Anda di halaman 1dari 28

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
membrikan Berkat dan AnugerahNya bagi kami sehingga kami dapat
menyelesaikan penusunan Laporan Praktikum Difraksi dan Interferensi
Gelombang Permukaan Air ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam laporan
praktikum ini. Oleh Karena itu kami sangat berterima kasih apabila ada kritik atau
saran yang membangun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan nantinya
dapat bermanfaat bagi penyusun serta kalangan pembaca pada umumnya.

Table of Contents
KATA PENGANTAR................................................................................... 1
BAB I...................................................................................................... 2
PENDAHULUAN....................................................................................... 2
1.1.

Latar Belakang..........................................................................2

1.2.

Tujuan........................................................................................ 3

1.3.

Alat dan Bahan..........................................................................3

BAB II..................................................................................................... 5
KAJIAN PUSTAKA..................................................................................... 5
2.1.

Pengertian Polarimeter..............................................................5

2.2.

Bagian-bagian polarimeter........................................................6

a.

Sumber Cahaya............................................................................... 6

b.

Prisma Nicole................................................................................... 6

c.

Tabung Sampel................................................................................ 6

d.

Prisma Analisator............................................................................. 6

e.

Skala Lingkar................................................................................... 7

f.

Detektor........................................................................................... 7
2.3.

Prinsip Kerja Polarimeter............................................................8

BAB III................................................................................................... 10
METODE PENELITIAN............................................................................ 10
3.1.

Jenis Penelitian........................................................................10

3.2.

Waktu dan Tempat...................................................................10

3.3.

Prosedur Kerja.........................................................................10

BAB IV.................................................................................................. 12
HASIL DAN PEMBAHASAN.....................................................................12
4.1.

Hasil Pengamatan....................................................................12

4.2.

Analisa data............................................................................. 14

4.3.

Pembahasan............................................................................ 20

BAB V................................................................................................... 23
PENUTUP.............................................................................................. 23
5.1.

Kesimpulan.............................................................................. 23

5.2.

Saran....................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Polarimeter merupakan suatu alat yang tersusun atas polarisator dan analisator.
Polarimeter adalah Polaroid yang dapat mempolarisasi cahaya, sedangkan
anlisator adalah Polaroid yang dapat menganalisa/mempolarisasikan cahaya.
Peristiwa polarisasi merupakan suatu peristiwa penyearahan arah getar suatu
gelombang menjadi sama dengan arah getar Polaroid dengan cara menyerap
gelombang yang memiliki arah getar yang berbeda dan meneruskan gelombang
dengan arah getar yang sama dengan Polaroid. Polarimeter juga dapat digunakan
untuk mengukur besar sudut putar jenis suatu larutan optic aktif. Besar sudut putar
jenis dapat dihitung dengan persamaan dengan terlebih dahulu mencari besaranbesaran yang dibutuhkan terlebih dahulu, yaitu : sudut pemutar bidang
polarisasi, L : panjang tabung polarisasi, dan C : konsentrasi gula(larutan optic
aktif).
Cahaya putih merupakan cahaya polikromatik yang terdiri dari berbagai panjang
gelombang yang dapat bervibrasi kesegala arah. Cahaya putih dapat diubah menjadi
cahaya monokromatik (hanya terdiri dari satu panjang gelombang) dengan
menggunakan suatu filter atau sumber cahaya yang khusus. Cahaya monokromatik ini
disebut cahaya terpolarisasi.

Peristiwa polarisasi tidak dapat diamati secara langsung oleh mata manusia,
sehingga diperlukan suatu alat yang dapat membantu untuk menunjukan gejala
polarisasi tersebut. Melalui polarimeter gejala polarisasi dapat ditunjukan, selain
itu melalui alat ini dapat dilihat pula bagaimana larutan optic aktif seperti larutan
gula dapat membelokan cahaya yang telah dipolarisasi. Pengamatan-pengamatan
yang dapat dilakukan melalui polarimeter ini lah yang melatar belakangi
dilakukanya percobaan polarimeter.
Olehnya, untuk membuktikan hal ini kami kelompok 4 melakukan percobaan
yang berjudul polarimeter dengan menggunakan peralatan pasco scientific.

1.2.

Tujuan
1.2.1. Memahami bahwa cahaya adalah gelombang transversal sehingga
dapat dipolarisasi.

1.2.2. Memahami cara kerja alat polarimeter.


1.2.3. Menghitung daya putar spesifik dari larutan gula tebu dengan
menggunakan cahaya yang dipolarisasi.

1.3.

Alat dan Bahan


1.3.1. Polarimeter.
1.3.2. Tabung pemutar.
1.3.3. Sumber cahaya monokromatis.
1.3.4. Gelas ukur.
1.3.5. Gulaku.
1.3.6. Akuades secukupnya
1.3.7. Pipet tetes 2 buah
1.3.8. Neraca digital

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Polarimeter


Polarimeter merupakan suatu alat yang tersusun atas polarisator dan
analisator. Polarimeter adalah Polaroid yang dapat mempolarisasi cahaya,
sedangkan anlisator adalah Polaroid yang dapat menganalisa atau
mempolarisasikan cahaya. Polarimeter adalah alat yang digunakan untuk
mengukur besarnya putaran optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat
optis aktif yang terdapat dalam larutan. Jadi polarimeter ini merupakan alat yang
didesain khusus untuk mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif.
Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang
polarisasi, sedangkan yang dimaksud dengan polarisasi adalah pembatasan arah
getaran (vibrasi) dalam sinar atau radiasi elektromagnetik yang lain. Untuk
mengetahui besarnya polarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif, maka
besarnya perputaran itu bergantung pada beberapa faktor yakni struktur molekul,
temperatur, panjang gelombag, banyaknya molekul pada jalan cahaya, jenis zat,
ketebalan, konsentrasi dan juga pelarut.

Syarat senyawa yang bisa dianalisis dengan polarimetri adalah :


1. Memiliki struktur bidang kristal tertentu ( dijumpai pada zat padat)
2.

Memiliki struktur molekul tertentu atau biasanya dijumpai pada zat cair.
Struktur molekul adalah struktur yang asimetris, seperti pada glukosa.

Prinsip dasar polarimetris ini adalah pengukuran daya putar optis


suatu zat yang menimbulkan terjadinya putaran bidang getar sinar terpolarisir.
Pemutaran bidang getar sinar terpolarisir oleh senyawa optis aktif ada 2 macam,
yaitu :
1. Dexro rotary (+), jika arah putarnya ke kanan atau sesuai putaran jarum
jam.
2. Levo rotary (-), jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan dengan
putaran jarum jam.

2.2.

Bagian-bagian polarimeter
a. Sumber Cahaya
Sumber cahaya terdiri dari dua jenis, yaitu sumber cahaya
filament dan sumber cahaya natrium. Sumber cahaya filament digunakan
untuk alat model lama, sedangkan sumber cahaya natrium digunakan
untuk alat model baru. Filter dari sumber cahaya natrium ialah filter
orange dengan panjang gelombang 589 nm. Sumber cahaya ditutup agar
cahayanya focus dan tidak ada udara.
b. Prisma Nicole
Bagian ini disebut polarisator yang berfungsi mengubah cahaya
monokromatis menjadi lebih terpolarisasi.
c. Tabung Sampel
Bagian berikutnya ialah tabung sampel. Tabung sampel terbuat
dari kaca yang memiliki dua pengaman, yaitu karet dan skrup.
Pemasangan pengaman harus dilakukan secara berurutan jika tidak akan
merusak lensa. Urutan pemasangan ialah lensa, karet, setelah itu baru
skrup.
Tabung sampel terdiri dari bermacam-macam ukuran tergantung
jumlah sampel yang diuji. Pada saat memasukkan sampel lebih baik yang
dibuka ialah bagian bawahnya supaya tidak ada gelembung udara pada
tabung. Pengisian sampel jangan sampai ada gelembung udara karena
dapat menyebabkan pembiasan cahaya. Bagian gondok pada tabung
dirancang untuk menjebak udara dalam tabung.
d. Prisma Analisator

Prisma analisator merupakan bagian lain dari alat ini. Fungsi


prisma ini ialah untuk mensejajarkan sudut yang dihasilkan dari senyawa
aktif optik. Bagian lain dari polarimeter ialah mikroskop dan skala.
Mikroskop berguna untuk menentukkan cahaya yang sudah sejajar
sehingga sudut hitung rotasinya dapat dilihat dari skala.
Bagian yang diatur pada alat polarimeter ini ialah lensa
analisator. Sudut putar adalah sudut yang ditunjukkan oleh analisator
setelah sinar melewati larutan dan membentuk cahaya yang redup.
Apabila bidang polarisasi berputar kearah kiri (levo) dilihat dari pihak
pengamat, peristiwa ini disebut polarisasi putar kiri. Demikian juga untuk
peristiwa sebaliknya (dextro).
e. Skala Lingkar
Skala lingkar merupakan skala yang bentuknya melingkar dan
pembiasan skalanya dilakukan jika telah didapatkan pengamatan tepat
baur-baur.
f. Detektor
Detektor pada polarimeter manual yang digunakan sebagai
detector adalah mata, sedangkan polarimeter lain dapat digunakan
detector fotoelektrik.
Menurut Anonim (2012), komponen-komponen alat polarimeter beserta
gambarnya adalah:

1. Lensa kolimator, berfungsi mensejajarkan sinar dari lampu natrium atau


dari sumber cahaya sebelum masuk ke polarisator.
2. Analisator, berfungsi untuk menganalisa sudut yang terpolarisasi.
Analisator dapat diputar-putar untuk menentukan sudut terpolarisasi
3. Tombol On, berfungsi untuk menghidupkan polarisator
4. Wadah sampel (tabung polarimeter), wadah sampel ini berbentuk silinder
yang terbuat dari kaca yang tertutup dikedua ujungnya berukuran besar
dan yang lain berukuran kecil, biasanya mempunyai ukuran panjang 0.5 ;
1 ; 2 dm
5. Tempat tabung/kolom, berfungsi untuk memasukkan kolom/tabung pada
saat dianalisis
6. larisator, berfungsi untuk menghasilkan sinar terpolarisir
7. Sumber Cahaya monokromatis. yaitu sinar yang dapat memancarkan sinar
monokromatis. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah lampu D
Natrium dengan panjang gelombang 589.3 nm. Selain itu juga dapat
digunakan lampu uap raksa dengan panjang gelombang 546 nm.
8. Skala lingkar, merupakan skala yang bentuknya melingkar dan pembacaan
skalanya dilakukan jika telah didapatkan pengamatan tepat baur - baur

2.3.

Prinsip Kerja Polarimeter


Prinsip kerja alat polarimeter adalah sebagai berikut:
Sinar yang datang dari sumber cahaya (misalnya lampu natrium) akan
dilewatkan melalui prisma terpolarisasi (polarizer), kemudian diteruskan ke
sel yang berisi larutan. Dan akhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua
(analizer). Polarizer tidak dapat diputar-putar sedangkan analizer dapat diatur
atau di putar sesuai keinginan.
Bila polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang
polarisasinya juga tega lurus), maka sinar tidak ada yang ditransmisikan
melalui medium diantara prisma polarisasi. Pristiwa ini disebut tidak optis
aktif. Jika zat yang bersifat optis aktif ditempatkan pada sel dan ditempatkan
diantara prisma terpolarisasi maka sinar akan ditransmisikan.
Putaran optik adalah sudut yang dilalui analizer ketika diputar
dari posisi silang ke posisi baru yang intensitasnya semakin berkurang hingga
nol. Untuk menentukan posisi yang tepat sulit dilakukan, karena itu
digunakan apa yang disebut setengah bayangan (bayangan redup). Untuk
mancapai kondisi ini, polarizer diatur sedemikian rupa, sehingga setengah
bidang polarisasi membentuk sudut sekecil mungkin dengan setengah bidang
polarisasi lainnya. Akibatnya memberikan pemadaman pada kedua sisi lain,
sedangkan ditengah terang.

Bila analizer diputar terus setengah dari medan menjadi lebih


terang dan yang lainnya redup. Posisi putaran diantara terjadinya pemadaman
dan terang tersebut, adalah posisi yang tepat dimana pada saat itu intensitas
kedua medan sama. Jika zat yang bersifat Optis aktif ditempatkan diantara
polarizer dan analizer maka bidang polarisasi akan berputar sehingga posisi
menjadi berubah. Untuk mengembalikan ke posisi semula, analizer dapat
diputar sebesar sudut putaran dari sampel.
Sudut putar jenis untuk suatu senyawa (misalnya pada 25 oC)
Macam macam polarisasi antara lain, polarisasi dengan absorpsi selektif,
polarisasi akibat pemantulan, dan polarisasi akibat pembiasan ganda..
Menurut
Polarimeter adalah:

Farmakope

Indonesia

Edisi

IV

prinsip

kerja

Tabung polarimeter harus diisi sedemikian agar tidak terbentuk atau


meninggalkan gelembung udara yang mengganggu berkas cahaya yang lewat.
Gangguan dari gelembung dapat dikurangi dengan tabung yang lubangnya
diperbesar pada salah satu ujungnya. Pada tabung dengan lubang yang
seragam, misalnya tabung semi mikro, perlu hati-hati pada waktu pengisian.
Dianjurkan agar menggunakan tabung yang bukan logam pada pengujian zat
yang korosif atau larutan zat pada pelarut yang korosif.
Pada waktu menutup tabung yang mempunyai keping ujung
yang dapat dilepas serta dilengkapi dengan cincin karet dan penutup, maka
penutup ini harus dikencangkan secukupnya saja, agar tidak ada kebocoran di
keping ujung dan badan tabung. Tekanan berlebihan pada keeping ujung
dapat menimbulkan keregangan yang mengakibatkan gangguan terhadap
pengukuran. Pada penetapan rotasi jenis suatu zat dengan daya rotasi lemah,
sebaiknya tutup dilonggarkan dan dikencangkan kembali di antara pembacaan
yang berturut-turut, baik pada pengukuran rotasi maupun pada pembacaan
titik nol. Perbedaan yang ditimbulkan keregangan keping ujung umumnya
akan tampak, serta dapat dilakukan pengaturan yang tepat untuk
menghilangkan penyebabnya.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian eksperimen murni,


yaitu penelitian yang semua variable variable dalam penelitian daapat dikontrol
sepenuhnya.

3.2.

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada Selasa, 25 Oktober 2016 bertempat di


Laboratorium Gelombang dan Optik, yang berlokasi di Laboratorium Fisika,
Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Tadulako, Palu.

3.3. Prosedur Kerja


1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Menimbang massa gulaku sebesar 1 gram, 2 gram, dan 3 gram.
3. Membuat larutan gula dengan konsentrasi yang berbeda (aquades 25 ml +
gula 1 gram, aquades 25 ml + gula 2 gram, aquades 25 ml + gula 3 gram )
4.1.Untuk percobaan akuades murni
a. Mencuci bersih tabung pemutar, kemudia mengisi dengan aquades
(diusahakan agar tidak ada gelembung).
b. Memasukkan tabug yang berisi akuades murni ke dalam polarimeter.
c. Menentukan sudut terang polarisasi, kemudian mencatat kedudukan
ini dan mengulangi pengamatan ini sebanyak 3 kali.
4.2.Untuk percobaan akuades + 1 gram gula
a. Mengosongkan tabung pemutar kemudian menganti isinya dengan
larutan konsentrasi berbeda (aquades 25 ml + gula 1 gram), setelah itu
memutar analisa torse hingga kedudukan setimbang diperoleh
kembali. mengulangi pengamatan sebanyak 3 kali.

4.3.Mengulangi percobaan 4.2 dengan mengganti larutan dengan konsentrasi


yang berbeda (aquades 25 ml + gula 2 gram dan aquades 25 ml + gula 3
gram)

Gambar 2. Polarimeter

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
4.1.1. aquades murni
Perlakuan

Sudut (

110

2
3

80
81

4.1.2. aquades + gula 1 gram


Perlakuan

Sudut (

64

2
3

85
103

4.1.3. aquades + gula 2 gram


Perlakuan

Sudut (

83

2
3

35
68

4.1.4. aquades + gula 3 gram


Perlakuan
1

Sudut (
99

2
3

118
122

NST polarimeter = 0,5o


Nst Gelas ukur = 10 ml
Nst Neraca digital = 0,01 gr
Nst Mistar = 0,001 m
L=Panjang Tabung = 17,5 cm
V=Volume Air = 20 mL
Gula = 1 gr, 2 gr, 3 gr

4.2. Analisa data


4.2.1. Perhitungan umum
1. Konsentrasi Larutan
m2 1 x 103
k 2= =
=50 kg/m 3
5
V 2 2 x 10

k3 =

m3 2 x 103
=
=100 kg/m3
5
V 3 2 x 10

k 4=

m4 3 x 103
=
=150 kg /m3
V 4 2 x 105

2. Daya Putar Spesifik


1) Larutan gula ( 1 gr gula + 20 ml aquades)

Perlakuan I
1=

Perlakuan II
2=

64
=
=7,314 m 2 /kg
1
l k 2 1,75 x 10 x 50

85
=
=9,714 m 2 /kg
l k 2 1,75 x 101 x 50

Perlakuan III
3=

103
=
=11,771 m2 /kg
1
l k 2 1,75 x 10 x 50

2) Larutan gula ( 2 gr + 20 ml aquades)

Perlakuan I
1=

83
=
=4,742 m2 /kg
1
l k 3 1,75 x 10 x 100

Perlakuan II

35
2
2= =
=2,000 m /kg
l k 3 1,75 x 101 x 100

Perlakuan III

3=

68
=
=3,385 m2 /kg
l k 3 1,75 x 101 x 100

3) Larutan gula ( 3gr gula + 20 ml aquades)

Perlakuan I
1=

Perlakuan II
2=

99
2
=
=3,771 m /kg
1
l k 4 1,75 x 10 x 150

118
=
=4,495 m2 /kg
l k 4 1,75 x 101 x 150

Perlakuan III

3=

122
2
=
=4,467 m /kg
1
l k 4 1,75 x 10 x 150

4.2.1.
Perhitungan Ralat
1. Untuk air
2. Konsentrasi Gula
k
k
k=
| m|+
| V |
m
V

| | | |
1
m
k =| || m|+
|V |
|
V
V |
2

m=NST Neraca Digital=1 x 105 kg


1
V = NST Gelas Ukur=5 x 106 m3
2
-

Larutan 1 gram gula + 20 ml aquades

2 x 105 2
|5 x 106|
1 x 103

1
|1 x 105|+
k 2=
5
2 x 10

k 2=13,0 kg/m

KTPm= k 2=13,000 kg /m3


KTPr=

k2
13,0
x 100 =
x 100=26,0
k2
50

AB=1log

13,0
=1,6 2 AB
50

Pelaporan= ( k 2 k 2 )

kg
1
3
=( 5,0 1,3 ) 10 kg /m
3
m

Larutan 2 gram gula + 20 ml aquades


5 2
2 x 10
|5 x 106|
2 x 103

1
|1 x 105|+
k 3=
5
2 x 10

k 3=25,5 kg /m3
3

KTPm= k 3=25,5 kg / m
KTPr=

k3
25,5
x 100 =
x 100=25,5
k3
100

AB=1log

25,5
=1,6 2 AB
100

Pelaporan= ( k 3 k 3 )

kg
=( 1,0 0.26 ) 102 kg /m3
3
m

Larutan 3 gram gula + 20 ml aquades

2 x 105 2
|5 x 106|
3 x 103

1
|1 x 105|+
k 4=
5
2 x 10

k 4=38,0 kg /m

KTPm= k 4 =38,0 kg/m 3


KTPr=

k4
38,0
x 100 =
x 100=25,33
k4
150

AB=1log

38,0
=1,6 2 AB
150

Pelaporan= ( k 4 k 4 )

kg
2
3
=( 1,5 0,38 ) 10 kg /m
3
m

3. Daya Putar Spesifik

=
| |+
| l|+
| k|

l
k

| | | | | |
1

=| |||+
|l|+
|l k | |l k || k|
lk
2

=NST Polarimeter =8,75 x 104 rad


l=NST Mistar=1 x 103 m

1) Larutan 1 gram gula + 20 ml aquades


Perlakuan I
1
64
64
|8,75 x 104|+
|1 x 103|+
|13,0|
1=
1
1 2
1,75 x 10 x 50
1,75 x 101 x 502
( 1,75 x 10 ) x 50

1=1,942

m2
kg

KTPm= 1=1,942

m2
kg

KTPr=

1
1,942
x 100 =
x 100 26,55
1
7,314

AB=1log

1,942
=1,57 2 AB
7,314

Pelaporan= ( 1 1 )
-

m2 (
m2
= 7,3 1,9 )
kg
kg

Perlakuan II

2=

2=2,580

m2
kg

KTPm= 2=2,580
KTPr=

m2
kg

2
2,580
x 100 =
x 100 =26,55
2
9,714

AB=1log

2,580
=1,57 2 AB
9,714
2

Pelaporan= ( 2 2)
-

1
85
85
3
|8,75 x 104|+
|
|
1
x
10
+
13,0
1
2
1,75 x 10 x 50
1,75 x 101 x 502
( 1,75 x 101 ) x 50

m (
m
= 9,7 2,6 )
kg
kg

Perlakuan III

3=

1
103
103
|8,75 x 104|+
|1 x 103|+
|13,0|
1
1
2
1 2
1,75 x 10 x 50
1,75 x 10 x 50
( 1,75 x 10 ) x 50

3=30,848

m2
kg

KTPm= 3=30,848
KTPr=

m2
kg

3
30,848
x 100 =
x 100 =26,2
3
11,771

AB=1log

30,848
=0,59 2 AB
11,771

Pelaporan= ( 3 3 )

m
kg

1m
= ( 1,2 3,1 ) 10 kg

2) Larutan 2 gram gula + 20 ml aquades


- Perlakuan I
1
83
83
3
|8,75 x 104|+
|
|
|25,5
1=
1
x
10
+
1
2
1,75 x 10 x 100
1,75 x 101 x 1002
( 1,75 x 101) x 100

1=1,236

m
kg

KTPm= 1=1,236
KTPr=

m
kg

1
1,236
x 100 =
x 100 =26,60
1
4,742

AB=1log

1,236
=1,58 2 AB
4,42

Pelaporan= ( 1 1 )

m2 (
m2
= 4,7 1,2 )
kg
kg

Perlakuan II

2=

1
35
35
|8,75 x 104|+
|1 x 103|+
|25,5
1
1
2
1 2
1,75 x 10 x 100
1,75 x 10 x 100
( 1,75 x 10 ) x 100
2

m
2=0,521
kg

m2
KTPm= 2=0,521
kg
KTPr=

2
0,521
x 100 =
x 100 =26,05
2
2,000

AB=1log

0,521
=1,58 2 AB
2,000

Pelaporan= ( 2 2)

m2 (
m2
= 2,0 0,52 )
kg
kg

Perlakuan III

3=

3=1,012

m2
kg

KTPm= 3=1,012
KTPr=

m2
kg

3
1,012
x 100 =
x 100 =29,89
3
3,385

AB=1log

1,012
=1,52 2 AB
3,385
2

Pelaporan= ( 3 3 )

1
68
68
|8,75 x 104|+
|1 x 103|+
|25,5
1
1 2
1,75 x 10 x 100
1,75 x 101 x 1002
( 1,75 x 10 ) x 100

m (
m
= 3,4 1,0 )
kg
kg

3) Larutan 3 gram gula + 20 ml aquades


Perlakuan I
1
99
99
|8,75 x 104|+
|1 x 103|+
|38,0
1=
1
1
2
1 2
1,75 x 10 x 150
1,75
x
10
x
150
( 1,75 x 10 ) x 150

1=0,976

m
kg

KTPm= 1=0,976
KTPr=

m
kg

1
0,976
x 100 =
x 100 =25,88
1
3,771

AB=1log

0,967
=1,58 2 AB
3,771

Pelaporan= ( 1 1 )

m2 (
m2
= 3,8 0,97 )
kg
kg

Perlakuan II

2=

2=1,163

m2
kg

KTPm= 2=1,163
KTPr=

m2
kg

2
1,163
x 100 =
x 100 =25,8
2
4,495

AB=1log

1,163
=1,58 2 AB
4,495

Pe laporan=( 2 2 )
-

1
118
118
3
|8,75 x 104|+
|
|
|38,0
1
x
10
+
1
2
1
2
1,75 x 10 x 150
1,75 x 10 x 150
( 1,75 x 101) x 150

m2 (
m2
= 4,5 1,2 )
kg
kg

Perlakuan III

3=

1
122
122
|8,75 x 104|+
|1 x 103|+
|38,0
1
1 2
1,75 x 10 x 150
1,75 x 101 x 1502
( 1,75 x 10 ) x 150

3=1,203

m2
kg
2

KTPm= 3=1,203
KTPr=

m
kg

3
1,203
x 100 =
x 100 =26,93
3
4,467

AB=1log

1,203
=1,57 2 AB
4,467

Pelaporan= ( 3 3 )

m2 (
m2
= 4,5 1,2 )
kg
kg

4.3. Pembahasan
Polarimeter merupakan suatu alat yang tersusun atas polarisator dan
analisator. Polarimeter adalah Polaroid yang dapat mempolarisasi cahaya,
sedangkan anlisator adalah Polaroid yang dapat menganalisa atau
mempolarisasikan cahaya. Polarimeter adalah alat yang digunakan untuk
mengukur besarnya putaran optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat
optis aktif yang terdapat dalam larutan. Jadi polarimeter ini merupakan alat yang
didesain khusus untuk mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif.
Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang
polarisasi, sedangkan yang dimaksud dengan polarisasi adalah pembatasan arah
getaran (vibrasi) dalam sinar atau radiasi elektromagnetik yang lain. Untuk
mengetahui besarnya polarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif, maka
besarnya perputaran itu bergantung pada beberapa faktor yakni struktur molekul,
temperatur, panjang gelombag, banyaknya molekul pada jalan cahaya, jenis zat,
ketebalan, konsentrasi dan juga pelarut.
Pada percobaan ini bertujuan untuk memahami bahwa cahaya adalah
gelombang transversal sehingga dapat dipolarisasi, memahami cara kerja alat
polarimeter, menghitung daya putar spesifik dari larutan gula tebu dengan
menggunakan cahaya yang dipolarisasi.
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu
polarimeter yaitu alat yang digunakan untuk mengukur putaran optik suatu
larutan. Tabung pemutar digunakan sebagai alat untuk memasukkan bahan yang
akan di amati. Sumber cahaya monokromatis yaitu cahaya yang akan di
polarisasikan untuk mengamati putaran optik. Gelas ukur berfungsi untuk
mengukur larutan yang akan digunakan dalam percobaan ini. Gulaku berfungsi
sebagai indikator yang akan di amati. Akuades berfungsi sebagai indikator yang
akan di amati.
Prosedur kerja dalam percobaan ini yaitu Menyiapkan alat dan bahan yang
akan digunakan. Kemudian menimbang massa gulaku sebesar 1 gram, 2 gram,
dan 3 gram. Lalu membuat larutan gula dengan konsentrasi yang berbeda (aquades
25 ml + gula 1 gram, aquades 25 ml + gula 2 gram, aquades 25 ml + gula 3 gram ) .
Untuk percobaan akuades murni, pertama mencuci bersih tabung pemutar,
kemudia mengisi dengan aquades (diusahakan agar tidak ada gelembung).
Memasukkan tabung yang berisi akuades murni ke dalam polarimeter. Kemudian
menentukan isi setimbang polarisasi, kemudian mencatat kedudukan ini dan
mengulangi pengamatan ini sebanyak 3 kali. Untuk percobaan akuades + 1 gram
gula, pertama mengosongkan tabung pemutar kemudian menganti isinya dengan
larutan konsentrasi berbeda (aquades 25 ml + gula 1 gram), setelah itu memutar
analisa torse hingga kedudukan setimbang diperoleh kembali. mengulangi
pengamatan sebanyak 3 kali. Untuk percobaan selanjutnya mengulangi percobaan
akuades + 1 gram gula dengan mengganti larutan dengan konsentrasi yang
berbeda (aquades 25 ml + gula 2 gram dan aquades 25 ml + gula 3 gram)

Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan yaitu


untuk akuades murni di peroleh sudut putar perlakuan pertama yaitu 110 ,
perlakuan kedua 80 , perlakuan ketiga di peroleh 81 . Untuk percobaan
selanjutnya yaitu akuades + 1 gram gula diperoleh sudut putar perlakuan pertama yaitu
64 , perlakuan kedua diperoleh 85 , dan perlakuan ketiga di peroleh 103 .

Kemudian untu percobaan berikutnya yaitu akuades + 2gram gula dan di peroleh sudut

putar perlakuan pertama yaitu 83 , perlakuan kudua yaitu 35 , dan perlakuan


ketiga di peroleh 68 .

Dan untuk percobaan terakhir yaitu akuades + 3 graam

gula di peroleh sudut putar perlakuan pertama yaitu 99 , perlakuan kedua yaitu
118 , dan perlakuan ketiga yaitu 122 . Pada analisa data perhitungan umum di
peroleh konsentrasi larutan k2 sebesar 50 kg/m3, k3 sebesar 100 kg/m3, k4 sebesar 150
kg/m3. Daya putar spesifik untuk larutan akuades + 1 gram gula untuk perlakuan

pertama diperoleh sebesar 7,314 m2/kg, untuk perlakuan kedua di peroleh sebesar
9,714 m2/kg dan untuk perlakuan ketiga di peroleh sebesar 11,771 m 2/kg. Untuk
larutan akuades + 2 gram gula diperoleh untuk perlakuan pertama yaitu 4,742
m2/kg, perlakuan kedua diperoleh 2,000 m2/kg, dan perlakuan ketiga di peroleh
sebesar 3,385 m2/kg. Untuk larutan akuades + 3gram gula diperoleh untuk
perlakuan pertama sebesar 3,771 m2/kg, perlakuan kedua sebesar 4,495 m2/kg, dan
perlakuan ketiga diperoleh sebesar 4,467 m 2/kg. Pada perhitungan ralat untuk
k2
konsentrasi larutan diperoleh
larutan akuades + 1 gram gula sebesar 13,0
kg/m3 dengan KTPr sebesar 26,0%. Untuk konsentrasi larutan akuades = 2 gram
k3
gula diperoleh
sebesar 25,5 kg/m3, dengan KTPr sebesar 25,5%.
Sedangkan untuk larutan akuades + 3 gram gula di peroleh

k4

sebesar 38,0

kg/m3 dengan KTPr sebesar 25,33%. Pada perhitungan ini juga di peroleh
ketidakpastian mutlak untuk daya putar spesifik. Untuk larutan akuades + 1 gram
1
gula pada perlakuan pertama di peroleh
sebesar 1,942 m2/kg dengan KTPr
sebesar 26,55%. Untuk perlakuan kedua di peroleh

sebesar 2,580 m2/kg

dengan KTPr sebesar 26,55%. Pada perlakuan ketiga di peroleh

sebesar

30,848 m2/kg dengan KTPr sebesar 262,0%. Untuk larutan akuades + 2 gram gula
1
diperoleh
pada perlakuan pertamasebesar 1,236 m2/kg dengan KTPr
sebesar 26,6%. Untuk perlakuan kedua diperoleh sebesar 0,521 m 2/kg dengan
3
KTPr sebesar 26,05%. Untuk perlakuan ketiga diperoleh
sebesar 1,012
m2/kg dengan KTPr sebesar 29,89%. Untuk percobaan larutan akuades + 3 gram
1
gula perlakuan pertama diperoleh
sebesar 0,976m2/kg dengan KTPr

sebesar 25,88%. Untuk perlakuan kedua diperoleh

sebesar 1,163 m2/kg

dengan KTPr sebesar 25,8%. Untuk perlakuan ketiga diperoleh

sebesar

1,203 m2/kg dengan KTPr sebesar 26,93%.


Dari data yang diperoleh diketahui bahwa konsentrasi dan jenis larutan
akan mempengaruhi sudut putar tergantung dari besarnya sudut putar jenis larutan
tersebut. Pada saat konsentrasi gula semakin tinggi, maka cahaya yang terolah di
analisator menjadi lebih redup. Sehingga sudut putar jenisnyapun menjadi
semakin besar. Ini menandakan larutan gula dapat membelokan arah getar cahaya.
Prinsip kerja poilarimeter adalah meneruskan sinar yang mempunyai arah
getar yang sama dengan arah polarisator. Larutan gula yang merupakan larutan
optis aktif berfungsi untuk membelokan cahaya yang telah melalui polarissator.
Untuk menemukan sinar yang telah dibelokkan oleh larutan gula, kita gunakan
analisator yang sudutnya dapat diubah ubah. Besarrnya sudut yang ditunjukan
analisator setelah menemukan sinar tersebut yang dinamakan sudut putar. Setiap
larutan mempunyai sudut putar yang berbeda beda tergantung koinsentrasi dan
jenis larutannya.
Putaran optik adalah sudut yang dilalui analizer ketika diputar dari posisi
silang ke posisi baru yang intensitasnya semakin berkurang hingga nol. Untuk
menentukan posisi yang tepat sulit dilakukan, karena itu digunakan apa yang
disebut setengah bayangan (bayangan redup). Untuk mancapai kondisi ini,
polarizer diatur sedemikian rupa, sehingga setengah bidang polarisasi membentuk
sudut sekecil mungkin dengan setengah bidang polarisasi lainnya. Akibatnya
memberikan pemadaman pada kedua sisi lain, sedangkan ditengah terang.
Ketidakpastian mutlak (KTPm) yaitu ketidakpastian yang terjadi dalam
pengukuran yang disebabkan oleh alat praktikum itu sendiri. Sedangkan
ketidakpastian relatif (KTPr) yaitu ketidakpastian yang tejadi dalam pengukuran
akibat praktikan. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman konsep dalam
praktikum. Kesalahan ini juga diakibatkan oleh kurangnya ketelitian dalam
membaca alat ukur serta kurangnya perhatian praktikan dalam melakukan
praktikum.
Pada percobaan ini cahaya yang dapat di polarisasikan adalah cahaya
monokromatik sebab cahaya monokromatik hanya memiliki satu arah getar
berbeda dengan cahaya polikromatik yang memiliki banyak arah getar sehingga
cahaya polikromatik tidak dapat di polarisasikan.

BAB V
PENUTUP
5.1.

Kesimpulan

Tujuan 1
Prinsip kerja polarimeter adalah meneruskan sinar yang mempunyai arah
getar yang sama dengan arah polarisator. Sudut putar jenis bergantung pada
konsentrasi dan jenis larutannya.
Tujuan 2
Nilai daya putar spesifik yaitu :
1. Larutan pertama = 10,133 m2/kg, dengan ktpr = 1%

5.2.

2. Larutan kedua

= 6,247 m2/kg, dengan ktpr

= 0,5%

3. Larutan ketiga

= 3,886 m2/kg, dengan ktpr

= 0,33%

Saran

Diharapkan untuk selanjutnya yang akan melakukan percobaan ataupun


meneliti tentang percobaan ini agar dapat memperhatikan alat-alat yang akan
digunakan dalam hal ini kelengkapan alat dan kondisi alat serta cara pengamatan
dan pengambilan data adalah hal yang utama karena sangat menentukan hasil
yang akan di peroleh.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,(2011 ). Polarimeter Alat Pengukur Besarnya Putaran Optik, [Online].
\Tersedia : https://digital-meter-indonesia.com/blog/polarimeter-alatpengukur-besarnya-putaran-optik/. [08 Oktober 2016]

Anonim, (2012). Polarimeter, [Online]. Tersedia :


http://tugasinstrumen.blogspot.co.id/2012/10/polarimeter-merupakan-suatualat-yang.html [08 Oktober 2016]

Carl, (2009). Aktif Belajar Fisika untuk SMA & MA Kelas XI, Jakarta : Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Darling, David. ( 2009 ). Polarimeter, [Online]. Tersedia :
http://www.daviddarling.info/encyclopedia/P/polarimeter.html.[08 Oktober
2016]
Dwi Satya Palupi Suharyanto. (2009). Fisika untuk SMA dan MA kelas XI, Jakarta
: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Ofid, (2011). Percobaan Polarimeter, [Online]. Tersedia :
http://ofidfisika.blogspot.co.id/2011/01/percobaan-polarimeter.html. [08
Oktober 2016]
Tim Penyusun, (2016). Modul Praktikum Gelombang dan Optik. Palu ;
Universitas Tadulako