Anda di halaman 1dari 7

interaksi radiasi dengan materi

BAB I PENDAHULUAN
2.3. Interaksi Radiasi Beta dengan Materi
Dibandingkan dengan partikel alpha, partikel beta adalah sangat kecil. Partikel
beta (negatif) ini memiliki satu satuan muatan elementer negatif dan massanya
dapat diabaikan terhadap massa partikel alpha. Partikel beta ini pada dasarnya
identik dengan elektron yang mengorbit di atom penyerap (dengan muatan
listrik yang sama), dapat menyebabkan terjadinya ionisasi langsung dengan
gaya tolak coulomb terhadap elektron yang mengorbit tersebut. Partikel beta ini
dapat pula menyebabkan terjadinya eksitasi bila energinya tidak cukup besar
untuk dapat membuat elektron orbit lepas dari sistem atom. Partikel beta dapat
menimbulkan ionisasi langsung lebih sedikit dari pada partikel alpha dan dapat
bergerak lebih jauh di dalam bahan penyerap. Partikel beta dengan energi
sebesar 3,5 MeV dapat melintas di udara sejauh sekitar 11 meter dan apabila di
dalam jaringan dapat mencapai jarak sekitar 15 mm. Partikel beta berenergi
rendah 0,157 MeV yang dipancarkan oleh Carbon-14 hanya mampu melintas di
udara sejauh 30 cm dan apabila di jaringan sekitar 0,8 mm. Partikel beta yang
berenergi lebih tinggi dapat melintas sampai dekat ke inti atom dari bahan
penyerap.

Partikel

ini

kehilangan

sebagian

energinya

karena mengalami

pelambatan (pengereman) di dalam medan listrik inti. Energi pengereman yang


terambil dari energi kinetik partikel beta tersebut, akan muncul sebagai sinar-X.
Radiasi tipe ini yang disebut sebagai bremsstrahlung, yang dalam bahasa Jerman
berarti radiasi pengereman. Radiasi Bremsstrahlung merupakan hal yang penting
di dalam proteksi radiasi. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus bagi
organisasi/perorangan pemilik pesawat sinar-X untuk berusaha meminimalkan
munculnya radiasi bremsstrahlung di ruang pesawat sinar-X dalam rangka
keselamatan radiasi terhadap operator dan konsumen yang dilayani.

2.3.1. Proses Kehilangan Energi Radiasi Beta


Mekanisme hilangnya partikel beta sama dengan mekanisme pada partikel alfa,
yaitu diserap bahan yang dilewati untuk proses ionisasi dan eksistasi. Partikel
beta akan kehilangan energi 3,4 eV setiap pembentukan satu pasang ion. Namun
karena partikel beta lebih kecil (sekitar 1/7300 dari massa partikel alfa) dan
muatan yang lebih rendah (1/2 dari partikel alfa), maka konsekuensinya partikel

beta dalam sepanjang jejaknya tidak memproduksi pasangan ion per cm


sebanyak yang dibentuk 49 partikel alfa. Partikel beta dengan energi 3 MeV
mempunyai jangkaun di udara lebih dari 1.000 cm namun hanya mampu
menghasilkan beberapa pasangan ion per mm sepanjang jejaknya. Ionisasi
spesifik (Is) partikel beta di udara bervariasi dari 60 sampai 7.000 pasangan ion
per cm. Ionisasi spesifik bernilai besar untuk partikel beta berenergi rendah,
selanjutnya berkurang secara cepat untuk energi yang makin besar, hingga
mencapai minimum pada energi sekitar 1 MeV. Ionisasi spesifik ini berlahanlahan naik untuk energi lebih besar dari 1 MeV. Persamaan ionisasi spesifik
ditulis: Is= dx/dK W dK/dx adalah laju kehilangan energi akibat ionisasi dan
eksitasi oleh partkel beta (MeV/cm) dan W adalah energi rata-rata untuk
membentuk satu pasangan ion. Satu hal yang menarik, karena partikel beta
bermuatan listrik dan bergerak dengan kecepatan tinggi, apabila melintas dekat
inti atom, maka gaya elektrostatik inti menyebabkan partikel beta membelok
dengan tajam. Peristiwa ini menyebabkan partikel beta kehilangan energinya
dengan

memancarkan

gelombang

elektromagnetik

yang

dikenal

sinar-X

Bremsstrahlun
2.3.2. Jarak Tempuh Radiasi Beta
Jarak tempuh radiasi beta di medium udara hamper 500 x jarak tempuh radiasi
alfa atau ion positif dengan energy gerak yang sama. Lebih jauhnya jarak
tempuh radiasi beta dibandingkan dengan radiasi alfa atau ion positif juga terjadi
dalam medium lain. Radiasi beta yang berenergi 0,5 MeV mampu menjangkau
jarak tempuh di udara sejauh sekitar 150 cm, dan bila energinya 2 MeV mampu
menembus jarak sejauh kira-kira 850 cm. besarnya jarak tempuh radiasi beta
berbanding lurus dengan energy radiasinya (E) yang dinyatakan dengan
persamaan berikut : R=0,534 E- 0,160 2.3.3. Dampak Interaksi Radiasi Beta
dengan Materi Nuklida nuklida yang tereksitasi sifatnya tidak stabil dan untuk
menuj ke keadaan yang stabil ia harus melakukan perubahan-perubahan.
Perubahan yang dilakukan oleh nuklida atau molekul yang tereksitasi itu antara
lain dengan melakukan proses ionisasi. Molekul air setelah berinteraksi dengan
radiasi beta membentuk molekul air yang bermuatan negative H2O- dan tidak
stabil. Untuk menuju ke keadaan yang stabil ia akan berinteraksi dengan molekul
air yang lain, untuk membentuk molekul gas hydrogen H2 dan ion hidroksil OH- .
Dampak terjadinya interaksi antara radiasi beta dan nuklida atau molekul yang
menjadi sasaran radiasi beta tersebut juga dapat menghasilkan nuklida atau

molekul yang tereksitasi, seterusnya dari keadaan tereksitasi ini mengalami


peristiwa ionisasi. Molekul air berbintang adalah molekul air yang berada dalam
keadaaan tereksitasi sebagai akibat teradiasi oleh radiasi beta, dan hv adalah
energi radiasi beta. Hasil interaksi antara radiasi beta dan isotop nuklida N-14
adalah isotop nuklida radioaktif C-14 dengan waktu paruh t1/2=5730 tahun.
Isotop radioaktif C-14 ini dapat memancarkan radiasi beta dan membentuk
isotop nuklida N-14 kembali . 2.4. Interaksi Radiasi Elektromagnetik dengan
Materi Tidak seperti pada partikel bermuatan, foton dalam melewati materi tidak
dapat

kehilangan

energi

secara

kontinyu

sepanjang

jejak

yang

dilalui.

Sebaliknya, dalam dua dari tiga proses fundamental foton berinteraksi dengan
materi, maka semua energi foton dipindahkan ke medium dalam satu interaksi.
Dengan demikian absorpsi foton dalam materi diharapkan bersifat eksponensial
dengan tebal paruh yang Iebih besar dari jangkauan partikel beta yang memiliki
energi sama. Sebagai akibatnya maka ionisasi jenis rata-rata sinar gamma
kemungkinan sepersepuluh sampai dengan seperseratus dari ionisasi jenis
radiasi elektron untuk energi yang sama. lonisasi yang diamati untuk sinar
gamma hampir seluruhnya sekunder. Hilangnya energi rata-rata per pasangan
ion yang terbentuk sama dengan sinar beta, misalnya 35 eV dalam udara. 2.4.1.
Proses Kehilangan Energi Radiasi Gamma dan Dampaknya Pada energi rendah,
proses

terpenting

adalah

efek

fotolistrik.

Pada

proses

ini

kuantum

elektromagnetik berenergi hv melepaskan elektron yang terikat dari atomnya


atau molekul dan keluar dan atomnya dengan energi sebesar (hv - b), dengan
b adalah energi ikat elektron. Kuantum radiasi hilang seluruhnya dalam proses
ini,

dan

kekekalan

momentum

kemungkinan

hanya

karena

atom

yang

ditinggalkan elektron dapat menerima momentum. Untuk energi foton yang lebih
besar dari energi ikat pada kulit K dan atom absorber, maka absorpsi fotolistrik
terutama terjadi pada kulit K, sedangkan kulit L hanya menyumbang sekitar 20%
saja dari kulit yang lebih luar lagi akan memberikan sumbangan yang lebih kecil.
Dengan

alasan

ini,

maka

kemungkinan

absorpsi

fotolistrik

memiliki

diskontinyuitas yang tajam pada energi yang setara dengan energi ikat pada
kulit K, L, M, dan seterusnya. Untuk energi foton di atas energi ikat kulit K dan
absorber, pada awalnya absorpsi fotolistrik akan turun dengan cepat (sekitar E7/2), kemudian turun perlahan-lahan (sekitar E-1) dengan bertambahnya
energi. Hal ini juga sebanding dengan Z5. Energi sinar gamma yang memberi
sumbangan 5% pada total absorpsi sinar gamma adalah 0,15 MeV untuk
alumunium, 0,4 MeV untuk tembaga, 1,2 MeV untuk timah, dan 4,7 MeV untuk

timbal. Kecuali untuk unsur berat, absorpsi fotolistrik relative tidak penting untuk
energi di atas 1 MeV. Foton kemungkinan hanya memindahkan sebagian
energinya ke elektron yang terikat ataupun yang bebas. Foton tidak hanya
berkurang energinya tetapi arahnya berbelok dari arah semula. Proses ini
disebut sebagi efek Compton atau hamburan Compton. Hubungan antara
hilangnya energi dengan sudut hamburan dapat diturunkan dari kondisi
relativitas untuk kekekalan momentum dan energi. -17) dan (4-18) dengan
menggunakan hubungan (sin2 + cos2 ) = 1, hasilnya adalah Persamaan (419) disubstitusikan ke persamaan (4-16) diperoleh Dengan menggunakan
hubungan antara energi foton dan panjang gelombang (E=hc/), maka
persamaan (4-20) menjadi dimana me adalah massa rehat elektron, h/mec =
2,42631.10-10 cm disebut sebagai panjang gelombang Compton elektron.
Persamaan (4-21) menunjukkan bahwa untuk energi tertentu, maka terdapat
energi minimum (panjang gelombang maksimum) untuk sinar gamma yang
dihamburkan dan dapat terjadi hamburan dengan arah kebalikan arah semula,
yaitu jika cos = -1 Sebaliknya elektron Compton akan menerima energi
maksimum. Energi minimum ini dapat dihitung dengan persamaan Energi sinar
gamma bervariasi antara suatu nilai minimum sampai dengan maksimum,
sehingga spektrum energi elektron Compton terbentang dari nilai nol sampai
dengan energi maksimum yang agak kurang dari energi sinar gamma mulamula. Demikian juga untuk sinar gamma, energi sinar gamma yang terhambur
terbentang dari energi maksimum yang besarnya sama dengan energi sinar
gamma mula-mula sampai dengan energi minimum yang mendekati E0 = 250
KeV. Hamburan Compton per elektron tidak tergantung pada nomor atom (Z),
sehingga koefisien hamburan per atom sebanding dengan Z. Untuk energi lebih
dan 0,5 MeV mendekati sebanding dengan E-1. Dengan demikian hamburan
Compton

berkurang

sedikit

demi

sedikit

(berkurangnya

lebih

lambat

dibandingkan dengan fotolistrik) dengan kenaikan energi, paling tidak untuk


energi menengah (sampai dengan 1 atau 2 MeV), bahkan di dalam timbal proses
ini mendominasi untuk daerah energi 0,6 sampai dengan 4 MeV. 2.4.2. Jarak
Tempuh Radiasi Gamma Jika sinar gamma menembus materi, maka akan
mengalami penyerapan oleh interaksi dengan atom-atom dari bahan penyerap,
terutama oleh efek fotolistrik, efek compton dan oleh pembentukan pasangan.
Hal ini mengakibatkan terjadi penurunan intensitas radiasi dengan jarak yang
ditempuhnya melalui bahan penyerap. 2.4.3. Dampak Interaksi Gamma dengan
Materi Ada tiga proses utama yang dapat terjadi apabila radiasi gamma melewati

bahan, yaitu efek fololistrik, hamburan Compton dan produksi pasangan. Ketiga
proses tersebut melepaskan elektron yang selanjutnya dapat mengionisasi atomatom lain dalam bahan. Peluang terjadinya interaksi antara radiasi gamma
dengan bahan ditentukan oleh koefisien absorbsi linier (). Karena penyerapan
intensitas gelombang elektromagnetik melalui tiga proses utama, maka nilai
juga ditentukan oleh peluang terjadinya ketiga proses tersebut, yaitu f untuk
foto listrik, c untuk hamburan Compton dan pp untuk produksi pasangan.
Koefisien absorbsi total (t) dari ketiga koefisien tersebut t = f+ c + pp
7.3.1 Efek fotolistrik Efek foto listrik adalah peristiwa diserapnya energi foton
seluruhnya oleh elektron yang terikat kuat oleh suatu atom sehingga elektron
tersebut

terlepas

dari

ikatan

atom.

Elektron

yang

terlepas

dinamakan

fotoelektron.efek foto listrik terutama terjadi antara 0,01MeV hingga 0,5 MeV.
Efek fotolistrik ini umumnya banyak terjadi pada materi dengan Z yang besar,
seperti tembaga (Z = 29). Energi foton yang datang sebagian besar berpindah
ke elektron fotolistrik dalam bentuk energi kinetik elektron dan sebagian lagi
digunakan untuk melawan energi ikat elektron (W0). Besarnya energi kinetik
fotoelektron (K) dalam peristiwa ini adalah: K = hf W0 2.5. Interaksi Radiasi
Netron dengan Materi Netron merupakan partikel tidak stabil dengan waktu
paruh 12 menit dan meluruh menjadi 1 p, 1 n dan 1 netrino. Netron tidak
bermuatan, sehingga tidak dipengaruhi oleh medan magnit maupun medan
elektrostatis. Netron hanya dibelokkan apabila bertumbukan dengan partikel
lain. Netron dihasilkan menggunakan 2 proses umum, yaitu penembakan inti dan
pembelahan

dalam

suatu

reaktor.

Sumber

partikel

yang

menggunakan

penembakan inti sebagai sumber netron ada dua jenis, yaitu menggunakan
sumber radioaktif maupun menggunakan pemercepat partikel bermuatan
dengan tegangan tinggi. 2.5.1. Proses Kehilangan Energi Radiasi Netron
Hamburan Elastik Hamburan elastik adalah penyebab utama dari moderasi
(perlambatan) netron. Dalam suatu tumbukan elastik, energi kinetik total dan
momentum total dari netron dan inti tetap konstan. Dalam hal ini tidak terjadi
kehilangan energi dengan pelepasan radiasi elektromagnetik. Unsur-unsur yang
sering digunakan sebagai Moderator adalah hidrogen dan karbon. Hidrogen
adalah moderator yang sangat efisien karena mempunyai massa yang hampir
sama

dengan

netron

sehingga

pada

tumbukan

elastik

sempurna

akan

menghasilkan derajat moderasi terbesar. Hamburan Resonansi Tak Elastik


Hamburan yang menyebabkan kehilangan dalam energi total dari sistem yang
bertumbukan. Dalam suatu reaksi jenis (n, n) dengan n adalah netron penembak

dan n adalah netron yang lebih lambat yang dilepaskan inti sasaran dan
perbedaan energi kedua netron tersebut dipancarkan sebagai suatu foton. Untuk
kebanyakan inti penangkapan netron menghasilkan peningkatan energi sekitar 8
MeV ditambah energi kinetik netron. Hal ini menyebabkan energi inti yang
terbentuk sesudah penangkapan netron berada dalam tingkat energi yang tinggi.
Kestabilan dicapai dengan pemancaran partikel atau foton. Jenis reaksi
penangkapan bergantung pada energi netron penembak, sehingga menurut
energinya, netron dibagi menjadi 4, yaitu: Netron Lambat (Termal) Energi inti
meningkat hanya sekitar 8 MeV dan umumnya tidak cukup untuk mengeluarkan
suatu partikel. Reaksi umumnya ialah jenis reaksi (n, ) yang dikenal dengan
reaksi Pengaktifan. Netron Intermediate Penangkapan dapat menghasilkan reaksi
pengaktipan sebanyak di atas, tetapi inti gabungan yang dihasilkan juga
mempunyai cukup energi untuk mengatasi energi ikat dan mengeluarkan suatu
partikel.
14. 14 Netron Cepat Energi kinetiknya sampai 10 MeV memberi sumbangan
sampai sekitar 18 MeV kepada inti. Energi ikat suatu nukleon hanya sekitar 8
MeV, sehingga dua partikel dapat dilepaskan dari inti. Netron Relativitas Jumlah
nukleon yang dapat dilepaskan dari inti sasaran dengan netron ini lebih besar
lain. 2.5.2. Perlambatan Laju Reaksi Netron Dengan reaksi hamburan nuklida
dapat mengurangi energi neutron sehingga neutron akan melambat. Cara yang
biasa digunakan untuk menunjukkan kemampuan nuklida untuk melakukan
perlambatan terhadap neutron disebut tahap perlambatan (slowing down
decrement). Hal ini didefinisikan sebagai nilai rerata dari logaritma natural rasio
energi hilang. Tahap perlambatan tidak bergantung kepada energi neutron yang
terhambur. Kita dapati bahwa pada tumbukan elastik, secara rerata neutron akan
kehilangan sejumlah fraksi energi logaritmik yang sama tanpa bergantung
kepada energi awalnya. Hal itu terjadi karena hanya bergantung kepada massa
atomik dari nuklida yang mengalami hamburan. Tahap perlambatan dapat
diekspresikan sebagai fungsi massa atomik dari nuklida yang mengalami
hamburan. 2.5.3. Dampak Interaksi Radiasi Netron dengan Materi Sebuah
nuklida yang tereksitasi sebagai akibat berinteraksinya dengan radiasi netron
lambat akan mengalami reaksi nuklir. Dampak dari reaksi nuklir tersebut dapat
dihasilkan jenis nuklida baru, radiasi alfa, beta, gamma, proton, netron, dan
sejumlah energi. Jika radiasi netron lambat berinteraksi dengan isotop nuklida
Na-23 akan menghasilkan isotop nuklida radioaktif Na-24. Isotop nuklida
radioaktif Na-24 kemudian meluruhkan radiasi beta dan isotop nuklida Mg-24.

Jika radiasi netron lambat berinteraksi dengan isotop nuklida N-14 akan
menghasilkan

isotop

nuklida

radioaktif

C-14

dan

radiasi

proton.

Begitu

mudahnya radiasi netron lambat mempengaruhi nucleus suatu nuklida sehingga


menjadi radioaktif maka netron lambat sering digunakan untuk membuat isotop
nuklida radioaktif.
15. 15 BAB III PENUTUP 3.1. Simpulan 1. Dampak interaksi dapat terjasi secara
fisika dan secara kimia. Terjadi secara fisika jika energi yang diserap oleh
material kimia hanya dapat membuat energi dalamnya bertambah sehingga
keadaanya menjadi tereksitasi tetapi tidak menyebabkan perubahan jenis
material kimia tersebut. 2. Partikel berat bermuatan seperti sinar alfa, proton,
deutron, dan fragmen isi merupakan partikel inti atom yang bermuatan positif.
Massa dan muatan menyebabkan partikel ini memiliki daya tembus yang sangat
pendek tetapi daya ionisasinya sangat kuat sepanjang lintasannya 3. Partikel
beta ini pada dasarnya identik dengan elektron yang mengorbit di atom
penyerap (dengan muatan listrik yang sama), dapat menyebabkan terjadinya
ionisasi langsung dengan gaya tolak coulomb terhadap elektron yang mengorbit
tersebut. 4. Tidak seperti pada partikel bermuatan, foton dalam melewati materi
tidak dapat kehilangan energi secara kontinyu sepanjang jejak yang dilalui.
Sebaliknya, dalam dua dari tiga proses fundamental foton berinteraksi dengan
materi, maka semua energi foton dipindahkan ke medium dalam satu interaksi.
5. Netron merupakan partikel tidak stabil dengan waktu paruh 12 menit dan
meluruh menjadi 1 p, 1 n dan 1 netrino. Netron tidak bermuatan, sehingga tidak
dipengaruhi oleh medan magnit maupun medan elektrostatis. Netron hanya
dibelokkan apabila bertumbukan dengan partikel lain. 3.2. Saran Kita seharusnya
mengetahui

suatu

interaksi

radiasi

dengan

materi

apabila

mempelajari

radiokimia yang tidak kita ketahui dapat dipelajari dalam materi ini.
16. 16 DAFTAR PUSTAKA Keenan et al,(1986). Kimia untuk Universitas, Jilid 2,
Erlangga,Jakarta Retug,N. & Kartowasono,N.(2005).Radiokimia. Singaraja : IKIP
Negeri Singaraja