Anda di halaman 1dari 2

A.

Pemeriksaan Penunjang :
1. Tes fungsi tiroid T4 serum 4,9-12 mg/dL
2. Tiroksin bebas 2,8 0,5 mmg/dL
3. T3 serum 115-190 mmg/dL
4. TSH serum bervariasi sesuai lab 0,5-4 mU/mL
5. FTI serum bervariasi sesuai lab 6,4 -10 %
B. Mencari penyebab gangguan fungsi tiroid. Ditemukan 5 macam antigen-antibodi spesifik
pada tiroid:
1. Antibodi tiroglobulin miksedema, Graves, Hashimoto dan kanker tiroid
2. Antibodi mikrosomal tiroid autoimmun, kanker tiroid
3. Antibodi CA2 tiroiditis de Quervain
4. Antibodi permukaan sel
5. TSAb (Thyroid Stimulating Antibodies) Graves, Hashimoto Radiologi Thorax
deviasi trakea, retrosternal struma, coin lession (papiler), cloudy (folikuler) Leher AP
lateral evaluasi jalan nafas untuk intubasi pembiusan USG
6. Menentukan jumlah nodul
7. Menentukan lesi kistik (echolusent) atau solid (neoplasma)
8. Mengukur volume nodul
9. Pada kehamilan, di mana sidik tiroid adalah kontraindikasi
10. Sebagai guide biopsi pada nodul Sidik Tiroid Metabolisme hormon tiroid
berhubungan dengan metabolisme yodium, sehingga yodium yang dimuati bahan
radioaktif, bisa diamati aktifitas kelenjar tiroid maupun bentuk lesinya. Menggunakan
radio-isotop I131, I123, Tc99m pertechnrtate. Radiasi Gamma untuk diagnostik,
sedangkan Beta untuk terapi.
11. PENILAIAN INDEX WAYNE Gejala Subjektif Angka Gejala Objektif Ada Tidak
Dispneu deffort +1 Tiroid teraba +3 -3 Palpitasi +2 Bruit di atas sistole +2 -2 Capai/lelah
+2 Eksoftalmus +2 - Suka panas -5 Lid retraksi +2 - Suka dingin +5 Lid lag +1 - Keringat
banyak +3 Hiperkenesis +4 -2 Nervous +2 Tangan panas +2 -2 Tangan basah +1 Nadi
Tangan panas -1 80 x/mnt - -3 Nafsu makan +3 80-90 x/mnt - Nafsu makan -3 >90
x/mnt +3 BB -3 < 11 Eutiroid 11 18 Normal > 19 Hipertiroid BB +3 Fibrilasi
atrium +4 Jumlah Kesimpulan Pada Pasien ini penegakan Diagnosis Struma nodusa nontoxic perlu dilakukan dengan lebih seksama. dengan memperhatikan alat-alat diagnosis
yang dipakai sehingga memudahkan dalam pengambilan diagnosis dalam klinis. Struma
mempunyai prognosis yang baik apabila tidak ditemukan tanda-tanda keganasan dan
dapat dideteksi dini . sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan dengan tepat dan baik.

Pemilihan Alat diagnostik dan penggalian serta pemerksaan fisik yang teliti sangat
membatu dalam penegakan diagnosis Struma.
Referensi 1. Sabiston, David C. Buku Ajar Bedah bagian2, Jakarta : EGC, 1994. 2.
Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi, Jakarta : EGC, 1997. 3.
Price, S.A. 1994. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: EGC.
Penulis : Caesario Adi Sukresna (20060310160), Program Profesi Pendidikan Dokter.
Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Salatiga