Anda di halaman 1dari 8

Abstrak

Singkong adalah salah satu makanan pokok masyarakat indonesia, biasanya singkog juga di
olah menjadi berbagai macam makanan seperti kripik singkong dll, selain isinya bisa diolah
menjadi berbagai macam maknan kulitnya juga bisa di manfaatkan menjadi bahan baku
pembuatan karbon aktif untuk penjernian air sumur. Dalam pembuatan karbon aktif ini kulit
singkong akan melewati 2 tahap proses yaitu proses aktivasi dan proses karbonisasi. Proses
karbonisasi menggunakan 2 variabel yaitu variable waktu selama 1, 2, 3, dan 4 jam, variabel
temperature 300C, 400C, 500C, dan 600C. Ciri karbon aktif yang diteliti rendemen, kadar
air, dan kadar abu. Selain itu kulit singkong bisa di gunakan juga menjadi paving block (batu
cetak). Paving block biasanya digunakan sebagai lantai parkiran pertokoan, jalan pada
komplek-komplek perumahan. Proses pembuatan paving block yaitu pembuatan paving block.
Variasi penambahan serbuk kulit singkong yang di gunakan adalah 0%, 10%, 15%, 30%, dan
60% untuk pengurangan penggunaan pasir sebagai agregat.
Kata Kunci

: Kulit Singkong, Karbon Aktif, Paving Block

1. Pendahuluan
Limbah menjadi salah satu permasalahan
yang serius di Indonesia yang setiap hari
semakin meningkat dan tidak seimbang
dengan pengolahan limbah. Munculnya
berbagai macam limbah dapat berdampak
buruk pada lingkungan, salah satunya
adanya pencemaran air yang disebakan oleh
adanya logam berat dari limbah. Salah satu
limbah yang dapat di manfaatkan sebagai
penyerap logam berat adalah kulit singkong.
Tidak semua orang mengetahui apabila kulit
singkong bisa digunakan sebagai bahan
baku pembuatan karbon aktif.
Kulit singkong mengandung selulosa non
reduksi yang sangat baik untuk mengikat ion
logam. Selulosa merupakan bagian utama
pada tumbuhan. Selulosa terdapat dalam
tumbuhan sebagai bahan pembentuk dinding

sel. Kulit singkong meganndung unsur


karbon yang tinggi yaitu 59,31%. Hal ini
yang mendasari bahwa kulit singkong dapat
digunakan sebagai bahan baku pembuatan
karbon aktif. Proses pembuatan karbon aktif
dari l0069mbah kulit singkong ini sangat
sederhana, yakni proses aktivasi dan
karbonisasi. Karbon aktif memiliki banyak
manfaat, misalkan sebagai pembersih air,
pemurnian gas, industri gula, pengolahan
limbah cair dan sebagainya (Michael, 1995).
Karbon aktif merupakan suatu padatan
berpopri yang mengandung 85-95% karbon,
yang dihasilkan dari bahan-bahan yang
mengandung karbbon dengan pemanasan
dengan suhu yang tinggi. Karbon aktif
dibagi 2 tipe, yaitu karbon aktif sebagai
pemucat dan sebagai penyerap uap. Karbon
aktif sebagai pemucat, biasanya berbentuk
bubuk ukuran diameter butirannya mencapai
1000 A, digunakan pada fase cair berfungsi
untuk memindahkan zat-zat pengganggu
yang menyebabkan warna dan bau yang
Page

tidak diharapkan. Sedangkan karbon aktif


granular yang sangat keras diamenet pori
berkisar antara 10 - 200, tipe pori lebih
halus, digunakan dalam fase gas, berfungsi
untuk memperoleh kembali pelarut, katalis,
pemisahan, dan pemurnian gas. Secara
umum proses pembuatan karbon aktif dapat
dibagi dua, yaitu: proses kimia dan proses
fisika. Keuntungan dari pemakaian karbon
aktif adalah: Pengoperasian mudah karena
air mengalir dalam media karbon, proses
berjalan cepat karena ukuran butiran
karbonnya lebih besar, dan karbon tidak
bercampur dengan lumpur sehingga dapat
diregenerasi.
Selain kulit singkong bisa digunakan
sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif
juga bisa digunakan sebagai bahan
pembuatan paving block (batu cetak).
Paving block adalah batu cetak yang berasal
dari campuran bahan bangunan berupa pasir
dan semen dengan perbandingan campuran
tertentu, yang mempunyai beberapa variasi
bentuk untuk memenuhi selera pemakai.
Paving blok adalah batu cetak yang berasal
dari campuran bahan bangunan berupa pasir
dan semen dengan perbandingan campuran
tertentu, yang mempunyai beberapa variasi
bentuk untuk memenuhi selera pemakai.
Penggunaan paving blok ini disesuaikan
dengan tingkat kebutuhan, misalnya saja
untuk halaman rumah tentu berbeda dengan
jalan maupun halaman parkir, karena mutu
paving yang digunakan berbeda. Untuk jalan
atau halaman parkir mutu paving yang
digunakan lebih baik dibanding dengan
halaman rumah karena muatan yang bekerja
tidak sama.

Tujuan penelitian ini adalah. Untuk


mengetahui lebih baik mana kulit singkong
yang di manfaatkan sebagai bahan baku
pembuatan karbon aktif atau kulit singkong
sebagai bahan campuran pembuatan paving
block.
2. Bahan dan Metode
2.1 Karbon Aktif
Dalam penelitian ini menggunakan
kulit singkong yang bagian putih yang sudah
di bersihkan selain itu juga digunakan
NaOH dan HCL. NaOH digunakan sebagai
bahan pada tahap aktivasi dan HCl
digunakan pada tahap netralisasi.
2.1.1 Metode
Tahapan pembuatan karbon aktif
melalui 2 proses yaitu :

Tahap Aktivasi
Pertama kulit singkong sikumpulkan
sebanyak 10 kg dan dibershikan dari
kotoran, lalu kulit singkong yang berwarna
putih potong-potong sehingga ukurannya
menjadi kecil dan di panaskan dioven
selama 1 jam pada suhu 70C. Setelah itu
kulit singkong yang sudah dikeringkan
menggunakan oven akan di timbang hingga
beratnya 300 gr, setelah itu kulit singkong
akan direndam menggunakan larutan NaOH
selama 1 jam lalu dikeringkan lagi
menggunakan oven pada suhu 120C selama
2 jam.

Tahap Karbonisasi
Kulit singkong yag sudah dikeringkan
melalui tahap aktivasi, kemudian di
karbonisasi pada suhu 300C, 400C, 500C
dan 600C selama 1 jam, 2 jam, 3 jam, dan 4
Page

jam, lalu terbentuk karbon aktif. Setelah itu


kulit singkong didinginkan dengan alat
desikator.

Tahap Netralisasi dan Pencucian


Karbon
aktif
akan
dinetralkan
menggunakan
HCL
dan
di
cuci
menggunakan aquades sampai pH netral.
Kemudian karbon aktif dikeringkan lagi di
dalam oven selama 3 jam pada suhu 110C.
Setelah itu karbon aktif akan di saring
mengunakan ukuran 100 mesh, dan
terbentuklah karbon aktif dalam bentuk
serbuk.
Diagram proses pembuatan karbon aktif.
2.2 Paving Block
Bahan yang di gunaan yaitu semen
portland, agregat, air, kulit singkong

2.2.1 Metode

Berikut merupakan tahapan pembuatan


paving block menggunakan kulit singkong

P
sa
pv
Ai
tn
dg
B
hBhB
l
o
c
k

e
i

r
a

n
l

a
aa

a
n

nn

Persiapan Alat
Page

Mesin mekanis
Mesin manual
Cetakan paving
Alat pengaduk semen (molen)
Cangkul
Ember
Sendok semen
Ayakan pasir
Plat kayu
Kuas

Bahan
- Semen Portland
- Agregat
- Air
- Kulit singkong
Penentuan Komposisi Bahan

2. Kelompok 1 : Kelompok benda uji


dengan penambahan serbuk kulit
singkong sebanyak 10 % dari bagian
pasir.
3. Kelompok 2 : Kelompok benda uji
dengan penambahan abu sebanyak 15 %
dari bagian pasir.
4. Kelompok 3 : Kelompok benda uji
dengan penambahan serbuk kulit
singkong sebanyak 30 % dari bagian
pasir.
5. Kelompok 4 : Kelompok benda uji
dengan penambahan serbuk kulit
singkong sebanyak 60 % dari bagian
pair.
3. Hasil Penelitian
3.1 Karbon Aktif

Keterangan:
1. Kelompok 0 : Kelompok benda uji
dengan penambah serbuk kulit singkong
sebanyak 0% dari bagian pasir

Page

Penentuan suhu karbonisasi dan waktu


karbonisasi sangat berpengaruh pada
karakteristik karbon aktif yang dihasilkan
seperti kadar air, kadar abu dan rendemen,
dibandingkan dengan standar mutu karbon
aktif. Data yang diperoleh dari hasil
penelitian pada proses pembuatan karbon
aktif untuk penjernihan air dapat dilihat pada
Tabel 1 dan 2.

Kadar Air
Perhitungan kadar air bertujuan untuk
mengetahui sifat higroskopis (zat yang
mampu menyerap molekul air) dari karbon
aktif. Sifat yang sangat higrokopis inilah,
sehingga karbon aktif digunakan sebagai
absorben. Pada tabel menunjukkan bahwa
nilai kadar air yang dihasilkan dari
penelitian ini berkisar antara 0,38 1,05%.
Kadar ini telah memenuhi persyaratan
karbon aktif menurut SNI 06-3730-95 yaitu
kurang dari 15%. Temperatur dan lamanya
waktu karbonisasi sangat berpengaruh
terhadap kadar air yang di serap. Kadar air
semakin
menurun
dengan
kenaikan
temperatur dan lamanya waktu karbonisasi.
Dari tabel 1 dapat dilihat kadar air tertinggi
terdapat pada temperatur 300 0C selama 2

jam dan terendah pada temperatur 600 0C


pada waktu 4 jam.

Kadar Abu
Kadar abu ini sangat berpengaruh
terhadap kulitas karbon aktif. Kadar abu
yang berlebihan dapat menyumbat pori-pori
karbon aktif. Dari tabel 1 dapat dilihat
semakin tinggi suhu karbonisasi, maka kada
abu semakin meningkat. Peningkatan ini

disebabkan oleh kenaikan suhu karbonisasi


yang memicu teroksidasinya sebagian besar
zat volatil termasuk pula karbon. Sedangkan
abu tidak terikut teroksidasi karena bukan
merupakan zat volatil.
Rendemen
Penetapan rendemen karbon aktif bertujuan
untuk mengetahui jumlah karbon aktif yang
dihasilkan dari proses karbonisasi dan
aktivasi. Perhitungan rendemen didasarkan
pada bobot kering oven bahan baku.
Rendemen karbon aktif yang dihasilkan
dipengaruhi
oleh
cara
pengaktifan.
Rendemen yang dihasilkan berkisar antara
6,58 % - 21,65%. Dari tabel 1 dapat dilihat
kecenderungan
peningkatan
waktu
karbonisasi cenderung dapat menurunkan
rendemen. Hal ini disebabkan oleh dengan
Page

semakin lama waktu karbonisasi maka


kemungkinan terjadinya reaksi antara arang
dengan zat pengoksidasi atau pengaktif
membentuk CO, CO2, dan H2 juga semakin
meningkat sehingga karbon aktif yang
terbentuk berkurang.

Pengujian Sampel
Sample yang diuji (air sumur) saat
penambahan karbon aktif dan sebelum
penambahan karbon aktif mengalami hasil
yang signifikan. Hasil analisa yang di uji
pada penelitian adalah pH air, Fe, Cl,
kekeruhan, dapat dilihat pada tabel 2, dah
hasil ujinya sesuai dengan standar Peratutan
Menteri Kesehatan RI No 82/2001, dimanan
dapat digunakan sebagai pemenuhan
Kebutuhan Rumah Tangga khusunya air
mandi. Tabel 4.2 dapat dilihat karbon aktif
yang dikarbonisasi pada temperatur 600 0C
selama 2 jam adalah hasil yang terbaik
mampu
menyerap
kotoran
maupun
kandungan logam yang ada di dalam
sampel.

3.2 Paving Block


Uji Kelayakan Paving Block
Setelah
paving
block
dengan
penambahan serbuk kulit singkng telah
berumur 28 hari, kemmudian dilakukan uji
kelakayakan tekan dan uji ketahanan
terhadap natrium sulfat.

Dari tabel diatas bisa dilihat bahwa nilai


kuat tekan paving bock dengan penambahan
serbuk
kulit
singkong
mempunyai
kecenderungan
menurun
seiring
penambahan
serbuk
kulit
singkong.
Penurunan yang bisa mencapai 80,36%,
yakni pada penambahan serbuk kulit
singkong sebanyak 60% dari 310 kg/cm2
menjadi 55,25 kg/cm3. Hal ini disebabkan
karena sifat serbuk kulit singkong yang lebih
lunak dari pasir selain itu, serbuk kulit
singkong yang terkandung dalam paving
block mengalami proses pembusukan pada
saat perawatan paving yang direndam dalam
air. Semakin banyak kadar serbuk kulit
singkong yang diberikan, maka kuat tekan
yang dihasilkan akan semakin menurun
pula.

Uji Kuat Tekan

Uji Ketahanan Natrium Sulfat

Page

Rendah tinggiya suhu dan waktu


karbonisasi sangat berpengaruh terhadap
pemmbuatan karbonaktif. Semakin tinggi
suhu dan waktu karbonisasi, kadar air pun
semakin menurun. Meningkatnya suhu dan
waktu karbonisasi maka akan meningkat
juga kadar abu. Rendahnya suhu dan waktu
karbonisasi,
maka
kadar
rendemen
pembentuk karbon aktif meningkat.

Dari table diatas bisa dilihat bahwa


penambahan serbuk kulit singkong, dapat
memperhalus permukaan dari paving block,
sehingga larutan perusak Natrium Sulfat
akan sulit menembus bagian dalam dari
paving block, namun penambahan serbuk
kulit singkong dengan selisih berat paving
block sebelum dan sesudah perendaman
dengan Natrium Sulfat melebihi kadar 1 %
tidak dianjurkan, hal ini dikarena sifat
Natrium Sulfat yang bersifat merusak ikatan
semen akan bekerja semakin hebat pada
paving dengan kadar serbuk kulit singkong
yang semakin banyak. Larutan ini akan
dengan mudah masuk meresap ke dalam
paving block dengan campuran serbuk kulit
singkong yang memiliki rongga-rongga
yang besar serta mudah repuh bila
dibandingkan
dengan
paving
block
konvensional.

4. Kesimpulan dan Saran


4.1 Kesimpulan
Karbon Aktif

Paving Block
Penambahan kulit singkong dalam
pembuatan paving block dapat berpengaruh
terhadap terhadap daya kuat tekan paving
block.
Setelah
dilakukan
pengujian
ketahanan Natrium Sulfat paving block yang
di campur dengan serbuk kulit singkong
memenuh syarat kwalitas paving block tipe
I.
4.2 Saran
Lebih banyak lagi pemanfataanpemanfaatan limbah yang lain agar limbah
di Indonesia semakin berkurang, serta
seringnya sosialisasi ke pada masyarakat.
Perbandingan antara pemanfataan kulit
singkong sebagai bahan baku pembuatan
karbon aktif dan sebagai bahan pembuatan
paving block yang lebih baik adalah sebagai
bahan baku pembuatan karbon aktif, karena
menurut hasil penelitian karbon aktif dengan
kulit sigkong mampu mengurangi kotoran
maupun logam yang ada di air sumur adalah
Fe = 87,75%, Cl- = 63,67%, TDS = 67,6%,
kekeruhan= 57,68%, dan pH = 4,73%.
Sedangkan
kulit
singkong
yang
dimanfaatakan sebagai bahan pembuatan
paving block semakin banyak penggunaan
kulit singkong maka daya tahan kuat paving
block semakin rendah.

5. Daftar Pustaka
Page

Ade Murni Suryani (2009), Pemanfaatan


Tongkol Jagung Untuk Pembuatan
Arang Aktif Sebagai Pemurnian Minyak
Goreng Bekas, IPB, Bogor.
Anonymous (1979), Mutu dan Cara Uji
Arang Aktif, Standar Industri Indonesia
No. 0258-79, Departemen Perindustrian.
Djatmiko dan Prowiro (1970), Pembuatan
Arang
Aktif,
Lembaga
Ilmu
Pengetahuan Indonesia, Bandung.
Hefni Effendi (2003), Telaah Kualitas Air,
Edisi Cetak 7, Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Koran Jakarta, Karbon Aktif Kulit Singkong
Sebagai Filter Air, Edisi Cetak 548, 19
Desember 2009.
Lee, Richard (1989), Hidrologi Hutan,
Gajah
Mada
University
Press,
(http://opac.geotek.lipi.go.id).
Peraturan Menteri Kesehatan RI No
82/2001, Syarat-syarat Pengawasan
Kualitas Air, Jakarta.
Sari Wulan Intan Anisa (2005), Skripsi,
Kualitas Air Bersih Untuk Pemenuhan
Kebutuhan Rumah Tangga, UNS,
Semarang.

Suherman,
Ikawati,
Melati
(2009),
Pembuatan Karbon Aktif Dari Limbah
Kulit
Singkong
UKM
Tapioka
Kabupaten Pati, Seminar Nasional
Teknik Kimia Indonesia, Bandung.
Sembiring, M., dan Sinaga, T (2003), Arang
Aktif, Sumatera Utara, Jurusan Teknik
Industri, Fakultas Teknik USU.
SNI 06-3730-95, Karbon Aktif
Sarwani (1989), Pengaruh Jenis Bahan
Baku, Suhu, dan Waktu Aktivasi
Terhadap Mutu dan Rendemen Karbon
Aktif Hasil Aktivasi, Fakultas Teknologi
Pertanian, IPB, Bogor.
Wenny Irawati, Ery Susiany (2008), Jurnal
Penelitian, Pengaruh Temperatur dan
Konsentrasi Zat Aktivator Pada
Pembuatan Adsorben, Unika Widya
Mandala Surabaya, Surabaya.
SII.0819-88 Definisi Paving Block
Smith, 1979 dalam Prof Dr Ir Soemarno MS
Pengelolan Kesuburan-Tanah dan
Bahan
Organik Jurs Tanah FP UB
(SK.SNI T-15-1990-03:2).
(http://www.idionline.org 24 April 2007).

Page