Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PEMBAHASAN
A. Hubungan dan Keadilan Produsen dan Konsumen
Produsen adalah pelaku bisnis yang mengkhususkan diri dalam proses membuat
produk. Produksi atau manufakturing adalah proses yang dilakukan oleh produsen yang
merupakan aktivitas fungsional yang mesti dilakukan oleh setiap perusahaan. Fungsi ini
bekerja menciptakan barang atau jasa yamg bertujuan untuk membentuk nilai tambah. Secara
filosofis aktivitas produksi meliputi beberapa hal sebagai berikut : produk apa yang dibuat,
mengapa dibuat, kapan dibuat, untuk apa dibuat, bagaimana memproduksi, berapa kuantitas
yang dibuat. Etika bisnis berkaitan dengan hal-hal ini, memberikan solusi atas permasalahan
yang timbul agart dapat menciptakan harmoni bagi semua pihak yang berkepentingan
Adapun konsumen adalah stakeholder yang hakiki dalam bisnis modern. Bisnis tidak
akan berjalan tanpa adanya konsumen yang menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan
oleh produsen. Slogan the costumer is king, bukan hanya bermaksud menariksebanyak
mungkin konsumen, melainkan mengungkapkan tugas pokok produsen atau penyedia jasa
untuk mengupayakan kepuasaan konsumen. Dalam konteks ini tidak mengherankan jika
Peter Drucker menggaris bawahi peranan sentral konsumen dengan menandaskan bahwa
bisnis dalam maksudnya lebih tepat didefinisikan sebagai to create customer.
Karena itu suatu komoditas jika akan diproduksi haruslah mempertimbangkan alasan
sosial kemanusiaan, yaitu selain alasan dibutuhkan oleh masyarakat juga factor positif atau
manfaat positif apa, yang akan didapat sebagai akibat diproduksinya suatu komoditas. Selain
itu produsen juga mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan produk yang aman bagi
konsumen.
Disinilah letak pentingnya nilai keseimbangan antara produsen dan konsumen berada.
Bahwa produsen dalam mendayagunakan dan mengembangkan harta bendanya melalui
komoditas produk-produknya harus dilakukan dalam kebaikan atau jalan yang tidak
menyebabkan kebinasaan diri sendiri dan orang lain. Hubungan antara produsen dan
konsumen bukanlah hubungan yang tidak seimbang dimana produsen mempunyai kebebasan
taj terkendali untuk memproduksi suatu produknyadengan tujuan mencapai keuntungan
sebesar-besarnya walaupun dapat merugikan konsumen.
Sebaliknya hubungan keduanya harus berada dalam keseimbangan tertentu dalam
pengertian demi menghindari pemusatan kekuasaan ekonomi dan bisnis dalam genggaman
1

produsen semata. Al-Quran secara jelas tidak membenarkan upaya-upaya dan praktek
penumpukan sumber daya ekonomi pada segelintir kelompok saja.
Secara formal hubungan antara produsen dan konsumen bukanlah termasuk hubungan
kontraktual, yaitu hak yang ditimbulkan dan dimiliki oleh seseorang ketika memasuki
sebuahperjanjian dengan pihak lain. Hubungan ini berbeda dengan hubungan kerjasama suatu
bisnis. Pada umumnya hubungan produsen dan konsumen adalah hubungan interaksi secara
anonym, dimana masing-masing pihak tidak mengetahui secara pasti mengenai pribadipribadi tertentu kecuali hanya berdasarkan dugaan kuat. lebih rumit lagi hubungan antar
keduanya seringkali diperantarai oleh sekian banyak agen dan penyalur.
Hal demikian bukan berarti bahwa diantara keduanya tidak punya hak dan kewajiban,
karena dalam kenyataan hubungan mereka merupakan interaksi sosial yang menuntut adanya
hak-hak dan kewajiban masing-masing pihak yang berfungsi sebagai pengendali. Pengendali
ini meliputi aturan moralitas yang tertanam dalam hati sanubari masing-masing dan aturan
hukum dan sanksi-sanksinya.
B. Bisnis dan Perlindungan Konsumen
Pada bahasan ini akan mengkaji beberapa hukum ekonomi Islam yang berhubungan
dengan perlindungan konsumen. Berbagai kemungkinan terhadap penyalahgunaan kelemahan
yang dimiliki oleh konsumen dapat terjadi (1) ketika sebelum transaksi jual beli berlangsung
berupa iklan atau promosi yang tidak benar, (2) ketika transaksi itu sendiri sedang
berlangsung dengan cara tipu muslihat, dan (3) ketika transaksi telah berlangsung dimana
pelaku usaha tidak tahu menahu dengan kerugian yang ditanggung konsumen. Oleh karena
itu, bahasan ini dimulai dari proses pratransaksi:
1. Perlindungan dari Pemalsuan dan Informasi Tidak Benar
Sebelum membeli, seseorang konsumen tentu akan mencari informasi tentang
berbagai aspek dari suatu barang atau produk. Kelengkapan suatu informasi, daya
tarik dan kelebihan suatu barang dan produkmenjadi factor yang sangat menentukan
bagi konsumen untuk menetukan pilihannya. Oleh karena itu, informasi merupakan
hal pokok yang dibutuhkan oleh setiap konsumen.
2. Perlindungan terhadap Hak Pilih dan Nilai Tukar Tidak Wajar
Tidak adanya kebebasan konsumen dalam memilih suatu barang akibat mekanisme
pasar yang monopolistic, Rasulullah saw dengan tegastelah melarang terjadinya
monopoli, sebagaimana ia juga adalah penyebab dari tidak seimbangnya nilai tukar
2

dalam jual beli. Dengan demikian, dapat dikatakan terdapat banyak factor yang
mempengaruhi terjadinya harga tidak normal dipasar, di antaranya : (a) Permainan
harga yang disebabkan oleh praktek monopoli dan persaingan tidak sehat (al-ihtikar),
(b) penyalahgunaan kelemahan yang terdapat pada diri konsumen se[erti keadaan
lugu-istirsal, tidak terpelajar atau keadaan konsumen yang terdesak untuk memenuhi
suatu kebutuhannya-dharurah,(c) Penipuan dan informasi yang tidak informatifghurur.
Tuntutan Nabi saw secara umum dalam masalah harga ini adalah hadits tentang
pelarangan mempermainkan harga :
Barang siapa yang melakukan sesuatu untuk mempengaruhi harga-harga
barang kaum muslimin dengan tujuan untukl menaikkan harga tersebut, maka sudah
menjadi hak Allah untuk mendapatkannya di Uzm (tempat besar) dalam neraka pada
hari kiamat. (RH. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
Untuk mengatasi berlakunya harga yang tidak normal dipasar, fikih Islam
sudah menawarkan banyak solusi, diantaranya :
a. Pelarangan Praktek Ribawi
Riba dalam pengertian syara adalah kelebihan yang didapatkan dari suatu harta
tanpa ada imbalan atau padanan dalam akad saling tukar.
Syara menilai bahwa keuntungan yang didapatkan dari praktek riba bukanlah
suatu keuntungan normal, bahkan ia adalah suatu kezaliman sebagaimana firman
Allah :
Maka jika kamu tidak berbuat demikian (meninggalkan sisa riba yang belum
dipungut), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kamu.
Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka ambillah untukmu harta
pokokmu, dalam keadaan demikian kamu tidak melakukan kezaliman dan tidak
pula dizalimi. (QS. Al-Baqarah: 279)
b. Pelarangan Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat
Perilaku monopoli termasuk perbuatan sewenang-wenang dalam menggunakan hak
(al-tassuf fi al-istimal al-haq) karena untuk mewujudkan keuntungan pribadi,
seorang pelakumonopoli telah menimbulkan bahaya pada hak public (haq al-jamaah).
Ketika islam mengharamkan praktek monopoli, secara sepintas terlihat hal itu sebagai
tindakan semena-mena terhadap hak pribadi seseorang yang bebas dalam
menggunakan hartanya, sebagaimana jawaban dua pelaku monopoli ketika mereka
dihadapkan pada khalifah umar ibn al-Khathab yang melarang mereka melakukan
monopoli,
3

Wahai pemimpin kaum mukminin, (mengapa engkau melarang kami


sedangkan) kami hanya melakukan perbuatan jual beli dengan harta benda kami
sendiri ?(HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abaidillah ibn Umar al-Jasymi).
c. Pemberlakuan al-Tasir
Pada prinsipnya Islam tidak mengizinkan pemberlakuan tasir dalam kondisi normal
karena ia akan membunuh mekanisme pasar, dan bahkan suatu tindakan kelaziman
sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw :
Orang-orang berkata , wahai Rasulullah, harga sudah membumbung, maka
batasilah harga untuk kami para pembeli, maka Beliau saw menjawab,
sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, Yang menahan dan
Yangmeluaskan rezeki. Sesungguhnya aku bercita-cita untuk menemui Allah
nantinya, sedangkan tidak satupun diantara kamu yang menuntutku karena suatu
kezaliman yang aku lakukan terhadap darah dan hartanya. (HR. Abu Dawud, alDarami, dan di-shahih-kan oleh al-Tirmidziy dan Ibnu Hibban dari Anas).
d. Pemberlakuan khiyar al-Ghubn al Fahisy (Perbedaan Nilai Tukar Mencolok)
Tujuan dari perdagangan adalah mencari untung, sedangkan islam tidak pernah
memberikan batasan teretentu bagi seorang pedagang dalam memperoleh suatu
keuntungan.
Para ahli fikih menganggap bahwa perbedaan harga yang mencolok
merupakan salah satu penyebab rusaknya rasa saling rela (taradhin), maka adanya
ketidaksetaraan nilai tukar yang menyokok antara dua barang yang dipertukarkan (alGhubn al-Fahisy) karena adanya perdayaan atau tipuan akan menyebabkan pihak
yang membayar nilai tukar mempunyai hak khiyar.
e. Pemberlakuan Khiyar al-Mustarsil
Al-Mustarsil adalah seorang pembeli yang tidak tahu harga sesuatu dan dia juga tidak
pandai menawar suatu barang, namun ia hanya membeli dengan mempercayakan
pembelian pada pedagang.
f. Pelarangan Jual Beli an-Najasy
Najasy adalah perbuatan orang lain (bersekongkol dengan pedagang atau tidak) yang
sengaja menawar harga tinggi kepada pedagang, dengan tujuan agar para pembeli
tertarik membelinya dengan harga yang tinggi pula, sedang pelaku najasy itu sendiri
tidak berniat membeli barang tersebut.
Rasulullah saw bersabda tentang pelarangan perbuatan najasy :
Rasulullah saw telah melarang jual beli najasy (HR. al-Bukhari dan Muslim dari
Ibnu Abbas).
4

g. Pelarangan Jual Beli Talaqi Rukban dan Jual Beli al-Hadhir li Bad
Jual beli talaqi rukban adalah perbuatan pedagang suatu pasar yang sengaja
menyambut dan membeli barang kafilah dagang dari luar kota sebelum sampai di
pasar..
Tujuan utama dari pelarangan praktek talaqi rukban dan al-hadhir li bad ini adalah
tindakan preventif dari eksploitasi ketidaktahuan produsen terhadap harga pasar, dan
mengurangi jumlah pedagang dan makelar dalam hubungan dagang karena semakin
banyak jumlah pedagang, maka akan semakin tinggi pulalah harga suatu barang.
3. Perlindungan terhadap Keamanaan Produk dan Lingkungan sehat
Kemajuan teknologi dan berkembangnya volume perekonomian dan perdagangan
menuntut pengawasan ekstra terhadap resiko-resiko yang mungkin timbul akibat
penggunaan produk tertentu. Hal ini benar-benar menuntut tegaknya prinsip caveat
venditor (pelaku usahalah yang harus berhati, bukan pembeli). Adanya consumer
ignorance mengakibatkan mudahnya terjadi bahaya atau efek samping yang akan
menimpa konsumen.
Dalam islam terdapat lima hal yanh wajib dijaga dan kemaslahatannya menjadi tujuan
pokok syariah (al-dharuriyyat al-khamsah), yaitu agama (al-din), jiwa (an-nafs), akal
(al-aql), keturunan (an-nasl), dan harta (al-mal), sedangkan sebagian ahli hukum islam
ada juga yang menambahkannya dengan al-ardh (kehormatan). Bila dibuhubngkan
dengan resiko yang diakibatkan oleh cacat produk atau sikap tidak bertanggung jawab
dari suatu produk, maka tujuan pokok yang lima lebih berfokus pada penjagaan jiwa, akal
dan harta.
Kondisi keamanan produk dan lingkungan kita masih memprihatinkan karena masih
banyak keluhan masyarakat terhadap berbagai pelanggaran lingkungan, seperti langkanya
air bersih akibat limbah suatu pabrik dan keracunan makanan yang berdasarkan media
masa dan cetak selama kurun waktu 1988-1999 saja terdapat kasus 31 kasus keracunan
makanan. Yang terkenal di antaranya kasus biscuit beracun (CV Gabisco) 1989 yang
menewaskan ratusan orang.
Kasus kematian atau penyakit akibat mengkonsumsi suatu makanan misalnya, harus
menjadi tanggung jawab pihak pelaku usaha karena ia sudah melakukan suatu perbuatan
pelanggaran hukum secara tidak langsung.
4. Perlindungan dari Pemakaian Alat Ukur tidak Tepat
5

Permasalahan ketepatan alat ukur adalah sebuah permasalahan lama, namun masalah ini
tidak kunjung habis. Ketepatan alat ukur tradisional tentu tidak dapat disamakan dengan
alat-alat ukur kontemporer. Ketepatan alat ukur secara lebih relevan dengan zaman
sekarang adalah ketepatan antara sifat dan kualifikasi barnag yang diminta dengan yang
diserahkan dari segala segi, mulai dari ukuran, berat, isi, kandungan isi, dan semua yang
tertulis pada label atau yang dijanjikan oleh penjual. Betapa banyak barang-barang yang
jauh berbeda antara label dengan kandungan isi dan criteria yang ditemui konsumen
karena sulit bagi sembarang orang untuk mengetahuinya akibat kemajuan teknologi.
5. Hak mendapat advokasi dan penyelesaian sengketa
Pada pembicaraan tentang tuntutan yang berhubungan dengan hak-hak manusia, apabila
dua pihak yang bersengketa tidak dapat menyelesaikan masalah mereka secara damai
(ash-shulhu), maka mereka tidak akan dapat memutuskan suatu hukum kecuali dengan
melalui peradila (al-Qadha). Apabila kedua belah pihak yang bersengketa merasa
keberatan untuk menyelesaikan perkara mereka didepan hakim pengadilan, maka mereka
juga dapat mengupayakan penyelesaian dengan cara tahkim (arbitrase), yaitu melalui
seorang penengah atau al-hakam (arbiter) yang akan memberi keputusan yang harus
ditaati oleh kedua belah pihak. Apabila proses beracara pada pengadilan lebih rumit,
maka alternatif cara arbitrase umumnya lebih efisien.
Sesungguhnya penyelesain yang paling baik terhadap paling baik terhadap perlindungan
hak konsumen adalah dengan adanya hukum dan badan pengawas pemerintah yang akan
mampu memonitor segala pelanggaran hak konsumen. Dalam hal ini pemerintah Islam
telah membentuk sebuah stuktur hukum yang aktif dan efektif untuk membela hak-hak
konsumen, yaitu jawatan al-hisbah.
6. perlindungan dari penyalahgunaan keadaan
Penyalahgunaan keadaan memang belu termasuk sebagai salah satu faktor batalnya
perjanjian dalam hukum positif kita. Sedangkan negara Belanda sebagai asal KUHPerdata
yang kita anut sudah mencantumkan faktor penyalahgunaan keadaan (misbruik van
omstandigheden). Para ahli hukum berpendapat bahwa penyalahgunaan keadaan adalah
salah satu bentuk cacat kehendak.
Sangat banyak contoh yang diketengahkan oleh para ulama tentang penyalahgunaan
keadaan, yaitu :
a. Bai al-Mustarsil
6

Bai al-Mustarsil yaitu seseorang yang tidak mengetahui harga dan tidak pandai menawar
suatu barang.
b. Bai al-Dharurah
Bai al-Dharurah adalah penjuan yang dilakukan oleh seseorang yang terdesak secara
ekonomis dimana ia menjual suatu barang miliknya karena untuk membayar suatu hutang
atau untuk memenuhi suatu kebutuhan hidupnya sehingga ia menjual barang tersebut
kurang dari niai pantas yang sesuai dengan harga pasar.
c. Bai al-washi mal al-qashir
Bai al-washi mal al-qashir adalah jual beli seorang wali terhadap harta orang yang di
bawah perwaliannya, seperti anak yatim, orang gila, orang bodoh, dan anak yang masih
kecil.
d. Bai talaqi rukban
Bai talaqi rukban adalah perbuatan perdagangan suatu pasar yang sengaja menyambut
kafilah dagang dari luar kota sebelum sampai di pasar dengan tujuan membeli dengan
harga murah, lalu menjualnya dengan harga tinggi.
7. Hak Mendapat Ganti Rugi Akibat Negatif Produk
Berkaitan dengan masalah pernyataan pembebasan diri penjual dari cacat barang atau albaraah min al-uyub , penulis cenderung pada pendapat mayoritas ulamaal-Syafii
Maliki bahwa pelepasan tanggung jawab cacat barang hanya berlaku untuk cacat yang
terdapat pada waktu transaksi terjadi karena hal ini sesuai dengan ketentuan khiyar aib.
Apabila suatu barang telah rusak di tangan pembeli, kemudian ia mengetahui bahwa
terdapat cacat pada barang tersebut, apakah pembeli masih berhak menuntut ganti rugi?.
Penulis cenderung pada pendapat al-khatib al-Syaibainiy yang menyatakan bahwa
pembeli berhak menuntut kerugian senilai cacat yang terjadi, dangan cara penghitungan
nilai apabila barang tersebut sempurna, sedangkan patokan harga diambil dari harga
terendah pada hari terjadinya transaksi.
a. Penyebab ganti rugi (dhaman)
1) Dhaman itlaf /peruskan
Ganti rugi itlaf berkaitan dengan kerusakan atas harta benda dam juga terhadap
jiwanyadan anggota tubuh manusia.
Apabila

dihubungkan

dengan

perlindungan

konsumen,

maka

perbuatan

perusakanini (al-itlaf) sangat erat sekali. Khususnya tentang cacat produk yang dapat
mencedarai atau bahkan merenggut nyawa para konsumen.
7

2) Dhaman Aqdin
Dhaman Aqdin yaitu terjadinya suatu akad atau transaksi sebagai penyebab
adanya ganti rugi atau tanggung jawab. Oleh karena itu, apabila terdapat cacat yang
merugikan, maka penjual harus bertanggung jawab.
3) Wadhu yadin (ganti rugi perbuatan)
Ganti rugi wadhu yadin seperti ganti rugi akibat kerusakan suatu barang dari
suatu perbuatan mengambil harta tanpa izin .
4) Dhaman al-hailulah ( penahanan)
Al-Hailulah adalah perbuatan atau kesepatan yang menyebakan seseorang
membatasi orang lain untuk menggunakan atau berbuat terhadap hartanya. Seperti
perbuatan seorang tempat penitipan barang.
5) Dhaman al-Maghrur
Dhaman al-Maghrur adalah ganti rugi atau tanggung jawab karena kerugian yang
ditimbulkan oleh perbuatan tipu daya.
b. Ukuran ganti rugi
Hukum islam sangat memperhatikan pemeliharaandn perlindungan terjadap diri dan
harta, benda, san adalah suatu keadilan apabila pihak yang menimbulkan suatu
kerugian, mengganti kerugian yang ia timbulkan tersebut, maka sekiranya tindakan
bahaya munculm hukum syara harus muncuk untuk menghilangkan bahaya tersebut.
Apabila bahaya tersebut menyangkut perusakan atau pelenyapan harta, maka pelaku
harus mengganti harta yang diruskanya tersebut.
Sedangkan apabila perbuatan bahaya atau tindakan merugikan orang lain itu berkaitan
dengan perusakan harta, maka untuk ganti ruginya tidak berlaku hukum diyat, tetapi
harus dengan ganti rugi harta pula. Terdapat tiga macam cara pemenuhan ganti rugi
yaitu :
1) Hak-hak harus diganti atau dikembalikan pada pihak yang berhak sesuai dengan
zat dan keadaaannya yang asli (al-ain) karena ia bentuk ganti rugi paling
sempurna
2) Apabila tidak mampu mengembalikan barang asli, maka harus dikembalikan
barang semisal (al-mal al-mitsli) , yaitu harta yang dapat diukur, seperti timbang,
dihitung, dan diukur dengan tepat.
3) Apabila tidak mampu mengembalikan barang semisal (al-mitsli), maka harus
dikembalikan barang senilai (al-qiyami) , yaitu harta yang tidak dapat diukur
dengan tepat dan tidak terdapat jenis yang sama dalam satuannya di pasar. Seperti
barang antik, hewan dan pepohonan.
8

Nilai suatu barang ditentukan oleh dua saksi yang adalah dari ahli pasar sesuai
dengan spesialisasi masing-masing, misalnya ganti rugi kerusakan atau
kelenyapan sebuah buku lama yang tidak pernah dicetak lagi karena buruk sebuah
jasa transportasi, maka nilainya ditentukan oleh ahli ilmu yang biasa bergelut
dengan buku semacam itu.
Sebagai contoh dari kerentuan di atas, apabila seseorang menjual suatu makanan
untuk binatangnya, kemudian binatang tersebut mati karena adanya racun yang
dikandung oleh makanan tersbut, maka pelaku usaha tidak mungkin mengganti
dengan binatang asli yang sudah mati tersebut, ataupun dengan barang semisal
karena tidak ada ukuran yang tepat untuk binatang. Oleh karena itu pelaku usaha
harus mengembalkikan nilai atau harga sesuai harga dari binatang tersebut.
c. Usaha pengawasan dan sanksi
Kemandekan tegaknya hukum perlindungan konsumen yang terdapat dinegara kita, salah
satunya disebabkan oleh masih minimnya pengawasan pemerintah terhadap segala hal
yang berhubungan dengan perlindungan pihak lemah, khususnya konsumen. Kendalakendala yang dihadapi konsumen dalam menegakkan haknya, antara lain :
1) Adanya consumers ignorance akibat kemajuan teknologi yang begitu cepat serta
arus informasi global, konsumen kesulitan membuktikan (proses pembuktian)
suatu produk yang tidak memenuhi standar karena alasan ekonomis dan
pengetahuan.
2) Konsumen tidak mau mengajukan tuntutan akibat kerugian dalam mengkonsumsi
suatu produk barang atau jasa karena beban biaya, pengetahuan dan proses
beracara hukum yang tidak sederhana, cepat dan murah disamping adanya budaya
suka menghindari konflik sehingga timbul suatu pameo lebih baik membiarkan
kehilangan seekor ayam daripada harus membayar pengembaliannya dengan
seekor kambing.
Kelemahan konsumen secara ekonomi dan sosial tentunya perlu mendapatkan sebuah
bantuan perlindungan langsung dari pemerintah dengan cara yang akomodir dengan
kelemahan mereka, misalnya pengadaan badan khusus yang siap sedia menerima,
menyalurkan dan langsung berdiri sebagai pihak pembela konsumen.
1. Pengawasan perlindungan konsumen dalam Islam
Tugas tugas lembaga peradilan dan pengawasan hukum yang terdapat dalam islam
sangat beragam, namun disini penulis mefokuskan pada penegakan hukum yang
berkaitan dengan budang perekoniam, khususnya bidang perlindungan kunsomen.

Usaha pengawasan hak-hak konsumen dalam islam dilaksanakan secara langsung


oleh suatu jawatan yang disebut denga jawatan al-hisbah. Jawatan al-hisbah
adalah suatu penegak hukum disampinh kehakiman dan kejaksaaan (al-qadhi dan
wilayat al-muzhalim) dan polisi (syurthah).
Kekuasaan peradilan islam ada tiga, yaitu :
a. wilayat al-muzhalim (pengawasan aparatur negara dan penegak hukum publik
yang tidak mampu ditangani oleh qadhi dan wali nisbah.
b. Wilayat al-qadha al-adi (penegak hukum sipil dan publik)
c. Wilayat al-hisbah ( penegak dan pengawas langsung hukum sipil dan
ketertiban umum)
2. Wilayat al-hisbah
Jawatan al-hisbah berada pada tataran paling bawah dalam struktur hukum
peradilan islam, namun keberadaanya paling efektif dalam penegakan hukum. Alhisbah adalah sebuah jawatan pengawasan dan penegak hukum yang pertama kali
ada dalam sejarah hukum ekonomi dunia. Pada masa periode awal Islam (Masa
Rasulullah dan Khalifah yang empat), kekuasaan al-hisbah umumnya langsung
dilaksanakan oleh nabi saw dan para khalifah karena cara kehidupan umat yang
masih sederhana. Nabi Muhammad saw sendiri pernah memeriksa seorang
pedagang makan dengan cara memasukkan tangan pada tumpukan makan
tersebut, lalu Beliau saw mendapati bahwa pedagang tersebut meletakkan
makanan yang baik di bagian atas sedangkan yang jelek di bagian bawah, maka
beliau menyatakan tindakan seperti adalah suatu bentuk penipuan dengan
bertkata :
Barang siapa yang melakukan penipuan terhadap kami, maka ia tidak
termasuk dalam kelompok kami. (HR. Muslim, Ibnu Majah dan al-Tirmidzi dari
Abu Hurairah)
Sebenenarnya tugas dan wewenang wali hisbah sangat luas, namun pada
pembahasan ini penulis hanya akan membahas tugas jawatan hisbah yang
berhubungan dengan kegiatan perekonomian. Struktur, tugas dan wewenang
jawatan al-hisbah bidang ekonomi adalah :
a. Mengontrol segala kegiatan ekonomi masyarakat. Misalnya, untuk memeriksa
timbangan dan takaran, keaslian bahan suatu barang, dan keamanan konsumsi
suatu barang yang ditangi oleh ahli-ahli khusus.
b. Wali hisbah berkewajiban mengawasi segala perbuatan munkar atau perbuatan
melawan hukum yang nyata terjadi pada masyarakat, serta memperhatikan
perbuatan-perbuatan maruf yang ditinggalkan masyarakat secara jelas.

10

c. Wali hisbah berhak memanggil dan mendengar dakwaan pihak-pihak yang


bersengketa, namun apabila permasalahan mereka sudah berhubungan dengan
persengketaan hukum yang berkaitan dengan bukti-bukti, maka tugas tersebut
diserahkan pada hakim atau wilayat muzhalim. Jadi, ia hanya menyelesaikan
masalah-masalah yang tidak perlu di bawa ke pengadilan.
d. Apabila terjadi pelanggaran secara nyata, maka wali hisbah dapat menjatuhkan
hukuman sesuai dengan kesalahan yang bersangkutan.
Contoh kongkrit tugas wali hisbah adalah seperti melarang model-model akad yang
terlarang berupa praktik riba, monopoli dengan segala bentuknya yang merugikan
kepentingan publik yang umumnya terdiri dari konsumen, mengawasi tidak terdapatnya
permainan harga, mengawasi para indrustriawan dengan berbagai macam usaha pemalsuan
dan penyembunyian cacat suatu barang, misalnya dzahirnya terlihat lebih bagus dari isinya,
pemalsuan uang dan wangi-wangian, jual beli yang tidak sah, jual beli al-gharar, penipuan,
dan memeriksa alat timbangan dan takaran dengan cermat, melarang para pemilik jasa
kendaraan untuk memuat kendaraan mereka melebihi kemampuannya yang wajar,
percampuran wanita dan laki-laki dalam kendaraan, mencegah jual beli tashriyyah, melarang
pemakaian uang sebagai barang dagangan karena ia adalah modal untuk berdagang, melarang
segala cara yang bertujuan mengahalalkan riba riba seperti bai al-ainah, melarang perbuatan
najasy karena hal itu akan merugikan para pembawa barang atau produsen dan para pembeli,
dan memberi hak khiyar bagi mustarsil.
C.

IKLAN DAN DIMENSI ETISNYA


Pada kenyataannya, banyak barang diperjualbelikan belakangan ini yang tidak

sebanding dengan apa yang telah diiklankan. Fenomena pemalsuan dan penipuan karena
adanya keahlian dan teknologi yang dimiliki oleh para pelaku pada hakekatnya tidak hanya
terjadi pada zaman kemajuan teknologi modern dalam bentuk iklan.
Informasi yang harus diberikan kepada pembeli tidak hanya berhubungan dengan kuantitas
dan kualitas suatu barang, tetapi juga berkaitan dengan, tetapi juga berkaitan dengan efik
samping atau bahaya pemakaian, perlindungan terhadap kepercayaan tertentu, seperti
informasi halal atau haramnya suatu produk. Resiko pemakaian barang akan dikenakan pada
pelaku usaha sebagai penyebab (tasabbub) kerugian karena melanggar prinsip hati-hati
(adam al-ihtiyath) atau sewenang-wenang dalam penggunaan hak (al-tassuf fi al-istima alhaq).

11

Salah satu tujuan promosi atau iklan yang tidak jujur adalah agar barang dagangan
tersebut laris atau menarik para pembeli untuk membelinya. Dalam fikih Islam terdapat suatu
istilah yang disebut dengan al-ghufur. Definisi al-ghufur adalah Usaha membawa dan
menggiring seseorang dengan cara yang tidak benar untuk menerima suatu hal yang tidak
memberi keuntungan disertai dengan rayuan bahwa hal itu menguntungkannya. Sedangkan
sekiranya ia mengetahui hakikat ajakan tersebut, maka ia tidak akan mau menerimanya.
Tindakan al-ghurur ada yang bersifat perkataan atau perbuatan. Contohnya perbuatan
al-ghurur adalah memberi cat suatu benda untuk menyembunyikan cacat atau jenisnya.
Sedangkan contoh dari perkataan al-ghurur adalah ucapan bohong yang membuat seseorang
melakukan sesuatu, seperti iklan bohong yang menyatak keungulan suatu produk. Segala
bentuk perbuatan al-ghurur yang menyebabkan kerugian pada seseorang mengharuskan
pelaku al-ghurur tersebut mengganti kerugian yang terjadi. Dalam menerangkan bahaya
tindakan al-ghurur , Ibnu Taimiyah berkata : Sesungguhnya al - gharar adalah transaksi yang
tidak dapat diketahui akibat akhirnya karena ia tergolong dalam salah bentuk judi yang penuh
dengan spekulasi (mukhatharah) murni, misalnya apabila seseorang menjual kuda atau
burung yang sudah lepas kepada pembeli dengan harga yang rendah. Lalu si pembeli berhasil
menemukannya, si penjual berkata, Ia berhasil berspekulasi-judi- dengan saya, sedangkan
saya hanya mendapatkan sedikit uang, pembeli juga akan mengungkapkan hal senada
apabila ia tidak berhasil menemukankan kuda atau burung tersebut. Jadi, jual beli seperti ini
mendatangkan dua akibat dari perjudian, yaitu permusuhan dan kebencian. Di samping itu,
mereka sudanh mengkonsumsi harta orang lain secara bathil yang termasuk dalam tindakan
kezaliman. Dengan demikian, dalam jual beli al-gharar terdapat unsur kezaliman,
permusuhan dan kebencian.
Salah satu sebab cacatnya rasa saling rela (taradhin) adalah tidak adanya kesesuaian
antara sifat atau kriteria barng yang disampaikan penjual pada pembeli atau yang diharapkan
oleh pembeli sehingga timbul penyesalan sebagai tanda dari rusaknya rasa saling rela, untuk
mengatasi terjadinya penyesalan yang merusak rasa saling rela tersebut, maka Islam
mengharamkan beberapa transaksi jual beli seperti: al-mulamasah, al- munabadzah, menjual
susu yang masih di dalam binatang ternak, dan segala bentuk bai al-gharar (mengandung
ketidakjelasan). Contoh bai al-gharar dari hadits Ibnu Masud :
Jangan kamu beli ikan dalam air karena padanya terdapat gharar (tipuan)
Dan dalam hadits Nabi saw :

12

Bahwa Nabi saw melarang dari melakukan bai al-gharar dan jual beli yang mengandung
tipuan (bai al-gharar) (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Rasulullah saw juga menyatakan bahwa apabila pedagang yang menyembunyikan
cacat yang terdapat pada barang dagangannya mendapat untuk, maka keberkahannya akan
dicabut Allah swt :
Dua orang yang berjual beli berhak memiliki khiyar selama keduanya belum terpisah. Jika
keduanya bersikap jujur dan menjelaskan apa adanya, maka jual beli mereka akan diberkahi
Allah. Akan tetapi, apabila keduanya menyembunyikan suatu cacat atau bersikap dusta, bisa
jadi mereka dapat keuntungan, namu keberahan untung mereka akan dicabut Allah swt. (HR.
Al-Bukhari dan Muslim dari Hakim ibn Hazim).
Dalam praktek dagang sederhana, untuk melariskan barang dagangannya, seseorang
pedagang kadangkala tidak segan-segan bersumpah. Di antaranya ayat 77, surah Ali-Imran
tentang pelarangan promosi yang tidak sesuai dengan kualifikasi barang:
Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji iman pada Allah dan sumpah-sumpah
mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak akan mendapatkan bagian ganjaran
pahala di akherat, dan Allah tidak akan mau berbicara dengan mereka dan tidak akan mau
melihat pada mereka pada hari kiamat dan tidak pula akan mensucikan mereka, dan bagi
mereka disediakan azab yang pedih. (surah Ali-Imran : 77)
Perbuatan memberikan informasi yang tidak benar seperti iklan-iklan bohong yang
terdapat pada berbagai media masa adalah salah satu bentuk penipuan. Apabila penipuan
tersebut berkaitan dengan upaya meruskan kemaslahatan umum, maka berarti orang tersebut
telah melanggar hak-hak Allah, yaitu hak publik. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban
pemerintah mengawasi tindakan penipuan yang terjadi di kalangan masyarakat, dan
menghukum mereka hukuman tazir apabila mereka telah terbukti melakukan penipuan.
Sebuah iklan dapat dikatakan telah melakukan suatu kebohongan apabila telah
memenuhi prinsip penipuan ucapan (al-Taghir al-qauliy)
Jual beli tipuan yang terlarang adalah apabila mengetahui kekurangan atau cacat
yang terdapat pada barang dagangan tersbut, maka ia tidak akan mau membelinya.
Dalam hal ini,Ibnu Nujaim mengtengahkan sebuah kasus contoh, tentang seorang laki-laki
berpenyakit lepra dan kudisan, apakah ia boleh bekerja sebagai pembuat roti ?, Ibnu Nujaim
menjawab, Tidak boleh, kecuali apabila dia menerangkan pada pembeli keadan yang
sebenarnya karena apabila pembeli mengetahui semua itu, maka biasanya mereka tidak akan
mau memebli, dan segala penyembunyian cacat keadaan seperti ini termasuk tindakan
penipuan yang diharamkan.
13

Di antara solusi hukum yang diberikan Islam terhadap konsumen, apabila terjadi
ketidaksesuaian antara promosi dengan sifat barang, maka konsumen akan mempunyai hak
khiyar tadlis (katmal-uyub), yaitu hak untuk membatalkan atau melanjutkan transaksi karena
menyembunyikan cacat barang seperti pedagang yang mendemonstrasikan suatu barang
sehingga kelihatan barang tersebut mempunya kelebihan melebihi keadaan sebenarnya.
Terdapat juga khiyar aib, yaitu kurangnya kuantitas barang atau kurangnya nilai barang
tersebut dikalangan ahli pasar, dan khiyar al-ruyah, yaitu hak khiyar terhadap pembeli ketika
melihat barang yang akan dibeli karena ketika akad berlangsung ia tidak menyaksikan barang
tersebut. Melihat penerapannya khiyar al-ruyah sangat urgen pada zaman sekarang karena
banyaknya transaksi melalui media transaksi melalui media elektronika khususnya yang
bersifat pesanan (Online), sedangkan pembeli belum mengetahui barang tersebut.

14