap
mastoid adalah fossa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fossa kranii posterior.
Sinus sigmoideus terletak dibawah dura mater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid
terdapat aditus ad antrum. Tonjolan kanalis semisirlukaris lateralis menonjol ke dalam antrum.
Dibawah kedua patokan ini berjalan saraf kranialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar dari tulang
temporal melalui foramen stilomastoideus di ujung anterior krista yang dibentuk oleh insersio otot
digastrikus. Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah dapat dipalpasi di
posterior aurikula.
Tuba eustachi merupakan rongga yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring.
Bagian lateral tuba eustachius adalah yang bertulang, sementara 2/3 bagian medial bersifat
kartilaginosa. Origo otot tensor timpani terletak disebelah atas bagian bertulang sementara kanalis
karotikus terletak di bagian bawahnya. Bagian bertulang rawan berjalan melintasi dasar tengkorak
untuk masuk ke faring di atas otot konstriktor superior. Bagian ini biasanya tertutup tetapi dapat
dibuka melalui kontraksi otot levator palatinum dan tensor palatinum yang masing-masing disarafi
pleksus faringealis dan saraf mandibularis. Tuba eustachius berfungsi untuk menyeimbangkan
tekanan udara pada kedua sisi membrana timpani. 3,4
Gambar 5 : Dikutip dari kepustakaan 2
Telinga Dalam
Bentuk telinga dalam sedemikian kompleksnya sehingga disebut sebagai labirin. Derivat vesikel
otika membentuk suatu rongga tertutup yaitu labirin membran yang terisi endolimfe, satu-satunya
cairan ekstraselular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium. Labirin membran dikelilingi
oleh cairan perilimfe (tinggi natrium, rendah kalium) yang terdapat dalam kapsula otika bertulang.
Labirin tulang dan membran memiliki vestibular dan bagian koklear. Bagian vestibularis (pars
superior) berhubungan dengan keseimbangan, sementara bagian koklearis (pars inferior)
merupakan merupakan organ pendengaran kita.
Koklea melingkar seperti rumah siput dengan dua dan satu-setengah putaran. Aksis dan spiral

tersebut dikenal sebagai mediolus, berisi berkas saraf dan suplai arteri dari arteri vertebralis.
Serabut saraf kemudian berjalan menerobos suatu lamina tulang yaitu lamina spiralis oseus untuk
mencapai sel-sel sensorik organ Corti. Rongga koklea bertulang dibagi menjadi tiga bagian oleh
duktus koklearis yang panjangnya 35 mm dan berisi endolimfe. Bagian atas adalah skala vestibuli,
berisi perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis dari membrana Reissner yang tipis. 3,4
Gambar 6 : Dikutip dari kepustakaan 2
Bagian bawah adalah skala timpani juga mengandung perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis
oleh lamina spiralis oseus dan membrana basilaris. Perilimfe pada kedua skala berhubungan pada
apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui suatu celah yang dikenal
sebagai helikotrema. Membrana basilaris sempit pada basisnya (nada tinggi) dan melebar pada
apeks (nada rendah). 3
Gambar 7 : Dikutip dari kepustakaan 7
Terletak di atas membrana basilaris dari basis ke apeks adalah organ Corti, yang mengandung
organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ Corti terdiri dari satu
baris sel rambut dalam (3.000) dan tiga baris sel rambut luar (12.000). Sel-sel ini menggantung
lewat lubang-lubang lengan horisontal dari suatu jungkit-jungkit yang dibentuk oleh sel-sel
penyokong. Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada
permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang
cenderung datar, bersifat gelatinosa dan aselular, dikenal sebagai membrana tektoria. Membrana
tektoria disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial disebut sebagai limbus.
3
Gambar 8 : Dikutip dari kepustakaan 2
Bagian vestibularis teling dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus, dan kanalis semisirkularis.
Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel-sel
rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada lapisan ini terdapat
pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar daripada endolimfe.
Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan
menimbulkan rangsangan pada reseptor.
Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus sempit yang juga merupakan saluran
menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada bidang yang tegak lurus terhadap
makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada utrikulus. Masing-masing kanalis
mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista.

Sel-sel rambut menonjol pada suatu kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam kanalis
semisorkularis akan menggerakkan kupula yang selanjutnya akan mengbengkokkan silia sel-sel
rambut krista dan meranngsang sel reseptor. 3
FISIOLOGI PENDENGARAN
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk
gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan
membran timpani, diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan
mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas
membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke
stapes yang menggerakkan tingkap lonjong, sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak.
Getaran diteruskan melalui membran reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan
menimbulkan gerak relatif antara membran basalis dan membran tektoria. Proses ini merupakan
rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal
ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan
proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke
korteks pendengaran ( area 39 40 ) di lobus temporalis. 8,9,19
JENIS-JENIS GANGGUAN PENDENGARAN
Tuli atau gangguan dengar adalah kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau
ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. 10
Gangguan pendengaran dapat dikategorikan berdasarkan letak atau bagaian apa yang mengalami
kerusakan pada sistem auditorik. Terdapat tiga tipe dasar dari gangguan pendengaran, yaitu tuli
konduktif, tuli sensorineural, dan tuli campuran. 11
Tuli Konduktif
Tuli konduktif terjadi ketika bunyi tidak dapat disalurkan masuk melalui liang telinga luar menuju ke
membrana timpani dan diteruskan ke tulang pendengaran (ossicle), di telinga tengah. Tuli konduktif
biasanya melibatkan suatu reduksi dari tingkatan bunyi, atau kemampuan untuk mendengar bunyi.
Tipe ketulian ini dapat dikoreksi dengan terapi medis ataupun dengan pembedahan.
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan tuli tipe konduktif, misalnya :
Kondisi yang berhubungan dengan kelainan seperti cairan yang terdapat pada telinga tengah yang
berasal dari sekret di hidung (rhinore), alergi (serous otitis media), fungsi tuba eustachi yang
menurun, otitis media, perforasi dari membran timpani, tumor benign.

Adanya serumen
Infeksi pada liang telinga (otitis eksternal)
Adanya benda asing pada liang telinga
Adanya kelainan yang terjadi pada telinga luar, liang telinga, ataupun telinga tengah. 11
Tuli Sensorineural
Tuli sensorineural terjadi ketika nervus dan sel-sel rambut yang terdapat di telinga dalam (koklea)
mengalami kerusakan dan tidak dapat mentransmisikan sinyal-sinyalnya ke otak. Setiap pasien
mempunyai keluhan yang sama yaitu dapat mendengar bunyi namun tidak dapat mengerti secara
jelas apa yang dikatakan oleh suara tersebut. Proses penuaan adalah penyebab tersering dari
ketulian tipe ini. 12
Selain itu, tuli sensorineural dapat disebabkan oleh trauma pada saat lahir, obat-obatan yang
ototosik, serta sindrom genetik. Tuli sensorineural juga dapat terjadi sebagai akibat dari paparan
suara yang bising dalam frekuensi sering, virus, trauma kepala, dan tumor. 11
Tuli Campuran
Pada tipe ini, seseorang biasanya mengalami dua tipe ketulian, dan ini disebut tuli campuran.
Bentuk ini digunakan ketika kedua bentuk dari tuli konduktif dan tuli sensorineural ada bersamaan
pada satu telinga. 13
Tuli tipe ini terjadi karena adanya interferensi dari impuls-impuls saraf ditingkat korteks
pendengaran. Kelainan terdapat pada lintasan saraf pendengaran dan reseptor suara pada tingkat
kortikal. 9
TES GARPU TALA
Tes garpu tala adalah suatu tes untuk mengevaluasi fungsi pendengaran individu secara kualitatif
dengan menggunakan alat berupa seperangkat garpu tala frekuensi rendah sampai tinggi 128 HZ2048 Hz.
Satu perangkat garpu tala memberikan skala pendengaran dari frekuensi rendah hingga tinggi akan
memudahkan survei kepekaan pendengaran. Cara menggunakan garpu tala yaitu garpu tala di
pegang pada tangkainya, dan salah satu tangan garpu tala dipukul pada permukaan yang berpegas
seperti punggung tangan atau siku. Perhatikan jangan memukulkan garpu tala pada ujung meja atau
benda keras lainnya karena akan menghasilkan nada berlebihan, yang adakalanya kedengaran dari
jarak yang cukup jauh dari garpu tala dan bahkan dapat menyebabkan perubahan menetap pada
pola getar garpu tala. 3

PENGKAJIAN FISIK PADA SISTEM PENGINDERAAN THT


PEMBAHASAN

1. Telinga
Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga keseimbangan.
Menurut struktur anatominya telinga dapat di bagi menjadi tiga bagian, yaitu teling
luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Pengkajian telinga secara umum bertujuan
untuk mengetahui keadaan telinga luar , saluran telinga, gendang telinga/
membran timpani, dan pendengaran. Alat alat yang perlu dipersiapkan dalam
pengkajian telinga antara lain otoskop, garpu tala, dan arloji.
Inspeksi dan palpasi
1. Bantu pasien dalam posisi duduk. Pasien yang masi anak anak dapat diatur
duduk dipangkuan orang lain.
2. Atur posisi anda duduk menghadapi sisi telinga pasien yang akan dikaji.
3. Untuk pencahayaan gunakan auriskop, lampu kepala, ayau sumber cahaya yang
lain sehingga tangaan anda akan bebas bekerja.
4. Mulai amat teling luar, periksa ukuran, bentuk, warna, lesi, dan adanya massa
pada pinna.
5. Lanjutkan pengkajian palpasi dengan cara memegang telinga dengan ibu jari dan
jari telunjuk.
6. Palpasi kartilago telinga luar secara sistematis yaitu dari jaringan lunak,
kemudian jaringan keras, dan catat bila ada nyeri.
7. Tekan bagian tragus kedalam dan tekan pula tulang telinga di bawah daun
telinga. Bila ada peradangan, pasien akan merasa nyeri.
8. Bandingkan telinga kiri dan telinga kanan.
9. Bila diperlukan, lanjutkan pengkajian telinga bagian dalam.
10. Pegang bagian pinggir daun telinga/heliks dan secara perlahan lahan tarik
daun telinga ke atas dan kebelakang sehingga lubang sehingga lubang telinga
menjadi lurus fan mudah di amati.
11. Amati pintu masuk lubang telinga dan perhatikan ada tidaknya
peradangan,perdarahan, atau kotoran.
12. Dengan hati hati masukkan oyoskop yang menyala ke dalam llubang telinga.
13. Bila letak otoskop sudah tepat rahkan mata anda pada eyepiece.

14. Amati adanya kotoran, serumen, peradangan atau adanya benda asing pada
dinding lubang telinga.
15. Amati benttuk, warna, transparansi, kilau, perforasi, atau adanya darah/cairan
pada membrane timpani.

Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk mengetahui fungsi telinga. Secara


sederhana pendengaran dapat diperiksa dengan menggunakan suara bisikan.
Pendengaran yang baik akan akan dengan mudah mengetahui adanya bisikan. Bila
pendengaran dicurigai tidak berfungsi baik, pemeriksaan yang lebih teliti dapat
dilakukan yaitu dengan menggunakan garpu tala atau tes audimetri.

2. Hidung
Hidung dikaji dengan tujuan untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi hidung.
Pengkajian hidung dimulai dari bagian luar, bagian dalam, kemudian sinus sinus.
Pasien dipersiapkan dalam posisi duduk bila memungkinkan. Peralatan yang
dipersiapkan antara lain otoskop, speculum hidung, cermin kecil, dan sumber
penerangan/lampu.

Inspeksi dan palpasi


Cara inspeksi dan palpasi hidung bagian luar serta palpasi sinus sinus.
1. Duduk menghadapi pasien.
2. Atur penerangan dan amati hidung bagian luar dari sisi depan, samping, dan
atas. Perhatikan bentuk atau tulang hidung dari keriga sisi ini.
3. Amati warna dan pembekakan pada kulit hidung.
4. Amati kesimetrisan lubang hidung.
5. Lanjutkan dengan melakukan palpasi hidung luar dan catat bila ditemukan
ketidaknormalan kulit atau tulang hidung.
6. Kaji mobilitas septum nasi.
7. Palpasi sinus maksilaris, frontalis, dan etmoidalis. Perhatikan adanya nyeri tekan.

Untuk dapat melakukan inspeksi hidung bagian dalam, ada berapa yang diperlukan
antara lain otoskop, speculum hidung, cermin kecil, dan lampu.
Cara inspeksi hidung bagian dalam:
1. Duduk menghadap pasien.
2. Pasang lampu kepala
3. Atur lampu sehingga tepat menerangi lubang hidung.
4. Elevasikan ujung hidung pasien dengan cara menekan menekan hidung secara
lembut dengan ibu jari anda, kemudian amati bagian anterior lubang hidung.
5. Amati posisi septum nasi dan kemungkinan adanya perfusi
6. Amati bagian konka nasalis inferior
7. Pasang ujung speculum hidung pada lubang hidung sehingga rongga hidung
dapat diamati
8. Untuk memudahkan pengamatan pada dasar hidung atau posisi kepala sedikit
menegadah
9. Dorong kepala menengadah sehingga bagian atas rongga hidung mudah di amati
10. Amati benruk dan posisi septum, kartilago, dan dinding dinding rongga hidung
(warna, sekresi, bengkak)
11. Bila sudah selesai lepas speculum secara perlahan lahan.

3. Mulut dan Faring


Pengkajian mulut dan faring dilakukan dengan posisi pasien duduk. Pencahayaan
harus baik sehingga semua bagian mulut dapat diamati dengan jelas. Pengkajian
dimulai dengan mengamati bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lender, pipi bagian dalam
lantai dasar mulut, dan platum/ langit langit mulut kemudian faring.
Inspeksi
1. Bantu pasien duduk berhadapan dan tinggi yang sejajar dengan anda
2. Amati bibir untuk mengetahi adanya kelainan congenital bibir sumbing, warna
bibir, ulkus ,lesi, dan massa.
3. Lanjutkan pengamatan pada gigi dan anjurkan pasien membuka mulut

4. Atur encahayaan yang memadai dan bila dioerlukan gunakan penekan lidah agar
gigi akan akan tampak lebih jelas
5. Amati posisi, jarak, gigi rahang, atas dan bawah, ukuran, warna, lesi, atau adanya
tumor pada setiap gigi. Amati juga akar- akar gigi dan gusi secara khusus.
6. Periksa setiap gigi dengan cra mengetuk secara sistematis, bandingkan gigi
bagian kiri, kanan, atas, dan bawah serta anjurkan pasien untuk member tahu bila
merasa nyeri sewaktu giginya
7. Perhatikan pula cirri cirri umum sewaktu melakukan pengkajian antara lain
kebersihan mulur dan bau mulut.
8. Lanjutkan pengamatan pada lidah dan perhtikan kesimetrisannya. Minta pasien
menjulurkan lidah dan amati kelurusan , warna, ulkus, dan setiap ada kelainan
9. Amati warna, adanya pembengkakan , tumor, sekresi , peradangan pada selaput
lender semua nagian mulut secara sistemis
10. Beri kesempatan pasien untuk istirahat dengan menutup mulut sejenak bila
capai, lalu lanjutkan insfeksi faring dengan menganjurkan pasien membuka mulut
dan menekan lidah pasien berkata ah. Amati kesimetrisan uvula faring.

Palpasi
Palpasi pada pengkajian mulut dilakukan terutama bila dari inspeksi belum
diperoleh data yang meyakinkan . tujuan palpasi pada mulut terutama adalah
mengetahui dengan palpasi, yang meliputi pipi, dasar mulut, palatum, dan lidah.
Palpasi harus dilakukan secara hati hati dan perlu di upayakan agar pasien tidak
muntah.
Cara palpasi mulut
1. Atur posisi pasien duduk menghadap anda
2. Anjurkan pasien membuka mulut
3. Pegang pipi di antara ibu jari ddan jari telunjuk *jari telunjuk berada di dalam ).
Palpasi pipi secara sistematis dan perhatikan adanya tumor atau pembengkakan.
Bila ada pembengkakan , tentukan menurut ukuran , konsistensi, hubungan dengan
daerah sekitarnya, dan adanya nyeri
4. Lanjutkan palpasi pada palatum pada jari telunjuk dan rasakan adanya
pembekakan dan fisura
5. Palpasi dasar mulut dengan cara meminta pasien mengatakan el kemudian
lakukan palpasi pada dasar mulut secra sistemis dengan jari telunjuk tangan kanan.

Bila diperlukan , beri sedikit penekanan dengan ibu jari dari bawah daguuntuk
mempermudah palpasi .
6. Palpasi lidah dengan cara memita pasien menjulurkan lidah, pegang lidah dengan
kasa steril menggunakan tangan kiri. Dengan jari telunjuk tangan kanan, lakukan
palpasi lidah terutama bagian belakang dan batas batas lidah.

Anda mungkin juga menyukai