Anda di halaman 1dari 38

ASPEK HIDROLOGI

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

I. PENDAHULUAN

Siklus Hidrologi
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

I. PENDAHULUAN

Sosrodarsono, dkk (2006) menjelaskan


Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari
sirkulasi air (water cycle). Jadi, dapat
dikatakan bahwa Hidrologi adalah ilmu
untuk mempelajari:
1. Presipitasi (precipitation)
2. Evaporasi dan transpirasi (evaporation)
3. Aliran permukaan (surface stream flow)
4. Air tanah (ground water)

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

II. KARAKTERISTIK HUJAN


1.

2.

Durasi
Lama kejadian hujan (menitan, jam-jaman, harian)
diperoleh terutama dari hasil pencatatan alat pengukur
hujan otomatis. Dalam perencanaan drainase, durasi
hujan sering dikaitkan dengan waktu konsentrasi
khususnya pada drainase perkotaan diperlukan durasi
yang relatif pendek, mengingat akan toleransi terhadap
lamanya genangan.
Intensitas
Jumlah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan atau
volume hujan tiap satuan waktu. Besarnya intensitas
hujan berbeda-beda, tergantung dari lamanya curah
hujan dan frekuensi kejadiannya. Intensitas hujan
diperoleh dengan cara melakukan analisis data hujan
baik secara statistik maupun secara empiris.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

II. KARAKTERISTIK HUJAN


3.

4.

Lengkung intensitas
Grafik yang menyatakan hubungan antara intensitas hujan dengan
durasi hujan, hubungan tersebut dinyatakan dalam bentuk
lengkung intensitas hujan dengan kala ulang hujan tertentu.
Waktu konsentrasi
Waktu yang diperlukan untuk mengalirkan air dari titik yang paling
jauh pada daerah aliran ke titik kontrol yang ditentukan di bagian
hilir suatu saluran.
Pada prinsipnya waktu konsentrasi dapat dibagi menjadi:
a. Inlet time (to), yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk
mengalir di atas permukaan tanah menuju saluran drainase.
b. Conduit time (td), yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk
mengalir di sepanjang saluran sampai titik kontrol yang
ditentukan di bagian hilir.
Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan rumus:

tc to td

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

II. KARAKTERISTIK HUJAN


4.

Waktu konsentrasi (lanjutan)


Lama waktu mengalir di dalam saluran (td)
ditentukan dengan rumus sesuai dengan kondisi
salurannya. Untuk saluran alami, sifat-sifat
hidraulikanya sulit ditentukan. Oleh karena itu, td
dapat ditentukan dengan menggunakan perkiraan
kecepatan air seperti pada Tabel 1.
Pada saluran buatan, nilai kecepatan aliran dapat
dimodifikasi berdasarkan nilai kekasaran dinding
saluran menurut Manning, Chezy, atau yang lain.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

II. KARAKTERISTIK HUJAN


Tabel 1. Kecepatan untuk saluran alami

16/05/2012

Kemiringan rata-rata

Kecepatan rata-rata

dasar saluran (%)

(meter/dt)

kurang dari 1

0,40

1-2

0,60

2-4

0,90

4-6

1,20

6 - 10

1,50

10 - 15

2,40
Fasdarsyah, ST, MT

II. KARAKTERISTIK HUJAN


4.

Waktu konsentrasi (lanjutan)


Waktu konsentrasi besarnya sangat bervariasi dan
dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:
a. Luas daerah pengaliran
b. Panjang saluran drainase
c. Kemiringan dasar saluran
d. Debit dan kecepatan aliran
Dalam perencanaan drainase waktu konsentrasi
sering dikaitkan dengan durasi hujan, karena air
yang melimpas mengalir di permukaan tanah dan
selokan drainase sebagai akibat adanya hujan
selama waktu konsentrasi.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

III. DATA HUJAN


1.

Pengukuran
Hujan merupakan komponen yang sangat penting dalam
analisis hidrologi pada perancangan debit untuk
menentukan dimensi saluran drainase.
Pengukuran hujan dilakukan selama 24 jam, dengan
cara ini berarti hujan yang diketahui adalah hujan total
yang terjadi selama satu hari. Untuk berbagai
kepentingan perancangan drainase tertentu data hujan
yang diperlukan tidak hanya data hujan harian, tetapi
juga distribusi jam-jaman atau menitan. Hal ini akan
membawa konsekuensi dalam pemilihan data.
Dianjurkan untuk menggunakan data hujan hasil
pengukuran dengan alat ukur otomatis.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

III. DATA HUJAN


Alat ukur
Dalam praktik pengukuran hujan terdapat dua
jenis alat ukur hujan, yaitu:
a. Alat ukur hujan biasa (manual raingauge)
Data yang diperoleh dari pengukuran dengan
menggunakan alat ini adalah berupa hasil
pencatatan oleh petugas pada setiap periode
tertentu. Alat pengukur hujan ini berupa suatu
corong dan sebuah gelas ukur, yang masingmasing berfungsi untuk menampung jumlah
air hujan dalam satu hari (hujan harian).
2.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

10

III. DATA HUJAN


b.

Alat ukur hujan otomatis (automatic


raingauge)
Data yang diperoleh dari hasil pengukuran
dengan menggunakan alat ini, berupa data
pencatatan secara menerus pada kertas
pencatat yang dipasang pada alat ukur.
Berdasarkan data ini dapat dilakukan
analisis untuk memperoleh besaran
intensitas hujan.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

11

III. DATA HUJAN

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

12

III. DATA HUJAN


3.

Kondisi dan Sifat Data


Data hujan yang baik diperlukan dalam
melakukan analisis hidrologi, sedangkan untuk
mendapatkan data yang berkualitas biasanya
tidak mudah. Data hujan hasil pencatatan yang
tersedia biasanya dalam kondisi yang tidak
menerus. Apabila terputusnya rangkaian data
hanya beberapa saat kemungkinan tidak
menimbulkan masalah, tetapi untuk kurun waktu
yang lama tentu akan menimbulkan masalah di
dalam melakukan analisis.
Kualitas data yang tersedia akan ditentukan oleh
alat ukur dan manajemen pengelolaannya.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

13

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


1.

a.

Hujan rata-rata daerah aliran


Hujan rata-rata suatu daerah dapat dihitung
dengan:
Cara rata-rata aljabar
Cara ini adalah perhitungan rata-rata secara
aljabar curah hujan di dalam dan di sekitar
daerah yang bersangkutan.

dimana:

R 1 / n (R1 R 2 ..... R n )

R : curah hujan daerah


n : jumlah tit ik atau pos pengamatan
R 1 , R 2 , ..... R n : curah hujan di tiap titik pengamatan
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

14

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


b.

Cara Thiessen
Jika titik-titik pengamatan di dalam daerah itu tidak tersebar merata,
maka cara perhitungan curah hujan rata-rata itu dilakukan dengan
memperhitungkan daerah pengaruh tiap titik pengamatan.
R

A1 R1 A2 R2 ..... An Rn
A1 A2 ..... An

A1 R1 A2 R2 ..... An Rn
A
R W1 R1 W2 R2 ..... Wn Rn
R

dimana:

R : curah hujan daerah


R1 , R2 ,.....Rn : curah hujan di tiap titik pengamatan
A1 , A2 ,..... An : bagian daerah yang mewakili tiap titik pengamatan
W1 ,W2 ,.....Wn :
16/05/2012

A
A1 A2
, ,..... n
A A
A
Fasdarsyah, ST, MT

15

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


b.

1.

2.

Cara Thiessen (lanjutan)


Bagian-bagian daerah A1, A2,..An ditentukan
dengan cara sebagai berikut:
Cantumkan titik-titik pengamatan di dalam dan di
sekitar daerah itu pada peta topografi, kemudian
hubungkan tiap titik yang berdekatan dengan
sebuah garis lurus (dengan demikian akan terlukis
jaringan segitiga yang menutupi seluruh daerah).
Daerah yang bersangkutan itu dibagi dalam
poligon-poligon yang didapat dengan menggambar
garis bagi tegak lurus pada tiap sisi segitiga
tersebut di atas. Curah hujan dalam tiap poligon itu
dianggap diwakili oleh curah hujan dari titik
pengamatan dalam tiap poligon itu. Luas itu diukur
dengan planimeter atau dengan cara lain.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

16

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN

Gambar 1. Contoh Poligon Thiessen


16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

17

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


c.

Cara isohyet
Peta isohyet digambar pada peta topografi dengan interval
10 sampai 20 mm berdasarkan data curah hujan pada titiktitik pengamatan di dalam dan di sekitar daerah yang
dimaksud. Luas bagian daerah antara dua garis isohyet
yang berdekatan diukur dengan planimeter. Demikian pula
harga rata-rata dari garis-garis isohyet yang berdekatan
yang termasuk bagian-bagian itu dapat dihitung.

dimana:

A1 R1 A2 R2 ..... An Rn
R
A1 A2 ..... An

R : curah hujan daerah


A1 , A2 ,..... An : luas bagian - bagian antara garis - garis isohyet
R1 , R2 ,.....Rn : curah hujan rata - rata pada bagian - bagian A1 , A2 ,..... An
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

18

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


c.

Cara isohyet (lanjutan)


Cara ini adalah cara rasional
yang terbaik jika garis-garis
isohyet dapat digambar dengan
teliti. Akan tetapi jika titik-titik
pengamatan itu banyak dan
variasi curah hujan di daerah
yang bersangkutan besar, maka
pada pembuatan peta isohyet ini
akan terdapat kesalahan pribadi
si pembuat peta.

Gambar 2. Contoh garis isohyet


16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

19

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


2.

Kala ulang hujan


Suatu data hujan adalah (x) akan mencapai suatu harga
tertentu/disamai (xi) atau kurang dari (xi) atau
lebih/dilampaui dalam kurun waktu T tahun, maka T tahun
ini dianggap sebagai periode ulang dari (xi).
Dalam perencanaan saluran drainase periode ulang yang
dipergunakan tergantung dari fungsi saluran serta daerah
tangkap hujan yang akan dikeringkan. Menurut
pengalaman, penggunaan periode ulang untuk
perencanaan:
- saluran kwarter
: periode ulang 1 tahun
- saluran tersier
: periode ulang 2 tahun
- saluran sekunder
: periode ulang 5 tahun
- saluran primer
: periode ulang 10 tahun

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

20

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


2.

Kala ulang hujan (lanjutan)


Penentuan periode ulang juga didasarkan pada
pertimbangan ekonomis. Berdasarkan prinsip
dalam penyelesaian maslaah drainase perkotaan
dari aspek hidrologi, sebelum dilakukan analisis
frekuensi untuk mendapatkan besaran hujan
dengan kala ulang tertentu harus dipersiapkan
rangkaian data hujan bersadarkan pada durasi
harian, jam-jaman atau menitan.

Analisis frekuensi terhadap data hujan yang


tersedia dapat dilakukan dengan beberapa
metode antara lain Gumbell, Log Normal, Log
Pearson III,dsb.
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

21

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


3.

Analisis intensitas hujan


Data curah hujan dalam suatu waktu tertentu
(beberapa menit) yang tercatat pada alat
otomatik dapat diubah menjadi intensitas
curah hujan per jam.
Misalnya untuk mengubah hujan 5 menit
menjadi intensitas curah hujan per jam, maka
curah hujan ini harus dikalikan dengan 60/5.
Demikian pula untuk hujan 10 menit, dikalikan
dengan 60/10.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

22

IV. PENGOLAHAN DATA HUJAN


3.

Analisis intensitas hujan (lanjutan)


Menurut Dr. Mononobe, intensitas hujan (I) di dalam
rumus rasional dapat dihitung dengan rumus:

R 24
I
24 tc

2/3

mm/jam

dimana:
R : curah hujan rancangan setempat dalam mm
tc : lama waktu konsentrasi dalam jam
I : intensitas hujan dalam mm/jam
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

23

V. DEBIT RANCANGAN
Asumsi dasar yang ada selama ini adalah bahwa kala
ulang debit ekivalen dengan kala ulang hujan. Debit
rencana untuk daerah perkotaan umumnya
dikehendaki pembuangan air yang secepatnya, agar
jangan ada genangan air yang berarti. Untuk
memenuhi tujuan ini saluran-saluran harus dibuat
cukup sesuai dengan debit rancangan.
Faktor-faktor yang menentukan sampai berapa tinggi
genangan air yang diperbolehkan agar tidak
menimbulkan kerugian yang berarti, adalah:
1. Berapa luas daerah yang akan tergenang (sampai
batas tinggi yang diperbolehkan.
2. Berapa lama waktu penggenangan itu.
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

24

V. DEBIT RANCANGAN
Suatu daerah perkotaan umumnya merupakan bagian dari
suatu daerah aliran yang lebih luas, dan di daerah aliran ini
sudah ada sistem drainase alami.
Perencanaan dan pengembangan sistem bagi suatu daerah
perkotaan yang baru harus diselaraskan dengan sistem
drainase alami yang sudah ada, agar keadaan aslinya dapat
dipertahankan sejauh mungkin.
Besarnya debit rencana dihitung dengan memakai Metode
Rasional kalau daerah alirannya kurang dari 80 Ha. Untuk
daerah aliran yang lebih luas sampai dengan 5000 Ha dapat
digunakan metode rasional yang diubah. Untuk luas daerah
yang lebih dari 5000 Ha digunakan hidrograf satuan atau
metode rasional yang diubah.
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

25

V. DEBIT RANCANGAN
Rumus metode rasional:

Q C x x I x A
Dimana:
Q : debit rencana dengan kala ulang T tahun dalam m 3 / det
C : koefisien pengaliran (limpasan)
: koefisien penyebaran hujan
I : intensitas selama waktu konsentrasi dalam mm/jam
A : Luas daerah aliran dalam Ha
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

26

V. DEBIT RANCANGAN
1.

Koefisien pengaliran (C)


Koefisien pengaliran merupakan nilai banding
antara bagian hujan yang membentuk limpasan
langsung dengan hujan total yang terjadi. Besaran
ini dipengaruhi oleh tata guna lahan, kemiringan
lahan, jenis dan kondisi tanah.
Pemilihan koefisien pengaliran harus
memperhitungkan kemungkinan adanya
perubahan tata guna lahan di kemudian hari.
Besarnya koefisien pengaliran dapat diambil
seperti pada Tabel 2.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

27

V. DEBIT RANCANGAN
Tabel 2. Koefisien pengaliran (C)
Jenis tata gunan lahan

Koef. pengaliran (C)

Perumahan tidak begitu rapat (20 rumah/Ha)

0,25 - 0,40

Perumahan kerapatan sedang (20-60 rumah/Ha)

0,40 - 0,70

Perumahan rapat

0,70 - 0,80

Taman dan daerah rekreasi

0,20 - 0,30

Daerah industri

0,80 - 0,90

Daerah perniagaan

0,90 - 0,95

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

28

V. DEBIT RANCANGAN
2.

Koefisien penyebaran hujan ()


Koefisien penyebaran hujan merupakan nilai yang
digunakan untuk mengoreksi pengaruh
penyebaran hujan yang tidak merata pada suatu
daerah pengaliran.
Nilai besaran ini tergantung dari kondisi dan luas
daerah pengaliran. Untuk daerah yang relatif kecil
biasanya kejadian hujan diasumsikan merata,
sehingga nilai koefisien penyebaran hujannya
adalah 1.
Koefisien ditunjukkan pada Tabel 3.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

29

V. DEBIT RANCANGAN
Tabel 3. Koefisien penyebaran hujan
Luas daerah pengaliran Koefisien penyebaran hujan
(km2)
()
0-4
1,000
5
0,995
10
0,980
15
0,995
20
0,920
25
0,875
30
0,820
50
0,500
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

30

LATIHAN - Soal
1. Hitung besarnya
curah hujan daerah
(rata-rata) dari suatu
daerah pengaliran
seperti terlihat pada
Gambar. Terdapat
beberapa titik
pengamatan dengan
besaran curah hujan
masing-masing.
16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

31

LATIHAN - Soal
1.

Thiessen (lanjutan)

Data Curah Hujan dan Luas Wilayah Terwakili


No. Titik Pengamatan

A (km2)

5,4

19,6 18,0 15,0 20,8 24,6

8,5

22,5 13,4 30,6

R (mm/hari)

212

197

180

164

16/05/2012

185

188

178

Fasdarsyah, ST, MT

174

156

10

168

32

LATIHAN - Soal
2.

3.

Tentukan besarnya intensitas hujan pada suatu


daerah aliran apabila diketahui data hujan harian
dengan kala ulang 2 tahun (R2) adalah 42 mm.
Waktu konsentrasi pada daerah aliran tersebut tc
= 1,2 jam. Gunakan rumus Mononobe.
Suatu daerah pusat perniagaan dengan bentuk
dan ukuran seperti pada Gambar. Titik Q sebagai
titik kontrol keluaran. Saluran drainase berada di
tengah-tengah areal dengan kemiringan saluran
sebesar 4%. Kecepatan aliran di atas permukaan
tanah diperkirakan sebesar 0,15 m/dt. Jika terjadi
hujan merata pada daerah aliran tersebut dengan
intensitas sebesar 10 mm/jam, tentukan besarnya
debit maksimum untuk merancang dimensi
saluran drainasenya.

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

33

LATIHAN - Soal
3.

Lanjutan

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

34

LATIHAN - Penyelesaian
1.

Curah hujan rata-rata (R) dengan metode


Thiessen

A1 R1 A2 R2 ..... An Rn
A1 A2 ..... An

A1 R1 A2 R2 ..... An Rn
A
R W1 R1 W2 R2 ..... Wn Rn
R

212 x5,4 197 x19,6 185 x18,0 188 x15,0 178 x 20,8 174 x 24,6 180 x8,5 164 x 22,5 156 x13,4 168 x30,6
5,4 19,6 18,0 15,0 20,8 24,6 8,5 22,5 13,4 30,6
31590
R
178,4
R

R 177,1 mm/hari

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

35

LATIHAN - Penyelesaian
2.

Intensitas hujan (I) dengan rumus Mononobe.


R 24
I
24 tc

2/3

42 24
I
24 1,2

mm/jam
2/3

mm/jam

I 12,894 mm/jam

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

36

LATIHAN - Penyelesaian
3.

Asumsi arah aliran: E/G P Q


Koefisien daerah pengaliran untuk daerah perniagaan pada Tabel 2, = 0,90
Luas daerah pengaliran:
A = 2 x 3 = 6 km2
Menurut Tabel 3, koefisien penyebaran hujan () = 0,992 (interpolasi)
Waktu konsentrasi: tc = to + td
to: kecepatan di atas tanah, Vo = 0,15 m/dt
EP = 1000 m
to = EP/Vo
= 1000 / 0,15
= 6666,67 detik
td: kemiringan saluran 4%, menurut Tabel 1
Vd = 0,9 m/dt
PQ = 3000 m
td = PQ/Vd
= 3000 / 0,9
= 3333,33 detik
tc = 6666,67 + 3333,33 = 10000 detik = 166,67 menit

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

37

LATIHAN - Penyelesaian
3.

Lanjutan
Debit aliran maksimum menurut metode
rasional terjadi apabila lama hujan yang terjadi
lebih besar atau sama dengan waktu
konsentrasi, artinya akumulasi air hujan
seluruh daerah pengaliran secara bersamasama melewati titik kontrol.
Q=xxIxA
Q = 0,9 x 0,992 x 10/1000/3600 x 6 x 1000000
Q = 14,88 m3/dt

16/05/2012

Fasdarsyah, ST, MT

38