Anda di halaman 1dari 3

BAB 1 Lingkaran Tanaman (Crop Circle)

Lingkaran tanaman berasal dari bahasa Inggris Crop Circle (sering


disingkat CC) adalah suatu pola teratur yang terbentuk secara misterius di
area ladang tanaman. Pola teratur yang sering membentuk rancangan
simetris berbasis bentuk lingkaran.
Fenomena lingkaran tanaman (CC) di Indonesia terjadi di desa
Jogomangsan, Rejotirto, Berbah, Sleman Yogyakarta pada pagi hari 23
Januari 2011. Ada yang berpendapat bahwa CC dibuat olehg manusia
secara manual menggunakan cara mekanik dengan peralatan dari papan
kayu, garpu, dan sapu.
Terdapat banyak sekali bentuk atau pola-pola yang simetri di alam,
misalnya fenomena Aurora.Aurora erupakan bagian dari fenomena lecutan
(gas discarge), sering terjadi di langit daerah kutub. Peristiwa lecutan gas
menghasilkan suatu materi fase baru yakni gas terionisasi disebut plasma.
Contoh lainnya adalah pola simetri yang dibentuk dengan teknik
permutasi menghasilkan fraktal yang tak pernah habis muncul pada salah
satu jenis bunga Brokoli. Contoh ketiga adalah kesimetrisan pada
keindahan geometri yang terbentuk spontan dalam orde waktu sangat
15
singkat atau femto detik ( 10

detik) seperti kristal es. Kristal es

terbentuk dari deposisi heterogen, kontak, pencelupan, atau pembekuan


setelah kondensasi.
Crop Circle memang masih misteri. Masyarakat akademisi harus
menggunakan dasar yang kuat untuk memutuskan suatu fenomena,
antara lain kesepakatan para ahli, kajian-kajian ilmiah, dan penelitian
handal dengan perangkat analisis yang standart serta multidisipliner.
BAB 2 Kondisi Cuaca Sebelum Terjadi Crop Circle
Pada malam terjadinya CC Berbah Sleman Yogyakarta terdapat
pembentukan awan konvektif (awan local statik) dan juga terjadi pola
angin Monsun Barat. Di Pulau Jawa pola monsunal dapat menumbuhkan
awan konvektif yang dapat menyebabkan curah hujan tinggi, sering petir
dan angin kencang. Jenis awan di daerah tropis adalah jenis awan CB
(Comulonimbus) yang dapat menyebabkan hujan deras, batu es dan kilat.
Cuaca di daerah tropis ditandai dengan perubahan yang cepat dan
mendadak.
Fenomena CC di Berbah Sleman pada tahun 2011, dikaji dari iklim yaitu
terjadi pola angin Monsun Barat. Selain faktor lokal seperti awan
cumulonimbus, karakteristik hujan di Yogyakarta juga dipengaruhi oleh

Monsun pada ketinggian 3000 feet (900 meter) yang bertiup dalam skala
regional.
BAB 3 Keingintahuan Suci dalam Keilmuan
Dasar-dasar keilmuan yang dimiliki seseorang dan pengalamanpengalaman yang telah dilalui akan mengantarkan seorang akademisi
mempunyai pendapat dan pemikiran tentang sesuatu hal. Misalnya bagi
umat Islam adalah ijtihad. Ijtihad adalah usaha yang sungguh-sungguh
untuk memecahkan seatu masalah yang tidak ada ketetapannya dalam
AL-Quran dan Hadist.
Berdasarkan pengalaman Einstein, hal penting yang dapat diambil adalah
tradisi keilmuan dan keingintahuan suci (holy couriosity). Keingintahuan
suci tidak boleh tersandra oleh batasan-batasan yang kita buat sendiri.
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, kontroversi merupakan
sesuatu yang tidak dapt dipisahkan. Kontroversial sekeras apapun dalam
ilmu pengetaguan adalah sesuatu yang biasa. Syarat utamanya adalah,
para ilmuan dan peneliti harus sadar bahwa hakim yang paling
menentukan dalam ilmu adalah hasil penelitian, akta, dan data
pengukuran.
Hipoteisi berfungsi untuk menerangkan fenomena, menguji teori,
mendorong munculnya teori baru, dan merupakan pedoman untuk
mengarahkan penelitian dan meberikan kerangka untuk menyusun
kesimpulan yang akan dihasilkan.
Perancangan cerdas merupakan bentuk modern dari argumen
teleologisakan keberadaan Tuhan, namun menghindari pendeskripsian
sifat-sifat Sang Perancang. Perancangan cerdas juga merupakan teori
ilmiah dan berusaha untuk secara mendasar mendefinisikan ulang sains
agar sains dapat menerima penjelasan supranatural.
BAB 4 Mencari dan Mengungkap Fakta Crop Circle
Tim UP3ST (Unit Pengembangan Penelitian dan Penerapan Sains dan
Teknik) FMIPA Universitas Diponegoro, yang terdiri dari 12 orang dari 4
disiplin ilmu berbeda yaitu Biologi, Fisika, Kimia dan Matematika
mengembangkan hipotesis awal bahwa terjadinya CC merupakan
fenomena alam yang dimungkinkan terjadi akibat adanya angin ion
nitrogen yang terbentuk karena adanya perbedaan muatan ion pada awan
dan bumi.
Untuk menguatkan keyakinan, Tim melakukan investigasi awal dengan
datang langsung ke lokasi CC untuk mengambil sampel tanah dan

tanaman padi guna pengujian lebih lanjut di laboratorium, tentang ada


tidaknya kandungan peningkatan nitrogen pada tanah dan tanaman padi.
Alat yang digunakan adalah Scanning Electron Microscope(SEM). Di lokasi
CC Berbah Sleman, tim juga mengukur untuk mengkaji secara matematis,
khusunya tentang pola geometris CC tersebut. Tim juga melakukan
simulasi animasi pola geometris CC melalui komputer.