Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN KASUS

ANASTESI UMUM PADA LAPAROTOMI TUMOR INTRABDOMEN

Oleh :
Dela Asrivia Buana
(030.10.071)

Pembimbing :
dr. Guntur Muhamad T, Sp.An

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


BAGIAN/SMF ANESTESIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT UMUM DOKTER SOESELO SLAWI
PERIODE 7 MARET 8 APRIL 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat, rahmat, dan petunjnukNya, penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul Anastesi Umum pada Laparotomi
pasien dengan tumor abdomen.
Laporan kasuss ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepanitraan klinik di bagian
Anastesi Rumah Sakit Umum Daerah DR. Soesolo Slawi. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Guntur T, Sp. An selaku dokter, tak
lupa juga kepada rekan-rekan kepanitraan klinik yang ikut membantu member dorongan
semangat serta moril sehingga laporan kasus ini dapat dikerjakan dan diselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih terdapat kekurangan serta kesalahan.
Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak. Semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan dalam bidang
Ilmu Anestesi khuusnya dan bidang kedokteran umumnya.

BAB I
PENDAHULUAN
Tumor abdomen adalah suatu massa yang padat dengan ketebalan yang berbeda-beda, yang
disebabkan oleh sel tubuh yang yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom lepas
dari kendali pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut berbeda dari sel normal dalam bentuk
dan strukturnya. Yang termasuk tumor intra abdomen antara lain, Tumor hepar, Tumor limpa /
lien, Tumor lambung / usus halus, Tumor colon, Tumor ginjal (hipernefroma), Tumor pancreas.
Penyebab neoplasi umumnya bersifat multifaktorial. Beberapa faktor yang dianggap sebagai
penyebab neoplasi antara lain meliputi bahan kimiawi, fisik, virus, parasit, inflamasi kronik,
genetik, hormon, gaya hidup, serta penurunan imunitaws. Penyebab terjadinya tumor karena
terjadinya pembelahan sel yang abnormal.
Bedah laparatomi merupakan tindakan operasi pada daerah abdomen, bedah laparatomi
merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada
bedah digestif dan kandungan. Tindakan bedah tersebut tidak jauh dari peran anastesi.
Tindakan anestesi yang dapat dilakukan yakni dengan anestesi umum maupun anestesi
regional dengan pertimbangan kondisi medis pasien. Pelaksanaan anestesi yang memadai
meliputi tiga komponen yang disebut trias anestesi yaitu hipnotik, analgesia dan relaksasi otot
rangka. Dalam mencapai ke tiga komponen tersebut, dapat digunakan hanya dengan satu jenis
obat atau dengan memberikan beberapa kombinasi obat yang mempunyai efek khusus seperti
tersebut di atas.

BAB II
LAPORAN KASUS
STATUS ILMU ANESTESI RUMAH SAKIT UMUM DR.SOESELO SLAWI
2.1.

Identitas
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan
Agama
Status
Tanggal masuk

2.2.

: Ny C
: 42 tahun
: Perempuan
: Pagerbarang RT 01/01 Tegal
: Ibu Rumah Tangga
: Islam
: Menikah
: 25 Februari 2016

Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien dan alloanamnesis dengan
keluarga pasien, perawat, dan bidan pada tanggal 10 Maret 2016, pukul 16.00 WIB di
ruang Palm Baru RSUD DR. Soeselo Slawi.
1. Keluhan utama: pasien mengeluh nyeri perut bagian kanan
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD DR. Soeselo Slawi tanggal 25 Februari 2016 pukul 15.15
WIB dengan keluhan pasien mengeluh nyeri perut bagian kanan, nyeri perut sejak 1
bulan yang lalu. Nyeri bersifat tumpul dan hilang timbul sampai menjalar keseluruh perut
dan setiap hari semakin bertambah nyeri dan menetap. Keluhan tambahan yang dirasakan
pasein yaitu perut terasa kembung, BAB dan BAK tidak lancar, menstruasi tidak lancar.
Mual, muntah dan hamil disangkal oleh pasien. Pasien juga menyatakan bahawa berat
tubuhnya menurun sebanyak 10 kg dalam waktu 6 bulan sebelum masuk rumah sakit.
Pasien juga sering berasa lemas-lemas dan gampang capai dalam melakukan kerja
seharian. Pasien juga mengeluh nafsu makannya menurun.

3. Riwayat penyakit dahulu


Pasien tidak memiliki hipertensi, jantung dan diabetes mellitus

4. Riwayat penyakit keluarga


Riwayat hipertensi, asma, penyakit jantung dan paru, alergi dan keganasan disangkal
5. Riwayat kebiasaan
Pasien tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol maupun obat-obatan terlarang.
2.3

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada 10 Maret 2016 pukul 16.00 WIB di ruang Palm Baru
RSUD DR. Soeselo Slawi.
a. Keadaan umum
Kesan sakit

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: composmentis

Kesan gizi

: baik

GCS

: E4M5V6

b. Tanda vital
Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 96x/menit

Suhu

: 36.5C

Pernafasan

: 20x/menit

c. Status generalis
Kepala

: normocephali, rambut hitam, distribusi merata, dan tidak mudah dicabut.

Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Hidung

: simetris, deviasi septum (-), deformitas(-), sekret (-)

Telinga

: normotia, nyeri tekan tragus (-), nyeri tarik (-)

Mulut

: bibir simetris, sianosis (-), mukosa bibir kering (-)

Leher

: KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Thorax
Pulmo

: suara nafas vesikuler +/+, ronki basah halus -/- seluruh lapang paru,

wheezing -/-

Cor

: S1-S2 reguler cepat, murmur (-), gallop(-)

Abdomen : Supel, Nyeri tekan seluh perut +, teraba masa di kuadran kanan bawah +,
bising usus menurun
Ektremitas : Simetris, tidak sianosis, oedem +/+ pada ekstremitas bawah, akral
hangat.
2.4.

Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
Hasil pemeriksaan tanggal 25 Februari 2016
Paket darah lengkap
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit

HEMATOLOGI
Hasil
6,8 /uL
4,4 /uL
12,4 gr%
35 %
82 fL
26 pg
32 g/dl
280.000/uL

Nilai Rujukan
3,6 11,0
3,80 5,20
11,7 15,5
35 47
80 100
26 34
32 36
150 400

APTT

26,9

25,5 42,1

PTT

8,9

9,7 12,1
Diff Count

Eosinofil
Basofil
Netrofil
Limfosit
Monosit
Golongan darah
Rhesus factor

5,90 %
0,40 %
60,30 %
23,90 %
9,50 %
A
Positif

2,00 4,00
01
50 70
25 40
28

KIMIA KLINIK
Paket kimia lengkap
Gula darah sewaktu
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT

74 mg/dL
20,5 mg/dL
0,57mg/dL
22 U/L
17 U/L

75 140
17,1 42,8
0,40 1,00
13 33
6,0 30,0

HbsAg

Non reaktif

Non reaktif

Hasil pemeriksaan tanggal 29 Februari 2016


Paket darah lengkap
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit

HEMATOLOGI
Hasil
7,2/uL
4,3/uL
12,2g/dL
35%
81 fL
26 pg
32 g/dL
291 x 103/uL

Nilai Rujukan
3,6 11,0
3,80 5,20
11,7 15,5
35 47
80 100
26 34
32 36
150 400

Diff Count
Eosinofil
Basofil
Netrofil
Limfosit
Monosit

4,90 %
0,60 %
66,70 %
19,40 %
8,40 %

2,00 4,00
01
50 70
25 40
28

APTT TEST
PT TEST
KALIUM
NATRIUM
Chlorida
Gula darah sewaktu
Ureum
Creatinin
Calcium

33,5 detik
11,6 detik
3,70 mmol/L
138,0 mmol/L
105,0 mmol/L
90 mg/dL
23,1 mg/dL
0,68 mg/dL
8,4 mg/dL

25,5 42,1 detik


9,7 13,1 detik
3,5 5,0 mmol/L
135,0 147,0 mmol?L
95,0 105,0 mmol/L
75 140 mg/dL
17,1 42,0 mg/dL
0,40 1,00 mg/dL
8,8 10, 0 mg/dL

Albumin

3,50 g/dL

3,8 5,2 mg/dL

Hasil pemeriksaan tanggal 3 Maret 2016


Jenis pemeriksaan
IMUNOLOGI
Alfa Feto Protein
Ca 12-5
Beta HCG Serum

Hasil

Nilai rujukan

Satuan

9.13
227.3
< 0.100

< 15
< 35
Perempuan hamil
3 minggu : 5- 50
4 minggu : 5-426

Mg/ml
U/mL
mIU/mL

Metode
pemeriksaan
ECLIA
ECLIA
ECLIA

5 minggu : 13-7340
6 minggu : 1080-56500
7 minggu : 7650-229000
9-12 minggu : 25700288000
13-16 minggu : 13300254000
17-24 minggu : 4060165400
25-40 minggu : 3640117000
Perempuan tidak hamil : <
5
Post menopausal : <9,5

Pemeriksaan CT-Scan abdomen tanggal 29 Februari 2016

Kesan :

Masa lobulated dengan ada degenerasi kistik didalamnya pada kuadran kanan bawah
abdomen, ukuran sekitar AP 10,45 cm X CC 10,54 cm X 10,85. Masa tampak menempel
dan sulit dipisahkan dengan struktur usus disekitarnya. Masa masih tampak berbatas

dengan struktur vesika urinaria dan uterus DD/ masa ovarium, immature teratoma
Hydronefrosis dan hydroureter kanan
Limfadenopati kecil-kecil pada parailiaca
Acites
Tak tampak nodul pada hepar dan lien

2.5 Resume
Pasien Ny. C 42 tahun dengan diagnosis tumor intrabdomen dengan tanda vital dalam batas
normal. Pemeriksaan fisik didapatkan abdomen ditemukan supel, nyeri tekan seluruh lapang
perut, dan teraba masa di kuadran kanan bawah, bisis usus menurun. Pada laboratorium darah
didapatkan dalam batas normal, pada pemeriksaan imunologi didapatkan Ca 125 yang
meningkat. Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan gambaran masa intraabdomen dikuadran
kanan bawah.

2.6 Penatalaksanaan
a. intravena fluid drip RL 500-1000 cc 20 tpm
b. injeksi cefotaxime 2x1 gr
c. injeksi ranitidine 2x1 gr
d. Injeksi ketorolac 3x30 gr
e. Intravena NaCl
f. Injeksi tramadol 2x1 gr

g. Injeksi omeprazole 1 amp IV


h. Injeksi ceftriaxone 2x1 gr
i. Informed consent tindakan laparotomi eksplorasi
h. KOnsul ke bagian anestesi
i. Informed consent pembiusan : dilakukan operasi dengan general nastesi klasifikasi ASA III

2.7 Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka diagnosis pre
operative pasien ini adalah tumor intraabdomen. Status ASA III. Jenis operasi laparotomi
eksplorasi. Jenis anastesi general anasthesis dengen ET.

BAB III
LAPORAN ANASTESI

A. PREOPERATIF
- Informed Consent (+)
- Puasa sekitar 6-8 jam
- IV Line terpasang dengan infuse RL 1000 cc, mengalir lancar
- Keadaan umum tampak sakit sedang
- Kesadaran compos mentis
- Tanda vital
TD
: 120/80 mmHG
RR
: 20x/m
Nadi
:92x/m
Suhu
:36,5oc
- ASA
: III
B. Jenis anastesi
: General anstesi dengan Enthotrakeal tube
Teknik anastesi : Semi closed inhalasi dengan ET dengan mesin
Premedikasi
: Ondancentron 4 mg, Fentanyl 50 mcg
Induksi
: propofol 100 mg
Maintenance
: N2O;O2:Sevoflurance 3:2:2
Pengawasan pasca anastesi di ruang pulih sadar
C. Pemantauan Selama Tindakan Anastesi
Dilakukan pemantauan keadaan pasien terhadap tindakan anastesi yang telah
dilakukan pemantauan dilakukan fungsi kardiovaskular, fungsi respirasi, serta cairan.

Kardiovaskular

: pemantuan terhadap tekanan darah dan frekuensi nadi

setiap 15 menit
Respirasi

: inspeksi pernafasan spontan kepada pasien dan saturasi

oksigen
Cairan

: monitoring input cairan dan urin output

Jam
10.30

TD
130/75 mmHG

HR
80x/m

Spo2
99%

Keterangan
Terpasang

infus

Pemasangan

RL,

monitoring

tekanan darah, nadi, saturasi


oksigen. Pemberian midazolam
2,5 mg dilanjutkan, Fentanyl
100 mcg dan atrocorium 25 mg.
Induksi dengan propofol 100
mg,

setelah

itu

dilakukan

Pemasangan sungkup muka


Pemberian O2 2L/menit, N2O
2L/menit, sevoofluran 5 vol%
Bagging dengan frekuensi 12
10.45

150/90 mmHG

69x/m

99%

11.00
11.15
11.30
11.45
12.00
12.15

150/90 mmHG
120/90 mmHG
120/90 mmHG
130/90 mmHG
110/90 mmHG
110/80 mmHG

80x/m
80x/m
80x/m
80x/m
80x/m
82x/m

99%
100%
100%
100%
99%
99%

x/m
Mulai operasi
ondancentron 4 mg iv
1 RL
RL 500 cc
RL 500 cc,
1 HES

12.30

110/82 mmHG

90x/m

100%

12.45

130/80 mmHG

80x/m

99%

13.00

120/80 mmHG

80x/m

99%

Inj. Dexametason 1 amp

13.15

110/80 mmHG

80x/m

99%

Operasi

selesai,

pemberian

Injeksi Tramadol 100 mg i.v, inj


ketorolac 30 mg

13.30

110/80 mmHG

90x/m

99%

RL 500 cc

13.45

120/70 mmHG

80x/m

99%

Pasien dibawa ke ruang palm


baru

Durante operasi
Laporan anastesi
a.
b.
c.
d.
e.

Mulai anastesi
:10.30 WIB
Mulai operasi
: 10.45 WIB
Respirasi
: pernapasan spontan
Cairan durante op : 3 RL, 1 HES
Selesai operasi
: 13.15 WIB

D. Post Operasi
Skor Aldrete
Variabel
Aktivitas
Respirasi
Sirkulasi
Kesadaran
Saturasi
O2

Gerak ke-4 anggota gerak atas perintah


Gerak ke-2 anggota gerak atas perintah
Tidak merespon
Dapat bernapas dalam dan batuk bebas
Dispnoe, hipoventilasi
Apneu
Perubahan <20% TD sistol preoperasi
Perubahan 20-50% sistol preoperasi
Perubahan >50% TD sistol preoperasi
Sadar penuh
Dapat dibangunkan
Tidak merespon
SpO2 >92% pada udara kamar
Membutuhkan
O2
inhalasi
untuk

Skor
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
2

Skor pasien
2
2
2
2
2

mempertahankan SpO2 > 90%


0
SpO2<90% walaupun sudah memakai O2
inhalasi
Skor total
Total aldrete score 10 pasien boleh dipindahkan ke bangsal
Instruksi post operasi
- Rawat ruang isolasi Palm Baru
- Awasi tanda-tanda vital ( TD, Nadi, suhu dan pernapasan )

10

RL 20 tts/menit
Injeksi ketorolac 3x30 mg
Drip tramadol 50 mg
Pemeriksaan darah rutin

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

A. Pemeriksaan preoperasi
- Informed consent
- Anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium dilakukan. Dari hasil pemeriksaan
-

ditemukan kelainan sistemik berat - ASA III


IV line 1 jalur RL 20 tpm
Pemasangan catheter : urin keluar
Jenis anastesi yang dipilih pada kasus pasien adalah General anastesi
menggunakan ET

B. Persiapan operasi
1. Pembersihan dan pengosongan saluran pencernaan. Pengosongan lambung sebelum
anastesi penting untuk mencegah aspirasi isi lambunh karena regurgitasi dan muntah.

Pada pembedahan elektif, pengosongan lambung dilakukan dengan puasa, pasien


dewasa 6-8 jam, bayi/anak 2-5 jam. Pada pembedahan darurat dilakukan cara
menetralkan asam lambung dengan antasida (magnesium trisiklat) atau antagonis
reseptor H2 (simetidin dan ranitidine)
2. Gigi palsu, bulu mata palsu, cincing, gelang kalung mas harus ditinggalkan dan bahan
kosmetik harus dibersihkan agar tidak mengganggu
3. Kandung kemih harus dikosongkan, bila perlu dipasang kateter
4. Penderita masuk kamar bedah dengan pakaian khusus, diberikan tanda atau label,
periksa kembali informed consent
5. Dilakukan ulang pemeriksaan fisik penting
6. Pemberian obat premedikasi secara intravena -1 jam sebelum operasi, dengan
tujuan untuk :
- Meredakan kecemasan dan ketakutan
- Memperlancar induksi anastesi
- Mengurangi mual muntah pasca bedah
- Mengurangi isi cairan lambung
- 0ndancentron : mencegah rasa mual dan muntah pada pasien diberikan
ondancentron 4 mg/2ml secara intravena.
C. Induksi
Sebelum dilakukan pembiusan, pasien mendapat obat anestesi premedikasi
midazolam 2 mg dan fentanyl 50 mcg. Tujuan diberikannya premedikasi sebelum
anestesi adalah untuk meredakan ketakutan dan kecemasan pasien, agar pasien merasa
tenang sebelum pembedahan, serta untuk memperlancar induksi. Midazolam merupakan
obat golongan benzodiazepine yang memberikan efek sedatif sehingga pasien menjadi
lebih tenang dan memiliki efek amnesia retrograde dengan dosis premedikasi : iv 0,030,04 mg. Fentanyl merupakan agonis opioid, memiliki sifat analgesic kuat yang setara
100x morfin. Dosis 1-2 mcg/kgBB iv biasa digunakan untuk memberikan efek analgetik
saat dilakukan pembedahan.
Setelah diberikan premedikasi, pasien diinduksi menggunakan propofol dengan
dosis 100 mg. Propofol merupakan obat anestesi intravena yang paling sering digunakan
saat ini. Sifat utama propofol adalah hipnotik yang bekerja pada reseptor GABA (Gamma
Amino Butiric Acid), yaitu suatu inhibitor neurotransmitter. Terjadi distribusi darah ke
jaringan (2-4 menit) dan metabolisme (30-60 menit) yang cepat. Dengan dosis 2-2,5

mg/kgBB untuk induksi, propofol memiliki onset of action 30 detik, dengan duration of
action 3-10 menit.
Muscle relaxant bersifat non-depolarizing (Notrixum = Atracurium Besylate)
diberikansebagai pelemas otot untuk mempermudah intubasi jalan napas. Notrixum
bekerja dengan bersaing dengan asetilkolin dalam menduduki reseptor kolinergikyang
ada di motor end plate. Dosis bolus 0.5 mg/kgBB dan intubasi 0.3-0.5 mg/kgBB dengan
onset of action (OOA) 3-5 menit dan duration of action (DOA) 30-45 menit. Pada pasien
ini diberikan setelah induksi sebesar 25 mg.
Pemberian anestesi inhalasi N2O harus disertai O2 minimal 25%. Gas ini bersifat
anestetik lemah tetapi analgesik kuat. Pada anestesi inhalasi, N2O jarang diberikan secara
kombinasi dengan salah satu cairan anestetik lain. Pada pasien ini diberikan anestesi
inhalasi berupa O2 2L/menit, N20 2L/menit, dan Isoflurane 1 vol% sebagai maintanance.
Isoflurane menstimulasi adrenergic yang menyebabkan penurunan resistensi vaskular
perifer dan menyebabkan penurunan tekanan darah, namun memiliki efek depresi kardiak
dan curah jantung yang minimal.
Selama operasi, kondisi pasien dalam keadaan cukup stabil sehingga tidak
diperlukan penambahan obat lain. Kemudian setelah operasi selesai, pasien diberikan
injeksi Tramadol 100 mg, Pemberian tramadol 100 mg sebagai analgetik pasca operasi
yang dapat menjadi alternative selain OAINS (obat anti inflamasi sistemik) yang menjadi
kontraindikasi pada pasien ini (perforasi gaster) Tramadol bekerja sebagai agonis opioid
lemah dan penghambat reuptake monoamine neurotransmitter. Di plasma terdapat dalam
waktu 15-45 menit dengan onset setelah 1 jam. Dosis 50-100 mg yang dapat diulang
setiap 4-6 jam maksimum sampai 400 mg per hari.

D. Pemberian Cairan

Estimed Blood Volume ( EBV)


EBV : BB X 65 = 60 X 65 = 3900 cc

Allowed Blood Volume ( ABL )


20% x EBV = 20% x 3900 = 780 cc

Kebutuhan cairan rumatan (BB= 60 kg)


2 x BB = 2 x 60 = 120 ml

Kebutuhan cairan intraoperasi ( laparotomy : operasi besar = 8ml/kgBB)


8 x 60 kg = 480 ml/jam

Kebutuhan cairan saat puasa


Lama puasa x maintenance = 6 jam x 480ml/jam = 2,880 ml/jam

Pemberian cairan pada jam pertama operasi

(Rumatan) + (kebutuhan cairan intraoperative) + (50 % kebutuhan cairan puasa) =


120+ 480 + 1,440 = 2, 040 ml

Pemberian cairan pada jam kedua operasi

(Rumatan) + (kebutuhan cairan intraoperative) + ( 25% kebutuhan cairan puasa) =


120 + 480 + 720 = 1, 320 ml
Selama puasa dan operasi pasien telah diberikan cairan RL 3 kolf @500 cc dan HES 1
@500 maka total terapi cairan yang pasien dapat adalah 2000cc, maka terapi cairam
terpenuhi.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

Anestesi umum adalah tindakan untuk menghilangkan nyeri secara sentral disertai
dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Anestesi memungkinkan
pasien untuk mentoleransi prosedur bedah yang akan menimbulkan sakit yang tak tertahankan,
mempotensiasi eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak
menyenangkan.
Anestesi memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:
1. Hipnotik/sedasi: hilangnya kesadaran
2. Analgesia: hilangnya respon terhadap nyeri
3. Muscle relaxant: relaksasi otot rangka
Pilhan cara anestesi

Umur
o Bayi dan anak paling baik dengan anestesi umum
o Pada orang dewasa untuk tindakan singkat dan hanya dipermudahkan dilakukan
dengan anestesi local atau umum
Status fisik
o Riwayat penyakit dan anestesia terdahulu. Untuk mengetahui apakah pernah
dioperasi dan anestesi. Dengan itu dapat mengetahui apakah ada komplikasi
anestesia dan pasca bedah.
o Gangguan fungsi kardiorespirasi berat sedapat mungkin dihindari penggunaan
anestesia umum.
o Pasien gelisah, tidak kooperatif, disorientasi dengan gangguan jiwa sebaikmya
dilakukan dengan anestesia umum.
o Pasien obesitas, bila disertai leher pendek dan besar, sering timbul gangguan
sumbatan jalan napas atas sesudah dilakukan induksi anestesia. Pilihan anestesia

adalah regional, spinal, atau anestesi umum endotrakeal.


Posisi pembedahan

o Posisi seperti miring, tungkurap, duduk, atau litotomi memerlukan anestesis


umum endotrakea untuk menjamin ventilasi selama pembedahan.demikian juga

pembedahan yang berlangsung lama.


Keterampilan dan kebutuhan dokter pembedah
o Memilih obat dan teknik anestesi juga disesuaikan dengan keterampilan dan
kebutuhan dokter bedah antara lain teknik hipotensif untuk mengurangi
perdarahan, relaksasi otot pada laparotomi, pemakaian adrenalin pada bedah

plastik dan lain-lain.


Keterampilan dan pengalaman dokter anestesiologi
Keinginan pasien
Bahaya kebakaran dan ledakan
o Pemakaian obat anestesia yang tidak terbakar dan tidak eksplosif adalah pilah
utama pada pembedahan dengan alat elektrokauter.
Faktor-faktor yang mempengaruhi anestesi umum:

Faktor respirasi
Pada setiap inspirasi sejumlah zat anestesika akan masuk ke dalam paru-paru
(alveolus). Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan parsial tertentu. Kemudian zat
anestesika akan berdifusi melalui membrane alveolus. Epitel alveolus bukan
penghambat disfusi zat anestesika, sehingga tekanan parsial dalam alveolus sama
dengan tekanan parsial dalam arteri pulmonarsi. Hal- hal yang mempengaruhi hal
tersebut adalah:
Konsentrasi zat anestesika yang dihirup/ diinhalasi; makin tinggi konsentrasinya,
makin cepat naik tekanan parsial zat anestesika dalam alveolus.
Ventilasi alveolus; makin tinggi ventilasi alveolus, makin cepat meningginya

tekanan parsial alveolus dan keadaan sebaliknya pada hipoventilasi.


Faktor sirkulasi
Terdiri dari sirkulasi arterial dan sirkulasi vena
Factor-faktor yang mempengaruhi:
1. Perubahan tekanan parsial zat anestesika yang jenuh dalam alveolus dan darah
vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestesika diserap jaringan dan sebagian
kembali melalui vena.
2. Koefisien partisi darah/ gas yaitu rasio konsentrasi zat anestesika dalam darah
terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan seimbang.

3. Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung. Makin banyak aliran
darah yang melalui paru makin banyak zat anestesika yang diambil dari alveolus,
konsentrasi alveolus turun sehingga induksi lambat dan makin lama waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai tingkat anesthesia yang adekuat.

Faktor jaringan
1. Perbedaan tekanan parsial obat anestesika antara darah arteri dan jaringan.
2. Koefisien partisi jaringan/darah: kira-kira 1,0 untuk sebagian besar zat anestesika,
kecuali halotan.
3. Aliran darah terdapat dalam 4 kelompok jaringan:
a) Jaringan kaya pembuluh darah (JKPD) : otak, jantung, hepar, ginjal.
Organ-organ ini menerima 70-75% curah jantung hingga tekanan parsial
zat anestesika ini meninggi dengan cepat dalam organ-organ ini. Otak
menerima 14% curah jantung.
b) Kelompok intermediate : otot skelet dan kulit.
c) Lemak : jaringan lemak
d) Jaringan sedikit pembuluh darah (JSPD) : relative tidak ada aliran darah :

ligament dan tendon.


Faktor zat anestesika
Bermacam-macam zat anestesika mempunyai potensi yang berbeda-beda. Untuk
menentukan derajata potensi ini dikenal adanya MAC (minimal alveolar
concentration atau konsentrasi alveolar minimal) yaitu konsentrasi terendah zat
anestesika dalam udara alveolus yang mampu mencegah terjadinya tanggapan
(respon) terhadap rangsang rasa sakit. Makin rendah nilai MAC, makin tinggi potensi
zat anestesika tersebut.

TAHAPAN TINDAKAN ANESTESI UMUM


I.

Penilaian dan persiapan pra anestesia


Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor terjadinya
kecelakaan dalam anestesia. Sebelum pasien dibedah sebaiknya dilakukan kunjungan
pasien terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien dibedah pasien dalam keadaan
bugar. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk mengurangi angka kesakitan
operasi, mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

I.1 Penilaian pra bedah


Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia sebelumnya sangatlah
penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian
khusus,misalnya alergi, mual-muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak nafas pasca
bedah, sehingga dapat dirancang anestesia berikutnya dengan lebih baik. Beberapa
penelitit menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan masalah dimasa lampau
sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya halotan jangan digunakan ulang dalam
waktu tiga bulan, suksinilkolin yang menimbulkan apnoe berkepanjangan juga jangan
diulang. Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari sebelumnya
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar sangat penting
untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. Leher
pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum tentu tidak boleh
dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua system organ tubuh
pasien.

Pemeriksaan laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan
penyakit yang sedang dicurigai. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan
darah kecil (Hb, lekosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada
usia pasien diatas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks.
Kebugaran untuk anestesia

Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan agar
pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi sito penundaan yang tidak perlu
harus dihindari.
Klasifikasi status fisik
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang adalah
yang berasal dari The American Society of Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik
ini bukan alat prakiraan resiko anestesia, karena dampaksamping anestesia tidak
dapat dipisahkan dari dampak samping pembedahan.
Kelas I

: Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II

: Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas rutin terbatas.
Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas
rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.
Kelas V

: Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan


hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi isi lambung
dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama pada pasienpasien yang menjalani anestesia. Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien
yang dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anestesia harus dipantangkan dari
masukan oral (puasa) selamaperiode tertentu sebelum induksi anestesia.
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam dan pada bayi 34 jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebeluminduksi anestesia.
Minuman bening, air putih teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minumobat
air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anestesia.
I.2 Premedikasi

Sebelum pasien diberi obat anestesia, langkah selanjutnya adalah dilakukan


premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesia diberi dengan tujuan
untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi diantaranya:
1. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien
a. Menghilangkan rasa khawatir melalui:
i. Kunjungan pre anestesi
ii. Pengertian masalah yang dihadapi
iii. Keyakinan akan keberhasilan operasi
b. Memberikan ketenangan (sedative)
c. Membuat amnesia
d. Mengurangi rasa sakit (analgesic non/narkotik)
e. Mencegah mual dan muntah
2. Memudahkan atau memperlancar induksi
a. Pemberian hipnotik sedative atau narkotik
3. Mengurangi jumlah obat-obat anestesi
a. Pemberian hipnotik sedative atau narkotik
4. Menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan (muntah/liur)
5. Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung
a. Pemberian antikolinergik atropine, primperan, rantin, H2 antagonis
6. Mengurangi rasa sakit

Waktu dan cara pemberian premedikasi:


Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam1 jam, secara
intramuscular minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang sangat darurat
dengan waktu tindakan pembedahan yang tidak pasti obat-obat dapat diberikan secara
intravena. Obat akan sangat efektif sebelum induksi. Bila pembedahan belum dimulai
dalam waktu 1 jam dianjurkan pemberian premedikasi intramuscular, subkutan tidak
dianjurkan. Semua obat premedikasi bila diberikan secara intravena dapat
menyebabkan sedikit hipotensi kecuali atropine dan hiosin. Hal ini dapat dikurangi
dengan pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan.
Obat-obat yang sering digunakan:
1. Analgesik narkotik
a. Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
c. Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3gr/kgBB

2. Analgesik non narkotik


a. Ponstan
b. Tramol
c. Toradon
3. Hipnotik
a. Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
c.
4. Sedatif
a. Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg), dosis 0,1 mg/kgBB
b. Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg),dosis 0,1mg/kgBB
c. Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5 mg/kgBB
d. Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
5. Anti emetic
a. Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1cc = 0,25 mg),dosis 0,001
mg/kgBB
b. DBP
c. Narfoz, rantin, primperan.
II.

INDUKSI ANASTESI
Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar,
sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi dapat
dikerjakan secara intravena, inhalasi, intramuscular atau rectal. Setelah pasien tidur
akibat induksi anestesia langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesia sampai
tindakan pembedahan selesai.
Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan STATICS:
S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.

Laringo-

Scope, pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien.
Lampu harus cukup terang.
T : Tube

Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan >
5 tahun dengan balon (cuffed).

A : Airway Pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring
(naso-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak
sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.

T : Tape

Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.

I : Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang mudah
dibengkokan

untuk

pemandu

supaya

pipa

trakea

mudah

dimasukkan.
C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia
S : Suction

penyedot lender, ludah danlain-lainnya.

Induksi intravena
Paling banyak dikerjakan dan digemari. Indksi intravena dikerjakan dengan hatihati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali. Obat induksi bolus disuntikan dalam
kecepatan antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi, pernapasan pasien, nadi dan
tekanan darah harsu diawasi dan selalu diberikan oksigen. Dikerjakan pada pasien
yang kooperatif.
o Obat-obat induksi intravena:
Tiopental (pentotal, tiopenton) amp 500 mg atau 1000 mg
sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai kepekatan 2,5% ( 1ml =
25mg). hanya boleh digunakan untuk intravena dengan dosis 3-7 mg/kg disuntikan
perlahan-lahan dihabiskan dalam 30-60 detik.
Bergantung dosis dan kecepatan suntikan tiopental akan menyebabkan pasien
berada dalam keadaan sedasi, hypnosis, anestesia atau depresi napas. Tiopental
menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor, tekanan intracranial dan diguda dapat
melindungi otak akibat kekurangan O2 . Dosis rendah bersifat anti-analgesi.
Propofol (diprivan, recofol)
Dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonic dengan
kepekatan 1% (1ml = 1o mg). suntikan intravena sering menyebabkan nyeri, sehingga
beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena.
Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anestesia intravena
total 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0.2 mg/kg.
pengenceran hanya boleh dengan dekstrosa 5%. Tidak dianjurkan untuk anak < 3
tahun dan pada wanita hamil.

Ketamin (ketalar)
Kurang digemari karena sering menimbulkan takikardia, hipertensi, hipersalivasi,
nyeri kepala, pasca anestesia dapat menimbulkan mual-muntah, pandangan kabur dan
mimpi buruk. Sebelum pemberian sebaiknya diberikan sedasi midazolam (dormikum)
atau diazepam (valium) dengan dosis0,1 mg/kg intravena dan untuk mengurangi
salvias diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg.
Dosis bolus 1-2 mg/kg dan untuk intramuscular 3-10 mg. ketamin dikemas dalam
cairan bening kepekatan 1% (1ml = 10mg), 5% (1 ml = 50 mg), 10% ( 1ml = 100 mg).
Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil)
Diberikan dosis tinggi. Tidak menggaggu kardiovaskular, sehingga banyak
digunakan untuk induksi pasien dengan kelianan jantung. Untuk anestesia opioid
digunakan fentanil dosis 20-50 mg/kg dilanjutkan dosis rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.
Induksi intramuscular
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara
intramuskulardengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
Induksi inhalasi
o N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida) berbentuk gas, tak
berwarna, bau manis, tak iritasi, tak terbakar dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian
harus disertai O2 minimal 25%. Bersifat anastetik lemah, analgesinya kuat, sehingga
sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang persalinan. Pada anestesi inhalasi
jarang digunakan sendirian, tapi dikombinasi dengan salah satu cairan anastetik lain
seperti halotan.
o Halotan (fluotan)
Sebagai induksi juga untuk laringoskop intubasi, asalkan anestesinya cukup
dalam, stabil dan sebelum tindakan diberikan analgesi semprot lidokain 4% atau 10%
sekitar faring laring.
Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus simpatis, terjadi
hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi miokard, dan
inhibisi refleks baroreseptor. Merupakan analgesi lemah, anestesi kuat. Halotan
menghambat pelepasan insulin sehingga mininggikan kadar gula darah.
o Enfluran (etran, aliran)

Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih iritatif
disbanding halotan. Depresi terhadap sirkulasi lebih kuat dibanding halotan, tetapi lebih
jarang menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih baik disbanding
halotan.
o Isofluran (foran, aeran)
Meninggikan aliran darah otak dan tekanan intracranial. Peninggian aliran darah
otak dan tekanan intracranial dapat dikurangi dengan teknik anestesi hiperventilasi,
sehingga isofluran banyak digunakan untuk bedah otak.
Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal, sehingga digemari
untuk anestesi teknik hipotensi dan banyak digunakan pada pasien dengan gangguan
koroner.
o Desfluran (suprane)
Sangat mudah menguap.

Potensinya

rendah

(MAC

6.0%),

bersifat

simpatomimetik menyebabkan takikardi dan hipertensi. Efek depresi napasnya seperti


isofluran dan etran. Merangsang jalan napas atas sehingga tidak digunakan untuk induksi
anestesi.
o Sevofluran (ultane)
Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan isofluran. Baunya tidak
menyengat dan tidak merangsang jalan napas, sehingga digemari untuk induksi anestesi
inhalasi disamping halotan.
Induksi per rectal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau midazolam.
Induksi mencuri
Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang tidur. Induksi inhalasi biasa hanya
sungkup muka tidak kita tempelkan pada muka pasien, tetapi kita berikan jarak
beberapa sentimeter, sampai pasien tertidur baru sungkup muka kita tempelkan.
Pelumpuh otot nondepolarisasi Tracurium 20 mg (Antracurium)
o Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik, tetapi tidak menyebabkna
depolarisasi,

hanya

menghalangi

asetilkolin

menempatinya,

sehingga

asetilkolin tidak dapat bekerja.


o Dosis awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB, durasi selama 2045 menit, kecepatan efek kerjanya -2 menit.
o Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot:
Cegukan (hiccup)

III.

Dinding perut kaku


Ada tahanan pada inflasi paru

RUMATAN ANESTESI (MAINTAINANCE)


Dapat dikerjakan secara intravena (anestesi intravena total) atau dengan
inhalasi atau dengan campuran intravena inhalasi.
Rumatan anestesi mengacu pada trias anestesi yaitu tidur rinan (hypnosis)
sekedar tidak sadar, analgesia cukup, diusahakan agar pasien selama dibedah tidak
menimbulkan nyeri dan relaksasi otot lurik yang cukup.
Rumatan intravena biasanya menggunakan opioid dosis tinggi, fentanil 10-50
g/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan analgesia cukup,
sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh otot. Rumatan intravena dapat juga
menggunakan opioid dosis biasa, tetapi pasien ditidurkan dengan infuse propofol 412 mg/kgBB/jam. Bedah lama dengan anestesi total intravena, pelumpuh otot dan
ventilator. Untuk mengembangkan paru digunakan inhalasi dengan udara + O 2 atau
N2O + O2.
Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2 dengan
perbandingan 3:1 ditambah halotan 0,5-2 vol% atau enfluran 2-4% atau isofluran 2-4
vol% atau sevofluran 2-4% bergantung apakah pasien bernapas spontan, dibantu atau
dikendalikan.

IV.

TATALAKSANA JALAN NAPAS


Hubungan jalan napas dan dunia luar melalui 2 jalan:
1. Hidung
Menuju nasofaring
2. Mulut
Menuju orofaring
Hidung dan mulut dibagian depan dipisahkan oleh palatum durum dan
palatum molle dan dibagian belakang bersatu di hipofaring. Hipofaring menuju
esophagus dan laring dipisahkan oleh epiglotis menuju ke trakea. Laring terdiri

dari tulang rawan tiroid, krikoid, epiglotis dan sepasang aritenoid, kornikulata dan
kuneiform.
A. Manuver tripel jalan napas
Terdiri dari:
1. Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital.
2. Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus mandibula
3. Mulut dibuka
Dengan maneuver ini diharapkan lidah terangkat dan jalan napas bebas, sehingga gas
atau udara lancer masuk ke trakea lewat hidung atau mulut.
B. Jalan napas faring
Jika maneuver tripel kurang berhasil, maka dapat dipasang jalan napas mulutfaring lewat mulut (oro-pharyngeal airway) atau jalan napas lewat hidung (nasopharyngeal airway).
C. Sungkup muka
Mengantar udara / gas anestesi dari alat resusitasi atau system anestesi ke jalan
napas pasien. Bentuknya dibuat sedemikian rupa sehingga ketika digunakan untuk
bernapas spontan atau dengan tekanan positif tidak bocor dan gas masuk semua ke
trakea lewat mulut atau hidung.
D. Sungkup laring (Laryngeal mask)
Merupakan alat jalan napas berbentuk sendok terdiri dari pipa besar berlubang
dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya dapat dikembang-kempiskan
seperti balon pada pipa trakea. Tangkai LMA dapat berupa pipa kerasdari polivinil
atau lembek dengan spiral untuk menjaga supaya tetap paten.
Dikenal 2 macam sungkup laring:
1. Sungkup laring standar dengan satu pipa napas
2. Sungkup laring dengan dua pipa yaitu satu pipa napas standar dan lainnya pipa
tambahan yang ujung distalnya berhubungan dengan esophagus.
E. Pipa trakea (endotracheal tube)
Mengantar gas anestesi langsung ke dalam trakea dan biasanya dibuat dari bahan
standar polivinil-klorida. Pipa trakea dapat dimasukan melalui mulut (orotracheal
tube) atau melalui hidung (nasotracheal tube).
F. Laringoskopi dan intubasi
Fungsi laring ialah mencegah bedan asing masuk paru. Laringoskop merupakan
alat yang digunakan untuk melihat laring secara langsung supaya kita dapat

memasukkan pipa trakea dengan baik dan benar. Secara garis besar dikenal dua
macam laringoskop:
1. Bilah, daun (blade) lurus (Macintosh) untuk bayi-anak-dewasa
2. Bilah lengkung (Miller, Magill) untuk anak besar-dewasa.
Klasifikasi tampakan faring pada saat membuka mulut terbuka maksimal dan
lidah dijulurkan maksimal menurut Mallapati dibagi menjadi 4 gradasi.
Gradasi
1
2
3
4

Pilar faring
+
-

Uvula
+
+
-

Palatum Molle
+
+
+
-

Indikasi intubasi trakea


Intubasi trakea ialah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam trakea melalui
rima glottis, sehingga ujung distalnya berada kira-kira dipertengahan trakea antara pita
suara dan bifurkasio trakea. Indikasi sangat bervariasi dan umumnya digolongkan sebagai
berikut:
1. Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun.
Kelainan anatomi, bedah kasus, bedah posisi khusus, pembersihan sekret jalan napas,
dan lain-lainnya.
2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
Misalnya saat resusitasi, memungkinkan penggunaan relaksan dengan efisien,
ventilasi jangka panjang.
3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi
Kesulitan intubasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Leher pendek berotot


Mandibula menonjol
Maksila/gigi depan menonjol
Uvula tak terlihat
Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
Gerak vertebra servikal terbatas

Komplikasi intubasi

1. Selama intubasi
a. Trauma gigi geligi
b. Laserasi bibir, gusi, laring
c. Merangsang saraf simpatis
d. Intubasi bronkus
e. Intubasi esophagus
f. Aspirasi
g. Spasme bronkus
2. Setelah ekstubasi
a. Spasme laring
b. Aspirasi
c. Gangguan fonasi
d. Edema glottis-subglotis
e. Infeksi laring, faring, trakea
Ekstubasi
1. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar, jika:
a. Intubasi kembali akan menimbulkan kesulitan
b. Pasca ekstubasi ada risiko aspirasi
2. Ekstubasi dikerjakan pada umumnya pada anestesi sudah ringan dengan catatan tak
akan terjadi spasme laring.
3. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari sekret dan cairan
lainnya.

A.

DEFINISI
Tumor abdomen adalah suatu massa yang padat dengan ketebalan yang berbedabeda, yang disebabkan oleh sel tubuh yang yang mengalami transformasi dan tumbuh
secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut berbeda
dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Kelainan ini dapat meluas ke
retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter atau vena kava inferior. Massa jaringan
fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur yang dibungkusnya tetapi tidak
menginvasinya.
Yang termasuk tumor intra abdomen antara lain, Tumor hepar, Tumor limpa / lien,
Tumor lambung / usus halus, Tumor colon, Tumor ginjal (hipernefroma), Tumor

pankreas. Pada anak-anak dapat terjadi Tumor wilms (ginjal). Yang akan dibahaskan di
sini adalah yang terutama tumor di saluran cerna intestinal.

B.

ETIOLOGI
Penyebab neoplasi umumnya bersifat multifaktorial. Beberapa faktor yang
dianggap sebagai penyebab neoplasi antara lain meliputi bahan kimiawi, fisik, virus,
parasit, inflamasi kronik, genetik, hormon, gaya hidup, serta penurunan imunitaws.
Penyebab terjadinya tumor karena terjadinya pembelahan sel yang abnormal. Perbedaan
sifat sel tumor tergantung dari besarnya penyimpangan dalam bentuk dan fungsi
autonominya

dalam

pertumbuhan,

kemampuannya

mengadakan

infiltrasi

dan

menyebabkan metastasis.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tumor antara lain:
1. Karsinogen
a. Kimiawi
Bahan kimia dapat berpengrauh langsung (karsinogen) atau memerlukan
aktivasi terlebih dahulu (ko-karsinogen) untuk menimbulkan neoplasi. Bahan kimia ini
dapat merupakan bahan alami atau bahan sintetik/semisintetik. Benzopire suatu
pencemar lingkungan yang terdapat di mana saja, berasal dari pembakaran tak sempurna
pada mesin mobil dan atau mesin lain (jelaga dan ter) dan terkenal sebagai suatu
karsinogen bagi hewan maupun manusia. Berbagai karsinogen lain antara lain nikel
arsen, aflatoksin, vinilklorida. Salah satu jenis benzo (a) piren, yakni, hidrokarbon
aromatik polisiklik (PAH), yang banyak ditemukan di dalam makanana yang dibakar
menggunakan arang menimbulkan kerusakan DNA sehingga menyebabkan neoplasia
usus, payudara atau prostat.
b. Fisik
Radiasi gelombang radioaktif seirng menyebabkan keganasan. Sumber radiasi
lain adalah pajanan ultraviolet yang diperkirakan bertambah besar dengan hilangnya
lapisan ozon pada muka bumi bagian selatan. Iritasi kronis pada mukosa yang

disebabkan oleh bahan korosif atau penyakit tertentu juga bisa menyebabkan terjadinya
neoplasia.
c. Viral
Dapat dibagi menjadi dua berdasarkan jenis asam ribonukleatnya; virus DNA
serta RNA. Virus DNA

yang sering dihubungkan dengan kanker antara human

papiloma virus (HPV), Epstein-Barr virus (EPV), hepatiti B virus (HBV), dan hepatitis
C virus (HCV). Virus RNA yang karsonogenik adalah human T-cell leukemia virus I
(HTLV-I) .
2. Hormon
Hormon dapat merupakan promoter kegananasan.
3. Faktor gaya hidup
Kelebihan nutrisi khususnya lemak dan kebiasaan makan- makanan yang kurang
berserat. Asupan kalori berlebihan, terutama yang berasal dari lemak binatang, dan
kebiasaan makan makanan kurang serat meningkatkan risiko berbagai keganasan,
seperti karsinoma payudara dan karsinoma kolon.
4. Parasit
Parasit schistosoma hematobin yang mengakibatkan karsinoma planoseluler.
5. Genetik, infeksi, trauma, hipersensivitas terhadap obat.

C. KLASIFIKASI
Dewasa :
-

Tumor hepar

Tumor limpa / lien

Tumor lambung / usus halus

Tumor colon

Tumor ginjal (hipernefroma)

Tumor pankreas

Anak-anak :

- Tumor wilms (ginjal)

D. GEJALA KLINIS
Kanker dini sering kali tidak memberikan keluhan spesifik atau menunjukan tanda
selama beberapa tahun. Umumnya penderita merasa sehat, tidak nyeri dan tidak
terganggu dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Pemeriksaan darah atau pemeriksaan
penunjang umumnya juga tidak menunjukkan kelainan.
Oleh karena itu, American Cancer Society telah mengeluarkan peringatan tentang
tanda dan gejala yang mungkin disebabkan kanker. Tanda ini disebut 7-danfer warning
signals CAUTION. Yayasan Kanker Indonesia menggunakan akronim WASPADA
sebagai tanda bahaya keganasan yang perlu dicuraigai.
C = Change in
bowel or
bladder habit
A = a sore that

Tumor abdomen merupakan salah satu tumor yang sangat sulit untuk dideteksi.
Berbeda dengan jenis tumor lainnya yang mudah diraba ketika mulai mendesak jaringan
di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena sifat rongga tumor abdomen yang longgar dan
sangat fleksibel. Tumor abdomen bila telah terdeteksi harus mendapat penanganan
khusus. Bahkan, bila perlu dilakukan pemantauan disertai dukungan pemeriksaan secara
intensif. Bila demikian, pengangkatan dapat dilakukan sedini mungkin.
Biasanya adanya tumor dalam abdomen dapat diketahui setelah perut tampak
membuncit dan mengeras. Jika positif, harus dilakukan pemeriksaan fisik dengan hatihati dan lembut untuk menghindari trauma berlebihan yang dapat mempermudah
terjadinya tumor pecah ataupun metastasis. Dengan demikian mudah ditentukan pula
apakah letak tumornya intraperitoneal atau retroperitoneal. Tumor yang terlalu besar sulit
menentukan letak tumor secara pasti. Demikian pula bila tumor yang berasal dari rongga
pelvis yang telah mendesak ke rongga abdomen.
Berbagai pemeriksaan penunjang perlu pula dilakukan, seperti pemeriksaan darah
tepi, laju endap darah untuk menentukan tumor ganas atau tidak. Kemudian mengecek

apakah tumor telah mengganggu sistem hematopoiesis, seperti pendarahan intra tumor
atau metastasis ke sumsum tulang dan melakukan pemeriksaan USG atau pemeriksaan
lainnya.

Tanda dan Gejala :


-

Hiperplasia.

Konsistensi tumor umumnya padat atau keras.

Tumor epitel biasanya mengandung sedikit jaringan ikat, dan apabila tumor berasal
dari masenkim yang banyak mengandung jaringan ikat elastis kenyal atau lunak.

Kadang tampak Hipervaskulari di sekitar tumor.

Bisa terjadi pengerutan dan mengalami retraksi.

Edema sekitar tumor disebabkan infiltrasi ke pembuluh limfa.

Konstipasi.

Nyeri.

Anoreksia, mual, lesu.

Penurunan berat badan.

Pendarahan.

.
E. PEMERIKSAAN KLINIS
Pemeriksaan klinik di sini adalah pemeriksaan rutin yang biasa dilakukan dengan
cara anamnesis dan pemeriksaan fisik, yaitu:
-

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

Pemeriksaan ini sangat penting, karena dari hasil pemeriksaan klinik yang
dilakukan secara teliti, menyeluruh, dan sebaik-baiknya dapat ditegakkan diagnosis klinik
yang baik pula. Pemeriksaan klinik yang dilakukan harus secara holistik, meliputi biopsiko-sosio-kulturo-spiritual.
Anamnesis seorang pasien, dapat bermacam-macam mulai dari tidak ada keluhan
sampai banyak sekali keluhan, bisa ringan sampai dengan berat. Semakin lanjut stadium
tumor, maka akan semakin banyak timbul keluhan gejala akibat tumor ganas itu sendiri
atau akibat penyulit yang ditimbulkannya.
Apabila ditemukan tumor ganas di dalam atau di permukaan tubuh yang
jumlahnya banyak (multiple), maka perlu ditanyakan tumor mana yang timbul lebih
dahulu. Tujuannya adalah untuk memperkirakan asal dari tumor tersebut. Pemeriksaan
fisik ini sangat penting sebagai data dasar keadaan umum pasien dan keadaan awal tumor
ganas tersebut saat didiagnosa. Selain pemeriksaan umum, pemeriksaan khusus terhadap
tumor ganas tersebut perlu dideskripsikan secara teliti dan rinci. Untuk tumor ganas yang
letaknya berada di atau dekat dengan permukaan tubuh, jika perlu dapat digambar
topografinya pada organ tubuh supaya mudah mendeskripsikannya. Selain itu juga perlu
dicatat :
1. Ukuran tumor ganas, dalam 2 atau 3 dimensi,
2. Konsistensinya
3. Ada perlekatan atau tidak dengan organ di bawahnya atau kulit di atasnya.
F. PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Endoskopi (sebuah penelitian dimana sebuah pipa elastis digunakan untuk melihat
bagian dalam pada saluran pencernaan) adalah prosedur diagnosa terbaik. Hal yang
memudahkan seorang dokter untuk melihat langsung dalam perut, untuk memeriksa
helicobacter pylori, dan untuk mengambil contoh jaringan untuk diteliti di bawah sebuah
mikroskop (biopsi). Sinar X barium jarang digunakan karena hal tersebut jarang
mengungkapkan kanker tahap awal dan tidak dianjurkan untuk biopsi. Jika kanker

ditemukan, orang biasanya menggunakan computer tomography (CT) scan pada dada dan
perut untuk memastikan penyebarannya yang mana tumor tersebut telah menyebar ke
organ-organ lainnya. Jika CT scan tidak bisa menunjukkan penyebaran tumor. Dokter
biasanya melakukan endoskopi ultrasonic (yang memperlihatkan lapisan saluran
pencernaan lebih jelas karena pemeriksaan diletakkan pada ujung endoskopi) untuk
memastikan kedalaman tumor tersebut dan pengaruh pada sekitar getah bening.
Pemeriksaan imaging yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis
tumor ganas (radiodiagnosis) banyak jenisnya mulai dari yang konvensional sampai
dengan yang canggih, dan untuk efisiensi harus dipilih sesuai dengan kasus yang
dihadapi. Pada tumor ganas yang letaknya profunda dari bagian tubuh atau organ,
pemeriksaan imaging diperlukan untuk tuntunan (guiding) pengambilan sample patologi
anatomi, baik itu dengan cara fine needle aspiration biopsi (FNAB) atau biopsy lainnya.
Selain untuk membantu menegakkan diagnosis, pemeriksaan imaging juga berperan
dalam menentukan staging dari tumor ganas. Beberapa pemeriksaan imaging tersebut
antara lain:
-

Radiografi polos atau radiografi tanpa kontras, contoh: X-foto tengkorak, leher,
toraks, abdomen, tulang, mammografi, dll.

Radiografi dengan kontras, contoh: Foto Upper Gr, bronkografi, Colon in loop,
kistografi, dll.

USG (Ultrasonografi), yaitu pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara.


Contoh: USG abdomen, USG urologi, mammosografi, dll.

CT-scan (Computerized Tomography Scanning), contoh: Scan kepala, thoraks,


abdomen, whole body scan, dll.

MRI (Magnetic Resonance Imaging). Merupakan alat scanning yang masih tergolong
baru dan pada umumnya hanya berada di rumah sakit besar. Hasilnya dikatakan lebih
baik dari CT.

Scinfigrafi atau sidikan Radioisotop. Alat ini merupakan salah satu alat scanning
dengan menggunakan isotop radioaktif, seperti: Iodium, Technetium, dll. Contoh:
scinfigrafitiroid, tulang, otak, dll.

RIA (Radio Immuno Assay), untuk mengetahui petanda tumor (tumor marker).

G. GAMBARAN RADIOLOGI
1. Tumor Hepar
Ada 2 macam gambaran hepatoma yaitu bentuk nodular yang gambaran nodul
tumor jelas misalnya tumor yang tidak berbatas rata, atau bentuk difuse. Hepatoma
bentuk difuse ditandai dengan edchopattern yang sangat kasat dan mengelompok
dengan batas tidak teratur dan bagian sentralnya lebih ecvhogenik. Pembuluh darah
disekitarnya sering distorted. Seringkali

para ultrasonografer yang tidak

berpengalaman membuat diagnosa sirosis padahal diagnosa yang betul adalah


sirosis dan hepatoma diffuse. Gambaran hepatoma diffuse harus dibedakan dari
gambaran focal fatty liver dimana ada gambaran echopattern yang kasar tetapi fokal.

Hepatoma yang berukuran 3 cm atau kurang disebut : Hepatoma dini (early).


Bila ukuran lebih dari 3 cm disebut : Hepatoma lanjut (advanced). Hepatoma dini
sering kali bersifat hypoechoic sedang hepatoma lanjut biasanya hyperechoic atau
multiple echo yang menunjukkan nekrosis atau fibrosis dalam tumor. Kadang
kadang hepatoma dini berbentuk seperti mata sapi (bulls eye).
2. Tumor Limpa
Pada

tumor

primer

pada

limpa

ditemukan

gambaran

bulging

atau

penggelembungan tepi limpa dengan struktur eko parenkim yang tidak homogeny.
3. Tumor Lambung atau Usus halus
Bila ada tumor lambung, maka dengan sendirinya kontras tidak dapat mengisinya,
sehingga pada pengisian lambung, tempat tersebut merupakan tempat yang luput
dari pengisian kontras (luput isi atau filling defect).

Stadium Awal Kanker Lambung


Lesi-lesi yang Nampak di mukosa dan submukosa diklasifikasikan menjadi 3 tipe:
a. Lesi tipe I yaitu adanya elevasi dan penonjolan keluar lumen lebih dari 5 mm.
b. Lesi tipe II yaitu adanya lesi superficial yang adanya elevasi (IIa), datar (IIb),
atau tertekan (IIc).
c. Lesi tipe III stadium kanker awal adalah gambaran dangkal, ulkus ireguler
dikelilingi nodul-nodul, kumpulan lipatan-lipatan mukosa.
Kanker Lambung Stadium Lanjut
Kanker lambung kadang-kadang Nampak dalam foto polos abdomen sebagai
gambaran abnormalitas pada kontur gaster atau adanya gambaran massa soft tissue
yang masuk ke dalam kontur gaster. Jarang ditemukan musin yang diproduksi kanker
yang akan memberikan gambaran area kalsifikasi. Pada studi barium, karsinoma
gaster tampak gambaran polypoid, ulcerative atau lesi infiltrate.
4. Tumor Kolon
-

Adanya penonjolan ke dalam lumen berupa polip bertangkai (pedunculated)


atau tak bertangkai (sesile).

Terjadi kerancuan dinding kolon bersifat simetris (napskin ring) atau asimetris
(apple core).

Kekakuan dinding colon bersifat segmental (lumen colon dapat atau tidak
menyempit)

5. Tumor Ginjal
-

pemeriksaan dengan IVP terlihat gambaran sistem kalixes yang tidak teratur
(tumor willms).

bayangan masa dapat tidak homogen, tidak ada kalsifikasi, mengandung


banyak jaringan lunak (hipernefroma).

massa di daerah ginjal, batas tidak jelas, menutupi bayangan musculus psoas
bagian atas (sarcoma ginjal).

6. Tumor Ureter

Terdapat gambaran filling defect pada daerah yang terdapat polip dengan atau
tanpa dilatasi proksimalnya.
7. Tumor Buli-buli
Penampakan carsinoma vesika urinaria dapat berupa defek pengisian pada
vesika urinaria yang terisi kontras atau pola mukosa yang tidak teratur pada film
kandung kemih pascamiksi. Jika urogram intravena menunjukkan adanya obstruksi
ureter, hal tersebut lebih menekankan pada keterlibatan otot otot di dekat
orifisium ureter dibandingkan obstruksi akibat massa neoplasma yang menekan
ureter. CT atau MRI bermanfaat dalam penilaian praoperatif terhadap penyebab
intramural dan ekstramural, invasi lokal, pembesaran kelenjar limfe, dan deposit
sekunder pada hati atau paru..
8. Tumor Pankreas
CT Scan dari multisection aksial pada pasien dengan kanker pankreas
menunjukkan penipisan massa rendah di kepala pankreas, berdekatan dengan vena
mesenterika superior.

NEOPLASMA DI USUS HALUS


Neoplasma usus kecil primer sangat jarang. Kolon terkena 40 kali lebih besar dari usus
kecil. Gejala sering kali tidak jelas; nyeri epigastrik, mual, muntah, kolik, diare, perdarahan
(biasanya samar). Alasan yang paling sering untuk operasi adalah obstruksi, perdarahan dan
nyeri. Tumor jinaj menyebabkan intususepsi pada orang dewasa; tumor ganas secara langsung
mengobstruksi atau membengkokkan usus. Diagnosis sulit untuk ditentukan, endoskopi
bermanfaat untuk deodenum, sisa usus membutuhkan enteroklisis (intubasi usus kecil dengan
radigraf barium).
Neoplasma jinak
Berasal dari epitel atau jaringan penyambung. Paling sering adenoma, leiomioma atau
lipoma. Sering tidak menimbulkan gejala, kecuali menyebabkan obstruksi melalu intususepsi,

juga dapat berdarah (sepertiga perdarahan samar). Pembedahan diindikasikan jika diagnosis
dibuat atau diduga. Yang paling sering digunakan adalah reseksi segmental sederhana.
Adenoma
Adenoma sejati, adenoma villosa atau adenoma kelenjar brunner (proliferasi glandular
deodenum hiperplastik tanpa potensi keganasan); 20% dalam deodenum mayoritas asimptomati.
Adenoma billosa mempunya potensial keganasan 35%-55%.
Leiomioma
Jinak, tunggal, lesi otot polos. Paling umum timbul dengan perdarahan.
Sindroma Peutz-Jeghers
Pigmentasi melanotik mukokutan (sirkumoral, bukal, telapak tangan, telapak kaki,
perianal) dan polip gastrointestinal. Diturunkan secara dominan sederhana. Polipnya multiple
pada jejunum, iluem dan rektum, dan merupakan hamartoma. Dapat menyebabkan nyeri kolik
dari intususepsi intermitten. Reseksi kuratif biasanya tidak dimungkinkan. Pembedahan
diindikasikan utnuk obstruksi atau perdarahan.
Neoplasma ganas
Adenokarsinoma (paling umum), karsinoid, sarkoma, limfoma. Pasien mengalami diare
dengan mukus/tenesmu, obstruksi dan perdarahan kronis. Biasanya timbul secara tersembunyi.
Terapi

adalah

reseksi

luas,

mencakup

nodus.

Lesi

deodenum

membutuhkan

pankretikoduodenektomi. Reseksi paliatif untuk mengurangi gejala.obstruksi. Kelangsungan


hidup keseluruhan buruk (rata-rata kelangsungan hidup 5 tahun adalah 20%). Karsinoma
periampular mungkin mempunyai kelangsungan hidup 5 tahun sampai 40%.
Adenokarsinoma
Sekitar 50% dari keganasan usus kecil. Kebanyakan dalam deodenum dan jejunum
proksimal; 50% karsinoma deodenum melibatkan mapula dan berkaitan dengan ikterus
intermitten. Lesi jejunum berkaitan dengan obstruksi.
Sarkoma

Merupakan 20% dari keganasan usus kecil; leiomiosarkoma paling umum. Dapat
berdarah atau mengobstruksi.
Limfoma
Merupakan 10-15% dari keganasan usus kecil. Paling umum dalam ileum. Mungkin
merupakan penyakit usus kecil primer atau bagian dari penyakit sistemik.
Karsinoid
Timbul dari sel enterokromafin (Kulchitdky). Terjadi sama seringnya dengan
adenokarsinoma usus kecil. Potensial keganasan bervariasi. Mensekresi serotonin dan substansi
P. Sindrom karsinoid (warna merah pada wajah, bronkospasme, diare, kolaps vasomotor,
hepatomegali, penyakit katup jantung kanan) terjadi dalam < 50%. Beberapa orang percaya
bahawa metastasis hepatik harus ada sebelum terjadinya sindrom. Paling sering, karsinoid
timbuk dalm apendik (46%), ileum (24%) dan rektum (17%). Tumor apendiks 3% bermetastasis
bila dibandingkan dengan karsinoid ileum (angka metastatik 35%). Dari tumor yang berdiameter
<1 cm (75% dari karsinoid gastrointestinal), hanya 2% yang bermetastasi. Penampilan mayou
adalah kuning atau coklat, bulat, nodul keras yang ditutupi oleh mukosa normal. Gejalanya
adalah sindrom karsinoid (jarang) atau nyeri abdomen, obstruksi, diare dan turunnya berat badan.
Diagnosis serial usus kecil, arteriogram mesenterik, CT scan bermanfaat. Urin untuk 5-HIAA
dengan/tanpa perangsangan pentagastrin digunakan untuk diagnosis sindrom.
Sindroma karsinoid ganas jarang terjadi, hanya dalam 6-9% pasien karsinoid. Paling sering
dengan penyakit usus kecil dan metastatik hepatk. Mengalami hepatomegali, diare, warna merah
pada wajah, penyakit kanutng jantung kanan dan asma. Gejala diakibatkan oleh serotonin,
substansi P, kemungkina bradikinin dan prostaglandin E dan F.
Terapi karsinoid primer <1 cm diterapi dengan reseksi usus kecil segmental. Lesi yang lebih
besar atau lesi dengan keterlibatan dari nodus, membutuhkan eksisi luas usus dengan inklusi dan
mesenterium. Karsinoid apendiseal <2 cm membutuhkan hanya apendiktomi sederhana; >/= 2cm
harus menjalani hemikolektomi. Sindrom karsinoid dapat diterapi dengan reseksi kuratif atau
paliatif, atau dengan somastatin kerja lama.

Prognosis keseluruhan 54%, 75% untuk penyakit lokal, 59% untuk penyebaran regional, dan
19% untuk penyebaran distal. Karena sifatnya yang indulen, membesar, maka digunakan reseksi
paliatif.

BAB VI
KESIMPULAN
Pasien merupakan pasien bedah dengan diagnosis tumor intraabdomen. Dari
anamnesis pasien dating dengan keluhan nyei perut sejak 1 bulan SMRS, dengan
tanda vital dalam batas normal. Pada pemeiksaan fisik didapatkan abdomen nyeri
tekan seluruh lapang perut, supel, bising usus menurun, dan teraba masa dikudran
kanan bawah (+). Pada pemeriksaan laborotorium didapatkan dalam batas normal,
pada pemeriksaan CT Scan abdomen didapatkan masa di kuadran kanan bawah (+).
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka diagnosis preoperative masa
intraabdomen. Diagnosis anesthesia ASA III. Jenis operasi laparotomi eksplorasi.
Jenis anastesi general anesthesia dengan ET

DAFTAR PUSTAKA

1. Muhiman M, Latief SA, Basuki G. Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan


terapi Intensif FKUI
2. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi kedua.
Jakarta: FKUI.2011
3. General
Anesthesia.

Accessed

on

July

29

2012.

Available

at

http://www.mayoclinic.com/health/anesthesia/MY00100
4. Soenarto RF, Chandra S. Buku Ajar Anestesiologi. Jakarta 2014: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta 2014.
5. Hunter JG. Neoplasms in Small Intestine. In : Schwarts Principles of Surgery 8 th
edition. 2007. US : McGraw-Hill Companies.
6. Silbernagl S, Lang F. Intra Abdominal Masses. 2000. In : Color Atlas of
Pathophysiology. New York : Thieme,p:164-7.
7. Sjamsuhidayat R, de Jong W. Kelainan di Usus Halus. Dalam : Buku Ajar Ilmu
Bedah. Edisi 1. 1997. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 767-73.
8. Heuman
DM.
Abdominal
Neoplasms.
2011.
Diunduh
http://emedicine.medscape. com/article/175667-overview.

dari