Anda di halaman 1dari 5

Agama Yang Diridhai Allah *

تِ ائَيّسَ وَ ،انَسِ فُنْأَ رِ ورُشُ نْ مِ لِ ابِ ذُوعُنَ وَ ،هُرُفِغْ تَسْ نَ وَ ،هُنُيعِتَسْ نَ وَ ،هُدُ مَ حْ نَ لِ دَ مْ حَ لْا نّ إِ ،لُ ا لَ إِ هَلَإِ لَ نْ أَ دُ هَ شْ أَ وَ ،هُلَ يَ دِاهَ لَ فَ لْ لِضْ يُ نْ مَ وَ ،هُلَ لّ ضِ مُ لَ فَ لُ ا هِدِ هْ يَ نْ مَ ،انَلِامَ عْ أَ هُلُوسُ رَ وَ هُدُ بْعَ ادً مّ حَ مُ نّ أَ دُ هَ شْ أَ وَ ،هُلَ كَ يْرِشَ لَ هُدَ حْ وَ (نَ ومُ لِسْ مُ مْ تُنْأَ وَ لّ إِ نّ تُومُ تَ لَ وَ هِتِاقَتُ قّ حَ لَ ا اوقُتّا اونُمَآ نَ يذِ لّا اهَ يّأَ ايَ) :ىلَاعَتَ لَ اقَ وَ اهَ جَ وْ زَ اهَ نْمِ قَ لَخَ وّ ةٍدَ حِ وّ سٍ فْ نّ نمِ مْ كُ قَلَخَ يذِ لّا مُ كُ بّرَ اوقُتّا سُ نّلا اهَ يّأَ ايَ) :اضً يْأَ لَ اقَ وَ مْ كُ يْلَعَ نَ اكَ لَ ا نّ إِ مَاحَ رْ أَلْا وَ هِبِ نَ ولُءَآسَ تَ يذِ لّا لَ ا اوقُتّا وّ ءًاسَ نِ وّ ايً ثِكَ لً اجَ رِ امَ هُ نْمِ ثّ بَ (ابًيقِرَ وَ مْ كُ لَامَ عْ أَ مْ كُ لَ حْ لِصْ يّ ادً يدِ سَ لً وْ قَ اولُوقُ وَ لَ ا اوقُتّا اونُمَآ نَ يذِ لّا اهَ يّأَ ايَ ) :هُلَ لَ جَ لّ جَ لَ قَ وَ (امً يظِ عَ ازً وْ فَ زَ افَ دْ قَفَ هُلَوْ ُسرَ وَ لَ ا عِ طِ يّ نْ مَ وَ مْ كُ بَونُذُ مْ كُ لَ رْ فِغْ يَ وَ ،مَ لّسَ وَ هِيْلَعَ لُ ا ىلّصَ دٍ مّ حَ مُ يُ دْ هَ يِ دْ هَ لْا رَيْخَ وَ ،لِ ا مُلَ كَ مِلَ كَ لْا نَ سَ حْ أَ نّ إِفَ :دُ عْ بَ امّأَ رِ انّلا ىفِ ةٍلَلَ ضَ لّ كُ وَ ،ةٌلَلَ ضَ ةٍعَ دْ بِ لّ كُ وَ ،ةٌعَ دْ بِ تٍ ثَدَ حْ مُ لّ كُ وَ ،اهَ تُاثَدَ حْ مُ رِ وْ مُلُ اْ رّشّ

Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Marilah kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, yaitu melaksanakan perintah Allah baik perintah wajib maupun yang sunnah serta meninggalkan larangan Allah , baik itu larangan yang haram ataupun makruh.

Kemudian, perlu kita teguhkan kembali iman kita, aqidah Islamiyah kita yang sudah kita miliki selama ini. Karena belakangan ini muncul paham-paham baru atau geliat aliran-aliran sempalan yang ingin mengaburkan aqidah Islamiyah kita, melalui slogan-slogan seperti 'cinta ahlul bait', 'spiritualisme islam', 'studi kritis' atau 'pluralisme' agama yang menganggap semua agama benar dan baik.

Disadari atau tidak, banyak tokoh atau pemimpin kita, baik yang formal maupun non-formal, yang hendak membelokkan makna 'kerukunan umat beragama' ke arah 'penyatuan agama'. Mereka menyampaikan dengan getol bahwa semua agama benar, semua agama baik, atau semua agama sama saja, atau semua umat beriman masuk surga dan lain sebagainya.

Hal ini bisa mengambangkan sekaligus mengaburkan pemahaman umat terhadap aqidah kita selama ini yang menegaskan bahwa hanya Islam-lah agama yang benar dan diridhai Allah . Dan lebih dikhawatirkan hal ini akan melanda generasi muda kita. Akibatnya, semakin banyak orang yang meremehkan agama dan tidak menganggap penting agama. Karena dianggap semua agama benar, semua agama baik. Maka untuk apa memperdalam agama, apalagi fanatik terhadap Islam bila semua agama sama? Alhasil muncullah acara-acara yang mengaburkan batas-batas agama semisal doa bersama antar umat beragama, acara natal bersama, dan lain-lain.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Berbicara tentang agama atau aqidah dan keyakinan, maka kita tidak bisa mengada-ada dengan akal-akalan kita sendiri, karena akal tidak sanggup untuk itu. Kita harus menyerahkan kepada wahyu, kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya,

لَّإ ِ

وأُ

َّ

ن يلَّ ِ

َ

ۗم ل س ل ا ل ا د ن ع

ُ

ْ

ِ

ايً

ْ

ع ب

َ

ْ

م

ِ

ن

ب ات َ

َ

ُ

ا ع

ير ِ

ْ

ل ا اوت ُ

كِ

َ

ل ا ن إ ف

َ

َ

َّ

َّ

ِ

ْ

ا ف ل ت خ ا ام و

َ

َ

َ

ْ

ن ي ب

َ

ُ

َ

ْ

ُ

َ

ْ

ك

َّ

ِ

ْ

غ ب َ

َ

ْ

ا ن َّ

إ ِ

ام َ

د

ِ

َ

َ

ن يل

َ

ّ

ِ

ِ

م ل ع ْ

ل

ْ

ُ

ِ

ي َ

ن م و ۗم ْ

ْ

َ

َ

ل

ح ْ

ب اس

ِ

َ

ِ

ُ

ا ه ء آج

ُ

َ

َ

ل ا ت اي

ِ

َ

آب ِ

ر ف

ْ

س

ِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang- orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap agama ayat-agat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali 'Imran: 19)

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa satu-satunya agama yang diakui kebenarannya hanyalah Islam, yaitu agama tauhid yang menjadi agama semua nabi dan rasul. Hanya saja sistem ibadah atau syari'atnya yang berbeda-beda.

Ayat ini juga merupakan bantahan yang tegas terhadap orang-orang yang berpendapat bahwa semua agama sama-sama baik dan sama-sama benar, karena sama-sama mengajarkan kebaikan dan sama-sama menuju keridhaan Allah . Digambarkan seperti orang yang mau ke pasar, lewat jalan mana saja bisa, asal tujuannya sampai ke pasar. Seperti kata pepatah, 'Banyak jalan menuju Roma'. Ini adalah hal yang keliru, bahkan sangat keliru. Sebab agama adalah suatu yang suci dan sakral yang tuntunan dan ajaran-ajarannya berasal dari Tuhan. Tidak bisa disamakan dengan pasar atau Roma.

Jalan menuju keridhaan Allah atau surga Allah hanya ada satu, yaitu melewati jalan yang ditunjukkan oleh Allah , yaitu Islam. Bahkan dalam ayat berikutnya secara tegas Allah menetapkan bahwa siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima keimanan dan agamanya itu dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi dan mendapat siksaan Allah karena salah pilih jalan hidup.

ْ

ن ير ِ

َ

س اخ ل ا ن

ِ

َ

م

ِ

َ

ة ِ

ْ

خ ل ا ف

ِ

ِ

ر

َ

َ

ُ

و ه و ه ن م

َ

ُ

ْ

ِ

َ

ل ب ق ي

ُ

َ

ْ

ل َ َ ف

ْ

ن

ان ً

يد ِ

ِ

ْ

مِل س ل ا ي غ غِت ب ي

َ

َ

َ

ْ

ْ

َ

َ

ْ

ْ

َ َ

ن م و

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran:

85)

Mana yang lebih benar, ucapan manusia atau firman Allah ? Bahkan Rasululah dalam hadits shahih menegaskan tentang benarnya Islam dan selain Islam adalah bathil. Sabda Rasulullah ,

مْ لَوَ تُ ومُ يَ مّ ثُ يّ نِارَصْ نَ لَ وَ يّ دِوهُ يَ ةِمّأُلْا هِذِ هَ نْ مِ دٌ حَ أَ يبِ عُ مَ سْ يَ لَ هِدِ يَبِ دٍ مّ حَ مُ سُ فْ نَ يذِ لّاوَ انّلا بِ احَ صْ أَ نْ مِ نَ اكَ لّ إِ هِبِ تُ لْسِ رْ أُ يذِ لّابِ نْ مِؤْ يُ

Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun mendengar tentang aku dari umat (manusia) ini, orang Yahudi atau pun Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus karenanya, kecuali ia termasuk para penduduk neraka.” (HR. Muslim)

Hadits Nabi ini menegaskan bahwa umat yang hidup setelah Nabi Muhammad , kemudian mendengar dakwah Nabi , yaitu Islam maka wajib masuk Islam. Kalau tidak maka tempat kembalinya adalah neraka. Dengan demikian, agama Islam yang dibawah oleh Nabi Muhammad

inilah yang diakui dan diterima Allah . Tidak pula diterima dari agama sebelumnya, yaitu Yahudi maupun Nasrani.

Untuk itu kita patut bersyukur kepada Allah yang telah mmberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita berupa iman dan Islam. Karena itu marilah kita tingkatkan terus keislaman dan keimanan kita ini dengan ilmu yang benar, sehingga betul-betul menjadi mukmin dan muslim sejati sampai akhir hayat nanti. Bahkan semua anak cucu kita pun semoga demikian adanya. Kita pun harus menanamkan aqidah yang benar ini kepada anak cucu kita sedini mungkin sebelum terlambat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ya'kub .

ُ

َ

َ

ن يل ا م ك ل ىٰ

َ

َ

ّ

ِ

ُ

ف ط ص ا ل ا ن إ ِ

ْ

َ

َّ

َّ

ي ن ب

َ

َّ

ِ

اي َ

ُ

ُ

ْ

ن

َ

ب وق ع ي

َ

ي ه ار ب

ْ

ت ن أ و لَّإ

ِ

ْ

إ ِ

اب ِ

َ

ص َّ و و

َ

َ

ُ

َ

ل ف

َ

و ه ين ِ

ب

ُ

ِ

ْ

ُ

َ

َ

ُ

َ

َ

ىٰ

ُ

ِ

وم ل س م

ِ

ُ

ْ

َ

ن ت وم ت

َ

َّ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. (Ibrahim berkata), 'Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam'.” (QS. al-Baqarah: 132)

وَ هُ هُنّإِ هُورُفِغْ تَسْ افَ ِتامَ لِسْ مُ لْا وَ يَ مِ لِسْ مُ لْا رِئِاسَ لِ وَ مْ كُ لَ وَ يلِ لَ ا رُفِغْ تَسْ أَ اذَ هَ يلِوْ قَ لُ وْ قُأَ مُ يْحِ رّلا رُ وفُغَلْا

Khutbah Kedua

مُ تَاخَ ادً مّ حَ مُ نّ أَ دُ هَ شْ أَ وَ ،يَ حِ لِاصّ لا يّ لِوَ لُ ا لّ إِ هَلَإِ لَ نْ أَ دُ هَ شْ أَ وَ ،يَ مِ لَاعَلْا بّ رَ لِ دُ مْ حَ لْاَ مَ يهِ ارَبْإِ لِ آ ىلَعَ تَ يْلّصَ امَ كَ دٍ مّ حَ مُ هِلِآ ىلَعَ وَ دٍ ّمحَ مُ ىلَعَ لّ صَ مّ هُ لّلا ،يَ لِسَ رْ مُ لْا وَ ءِايَبِنْلَ اْ ،دٌ يجِ مَ دٌ يمِ حَ كَ نّإِ مَ يهِ ارَبْإِ لِ آ ىلَعَ تَ كْ رَ ابَ امَ كَ ٍدمّ حَ مُ لِ آ ىلِعَ وَ دٍ مّ حَ مُ ىلَعَ كْ رِ ابَ وَ دُ عْ بَ امّأَ

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Setelah mendapat hidayah iman dan Islam, maka sepatutnya kita menjaga serta mempertahankannya sampai titik darah penghabisan hingga ajal menjemput. Tidak tergiur oleh bujuk rayu setan dari kalangan manusia maupun jin serta tidak tergoda oleh propaganda menyesatkan. Seperti pepatah yang mengatakan, 'Tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas'. Demikianlah semestinya ktia menjaga dan mempertahankan iman kita, karena dengan Islam-lah jaminan sampai ke surga dan keridhaan Allah . Karena itu Allah berwasiat agar tidak meninggalkan dunia ini melainkan dalam keadaan Islam. Firman Allah ,

ن َ وم ل س م

ِ

ْ

ُ

ُ

ْ

ت ن أ و لَّإ

ِ

ُ

ْ

َ

َ

ن

َّ

ت وم ت

ُ

َ

ُ

َ

ل

َ

و

ه ت ِ

ِ

ُ

اق َ

ت

ق

َّ

َ

ح

ل َّ ا اوق ُ

َ

ت َّ

م آ ن يلَّ ِ

َ

َ

ا اون ُ

َ

ُّ

ا اي أ

َ

آي َ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali 'Imran: 102)

Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, dan memberi kekuatan kepada kita untuk meniti jalan-Nya yang lurus (shirathal mustaqim), jalan yang selamat di dunia dan akhirat.

امً يلِسْ تَ اومُ لّسَ وَ هِيْلَعَ اولّصَ اونُمَاءَ نَ يذِ لّا اهَ يّأَآيَ يّ بِنّلا ىلَعَ نَ ولّصَ يُ هُتَكَ ئِلَ مَوَ لَ ا نّ إِ كَ نّإِ مَ يْهِ ارَبْإِ لِ آ ىلَعَ وَ مَ يهِ ارَبْإِ ىلَعَ تَ يْلَصَ امَ كَ دٍ مّ حَ مُ لِ آ ىلَعَ وَ دٍ مّ حَ مُ ىلَعَ لّ صَ مّ هُ لّلا لِ آ ىلَعَ وَ مَ يهِ ارَبْإِ ىلَعَ تَ كْ رَبَ امَ كَ دٍ مّ حَ مُ لِ آ ىلَعَ وَ دٍ مّ حَ مُ ىلَعَ كْ رِبَ مّ هُ لّلا ،دٌ يجِ مَ دٌ يمِ حَ .دٌ يجِ مَ دٌ يمِ حَ َكنّإِ مَ يْهِ ارَبْإِ انَمْ حَ رْ تَوَ انَلَ رْ ـفِـغْ تَ مْ لَ نْ إِوَ انَسَ فُنْأَ انَمْ لَظَ انَبّرَ ،تِ امَ لِسْ مُ لْاوَ نَ يْمِ لِسْ مُ لْلِ رْ ـفِـغْ ا مّ هُ لّلا نَ يْرِسِ اخَ لْا نَ مِ نّ نَوكُ نَلَ ىنَغِلْا وَ فَ افَعَلْا وَ ىقَتّلا وَ ىدَ هُ لْا كَ لُأَسْ نَ انّإِ مّ هُ لّلا باهّ وَ لْا تَ نْأَ كَ نّإِ ةًمَ حْ رَ كَ نْدُ لَ نْ مِ انَلَ بْ هَ وَ انَتَيْدَ هَ ذْ إِ دَ عْ بَ انَبَولُقُ غْ زِتُ لَ مّ هُ لّلا مُ يكِ حَ لْا ُيزز ِعَلْا تَ نْأَ َكنّإِ انَبّرَ انَلَ رْ فِغْ اوَ اورُفَكَ نَ يذِ لّلّ ةًنَتْفِ انَلْعَجْ تَ لَ انَبّرَ .يَ مِ لَاعَلْا بِ رَ لِ دُ مْ حَ لْا وَ ،رِ انّلا بَ اذَ عَ انَقِ وَ ةًنَسَ حَ ةِرَخِ لَ اْ ىفِ وَ ةًنَسَ حَ يَ نْدّ لا ىفِ انَتِاءَ آنَبّرَ

* Dikutip dari Rubrik Khutbah, Majalah Islam Qiblati, edisi 07 tahun V Rabiul Tsani 1431 H / April 2010 M oleh M. Mujib Ansor, SH