Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA


UJI BIOADHESIF

Dosen :
Tim Dosen Praktikum BFFK

Di Susun Oleh: Kelompok 1 B:

AHMAD HASYIM ABBAS

(1113102000010)

AISYAH

(1113102000030)

PUSPA NOVADIANTI S

(1113102000028)

RIZKI MARTA PUTRI

(1113102000049)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
OKTOBER / 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN PERCOBAAN :


Menguji kemampuan bioadhesif sediaan obat yang mengandung suatu polimer tertentu.
1.2 TEORI DASAR :
Bioadhesif pada awal tahun 1980-an, konsep adhesif mucosal atau mukoadhesif mulai
dikenalkandalam system penghantaran obat terkendali. Mukoadhesif adalah polimer sintetik
ataualam yang berinteraksi dengan lapisan mucus yang menutupi permukaan epithelialpermukaan dan molekul musin yang merupakan konstituen utama dari mucus. Sistem
penghantaran mukoadesif adalah suatu sistem penghantaran obat dimana obatbersama-sama
polimer bioadesif didesain untuk dapat berkontak lebih lama denganmembran mukosa dalam
saluran

pencernaan. Sistem penghantaran mukoadesif ini bertujuan untuk meningkatkan

konsentrasi obat didalam

saluran

pencernaan

sehingga

memberikan

keuntungan

farmakokinetik danfarmakodinamik obat.


Adhesi dapat didefinisikan sebagai ikatan yang dihasilkan oleh kontak antara adhesif
sensitif-tekanan dan permukaan.The American Society of testing and materials mendefinisikan
sebagai keadaan di mana dua permukaan yang diadakan bersama oleh gaya antarmuka, yang
dapat terdiri dari gaya-gaya valensi, aksi atau keduanya saling terkait.Dalam sistem biologis,
bioadhesi dapat dibedakan menjadi empat jenis:
1) Adhesi sel yang normal pada sel normal lain.
2) Adhesi sel dengan zat asing.
3) Adhesi sel yang normal terhadap sel patologis.
4) Adhesi suatu adhesif/perekat terhadap zat biologis.
Untuk tujuan penghantaran obat, istilah bioadhesi menyiratkan pelengkap sistem
pembawa obat menuju lokasi biologis yang spesifik. Permukaan biologis dapat menjadi jaringan
epitel. Jika tambahan perekat adalah sebuah lapisan mukus, fenomena ini disebut sebagai

mukoadhesi. Bioadhesi dapat dimodelkan setelah tambahan bakteri menuju permukaan jaringan,
dan mukoadhesi dapat dimodelkan setelah pelekatan mukus pada jaringan epitel.
3 kategori utama aplikasi sediaan mukoadhesif dalam system penghantaran obat adalah:
1) Memperlama waktu tinggal (kontak). Kemungkinan ini telah diteliti secara intensifuntuk
system penghantaran/pelepasan obat terkendali yang diberikan secara oral dan rute
pemberian okuler.
2) Kontak intensif dengan membrane pengabsorpsi. Tablet mukoadhesif atau laminat
menunjukkan sifat pelepasan obat yang menguntungkan jika digunakan melalui rute
bukal.Sediaan dalam bentuk partikel mikro (micro particles) sudah berhasil digunakan
pada aplikasi obat melalui nasal. Selain itu, terbuka juga peluang untuk memberikan obat
secara rectal dan vaginal.
3) Lokalisasi system penghantaran obat. Dalam beberapa kasus, obat secara preferensial
diabsorpsi pada daerah tertentu (spesifik) dari saluran cerna yang juga dinamakan jendela
absorpsi (absorption window).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Penghantaran Obat Lepas Lambat


Salah satu sediaan dengan pelepasan obat yang dimodifikasi adalah sediaan dengan
pelepasan diperlambat. Banyak metode yang dapat digunakan untuk membuat sediaan lepas
lambat, salah satunya adalah sediaan yang dirancang untuk tetap tinggal di dalam lambung.
Bentuk sediaan yang dapat dipertahankan di dalam lambung disebut Gastro Retentive Drug
Delivery System (GRDDS). Keuntungan GRDDS diantaranya adalah mampu meningkatkan
bioavailabilitas, mengurangi obat yang terbuang dengan sia-sia, meningkatkan kelarutan obatobatan yang kurang larut pada lingkungan pH yang tinggi. GRDDS juga memiliki kemampuan
untuk menghantarkan obat-obatan secara lokal di dalam lambung (contoh: antasid dan anti
Helicobacter Pylori) dan usus kecil bagian atas.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan waktu tinggal obat di
dalam lambung/Gastrict Residence Time (GRT), diantaranya adalah suatu sistem bioadesif yang
dapat melekat pada permukaan mukosa lambung, sistem penghantaran yang dapat meningkatkan
ukuran obat dengan segera sesudah obat tersebut ditelan sehingga tertahan di dalam lambung,
sistem dengan densitas yang besar sehingga ketika masuk lambung akan segera tenggelam di
bagian lekukan lambung, sistem yang dikontrol secara magnetik bekerja dengan menggabungkan
magnetit oksida atau dilapisi oleh magnet dan suatu sistem dengan densitas yang rendah ( 1,004
gram/ cm3 ) bila dibandingkan dengan cairan lambung sehingga dapat mengapung di dalamnya.
2.1.1 Sistem Tertahan Di Lambung
Salah satu bentuk sediaan lepas terkendali oral yang memungkinkan obat untuk tinggal lebih
lama di saluran gastrointestinal bagian atas adalah sediaan dengan sistem penghantaran obat
tertahan di lambung (gastroretentive).
Sistem penghantaran obat tertahan di lambung merupakan sistem penghantaran obat yang
memiliki kemampuan menahan obat di dalam saluran pencernaan khususnya di lambung untuk
memperpanjang periode waktu. Setelah obat lepas selama periode waktu yang disyaratkan,

bentuk sediaan harus terdegradasi tanpa menyebabkan gangguan pencernaan. Pada sistem
penghantaran lepas terkendali tertahan di lambung, zat aktif yang cocok digunakan adalah obat
yang memiliki lokasi absorpsi utama di lambung atau usus bagian atas, tidak stabil pada
lingkungan usus halus atau kolon, dan memiliki kelarutan yang rendah pada pH yang tinggi.
Bentuk sediaan tertahan di lambung dapat mengatur pelepasan obat yang memiliki indeks
terapeutik yang sempit, dan absorpsi yang baik di lambung.

Secara umum, sistem penghantaran obat tertahan di lambung terdiri dari sistem
mengembang (swelling system), sistem bioadhesif (bioadhesive system), dan sistem mengapung
(floating system).
1. Sistem mengembang (swelling system)
Merupakan suatu sediaan yang apabila berkontak dengan asam lambung maka sediaan
akan segera mengembang sehingga ukurannya menjadi lebih besar dan tetap bisa
bertahan di dalam lambung. Pada sistem mengembang obat dipertahankan berada di
lambung dengan cara meningkatkan ukuran sediaan lebih besar dari pilorus, sehingga
obat dapat bertahan lebih lama di lambung. Pada sistem mengembang sediaan akan
mengembang setelah berada dalam lambung dalam waktu cepat dan sediaan tidak
terbawa bersama gerakan lambung melewati pylorus. Sediaan ini membutuhkan polimer
yang akan mengembang dalam waktu tertentu ketika kontak dengan cairan lambung,
kemudian selanjutnya akan tererosi menjadi ukuran yang lebih kecil. Contoh polimer
yang dapat digunakan adalah senyawa selulosa, poliakrilat, poliamida, poliuretan.
2. System bioadhesif (bioadhesive system)
Pada sistem bioadhesif sediaan akan teradhesi pada segmen tertentu pada saluran cerna.
Sediaan akan tinggal dalam waktu yang lebih lama sampai proses adhesi berakhir selama
beberapa jam (lebih dari 7 8 jam) berada pada segmen saluran cerna. Sistem
bio/mukoadhesif merupakan suatu sistem yang menyebabkan sediaan dapat terikat pada
permukaan sel epitel lambung atau mucin. Daya lekat epitel dari musin diperoleh dengan
menggunakan polimer bio/mukoadhesif. Perlekatan sistem penghantaran pada dinding
lambung akan meningkatkan waktu tinggal di tempat aksi.

Rute oral merupakan rute pemberian obat yang paling diterima oleh konsumen. Beberapa
bentuk sediaan konvensional dikembangkan untuk penghantaran obat yang periode waktunya
diperpanjang dan untuk menghantarkan obatnya pada tempat targetnya secara khusus.

Beberapa obat memiliki indeks absorpsi sempit dan obat yang transpornya dimediasi
pembawa di daerah lambung dan bagian atas usus kecil memiliki bioavailabilitas rendah ketika
diberikan dalam bentuk sediaan konvensional. Untuk mengatasi beberapa masalah tersebut,
maka dikembangkan sistem penghantaran obat gastroretentif.
2.1.2

Kebutuhan Terhadap Gastroretensi

Suatu sistem penghantaran obat terkontrol dengan perpanjangan waktu tinggal di lambung
memiliki keuntungan tertentu. Sistem ini sangat membantu dalam terapi tukak peptic. Untuk
obat-obat yang diabsorbsi pada bagian proksimal saluran pencernaan.
Misalnya : Gabapentin , Ciprofloxacin dll.

Gastroretensi dilakukan untuk:


Obat-obatan yang diabsorbsi dari lambung (contohnya : Levodopa, Furosemide).
Beraksi secara lokal di dalam lambung (Antacids, Antiulcer and Enzymes).
Terapi antibiotik.
Obat -obatanyang kelarutannya buruk pada pH basa (cotohya : Diazepam,Salbutamol)

Obat-obatan

yang terdegradasi

di kolon (contohnya : Captopril, Ranitidine,

Metronidazole)
Obat-obatan yang memiliki jendela absorpsi sempit
2.1.3 Keuntungan Sistem Penghantaran Gastroretentif
Meningkatkan absorpsi obat, karena meningkatkan GRT dan meningkatkan waktu
kontak bentuk sediaan pada tempat absorpsinya.
Obat dihantarkan secara terkontrol.
Penghantaran obat untuk aksi lokal di lambung.
Meminimalkan iritasi mukosa oleh obat, dengan melepaskan obat secara lambat pada
laju yang terkontrol
Treatmen gangguan gastrointestinal seperti refluks gastroesofagus
Mudah diberikan dan pasien merasa lebih nyaman.

2.1.4 Keterbatasan Sistem Penghantaran Gastroretentif


Diperlukan konsentrasi cairan yang cukup tinggi dalam lambung untuk daya apung
penghantaran obat, mengapung di dalamnya dan untuk bekerja secara efisien.
Sistem floating tidak cocok untuk obat obatan yang memiliki masalah kelarutan
atau stabilitas dalam cairan gastrik/lambung.
Obat obatan yang diabsorbsi secara baik Obat obatan yang diabsorbsi secara baik
sepanjang saluran pencernaan dan yang menjalani first-pass metabolisme signifikan
mungkin kurang pas untuk GRDDS karena pengosongan lambung yang lambat dapat
menyebabkan penurunan bioavailabilitas sistemik.
Obat - obatan yang iritan terhadap mukosa lambung tidak cocok untuk GRDDS.

2.1.5 Faktor Faktor Yang Mempangaruhi Gastro Retensi


Bentuk : GRT lebih baik dimiliki oleh perangkat berbentuk tetrahedron dan
berbentuk cincin.
Bentuk sediaan tunggal atau multi-unit : bentuk sediaan multi-unit menunjukkan efek
yang lebih baik dibandingkan bentuk sediaan unit tunggal.

Kandungan kalori : makan yang banyak bertanggung jawab terhadap peningkatan


GRT.
Usia : orang yang lebih tua memiliki GRT lebih panjang secara signifikan
Postur : GRT dapat bervariasi antara posisi pasien tegak dan terlentang.

2.2 Biopolimer Pada Sediaan Lepas Lambat


Produk konvensional controlled-release untuk sediaan oral menargetkan pada tempat
spesifik pada saluran pencernaan. Waktu pelepasan obat dari pembawa dapat mencapai 6-8 jam
pada usus. Laju disolusi pada formulasi dapat dikontrol dan waktu paruh untuk mencapai
konsentrasi terapi dapat diperpanjang sehingga sediaan dalam bentuk ini cukup diberikan sekali
atau dua kali sehari. Formulasi yang dilengkapi dengan biopolimer dapat mengontrol pelepasan
obat dalam saluran pencernaan. Produk obat dengan salut enterik juga dapat meminimalkan
pelepasan obat pada lambung dan usus halus. Mekanisme pelepasan obat dari pembawa yang
berupa sistem polimer meliputi:
1. Difusi
2. Erosi polimer
3. Degradasi mikroba dan
4. Degradasi enzim
Tujuan utama dari suatu produk obat pelepasan terkendali adalah untuk mencapai suatu efek
terapeutik yang diperpanjang di samping memperkecil efek samping yang tidak diinginkan yang

disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma. Secara ideal, produk obat pelepasan
terkendali hendaknya melepaskan obat pada suatu laju yang konstan, atau laju orde nol. Setelah
lepas dari produk obat, obat secara cepat diabsorpsi dan laju absorpsi akan mengikuti kinetika
orde nol yang sama dengan suatu infusi obat secara intravena.
Walaupun rancangan suatu produk obet pelepasan terkendali yang berperilaku ideal adalah
rumit, bentuk sediaan ini menawarkan beberapa keuntungan yang penting atas pelepasan bentuk
sediaan yang segera dari obat yang sama, yaitu:
1. Memungkinkan untuk mempertahankan kadar obat terapeutik dalam darah, yang akan
memberikan respon klinik yang diperpanjang dan konsisten pada penderita.
2. Untuk kemudahan penderita, dan mengarahkan pada kepatuhan penderita yang lebih
baik. Sebagai contoh, jika penderita hanya perlu minum obat sekali sehari, maka ia tidak
harus mengingat-ingat dosis tambahan pada waktu-waktu tertentu selama hari itu.
3. Karena jarak pemberian dosis lebih panjang, maka kebutuhan tidur penderita tidak
terganggu.
4. Untuk penderita dalam perawatan, biaya dari waktu perawatan yang diperlukan untuk
menggunakan obat menurun jika kepada penderita hanya diberikan satu dosis obat
setiap hari.

Pada penggunaan obat pelepasan terkendali juga ada sejumlah kerugian, yaitu:
1. Jika penderita mendapat suatu reaksi samping obat atau secara tiba-tiba mengalami
keracunan, maka menghilangkan obat dari sistem menjadi lebih sulit daripada dengan
suatu produk obat pelepasan cepat.
2. Karena produk obat pelepasan terkendali dapat mengandung tiga kali atau lebih dari
dosis yang diberikan dalam jarak waktu yang lebih sering, maka ukuran produk obat
pelepasan terkendali akan menjadi besar, dan terlalu besar untuk ditelan secara mudah
oleh penderita.

2.3 Lambung
Lambung merupakan suatu organ pencampur dan pensekresi dimana makanan
dicampur dengan cairan cerna dan secara periodik dikosongkan ke dalam usus halus. Akan
tetapi gerakan makanan dan produk obat dalam lambung dan usus halus sangat berbeda

tergantung pada keadaan fisiologik. Dengan adanya makanan lambung melakukan fase
digestive, dan tanpa adanya makanan lambung melakukan fase interdigestive. Selama
fase digestive partikel-partikel makanan atau partikel-partikel padat yang lebih besar dari
2 mm ditahan dalam lambung, sedangkan partikel-partikel yang lebih kecil dikosongkan
melalui sphincter pilorik pada suatu laju order kesatu yang tergantung pada isi dan ukuran
dari makanan. Selama fase interdigestive lambung istirahat selama 30-40 menit sesuai
dengan waktu istirahat yang sama dalam usus halus. Kemudian terjadi kontraksi peristaltik,
yang diakhiri dengan housekeeper contraction yang kuat yang memindahkan segala
sesuatu yang ada dalam lambung ke usus halus. Dengan cara yang sama, partikel-partikel
besar dalam usus halus akan berpindah hanya selama waktu housekeeper contraction.
Bahan-bahan berlemak, makanan dan osmolalitas dapat memperpanjang waktu
tinggal dalam lambung. Pelarutan obat dalam lambung juga dapat dipengaruhi oleh ada atau
tidak adanya makanan. Waktu tinggal dalam lambung yang lebih panjang, obat dapat
terkena pengadukan yang lebih kuat dalam lingkungan asam.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1

Alat dan Bahan


3.1.1

Alat
1. Sel silindris
2. Disintegration tester
3. Thermostat

3.1.2

Bahan
1. Mukosa lambung dan usus tikus putih
2. Granul biasa
3. Granul Ester C
4. Larutan NaCl fisiologis
5. Larutan NaOH dan HCl
6. Power glue
7. Pelat alumunium
8. Kaca objek

3.2

Cara Kerja
3.2.1

Uji Bioadhesif In Vitro


1. Mukosa lambung tikus diisolasi.
2. Jaringan lambung lalu dibuka, dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis dan
dipotong sekitar 1x1 cm.
3. Jaringan kemudian diletakkan di atas pelat alumunium dengan cara dilem pada
bagian luar mukosa.
4. Sebanyak 50 butir granul ester C ditempelkan di atas jaringan dan dibiarkan
berkontak selama 10 menit kemudian ditempatkan dalam sel silindris dengan
kemiringan 45o.
5. Granul pada jaringan dielusi menggunakan cairan lambung buatan pada suhu
37 0,5oC dengan kecepatan aliran 22 ml/menit.
6. Jumlah granul yang masih melekat dihitung setiap 5 menit selama 30 menit.

3.2.2

Uji Wash Off


1. Usus lambung tikus diisolasi.
2. Jaringan usus dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis lalu dipotong kirakira 4 cm sebanyak 6 bagian.
3. Jaringan kemudian diletakkan di atas 6 kaca objek berbeda dengan cara dilem
pada bagian luar mukosa.
4. Sejumlah 25 granul ester C ditempelkan dan disebar di atas mukosa usus pada
3 kaca ojek yang berbeda.
5. Sejumlah 25 granul biasa ditempelkan dan disebar di atas mukosa usus pada 3
kaca ojek yang berbeda.
6. Semua kaca ojek dimasukkan ke dalam alt uji disintegrasi kemudian alat
digerakkan naik-turun 30 kali per menit di dalam media cairan usus buatan
pada suhu 37 0,5oC.
7. Jumlah granul diukur setiap 30 menit selama 2 jam.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. I. Hasil
IV. I. I. Perhitungan Pembuatan Cairan Lambung, Usus dan NaCl Fisiologis
Larutan Nacl Fisiologis
0,8% - 0,9%
0,85 gram dalam 100 ml 8,5 gram dalam 1000 ml

Cairan Lambung
Larutan HCl pH 2,5

HCl 1N 1000 ml

pH = - Log [H+]

M1 V1 = M2 V2

2,5 = - Log [H ]

1. V = 3,16 x 10-3 x 1000 ml

[H+] = AntiLog -2,5

V = 3,16 ml

[H+] = 3,16 x 10-3 M

Cairan Usus
Larutan HCl pH 6,5
+

HCl 1N 1000 ml

pH = - Log [H ]

M1 V1 = M2 V2

6,5 = - Log [H+]

1.

[H+] = AntiLog -6,5


[H+] = 3,16 x 10-7 M

V = 3,16 x 10-7 x 1000 ml


V = 3,16 x 10-4 ml

IV. I. II. Hasil Uji Bioadhesif In Vitro


Menit

Kelas A

Kelas B

Kelas C

Kelas D

50

44

50

41

10

50

44

50

41

15

50

44

50

41

20

50

40

50

41

25

50

40

50

40

30

50

40

50

40

IV . I. III. Hasil Uji Wash Off


Kelas A
Menit

Kelas B

Kelas C

Kelas D

Vita Long

Granul

Vita

Granul

Vita

Granul

Vita

Granul

PCT

Long C

PCT

Long C

PCT

Long C

PCT

25

25

25

14

24

20

75

75

23

20

12

10

24

25

25

23

16

75

20

20

15

24

25

25

23

14

75

19

20

20

24

25

25

22

14

75

19

20

25

24

25

25

21

11

75

18

19

30

24

25

25

20

74

18

19

IV. II. Pembahasan


Sistem mukoadhesif merupakan salah satu usaha untuk memperlama waktu
tinggal obat dalam saluran cerna. Sistem ini memanfaatkan sifat-sifat bioadesif dari
berbagai polimer yang larut air, yang menunjukan sifat melekat pada segmen saluran
cema yang dilapisi oleh mucus. Dengan demikian waktu tinggal sediaan obat dapat
diperpanjang dalam saluran cerna yang memungkinkan obat diabsorbsi dalam jangka
waktu lama dan konstan (Agoes, 2001)[1].
Ada beberapa hambatan pada rute pemberian oral untuk merancang sistem
penghantaran obat yang diperlama, yaitu saluran cerna yang terdiri dari beberapa
segman yang memiliki sifat-sifat yang berbeda satu sama lain (pH, viskositas, gerakan,
luas permukaan, absorbsi, aliran darah dll.), absorbsi yang cukup baik hanya dapat
terjadi pada beberapa segmen saja (lambung dan usus halus), dalam kondisi normal
waktu tinggal obat dalam tiap segmen terbatas. Hambatan-hambatan ini membatasi
lama pelepasan obat yang diberikan serta sangat menyulitkan maka dihasilkan
kecepatan absorbsi obat yang konstan (Desphande, 1996).[1]
Untuk mengatasi hambatan yang terjadi, maka dikembangkanlah suatu sistem
penghantaran obat melalui rute oral dengan memperpanjang waktu tinggal dalam
saluran cerna terutama waktu tinggal dalam lambung (gastric residence time). Dengan
system ini dimungkinkan untuk memberikan periode pelepasan dan absorbsi yang lebih
lama (lebih dari 12 jam) dan konstan (mendekati kinetika orde nol). Keuntungan lain
adalah dapat meningkatkan ketersediaan hayati senyawa obat yang memiliki lokasi
spesifik (Desphande, 1996).
Uji daya mukoadhesif granul dilakukan dengan dua metode,yaitu uji bioadhesif
in vitro dan uji wash off. Uji bioadhesif in vitro dimaksudkan untuk melihat se-berapa
kuat pelekatan granul pada mukosa lambung dalam waktu 30 menit, sedangkan uji wash
off dilakukan untuk melihat sifat mukoadhesif granul pada usus selama 30 menit. Kedua
uji tersebut dilakukan dengan menggunakan jaringan mukosa lambung, jaringan
mukosa usus, cairan lambung buatan (tanpa enzim) dan cairan usus buatan. Jaringan
mukosa lambung dan usus didapatkan dari mencit putih (Mus muskulus). Granul yang
digunakan yaitu granul Vita Long C yang merupakan granul Sustained Released dengan
polimer dan granul Paracetamol tanpa polimer.

Uji bioadhesif in vitro dilakukan dengan menggunakan granul Vita Long C


sebanyak 50 butir.jaringan mukosa lambung yang telah dibersihkan direkatkan pada
kaca objek kemudian granul ditempelkan diatas mukosa lambung trsebut. Kemudian
mukosa lambung yang sudah diberi granul Vita Long C diletakan pada sel silindris
dengan kemiringan 45o C. Granul kemudian dielusi dengan cairan lambung buatan pada
suhu 37 0,5oC sesuai suhu tubuh dan dengan kecepatan aliran 22 ml/menit. Dan
dihitung Granul yang tertinggal pada jaringan mukosa lambung
Berdasarkan uji bioadhesif in vitro didapatkan hasil, pada menit ke 5 terdapat
44 granul yang tertinggal pada jaringan mukosa lambung, kondisi ini bertahan hingga
menit ke 15. Pada saat menit ke-20 granul yang tertinggal pada jaringan mukosa
lambung yaitu 40 butir, kondisi ini bertahan hingga menit ke 30.
Pada uji Wash off dilakukan dengan menggunakan alat disintegrasi. Jaringan
mukosa usus yang telah dibersihkan direkatkan pada kaca objek kemudian ditempeli
granul parasetamol dan pada jaringan mukosa usus yang lain ditempeli dengan granul
Vita Long C. hal ini dilakukan untuk membandingkan kemampuan merekatnya granul
parasetamol dan Vita Long C. Uji ini dilakukan secara duplo. Keempat kaca objek yang
telah direkatkan jaringan mukosa yang terdapat granul dimasukan ke dalam alat
disintegrasi. Suhu diatur 37 0,5oC sesuai suhu tubuh. Alat dijalankan dan dilihat
granul yang tertinggal pada jaringan mukosa usus setiap 5 menit selama 30 menit.
Berdasarkan uji wash off didapatkan hasil, pada granul Vita Long C pada
menit ke lima granul yang tertinggal sebanyak 24 dan 20, pada menit ke-10 granul
yang tertinggal sebanyak 23 dan 16, pada menit ke-15 granul yang tertinggal sebanyak
23 dan 14, pada menit ke-20 granul yang tertinggal sebanyak 22 dan 14, pada menit ke25 granul yang tertinggal sebanyak 21 dan 11, dan pada menit ke-30 granul yang
tertinggal sebanyak 20 dan 8
Sedangkan pada granul parasetamol didapatkan hasi, pada menit ke-5 granul
yang tertinggal sebanyak 9 dan 2, pada menit ke-10 granul yang tertinggal sebanyak 3
dan 2, pada menit ke-15 granul yang tertinggal sebanyak 1 dan 2, pada menit ke-20
granul yang tertinggal sebanyak 1 dan 1, dan pada menit ke-25 sudah tidak ada granul
yang tertinggal pada jaringan mukosa usus.
Dari kedua percobaan tersbut dapat dilihat sifat mukoadhesif granul Vita Long
C lebih baik dbandingkan dengan granul parasetamol. Hal ini dikarenakan granul

parasetamol tidak mengandung polimer sedangkan granul Vita Long C mengandung


polimer. Secara teoritis mukoadhesif dapat terjadi karena adanya kontak yang baik
antara polimer bioadhesif dengan membran yaitu dengan cara pembasahan atau
pengembangan polimer bioadhesif kemudian berpenetrasinya polimer bioadhesif ke
dalam celah permukaan jaringan atau polimer bioadhesif
berpenetrasi ke dalam celah mukus jaringan dan selanjutnya terjadi ikatan kimia yang
lemah seperti ikatan hidrogen antar polimer dengan mukus (Deshmuskh, 2009)

[2]

Meskipun granul parasetamol tidak mengandung polimer tetapi usus memiliki villi yang
banyak sehingga pada uji wash off, granul masih dapat tertahan pada usus.

BAB V
PENUTUP

V. I. Kesimpulan
1. Sistem mukoadhesif merupakan salah satu usaha untuk memperlama waktu
tinggal obat dalam saluran cerna. Sistem ini memanfaatkan sifat-sifat bioadesif
dari berbagai polimer yang larut air, yang menunjukan sifat melekat

pada

segmen saluran cema yang dilapisi oleh mucus.


2. Uji daya mukoadhesif granul dilakukan dengan dua metode,yaitu uji bioadhesif
in vitro dan uji wash off.
3. Dari kedua percobaan tersbut dapat dilihat sifat mukoadhesif granul Vita Long C
lebih baik dbandingkan dengan granul parasetamol.
4. Mukoadhesif dapat terjadi karena adanya kontak yang baik antara polimer
bioadhesif dengan membran yaitu dengan cara pembasahan atau pengembangan
polimer bioadhesif

V. II. Saran
1. Perekatan jaringan mukosa dengan kaca objek dilakukan dengan teliti jangan
sampai terbalik
2. Penempelan granul pada jaringan mukosa dilakukan oleh satu orang
3. Daya mukoadhesif juga dapat dipengaruhi oleh variasi biologis individu hewan
coba seperti ketebalan mukus dan pergantian mukus.

DAFTAR PUSTAKA
Chien, Yie W. 1992. Novel Drug Delivery Systems. New York: Marcel Dekker, Inc.
Garg, R., and Gupta, G.D. 2008. Progress in controlled gastroretentive delivery systems.
Trop. J Pharm Res, 7, 2-3.
Gohel, M.C. 2004. A more relevant dissolution method for evaluation of floating drug
delivery system. www.dissolutiontech.com/200411Arti-cle/A03.pdf, diakses
tanggal 6 maret 201
Rathbone, Michael J. 2003. Modified Release Drug Delivery Technology. New York:
Marcel Dekker, Inc
Sutriyo,

Khairunnisya,

Abdul

Munim.

2013.

Formulasi

Sediaan

Granul

Mukoadhesif Kombinasi Ekstrak Kulit Batang Mimba (Azadirachta indica


A. Juss) dan Kunyit (Cur-cuma domesticaVal.). Depok : Majalah Ilmu
Kefarmasian.Vol.8, No.2 Agustus 2013, 57-124 ISBN :1693 9883
Umar, Salman, Wida Ningsih dan Monalisa Meliana. 2014. Formulasi Granul
Mukoadhesif Ketoprofen Menggunakan Polimer Kitosan. Padang : Jurnal
Sains Farmasi & Klinis (ISSN: 2407-7062) | Vol. 01 No. 01 | November 2014
[2]

Vinay, P., Sarasija,S.C., and Hemanth, J. 2010. Gastroretentive Drug Delivery System
in vitro evaluation. International Journal of Pharma and Bio Sciences, 2-6.
Widayanti, Ari, Auzal Halim dan Muslim Suardi. 2011. Formulasi Mukoadhesif
Nifedipin Menggunakan Kombinasi Polimer Carbopol 943 dan Gelatin
Type B. Jakarta : FARMASAINS Vol 1 No. 3, April 2011 [1]

Lampiran 1 Dokumentasi Praktikum

Proses uji bioadhesif

Proses uji wash off pada Bagian disintegration tester


disintegration tester

dan kaca objek mukosa +


granul

Proses

isolasi

lambung

dan

putih.

mukosa Penempelan
usus

tikus lambung
alumunium
power glue.

mukosa Penempelan granul ester C


pada

elat pada mukosa lambung di atas

menggunakan pelat alumunium.

Pemasukan pelat alumunium Penempelan granul di atas Kaca


yang ditempelkan mukosa mukosa
lambung dan granul ke alat objek.
uji bioadhesif in vitro.

usus

pada

objek

kaca ditempelkan
dan granul.

yang

telah

mukosa

usus