Anda di halaman 1dari 3

Konsultasi Marketing

Dr. Freddy Rangkuti


(www.fraimarketing.com)
MD Frai Marketing, Instruktur In-House Training
di berbagai Perusahaan, penulis lebih dari 15 buku
Manajemen dan Marketing, Dosen Program
Doktor Manajemen IBII.

Penjualan Sudah BEP Tapi Kok Masih Rugi?


Pertanyaan
Pak Freddy yth,
Perusahaan kami menghasilkan tiga jenis produk yang sudah beredar di pasar saat ini.
Kami juga sudah menerapkan strategi pemasaran yang Bapak anjurkan sebagaimana yang
Bapak sarankan di Majalah Duit, sehingga penjualan meningkat jauh di atas Break Even
Point yang kami hitung. Namun demikian setelah kami hitung hitung, ternyata laba
yang kami peroleh kok masih mengalami kerugian? Tolong Pak Freddy, mengapa bisa
seperti ini?
Ardhi,
Jakarta
Jawaban
Sebuah perusahaan menghasilkan tiga jenis produk yaitu X, Y dan Z, seandainya
manajemen menetapkan proporsi penjualan untuk ketiga produk tersebut adalah 5:4:1,
artinya untuk setiap penjualan sebanyak 10 unit akan terdiri dari 5 produk X, 4 produk Y
dan 1 produk Z. Harga jugal dan biaya variable per unit untuk setiap jenis produk tersebut
adalah sebagai berikut:

Produk

X
Y
Z

Harga jual per Biaya variable Margin


unit (Rp)
per unit (Rp)
kontribusi
per unit
(Rp)
10000
2000
8000
20000
6000
14000
30000
28000
2000

Margin kontribusi
optimum
8000 x 0.5 =4000
14000 x 0.4 = 5600
2000 x 0.1 =200

Jumlah biaya tetap untuk menghasilkan ketiga jenis produk tersebut adalah sebesar Rp 5
milyar.
Margin kontribusi per unit untuk campuran produk produk yang optimum adalah
berupa marjin kontribusi per unit secara rata rata tertimbang untuk setiap jenis produk.
Ukuran yang dipakai untuk setiap produk tersebut ditentukan berdasarkan campuran
produk yang optimal. Dalam contoh tersebut di atas adalah X = 50%, Y = 40% dan Z =
10%. Margin kontribusi per unit untuk mencari campuran produk produk yang
optimum adalah seharga Rp 9800 seperti yang tampak dari hasil perhitungan berikut ini:
Margin kontribusi untuk mencapai campuran produk produk yang optimum = Rp 4000
+ Rp 5600 + Rp 200 = Rp 9800.
Titik impas untuk menghasilkan ketiga peroduk tersebut adalah
Biaya tetap total/ marjin kontribusi rata rata tertimbang perunit
Titik impas = Rp 5 milyar / Rp 9800
Titik impas = 510. 204 unit (Dalam kasus Bapak di atas, seharusnya perusahaan
memperoleh laba apabila dapat mencapai penjualan di atas 510.204 unit.
Berdasarkan titik impas tersebut di atas, dapat diketahui laba yang akan diperoleh.
Artinya laba dapat ditentukan dengan cara mengalikan marjin kontribusi rata rata
tertimbang perunitnya dengan jumlah unitnya dan mengurangkannya dengan biaya tetap.
Jadi dalam contoh ini, laba yang diperoleh dari penjualan adalah sebanyak 600.000 unit
adalah sebesar Rp 1960.000.000 (600000(Rp 9800 Rp 4900.000.000).
Seandainya jumlah unit 600.000 tersebut memang benar benar terjual, tetapi campuran
produk yang benar benar terjual tidak sama dengan campuran produk yang optimal
seperti yang dicontohkan di atas, maka perusahaan kemungkinan dapat mengalami
kerugian.

Perhitungan di atas adalah contoh, bahwa apabila perusahaan berhasil menjual jauh di
atas Break Even Point. Misalnya perusahaan menjual sebanyak 700 ribu unit, dengan
perincian sebagai berikut: Jumlah produk yang terjual untuk produk X = 200.000 unit,
produk Y = 100.000 unit dan produk Z = 400.000 unit. Campuran produk ini akan
mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 1.1 milyar, meskipun
faktanya jumlah unit yang terjual melebihi jumlah yang diperhitungkan untuk mencapai
titik impas (Break Even Point).
***