Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

PEMANTAUAN TERAPI OBAT PADA PASIEN GASTROENTRITIS,


HIPONATREMIA DAN HIPOKALEMIA DI RUANG RAWAT INAP
RUMAH SAKIT PUSAT INFEKSI Prof. Dr. SULIANTI SAROSO
Jl. Sunter Permai Raya Jakarta Utara

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat


Memperoleh Gelar Apoteker (Apt)
Program Studi Profesi Apoteker

Disusun Oleh :
SURIANY RANTETONDOK, S.Farm
1543700196

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas pertolongan
dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Di Rumah Sakit Prof. Dr. Sulianti Saroso. PKPA ini merupakan salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Apoteker di Universitas 17 Agustus 1945 agar setiap calon
Apoteke rmendapatkan pengetahuan dan gambaran yang jelas mengenai Rumah Sakit
yang merupakan salah satu tempat pengabdian profesi Apoteker.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada :
1. Dr. Hasan Rachmat M, DEA., Apt. Selaku Dekan Farmasi Universitas 17 Agustus
1945.
2. Diana Laila Ramatillah, M.Farm., Apt. Selaku Ketua Program Studi Profesi
Apoteker Universitas 17 Agustus 1945
3. Okpri Meila, M. Farm., Apt. Selaku Sekretaris Program Studi Profesi

Apoteker

Universitas 17 Agustus 1945.


4.

Memy Aviatin, S.Si., Apt. Selaku Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit Prof.
Dr. Sulianti Saroso.

5.

Yelfi Anwar, S.Si., M.Farm., Apt. Selaku Dosen Pembimbing Laporan Praktek
Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Program Studi Apoteker Universitas 17 Agustus
1945 Jakarta yang telah memberikan arahan dan masukan.

6.

Seluruh staf dan pegawai Rumah Sakit Prof. Dr. Sulianti Saroso yang telah
membantu PKPA kami selama di rumah sakit.

7.

Seluruh staf pengajar Program Profesi Apoteker Universitas 17 Agustus 1945.

8.

Kedua orang tua tercinta dan keluarga, atas doa, kesabaran, kasih sayang,
motivasi, bimbingan, dukungan moral serta materi.

9.

Seluruh pihak yang telah banyak membantu penyusun dalam penulisan


Laporan Tugas Umum Praktek Kerja Profesi Apoteker di Instalasi Farmasi
Rumah Sakit Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta.

10.

Teman-teman Mahasiswa/i Apoteker angkatan XXXV serta semua pihak


yang telah memberikan segala bantuan dalam penyusunan laporan PKPA ini.
Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu diperlukan kritik dan saran dari pembaca yang membangun demi
penyempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi
ilmu pengetahuan khususnya dunia kefarmasian.

Jakarta, Agustus 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.......................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................

ii

KATA PENGANTAR......................................................................................

iii

DAFTAR ISI

..............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gastroentritis.........................................................................................
1.2 Hipokalemia.................................................................................
1.3 Hiponatremia

1
5
9

BAB II TINJAUAN KASUS


2.1 Persentase Kasus...................................................................................
2.2 Data Laboratorium.....................................................................
2.3 Data Pengobatan...................................................................................
2.4 Data Soap Pasien..................................................................................
2.5 Manajemen Obat...................................................................................
2.6 DRP Pasien (Drug Related Problem)...................................................

12
14
18
19
23
29

BAB III PEMBAHASAN...............................................................................

30

BAB IV PENUTUP.........................................................................................

33

A. Kesimpulan........................................................................................... 33
B. Saran............................................................................................. 33
DAFTAR PUSTAKA 34

BAB I
PENDAHULUAN

A. Gastroenteritis
1. Definisi Penyakit
Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah
dan diare yang disebabkan oleh infeksi, alergi atau keracunan zat makanan
(Marlenan Mayers,1995 ).
Gastroentritis merupakan peradangan yang terjadi pada lambung, usus
besar, dan usus halus disebabkan oleh infeksi makanan yang mengandung
bakteri atau virus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih
banyak dengan konsistensi encer dan kadang-kadang disertai dengan muntahmuntah. Dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang
patogen.
Gastroenteritis menyebar melalui kontak jarak dekat dengan orang
yang sudah terinfeksi atau karena mengonsumsi makanan dan/atau minuman
yang terkontaminasi. Infeksi ini mudah sekali menyebar di fasilitas umum
yang tertutup, seperti di dalam ruang kelas, tempat perawatan anak, dan ruang
perawatan umum.
Gastroenteritis adalah keadaan ketika seorang individu mengalami
atau berisiko mengalami defekasi sering dengan feces cair atau feses tidak
berbentuk. (Carpenito, 2007)
Gastroenteritis atau diare adalah Buang Air Besar (defekasi) dengan
jumlah feces yang lebih banyak, dengan feces berbentuk cair/setengah padat
dapat disertai frekuensi yang meningkat.

2. Etiologi
Faktor infeksi
a. Infeksi interal
Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama
diare pada anak.
1) Infeksi bakteri
Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia,
Aeromonas.
2) Infeksi virus
Enterovirus: Virus Echo, Coxsackie, Poliomyelitis,
Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus.
3) Infeksi parasit
Cacing: Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloide
Protozoa: Entamoeba hystolica, Giardia lambilia, Trichomonas
hominis
Jamur: Candida albicanas
b. Infeksi parenteral
Infeksi di luar alat pencernaan makanan, seperti: Otitis Media Akut
(OMA),

tonsillitis/tonsilofaringitis,

bronchopneumonia,

ensefalitis.

Terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.


Faktor malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat
Disakarida (intoleransi laktosa, maltose, dan sukrosa), monosakarida
(intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang

terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa.


b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
Faktor makanan
Makanan basi, makanan beracun, dan alergi terhadap makanan.
Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar)

3. Patofisiologi

Menurut Ngastiyah, 2006 dan Mansjoer, 2000, yaitu:


1. Gangguan osmotic yaitu akibat adanya makanan atau zat yang tidak
dapat

diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga

usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke


dalam rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
2.

mengeluarkan sehingga akan timbul diare.


Gangguan sekresi akibat rangsangan tertentu (misal toksik) pada
dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke

3.

dalam rongga usus selanjutnya terjadi diare.


Gangguan motilitas usus yaitu hiperperistaltik akan menyebabkan
berkurangnya usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare.
Sebaliknya peristaltic usus menurun akan menyebabkan bakteri
tumbuh berlebihan dan selanjutnya timbul diare.

Factor infeksi virus, bakteri, dan parasit masuk ke dalam tubuh manusia
melalui makanan dan minuman yang tercemar, tertelan lalu masuk ke dalam
lambung yang akan dinetralisir oleh asam lambung. Mikroorganisme akan
mati atau bila jumlahnya banyak maka aka nada yang lolos sampai usus
duabelas jari (duodenum) dan akan berkembangbiak di usus halus. Bakteri
memproduksi enzim mucinosa yang mana mencairkan cairan lendir sel
epitel. Di dalam membrane bakteri mengeluarkan sehingga penyerapan
makanan/air terganggu, terjadilah hipersekresi sehingga timbul diare.

Factor non infeksi (malabsorbsi) merupakan makanan yang tidak dapat


diserapoleh lambung yang terdapat keseimbangan mikrofa melalui proses
fermentasi, mikrofa usus metabolism berbagai macam substrat terutama
komponen dari diet dengan hasil aakhir asam lemak dan gas sehingga
tekanan osmotic dari rongga usus meningkat dan terjadi perpindahan cairan
dari rongga usus yang berakibat mobilitas usus meningkat sehingga
menimbulkan diare.

4. Pengobatan

Tujuan utama pengobatan penyakit ini yaitu untuk mencegah agar


penderitanya tidak dehidrasi. Untuk itu, biasanya penderita dianjurkan minum
air dalam jumlah yang lebih banyak. Selain itu, penderitanya pun perlu
dirawat inap di rumah sakit, dengan tujuan pemberian cairan melalui infus
jika dehidrasi sudah parah.
Selain itu, oralit juga bisa diberikan guna membantu rehidrasi. Yang
mana obat ini mengandung elektrolit serta mineral yang diperlukan oleh
tubuh. Untuk mendapatkan oralit, kita bisa membelinya di toko obat atau
apotek terdekat. Namun, sebelumnya anda harus mengikuti petunjuk dari
dokter terlebih dahulu.
Sedangkan untuk obat-obatan antibiotik, biasanya tidak akan
berpengaruh terhadap virus penyebab gastroenteritis yang menginfeksi. Hal
yang harus diperhatikan yaitu jangan memberikan aspirin pada anak atau
remja yang sakit disebabkan karena infeksi virus.
Ada beberapa langkah tertentu yang bisa anda lakukan untuk
mengatasi gastroenteritis sendiri seperti di bawah ini:

Konsumsi makanan dengan porsi sedikit serta mudah dicerna. Makanan yang
dimaksud seperti bubur, pisang dan ikan. Pemberian makanan ini bertujuan
untuk memulihkan kembali perut. Jika penderitanya merasa mual, maka
makan harus diberhentikan.

Penderita dianjurkan untuk mengkonsumsi cairan lebih banyak. Selain itu,


penderita juga dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi jus buah-buahan.
Hal ini disebabkan karena minuman tersebut dapat meningkatkan gejala diare.

Anak-anak maupun orang dewasa bisa mengkonsumsi minuman berenergi


guna menggantikan cairan elektrolit yang hilang dalam tubuh. Hindari
minuman bersoda, es krim dan permen karena akan memperparah diare.
4

Sedangkan untuk bayi, bisa diberikan cairan sekitar 15 sampai 20


menit setelah ia muntah atau diare. Ini dilakukan agar perut bayi bisa
beristirahat. Selain itu, ASI juga bisa diberikan jika ia masih mengkonsumsi
ASI.
B. Hipokalemia
1. Definisi Penyakit
Hipokalemia adalah suatu keadaan dimana kadar atau serum
mengacu

pada

konsentrasi

dibawah

normal

yang

biasanya

menunjukkan suatu kekurangan nyata dalam simpanan kalium total.


(Brunner dan Suddarth, 2002).
Hipokalemia didefinisikan sebagai kadar kalium serum yang
kurang dari 3,5mEq/L. (Price & Wilson, 2006)
2. Etiologi
Penyebab lain hipokalemia meliputi:
1. Peningkatan ekskresi (atau kerugian) dari kalium dari tubuh Anda.
2. Beberapa obat dapat menyebabkan kehilangan kalium yang dapat
menyebabkan hipokalemia. Obat yang umum termasuk diuretik loop
(seperti Furosemide). Obat lain termasuk steroid, licorice, kadangkadang aspirin, dan antibiotik tertentu.
3. Ginjal (ginjal) disfungsi - ginjal tidak dapat bekerja dengan baik karena
suatu kondisi yang disebut Asidosis Tubular Ginjal (RTA). Ginjal akan
mengeluarkan terlalu banyak kalium. Obat yang menyebabkan RTA
termasuk Cisplatin dan Amfoterisin B.

4. Kehilangan cairan tubuh karena muntah yang berlebihan, diare, atau


berkeringat.
5. Endokrin atau hormonal masalah (seperti tingkat aldosteron meningkat)
- aldosteron adalah hormon yang mengatur kadar potasium. Penyakit
tertentu dari sistem endokrin, seperti aldosteronisme, atau sindrom
Cushing, dapat menyebabkan kehilangan kalium.
6. Miskin diet asupan kalium. Adapun penyebab lain dari timbulnya
penyakit hipokalemia : muntah berulang-ulang, diare kronik, hilang
melalui kemih (mineral kortikoid berlebihan obat-obat diuretik).
(Ilmu Faal, Segi Praktis, hal 209)
3. Patofisiologi
Kalium adalah kation utama cairan intrasel. Kenyataannya 98 % dari
simpanan tubuh (3000-4000 mEq) berada didalam sel dan 2 % sisanya
(kira-kira 70 mEq) terutama dalam pada kompetemen ECF. Kadar kalium
serum normal adalah 3,5-5,5 mEq/L dan sangat berlawanan dengan kadar
di dalam sel yang sekitar 160 mEq/L. Kalium merupakan bagian terbesar
dari zat terlarut intrasel, sehingga berperan penting dalam menahan cairan
di dalam sel dan mempertahankan volume sel. Kalium ECF, meskipun
hanya merupakan bagian kecil dari kalium total, tetapi sangat berpengaruh
dalam

fungsi

neuromuskular.

Perbedaan

kadar

kalium

dalam

kompartemen ICF dan ECF dipertahankan oleh suatu pompa Na-K aktif,
yang terdapat dimembran sel.
Rasio kadar kalium ICF terhadap ECF adalah penentuan utama
potensial membran sel pada jaringan yang dapat tereksitasi, seperti otot
jantung dan otot rangka. Potensial membran istirahat mempersiapkan
pembentukan potensial aksi yang penting untuk fungsi saraf dan otot yang

normal. Kadar kalium ECF jauh lebih rendah dibandingkan kadar di


dalam sel, sehingga sedikit perubahan pada kompartemen ECF akan
mengubah rasio kalium secara bermakna. Sebaliknya, hanya perubahan
kalium ICF dalam jumlah besar yang dapat mengubah rasio ini secara
bermakna. Salah satu akibat dari hal ini adalah efek toksik dari
hiperkalemia

berat

yang

dapat

dikurangi

kegawatannya

dengan

meingnduksi pemindahan kalium dari ECF ke ICF. Selain berperan


penting dalam mempertahankan fungsi nueromuskular yang normal,
kalium adalah suatu kofaktor yang penting dalam sejumlah proses
metabolik.
Homeostasis kalium tubuh dipengaruhi oleh distribusi kalium antara
ECF dan ICF, juga keseimbangan antara asupan dan pengeluaran.
Beberapa faktor hormonal dan nonhormonal juga berperan penting dalam
pengaturan ini, termasuk aldostreon, katekolamin, insulin, dan variabel
asam-basa.
Pada orang dewasa yang sehat, asupan kalium harian adalah sekitar
50-100 mEq. Sehabis makan, semua kalium diabsorpsi akan masuk
kedalam sel dalam beberapa menit, setelah itu ekskresi kalium yang
terutama terjadi melalui ginjal akan berlangsung beberapa jam. Sebagian
kecil (<20%) akan diekskresikan melalui keringat dan feses. Dari saat
perpindahan kalium kedalam sel setelah makan sampai terjadinya ekskresi
kalium melalui ginjal merupakan rangkaian mekanisme yang penting
untuk mencegah hiperkalemia yang berbahaya. Ekskresi kalium melalui
ginjal dipengaruhi oleh aldosteron, natrium tubulus distal dan laju
pengeluaran urine. Sekresi aldosteron dirangsang oleh jumlah natrium
yang mencapai tubulus distal dan peningkatan kalium serum diatas
normal, dan tertekan bila kadarnya menurun. Sebagian besar kalium yang
di filtrasikan oleh gromerulus akan di reabsorpsi pada tubulus proksimal.
Aldosteron yang meningkat menyebabkan lebih banyak kalium yang
terekskresi kedalam tubulus distal sebagai penukaran bagi reabsorpsi

natrium atau H+. Kalium yang terekskresi akan diekskresikan dalam


urine. Sekresi kalium dalam tubulus distal juga bergantung pada arus
pengaliran, sehingga peningkatan jumlah cairan yang terbentuk pada
tubulus distal (poliuria) juga akan meningkatkan sekresi kalium.
Keseimbangan asam basa dan pengaruh hormon mempengaruhi
distribusi kalium antara ECF dan ICF. Asidosis cenderung untuk
memindahkan kalium keluar dari sel, sedangkan alkalosis cenderung
memindahkan dari ECF ke ICF. Tingkat pemindahan ini akan meingkat
jika terjadi gangguan metabolisme asam-basa, dan lebih berat pada
alkalosis

dibandingkan

dengan

asidosis.

Beberapa

hormon

juga

berpengaruh terhadap pemindahan kalium antara ICF dan ECF. Insulin


dan Epinefrin merangsang perpindahan kalium ke dalam sel. Sebaliknya,
agonis alfa-adrenergik menghambat masuknya kalium kedalam sel. Hal ini
berperan penting dalam klinik untuk menangani ketoasidosis diabetik.
(Price & Wilson, edisi 6, hal 341)
4. Guideline Pengobatan
Pada hypokalemia ringan (kalium 3-3,5 mEq/L) diberikan KCL oral
20 mmol per hari dan pasien dianjurkan banyak makan makanan yang
mengandung kalium. KCL oral kurang ditoleransi pasien karena iritasi
lambung. Makanan yang mengandung kalium cukup banyak dan
menyediakan 60 mmol kalium.
C. Hiponatremia
1. Definisi penyakit
Hiponatremia adalah kekurangan kadar natrium di cairan ekstra sel
yang

menyebabkan

perubahan

tekana

osmotic.perubahan

ini

mengakibatkan pidahnya cairan dari ruang ekstra sel ke intra sel sehingga

sel menjadi bengkak. konsentrasi natrium plasma menggambarkan rasio


natrium tubuh total terhadap air total tubuh.
Hiponatremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium
dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium plasma
yang kurang dari 135 mEq/L, mual, muntah, dan diare. Hal tersebut
menimbulkan rasa haus yang berlebihan, denyut nadi cepat, hipotensi,
konvulsi, dan membran mukosa kering. ( Alimul, 2003)
2. Etiologi penyakit
Berdasarkan prinsip di atas maka etiologi hiponatremia dapat dibagi atas:
1)
Hiponatremia dengan ADH meningkat
Sekresi AHD meningkat akibat deplesi volume sirkulasi efektif
seperti pada muntah, diare, pendarahan, jumlah urine meningkat,
gagal jantung, sirosis hati, SIADH (syndrome of inappropriate ADH2)

secretion), insufisiensi adrtenal, dan hipotiroid. (FK UI,2007)


Hiponatremia dengan ADH tertekan fisiologik
Pada polidipsia primer dan gagal ginjal terjadi ekskresi cairan lebih
rendah dibanding asupan cairan sehingga menimbulkan respon
fisiologik yang menekan sekresi ADH. Respon fisiologik dari
hiponatremia adalah tertekannya pengeluaran ADH dari hipotalamus
sehingga ekskresi urin meningkat karena saluran air (AQP2A) di
bagian apical duktus koligentes berkurang (osmolaritas urin rendah).

3)

(FK UI,2007)
Hiponatremia dengan osmolalitas plasma normal atau tinggi
Dalam keadaan normal, 93% dari volume plasma terdiri dari air dan
elektrolit, sedangkan 7% sisanya terdiri dari lipid dan protein. Pada
hiperlipidemia atau proteinemia berat akan terjadipenurunan volume
air plasma menjadi 80% sedang jumlah natrium plasma tetap dan
osmolalitas plasma normal, akan tetapi karena kadar air plasma
berkurang (pseudohiponatremia) kadar natrium dalam cairan plasma
total yang terdeteksi pafa pemeriksaan laboratorium lebih rendah
dari normal. (FK UI,2007)

3. Patofisiologi
9

Natrium adalah kewaspadaan utama dari cairan ekstraseluler dan


terutama bertanggung jawab untuk tekanan osmotik pada kompartemen
tersebut.Natrium meningkatkan konduksi/transmisi impuls dan esensia
untuk mempertahankan keseimbangan asam / basa.Rentang serum normal
adalah 135-145 mEq/l;intraseluler,10 mEq/l sehingga apbila terjadi
kekurangan natrium pada cairan tubuh,maka akan menimbulkan penyakit
pada tubuh.
4. Guideline pengobatan
Hiponatremia berat merupakan keadaan darurat yang memerlukan
pengobatan segera.
Cairan intravena diberikan untuk meningkatkan konsentrasi natrium darah
secara

perlahan.

Kenaikan

konsentrasi

yang

terlalu

cepat

bisa

mengakibatkan kerusakan otak yang menetap.


Asupan cairan diawasi dibatasi dan penyebab hiponatremia diatasi.Jika
keadaannya memburuk atau tidak menunjukkan perbaikan setelah
dilakukannya pembatasan asupan cairan, maka pada SIADH ( diberikan
demeclocycline atau diuretik thiazide untuk mengurangi efek hormon
antidiuretik terhadap ginjal.

10

BAB II
TINJAUAN KASUS

2.1 Persentase Kasus


1. Nama

: An. N

2. Jenis Kelamin

: Perempuan

3. Umur

: 1 tahun 5 bulan

4. Agama

: Islam

5. Tinggi/Berat Badan

: 7,2 kg

6. Tanggal masuk

: 7 maret 2016

7. Tanggal Pulang

: 14 maret 2016

8. No MR

: 34XXXX

9. Dokter yang merawat

: -

11

Anamnesa

Keluhan Utama
Pasien muntah-muntah disertai diare sejak 2 hari SMRS. Diare 4 kali
sehari cair, tidak ada ampas, tidak ada darah. Muntah 3 kali sehari
@40cc isi air dan makanan. Pasien sama sekali tidak mau makan,
minum dan ASI normal.
Lemas (+), rewel (+), air mata (+), demam (+) tadi malam naik turun
membaik dengan obat penurun panas, batuk (+) 2 hari berdahak, susah
keluar, dan BB susah naik (+).

Pemeriksaan Fisik
- Tekanan Darah : - Suhu
: 39,1 C
- Pernapasan
: 36 x/menit
- Nadi
: 120 x/menit
- BB
: 7,2 kg
Tampak sakit sedang, compos mentis, konjungtiva pucat, mukosa
mulut dan bibir kering, Turgor kembali cepat, oral thrush (+).
Diagnosa :
- Gastroentritis
- Hiponatremia
- Hipokalemia

12

2.2 Data Laboratorium


Table 1.1

Implementasi Medikal (Pemeriksaan Tanda vital)

Pemeriksaan fisik

Nilai Normal

7/3/2016

8/3/2016

9/3/2016

10/3/2016

11/3/2016

Tekanan darah
(mmHg)
Suhu badan (C)

< 120/80

36-37

38,2

38

38,5

37,6

38,5

Laju pernapasan
(x/menit)

12-18

36*

28

34

28

30

Nadi (x/menit)

60-80

120

110

118

112

108

Nilai normal
< 120/80

12/3/2016
-

13/3/2016
-

14/3/2016
-

Suhu badan (C)

36-37

36,8

38,3

36,7

Laju pernapasan (x/menit)

12-18

40

46

24

Nadi (x/menit)

60-80

120

129

120

Pemeriksaan fisik
Tekanan darah (mmHg)

13

Tabel 12 pemeriksaan Laboratorium


Tanggal 7 maret 2016
Pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
M.C.V
M.C.H
M.C.H.C
Natrium darah
Kalium darah
Chloride

Hasil
10,8*
4,81
10,5*
33*
556*
68
22
32
121*
2,27*
93*

Nilai normal
6,0-17,0
3,60-5,20
10,7-12,8
35-43
229-553
73-101
23-31
26-34
135-147
3,50-5,00
95-105

Tanggal 10 maret 2016

14

Satuan
103 /l
106/l
g/dl
%
103/ml
Ft
Pg
g/dl
mmol/L
mmol/L
mmol/L

IDL
Normal
Normal
Rendah
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Normal
Rendah
Rendah
Rendah

Pemeriksaan
Leukosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Eritrosit
M.C.V
M.C.H
M.C.H.C
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
LED
Natrium darah
Kalium darah
Chloride

Hasil
8,0
8,9
27
568*
4,11
66
22
33
0
1
1,0
63,0*
29,0
6,0
17
132
2,81
105

Nilai normal
5,5-17,0
10,7-12,8
35-43
229-553
3,60-5,20
73-101
23-31
26-34
0-1
1-5
3-6
25-60
25-50
1-6
0-20
135-147
3,50-5,00
95-105

Tanggal 14 maret 2016


15

Satuan
103 /l
g/dl
%
103/ml
106/l
Ft
Pg
g/dl
%
%
%
%
%
%
mm/jam
mmol/L
mmol/L
mmol/L

IDL
Normal
Rendah
Randah
Tinggi
Normal
Rendah
Rendah
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Normal
Normal
Normal
Rendah
Rendah
Normal

Pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
M.C.V
M.C.H
M.C.H.C
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
LED
Natrium darah
Kalium darah
Chloride

Hasil
12,6
4,17
9,0
29
693*
69
22
32
0
1
2
54
35
8
11
139
3,13
105

Nilai normal
6,0-17,0
3,60-5,20
10,7-12,8
35-43
229-553
73-101
23-31
26-34
0-1
1-5
3-6
25-60
25-50
1-6
0-20
135-147
3,50-5,00
95-105

2.3 Data Pengobatan


Table 13 Penggunaan Terapi Obat

16

Satuan
103 /l
106/l
g/dl
%
103/ml
Ft
Pg
g/dl
%
%
%
%
%
%
mm/jam
mmol/L
mmol/L
mmol/L

IDL
Normal
Normal
Rendah
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Normal
Normal
Rendah
Normal

Nama Obat

Rute

Frekuensi
P

Paracetamol Syrp
Lacto B
Diazepam
Ranivel
Zinkid

Nama Obat

PO
PO
PO
PO
PO

Rute

4 x cth
1x1
3 x 1,5 mg
2 x cth
2 x 1 cth

frekuensi
P

Paracetamol syr
Zinkid syr
Lacto B
Diazepam
Ranivel
Ambroxol syr
Candistatin drop

PO
PO
PO
PO
PO
PO
PO

4 x cth
2 x 1 cth
1x1
3 x 1,5 mg
2 x cth
2 x 1/3 cth
3 x 1 ml

7/3/2016
S Sr
-

11/3/2016
S Sr M

S T O P
S T O P
S T O P

Keterangan :
P = Pagi

Sr = Sore

S = Siang

M = Malam

17

8/3/2016
P S Sr
DITUNDA

12/3/2016
S Sr M

S T O P
S T O P
S T O P
-

9/3/2016
P S Sr
DITUNDA


13/3/2016
S Sr M

S T O P
S T O P
S T O P

10/3/2016
S Sr
STOP

STOP

14/3/2016
S
S
r

S T O P
S T O P
S T O P

M
-

2.4. DATA SOAP PASIEN

Tgl
7/3/2016

Subjektif
Masih mencret
1x, cair > ampas,
lender (+), darah
(-),

batuk

(-),

mual (+), muntah


(-),

masih

demam

naik

turun, sesak (-),


8/3/2016

kejang (-)
Masih demam,
kejang (-), masih
mencret
sebanyak 2x dari
kemarin

sore.

Objektif
Assessment
k/u : TSS, lemas
1. Gastroentritisks : CM
2. Hipokalemia
N : 120 x/menit, kuat, 3. Hiponatremia
regular,cenat
S : 38,2 C
RR : 36 x/menit
Kepala : UUB datar
Hidung : secret (-)
Mulut : bibir kering

Sakit sedeng, sesak (-) 1. Gastroentritis


N : 110 x/menit
2. Hipokalemia
RR : 28 x/menit
3. Hiponatremia
S : 38C
Telinga : seramen
kehitaman OVS
Leher : KGB (-)

konsistensi

Kaen 3B 20 cc / 24

jam.
PCT syr PO 4x cth
Zinkid syr 2x1 cth
Lacto B 1x1
Diazepam PO 3x1,5

mg
Ranivel

Konsul

(-). BAK normal,

dokter

ganti

terang.

Pasien

tidak

10

KCL

10

regal,

minum ASI kuat.


BAB hari ini
belum,terakhir
kemarin
BAK

cc

mEq/500 cc RL

makan 1 keping

9/3/2016

setelah

Koreksi Kalium

hanya

biscuit

RL 720 cc/24 jam

mau

makan,

dengan

Kaen 3B habis ganti

popok,feses
kuning

(Ranitidin)

PO 2x cth

berlendir, darah

warna

PO 2x cth

encer > ampas,

3x

dalam 3 jam
PCT syr 4x cth
Zinkid syr 2x1 cth
Lacto B 1x1
Diazepam 3x1,5 mg
Ranivel (Ranitidin)

(-), mucosa basah (+)


Leher : KGB (-)

Pagi ini mencret


1x

Plan
Kaen 3B 300 cc/

hari

sore.
ini

Ku : TSS
N :118 x/menit
RR : 34 x/menit
S : 38C
BB : 7,3 kg

18

1.

Gastroentritis-

2.
3.
4.

perbaikan
Hipokalemi
Hiponatremia
Gizi buruk
-

Kaen 3B 720cc/24
jam

jika

habis

ganti

sudah
RL

720cc/24 jam
Koreksi kalium 10cc

belum,

terakhir

kcl 10 mEq setiap

kemarin sore
500 cc. minum
(+). ASI 5x sejak
jam

500cc RL
Paracetamol syr PO

4x cth prn demam


Zinkid syr PO 2x1

cth
Lacto B PO 1x1
Diazepam PO 3x1,5

mg
Cek elektrolit ulang

18.00

kemarin

sore,

makan
sedikit,sesuap
10/3/2016

Pasien

masih

muntah 2x berisi
makanan dan air.
Demam

sudah

tidak ada. Batuk


smakin

serik

sejak

semalam,

berdahak, susah

Ku : TTS
Kes : CM
N : 112

1.

perbaikan
2.Hipokalemi
regular, isi cukup
3.Hiponatremia RR : 28 x/menit, 4.Gizi buruk
5.Riwayat kejang
regular
S : 37,6C
demam
Mata
:konjungtiva
tidak

pucat,

x/menit,

tidak ikterik
Mulut : mukosa bibir

Nyeri perut (-),

basah,

BAB

kemarin (+)

mulut

PCT 4x cth
Zinkid 2x1 cth
Lacto B 1x1 stop
Diazepam 3x1,5 mg
stop
Ambroxol

syr PO

2x1/3 cth
- Kandistatin 3x1 ml

sclera

dikeluarkan.
kemarin

setelah koreksi KCL


- RL 720cc/24 jam

Gastroentritis

basah

2x, hari ini 1x,


tidak

encer,

kuning.

BAK

normal, banyak.
Perut

kembung

(-). Makan hanya

11/3/2016

3-4x,

menyusu

sudah

banyak,

hari ini sudah 3x.


Pasien muntah
(+)

2x,

isi

makanan dan air.


Batuk berdahak
(+) susah keluar.
Nyeri

perut

disangkal. BAB

Ku : TSS
Kes : CM
N : 108 x/menit
S : 38,5C
P : 30 x/menit
Mata : konjungtiva

1.

Gastroentritis- Kaen 3B 720cc/24

pucat

(+),

perbaikan
jam
2. Hipokalemia - Zinkid 2x1 cth
3. Hiponatremia - Ranitidine 2x cth
4. Gizi buruk
- Ambroxol 2x1/3 cth
- Kandistatin 3x1 ml
sclera
-

ikterik

(-),

edema

palpebra (+)

19

3x/hari,

tidak

Mulut : mukosa bibir

cair,

normal.

dan buccal basah, oral

BAK

lancer,

banyak.

Makan

masih

kurang,

menyusu

4x

sehari,
12/3/2016

thrush (+)

kuat,

@20 menit
Demam
sudah
turun,

namun

batuk

semakin

sering, berdahak

ku : TSS
kes : CM
N : 120 x/menit
S : 36,8C
RR : 40 x/menit

Gastroentritis

Kaen 3B 500 cc/24

perbaikan,

jam
Zinkid syr 2x1 cth
Ambroxol 2x1/3 cth

TSS, CMN
N : 129
S :38,3
RR : 46 x
Hidung : sekrit (-)
Mulut : bibir lembab,

Masalah teratasi

Masalah teratasi
sebagian.

tetapi tidak dapat


dikeluarkan.
Muntah

masih

ada.

Sehari

pasien makan 6
biskuit

bubur

dan ASI 4x @
20 menit. BAB
sudah tidak cair,
2x sehari. BAK
normal.

Lidah

pasien

sudah

tidak ada bercak


13/03/2016

putih.
Demam (-). BAB
masih cair, tapi
sudah

lebih

banyak

ampas

konsistensi

mukosa basah.

seperti bubur. 3x
BAB

sejak

kemarin,

BAK

sudah 3x sejak
kemarin. Makan

20

sebagian.

Zinkid 2x1 cth


Ambroxol 2x1/3 cth
Kandistatin 3x1 ml

dan

minum

sudah

cukup

sering. ASI 3x
sejak kemarin.
14/03/2016

Ibu

pasien

mengatakan

Ku : TSS, CM, IVFD

Masalah Teratasi

(+). GE (-).

Intervensi dihentikan.
Pasien diperbolehkan

BAB sudah ada

Rawat Jalan.

ampasnya

2.5 Manajemen Obat

Nama obat
KETERANGAN
Kaen
3B Komposisi : per liter Nacl 1,75 gram, KCl 1,5 gram, Na.Laktat 2,24
(cairan
Infus)

Indikasi

gram, Dekstrosa anhidrat 27 gram


: menyediakan atau memelihara kecukupan air dan
elektrolit pada kasus dimana asupan peroral tidak

memungkinkan atau mengalami kegagalan.


Efek samping : alkalosis (peningkatan kadar alkali atau penurunan
kadar asam dalam darah dan jaringan), edema serebral
pulmonary
Paracetamo
l

Komposisi

(sirup),
Indikasi

dan

perifer

intoksikasi

air

dan

hyperkalemia, tromboflebitis.
:
Tiap 5 ml (1 sendok takar) mengandung
Parasetamol 120 mg.
: Sanmol di indikasikan untuk meringankan rasa
21

IONI 2008

sakit pada keadaan sakit kepala, sakit gigi, dan


Kontraindikasi

menurunkan demam.
: Penderita gangguan fungsi hati yang berat.

Farmakologi

Hipersensitivitas terhadap Parasetamol.


: Parasetamol yang bekerja sebagai analgesik,
bekerja

dengan

meningkatkan

ambang

rangsang rasa sakit dan sebagai antipiretik,


diduga bekerja langsung pada pusat pengatur
Mekanisme kerja
Dosis

panas di hipotalamus.
: Bekerja langsung pada pusat pengaturan.
: 1 2 tahun : 1 sendok takar (5 ml) 3 4 kali

sehari
Efek samping : Penggunaan jangka waktu lama dan dosis besar
dapat
Ambroxol
(sirup)

Indikasi

menyebabkan

kerusakan

hati.

Reaksi hipersensitivitas.
: Kelainan saluran pernafasan akut & kronik yang
berhubungan

dengan

sekresi

bronkhial

yang

abnormal, terutama pada bronkhitis kronis yang


memburuk, bronkhitis asmatik, asma bronkial.
Kontraindikasi : Ambroxol tidak boleh digunakan pada pasien yang
diketahui hipersensitif terhadap komponen ambroxol
atau kompenen obat lainnya. Hati hati penggunaan
pada pasien dengan ulkus lambung atau penyakit
maag.
Dosis

: Anak berusia kurang dari 2 tahun : 2 kali sehari 2,5


ml.

Efek samping : Reaksi ringan gastro-intestinal, seperti nyeri ulu hati,


dispepsia, dan kadang-kadang mual, dan muntahl.
Reaksi alergi jarang terjadi, terutama ruam kulit. Ada
laporan kasus yang sangat jarang, reaksi anafilaksis
akut tipe berat, tapi hubungannya dengan ambroxol
tidak pasti.

22

Diazepam
(tablet)

Indikasi

: Untuk pengobatan jangka pendek pada gejala ansietas.


Sebagai terapi tambahan untuk meringankan spasme
otot

rangka

karena

nipertdnisitairotot

inflamasi

(kelaTrian

atau

motorik

trauma;
serebral,

paraplegia). Digunakan juga untuk meringankan


gejala-gejala pada penghentian alkohol akut dan
premidikasi anestesi.
Kontraindikasi : - Penderia hipersensitif
- Bayi dibawah 6 bulan
- Wanita hamil dan menyusui
- Depress pernapasan
- Glaucoma sudut sempit
- Gangguan pulmoner akut
- Keadaan Phobia
Dosis
: Anak-anak 0.12 0.8 mg/kg sehari dibagi dalam 3
Interaksi Obat :

atau 4 dosis.
Penggunaan bersama obat-obat depresan Susunan
Syaraf Pusat
efek

atau alkohol dapat meningkatkan

depresan.

Cimetidin

dan

Omeprazol

mengurangi bersihan benzo-diazepin. Rifampisin


dapat meningkatkan bersihan benzodiazepin.
Efek samping : Mengantuk,ataksia. kelelahan Erupsi pada kulit.
edema, mual dan konstipasi, gejala-gejala ekstra
pirimidal. jaundice dan neutropenia. perubahan
libido, sakit kepala, amnesia, hipotensi. gangguan
Ringer
Laktat
(cairan
infuse)

Komposisi

visual dan retensi urin, incontinence


: Per 1000 ml Natrium laktat 3,1 gram, NaCl 6 gram,
KCl 0,3 gram, CaCl2 0,2 gram, air untuk injeksi ad

1,000 mL.
Indikasi : Mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi
Efek samping : Panas, infeksi pda tempat penyuntikan, trombosis
vena atau

Lacto B
serbuk

flebitis yang meluas dari tempat

penyuntikan, ekstravasasi
Komposisi : per sachet mengandung Energi 3,4 Kalori, Karbohidrat

23

0,6 gram, Protein 0,02 gram, Lemak total 0,1 gram,


Vitamin C 10 mg, Vitamin B1 0,5 mg, Vitamin B2 0,5
mg, Vitamin B6 0,5 mg, Niacin 2 mg.
Indikasi : - Lactic Acid Bacterial menghasilkan asam organik yang
menghambat bakteri merugikan, sehingga dapat
membantu memperbaiki ketidakseimbangan flora
usus pada diare.
-

Lactobacilli menghasilkan enzim -Galaktosidase, untuk


menghidrolisa laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.
- Lacto-B dapat mengurangi lactose intolerance
(diare akibat

mengandung laktosa).
Vitamin B dapat membantu keseimbangan flora

Dosis

mengkonsumsi susu formula yang

usus.
: Usia 1 sampai 6 tahun : 3 sachet per hari. Dapat
diberikan langsung (rasa enak) atau dicampur

KSR
(tablet)

dengan susu, makanan bayi atau air.


Komposisi
: KCl
Indikasi
: pengobatan dan pencegahan hipokalemia
Kontraindikasi : Gagal ginjal yang telah lanjut, hiperkalemia,
penyakit Addison yang tidak diobati, dehidrasi akut,
penyumbatan saluran cerna.
Dosis
: 2-3 kali sehari.
Interaksi obat
: Meningkatkan efek/toksisitas : diuretic hemat
kalium,

substitusi

garam,

ACE

inhibitor,

siklosporin dan obat yang mengandung kalium


Efek samping :
Kandistatin
(drop)

seperti garam kalium dari penisilin.


mual,muntah,diare,nyeri perut. Jarang : ulserasi

saluran cerna.
Komposisi : Tiap 1 ml mengandung Nystatin 100,000 IU
Indikasi : Pengobatan kandidiasis pada rongga mulut (oral thrush),
kandidiasis pada kerongkongan, dan sal cerna. Diare
non spesifik pada bayi atau anak. Profilaksis oral

24

Ranivel
(sirup)

thrush pada bayi baru lahir


Dosis
: Bayi dan Anak-anak : 3 4 kali sehari, 1 ml.
Efek samping : Diare dan gangguan gastrointestinal
Komposisi : Tiap 5 mL mengandung Ranitidin HCl 84 mg setara
dengan Ranitidin 75 mg.
Indikasi

Pengobatan dan pemeliharaan tukak duodenum dan


lambung

aktif,

gejala

refluks

gastroesofagitus.

Pengobatan kondisi hipersekresi patologis (sindroma


Zollinger-Ellison, mastositosis sistemik).
Kontraindikasi

Penderita yang hipersensitif terhadap Ranitidin.

Mekanisme kerja :

Ranitidin adalah suatu histamin antagonis


reseptor H2 yang menghambat kerja histamin
secara kompetitif pada reseptor H2 dan
mengurangi sekresi asam lambung.ranitidin
diabsorbsi

50%

setelah

pemberian

peroral,konsentrasi puncak plasma dicapai 2-3


jam setelah pemberian dosis 150 mg.Absorbsi
tidak

dipengaruhi

secara

signifikan

oleh

makanan dan antasida,dan disekresi melalui


urine.
Dosis

Sirup untuk Anak : Untuk tukak peptik dan penyakit


refluks gastroesofagitis : 2-4 mg/kg berat badan.

Interaksi obat :

Ranitidin tidak menghambat kerja dari sitokrom P450 dalam hati. Pemberian bersama warfain dapat
meningkatkan atau menurunkan waktu
protrombin.

Efek samping

Sakit kepala, konstipasi, diare, mual, rasa tidak


nyaman/nyeri perut, ginekomastia, impotensi dan

Zinkid
(sirup)

Komposisi

kehilangan libido pada pria dewasa.


: Tiap 5 ml mengandung zinc sulfate 27,45 mg setara
dengan zinc 10 mg.

25

Indikasi

Zinkid 10 mg/ 5 ml merupakan pelengkap untuk


pengobatan diare pada anak anak dibawah 5 tahun

Dosis

diberikan bersama larutan oralit


: - Bayi 2- 6 bulan : 5 ml diberikan setiap hari selama
10 hari berturut-turut

bahkan ketika diare telah

berhenti .
- Anak 6 bualn - 5 tahun : 10 ml diberikan setiap
hari selama 10 hari berturut-turut ( bahkan ketika
diare telah berhenti.
Cara kerja obat : Pengobatan diare bersama oralit bertujuan untuk
mencegah

atau mengobati dehidrasi dan untuk

mencegah kekurangan nutrisi. Pemberian zinc


bersama oralit sesegera mungkin setelah terjadi
diare

akan

mengurangi

lama

dan

tingkat

keparahan dari dehidrasi. Setelah diare berhenti


berikan zinc secara continue untuk menggantikan
kandungan zinc yang hilang, resiko anak akan
mengalami diare akan kembali dalam waktu 2-3
bulan ke depan dapat berkurang.
Interaksi obat

: Jika diberikan bersamaan dengan zat besi


direkomendasikan untuk

memberikan zinc

terlebih dahulu yaitu beberapa jam sebelum


Efek samping

memberikan zat besi


: Toksisitas zinc secara oral pada dewasa dapat
terjadi akibat asupan zinc > 150 mg / hari
(kurang lebih 10 kali dosis yang dianjurkan)
selama periode yang lama. Dosis tinggi zinc
untuk

periode

lama

dapat

menyebabkan

penurunan konsentrasi lipoprotein plasma dan


absorpsi tembaga.

26

2.6 DRP Pasien (Drug Related Problem)


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Indikasi yang tidak ditangani


Pilihan Obat yang kurang tepat
Penggunaan obat tanpa indikasi
Dosis sub- terapi
Over Dosis
Reaksi obat yang tidak dikehendaki
Gagal menerima obat
Interaksi Obat

:
:
:
:
:
:
:
:

tidak ditemukan
tidak ditemukan
tidak ditemukan
tidak ditemukan
tidak ditemukan
tidak ditemukan
tidak ditemukan
tidak ditemukan

BAB III
PEMBAHASAN
Pemantauan terapi obat dilakukan di ruangan Nusa Indah I RSPI Prof. Dr.
Sulianti Saroso. Pasien An. N masuk Rumah sakit pada tanggal 7 maret 2016 dengan
keluhan utama muntah-muntah sejak 2 hari sebelum masuk Rumah sakit dan demam
naik turun sejak tadi malam. Ibu pasien juga mengeluh kalau pasien muntah 3x sehari
@ 40 cc isi air dan makanan, kemudian diare 4x sehari cair, tidak ada ampas, tidak
ada darah. Pasien sama sekali tidak mau makan, minum dan ASI normal.
Lemas,rewel,keluar air mata, batuk 2 hari berdahak susah keluar dan BB susah naik.
Data yang diperoleh dari pengamatan rekam medis dan hasil laboratorium HB 10,5
g/dL, HT 33, Leukosit 10,8/l, trombosit 556/l, Natrium darah 121 mmol/L,

27

Kalium darah 2,27 mmol/L dan Klorida 93 mmol/L. Setelah dilakukan pemeriksaan
fisik dan anamnea oleh dokter dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium,
pasien diagnose mengalami Gastroenteritis, hipokalemia dan hiponatremia.
Kemudian pasien di berikan terapi obat Kaen 3B 720 cc/24 jam, PCT syr
4x3/4 cth, Zinkid syr 2x1 cth, Lacto B 1x1 sachet, diazepam 3x1,5 mg, ranivel 2x1/2
cth, ambroxol 2x1/2 cth dan candistatin 3x1 ml.
Pada hari pertama perawatan pasien diberikan cairan infuse Kaen 3B dimana
Kaen 3B fungsinya yaitu menyediakan atau memelihara kecukupan air dan elektrolit.
Parasetamol sirup dengan dosis 4x cth, dimana dalam 1 cth mengandung 120mg
paracetamol, jadi setiap pemberian paracetamol, mengandung 90mg. Dimana dosis
paracetamol untuk anak 1-2 tahun yaitu 120mg/5ml (1 cth) sekali pemberian dalam
sehari diberikan 3-4 kali. Jadi pemberian dosisnya sudah sesuai dengan dosis lazim
paracetamol. Pemberian paracetamol dikarenakan pasien mengalami demam dengan
suhu 39,1C, dimana indikasi dari parasetamol yaitu menurunkan demam, dimana
pasien diberikan hanya sampai pada hari ketiga yaitu pada tanggal 9/3/2016
dikarenakan demam dari pasien sudah menurun. Zinkid diberikan dengan dosis 2x1
cth, dimana dalam 1 cth Zinkid mengandung 10mg Zinc, jadi setiap pemberian zinkid
mengandung 10mg/5ml. dosis untuk anak 1-2 tahun yaitu 10ml diberikan setiap hari
berturut-turut bahkan setelah diare berhenti. Indikasi Zinkid merupakan pelengkap
untuk pengobatan diare dan bias diberikan bersama oralit.
Lacto B diberikan dengan dosis 1x1 dimana Lacto B menghasilkan asam
organic

yang

menghambat

bakteri

merugikan,

sehingga

dapat

membantu

memperbaiki ketidakseimbangan flora usus pada diare. Tetapi pada hari ke 4 Lacto B
dihentikan pemberiannya dikarenakan BAB pasien sudah tidak encer atau membaik.
Ambroxol diberikan kepada pasien dengan dosis 2x1/3 cth, dimana dalam 1 cth
mengandung 15 mg ambroxol, jadi setiap pemberian ambroxol mengandung 5mg.
Dimana dosis ambroxol untuk anak 1-2 tahun yaitu 15mg/5ml (1 cth), sekali
pemberian dalam sehari diberikan 1-2 kali. Jadi pemberian dosisnya sudah sesuai
dengan dosis lazim ambroxol. Ambroxol merupakan pilihan antimukotik (batuk) yang

28

tepat pada pasien karena pasien mengalami batuk berdahak,tetapi pada hari ke lima
obat ambroxol pada data pemantauan terapi obat dihentikan atau tidak diberikan.
Ranivel syr dengan dosis 2x cth, dimana dalam 1 cth ranivel mengandung
75mg ranitidine, jadi setiap pemberian ranitidine mengandung 37,5mg. dimana dosis
ranitidine untuk anak usia 1-2 tahun dihitung berdasarkan berat badan. Ranivel
(ranitidine) gol. Histamin H2, sebagai obat untuk mengatasi mual dan muntah yang
pasien derita. Dan semua terapi yang telah diberikan telah tepat indikasi. Kandistatin
(Nystatin) drop diberikan dengan dosis 3x1ml, dimana dosis nystatin untuk anak 1-2
tahun yaitu 1 ml, sekali pemberian sehari berikan 3-4 kali. Jadi pemberian dosisnya
sudah sesuai dengan dosis lazim Nystatin. Nystatin diberikan karena untuk
pengobatan kandidiasis pada rongga mulut, kerongkongan dan saluran cerna.
Dosis obat yang diberikan pada pasien An. N untuk obat PCT syr 4x3/4 cth,
Zinkid syr 2x1 cth, Lacto B 1x1 sachet, ranivel 2x1/2 cth, ambroxol 2x1/2 cth dan
candistatin 3x1 ml semua dalam pemberian dalam batas dosis yang dianjurkan
berdasarkan IONI. Duplikasi obat dan ineraksi obat
ditemukan.

29

pada pasien An. N tidak

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah dilakukan Pemantauan terapi terhadap pasien An. N di ruangan
Nusa Indah I RSPI Prof. Dr Sulianti Saroso ,tidak ditemukan adanya
duplikasi obat, interaksi obat, over dosis, gagal terapi, sub terapi obat dan efek
samping obat, serta pengobatan yang diberikan rasional.
B. Saran
1. Peran farmasi perlu ditingkatkan lagi di ruang perawatan agar dapat
melakukan pemantauan terapi obat secara maksimal.
2. Perlunya kerja sama antara dokter, apoteker, perawat dan tenaga
kesehatan lain agar dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
bagi pasien.

DAFTAR PUSTAKA

30

Brunner, L dan Suddarth, D. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah (H.
Kuncara, A. Hartono, M. Ester, Y. Asih, Terjemahan). (Ed.8) Vol 1
Jakarta : EGC.
Carpenito, L.J., (2007). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2
Jakarata : EGC
Drug information Handbook. Edition 17th. American Pharmacist Association
Informasi Obat Nasional 2008 (IONI 2008). Direktorat Jendral.
Mansjoer, Arif M. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Media Aescula Pius.
Ngastiyah, (2005), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
Price , Sylvia A dan Lorraine M.Wilson . 2006, Edisi 6, hal.341 . Patofissiologis
Konsep Klinis Proses Proses Penyakit . Jakarta : EGC

31

Anda mungkin juga menyukai