Anda di halaman 1dari 14

A.

PERI-OPERATIF
1. Siapkan stetoskop, sarung tangan steril, ETT no. 7, spuit 10 cc,
stylet/mandarin, konektor, mesin anestesi, gas (air, O2, gas volatil isoflurane),
plester Hipafix, suction, dan lampu operasi.
2. Pasien berbaring telentang di atas meja operasi OK. Pasang EKG, manset
tekanan darah, saturasi oksigen, layar monitor dinyalakan, mesin anestesi
dinyalakan.
3. Pukul 8.15 : induksi dimulai dengan injeksi fentanyl 100 mg sebagai
analgesik.
4. Pukul 8.15: dilanjutkan injeksi propofol (Safol) 150 mg secara bolus IV
sebagai hipnosedatif.
5. Pukul 8.15 : dilanjutkan injeksi atracurium 20 mg secara bolus IV sebagai
muscle relaxan. lalu dilakukan bagging.
6. Pukul 8.16: disuntikkan oxytocin dosis 10mg bolus IV untuk membantu
kontraksi uterus.
7. Intubasi dengan ETT no. 7 dengan cuff dan Guedel terpasang. Dengan
stetoskop, periksa bunyi nafas (bunyi nafas paru kanan harus sama dengan
paru kiri).
8. Airway maintenance dilakukan dengan sistem nafas terkendali yang
dihubungkan dengan pipa O2 : N2O : isoflurane = 2 : 2 : 0.8.
9. Pukul 8.20: operasi Caesar dimulai. Tanda-tanda vital dimonitor setiap 15
menit.
10. Pukul 9.45 : operasi selesai. Mulai dilakukan tindakan ekstubasi.
11. Pukul 9.45: tindakan anestesi dinyatakan selesai dengan total durasi anestesia
90 menit, lalu pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan masuk ICU
beberapa waktu kemudian.
12. Pemantauan tanda vital peri-operatif:
Jam

INPUT
RL (2 labu)

9.45

136/95

87

15

AF

10.00
10.15
10.30
10.45

128/86
130/89
139/93
136/92

86
84
83
83

14
14
14
14

AF
AF
AF
AF

OUTPUT
700cc

RL + Herbeser
700cc
700cc
700cc
700cc

KET

11.00
11.15
11.30

142/93
146/96
148/95

83
82
82

14
14
14

AF
AF
AF

700cc
700cc
700cc

B. POST-OPERATIF
a. Aldrette score:

Aktivitas = 0

Pernafasan = 2

Sirkulasi = 2

Kesadaran = 1

Warna kulit = 2

b. Instruksi post-op:
Pasien dirawat di ICU sambil dilakukan:

Observasi tanda-tanda vital: 1 jam pertama setiap 15 menit, dan 1 jam


kedua dan seterusnya setiap 30 menit.

Observasi perdarahan.

Observasi kontraksi uterus.

Observasi urin.

Cek lab lengkap 6 jam post-op.

Imobilisasi pasien selama 24 jam.

Diet biasa setelah bising usus (+), flatus (+).

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA


A. EKLAMPSIA
Eklampsia merupakan satu bagian dari spektrum preeklampsia-eklampsia.
Keseluruhan spektrum mencakup pre-eklampsia, eklampsia, dan sindroma
HELLP.
Eklampsia sering dianggap sebagai komplikasi dari pre-eklampsia berat.
Eklampsia didefinisikan sebagai kejang grand mal dan/atau penurunan kesadaran
yang tidak dapat dijelaskan, onset baru, yang terjadi selama kehamilan atau masa
postpartum pada wanita dengan gejala-gejala pre-eklampsia. Gejala-gejala preeklampsia yaitu hipertensi dan proteinuria dengan atau tanpa gangguan sistemik
yang mengenai ginjal, hepar, dan darah. Biasanya juga ditemukan manifestasi
pada fetus, seperti gangguan pertumbuhan fetus, berkurangnya jumlah cairan
ketuban, dan berkurangnya asupan oksigen fetal. Sindroma HELLP adalah bentuk
pre-eklampsia yang paling berat, di mana juga didapatkan anemia hemolitik, tes
fungsi hepar yang meningkat, dan jumlah platelet yang menurun.
Kebanyakan kasus eklampsia terjadi dalam trimester ketiga kehamilan,
dengan 80% kejang terjadi intrapartum atau dalam 48 jam pertama setelah
kelahiran. Selain deteksi dini pre-eklampsia, tidak ada tes atau gejala yang cukup
spesifik yang dapat memprediksi terjadinya eklampsia.
Kejang eklampsia
Eklampsia bermanifestasi sebagai 1 kejang atau lebih, dengan tiap episode
kejang berlangsung 60-75 detik. Wajah pasien biasanya tampak terdistorsi, dengan
mata melotot dan mulut berbusa. Pernafasan terhenti selama durasi kejang.
Kejang eklampsia dapat dibagi menjadi dua fase. Fase 1 berlangsung 15-20
detik dan dimulai dengan kedutan wajah. Tubuh menjadi kaku, diikuti kontraksi
otot seluruh tubuh. Fase 2 berlangsung selama 60 detik, bermula pada rahang, lalu
ke otot-otot wajah dan kelopak mata, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Jenis
kejang biasanya tonik-klonik. Fase ini diikuti oleh periode hilang kesadaran yang
durasinya beragam. Setelah sadar, pasien mungkin menjadi gelisah dan agresif,

namun tidak ingat mengenai kejangnya. Pasien juga mengalami hiperventilasi


pascakejang sebagai kompensasi dari asidosis respiratorik dan metabolik yang
terjadi selama fase apneu.
Komplikasi kejang adalah lidah berdarah karena tergigit, trauma kepala,
fraktur tulang, dan aspirasi.
Faktor resiko

Nullipara

Riwayat pre-eklampsia atau eklampsia sebelumnya

Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia

Kehamilan sebelumnya yang tidak terlalu baik, meliputi gangguan


pertumbuhan intrauterine, abruption placentae, atau kematian fetus

Gestasi multifetal, mola hidatidosa, hidrops fetal, primigravida

Kehamilan usia muda (remaja)

Kehamilan di atas usia 35 tahun

Primigravida

Status sosioekonomi yang rendah

Kelainan medis yang sudah ada:


o Obesitas
o Hipertensi kronis
o Penyakit ginjal
o Gangguan vaskular dan jaringan penyokong
o Diabetes gestasional
o Systemic lupus erythematosus

Patofisiologi
1. Gangguan perkembangan vaskular uterus.
Saat seorang wanita hamil, terjadi perubahan sistem vaskularisasi uterus,
oleh sebab interaksi antara allograft fetus dan maternal sehingga berefek

kepada perubahan vaskular lokal dan sistemik. Pada pasien dengan


eklampsia, rupanya perkembangan ini terganggu.
2. Gangguan regulasi aliran darah otak.
Hipertensi yang berat menyebabkan gangguan regulasi aliran darah ke
otak. Vasokonstriksi sebagai mekanisme kompensasi yang normal menjadi
defektif.

Pembuluh-pembuluh

otak

melebar

dengan

permeabilitas

meningkat; edema otak kemudian menyebabkan iskemia dan ensefalopati.


3. Disfungsi endotelial.
Disfungsi endotelial menyebabkan kebocoran protein dari sirkulasi
sehingga menimbulkan edema seluruh tubuh sebagai sekuelaenya. Ia juga
menyebabkan iskemia plasental dan disfungsi multiorgan.
Penanganan
Satu-satunya tindakan kuratif untuk eklampsia adalah melahirkan bayi.
Tekanan darah ibu biasanya langsung berkurang setelah bayi dilahirkan.
Meskipun demikian, resiko kejang eklampsia postpartum masih mungkin terjadi.
Antikonvulsan pilihan untuk eklampsia adalah magnesium sulfat (MgSO 4).
MgSO4 biasanya diberikan bolus IV 4-6 gram kemudian dosis rumatan 2
gram/jam dalam 100 ml cairan IV dalam 15-20 menit. MgSO4 merupakan obat
yang aman untuk pasien hamil, meskipun diduga dapat menambah efek hipotensi
dari anestesi regional dan menurunkan respon vasokonstriksi.

B. ANESTESI PADA PASIEN DENGAN EKLAMPSIA YANG


DILAKUKAN OPERASI CAESAR
Secara umum, oleh karena eklampsia merupakan kondisi di mana pasien
dengan pre-eklampsia mengalami kejang, maka prinsip penatalaksanaan anestesi
pada pasien eklampsia kurang-lebih sama dengan pasien pre-eklampsia.
Untuk monitoring, dibutuhkan alat-alat rutin seperti EKG, manset tekanan
darah non-invasif, pulse oximeter, dan stetoskop. Pada pasien dengan preeklampsia berat, mungkin juga perlu ditambahkan central venous catheter (CVP),
apabila terdapat indikasi: edema paru, oliguria refrakter, hipertensi resisten, dan

hipovolemia hemoragik yang membutuhkan resusitasi cairan dalam jumlah besar.1


Penggunaan koloid dalam kasus ini masih kontroversial. Obat-obatan vasopressor
harus digunakan dengan hati-hati dan dalam dosis yang lebih kecil karena pasienpasien pre-eklamptik lebih sensitif terhadap obat-obatan ini.
Regional Anestesi (RA)
Apabila pasien harus menjalani operasi Caesar, maka jenis anestesi yang
paling cocok adalah regional anestesi (RA), baik epidural, spinal, ataupun CSE
(combined spinal-epidural). Teknik yang populer adalah blok epidural.
Sebelumnya, blok spinal dianggap berbahaya oleh karena resiko tinggi terjadinya
edema paru dan penurunan curah jantung. Akan tetapi semakin banyak bukti baru
yang menunjukkan bahwa anestesi spinal dan CSE pun aman bagi pasien-pasien
pre-eklampsia berat, terutama setelah ditemukannya jarum spinal ujung pensil.2
Keuntungan blok epidural adalah tekanan darah yang terkontrol dengan lebih
baik, aliran darah renal dan uteroplasental yang lebih besar oleh karena
vasodilatasi arteriol, dan resiko kejang lebih kecil. Walaupun demikian, beberapa
sumber berpendapat bahwa perbedaan tekanan darah sebenarnya tidaklah terlalu
besar. Berikut adalah tabel yang membandingkan tekanan darah antara general
anestesi (GA), epidural blok (EDB), dan teknik CSE.
Tabel 1. Tekanan arterial sistemik selama operasi Caesar dengan general anestesi
(GA), epidural blok (EDB), dan combined spinal-epidural (CSE)3
Tekanan arterial
Tekanan sistolik tertinggi
Tekanan diastolik tertinggi
Tekanan sistolik terendah
Tekanan diastolik terendah

GA
170
108
112
60

EDB
163
103
110
59

CSE
158
102
110
61

Epidural blok juga telah terbukti menghasilkan kadar hormon stress


(kortikotropin, beta-endorfin, dan katekolamin) yang lebih rendah daripada GA.
Resiko GA pada pasien pre-eklampsia berat meliputi instabilitas hemodinamik
saat induksi, intubasi, dan ekstubasi.2 Hipertensi dan takikardia yang semakin

bertambah dapat menyebabkan tekanan intrakranial ikut meningkat. Selain itu,


perlu diingat efek terhadap bayi. Bayi yang dilahirkan dengan RA biasanya lebih
alert dibandingkan dengan yang dilahirkan dengan GA.
Panduan untuk RA dalam kasus ini sama dengan panduan RA klasik:
a) Spinal: gunakan jarum ujung pensil berukuran 25G atau yang lebih kecil,
dengan bupivacaine 0.5% dalam 1.6-2.0 ml dekstrosa, tergantung dari
tinggi dan ukuran lingkar perut pasien. Pasien yang lebih tinggi
diberikan dosis yang lebih banyak, sementara pasien yang lebih berat
diberikan lebih kecil, karena tekanan ruang spinalnya lebih tinggi. Tinggi
blok biasanya pada level T6.
b) Epidural: kanula diposisikan di ruang L2/3 atau L3/4, dan dosis uji
standar digunakan. Dosis utama (loading dose) diberikan tahap demi
tahap untuk menaikkan tinggi blok dengan perlahan, sampai mencapai
level T6.
Untuk menambah kekuatan blok sensoris, dapat ditambahkan fentanyl dosis
10 mcg pada spinal dan dosis 50-100 mcg pada epidural.
Hipotensi yang terjadi biasanya tidak dapat ditangani hanya dengan kristaloid.
Adalah lebih baik untuk menyeimbangkan antara koloid sintetis (500 ml starch
solution) dengan kristaloid (Ringers lactate 1000 ml), ditambah efedrin dengan
peningkatan dosis 5 mg setiap kali. Efedrin tidak mengganggu aliran darah uterus.
General Anestesi (GA)
Meskipun teknik RA merupakan teknik yang dipilih dalam kebanyakan
operasi Caesar, terutama pada pasien-pasien sehat, teknik GA tetap dibutuhkan
dalam kasus tertentu. Beberapa indikasi untuk penggunaan GA adalah4,5:
1. Terdapat kontraindikasi terhadap RA, seperti perdarahan masif dan
instabilitas hemodinamik
2. Koagulopati dan konsumsi low molecular weight heparin (LMWH)
3. Gawat janin
4. Kegagalan RA intraoperatif
5. Penyakit jantung yang tidak dapat mentoleransi simpatektomi akut

6. Penurunan kesadaran seperti pada eklampsia, eklampsia imminen, atau


periode post-iktal
7. Sepsis atau kelainan anatomis pada lokasi RA yang ditentukan
8. Penolakan pasien
Tabel berikut menyajikan perbandingan keuntungan dan kerugian relatif dari
RA dan GA4:
Tabel 2. Keuntungan dan kerugian relatif dari RA dan GA pada manajemen
pasien pre-eklampsia/eklampsia
RA
Jalan nafas

Keuntungan
Tidak ada respon
intubasi

GA

Kerugian
Tidak dapat

Keuntungan
Kontrol

dikontrol

yang berlebihan

Tidak ada resiko


Kejang

gagal intubasi
-

Kerugian
Respon intubasi
Resiko gagal
intubasi

Tidak dapat

Kontrol

dikontrol
Obat dan teknik

Resiko kejang
Tidak perlu obat- Resiko kejang

Kecemasan ibu

obatan sedatif

Depresi fetal

Resiko blok tinggi


Spinal cepat: 5- Epidural lambat:

Onset

10 menit
Kontrol tekanan Katekolamin
darah

20-30 menit
Resiko hipotensi

lebih rendah

Koagulasi

Lebih stabil
Tidak ada
instrumen airway

Resiko hematoma

Cepat kurang
dari 5 menit
Minim resiko

Katekolamin

hipotensi

TD, PAWP, CVP

Menghindari

dg intubasi
Resiko perdarahan

spinal hematoma

airway

Resiko utama dari GA adalah kesulitan manajemen jalan nafas (airway). Yang
juga tinggi adalah resiko aspirasi isi lambung; hanya sekitar 30 ml aspirasi asam
lambung dibutuhkan untuk terjadinya pneumonitis yang fatal (sindroma
Mendelsons).6 Resiko aspirasi dan gagal intubasi meningkat pada GA karena

adanya perubahan anatomis dan fisiologis jalan nafas pada wanita hamil.
Perubahan fisiologis ini meliputi tekanan intraabdominal yang meningkat, sekresi
asam lambung yang meningkat, serta penurunan motilitas gaster dan intestinal.
Sementara untuk perubahan anatomis, telah dilaporkan oleh Rocke et al. (1992)
dan Birnbach (2003) bahwa faktor resiko kesulitan intubasi pada kasus obstetrik
yang paling besar adalah jalan nafas Mallampati IV dan resesi mandibular.5,7
Akan tetapi, terutama pada pasien dengan eklampsia, GA memberikan kontrol
yang lebih baik atas kejang dan juga onset kerja yang lebih cepat dibandingkan
epidural blok, sehingga operasi dapat segera dilangsungkan.
Panduan untuk GA:
a) Penilaian jalan nafas edema jalan nafas tidak selalu dapat diprediksi,
tetapi adanya stridor dan/atau edema wajah dapat merupakan petunjuk.
Laserasi lidah atau mukosa pasca-kejang mungkin menjadi penyulit
intubasi; dalam kasus ini, mungkin diperlukan intubasi nasotrakeal (pasien
dalam keadaan bangun). Semakin lengkap ketersediaan alat-alat untuk
menangani berbagai kesulitan jalan nafas (introducer, LMA, surgical
airway) maka semakin baik.
b) Induksi.
o Pre-oksigenasi sedikitnya 3 menit diikuti dengan agen induksi kerja
cepat: thiopentone (thiopental) 4-5 mg/kg atau etomidate 0.2 mg/kg,
dan suxamethonium 1-1.5 mg/kg.
c) Intubasi.
o Untuk menangani respon hemodinamik terhadap laringoskopi dan
intubasi, dapat dipilih:
Alfentanil 10 mcg/kg, diberikan sebelum suxamethonium,
melawan respon pressor dengan depresi fetal yang minimal
oleh karena waktu durasinya yang singkat.
Magnesium sulfat, diberikan dalam dosis 40 mg/kg secara
bolus IV, memberikan efek vasodilatasi dan anti-katekolamin,
tanpa hipotensi berlebihan. Magnesium sulfat dan alfentanil
dapat dikombinasi pada kasus-kasus berat, dengan dosis yang

direndahkan (30 mg/kg + 7.5 mcg/kg). Apabila MAP ibu


tinggi 180 mmHg, dosis lebih tinggi dapat diberikan (60
mg/kg + 30 mcg/kg).
Lignocaine juga bisa digunakan namun kurang efektif
dibandingkan

alfentanil

atau

magnesium.

Lignocaine

diberikan dalam dosis 1.5 mcg/kg secara IV 3-5 menit


sebelum induksi.
d) Rumatan.
Pilihan gas volatil yang paling baik adalah isoflurane dosis rendah sampai
sedang (0.5-1 MAC), dikombinasikan dengan 30-50% N2O.
e) Setelah kelahiran bayi.
o Naikkan N2O hingga 70%.
o Matikan (atau turunkan sampai tingkat sangat rendah) gas volatil.
o Berikan opiat, misalnya morfin 10-15 mg, dan benzodiazepine
secara IV. Berikan juga relaksan otot non-depolarizing atau drip
succinylcholine.
o Kosongkan lambung dengan orogastric tube.
o Reversi dari efek relaksan otot.
f) Ekstubasi.
o Untuk menangani masalah kardiovaskular yang mungkin terjadi,
digunakan vasodilator beta-blocker (terutama esmolol), dapat
ditambah dengan lignocaine.
Perawatan pascaoperasi
Pasien dengan pre-eklampsia berat dan eklampsia sebaiknya menjalani
perawatan di ICU apabila:
1. Monitoring yang invasif diperlukan oleh karena adanya edema paru atau
hipertensi resisten atau anuria;
2. Hipertensi berat yang membutuhkan penatalaksanaan segera, terutama jika
gejala neurologis muncul;

10

3. Oliguria berat atau anuria yang membutuhkan tatalaksana agresif seperti


dialisis;
4. Kejang berulang;
5. Kehilangan darah yang massif (dari DIC, abruption placentae, atau
perdarahan postpartum) atau kemungkinan sindroma HELLP;
6. Sekuelae yang berat pada intraserebral (perdarahan pons, edema serebral,
iskemia koroid) atau intraabdominal (ruptur hepar, hematoma hepatik
subkapsular).

11

BAB IV. DISKUSI


Pada kasus ini dilakukan operasi Caesar cito dengan GA. GA dipilih oleh
karena beberapa keuntungannya sesuai dengan tinjauan pustaka, yaitu onsetnya
yang cepat (kurang dari 5 menit), serta terkontrolnya tekanan darah dan kejang.
Selain itu, pasien telah mengalami penurunan kesadaran (GCS 8) sehingga
pemberian RA yang mengharuskan pasien berada dalam posisi tertentu menjadi
lebih sulit.
Untuk induksi, pada kasus ini diberikan propofol 150 mg. Baik propofol
maupun thiopentone dapat menembus sirkulasi plasenta dan menimbulkan efek
terhadap neonatus. Studi tahun 19898 dan 19939 membuktikan bahwa tidak ada
perbedaan signifikan antara propofol dan thiopentone terhadap konsentrasi
katekolamin umbilikal, konsentrasi oksigen, maupun skor Apgar neonatus. Akan
tetapi, propofol mempunyai kelebihan yaitu lebih efektif meringankan respon
pressor (hipertensif) terhadap tindakan laringoskopi dan intubasi, sehingga
keduanya akan lebih mudah dilakukan.9,10 Oleh karena tidak terjadi masalah
respon intubasi maupun ekstubasi, maka pada pasien ini tidak perlu diberikan
alfentanil, lignocaine, ataupun beta-blocker. Pemberian rocuronium bromide
sebagai agen relaksan otot skeletal juga membantu prosedur ini karena ia
mencegah terjadinya spasme laring dan refleks jalan nafas atas, sehingga
memudahkan pengendalian pernafasan selama operasi.
Penggunaan isoflurane sebagai agen rumatan anestesi sudah tepat. Isoflurane
merupakan gas yang paling aman di antara gas-gas volatil lainnya. Isoflurane juga
memiliki efek analgetik yang baik apabila dikombinasikan dengan propofol yang
lebih kuat efek sedasinya. Sementara itu, pemberian vitamin K 3 adalah untuk
mengurangi perdarahan dan mempercepat penyembuhan.
Oleh karena kasus eklampsia biasanya berimbas terhadap janin, maka sangat
disarankan monitoring ketat kondisi janin selama operasi.
Monitoring pasien eklampsia postpartum amat penting. Biasanya follow up
dilakukan 1-2 minggu setelah melahirkan untuk mengevaluasi tekanan darah dan

12

defisit residual dari kejang eklampsia tersebut. Pasien dengan hipertensi persisten
di atas 8 minggu masa nifas, atau dengan defisit neurologis, mungkin perlu
dirujuk.
Al-Safi et al.11 mengusulkan bahwa minggu pertama setelah kelahiran bayi
adalah yang paling beresiko terhadap terjadinya eklampsia postpartum. Edukasi
pasien mengenai kemungkinan ini sangat penting, tanpa mempedulikan apakah
pasien tersebut mempunyai hipertensi sebelum dipulangkan.

PERHITUNGAN PEMBERIAN CAIRAN


Diketahui:
Jenis Kelamin : Perempuan

Perdarahan selama operasi

:200 ml

Berat Badan

: 50 kg

Urin

:150 cc

Lama Puasa

: 7 jam

Lama Operasi : 120 menit


a. EBV (estimated blood volume): 65 cc x 50 kg = 3.250 cc
b. EBL (estimated blood loss): 200 cc
c. Menentukan jenis perdarahan EBL/ EBV x 100 %
200/3.250 x 100% = 6,1 % (perdarahan ringan)
d. IWL pada Op Besar ( 6-8 cc/kgBB/jam)
7 cc x 50 kg x 2 jam = 700 cc
e. Maintenance cairan (4 x 10kg) + (2x10kg) + (1x sisa BB) x lama puasa =
(4 x 10) + (2 x 10) + (1 x 30) = 90 cc/ jam x 7 jam = 630 cc
f. IWL + cairan maintenance + urin + EBL
700 + 630 + 150 + 200 = 1.680 cc
g. Cairan masuk 1500 cc 1.680 cc 1500 cc = 108 cc (cairan yang kurang
diberikan pada pasien)
h. Cairan Post Op
24 jam (lama puasa + lama operasi) = x + cairan yang kurang diberikan
24 (7 + 2) = 15 x 90 = 1. 350 cc + 180 cc = 1.530 cc/15 jam = 102 cc
102 : 4 = 25 tpm

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Langer R, Ruskin KJ. Anesthetic management of the pre-eclamptic patient.
The Global Textbook of Anesthesiology [Online]. Diunduh dari:
http://anestit.unipa.it/gta/
2. Gatt SP, Elliott D. Preeclampsia and eclampsia. Dalam: Datta S, ed. Anesthetic
and obstetric management of high-risk pregnancy. 3rd ed. New York: SpringerVerlag, 2004.
3. Wallace DH, Leveno KJ, Cunningham FG, et al. Randomised comparison of
general & regiona anesthesia for caesarean delivery in pregnancies
complicated by severe PE. Obstet Gynecol 1995;86:2.
4. James MFM. The role of the anaesthetist in the management of pre-eclampsia.
Update in Anesthesia 1998;9(4).
5. Birnbach DJ. General anesthesia for Cesarean section who needs it?.
European Society of Anaesthesiologists. Dalam: Euroanesthesia 2003
Glasgow. Diunduh dari: http://www.euroanesthesia.org
6. Collins C, Gurung A. Anesthesia for Caesarean section. Update in Anesthesia
1998;9(3).
7. Rocke DA, Murray WB, Rout CC, Gouwns E. Relative risk analysis of factors
associated with difficult intubation in obstetric anesthesia. Anesthesiology
1992;88:63-6.
8. Moore J, Bill KM, Flynn RJ, McKeating KT, Howard PJ. A comparison
between propofol and thiopentone as induction agents in obstetric anaesthesia.
Anaesthesia 1989;44(9):753-7.
9. Gin T, OMeara ME, Kan AF, Leung RKW, Tan P, Yau G. Plasma
catecholamines and neonatal condition after induction of anesthesia with
propofol or thiopentone at Caesarean section. Br J Anaesth 1993;70(3):311-6.
10. Kuczkowski KM. Anesthesia for fetal intrapartum OOPS. J Anesth
2007;21:243-51.
11. Al-Safi Z, Imudia AN, Filetti LC, et al. Delayed postpartum preeclampsia and

eclampsia: demographics, clinical course, and complications. Obstet Gynecol.


Nov 2011;118(5):1102-7.

14