Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PENUTUP
4.1. Kesimpulan
1.

Rinosinusitis dentogen adalah peradangan mukosa hidung satu atau lebih mukosa
sinus paranasal yang disebabkan oleh penyebaran infeksi gigi. 10% kasus
rinosinusitis dengan sumber odontogenik adalah disebabkan oleh rahang atas.
Meskipun rinosinusitis dentogen adalah kondisi yang relatif umum, patogenesisnya
masih belum jelas serta masih kurangnya konsensus mengenai gejala klinis,

2.

pengobatan, dan pencegahan.


Terjadinya rinosinusitis dentogen dapat terjadi melalui dua cara, yaitu infeksi gigi
yang kronis dapat menimbulkan jaringan granulasi di salam mukosa sinus maksila,
penyebaran secara langsung, hematogen atau limfogen dari granuloma apikal atau
kantong periodontal gigi ke sinus maksila.

3.

Penyebab utama odontogenik rinosinusitis maksillaris kronik adalah


iatrogenik 65,7 % dari kasus . patologi periodontal apikal ( termasuk
periodontitis apikal , apikal granuloma , dan kista odontogenik ) dan
periodontitis marginal masing-masing 25,1 % dan 8,3 %. Periimplantitis ,
ektopik gigi , dan odontoma tetap penyebab..Gigi molar pertama dan kedua
adalah gigi yang terkena dampak paling sering ketika dilaporkan, masingmasing mewakili 35,6% dan 22% dari kasus,. Mereka diikuti oleh molar
ketiga (17,4%) dan yang kedua premolar (14,4%)

4.

Diagnosis dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan rinoskopi anterior dan


rinoskopi posterior, nasoendoskopi, disertai pemeriksaan penunjang berupa

5.

transluminasi, foto rontgen, CT-Scan dan MRI.


Bila rinosinusitis disebabkan faktor gigi biasanya pasien mengeluhkan hidung
berbau. Penatalaksanaannya adalah mengatasi masalah gigi, konservatif, diberikan
obat-obatan; antibiotika, dekongestan, antihistamin, kortikosteroid dan irigasi sinus
serta operatif. Beberapa macam tindakan bedah sinus yaitu antrostomi meatus
inferior, Caldwell-Luc, etmoidektomi intra dan ekstra nasal, trepanasi sinus frontal
dan bedah sinus endoskopik fungsional.

4.2 Saran

35

1. Perawatan odontogenik rinosinusitis kronik maksillaris membutuhkan

kolaborasi antara spesialis THT, praktisi gigi, yang stomatologist, dan ahli
radiologi. Perawatan selalu dimulai dengan perawatan gigi, dan kemudian
menghilangkan benda asing yang dicapai dengan rute endoskopi

35