Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI HUTAN
Penentuan Luas Kuadrat Tunggal Minimum Dengan
Species Area Curve

Disusun oleh:
Nama

: Ismu Nilam Devi

NIM

: 14/367867/KT/07843

Co-Ass

: Taufiq

Shift

: Kamis, 15.00

LABORATORIUM EKOLOGI HUTAN


DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ACARA I

Penentuan Luas Kuadrat Tunggal Minimum Dengan Species


Area Curve

I.

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk membuat SAC suatu komunitas pohin hutan
dan menentukan luas kuadrat tunggal minimum.

II.

DASAR TEORI
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari
beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme
kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama
individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga
merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Simorangkir, 2009).
Luas minimum adalah luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik
komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan. Luas minimum dan jumlah
minimum dapat digabung dengan menentukan luas total dari jumlah minimum yang
sesuai dengan luas minimum yang sudah dapat didapat terlebih dahulu. Penyebaran
individu suatu populasi mempunyai 3 kemungkinan yaitu: Penyebaran acak,
Penyebaran secara merata, Penyebaran secara kelompok, untuk mengetahui apakah
penyebaran individu suatu polpulasi secara merata atau kelompok maka penentuan
letak percontoh dalam analisis vegetasi dapat dibedakan dengan cara pendekatan
yaitu: Penyebaran percontohan secara acak, penyebaran percontohan secara
sistematik, penyebaran secara semi acak dan semi sistematik ( Rahardjanto, 2005).
Salah satu metode untuk menentukan luas minimal suatu daerah yaitu
dengan Species Area Curve (SAC). Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui
minimal jumlah petak contoh. Sejumlah sampel dikatakan representive bila
didalamnya terdapat semua atau sebagian besar jenis tanaman pembentuk komunitas
atau vegetasi tersebut (Odum, 2001).

Pemilihan lokasi plot dilakukan berdasarkan survey pendahuluan serta studi


literatur dilengkapi pula dengan studi peta kawasan. Salah satu kriterianya adalah
lokasi yang masih memiliki kawasan hutan yang masih utuh. Didapatkan lokasi plot
di sebelah utara atau bagian belakang gunung karena areal bagian muka atau selatan
gunung telah mengalami kerusakan akibat kebakaran. Plot dibuat dengan berukuran 1
ha dengan sub plot ukuran 20 x 20 m, yang berdasarkan hasil perhitungan kurva areal
jenis dan kalibrasi dengan luas serupa di lokasi lain yang juga memiliki plot sampel
permanen (Sutomo, dkk., 2012).
Pola kurva ditentukan oleh distribusi individu masing-masing jenis dalam
hutan. Apabila individu-individu semua jenis bercampur secara merata, kurva yang
dihasilkan akan memperlihatkan pola peningkatan jumlah jenis yang tajam pada
kuadrat kecil yang kemudian diikuti dengan pola mendatar pada ukuran kuadrat yang
lebih besar (Lomolino, 2000).
Tipe kurva area spesies ada enam. Penentuannya berdasarkan karaktestik
ekologi dari berbagai sampel. Tipe I memiliki data pokok berdasarkan pada
pengukuran tunggal yang sudah ada petak bersarang. Tipe IIA dan IIB tersusun atas
penaksiran keberagaman yang terdapat pada suatu area. Tipe IIIA dan IIIB memiliki
data yang diperoleh dari kuadrat terdekat. Tipe IV memiliki data dari sampel area
yang memiliki ciri khusus (Scheiner, 2003).

III.

ALAT DAN BAHAN


Alat:
- Tali
- Roll meter
- Pitameter
- Kompas
- Kertas untuk mencatat data
- Alat tulis

Bahan:
-

Tumbuhan spesies pohon


berdiameter >10 cm (Keliling

> 31,4)
Kertas millimeter

IV.

CARA PELAKSANAAN
Dalam hutan yang akan dibuat SAC-nya, kuadrat-kuadrat dibuat dengan susunan,
kuadrat seperti Gambar 1.

lD
D
tib
a
iu
m
-a
h
u
n
y
g
k
d
b
a
S
A
C
tS
re
-m
,u
K
d
k
e
n
g
s
u
a
k
d
r
t
1
=
5
x
D
a
l
m
h
u
t
n
y
g
k
d
i
b
a
S
A
C
n
lS
in
iy
a
s
p
c
o
h
n
y
g
b
e
r
d
a
m
t
>
1
0
(
k
n
g
3
,
4
)
d
a
m
s
e
t
p
k
u
r
D
i
b
u
a
t
K
d
r
k
e
n
g
s
u
a
,
k
d
r
t
1
=
5
x
m
a
iD
tm
e
re
tik
p
ia
s
c
g
a
d
k
u
1
s
e
c
r
o
t
m
a
n
j
d
g
s
p
e
c
a
l
m
k
u
d
r
t
S
e
m
u
a
s
p
c
i
o
h
n
y
g
b
e
r
d
a
m
t
>
1
0
(
k
l
i
n
g
3
,
4
)
d
a
m
s
e
t
p
k
u
r
i
c
a
,A
jd
lp
jic
ia
n
u
g
s
p
c
d
m
k
a
r
t
2
e
n
g
o
s
p
d
a
l
m
k
u
r
t
3
,
S
e
t
i
a
p
s
c
y
n
g
r
t
a
d
k
u
1
s
e
c
r
o
t
m
a
i
n
j
d
g
s
p
e
c
i
a
l
m
k
u
d
r
t
2
t2
lK
re
jm
b
iu
,d
iia
ln
e
m
h
n
u
s
p
e
t
d
a
k
b
r
n
g
m
d
a
t
p
D
e
m
i
k
a
n
j
u
g
,
s
p
c
d
l
m
k
a
r
t
2
e
n
j
i
g
o
s
p
d
a
l
m
k
u
r
t
3
,
s
jP
,d
lo
g
b
r
k
h
u
n
a
t
m
e
i
s
d
n
k
u
a
r
m
e
l
b
k
t
a
s
i
r
l
o
c
d
e
n
g
a
s
u
m
b
x
r
p
k
n
a
d
s
u
m
b
y
e
r
p
a
A
p
a
b
i
l
e
r
t
m
h
n
j
u
s
p
i
e
t
d
a
k
b
r
,
n
g
m
i
l
d
a
t
p
h
e
n
k
td
s
lD
rih
a
je
ig
tn
k
ltk
u
ia
v
y
n
g
e
k
a
o
h
d
s
r
b
u
n
v
m
a
g
s
j
e
n
i
d
l
m
h
u
t
a
.
K
e
m
u
d
i
a
n
,
g
b
r
k
h
u
n
a
t
j
m
l
e
i
s
d
n
k
u
a
r
m
e
l
b
k
t
a
s
i
r
l
o
c
d
e
n
g
a
s
u
m
b
x
r
p
k
a
n
d
s
u
m
b
y
e
r
p
a
j
l
h
n
i
s
.
ljK
,u
im
lla
S
A
C
y
b
u
h
a
r
s
d
t
e
n
k
m
a
u
d
r
n
g
i
s
y
m
e
l
k
r
n
g
a
1
0
%
j
u
m
h
e
i
s
p
r
l
a
k
u
d
n
t
e
b
s
r
i
a
.
P
o
l
a
k
u
r
v
y
n
g
t
e
j
d
i
k
a
o
l
h
s
t
r
b
u
i
n
d
v
m
a
g
s
j
e
n
i
d
l
m
h
u
t
a
.
h
e
n
ig
s
.ra
iD
d
s
n
d
m
e
y
g
u
k
r
v
a
D
e
n
g
a
S
A
C
y
t
l
h
d
i
b
u
,
a
r
s
e
n
k
l
m
i
a
u
d
r
n
g
s
y
m
e
i
l
k
r
n
g
a
1
0
%
j
u
m
h
e
i
s
p
r
l
a
k
u
d
n
t
e
b
s
r
i
a
.
a
ritk
s
n
g
u
e
b
d
ia
trs
p
o
y
e
k
u
m
b
x
.rp
to
n
g
a
is
y
e
k
d
n
u
m
b
x
jk
a
ls
in
m
y
g
d
c
a
r. K
e
m
u
d
ia
n
g
rsje
a
in
d
m
y
g
u
k
rv
a
S
A
C
. D
a
ritk
s
n
g
u
e
b
d
ia
trs
p
o
y
e
k
u
m
b
x
.rp
to
n
g
a
isy
e
k
d
n
u
m
b
x
jk
a
ls
in
m
y
g
d
c
a
r.
S
A
C
.

Gambar 1. Susunan kuadrat dalam pembuatan species area curve. Keterangan:


kuadrat 1= 5 x 5 m2= 25 m2 ; kuadrat 2= 5 x 10 m2 ; kuadrat 3= 10 x 10 m2 = 100
m2 ; kuadrat 4= 10 x 20 m2 ; kuadrat 5= 20 x 20 m2 = 400 m2 ; kuadrat 6= 20 x 40
m2 = 800 m2 .
Kemudian, semua species pohon yang berdiameter >10 (keliling>31,4) dalam
setiap kuadrat dicatat. Setiap species yang tercatat pada kuadrat 1 secara otomatis
menjadi anggota species dalam kuadrat 2. Demikian juga, species dalam kuadrat 2
menjadi anggota spesies dalam kuadrat 3, dst. Apabila pertambahan jumlah
spesies tidak berarti, pengambilan data dapat dihentikan. Kemudian,
menggambarkan hubungan antara jumlah jenis dan kuadran dalam selembar kertas
millimeter block dengan sumbu x berupa ukuran kuadran dan sumbu y berupa
jumlah jenis. Pola kurva yang terjadi di tentukan oleh distribusi individu masingmasing jenis dalam hutan. Dengan SAC yang telah dibuat, harus ditentukan luas
minimal kuadran garis n yang memiliki kelerengan 10% jumlah jenis per 10%
luas kuadran terbesar dibuat. Kemudian garis m sejajar dengan garis n dan
menyinggung kurva SAC. Dari titik singgung tersebut dibuat garis proyeksi ke
sumbu x. perpotongan garis proyeksi dengan sumbu x menunjukan luas minimal
yang dicari.

Daftar Pustaka
Lomolino, M. V. 2000. Ecologists most general, yet protean pattern: the species-area
relationship. Blackwell Science Ltd. 2000, Journal of Biogeography.
Odum, Eugene P. 2001. Dasar-dasar Ekologi. UGM University Press. Yogyakarta
Rahardjanto, Abdul Kadir,2005. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan. UMM Press.
Malang
Sheiner, S. M. 2003. Six types of special-area curves. Blackwell Science Ltd. Global Ecology
and Biogeography.

Simorangkir, Roland H., Dkk.Struktur Dan Komposisi Pohon Di Habitat Orangutan Liar
(Pongo Abelii), Kawasan Hutan Batang Toru, Sumatera Utara. Jurnal Primatologi Indonesia,
Vol. 6 No. 2 Desember 2009, p.10-20.
Sutomo dkk. Studi Awal Komposisi Dan Dinamika Vegetasi Pohon Hutan Gunung Pohen
Cagar Alam Batukahu Bali. Jurnal Bumi Lestari, Volume 12 No. 2, Agustus 2012, hlm. 366
381