Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Definisi Keluarga Berencana
keluarga berencana (KB) adalah upaya peningkatan kepedulian
masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera
(Undang-Undang No. 10/1992). Menurut WHO (Expert Commite, 1970), KB
adalah tindakan yang membantu individu/pasutri untuk mendapatkan objektifobjektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan
kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantaa kehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga (Ayus, 2014).
2.1.2. Tujuan Keluarga Berencana
program KB bertujuan untuk membangun manusia Indonesia sebagai
objek dan subjek pembangunan melalui peningkatan kesejahteraan ibi, anak,
dan keluarga. Pelaksanaan program KB juga diarahkan untuk menurunkan
tingkat kelahiran atas dasar kesadaran dan tanggung jawab seluruh masyarakat
dengan cara memilih metode kontrasepsi. Dengan demikian program KB akan
merupakan cermin dari upaya menurunkan tingkat kelahiran dan sekaligus
membangun keluarga sejahtera (BKKBN, 2013).
2.1.3. Visi dan Misi Program KB Nasional
Paradigma baru KB Nasional (KBN) telah diubah visinya dari
mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) menjadi
visi untuk mewujudkan Keluarga Berkualitas Tahun 2015. Keluarga yang
berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki
anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Bappenas, 2014).
Paradigma baru program KB ini, menekankan pentingnya upaya
menghormati hak-hak reproduksi, sebagai upaya integral dalam meningkatkan
kualitas keluarga. Visi tersebut dijabarkan ke dalam 6 (enam) misi, yaitu
(Bappenas, 2014) :
1. Memberdayakan masyarakat untuk membangun keluarga kecil berkualitas
2. Menggalang kemitraan dalam peningkatan kesejahteraan, kemandirian,
dan ketahanan keluarga
3. Meningkatkan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.
6

4. Meningkatkan promosi, perlindungan dan upaya mewujudkan hak-hak


reproduksi
5. Meningkatkan upaya pemberdayaan perempuan untuk mewujudkan
kesetaraan dan keadilan jender melalui program KB
6. Mempersiapkan SDM berkualitas sejak pembuahan dalam kandungan
sampai dengan usia lanjut
2.1.4. Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti melawan atau mencegah
dan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma
yang

mengakibatkan

kehamilan.

Maksud

dari

kontrasepsi

adalah

menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara


sel telur yang matang dengan sel sperma. Untuk itu, maka yang membutuhkan
kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan intim/seks dan
kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki
kehamilan (BKKBN, 2010).
2.1.5. Macam-macam Kontrasepsi
A. Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet tipis yang dipasang pada
penis sebagai tempat penampungan sperma yang dikeluarkan pria pada
saat senggama sehingga tidak tercurah pada vagina. Cara kerja
kondom yaitu mencegah pertemuan ovum dan sperma atau mencegah
spermatozoa mencapai saluran genital wanita. Sekarang sudah ada
jenis kondom untuk wanita, angka kegagalan dari penggunaan kondom
ini 5-21%.
B. SenggamaTerputus(CoitusInteruptus)
Coitus interuptus atau senggama terputus adalah menghentikan
senggama dengan mencabut penis dari vagina pada saat suami
menjelang ejakulasi. Kelebihan dari cara ini adalah tidak memerlukan
alat/obat sehingga relatif sehat untuk digunakan wanita dibandingkan
dengan metode kontrasepsi lain, risiko kegagalan dari metode ini
cukup tinggi.
C. Diafragma

Diafragma merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mencegah


sperma mencapai serviks sehingga sperma tidak memperoleh akses ke
saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba fallopi). Angka
kegagalan diafragma 4-8% kehamilan.
D. Spermicida
Spermicida adalah suatu zat atau bahan kimia yang dapat mematikan
dan menghentikan gerak atau melumpuhkan spermatozoa di dalam
vagina, sehingga tidak dapat membuahi sel telur. Spermicida dapat
berbentuk tablet vagina, krim dan jelly, aerosol (busa/foam), atau tisu
KB. Cukup efektif apabila dipakai dengan kontrasepsi lain seperti
kondom dan diafragma.
E. KB Alami
KB alami berdasarkan pada siklus masa subur dan tidak masa subur,
dasar utamanya yaitu saat terjadinya ovulasi. Untuk menentukan saat
ovulasi ada 3 cara, yaitu : metode kalender, suhu basal, dan metode
lendir serviks.
F. KontrasepsiHormonal
Kontrasepsihormonaladalahalatatauobatkontrasepsiyangbertujuan
untuk mencegah terjadinya kehamilan dimana bahan bakunya
mengandung preparat estrogen dan progesterone. Jenis dan cara
pemakaiannya dikenal tiga macam kontrasepsi hormonal yaitu:
kontrasepsisuntikan,kontrasepsioral(pil),kontrasepsiimplant, Alat
Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) / IUD.
1. Pil
Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet
yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesteron (Pil
Kombinasi) atau hanya terdiri dari hormon progesteron saja (Mini
Pil). Cara kerja pil KB menekan ovulasi untuk mencegah lepasnya
sel telur wanita dari indung telur, mengentalkan lendir mulut rahim
sehingga sperma sukar untuk masuk kedalam rahim, dan
menipiskan lapisan endometrium. Mini pil dapat dikonsumsi saat
menyusui. Efektifitas pil sangat tinggi, angka kegagalannya
berkisar 1-8% untuk pil kombinasi, dan 3-10% untuk mini pil.

2. Suntikan
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan
suntik KB 3 bulan (DMPA). Cara kerjanya sama dengan pil KB.
Efek sampingnya dapat terjadi gangguan haid, depresi, keputihan,
jerawat, perubahan berat badan, pemakaian jangka panjang bisa
terjadi penurunan libido, dan densitas tulang.
3. Implant
Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit,
biasanya dilengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implant
mengandung levonogestrel. Keuntungan dari metode implant ini
antara lain tahan sampai 5 tahun, kesuburan akan kembali segera
setelah

pengangkatan.

Efektifitasnya

sangat

tinggi,

angka

kegagalannya 1-3%.
4. Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) / IUD
AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim
yang

bentuknya

bermacam-macam,

terdiri

dari

plastic

(polyethyline), ada yang dililit tembaga (Cu), dililit tembaga


bercampur perak (Ag) dan ada pula yang batangnya hanya berisi
hormon progesteron. Cara kerjanya, meninggikan getaran saluran
telur sehingga pada waktu blastokista sampai ke rahim
endometrium belum siap menerima nidasi, menimbulkan reaksi
mikro infeksi sehingga terjadi penumpukan sel darah putih yang
melarutkan blastokista, dan lilitan logam menyebabkan reaksi anti
fertilitas. Efektifitasnya tinggi, angka kegagalannya 1% (Hanifa,
2013).
2.1.6. Intra Uterine Devices (IUD)
A. Kebijakan Pemerintah Terhadap Kontrasepsi IUD
Upaya untuk meningkatkan kesertaan KB MKJP bagi PUS di semua
tahapan keluarga (Pra KS, KS I, KS II, KS III dan KS III Plus) didukung
dengan kebijakan dan strategi nasional secara komprehensif dengan mengacu
kepada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) Bidang
Kependudukan dan KB Tahun 2010-2014 serta dengan program lainnya secara

10

terpadu (Bappenas, 2014).


Kebijakan yang dikembangkan dalam rangka pemberian pelayanan KB
MKJP mencakup dua aspek yaitu aspek pelayanan(supply side) dan aspek
penggerakan (demand side) (Bappenas, 2014):
1. Aspek Pelayanan (supply) di fokuskan pada peningkatan kualitas
pelayanan melalui
a. Penyediaan alat kontrasepsi MKJP (AKDR/IUD dan AKBK/Implant)
untuk semua Klinik KB Pemerintah termasuk milik TNI, Polri, Swasta
dan LSOM yang telah memiliki nomor kode klinik KB atau memiliki
kerjasama dengan Pengelola Jamkesmas dan Pengelola BOK di
Kabupaten dan Kota.
b. Penyediaan sarana pendukung pelayanan KB MKJP
c. Peningkatan kompetensi provider dalam pelayanan KB MKJP
d. Monitoring dan Evaluasi dalam pelaksanaan pelayanan KB MKJP
e. Peningkatan kualitas pencatatan dan pelaporan (R/R)
2. aspek penggerakkan (demand) di fokuskan pada peningkatan penerimaan
PUS terhadap KB MKJP melalui
a. Peningkatan KIE dan promosi tentang KB MKJP
b. peningkatan pencitraan dan promosi tempat pelayanan
c. advokasi kepada para stakeholders, eksekutif dan legislative
d. peningkatan partisipasi masyarakat
Strategi yang dikembangkan dalam rangka peningkatan kesertaan PUS
di semua tahapan keluarga terhadap KB MKJP di fokuskan pada kemudahan
mendapatkan pilihan dan pelayanan KB metode kontrasepsi jangka panjang
(MKJP) secara berkualitas di semua Klinik KB pemerintah termasuk milik
TNI, Polri, Swasta dan LSOM (Bappenas 2014).
Dalam upaya untuk meningkatkan penggunaan kontrasepsi IUD perlu
memperhatikan perubahan lingkungan strategis baik dari aspek pengguna
(demand) maupun aspek pemberi layanan (supply). Meskipun masyarakat
telah mengenal IUD sebagai pilihan kontrasepsi yang ideal, berbagai
permasalahan masih terus muncul. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan
untuk peningkatan penggunaan konrasepsi IUD, diantaranya adalah dengan
adanya kebijakan IUD gratis untuk seluruh PUS di seluruh provinsi di
Indonesia (sejak tahun 2004), stok IUD cukup tersedia walau hanya IUD Cu T

11

380 A, pengalaman dalam pengelolaan program KB, tersedianya dukungan


anggaran untuk IUD, tersedianya dana pelatihan medis teknis bagi provider,
tersedianya dana pelatihan KIP/K bagi provider, dan telah dikembangkan
resize inserter IUD untuk program pemasangan IUD pasca persalinan
(Bappenas, 2014).
Hasil monitoring dan evaluasi yang telah dilakukan setiap tahun
memperlihatkan, masih banyaknya dokter dan bidan praktek swasta yang tidak
mendapatkan IUD yang seharusnya bisa diberikan gratis dari pemerintah.
Berdasarkan kebijakan yang ada, IUD bisa diberikan untuk seluruh
masyarakat tidak hanya untuk pra KS atau KS I (Bappenas, 2014).
B. Definisi IUD
IUD adalah alat yang terbuat dari bahan plastic berukuran kecil yang
dimasukkan ke dalam rongga uterus, terdapat benang nilon yang menempel
pada alat ini yang digantungkan dari dalam vagina, sehingga penggunaannya
dapat memastikan bahwa alat tersebut masih terpasang (Hanafi, 2014).
C. Jenis-jenis IUD
Walaupun dimasa lalu IUD dibuat dalam berbagai bentuk dan bahan
yang berbeda-beda, dewasa ini IUD yang tersedia di seluruh dunia hanya 3
tipe yaitu Inert, dibuat dari plastic (Lippes Loop) atau baja antikarat (The
Chinese Ring), mengandung tembaga, termasuk disini TCu 380A, TCu 200C,
multiload progestasert yang mengandung progesterone dan levanova yang
mengandung levonogestre (Hanafi, 2014).
D. Mekanisme Kerja IUD
IUD dapat mencegah implantasi telur yang telah dibuahi dengan
beberapa mekanisme, jika IUD tersebut dilapisi oleh tembaga, maka material
yang terkandung di dalamnya dapat menyebabkan merespon peradangan lokal
di dalam endometrium dan kemudian memproduksi prostaglandin yang
berlebihan dan juga produksi sel darah putih dan perubahan di cairan normal
yang ada di tuba uterine dan uterus. Untuk IUD yang mengandung Cu
(Hanafi, 2014) :
1. Antagonism kationik yang spesifik terhadap Zn yang terdapat dalam

12

enzim carbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam traktus genitalia
wanita, dimana Cu menghambat reaksi carbonicanhydrase sehingga tidak
memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambat
aktivitas alkali phosphatase.
2. Mengganggu pengambilan estrogen endogenous oleh mucosauterus.
3. Mengganggu jumlah DNA dalam sel endometrium.
4. Mengganggu metabolism glikogen. Penambahan Ag pada IUD yang
mengandung Cu mempunyai maksud untuk mengurangi fragmentasi dari
Cu sehingga Cu lebih lama habisnya.
E. Efektivitas IUD
Sangat efektif yaitu 0,5 1 kehamilan per 100 perempuan selama 1
tahun pertama penggunaan (Hanafi, 2014).
G. Keuntungan dan Kerugian IUD
1. Keuntungan
Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi
Sangat efektif 0,6 - 0,8 kehamilan / 100 perempuan dalam 1

tahun pertama ( 1 kegagalan dalam 125 170 kehamilan).


AKDR dapat efektik segera setelah pemasangan.
Metode jangka panjang ( 10 tahun proteksi dari CuT 380A dan

tidak perlu diganti)


Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat ingat
Tidak mempengaruhi hubungan seksual
Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk

hamil
Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR ( CuT -380A)
Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus

(apabila tidak terjadi infeksi)


Dapat digunakan sampai menopause ( 1 tahun atau lebih setelah

haid terakhir)
Tidak ada interaksi dengan obat obat
Membantu mencegah kehamilan ektopik
2. Kerugian
Dapat terjadi infeksi
Dapat meningkatkan risiko penyakit radang panggul (PRP)
Memerlukan prosedur pencegahan infeksi sewaktu memasang dan
mencabutnya

13

Bertambahnya darah haid dan rasa sakit selama dalam beberapa

bulan pertama pada sebagian pemakai IUD


Tidak dapat melindungi klien terhadap PMS, AIDS / HIV
IUD dapat keluar dari rahim melalui kanalis servikalis hingga

keluar vagina
Dari kekurangan diatas seperti risiko PRP, infeksi, PMS bisa dikurangi
oleh pelayanan kesehatan setempat dengan memberikan konseling yang tepat
tentang bagaimana prosedur IUD dan pemakaian IUD (Albar, 2013).
H.Persyaratan Pemakaian IUD
Semua ibu usia subur bisa menggunakan KB IUD ini, kecuali (Glasier,
2006):
1. sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)
2. perdarahan vagina yang tidak diketahui
3. sedang menderita infeksi alat genitalia (vaginitis , servisitis)
4. tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita penyakit
rang panggul (PRP) atau abortus septik
5. kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak yang dapat
6.
7.
8.
9.

mempengaruhi cavum uteri


penyakit trofoblas yang ganas
diketahui menderita TBC pelvik
kanker alat genitalia
ukuran Rahim kurang dari 5 cm.

I. Prosedur Pelaksanaan Pemasangan IUD (SOP)


Persiapan pasien dan lingkungan (Hanafi, 2014):
a. jelaskan pada klien prosedur yang akan dilakukan
b. siapkan lingkungan yang mendukung pelaksanaan tindakan, atur
penerangan yang cukup, jaga privasi klien.
Persiapan alat:
a. kom besar 2 buah
b. bengkok
c. ko sedang 1 buah
d. air DTT
e. larutan byclean/klorin 0,5%
f. kapas sublimat
g. bak instrument
h. sarung tangan steril 2 pasang
i. bivatue speculum (speculum cocor bebek)
j. tampon tang
k. ekstraktor IUS
l. tenakulum

14

m. sonde uterus
n. gunting IUD

Gambar 2.1. Peralatan yang Disiapkan


sumber: Hanafi, 2014
prosedur pelaksanaan:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

dekatkan alat
atur posisi klien senyaman mungkin
cuci tangan di air mengalir
pasang selimut mandi
pakai sarung tangan steril pada tangan kiri
simpan IUD di tempat rata
buka plastic atas IUD dengan tangan kanan, tangan kiri memasukkan

h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.

coper T IUD dari dalam dan tangan kanan merapatkan dari luar
dekatkan bengkok
buka lom kapas sublimat
pakai sarung tangan pada tangan kanan
lakukan vulva gygene
lakukan pemeriksaan dalam
cuci tangan di air DTT, buka sarung tangan
pakai sarung tangan steril yang baru
masukkan speculum sesuai anatomi
bersihkan serviks dengan kasa steril menggunakan tampon tang
jepit serviks dengan tenakulum pada posisi vertikal (arah jam 11/jam 1)
ukur panjang uterus dengan sonde uterus
memasang IUD dengan tekhnik menarik (with drawal technique)
memasukkan tabung inserter yang berisi IUD kedalam kanalis

servikalis
menarik tabung
memasukkan IUD

inserter

sampai

pangkal

pendorong

untuk

15

mengeliuarkan pendorong dan dorong kembali tabung inserter sampai

terasa pada fundus


t. menggungting benang IUD 3-4 cm
u. bersihkan portio yang telah terpasang IUD dengan kapas menggunakan
tampon tang
v. mengeluarkan tenakulum dan speculum, rendam dalam larutan klorin
w.
x.
y.
z.

0,5%
lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan IUD telah terpasang
lepaskan sarung tangan, rendam dalam laurtan klorin 0,5%
cuci tangan
dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.

Gambar 2.2. Hasil Pemasangan IUD dalam Rahim


Sumber: Hanafi, 2014
J. Efek Samping IUD dan Penanggulangannya
1. Perdarahan
2. Keputihan
3. Nyeri
Nyeri haid
Nyeri pada senggama
Nyeri pada pemasangan
4. Ekspulsi
Teraba/terasa adanya IUD dalam liang senggama yang menyebabkan
rasa tidak enak bagi wanita. Dapat terjadi ekspulsi sebagian atau
seluruhnya. Satu-satunya pengobatan yaitu melepaskan IUD dan
menggantinya dengan ukuran yang sesuai (Albar, 2013).
K. Petunjuk Bagi Pemakai
a. Kembali memeriksakan diri setelah 4 6 minggu pemasangan IUD
b. Selama bulan pertama mempergunakan IUD, periksalah benang IUD

16

secara rutin terutama setelah haid


c. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksa keberadaan
benang setelah haid apabila mengalami:
1. Kram/kejang perut bagian bawah
2. Perdarahan diantara haid atau setelah senggama
3. Nyeri setelah senggma atau apabila pasangan mengalami tidak
nyaman selama melakukan hubungan seksual
d. Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat
dilakukan lebih awal apabila diinginkan
e. Kembali ke klinik apabila:
1. Tidak dapat meraba benang IUD
2. Merasakan bagian yang keras dari IUD
3. IUD terlepas
4. Siklus terganggu/meleset
5. Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan
6. Adanya infeksi
(Saifuddin, 2012).
L. Faktor yang mempengaruhi Penggunaan IUD
Menurut BKKBN (2011), menurunnya penggunaan kontrasepsi IUD
antara lain disebabkan oleh fasilitas terhadap provider yang kurang optimal,
belum meratanya promosi dan KIE yang menjangkau ke seluruh
masyarakat, berkurangnya/terbatasnya tenaga KIE di lini lapangan belum
optimalnya advokasi kepada SKPD-KB dalam pengelolaan ketersediaan
IUD di fasilitas pelayanan kesehatan, jenis IUD yang beredar di masyarakat
masih terbatas, dan meningkatnya kampanye penggunaan kontrasepsi
hormonal (pil dan suntik) oleh swasta (Produk Andalan), sehingga
melemahkan promosi IUD.
Berdasarkan hasil monitoring strategis tentang pencapaian IUD yang
rendah di Sumatera Barat, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur
pada tahun 2012 rendahnya pencapaian IUD antara lain oleh disebabkan
masih dijumpai provider bias, pengetahuan klien tentang IUD dan bersedia
menjadi akseptor IUD, tersedianya pilihan metode kontrasepsi lain yang
relatif lebih praktis, dan terbatasnya tokoh panutan pemakai IUD di
masyaraka (BKKBN, 2011).
Temuan lain yang sangat penting adalah dalam mempersiapkan wanita
bersedia memakai IUD dengan diperlukan KIE yang terus menerus di

17

lapangan, namun hal perempuan mencakup KB pria, PLKB juga


diupayakan untuk lebih aktif dalam mempromosikan alat kontrasepsi pria,
jangan hanya melimpahkan tanggung jawab sosialisasinya pada kader KB
di masyarakat (Margasari, 2012).
Keterlibatan pria didefinisikan

sebagai

stigma

dalam

proses

pengambilan keputusan KB, pengetahuan pria tentang KB dan penggunaan


kontrasepsi pria. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa stiga pria
tidak hanya dalam hal pemakaian alat kontrasepsi saja, tapi juga dalam hal
pengambilan keputusan ber KB oleh istri ataupun dengan pengetahuan
yang dimiliki oleh pria tentang KB digunakan untuk membantu
mensosialisasikan program-program KB (Margasari, 2012).
Keterlibatan pria dalam KB diwujudkan melalui perannya berupa
dukungan

terjhadap

KB

dan

penggunaan

alat

kontrasepsi

serta

merencanakan jumlah anak dalam keluarga. Untuk merealisasikan tujuan


terciptanya Keluarga Berkualitas. Stigma pria dalam Keluarga Berencana
adalah tanggung jawab pria dalam kesertaan ber KB, serta berprilaku
seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan atau keluarganya.
Dalam hal ini dinyatakan bahwa keterlibatan pria dalam program KB dapat
terjadi secara langsung atau tidak langsung. Penggunaan metode
kontrasepsi pria merupakan satu benuk stigma pria secara langsung,
sedangkan keterlibatan pria secara tidak langsung misalnya pria memiliki
sikap yang lebih positif dan membuat keputusan yang lebih baik
berdasarkan sikap dan persepsi, serta pengetahuan yang dimilikinya
(Margasari, 2012).
2.1.7. KIE dalam Pelayanan KB
Komunikasi adalah penyampaian pesan secara langsung ataupun tidak
langsung melalui saluran komunikasi kepada penerima pesan, untuk mendapatkan
suatu efek (Noviawati, 2011).
Komunikasi adalah pertukaran pikiran atau keterangan dalam rangka
menciptakan rasa saling mengerti dan saling percaya, demi terwujudnya hubungan
yang baik antara seseorang dengan orang lain. Komunikasi adalah pertukaran

18

fakta, gagasan, opini atau emosi antara dua orang atau lebih (Noviawati, 2011).
Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk mempengaruhi
secara positif perilaku kesehatan masyarakat, dengan menggunakan berbagai
prinsip dan metode komunikasi, baik menggunakan komunikasi antar pribadi
maupun komunikasi massa (Noviawati, 2011).
Informasi adalah keteragan, gagasan maupun kenyataan-kenyataan yang
perlu diketahui oleh masyarakat. Edukasi adalah proses perubahan perilaku kearah
yang positif. pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut
dari tenaga kesehatan, karena merupakan salah satu peranan yang harus
dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayan kesehatan, baik itu terhadap
individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat (Noviawati, 2011).
Tujuan dilaksanakannya program KIE, yaitu (Proverawati, 2010):
1.
Meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik KB sehingga tercapai
2.
3.

penambahan peserta baru


Membina kelestarian peserta KB
Meletakkan dasar bagi mekanisme sosio cultural yang dapat menjamin

4.

berlangsungnya proses penerimaan


Untuk mendorong terjadnya proses perubahan perilaku kearah yang
positif, peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik masyarakat (klien)
secara wajar sehingga masyarakat melaksanakanyya secara mantap

5.

6.

7.

sebagai perilaku yang sehat dan bertanggung jawab


Jenis-jenis kegiatan dalam KIE
KIE dapat dikelompokkan menjadi 3 kegiatan:
a. KIE massa
b. KIE kelompok
c. KIE perorangan
Menurut media yang digunakan, kegiatan KIE dapat terperinci sebagai
berikut:
a. Radio
b. Televisi
c. Mobil untit penerangan\penerbitan / publikasi
d. Pers/ surat kabar
e. Film
f. Kegiatan promosi
g. Pameran
Prinsip KIE
Prinsip yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan KIE adalah:
a. Memperlakukan klien dengan sopan, baik dan ramah
b. Memahami, menghargai dan menerima keadaan ibu (status

19

pendidikan, sosial ekonomi dan emosi) sebagaimana adanya


c. Memberikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami
d. Menggunakan alat peraga yang menarik dan mengambil contoh dari
kehidupan sehari-hari
e. Menyesuaikan isi penyuluhan dengan keadaan dan risiko yang
8.

dimiliki ibu
Konseling Keluarga Berencana
a. Pengertian konseling
Konseling adalah proses yang berjalan dan menyatu dengan
semua aspek pelayanan keluarga berencana dan bukan hanya
informasi yang diberikan dan dibicarakan pada satu kali kesempatan
yakni pada saat pemberian pelayanan. Teknik konseling yang baik
dan informasi yang memadai harus diterapkan dan dibicarakan
secara interaktif sepanjang kunjungan klien dengan cara yang sesuai
dengan budaya yang ada.
b. Tujuan konseling
Tujuan dalam pemberian konseling keluarga berencana antara lain:
Meningkatkan informasi
Informasi yang benar, diskusi bebas dengan cara mendengarkan,
berbiacara

dan

komunikasi

non

verbal

meningkatkan

penerimaan KB oleh klien


Menjamin pilihan yang cocok
Konseling menjamin bahwa petigas dan lien akan memilih cara

yang terbaik sesuai dengan keadaan kesehatan dan kondisi klien


Menjamin penggunaan cara yang efektif
Konseling yang efektif diperlukan agar klien mengetahui
bagaimana menggunakan cara KB yang benar dan bagaimana
mengatasi informasi yang keliru dan atau isu-isu tentang cara

tersebut
Menjamin kelangsungan yang lebih lama
Kelangsungan pemakaian cara KB akan lebih baik bila klien
ikut memilih cara tersebut, mengetahui bagaimana cara kerjanya
dan bagaimana mengatasi efek sampingnya. Kelangsungan
pemakaian juga lebih baik bila ia mengetahui bahwa ia dapat
berkunjung kembali seandainya ada masalah. Kadang-kadang

20

klien hanya ingin tahu kapan ia harus kembali untuk


memperoleh pelayanan.
Bahwa hal ini penting memberikan konseling kepada pasangan
usia subur tentang KB yang sekaligus dalam pemberian pelayanan
kesehatan keluarga berencana, hal ini sesuai dengan Upaya Kesehatan
Masyarakat Esensial pada ayat 1 yang dimaksud adalah (Kemenkes RI,
2014):
Pelayanan promosi kesehatan
Pelayanan kesehatan lingkungan
Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana
Pelayanan gizi
Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
c. Jenis konseling KB
Komponen penting dalam pelayanan KB dapat dibagi dalam
tiga tahap. Konseling awal pada saat menerima klien, konseling
khusu tentang cra KB, dan konseling tindak lanjut.
1. Konseling awal
Konseling awal bertujuan untuk meutuskan metode apa
yang akan dipakai, didalamnya termasuk mengenalkan pada
klien semua cara KB atau pelayanan kesehatan, prosedur klinik,
kebijakan dan bagaimana oengalaman klien pada kunjunganya
itu. Bila dilakukan dengan objektif, konseling awal membantu
klien untuk memilih jenis KB yang cocok untuknya.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat konseling
awal antara lain menyatakan pada klien cara apa yang
disukainya, dan apa yang dia ketahui mengenai cara tersebut,
menguraikan

secara

ringkas

cara

kerja,

kelebihan

dan

kekurangannya.
2. Konseling khusus
Konseling khusus mengenai metode KB memberikan
kesempatan pada klien untuk mengajukan pertanyaan cara KB
tertentu dan membicarakan pengalamannya, mendapatkan
informasi lebih rinci tentang cara kB yang tersedua yang ingin
dipilihnya, mendapatkan bantuan untuk memilih metode KB
yang cocok serta mendapatkan penerangan lebih jauh tentang

21

bagaimana menggunakan metode tersebut dengan aman, efektif


dan memuaskan
3. Konseling tindak lanjut
Bila klien datang untuk mendapatkan obat baru atau
pemeriksaan ulang maka penting untuk berpijak pada konseling
yang dulu. Konseling pada kunjungan ulang lebih bervariasi dari
pada

konseling

awal.

Pemberi

pelayanan

harus

dapat

memberdakan antara masalah yang serius yang memerlukan


rujukan dan masalah yang ringan yang dapat diatasi di tempat.
d. Langkah konseling
1. GATHER
Merupakan suatu akronim yang dapat dijadikan panduan
bagi petugas klinik KB untuk melakukan konseling. Akronim
tersebut adalah GATHER yang merupakan singkatan dari:
G : Greet
Berikan salam, mengenalkan diri dan membuka komunikasi
A : ask atau assess
Menanyakan keluhan atau kebutuhan pasien dan menilai apakah
keluhan atau keinginan yang disampaikan memang sesuai
dengan kondisi yang dihadapi.
2. SATU TUJU
SA
: Sapa dan salam
T
: Tanya
U
: Uraikan
TU
: Bantu
J
: Jelaskan
U
: Kunjungan Ulang
e. Tahapan konseling dalam pelayanan KB
Tahapan kegiatan konseling dalam pelayanan KB dapat dirinci
dalam tahapan sebagai berikut
1. KIE motivasi
2. Bimbingan
3. Rujukan
4. KIP/K
5. Pelayanan kontrasepsi
6. Tindak lanjut (pengayoman)
Adapun uraian dari masing-masing kegiatan motivasi bimbingan
konseling dalam gerakan KB Nasional adalah:

22

1. Kegiatan KIE keluarga berencana


Sumber informasi pertama tentang jenis alat atau metode
kontrasepsi pada umunya diterima oleh asyarakat dari petugas
lapangan KB yaitu PPLKB, PLKB, PPKBD maupun kader
yang bertugas memberikan pelayanan KIE KB kepada
masyarakat dengan melakukan kunjungan dari rumah ke
rumah, kegiatan KIE di posyandu ataupun dalam kesempatankesempatan lainnya. Informasi tersebut dapat diperoleh
masyarakat dari dokter atau paramedic yang bertugas di klinik
KB yang ada di puskesmas, balai kesehatan, rumah sakit
bersalin dan rumah sakit umum, atau dari media cetak (surat
kabar, majalah, poster dsb) dan media elektronik (radio atau
televise).
Pesan yang disampaikan dalam kegiatan KIE tersebut pada
umunya meliputi 3 hal yaitu tentang:
Pengertian dan manfaat KB

bgai

kesehatan

dan

kesejahteraan keluarga
Proses terjadinya kehamilan pada wanita (yang penting
dalam kaitannya menerangkan cara kerja alat/metode

kontrasepsi)
Jenis alat / metode kontrasepsi yang ada, cara pemakaian

kerjanya serta lama pemakainnya


2. Kegiatan bimbingan
Kegiatan bimbingan kontrasepsi merupakan tindak lanjut
daru kegiatan KIE juga merupakan tugas para petugas
lapangan
berencana

KB.

Sesudah

PLKB

memberikan

diharapkan

KIE

melanjutkan

keluarga
dengan

melakukan penyaringan terhadap calon peserta KB. Tugas


penyaringan ini dilakukan dengan meberikan bimbingan
kontrasepsi yaitu memberikan informasi tentang jenis
kontrasepsi secara lebih obyektif, benar dan jujur sekaligus
meneliti apakah calon peserta KB tersebut memenuhi syarat
untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang dipilihnya.

23

Bila memenuhi syarat. Maka calon peserta tersebut untuk


memperoleh pelayanan KIP/K. dari uraian diatas dapat
diketahui bahwa tugas yang dilakukan oleh pembimbing
adalah merupakan bagian dari tugas konselor, artinya baik
mutu bimbingan yang dilakukan sewaktu dilapangan akan
mempermudah proses konselingnya.
3. Kegiatan rujukan
Dapat dibedakan dalam 2 macam yaitu rujukan untuk calon
peserta KB dan rujukan untuk peserta KB.
a. Rujukan untuk calon peserta KB dilakukan oleh petugas
lapangan KB dimana calon peserta dirujuk ke klinik
yang terdekat dengan tempat tinggal calon peserta
dengan

maksud

untuk

mendapatkan

pelayanan

konseling dan pelayanan kontrasepsi, atau rujukan


dilakukan oleh klinik lain yang lebih memadai
sarananya.
b. Rujukan-rujukan ke klinik untuk epserta KB dilakukan
oleh petugas lapangan KB terhadap peserta KB yang
mengalami

komplikasi

atau

kegagaln

untuk

mendapatkan perawatan, atau dapat juga dilakukan oleh


suatu klinik yang karena sarananya belum memadai,
maka peserta KB yang mengalami komplikasi dirujuk
ke klinik lain yang lebih mampu.
4. Kegiatan KIP/K
Setiap pasangan suami istri (klien) yang dirujuk oleh
petugas lapangan KB ke klinik, sebelum memperoleh
pelayanan kontrasepsi harus mendapatkan pelayanan KIP/K
terlebih dahulu. Beberapa tahap yang perlu dilakukan dalam
KIP/K adalah:
a. Menjajaki apa alasan klien memilih alat atau metode
kontraspsi tersebut
b. Menjajaki apakah klien sudah mengetahui atau memahami
alat kontrasepsi yang dipilihnya tersebut

24

c. Menjajaki apakah klien mengetahui jenis alat atau metode


kontrasepsi lain
d. Bila belum mengetahui,

perlu

diberikan

informasi

mengenai hal-hal diatas


e. Berikan klien kesempatan untuk mempertimbangkan
pilihannya kembali, kontrasepsi apa yang akan dipakai
f. Jika diperlukan bantulah klien dalam proses pengambilan
keputusan
g. Berilah klien informasi bahwa apapun pilihannya sebelum
diberikan pelayanan klien akan diperiksa terlebih dahulu
kesehatannya sehingga belum tentu alat atau metode
kontrasepsi yang dipilihnya tersebut secara medis cocok
buat dirinya.
Hasil pembicaraan dengan klien diatas dicatat pada kartu
konseling, sesudah klien mengambil keputusan tentang alat
atau metode kontrasepsi yang akan dipakainya.
5. Kegiatan pelayanan kontrasepsi
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan meliputi anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Apabila dari hasil pemeriksaan kesehatan
tidak didapati kontraindikasi, maka pelayanan kontrasepsi
dapat dilakukan. Untuk pelayanan metode kontrasepsi jangka
panjang yaitu IUD ,implant, dan kontak sebelum pelayanan
dimulai kepada klien diminta untuk menandatangani informed
consent form.
6. Kegiatan tindak lanjut (pengayoman)
Selesai mendapatkan pelayanan

kontrasepsi,

petugas

melakukan pemantauan kepada keadaan peserta kB dan


diserahkan kembali kepada petugas lapangan KB. Hal ini
karena pola pendekatan para PLKB adalah dengan kunjungan
ke rumah-rumah para peserta KB khususnya peserta KB bary.
Oleh karena itu, tugas kunjungan ini sekaligus dapat
dimanfaatkan untuk memantau keadaan para peserta KB baru
apakah dalam keadaan sehat ataukah mengalami efek samping

25

ataupun komplikasi.