Anda di halaman 1dari 45

BERPIKIR KRITIS

DISUSUN OLEH:
TITI NURYANTI PUNE (2008-83-043)
NURTAKBIRAH TUANAYA (2008-83-006)

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2008

BERPIKIR KRITIS

Tidak seperti makhluk hidup lainnya, manusia dikaruniai kemampuan untuk berpikir sebelum
bertindak. Namun, kenyataannya seringkali kita tidak memanfaatkan kemampuan berpikir secara
optimal. Seringkali bertindak tanpa didahului dengan berpikir. Banyak alasan yang
dikemukakan sebagai dalih untuk tidak berpikir: tidak ada waktu, bukan urusan kita, atau
bukan tanggung jawab kita.
Namun, tindakan yang dilakukan tanpa disertai dengan proses berpikir bisa membahayakan diri
sendiri? Kalau saja anugerah berpikir kita manfaatkan dengan baik, tentunya banyak masalah
yang bisa kita hindari, dan banyak solusi yang bisa kita temukan. Jadi, jelaslah bahwa berpikir
kritis itu untuk dilakukan.

Defenisi Berpikir Kritis

Berpikir kritis merupakan sebuah proses. Proses berpikir ini bermuara pada tujuan akhir
yang membuat kesimpulan ataupun keputusan yang masuk akal tentang apa yang harus
kita
percayai
dan
tindakan
apa
yang
akan
kita
lakukan.
Berpikir kritis bukanlah dilakukan untuk mencari jawaban semata, tetapi yang terlebih
utama adalah mempertanyakan jawaban, fakta, atau informasi yang ada. Dengan
demikian bisa ditemukan alternatif atau solusi terbaiknya.
Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi.
Informasi tersebut dapat didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau
komunikasi.

Berpikir kritis adalah suatu aktifitas kognitif yang berkaitan dengan


penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan
proses-proses mental, seperti memperhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan
menilai/memutuskan.

Berpikir Kritis adalah ketetapan yang hati-hati dan tidak tergesa-gesa untuk apakah kita
sebaiknya menerima, menolak atau menangguhkan penilaian terhadap suatu pernyataan,
dantingkat kepercayaan dengan mana kita menerima atau menolaknya.

Pada intinya, berpikir kritis merupakan sebuah proses yang berkaitan dengan penggunaan nalar,
untuk memperhatikan dan menyeleksi informasi sebagai pengambilan keputusan untuk
menerima atau menolaknya. Informasi yang diperolah berasal dari hasil pengamatan,
pengalaman dan akal sehat.
Berpikir kritis merupakan proses penting, karena dapat melatih daya pikir, sehingga orang
cenderung mengambil keputusan yang tepat.
Kemampuan
dalam
berpikir
kritis
memberikan
arahan
yang
tepat
dalam
berpikir dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu
dengan yang lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir
kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah / pencarian solusi.

Ada enam prinsip penting dalam menerapkan cara berpikir kritis, yaitu: interpretasi, analisis,
evaluasi, penjelasan, dan self-regulation.
Interpretasi dan Analisis
Prinsip pertama, interpretasi adalah upaya memahami informasi yang kita miliki. Setelah
informasi berhasil kita pahami dengan baik, kita perlu melakukan analisis terhadap segala
sesuatu yang terkait dengan informasi tersebut.
Evaluasi
Selanjutnya, kita perlu melakukan evaluasi terhadap dampak dari pemanfaatan ataupun
pengabaian informasi tersebut. Evaluasi juga berupaya untuk menemukan berbagai alternatif
solusi dengan memanfaatkan informasi yang dimiliki.
Penjelasan
Setelah kita mendapatkan solusi yang terbaik, kita perlu menjelaskan keputusan kita tersebut
kepada orang lain, sehingga mereka juga bisa memahami mengapa keputusan tersebut yang kita
ambil.
Lebih jauh lagi, dengan penjelasan yang masuk akal, kita bisa meyakinkan orang lain, ataupun
orang-orang yang perlu diyakinkan untuk kita ajak melihat sesuatu dari sudut pandang kita.
Self-Regulation
Yang terakhir adalah self regulation. Yang dimaksud dengan self-regulation adalah mencoba

jujur terhadap pandangan dan keyakinan kita, ataupun kemungkinan terjadinya kesalahan atau
ketimpangan dalam keputusan yang kita ambil karena pengaruh latar belakang kita.

Berpikir kritis tidak menjamin seseorang akan mencapai kesimpulan yang tepat. Pertama, ada
kemungkinan seseorang tidak memiliki seluruh informasi yang relevan. Informasi yang penting
mungkin belum ditemukan atau informasi tersebut mungkin tidak akan dapat ditemukan. Kedua,
pemihakan (bias) dari seseorang dapat saja menghalangi pengumpulan dan penilaian informasi
secara efektif.
Janganlah membuat asumsi secara berlebihan, dengan kata lain: jangan memperumit masalah
anda. Berpikir kritis adalah sebuah proses yang tidak akan selesai. Seseorang dapat mencapai
sebuah kesimpulan tentatif berdasarkan evaluasi dari informasi yang ada. Tetapi, jika ada
informasi baru yang ditemukan maka proses evaluasi harus dijalankan kembali.

LAMPIRAN

21 April 2005
Berpikir Kritis
Posted under:

Infomation

Opinion

at 03:12

Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi
tersebut dapat didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi. Di
bawah ini adalah metoda dari berpikir kritis yang diambil dari Wikipedia dan beberapa sumber
lain.
Langkah-langkah
Walaupun tidak ada langkah-langkah yang perlu diambil secara rigid, langkah-langkah di bawah
ini berguna dalam berpikir kritis:
1. Buatlah daftar pendapat dan kumpulkan argumentasi yang mendukung
setiap pendapat tersebut.
2. Pecahkan argumentasi yang anda dapatkan pada langkah pertama menjadi
kalimat-kalimat pendukungnya dan carilah implikasi dari kalimat-kalimat ini.
3. Carilah kontradiksi pada kalimat-kalimat dan implikasinya yang anda
dapatkan pada langkah 2.
4. Dari argumen-argumen yang anda dapatkan, susunlah berdasarkan argumenargumen yang saling bertentangan dan beri bobot untuk argumen-argumen
tersebut
o

Tambahkan bobot jika sebuah klaim memiliki dukungan yang kuat,


terutama jika memiliki alasan-alasan yang kuat. Kurangi bobot jika ada
klaim yang memiliki kontradiksi

Ubahlah bobot tergantung dari relevansi dari informasi terhadap isu


yang dibicarakan

Klaim yang besar membutuhkan bukti yang besar pula, jika sebuah
klaim besar tidak memiliki bukti yang cukup, abaikan klaim ini dalam
membentuk opini anda.

5. Tinjaulah bobot dari setiap klaim


o

Opini yang memiliki bukti yang terkuat kemungkinan besar adalah


benar

Mind map adalah alat yang efektif untuk mengevaluasi informasi ini.
Pada tahap-tahap akhir, bobot numerik dapat diberikan pada cabangcabang Mind map

Tentunya berpikir kritis tidak menjamin seseorang akan mencapai kesimpulan yang tepat.
Pertama, ada kemungkinan seseorang tidak memiliki seluruh informasi yang relevan. Informasi
yang penting mungkin belum ditemukan atau informasi tersebut mungkin tidak akan dapat
ditemukan. Kedua, pemihakan (bias) dari seseorang dapat saja menghalangi pengumpulan dan
penilaian informasi secara efektif.
Mengatasi Pemihakan (Bias)
Untuk mengurangi pemihakan, beberapa cara harus dilakukan jika seseorang ingin berpikir
kritis. Jangan tanyakan Bagaimana hal ini bertentangan dengan pendapat saya?, tapi
tanyakanlah Apa artinya ini?
1. Jangan lakukan penilaian terlalu dini pada tahap pengumpulan informasi
2. Anda harus sadar terhadap kekurangan anda sendiri dan orang lain dengan
cara:
o

menerima bahwa setiap orang memiliki pemihakan di bawah sadar


(pemihakan secara refleks)

bersikap tanpa ego

membuang pendapat semula anda jauh-jauh

sadar bahwa setiap orang memiliki kelemahan masing-masing

3. Gunakan metoda sokratis untuk mengevaluasi sebuah argumen dengan


menanyakan pertanyaan terbuka. Sebagai contoh adalah:
o

Apa yang anda maksud dengan __________?

Bagaimana anda dapat berkesimpulan begitu?

Mengapa anda berpendapat bahwa itu adalah benar?

Dimana anda mendapatkan informasi tersebut?

Apa yang terjadi jika anda ternyata salah?

Dapatkah anda memberikan dua buah sumber yang tidak setuju


dengan anda dan jelaskan mengapa?

Mengapa hal ini penting?

Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa anda mengatakan yang


sebenarnya?

Apa penjelasan alternatif dari fenomena ini?

Berkesimpulan
Janganlah membuat asumsi secara berlebihan, dengan kata lain: jangan memperumit masalah
anda. Berpikir kritis adalah sebuah proses yang tidak akan selesai. Seseorang dapat mencapai
sebuah kesimpulan tentatif berdasarkan evaluasi dari informasi yang ada. Tetapi, jika ada
informasi baru yang ditemukan maka proses evaluasi harus dijalankan kembali.
Pengamatan Pribadi Saya
Sangat sulit bagi seseorang untuk dapat menghapus pendapat lamanya walaupun sudah disodori
bukti-bukti yang belum mereka ketahui sebelumnya.
Sangat sulit bagi seseorang untuk dapat berpikir lurus untuk menyikapi sesuatu yang
berhubungan dengan uang atau penghasilan walaupun ada bukti bahwa hal tersebut akan
merugikan dirinya atau orang lain.
Sangat sulit bagi seseorang untuk dapat mengatasi egonya dengan arif mengakui bahwa
teori/pendapatnya adalah salah walaupun sudah ada yang memberi bukti.
Pendidikan di Indonesia tidak mengedepankan faktor berpikir kritis ini, padahal menurut saya ini
adalah sesuatu yang sangat penting. Orang tua diharapkan dapat memberikan bimbingan kepada
anak-anaknya tentang pentingnya berpikir kritis. Pendidikan ini menurut saya jauh lebih penting
daripada sekadar membandingkan kapasitas otak atau kemampuan menghafal dari siswa-siswi
sekolah.

Learning without thought is labor lost


Confucius

Strategi Berpikir Kritis di dalam Belajar

Studi berpikir kritis suatu subyek atau masalah dengan pengertian yang luas (terbuka).
Proses dimulai dengan sutau pernyataan apa yang akan dipelajari,
menampilkan temuan tidak terbatas dan pertimbangan kemungkinan-kemungkinan,
dan kesimpulan pola-pola pengertian yang didasarkan pada kejadian.
Alasan-alasan, penyimpangan, dan prasangka baik para pengajar maupun para ahli
membandingkan dan membentuk lembaga penilaian.
Masuk dengan pikiran terbuka:

Jelaskan tujuan Anda, apa yang Anda ingin pelajari


Bereskan dan yakinkan subyek Anda dengan guru Anda atau ahli.

Topik dapat dengan frase yang sederhana:


"Peran Gender di dalam permainan video game
"Sejarah Politik Perancis di antara Perang Besar pada paruh abad ke-20
"Penanaman Pohon Mahogoni di Amerika Tengah
"Peraturan Perpipaan Domestik di Daerah Pinggiran Kota
"Kosa kata dan Struktur Kerangka Manusia

Pikirkan apa yang Anda ketahui tentang subyek


Apa yang Anda sudah ketahui akan membantu Anda di dalam studi ini?
Apa prasangka Anda?

Sumber apa yang penting untuk Anda, dan penentuan garis waktu
Anda?

Memperoleh informasi
Menutup pikiran tidak akan membuka pilihan Anda dan
peluang kesempatan.

Bertanyalah
Apa prasangka para pengarang terhadap informasi?

Aturlah apa yang Anda kumpulkan ke dalam pola-pola pemahaman


Carilah kaitannya

Ajukan pertanyaan (lagi)

Pikirkan bagaimana Anda akan mendemonstrasikan pelajaran


Andaesuai
sesuai dengan topik Anda. Ya! Bagaimana Anda mencipatakan ujian
Tentang apa yang Anda pelajari?
Dari yang sederhana ke yang lebih sulit (1-6) terapan:

1. Daftar, label, identitas

Demonstrasi Pengetahuan

Defininisikan, jelaskan,
2. ringkaskan dengan kata-kata
Anda sendiri

Pengertian/Pemahaman

3. Pecahkan, terapkan ke situasi


baru

Gunakan pelajaran Anda, dan


terapkan

4. Bandingkan dan tentangkan,


perbedaan antara item

Analisis

5. Ciptakan, gabungkan, invent

Sintesis

6. Alihkan, rekomendasikan, nilai Evaluasi dan


jelaskan mengapa

Pikirkan di dalam aturan bagaimana membuat pelajaran Anda sebagai petualangan di


dalam penjelajahan!
Ringkasan Berpikir Kritis:

Tentukan fakta-fakta di dalam situasi baru atau subyek tanpa prasangka

Tempatkan fakta-fakta dan informasi ini sedemikian rupa di dalam pola


Sehingga Anda memahaminya

Menerima atau menolak sumber nila dan kesimpulan yang didasarkan pada
pengalaman, penilaian, dan keyakinan Anda.

Translations: Margaretha Agustin Liwoso, Lecturer, Sam Ratulangi University Manado, North-Sulawesi, Indonesia

Apakah Anda Sudah Berpikir Kritis?


Oleh:
Prof Dr Roy Sembel,
(www.roy-sembel.com),
Sandra Sembel,
pemerhati dan praktisi pengembangan SDM
(ssembel@yahoo.com)
Manusia adalah makhluk yang istimewa. Tidak seperti makhluk hidup lainnya, manusia dikaruniai
kemampuan untuk berpikir sebelum bertindak. Namun, kenyataannya, seringkali kita tidak memanfaatkan
kemampuan berpikir ini secara optimal. Kita seringkali bertindak tanpa didahului dengan berpikir.
Banyak alasan yang kita kemukakan sebagai dalih untuk tidak berpikir: tidak ada waktu, bukan urusan
kita, atau bukan tanggung jawab kita.
Namun, tahukah Anda bahwa tindakan yang dilakukan tanpa disertai dengan proses berpikir bisa
membahayakan diri sendiri? Coba saja kita perhatikan kasus anggota DPR yang perbuatannya dilakukan
beberapa tahun lalu, kini tengah menjadi buah bibir.
Mungkin ketika itu sang anggota DPR tidak berpikir terlebih dulu tentang dampak perbuatannya di
kemudian hari. Dia tidak memikirkan dampak perbuatannya, yang bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi
terlebih lagi bagi orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga, teman, sahabat, teman kantor, dan teman di
organisasi tempatnya bekerja.
Kalau saja anugerah berpikir kita manfaatkan dengan baik, tentunya banyak masalah yang bisa kita
hindari, dan banyak solusi yang bisa kita temukan. Jadi, jelaslah bahwa berpikir kritis itu untuk dilakukan.
Ingin tahu lebih jauh mengenai berpkir kritis? Simak yang berikut.
Apakah Berpikir Kritis Itu?
Banyak definisi yang ditawarkan mengenai berpikir kritis, salah satunya yang dikemukakan oleh Wright
Place Consulting adalah sebagai berikut.
Berpikir kritis merupakan sebuah proses. Proses berpikir ini bermuara pada tujuan akhir yang membuat
kesimpulan ataupun keputusan yang masuk akal tentang apa yang harus kita percayai dan tindakan apa
yang akan kita lakukan.
Berpikir kritis bukanlah dilakukan untuk mencari jawaban semata, tetapi yang terlebih utama adalah
mempertanyakan jawaban, fakta, atau informasi yang ada. Dengan demikian bisa ditemukan alternatif
atau solusi terbaiknya.
Mengapa Penting?
Berpikir kritis penting untuk dilakukan karena berbagai manfaat yang bisa kita petik dari proses ini.
Kualitas Keputusan
Kualitas berpikir kritis yang kita terapkan akan mempengaruhi kualitas hasil akhir dari tindakan kita yang
didahului dengan proses berpikir kritis tersebut. Misalnya, setiap kali mendapat tanggung jawab untuk
melakukan sesuatu, Imam selalu memanfaatkan kemampuannya untuk berpikir kritis dengan
menerapkan keenam prinsip berpikir kritis yang telah dibahas sebelumnya.
Ketika Imam ditugaskan sebagai ketua panitia peluncuran produk baru perusahaan tempat ia bekerja, ia
mencoba memahami berbagai aspek dari tugas yang diberikan kepadanya, termasuk informasi yang bisa
ia dapatkan sehubungan dengan tugas tersebut: fitur dan manfaat produk, target pasar dari produk, serta

kekurangan dan kelebihan produk tersebut.


Ia juga mempelajari berbagai fasilitas yang bisa ia manfaatkan untuk meluncurkan produk tersebut.
Setelah itu, ia melakukan analisis terhadap segala sesuatu yang terkait dengan informasi yang ia terima
tentang produk yang akan diluncurkan, antar lain alternatif media, strategi anggaran, dan jangka waktu
peluncuran.
Hasil dari analisis adalah berbagai alternatif strategi yang bisa dipilih. Alternatif strategi ini lalu dievaluasi
untung ruginya. Hasil dari proses evaluasi adalah keputusan menggunakan satu strategi tertentu.
Keputusan ini perlu dijelaskan kepada anggota tim yang terlibat sehingga mereka bisa mendukung
kegiatan yang dilakukan. Imam juga tidak lupa mengevaluasi diri sendiri tentang kemungkinan terjadinya
kebiasan pandangan dan keputusan yang sudah diambil sebelum akhirnya menerapkannya dalam
tindakan.
Kreatif
Berpikir kritis membantu kita menemukan bukan hanya satu solusi tetapi berbagai alternatif solusi.
Berpikir kritis juga membantu kita melihat suatu permasalahan dari berbagai sumber, sehingga berbagai
alternatif solusi bisa dikembangkan lebih jauh.
Misalnya Desty yang diminta mempersiapkan rapat tahunan pemegang saham diperusahaan tempat ia
bekerja. Walaupun menemui berbagai masalah, melalui proses berpikir kritis, Desty bisa memanfaatkan
hasil berpikir kritis untuk kreatif menemukan berbagai alternatif solusinya.
Percaya Diri
Setelah kita melalui proses berpikir kritis, keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang sudah
melalui berbagai pertimbangan dari berbagai aspek. Dengan demikian, paling tidak kita sendiri sudah
yakin bahwa keputusan tersebut adalah keputusan yang terbaik dalam situasi dan kondisi yang kita
hadapi saat itu.
Cara
Lalu, bagaimana cara kita berpikir dengan kritis? Ada enam prinsip penting dalam menerapkan cara
berpikir kritis, yaitu: interpretasi, analisis, evaluasi, penjelasan, dan self-regulation.
Interpretasi dan Analisis
Prinsip pertama, interpretasi, adalah upaya memahami informasi yang kita miliki. Setelah informasi
berhasil kita pahami dengan baik, kita perlu melakukan analisis terhadap segala sesuatu yang terkait
dengan informasi tersebut.
Evaluasi
Selanjutnya, kita perlu melakukan evaluasi terhadap dampak dari pemanfaatan ataupun pengabaian
informasi tersebut. Evaluasi juga berupaya untuk menemukan berbagai alternatif solusi dengan
memanfaatkan informasi yang dimiliki.
Penjelasan
Setelah kita mendapatkan solusi yang terbaik, kita perlu menjelaskan keputusan kita tersebut kepada
orang lain, sehingga mereka juga bisa memahami mengapa keputusan tersebut yang kita ambil.
Lebih jauh lagi, dengan penjelasan yang masuk akal, kita bisa meyakinkan orang lain, ataupun orangorang yang perlu diyakinkan untuk kita ajak melihat sesuatu dari sudut pandang kita.
Self-Regulation
Yang terakhir adalah selfregulation. Yang dimaksud dengan self-regulation adalah mencoba jujur
terhadap pandangan dan keyakinan kita, ataupun kemungkinan terjadinya kesalahan atau ketimpangan

dalam keputusan yang kita ambil karena pengaruh latar belakang kita.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menerapkan cara berpikir kreatif? Jika belum sepenuhnya,
mungkin Anda bisa mulai sekarang untuk mendapatkan solusi yang terbaik dan keputusan yang
berkualitas. Sukses untuk Anda. n

Copyright Sinar Harapan 2003

Berpikir Kritis September 25, 2007


Posted by AGUSTINUS SETIONO in Uncategorized.
trackback

Berpikir kritis adalah suatu aktifitas kognitif yang berkaitab dengan


penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan
proses-proses mental, seperti memperhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan
menilai/memutuskan.
Kemampuan dalam berpikir kritis memberikan arahan yang tepat dalam
berpikir dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu
dengan yang lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir
kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah / pencarian solusi, dan
pengelolaan proyek.
Pengembangan kemampuan berpikir kritis merupakan integrasi beberapa bagian
pengembangan kemampuan, seperti pengamatan (observasi), analisis,
penalaran, penilaian, pengambilan keputusan, dan persuasi. Semakin baik
pengembangan kemampuan-kemampuan ini, maka kita akan semakin dapat
mengatasi masalah-masalah/proyek komplek dan dengan hasil yang memuaskan.
Berpikir kritis meliputi aktivitas-aktivitas:
1. Memperhatikan detil secara menyeluruh
2. Identifikasi kecenderungan dan pola, seperti memetakan informasi,
identifikasi kesamaan dan ketidaksamaan, dll
3. Mengulangi pengamatan untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan
4. Melihat informasi yang didapat dari berbagai sudut pandang
5. Memilih solusi-solusi yang lebih disukai secara obyektif

6. Mempertimbangkan dampak dan konsekuensi jangka panjang dari solusi yang


dipilih
Bagi siswa, berpikir kritis dapat berarti:
1. Mencari dimana keberadaan bukti terbaik bagi subyek yang didiskusikan
2. Mengevaluasi kekuatan bukti untuk mendukung argumen-argumen yang berbeda
3. Menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti yang telah ditentukan
4. Membangun penalaran yang dapat mengarahkan pendengar ke simpulan yang
telah ditetapkan berdasarkan pada bukti-bukti yang mendukungnya
5. Memilih contoh yang terbaik untuk lebih dapat menjelaskan makna dari
argumen yang akan disampaikan
6. Dan menyediakan bukti-bukti untuk mengilustrasikan argumen tersebut.
Terima Kasih Pak Romeo

Artikel:
MEMAHAMI BERPIKIR KRITIS
Judul: MEMAHAMI BERPIKIR KRITIS
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN /
EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Arief Achmad
Saya Guru di Bandung
Topik: Berpikir Kritis
Tanggal: 25-10-2007
MEMAHAMI BERPIKIR KRITIS
Oleh: Arief Achmad
Makna Berpikir Kritis
Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk
kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya.
Berpikir kritis telah lama menjadi tujuan pokok dalam pendidikan sejak 1942. Penelitian
dan berbagai pendapat tentang hal itu, telah menjadi topik pembicaraan dalam sepuluh
tahun terakhir ini (Patrick, 2000:1). Definisi berpikir kritis banyak dikemukakan para ahli.
Menurut Halpen (1996), berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi
kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan,
mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran-merupakan bentuk berpikir
yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan
kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika
menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang
tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan
kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk
membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir
langsung kepada fokus yang akan dituju.
Pendapat senada dikemukakan Anggelo (1995: 6), berpikir kritis adalah mengaplikasikan
rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis,
mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.
Dari dua pendapat tersebut, tampak adanya persamaan dalam hal sistematika berpikir
yang ternyata berproses. Berpikir kritis harus melalui beberapa tahapan untuk sampai
kepada sebuah kesimpulan atau penilaian.
Penekanan kepada proses dan tahapan berpikir dilontarkan pula oleh Scriven, berpikir
kritis yaitu proses intelektual yang aktif dan penuh dengan keterampilan dalam membuat
pengertian atau konsep, mengaplikasikan, menganalisis, membuat sistesis, dan
mengevaluasi. Semua kegiatan tersebut berdasarkan hasil observasi, pengalaman,
pemikiran, pertimbangan, dan komunikasi, yang akan membimbing dalam menentukan

sikap dan tindakan (Walker, 2001: 1).


Pernyataan tersebut ditegaskan kembali oleh Angelo (1995: 6), bahwa berpikir kritis
harus memenuhi karakteristik kegiatan berpikir yang meliputi : analisis, sintesis,
pengenalan masalah dan pemecahannya, kesimpulan, dan penilaian.
Berpikir yang ditampilkan dalam berpikir kritis sangat tertib dan sistematis. Ketertiban
berpikir dalam berpikir kritis diungkapkan MCC General Education Iniatives. Menurutnya,
berpikir kritis ialah sebuah proses yang menekankan kepada sikap penentuan keputusan
yang sementara, memberdayakan logika yang berdasarkan inkuiri dan pemecahan
masalah yang menjadi dasar dalam menilai sebuah perbuatan atau pengambilan
keputusan.
Berpikir kritis merupakan salah satu proses berpikir tingkat tinggi yang dapat digunakan
dalam pembentukan sistem konseptual siswa. Menurut Ennis (1985: 54), berpikir kritis
adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan
untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan.
Indikator Berpikir Kritis
Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni meliputi:
(1) kegiatan merumuskan pertanyaan,
(2) membatasi permasalahan,
(3) menguji data-data,
(4) menganalisis berbagai pendapat dan bias,
(5) menghindari pertimbangan yang sangat emosional,
(6) menghindari penyederhanaan berlebihan,
(7) mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan
(8) mentoleransi ambiguitas.
Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (1995: 12-15)
secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu:
a. Watak (dispositions)
Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat
terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat,
respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang
berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya
baik.
b. Kriteria (criteria)
Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke
arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun
sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan
mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka
haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber
yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan

pertimbangan yang matang.


c. Argumen (argument)
Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan
berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.
d. Pertimbangan atau pemikiran (reasoning)
Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis.
Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau
data.
e. Sudut pandang (point of view)
Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan
menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang
sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
f. Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)
Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut
akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil,
dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.
Selanjutnya, Ennis (1985: 55-56), mengidentifikasi 12 indikator berpikir kritis, yang
dikelompokkannya dalam lima besar aktivitas sebagai berikut:
a. Memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan pertanyaan,
menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu
penjelasan atau pernyataan.
b. Membangun keterampilan dasar, yang terdiri atas mempertimbangkan apakah sumber
dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil
observasi.
c. Menyimpulkan, yang terdiri atas kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil
deduksi, meninduksi atau mempertimbangkan hasil induksi, dan membuat serta
menentukan nilai pertimbangan.
d. Memberikan penjelasan lanjut, yang terdiri atas mengidentifikasi istilah-istilah dan
definisi pertimbangan dan juga dimensi, serta mengidentifikasi asumsi.
e. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri atas menentukan tindakan dan berinteraksi
dengan orang lain.
Indikator-indikator tersebut dalam prakteknya dapat bersatu padu membentuk sebuah
kegiatan atau terpisah-pisah hanya beberapa indikator saja.

Penemuan indikator keterampilan berpikir kritis dapat diungkapkan melalui aspek-aspek


perilaku yang diungkapkan dalam definisi berpikir kritis. Menurut beberapa definisi yang
diungkapkan terdahulu, terdapat beberapa kegiatan atau perilaku yang mengindikasikan
bahwa perilaku tersebut merupakan kegiatan-kegiatan dalam berpikir kritis. Angelo
mengidentifikaasi lima perilaku yang sistematis dalam berpikir kritis. Penilaku tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar . Tahapan Berpikir Kritis
a. Keterampilan Menganalisis
Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur
ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut
(http://www.uwsp/cognitif.htm.). Dalam keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah
memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas
tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Pertanyaan analisis,
menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkah-langkah logis yang digunakan
dalam proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987: 44).
Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya:
menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan,
memerinci, dsb.
b. Keterampilan Mensintesis
Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan
keteramplian menganallsis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan
menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru.
Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang
diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak
dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya. Pertanyaan sintesis ini memberi
kesempatan untuk berpikir bebas terkontrol (Harjasujana, 1987: 44).
c. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah
Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian
baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis
sehinga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran
pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini
bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam
permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker, 2001:15).
d. Keterampilan Menyimpulkan
Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan
pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai
pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68).
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut
pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap

agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran
manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi,
kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya
sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.
e. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai
Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu
dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar
memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu
(Harjasujana, 1987: 44).
Dalam taksonomi belajar, menurut Bloom, keterampilan mengevaluasi merupakan tahap
berpikir kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini siswa ituntut agar ia mampu
mensinergikan aspek-aspek kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep.
Pengukuran indikator-indikator yang dikemukan oleh beberapa ahli di atas dapat
dilakukan dengan menggunakan universal intellectual standars. Pernyataan ini diperkuat
oleh pendapat Paul (2000: 1) dan Scriven (2000: 1) yang menyatakan, bahwa
pengukuran keterampilan berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan:
"Sejauh manakah siswa mampu menerapkan standar intelektual dalam kegiatan
berpikirnya".
Universal inlellectual standars adalah standardisasi yang harus diaplikasikan dalam
berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan
permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu. Berpikir kritis harus selalu mengacu
dan berdasar kepada standar tersebut (Eider dan Paul, 2001: 1).
Berikut ini akan dijelaskan aspek-aspek tersebut.
a. Clarity (Kejelasan)
Kejelasan merujuk kepada pertanyaan: "Dapatkah permasalahan yang rumit dirinci
sampai tuntas?"; "Dapatkah dijelaskan permasalahan itu dengan cara yang lain?";
"Berikanlah ilustrasi dan contoh-contoh!".
Kejelasan merupakan pondasi standardisasi. Jika pernyataan tidak jelas, kita tidak dapat
membedakan apakah sesuatu itu akurat atau relevan. Apabila terdapat pernyataan yang
demikian, maka kita tidak akan dapat berbicara apapun, sebab kita tidak memahami
pernyataan tersebut.
Contoh, pertanyaan berikut tidak jelas: "Apa yang harus dikerjakan pendidik dalam
sistem pendidikan di Indonesia?" Agar pertanyaan itu menjadi jelas, maka kita harus
memahami betul apa yang dipikirkan dalam masalah itu. Agar menjadi jelas, pertanyaan
itu harus diubah menjadi, "Apa yang harus dikerjakan oleh pendidik untuk memastikan
bahwa siswanya benar-benar telah mempelajari berbagai keterampilan dan kemampuan
untuk membantu berbagai hal agar mereka berhasil dalam pekerjaannya dan mampu
membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari?".

b. Accuracy (keakuratan, ketelitian, kesaksamaan)


Ketelitian atau kesaksamaan sebuah pernyataan dapat ditelusuri melalui pertanyaan:
"Apakah pernyataan itu kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan?"; "Bagaimana
cara mengecek kebenarannya?"; "Bagaimana menemukan kebenaran tersebut?"
Pernyataan dapat saja jelas, tetapi tidak akurat, seperti dalam penyataan berikut, "Pada
umumnya anjing berbobot lebih dari 300 pon".
c. Precision (ketepatan)
Ketepatan mengacu kepada perincian data-data pendukung yang sangat mendetail.
Pertanyaan ini dapat dijadikan panduan untuk mengecek ketepatan sebuah pernyataan.
"Apakah pernyataan yang diungkapkan sudah sangat terurai?"; "Apakah pernyataan itu
telah cukup spesifik?". Sebuah pernyataan dapat saja mempunyai kejelasan dan
ketelitian, tetapi tidak tepat, misalnya "Aming sangat berat" (kita tidak mengetahui berapa
berat Aming, apakah satu pon atau 500 pon!)
d. Relevance (relevansi, keterkaitan)
Relevansi bermakna bahwa pernyataan atau jawaban yang dikemukakan berhubungan
dengan pertanyaan yang diajukan. Penelusuran keterkaitan dapat diungkap dengan
mengajukan pertanyaan berikut: "Bagaimana menghubungkan pernyataan atau respon
dengan pertanyaan?"; "Bagaimana hal yang diungkapkan itu menunjang
permasalahan?". Permasalahan dapat saja jelas, teliti, dan tepat, tetapi tidak relevan
dengan permasalahan. Contohnya: siswa sering berpikir, usaha apa yang harus
dilakukan dalam belajar untuk meningkatkan kemampuannya. Bagaimana pun usaha
tidak dapat mengukur kualitas belajar siswa dan kapan hal tersebut terjadi, usaha tidak
relevan dengan ketepatan mereka dalam meningkatkan kemampuannya.
e. Depth (kedalaman)
Makna kedalaman diartikan sebagai jawaban yang dirumuskan tertuju kepada
pertanyaan dengan kompleks, Apakah permasalahan dalam pertanyaan diuraikan
sedemikian rupa? Apakah telah dihubungkan dengan faktor-faktor yang signifikan
terhadap pemecahan masalah? Sebuah pernyatan dapat saja memenuhi persyaratan
kejelasan, ketelitian, ketepatan, relevansi, tetapi jawaban sangat dangkal (kebalikan dari
dalam). Misalnya terdapat ungkapan, "Katakan tidak". Ungkapan tersebut biasa
digunakan para remaja dalam rangka penolakan terhadap obat-obatan terlarang
(narkoba). Pernyataan tersebut cukup jelas, akurat, tepat, relevan, tetapi sangat dangkal,
sebab ungkapan tersebut dapat ditafsirkan dengan bermacam-macam.
f. Breadth (keluasaan)
Keluasan sebuah pernyataan dapat ditelusuri dengan pertanyaan berikut ini. Apakah
pernyataan itu telah ditinjau dari berbagai sudut pandang?; Apakah memerlukan tinjauan
atau teori lain dalam merespon pernyataan yang dirumuskan?; Menurut pandangan..;
Seperti apakah pernyataan tersebut menurut... Pernyataan yang diungkapkan dapat
memenuhi persyaratan kejelasan, ketelitian, ketepatan, relevansi, kedalaman, tetapi tidak
cukup luas. Seperti halnya kita mengajukan sebuah pendapat atau argumen menurut

pandangan seseorang tetapi hanya menyinggung salah satu saja dalam pertanyaan yang
diajukan.
g. Logic (logika)
Logika bertemali dengan hal-hal berikut: Apakah pengertian telah disusun dengan
konsep yang benar?; Apakah pernyataan yang diungkapkan mempunyai tindak
lanjutnya? Bagaimana tindak lanjutnya? Sebelum apa yang dikatakan dan sesudahnya,
bagaimana kedua hal tersebut benar adanya? Ketika kita berpikir, kita akan dibawa
kepada bermacam-macam pemikiran satu sama lain. Ketika kita berpikir dengan
berbagai kombinasi, satu sama lain saling menunjang dan mendukung perumusan
pernyataan dengan benar, maka kita berpikir logis. Ketika berpikir dengan berbagai
kombinasi dan satu sama lain tidak saling mendukung atau bertolak belakang, maka hal
tersebut tidak logis.
*) Arief Achmad, Guru SMAN 21 Bandung. Ketua AGP-PGRI Jawa Barat

Mengembangkan Kemampuan Belajar


dan Berpikir Kritis
(Tips untuk para mahasiswa baru)
Pendahuluan
Masa belajar di perguruan tinggi adalah masa yang penting bagi pengembangan nilai kepribadian. Anda akan
ditantang menghadapi gagasan-gagasan dan filosofi baru. Anda akan membuat keputusan-keputusan pribadi dan
karir yang akan mempengaruhi hidupnya. Salah satu pelajaran terpenting yang akan diperoleh di perguruan tinggi
adalah mengatur waktu antara bekerja, belajar dan bersantai. Bila anda mampu mengembangkan manajemen
waktu dan kemampuan belajar yang baik di awal masa perkuliahan, maka tahun-tahun perkuliahan berikutnya akan
dijalani dengan sukses.
Tulisan ini saya adaptasi dari buku teks geologi fisik Monroe dan Wicander (1998), mencoba untuk menawarkan
beberapa tips untuk menolong anda memaksimalkan waktu belajar serta mengembangkan kemampuan belajar dan
berpikir kritis yang akan menguntungkan, tidak hanya semasa di perguruan tinggi, juga ketika menempuh karir
yang dipilih. Belajar menguasai materi suatu kuliah tentu saja penting, namun mempelajari cara belajar dan
berpikir yang kritis, dalam beberapa hal, jauh lebih penting. Seperti usaha-usaha lainnya dalam kehidupan, upaya
untuk berpikir kritis dan belajar efesien pada awalnya membutuhkan usaha dan waktu tambahan, tetapi ketika
telah dikuasai, kemampuan-kemampuan tersebut akan menghemat banyak waktu anda di masa depan.
Banyak fakta yang menunjukkan bahwa mahasiswa-mahasiswa yang sukses secara akademis juga merupakan
mahasiswa-mahasiswa yang sangat sibuk. Karena mereka memiliki banyak pekerjaan atau aktivitas ekstrakurikuler, mereka harus dan mampu mengatur waktu secara efektif dan belajar efesien.
Salah satu kunci utama untuk sukses dalam belajar di perguruan tinggi adalah menghindari menunda-nunda
pekerjaan. Memang menunda-nunda suatu pekerjaan memberikan kepuasan sementara karena anda bisa
menghindari sesuatu yang tidak anda senangi, tetapi dalam jangka panjang justru akan menyebabkan anda
menumpuk stress. Menunggu mengerjakan sesuatu hingga ke menit terakhir akan menghasilkan kesalahan dan
ketidaksempurnaan. Dengan menentukan tujuan-tujuan yang jelas dan spesifik serta bekerja mencapainya dalam
keteraturan, anda akan mampu mengurangi keinginan untuk menunda-nunda tersebut. Lebih baik bekerja efesien
dalam waktu sebentar daripada dalam waktu yang lama dan tidak produktif, yang umumnya terjadi ketika anda
suka menunda-nunda.
Kunci lainnya untuk sukses di perguruan tinggi adalah menjaga tetap dalam kondisi kesehatan yang fit.
Mahasiswa umumnya mudah jatuh ke kebiasaan makan yang tidak sehat dan malas berolahraga. Untuk bisa sehat
secara mental, anda harus sehat secara fisik. Usahakan membuat jadwal olahraga yang teratur. Anda akan merasa
lebih baik, memiliki lebih banyak energi, dan belajar lebih efektif.

Kemampuan Belajar secara Umum


Hampir semua materi perkuliahan yang anda hadiri adalah berdasarkan pada materi perkuliahan sebelumnya,
sehingga sangat penting untuk menjaga kelengkapan catatan kuliah dan mempersiapkan waktu khusus secara
teratur untuk belajar.

Kembangkan kebiasaan belajar secara teratur setiap hari.

Sediakan waktu khusus setiap hari untuk belajar. Ada yang terbiasa belajar pada malam hari, ada pula
yang terbiasa belajar pada siang hari. Silahkan tentukan waktu dimana anda merasa paling siap secara
mental dan fisik untuk belajar, dan pergunakan waktu itu dengan baik.

Pilihlah tempat yang khusus untuk belajar, di mana anda merasa nyaman. Lengkapi pula tempat itu
dengan berbagai perlengkapan belajar, seperti kalkulator, kamus, alat-alat tulis, dan komputer.

Belajarlah dengan diselingi dengan istirahat, misalkan setiap satu jam. Lakukan gerak badan ringan atau
sesuatu yang lain sama sekali. Sehingga ketika anda kembali lagi belajar anda merasa tetap segar.
Kembangkan kebiasaan untuk mengulang setiap matakuliah pada hari diberikan.
Upayakan akrab dengan berbagai istilah dalam perkuliahan. Siapkan catatan khusus atau kamus untuk
istilah-istilah tersebut. Mempelajari bahasa suatu subyek akan membantu anda dan mempelajari matakuliah
tersebut.

Memanfaatkan Catatan
Bila anda ingin menguasai suatu matakuliah dan memperoleh nilai bagus saat ujian, anda harus belajar
bagaimana mengambil catatan yang baik. Bukan berarti anda harus mencatat setiap perkataan dosen. Seorang
pencatat yang baik tahu bagian mana yang penting dan bagian mana yang bisa ditinggalkan. Di awal semester,
coba untuk mengetahui buku teks apa yang menjadi acuan perkuliahan. Bila sebagian besar materi telah ada di
buku teks, tentu saja catatan anda tidak perlu selengkap bila perkuliahan tersebut tidak memiliki buku teks acuan
atau berdasarkan materi baru.

Bacalah materi (bila ada buku teks acuan) sebelum perkuliahan. Dengan cara ini anda akan akrab dengan
berbagai istilah dan mampu mendengarkan secara kritis. Beberapa istilah yang diucapkan dosen akan lebih
gampang diingat bila sebelumnya anda telah mengetahuinya.

Ulangi secara singkat materi perkuliahan sebelumnya. Hal ini akan menyegarkan ingatan anda dan
menyediakan konteks bagi materi baru.

Kembangkan gaya mencatat anda sendiri. Jangan menulis setiap kata. Kembangkan pula berbagai kata
singkatan untuk mempercepat pencatatan. Geologi sendiri memiliki banyak singkatan yang telah disepakati
umum, seperti bs (batuan sedimen), tl (tektonik lempeng), jtl (juta tahun lalu).

Tulis ulang catatan anda setelah perkuliahan. Melakukan ini akan lebih memasukkan materi ke dalam
benak anda, dan memberikan kesempatan untuk menilai diri anda sendiri apakah telah memahami materi
atau belum.

Pelajari istilah-istilah penting dalam matakuliah tersebut, sehingga anda dapat menyingkat catatan. Anda
jadi tidak perlu menulis istilah-istilah yang telah anda ketahui.

Pelajari cara dan karakteristik mengajar dosen yang bersangkutan. Kadang beberapa dosen senantiasa
mengulang hal-hal yang penting dan yang akan keluar saat ujian.

Cek beberapa hal yang kurang jelas dalam catatan anda terhadap catatan teman-teman sekelas atau
terhadap buku teks. Perhatikan pula contoh-contoh yang diberikan dosen, yang umumnya memperjelas
konsep abstrak.

Hadir di kelas secara teratur, pilihlah tempat duduk yang nyaman untuk menyimak perkuliahan dan
melihat layar / papan tulis.

Boleh pula anda manfaatkan alat perekam kaset, tapi jangan jadikan sumber catatan utama. Tetap simak
perkuliahan dengan baik dan mencatat beberapa hal penting, kemudian lengkapi hal-hal yang kurang dari
kaset tersebut.

Bila tersedia, milikilah diktat (hand-out) yang ditulis oleh dosen yang bersangkutan. Boleh pula anda
mencari catatan perkuliahan tahun lalu dari kakak kelas. Tetap pergunakan materi-materi tersebut sebagai
tambahan bagi catatan yang anda buat sendiri.

Ajukan pertanyaan. Bila anda tidak memahami sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya.
Kebanyakan mahasiswa segan untuk bertanya, terutama dalam kelas yang besar. Tetapi bila anda tidak
memahami sesuatu hal, mahasiswa lainnya juga kemungkinan mengalami hal yang sama. Bila anda tidak
sempat bertanya selama perkuliahan, lakukanlah setelah perkuliahan.

Memanfaatkan Bacaan
Pepatah berkata: anda menuai dari apa yang anda tanam. Hal ini benar ketika anda membaca buku teks. Anda
hanya akan dapat memahaminya bila anda berusaha menaruh perhatian secara penuh.

Lihat kerangka bab (chapter outline) untuk mengetahui tentang apa materi tersebut dan bagaimana
hubungan antar topik. Bila anda memiliki waktu, baca secara sepintas seluruh isi bab sebelum anda
membacanya secara detail.

Perhatikan isi tabel, diagram dan gambar. Mereka mengandung informasi yang banyak dalam bentuk
ringkas dan mengilustrasikan gagasan dan konsep dasar. Geologi, secara khusus adalah ilmu visual, sehingga
gambar dan foto sangat membantu anda dalam memahami teks serta menyediakan contoh aktual.

Ketika anda membaca buku teks, garisbawahi atau beri stabillo pada konsep-konsep dan kalimat kunci.
Pastikan anda tidak menggarisbawahi semua kalimat. Buatlah catatan pada bagian tepi. Jika anda tidak
memahami istilah atau konsep, carilah mengenainya di kamus.

Baca rangkuman bab (chapter summary) secara hati-hati. Yakinkan anda memahami semua istilah kunci.
Karena geologi memiliki banyak istilah dan jargon, pastikan anda memahami terminologi yang ada.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang ada pada bagian akhir bab, seolah-olah anda sedang ujian.
Hanya dengan melihat jawaban secara tertulis baru anda mengetahui apakah anda memahami materi atau
belum.

Akses informasi geologi terakhir dari internet untuk menambah pemahaman anda terhadap konsep dan
mengetahui perkembangan konsep tersebut. Mengetahui bagaimana cara mencari informasi di internet
sangatlah penting di masa sekarang, terlebih lagi di masa mendatang.

Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis


Hanya sedikit hal dalam hidup ini yang berupa hitam dan putih. Sehingga sangat penting untuk mampu melihat
segala sesuatu dari berbagai sisi hingga mampu mencapai kesimpulan yang logis. Salah satu hal penting yang
akan anda pelajari di perguruan tinggi adalah berpikir kritis dan tidak menerima apa yang anda lihat dan
dengar secara seketika. Berpikir kritis sangat penting dalam mempelajari materi baru dan mengaitkannya
dengan apa yang telah anda ketahui. Meskipun anda tidak mengetahui semuanya, anda dapat belajar untuk
bertanya secara efektif dan mencapai kesimpulan yang konsisten dengan fakta.

Ketika anda menjumpai fakta, gagasan atau konsep baru, pastikan anda memahami dan mengetahui
istilah-istilah yang ada.

Pelajari bagaimana fakta atau informasi diperoleh. Apakah diperoleh dari percobaan, apakah percobaan
tersebut dilakukan dengan baik dan bebas bias? Dapatkah percobaan itu diulangi?

Jangan terima semua pernyataan pada secara seketika. Apakah sumber informasi tersebut dapat
dipercaya?

Pertimbangkan apakah kesimpulan mengikuti fakta? Bila fakta tidak mendukung kesimpulan, ajukan
pertanyaan dan tentukan kenapa demikian. Apakah argumen yang dipergunakan logis atau mengambang?

Terbuka terhadap gagasan baru. Contoh terkenal adalah teori tektonik lempeng. Meskipun prinsip-prinsip
dasarnya telah diketahui pada awal abad 20, namun teori tersebut baru diterima kalangan luas setelah tahun
1970-an setelah bukti-bukti yang berlimpah.

Lihatlah pada gambaran yang besar untuk menentukan bagaimana berbagai unsur dalam topik tersebut
dihubungkan. Sebagai contoh, bagaimana pembangunan sebuah bendungan akan mempengaruhi bentuk
sungai? Apa yang akan terjadi pada pantai di mana sungai tersebut bermuara? Salah satu pelajaran yang
sangat penting (yang juga membedakan geologi dengan ilmu lainnya) adalah bagaimana saling keterkaitan
dan ketergantungan berbagai sistem di Bumi ini. Ketika anda mengubah salah satu, anda akan
mengubah berbagai hal lainnya pula.

Meningkatkan Daya Ingat


Mengapa anda mampu mengingat sesuatu dan tidak mampu mengingat yang lain? Sebabnya adalah otak
menyimpan informasi dalam berbagai bentuk dan cara, membuat mudah mengingat sesuatu dan sukar mengingat
lainnya. Apalagi perguruan tinggi menuntut anda mempelajari informasi yang sangat banyak.

Perhatikan pada apa yang anda baca atau anda dengar. Fokuskan pada tugas yang tengah anda kerjakan
dan hindari sering melamun. Sering mengulangi materi mempermudah anda mengingatnya. Ulangi materi
perkuliahan sebelumnya sebelum masuk kelas. Lihat sepintas bab sebelumnya sebelum membaca bab
selanjutnya. Ajukan pertanyaan kepada diri anda sendiri ketika tengah membaca.

Gunakan teknik mnemonik untuk membantu mengingat istilah asing. Contohnya, nama-nama waktu
Kenozoikum (Paleosen, Eosen, Oligosen, Miosen, Pliosen dan Pleistosen) dapat diingat dengan frasa Pulang
Emoh Oom Malah Pergi Plesiran.

Mengetahui akar kata istilah penting. Bila anda mengetahui dari asal kata tersebut, artinya akan mudah
untuk diingat. Contohnya, piroklastik berasal dari kata pyro, berarti api, dan clastic, artinya butiran.
Sehingga batuan piroklastik adalah batuan yang terbentuk oleh volkanisme dan terdiri dari butiran-butiran
batuan.

Buat kerangka materi yang anda pelajari. Hal ini akan membantu anda melihat hubungan berbagai topik
yang ada. Mempelajari materi yang saling terkait jauh lebih mudah daripada yang terpisah-pisah dan tak
berhubungan. Metode ini sangat berguna dalam geologi, karena banyak hal di alam yang saling terkait.
Misalkan tektonik lempeng menerangkan bagaimana hubungan antara pembentukan pegunungan, gunung
berapi dan gempabumi. Siklus batuan menghubungkan tiga kelompok batuan utama dan proses permukaan
bawah permukaan bumi.

Gunakan logika deduksi untuk mengikat konsep-konsep yang ada. Ingatlah bahwa geologi tersusun atas
apa yang telah anda pelajari sebelumnya. Pergunakan materi tersebut sebagai fondasi dan perhatikan
bagaimana materi baru terkait dengannya.

Gambarkanlah. Bila anda dapat menggambar suatu konsep dan memberi keterangan padanya,
kemungkinan anda telah menguasai materi dengan baik. Geologi sendiri sangat mudah diingat dengan metode
ini mengingat sifatnya yang visual. Contohnya, selain menghapal istilah-istilah dalam gunungapi, buatlah
gambar tubuh gunungapi dan beri keterangan pada bagian-bagiannya dan pada topografi yang terbentuk.

Fokuskan pada yang penting dari materi tersebut. Anda tidak mungkin mengingat semuanya.

Mempersiapkan Ujian
Bagi mahasiswa, ujian adalah bagian kritis dari perkuliahan. Untuk bisa melakukan ujian dengan baik, anda harus
mempersiapkannya.

Saran paling utama adalah belajar secara teratur, daripada mencoba untuk menguasai semua materi
dalam satu masa belajar yang pendek dan intensif. Beristirahatlah secara cukup pada malam sebelum ujian.
Jaga kondisi tubuh tetap fit untuk mencegah mudahnya terkena penyakit yang akan menguras energi dan
melemahkan konsentrasi pada saat ujian.
Susunlah jadwal harian sedemikian rupa sehingga anda dapat mempelajari keseluruhan materi.

Ulangi kesimpulan bab. Buatlah kerangka bab sehingga anda yakin semuanya telah dipahami.
Menggambarkan diagram akan membantu anda mengingat topik-topik kunci. Gunakan kartu-kartu terminologi
untuk membantu mengingat konsep dan istilah.

Bentuk kelompok belajar, tetapi pastikan bahwa kelompok anda memiliki fokus pada tugas dan materi
kuliah, bukan untuk bersosialisasi. Buat kuis, saling bertanya dan membandingkan catatan untuk meyakinkan
bahwa anda telah menguasai semua materi. Inilah cara paling efektif untuk memperoleh nilai yang baik.

Tuliskan jawaban terhadap semua pertanyaan yang ada dalam buku teks. Sebelum melakukannya
pastikan anda telah membaca isi bab dengan teliti. Bila tidak anda akan menghabiskan waktu dengan
membolak-balik buku untuk mencari jawaban.

Bila anda memiliki pertanyaan, kunjungi dosen atau asisten dosen. Jika sesi ulangan (review session)
ditawarkan oleh dosen, pastikan untuk hadir. Bila anda memiliki kesulitan dengan materi, tanyakan segera,
jangan tunggu hingga semester berakhir.

Bila ada ujian matakuliah tersebut pada tahun sebelumnya, perhatikan apa yang ditekankan dan
ditanyakan.

Melakukan Ujian
Hal paling penting untuk diingat ketika melakukan ujian adalah jangan panik.

Pertama sekali, rileks. Kemudian lihat secara pintas terhadap pertanyaan untuk melihat formatnya dan
menentukan tingkat kesulitan atau bobot pertanyaan.

Jawab lebih dahulu apa yang anda bisa atau khawatir akan lupa jawabannya. Pastikan anda tidak
menghabiskan waktu pada pertanyaan yang bobotnya kecil.

Bila ujian tersebut kombinasi antara pilihan ganda dan essai, jawablah yang pilihan ganda terlebih dahulu.
Bila anda tidak yakin terhadap suatu jawaban, tinggalkan dan loncatlah pada pertanyaan berikutnya.
Kadangkala jawaban suatu pertanyaan dapat dijumpai pada pertanyaan lainnya. Bahkan seringkali pertanyaan
pilihan ganda mengandung fakta yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan essai.

Baca pertanyaan secara hati-hati dan jawab hanya yang ditanyakan. Hemat waktu dengan tidak
menuliskan kembali pertanyaan pada kalimat pembuka di dalam jawaban. Langsung pada intinya, right to the
point. Buatlah coretan kerangka jawaban untuk pertanyaan essai yang panjang, sehingga anda yakin telah
mencakup semua materi jawaban.

Bila anda tidak memahami pertanyaan dengan baik, tanyakan penguji. Jangan membuat asumsi. Bila
anda melakukannya, maka nilai ujian anda akan menjadi taruhan seberapa tepat interpretasi anda.

Bila anda masih memiliki waktu, baca kembali lembar jawaban untuk memastikan telah menjawab
semua pertanyaan dengan baik.

Penutup

Saya berharap saran-saran tersebut bermanfaat bagi anda. Meskipun sulit untuk merubah kebiasaan lama, saya
yakin anda mampu. Lebih jauh, saran-saran tersebut membantu anda bekerja lebih efesien, tidak hanya ketika di
perguruan tinggi, juga ketika menjalani karir pilihan anda. Belajar adalah proses seumur hidup yang tidak

berakhir hanya ketika anda lulus. Selamat belajar!

Berpikir Kritis adalah "ketetapan yang hati-hati dan tidak tergesa-gesa untuk apakah kita sebaiknya
menerima, menolak atau menangguhkan penilaian terhadap suatu pernyataan, dan
tingkat kepercayaan dengan mana kita menerima atau menolaknya."
dari Critical Thinking oleh Moore dan Parker
STRATEGI MEMBACA KRITIS
Tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut pada dirimu sendiri:

Apa topiknya?

Kesimpulan apa yang diambil oleh penulis tentang topik tersebut?

Alasan-alasan apa yang dikemukan penulis yang membuatnya percaya?


o

Hati-hati dengan alasan yang tidak obyektif (misalnya: alasan kasihan, ketakutan,
penyalahgunaan statisktik, dll) yang dapat menipu pembaca.

Apakah penulis menggunakan fakta atau opini?


o

Fakta dapat dibuktikan.

Opini tidak dapat dibuktikan dan mungkin tidak memiliki dasar yang kuat.

Apakah penulis menggunakan kata-kata netral atau emosional?


o

Pembaca kritis melihat di balik kata-kata untuk mengetahui apakah alasan-alasannya


jelas.

Karakteristik Pemikir Kritis

Mereka jujur terhadap diri sendiri.

Mereka melawan manipulasi.

Mereka mengatasi kebingungan.

Mereka bertanya.

Mereka mendasarkan penilaiannya pada bukti.

Mereka mencari hubungan antar topik.

Mereka bebas secara intelektual.


Materi diadaptasi dari:
Ruggiero, Vincent Ryan. Critical Thinking

Selasa, 26 Agustus 2008 12:50


Kajian Kritis tentang Permasalahan Sekitar Pembelajaran Kemampuan Berpikir Kritis
Sudaryanto
Program

Diploma

Ilmu

Pendidikan

Kedokteran

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


Pendahuluan
Ilmu kedokteran merupakan bidang ilmu terapan, dimana pengetahuan yang
kompleks digunakan untuk memecahkan satu masalah yang sama. Hal ini berbeda
dengan ilmu murni dimana pengetahuan dan masalah yang dicari pemecahannya
bersifat horisontal. Proses berpikir logis lebih tepat digunakan pada penelitian ilmu
murni, sedangkan masalah di kedokteran menggunakan proses berpikir yang lebih
luas yaitu rasional dan obyektif. Proses berpikir rasional dan obyektif dikenal dengan
istilah berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan kunci utama keberhasilan dalam
menyelesaikan

masalah

klinis

sebagai

prerequisite

dari

kompetensi

clinical

reasoning.
Clinical reasoning tidak hanya ditentukan dari proses yang digunakan oleh
seorang dokter untuk menentukan keputusan klinik, melainkan dari pemahaman
individu

terhadap

materi

pengetahuan

dan

pengorganisasian

pengetahuan.

Pemahaman individu terhadap materi pengetahuan ditentukan oleh cara yang


digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang didapatkan melalui

proses berpikir kritis mempunyai tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Mahasiswa
kedokteran seharusnya mengoleksi pengetahuan dengan kualitas pemahaman yang
lebih baik. Hal ini memerlukan pengajaran yang menggunakan strategi perpikir
kritis terhadap semua pokok bahasan di kedokteran.
Pada prakteknya penerapan proses belajar mengajar kurang mendorong pada
pencapaian kemampuan berpikir kritis. Dua faktor penyebab berpikir kritis tidak
berkembang selama pendidikan adalah kurikulum yang umumnya dirancang
dengan target materi yang luas sehingga dosen lebih terfokus pada penyelesaian
materi dan kurangnya pemahaman dosen tentang metode pengajaran yang dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Anderson et al., 1997; Bloomer, 1998;
Kember, 1997 Cit in Pithers RT, Soden R., 2000).
Tulisan ini bertujuan memberikan kajian tentang permasalahan cara belajar
berpikir kritis terhadap pokok bahasan di kedokteran, serta panduan dalam program
pengembangan staf yang memberikan perhatian untuk membantu siswa menjadi
seorang yang mampu berpikir kritis.
Ketrampilan Intelektual dan Perkembangan Kognitif
Pendekatan belajar yang diperlukan dalam meningkatkan pemahaman
terhadap materi yang dipelajari dipengaruhi oleh perkembangan proses mental
yang digunakan dalam berpikir (perkembangan kognitif) dan konsep yang
digunakan dalam belajar. Perkembangan merupakan proses perubahan yang terjadi
sepanjang waktu ke arah positif. Jadi perkembangan kognitif dalam pendidikan
merupakan proses yang harus difasilitasi dan dievaluasi pada diri mahasiswa
sepanjang waktu mereka menempuh pendidikan termasuk kemampuan berpikir
kritis. Rath et al (1966) menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir kritis adalah interaksi antara
pengajar dan siswa. Mahasiswa memerlukan suasana akademik yang memberikan
kebebasan dan rasa aman bagi siswa untuk mengekspresikan pendapat dan
keputusannya selama berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.
Salah satu komponen berpikir kritis yang perlu dikembangkan adalah
ketrampilan intelektual. Ketrampilan intelektual merupakan seperangkat

ketrampilan yang mengatur proses yang terjadi dalam benak seseorang. Berbagai
jenis ketrampilan dapat dimasukkan sebagai ketrampilan intelektual yang menjadi
kompetensi yang akan dicapai pada pogram pengajaran. Ketrampilan tersebut perlu
diidentifikasi untuk dimasukkan baik sebagai kompetensi yang ingin dicapai
maupun menjadi pertimbangan dalam menentukan proses pengajaran.
Bloom mengelompokkan ketrampilan intelektual dari ketrampilan yang
sederhana sampai yang kompleks antara lain pengetahuan/pengenalan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ketrampilan menganalisis,
mensintesis, dan mengevaluasi pada taksonomi Bloom merupakan ketrampilan
pada tingkat yang lebih tinggi (Higher Order Thinking) (Cotton K.,1991).
Kesepakatan yang diperoleh dari hasil lokakarya American Philosophical Association
(APA, 1990) tentang komponen ketrampilan intelektual yang diperlukan pada
berpikir kritis antara lain interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation,
dan self regulation (Duldt-Battey BW, 1997).
Masing-masing komponen tersebut merupakan kompetensi yang perlu
disusun dan disepakati oleh para dosen tentang perilaku apa saja yang seharusnya
dapat ditunjukkan oleh mahasiswa pada tiap-tiap komponen di tiap-tiap tingkat
sepanjang program pendidikan.
Strategi pembelajaran berpikir kritis
Kember (1997) menyatakan bahwa kurangnya pemahaman pengajar tentang
berpikir kritis menyebabkan adanya kecenderungan untuk tidak mengajarkan atau
melakukan penilaian ketrampilan berpikir pada siswa. Seringkali pengajaran berpikir
kritis diartikan sebagai problem solving, meskipun kemampuan memecahkan
masalah merupakan sebagian dari kemampuan berpikir kritis (Pithers RT, Soden R.,
2000).
Review yang dilakukan dari 56 literatur tentang strategi pengajaran
ketrampilan berpikir pada berbagai bidang studi pada siswa sekolah dasar dan
menengah menyimpulkan bahwa beberapa strategi pengajaran seperti strategi
pengajaran kelas dengan diskusi yang menggunakan pendekatan pengulangan,
pengayaan terhadap materi, memberikan pertanyaan yang memerlukan jawaban

pada tingkat berpikir yang lebih tinggi, memberikan waktu siswa berpikir sebelum
memberikan

jawaban

dilaporkan

membantu

siswa

dalam

mengembangkan

kemampuan berpikir. Dari sejumlah strategi tersebut, yang paling baik adalah
mengkombinasikan berbagai strategi. Faktor yang menentukan keberhasilan
program pengajaran ketrampilan berpikir adalah pelatihan untuk para pengajar.
Pelatihan saja tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan ketrampilan berpikir
jika penerapannya tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, tidak disertai
dukungan administrasi yang memadai, serta program yang dijalankan tidak sesuai
dengan populasi siswa (Cotton K., 1991).
Penulis menilai strategi belajar kelas lebih sesuai pada pengajaran tingkat
dasar dan menengah seperti hasil-hasil penelitian yang dilaporkan pada artikel
tersebut. Pada pendidikan tingkat lanjut mahasiswa dipersiapkan untuk dapat
belajar lebih mandiri sebagai modal yang diperlukan pada saat bekerja. Artikel
tersebut juga melaporkan bahwa strategi pengajaran yang diarahkan melalui
komputer (CAI) mempunyai hubungan positif terhadap perkembangan intelektual
dan pencapaian prestasi. Strategi tersebut dapat menjadi pilihan dalam pendidikan
tinggi, sehingga mahasiswa dapat mengatur cara belajarnya secara mandiri.
Strategi pengajaran berpikir kritis pada program sarjana kedokteran yang
dilakukan di Melaka Manipal Medical College India adalah dengan memberikan
penilaian menggunakan pertanyaan yang memerlukan ketrampilan berpikir pada
level yang lebih tinggi dan belajar ilmu dasar menggunakan kasus klinik untuk mata
kuliah yang sudah terintegrasi menggunakan blok yang berbasis pada sistem organ.
Setelah kuliah pendahuluan, mahasiswa diberikan kasus klinik serta sejumlah
pertanyaan yang harus dijawab beserta alasan sebagai penugasan. Jawaban
didiskusikan pada pertemuan berikutnya untuk meluruskan adanya kesalahan
konsep dan memperjelas materi yang belum dipahami oleh mahasiswa. Hasilnya
menunjukkan bahwa mahasiswa pada program tersebut menunjukkan prestasi yang
lebih baik dalam mengerjakan soal-soal hapalan maupun soal yang menuntut
jawaban yang memerlukan telaah yang lebih dalam. Mahasiswa juga termotivasi
untuk belajar (Abraham RR., et al., 2004).

Penelitian tersebut membuktikan dua hal dalam pengajaran yang dapat


meningkatkan kemampuan berpikir kritis, yaitu:
1. Dengan menggunakan konteks yang relevan seperti masalah klinik yang
dipahami oleh mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis
sekaligus meningkatkan prestasi akademisnya.
2. Cara penilaian yang memerlukan telaah yang lebih dalam, mendorong siswa
untuk belajar secara lebih bermakna daripada sekedar belajar untuk
menghapal.
Artikel di atas menyatakan bahwa pertanyaan diberikan setelah memperoleh kuliah
pendahuluan konsep dasar dari ilmu dasar yang dipelajari. Hal ini menunjukkan
bahwa informasi yang diberikan telah disusun oleh dosen dengan konsep yang jelas
sehingga tidak memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menentukan
informasi yang diperlukan untuk membangun konsep sendiri. Sedangkan salah satu
karakter seorang yang berpikir kritis adalah self regulatory, sehingga pengajaran
tersebut dapat dikombinasikan dengan strategi lain agar mahasiswa dapat
menentukan informasi secara mandiri. Artikel tersebut juga tidak menjelaskan
bagaimana proses diskusi yang dilakukan pada kelas besar, sehingga setiap
mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menyampaikan argumentasi dari
jawaban pertanyaan yang diberikan. Penulis beranggapan bahwa pertanyaanpertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis dapat dimasukkan ke
dalam study guide sebagai salah satu sumber belajar ketika mahasiswa dalam
belajar mandiri pada strategi Problem Based Learning.
Pembelajaran

kolaboratif

melalui

diskusi

kelompok

kecil

juga

direkomendasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir


kritis (Resnick L., 1990; Rimiene V., 2002; Gokhale A.A., 2005). Dengan berdiskusi
siswa

mendapat

kesempatan

untuk

mengklarifikasi

pemahamannya

dan

mengevaluasi pemahaman siswa lain, mengobservasi strategi berpikir dari orang


lain untuk dijadikan panutan, membantu siswa lain yang kurang untuk membangun
pemahaman,

meningkatkan motivasi, serta membentuk sikap yang diperlukan

seperti menerima kritik dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun.

Evaluasi kemampuan berpikir kritis


Evaluasi merupakan proses pengukuran pencapaian tujuan yang diinginkan
dengan menggunakan metode yang teruji validitas dan reliabilitasnya. Beberapa
penelitian

mengevaluasi

kemampuan

berpikir

kritis

dari

aspek

ketrampilan

intelektual seperti ketrampilan menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi


dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang berbasis taxonomi Bloom 1,3.
Sedangkan tujuan pengajaran berpikir kritis meliputi ketrampilan dan strategi
kognitif, serta sikap.
Colucciello

menggabungkan

berbagai

elemen

yang

digunakan

dalam

penelitian dan komponen pemecahan masalah keperawatan serta kriteria yang


digunakan dengan komponen ketrampilan dan sikap berpikir kritis. Elemen tersebut
antara lain menentukan tujuan, menyusun pertanyaan atau membuat kerangka
masalah, menunjukkan bukti, menganalisis konsep, interpretasi, asumsi, perspektif
yang digunakan, keterlibatan, dan kesesuaian. Dengan kriteria antara lain:
kejelasan, ketepatan, ketelitian, keterkaitan, keluasan, kedalaman, dan logikal 2. Dia
juga membandingkan dengan inventory yang sudah ada seperti California Critical
Thinking Test (CCTT) untuk mengevaluasi ketrampilan berpikir kritis dan Critical
Thinking Disposition Inventory (CTDI) untuk mengevaluasi sikap berpikir kritis 2.
Evaluasi juga menilai kesesuaian rencana dengan penerapan di lapangan
(evaluasi proses) yang termasuk di dalamnya adalah mengevaluasi budaya
akademik dalam kelas dan budaya akademik dalam fakultas yang dilakukan secara
sistematis baik oleh dosen maupun administrator yang dinyatakan oleh Orr and
Klein, 19914. Penilaian mahasiswa terhadap dosen dapat menggunakan berbagai
karakteristik sikap yang menghambat atau mendorong kemampuan berpikir kritis
yang telah dibahas sebelumnya.
Kesimpulan
Strategi pengajaran yang mendorong mahasiswa berpikir kritis terhadap pokok
bahasan di kedokteran dapat menggunakan berbagai strategi pengajaran yang
menggunakan pendekatan di bawah ini:

Pembelajaran Aktif

Pembelajaran Kolaboratif

Pembelajaran Kontekstual

Menggunakan pendekatan higher order thinking

Self directed learning

Kombinasi dari berbagai strategi di lebih dianjurkan oleh karena dapat mencapai
berbagai

aspek

dari

komponen

berpikir

kritis.

Teknologi

pengajaran

yang

menerapkan kombinasi dari berbagai strategi yang ada saat ini misalnya Problem
Based

Learning

(PBL).

Fakultas

Kedokteran

perlu

mengembangkan

strategi

pengajaran tersebut dalam pengajaran agar mahasiswa dapat belajar materi


kedokteran melalui proses berpikir kritis. Dengan demikian mahasiswa dapat
memberi makna yang lebih dalam (bukan sekedar mendapat materi yang dalam)
dari materi yang dipelajari. Pemahaman terhadap makna pokok bahasan yang
dipelajari mempunyai hubungan dengan kemampuan clinical reasoning sebagai
kompetensi seorang dokter.

Selasa, 26 Agustus 2008 12:55

Kemampuan Berpikir Kritis sebagai Jalan Mencapai Kompetensi Clinical Reasoning pada
Pendidikan Kedokteran
Sudaryanto
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang
Pendahuluan
Clinical reasoning merupakan proses berpikir untuk memberi makna dari
suatu temuan klinik (Higgs J., Jones M.,1995; University of Washington, 2005).
Setiap tindakan yang dilakukan seorang dokter seperti menentukan diagnosis,
pilihan terapi, atau membuat prognosis merupakan hasil dari proses pemahaman
terhadap fenomena masalah kesehatan. Dalam proses pemahaman yang terjadi
pada manusia, bagian vital yang diperlukan adalah cara berpikir logis dan berpikir
kritis (Jenicek M., 2006). Hal ini disebabkan banyaknya faktor yang harus menjadi
pertimbangan seorang dokter sebelum membuat suatu keputusan klinik.
Metode yang digunakan dalam clinical reasoning antara lain hipoteticodeductive, algoritma, pattern recognition serta gejala dan tanda patognomonis.
Pada prakteknya proses berpikir heuristic lebih sering digunakan oleh karena
pertimbangan efektivitas biaya dan waktu. Kelemahan dari proses berpikir heuristic
adalah adanya kemungkinan terjadinya bias kognitif yang dapat mempengaruhi
kesimpulan yang dihasilkan (Round A., 2000; Kee F, Bickle I., 2004). Proses berpikir
seperti itu memerlukan pemahaman yang mendalam dari pengetahuan dan
pengalaman terhadap masalah klinik. Berpikir kritis menjadi strategi yang

diperlukan dalam

clinical reasoning untuk menghindari penyimpangan proses

berpikir.
Tulisan ini bertujuan memberikan pembahasan kritis tentang masalah clinical
reasoning dilihat dari konteks berpikir kritis dan cara reasoning yang umum
dilakukan. Dengan adanya pemahaman tentang pentingnya berpikir kritis pada
clinical reasoning, dapat dijadikan landasan pentingnya pengajaran dengan
menekankan pencapaian berpikir kritis pada pendidikan kedokteran. Format tulisan
terdiri dari berpikir kritis, proses reasoning yang umum dan perbedaannya dengan
clinical reasoning, hubungan antara reasoning, clinical reasoning, dan berpikir kritis.
Berpikir kritis pada pendidikan tinggi
Pengertian tentang berpikir kritis secara rinci disampaikan oleh Michael
Scriven dan Richard Paul:
Critical thinking is the intellectually disciplined process of actively and
skillfully conceptualizing, applying, synthesizing, and/or evaluating
information gathered from, or generated by, observation, experience,
reflection, reasoning, or communication as a guide to belief and action.
In its exemplary form, it is based on universal intellectual values that
trancend subject matter divisions: clarity, accuracy, precision,
consistancy, relevance, sound evidence, good reasons, depth,
breadth, and fairness. It entails the examination of those structures or
elements of thought implicit in all reasoning: purpose, problem, or
questionate-issue, assumptions, concepts, empirical grounding;
reasoning leading to conclusions, implication and consequences,
objection from alternative viewpoints, and frame of reference
(Jenicek M., 2006).
Pengertian di atas menunjukkan bahwa berpikir kritis dapat diartikan sebagai
proses juga sebagai suatu kemampuan. Proses dan kemampuan tersebut digunakan
untuk memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi
yang didapat atau informasi yang dihasilkan. Tidak semua informasi yang diterima
dapat dijadikan pengetahuan yang diyakini kebenarannya untuk dijadikan panduan
dalam tindakan. Demikian halnya dengan informasi yang dihasilkan tidak selalu
merupakan informasi yang benar. Informasi tersebut perlu dilakukan pengkajian
melalui berbagai kriteria seperti kejelasan, ketelitian, ketepatan, reliabilitas,

kemamputerapan, bukti-bukti lain yang mendukung, argumentasi yang digunakan


dalam

menyusun

kesimpulan,

kedalaman,

keluasan,

serta

dipertimbangkan

kewajarannya.
Proses berpikir untuk menilai informasi tersebut dilakukan secara sistematis
dengan menggunakan kriteria tersebut pada setiap bagian informasi seperti
tujuannya,

permasalahan

atau

pokok

persoalan

yang ingin dicarikan

jalan

keluarnya, asumsi dan konsep yang digunakan, dasar-dasar empiris, dampak atau
akibat yang dapat ditimbulkan, alternatif lain yang dapat digunakan. Keputusan
atau kesimpulan yang dilakukan dengan berpikir kritis merupakan informasi terbaik
yang telah melalui pengkajian dari berbagai sumber informasi termasuk mengkaji
kesimpulan yang dihasilkan dengan memberikan bukti-bukti yang mendukung.
Berpikir kritis telah menjadi salah satu kompetensi dari tujuan pendidikan
perguruan tinggi di banyak negara. Pendidikan tinggi di Amerika menjadikan
berpikir kritis sebagai salah satu sasaran yang ingin dicapai dan dimuat dalam
Goals 2000: Educate America Act of 1990. (Duldt-Battey BW. , 1997; Phillips V., Bond
C., 2004). Selama menempuh pendidikan, berpikir kritis dapat membantu siswa
dalam meningkatkan pemahaman materi yang dipelajari dengan mengevaluasi
secara kritis argumen pada buku teks, journal, teman diskusi, termasuk
argumentasi dosen dalam kuliah (Bassham G., et al., 2005). Jadi berpikir kritis
dalam pendidikan tinggi merupakan kompetensi yang akan dicapai serta alat yang
diperlukan dalam mengkonstruksi pengetahuan.
Reasoning dan Clinical Reasoning
Reasoning

merupakan

kegiatan

berpikir

untuk

menghasilkan

suatu

kesimpulan. Kesimpulan merupakan hasil suatu pemahaman yang didapatkan


melalui persepsi seseorang terhadap suatu fenomena dan proses berpikir. Dalam
proses berpikir tersebut seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor subyektif yaitu
pertimbangan-pertmbangan yang menguntungkan dirinya, serta faktor obyektif
yaitu nilai-nalai yang berlaku secara umum. Hal ini menyebabkan pemahaman
manusia terhadap fenomena yang sama dapat menghasilkan kesimpulan yang
berbeda-beda. Kesimpulan yang berbeda dapat memberi dampak pada keputusan
jenis tindakan yang berbeda (Jenicek M., 2006).

Ada 2 metode yang digunakan agar suatu kesimpulan dapat diterima dengan
akal sehat yaitu logika deduktif dan induktif. Kedua metode tersebut sering
digunakan pada proses reasoning pada penelitian ilmiah untuk mendapatkan
kesimpulan yang akurat dan relatif terbebas dari bias. Logika deduktif merupakan
kesimpulan yang mengacu pada pendapat yang sifatnya umum ke khusus. Proses
ini dimulai dari adanya hipotesis sebelumnya dan menganalisis atau membuktikan
kesesuaian fenomena dengan hipotesis tersebut. Logika induktif adalah kesimpulan
yang mengacu pada pendapat yang sifatnya khusus ke umum. Kesimpulan dibuat
dari proses menggali data atau informasi yang akan dianalisis menjadi hipotesis
(Higgs J, Jones M. 1995; Jenicek M., 2006). Kedua metode ini
Strategi reasoning yang umumnya digunakan untuk penelitian-penelitian
ilmiah tersebut pada awalnya dianggap sama untuk semua proses dalam membuat
kesimpulan

termasuk

pada

clinical

reasoning.

Strategi

clinical

reasoning

menggunakan logika induktif dan deduktif untuk membuat kesimpulan dikenal


sebagai metode hipotetico-deductive (metode analitik). Strategi reasoning dimana
data atau informasi yang diperoleh dari pasien digeneralisasikan menjadi hipotesis
sebagai diagnosis banding. Hipotesis atau diagnosis banding yang dihasilkan
digunakan sebagai dasar untuk menentukan data yang masih diperlukan untuk
membedakan berbagai kemungkinan penyakit dalam hipotesisnya. Data yang
dikumpulkan akan diintepretasikan untuk menetapkan diagnosis pasti (Norman G.,
2005).
Perbedaan proses clinical reasoning pada expert dan novice menunjukkan
bahwa seorang expert tidak menggunakan metode reasoning yang umum yaitu
logika induktif-deduktif. Seorang expert cenderung menggunakan jalan pintas
(heuristic) sebagai srategi clinical reasoning seperti pattern recognition atau gejalatanda klinis yang patognomonis. Strategi tersebut beresiko terjadinya bias kognitif,
meskipun hasil diagnosis yang dilakukan expert menunjukkan keakuratan dan
kecepatan yang lebih baik dibandingkan novice.

Hal ini membuktikan bahwa

clinical reasoning yang dilakukan oleh expert tidak tergantung pada proses
reasoning

yang

pengetahuan

dilakukan

(content

melainkan

specificity)

pada
dan

pemahaman

cara

mengorganisasikan pengetahuan (Norman G., 2005).

yang

terhadap

materi

digunakan

untuk

Seorang expert mengorganisasikan pengetahuan melalui tiga fase yaitu

Fase pertama adalah akumulasi pengetahuan dasar tentang penyakit seperti


patofisiologi dan patogenesis.

Fase kedua adalah proses penggabungan pengetahuan dasar dengan kasus


nyata melalui pengalaman menangani pasien yang disebut dengan illness
script.

Fase ketiga adalah proses menggunakan script yang sesuai untuk menangani
kasus baru. Pengetahuan dasar hanya digunakan ketika seorang dokter
memerlukannya, misalnya ketika menghadapi kasus yang sulit. Pengalaman
klinik akan menambah script-script yang dapat digunakan secara instan
untuk menyelesaikan kasus yang sama.

Meskipun proses tersebut sesuai dengan kurikulum tradisional tetapi tidak adanya
integrasi dari ketiga fase tersebut menyebabkan seorang expert mengetahui basic
science tetapi sulit untuk menjelaskan mekanismenya. Hal ini dapat terjadi oleh
karena pengetahuan dasar yang tidak diintegrasikan dalam jangka waktu yang
lama mengalami enkapsulasi (Schmidt H G, Boshuizen H., 1993; Norman G., 2005).
Teori script menyatakan bahwa hipotesis yang dihasilkan pada proses clinical
reasoning

merupakan

proses

aktivasi

script,

sedangkan

testing

hipotesis

merupakan pemrosesan dari script. Clinical reasoning merupakan proses untuk


menemukan, menentukan, dan melihat kembali kebenaran dari script yang sudah
dimiliki. Proses tersebut merupakan gabungan antara metode analitik-non analitik
yang dapat menghasilkan diagnosis lebih baik dibandingkan dengan metode
analitik saja. (Schmidt H G, Boshuizen H., 1993; Eva K.W., 2004).
Hubungan reasoning, clinical reasoning dan berpikir kritis
Pada banyak kondisi klinik, seorang dokter dituntut untuk membuat
keputusan secara cepat dan akurat. Strategi reasoning menggunakan metode yang
umum dilakukan dalam penelitian ilmiah seperti hipothetico-deductif memerlukan
waktu yang lama. Dalam praktek seorang dokter cenderung menggunakan strategi
non-analitik dalam clinical reasoning. Strategi non analitik yang digunakan oleh

dokter dalam clinical reasoning memungkinkan terjadinya bias kognitif. Cara


mengurangi terjadinya bias kognitif adalah dengan mengevaluasi kesimpulan untuk
memberikan argumentasi berdasarkan bukti-bukti yang sesuai. Proses tersebut
merupakan kemampuan berpikir kritis.
Strategi clinical reasoning juga memerlukan pemahaman terhadap materi
pengetahuan kedokteran, cara pengorganisasian pengetahuan, serta pengalaman
menggunakan pengetahuan. Proses membangun informasi merupakan proses aktif
menggunakan informasi dan mengevaluasi hasil kesimpulan yang dibuat terhadap
permasalahan yang dihadapi. Proses tersebut memerlukan berbagai macam
ketrampilan seperti:

Ketrampilan interpretasi untuk memahami argumentasi dan pendapat orang


lain

Ketrampilan untuk mengevaluasi secara kritis argumentasi dan pendapat

Ketrampilan untuk mengembangkan dan mempertahankan argumentasi yang


dibuat dengan landasan yang kuat.

Jadi clinical reasoning merupakan kemampuan utama yag harus dimiliki seorang
dokter

yang

memerlukan

kemampuan

berpikir

kritis

baik

dalam

proses

mengkonstruksi pengetahuan maupun maupun proses pengambilan keputusan


terhadap pasien. Dalam pendidikan kedokteran berpikir kritis menjadi alat untuk
memperoleh

pemahaman

materi

pengetahuan

serta

kompetensi

yang

dikembangkan agar lulusannya dapat bekerja dengan baik.


Kesimpulan
Clinical reasoning merupakan salah satu kompetensi utama pendidikan
dokter. Selama proses pendidikan, strategi hipothetico-deductif sudah lama
digunakan agar mahasiswa mengetahui alur berpikir dalam proses pengmbilan
keputusan klinik. Pada praktek strategi tersebut jarang dilakukan kecuali pada
kasus-kasus sulit atau jarang ditemui. Penelitian tentang pentingnya pemahaman
materi

pengetahuan

dan

cara

pengorganisasian

pengetahuan

memerlukan

kemampuan berpikir kritis untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan


sebagai landasan ketika seseorang menjalani profesinya.
Proses akumulasi pengetahuan menjadi illness script seharusnya dilakukan
sejak mahasiswa mengkonstruksi pengetahuan kedokteran. Pendidikan kedokteran
perlu menyadari bahwa pemahaman pengetahuan yang sebatas menghapalkan
fakta,

memberikan

pandang

ketrampilan

yang terbatas sudah

memecahkan

masalah

saatnya ditinjau

ulang.

menggunakan

sudut

Strategi pengajaran

seharusnya menggunakan metode yang memberi kesempatas siswa memahami


secara utuh tentang materi pengetahuan menggunakan pendekatan berpikir kritis.
Dengan meningkatkan kemampuan berpikir kritis selama belajar di fakultas
kedokteran berarti pendidikan kedokteran telah berperan dalam memberikan
jaminan pelayanan kesehatan terhadap pasien, serta memberikan jaminan kepada
lulusannya agar terhindar dari kesalahan akibat adanya penyimpangan dalam
proses berpikir.