Anda di halaman 1dari 91

BAB E.

PENDEKATAN METODOLOGI
DAN PROGARAM
KERJA

E.1.

PENDEKATAN TEKNIS
Tugas konsultan sesuai dalam kerangka acuan kerja (TOR) mencakup pekerjaan pokok,
yaitu PW-01 : PENGAWASAN TEKNIK JALAN DI KOTA KUPANG DAN KABUPATEN
KUPANG . Konsultan menyajikan tentang pemahaman proyek untuk pekerjaan tersebut
yang diuraikan dalam sub-bab berikut ini, dan tugas utama pekerjaan Konsultan
Pengawasan Teknis diperlihatkan pada Gambar E.1.

E.1.1 PENGAWASAN TEKNIS


1. Uraian pekerjaan yang dilakukan oleh Konsultan Pengawas
Konsultan Pengawas bertugas untuk membantu Pengguna Jasa dalam pengendalian dan
pengawasan pelaksanaan proyek pembangunan, meliputi :

Mengendalikan dan mengawasi rencana kerja kontraktor pelaksanaan pekerjaan


konstruksi dari segi kualitas, kuantitas serta laju pencapaian volume sesuai dengan
waktu yang ditentukan.
Memeriksa dan menyetujui pekerjaan-pekerjaan sementara.
Pemeriksaan dan pengetesan.
Membantu penyiapan shop drawing.
Menyimpan catatan lapangan.
Pengukuran lapangan.
Mengkaji usulan perubahan yang diajukan kontraktor.
Mengusulkan perubahan pekerjaan (jika perlu).
Membuat perhitungan dan gambar kerja apabila terjadi perubahan / modifikasi di
lapangan.
Membantu kontraktor dalam mempersiapkan as built drawing.
Mengendalikan dan mengawasi perubahan-perubahan yang. terjadi di lapangan.
Memeriksa dan menanda-tangani Berita Acara Bobot Kemajuan Pekerjaan yang
diajukan oleh Kontraktor untuk pembayaran termijn / monthly certificate.
Menyampaikan usulan penyempurnaan-penyempurnaan pekerjaan.
Membantu Pengguna Jasa dalam proses serah terima PHO dan jika
asignmentnya masih cukup termasuk FHO.
Membuat justifikasi teknis untuk perubahan pekerjaan / tambah kurang atau
perpanjangan waktu.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 1

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

PEKERJAAN KONSULTAN PENGAWAS

Pengendalian mutu
Pengendalian kuantitas
Pengendalian waktu
Persiapan Awal

Pengawasan Teknik

Pengendalian biaya

Laporan Akhir

Pengendalian lalu-lintas
Sertifikasi dan pembayaran
Bantuan teknis
Serah terima pekerjaan

Gambar E.1. : Tugas utama pekerjaan Konsultan Pengawasan.

E.1.2 MONITORING DAN MANAJEMEN TEKNIK


1. Fungsi dan proses pengendalian
Pengendalian / monitoring adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang
sesuai dengan sasaran, merancang sistem informasi, membandingkan pelaksanaan
dengan standard, menganalisis kemungkinan adanya penyimpangan antara pelaksanaan
dan standard, kemudian mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan agar sumber
daya digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai sasaran.
Langkah-langkah proses monitoring proyek dapat diuraikan sebagai berikut :

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 2

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Menentukan sasaran
Definisi lingkup kerja
Menentukan standard dan kriteria sebagai patokan dalam rangka mencapai
sasaran
Merancang / menyusun sistem informasi, pemantauan, dan pelaporan hasil
pelaksanaan pekerjaan
Mengkaji, investigasi dan menganalisis hasil pekerjaan terhadap standard,
kriteria, dan sasaran yang telah ditentukan
Mengadakan tindakan pembetulan
Gambar E.2.. menunjukkan urutan langkah proses pengendalian proyek.

SIKLUS PENGENDALIAN PROYEK


a

b
SASARAN PROYEK

c
LINGKUP KERJA

STANDAR & KRITERIA

Menyusun SRK :
- Per hirarki
- Paket kerja
- Kode biaya

Membuat produk dengan :


- Anggaran
- Jadwal
- Mutu tertentu

- Milestone
- Anggaran per paket
- Jadwal / paket
- Standar mutu
- Kinerja
- Produktivitas

PERENCANAAN DAN PENYUSUNAN PROGRAM

TINDAKAN
PEMBETULAN

MENGKAJI DAN
MENYIMPULKAN

MEMANTAU
PRESTASI PEKERJAAN

- Relokasi sumber daya


- Jadwal alternatif
- Prosedur dan metode
- Rework

- Interpretasi masukan
- Biaya dan jadwal
- Kualitas
- Laporan kesimpulan

- Mengukur hasil kerja


- Mencatat pemakaian
sumber daya
- Memeriksa kualitas
- Mencatat kinerja dan
produktifitas

PENGENDALIAN

Gambar E.2. : Siklus pengendalian proyek.


2. Teknik dan metode pengendalian
Suatu sistem pemantauan dan pengendalian disamping memerlukan perencanaan yang
realistis sebagai tolok ukur pencapaian sasaran, juga harus dilengkapi dengan teknik dan

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 3

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

metode yang dapat segera mengungkapkan tanda-tanda terjadinya penyimpangan (bila


terjadi).
Agar suatu sistem pengendalian / monitoring dapat bekerja dengan efektif, diperlukan
unsur-unsur berikut.

Tolok ukur yang realistis

Perangkat yang dapat memproses dengan cepat dan tepat

Perkiraan yang akurat

Rencana tindakan (action plan)


Salah satu bagian pengelolaan mutu proyek yang penting adalah menyusun serta
menerapkan program penjaminan mutu (Quality Assurance). Tujuan utama kegiatan
penjaminan mutu adalah mengadakan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk
memberikan kepercayaan kepada semua pihak yang berkepentingan bahwa tindakan
yang diperlukan untuk mencapai tingkatan mutu produk telah dilaksanakan dengan
berhasil. Ini semua dapat ditunjukkan dengan catatan dan dokumen yang berkaitan
dengan quality assurance / quality control.
Audit pada aspek mutu perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana program QA/QC
(Quality Assurance - Quality Control) telah dilaksanakan. Hal-hal yang diaudit meliputi
bagian berikut ini.

Program menyeluruh untuk mencapai sasaran mutu


Kriteria fit for use dan aman
Mengikuti peraturan dan prosedur
Memenuhi spesifikasi dan kriteria
Identifikasi dan koreksi kekurangan yang menyebabkan obyek tidak memenuhi
mutu
Dokumen yang mencatat hasil implementasi program QA/QC

3. Pengendalian Rentang Pre-audit, Monitoring dan Post-audit


A. Rentang kendali Pre-audit
Kegiatan konsultan dalam rangka pengendalian teknis dalam rentang pre-audit adalah
seluruh kegiatan konsultan sebelum melakukan pengawasan, yang terdiri dari :

Pengumpulan dan analisa terhadap data

Pengecekan hasil perencanaan dengan membandingkan terhadap kondisi


lapangan

Pemeriksaan terhadap kesiapan kontraktor, yang meliputi material, peralatan,


tenaga dan jadwal pelaksanaan.
Kegiatan pengumpulan dan analisa data, informasi dan hasil perencanaan akan
menghasilkan catatan mengenai seluruh pekerjaan antara lain :

Jenis pekerjaan
Kuantitas pekerjaan
Kualitas yang dipersyaratkan
Schedule pelaksanaan

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 4

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Schedule pembayaran.

Pengecekan hasil perencanaan dilakukan dengan cara membawa hasil perencanaan ke


lokasi untuk menentukan apakah hasil perencanaan tersebut telah sesuai dengan
kondisi yang ada.
Apabila ternyata dari hasil pengecekan hasil design tidak sesuai dengan kondisi
lapangan, konsultan team supervisi akan membuat alternatif lain yang sesuai untuk
diajukan kepada Pemberi Tugas (Pengguna Jasa).
Material dan peralatan yang didatangkan kontraktor akan diperiksa terlebih dahulu oleh
konsultan sehingga benar-benar memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.
Jadwal waktu yang dibuat oleh kontraktor akan diteliti lebih dahulu apakah sudah
memadai terhadap volume pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan perkiraan tenaga
kerja / tukang yang akan mengerjakannya. Apabila menurut analisa tidak seimbang
antara volume dengan tenaga kerja dan peralatan terhadap waktu yang tersedia maka
konsultan akan menyarankan kepada kontraktor untuk menyiapkan tenaga kerja dan
peralatan yang secukupnya agar bisa selesai tepat pada waktunya.
Penyimpangan biaya keseluruhan biasanya disebabkan oleh adanya pekerjaan
tambahan sebagai akibat dari perubahan design dan pertambahan volume pekerjaan.
Agar tidak terjadi perubahan biaya terlalu besar, konsultan akan menggantikan nilai
pekerjaan tambah itu dengan pengurangan pekerjaan lainnya sehingga terjadi
kompensasi dan tidak memerlukan biaya tambah sepanjang hal tersebut memungkinkan
dan mendapat persetujuan dari Pemberi Tugas / Pengguna Jasa.
B. Rentang kendali Monitoring
Kegiatan pengendalian teknis rentang monitoring adalah kegiatan-kegiatan yang
dilakukan selama masa pelaksanaan pekerjaan. Meskipun konsultan pengawas telah
melakukan pre-audit namun setiap langkah pelaksanaan pekerjaan akan terus
memonitor agar kalau terjadi penyimpangan segera diketahui dan dapat diluruskan
kembali sesuai petunjuk yang benar. Selama periode ini konsultan akan selalu
melakukan evaluasi terhadap progres dan kwalitas pekerjaan yang dilaksanakan oleh
kontraktor.
Dalam melakukan monitoring, kerjasama antara anggota tim akan kita jaga sebaikbaiknya sehingga informasi dan pelaporan bisa berjalan dengan cepat, sehingga
kerugian yang menyangkut aspek mutu, volume, waktu dan biaya keseluruhan hasil
pekerjaan dapat dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya, selain mengawasi pekerjaan
fisik konsultan pengawas juga memonitor aspek lingkungan sekitar proyek, agar jangan
sampai pelaksana lapangan berikut tukang-tukangnya mengganggu, mematikan serta
merusak flora dan fauna yang ada.
Faktor keselamatan kerja juga akan dimonitor secara rutin dengan memperhatikan
peraturan-peraturan yang berlaku.
C. Rentang kendali Post-audit
Setiap kemajuan penyelesaian pekerjaan akan merupakan prestasi kerja bagi
kontraktor. Kemajuan fisik ini akan dipakai untuk pengajuan pembayaran senilai hasil
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 5

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

kerjanya. Namun kontraktor tidak akan bisa menyajikan permintaan pembayaran


sebelum mendapat rekomendasi dari konsultan pengawas bahwa hasil pekerjaannya
sudah memenuhi persyaratan teknis atau tidak.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 6

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

4. Penggunaan komputer
Dalam rangka team pengendalian teknik, bisa meningkatkan produktifitasnya,
memperbaiki kualitas sistem pelaporan, menghemat waktu dalam menyelesaikan
pekerjaan, menyederhanakan beberapa operasi, melakukan pengolahan berulang-ulang
secara otomatis, penghematan biaya, hal ini sangat perlu dalam monitoring dan
manajemen teknik menggunakan bantuan komputer baik perangkat kerasnya maupun
perangkat lunaknya.
Dengan bantuan program komputer ini Tim Konsultan akan bekerja melaksanakan tugas
monitoring dan manajemen teknik. Konsultan memandang perlu, untuk reporting dalam
monitoring kegiatan yang cukup banyaknya itu bantuan komputer sangat diperlukan.
E.1.3 SUPERVISI TEKNIS
Tugas utama konsultan sesuai dalam Kerangka Acuan Kerja mencakup melaksanakan
supervisi teknis, sertifikasi perkembangan fisik konstruksi dan pembayaran, pelaporan dan
evaluasi proyek, serah terima pekerjaan (Provisional Hand Over).
Block diagram layanan pengawasan teknis tersebut disajikan seperti pada Gambar 6.3.
LAYANAN PENGAWASAN TEKNIS

Pre Construction
Stage

Mobilisation
Stage

Construction
Stage

Provisional Hand Over


(PHO)

Mempelajari data dan dokumen kontrak


Review rencana kerja kontraktor
Review penggunaan peralatan kontraktor
Review / evaluasi pengendalian mutu
Review design dan rekayasa lapangan

Rencana Mutu
Pekerjaan

Supervisi pekerjaan persiapan


kontraktor

Pengawasan mutu dan pengendalian volume


Rapat mingguan, bulanan
Rapat lapangan
Penanganan perintah perubahan
Pembinaan administrasi

Tim PHO
Inspeksi PHO
Berita acara PHO

Gambar E.3.
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 7

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

E.1.4. PENGENDALIAN TEKNIS


Bertindak untuk dan atas nama Pemberi Tugas, konsultan supervisi mengendalikan
pelaksanaan fisik pembangunan yang dilakukan oleh Kontraktor.
Lingkup pengendalian antara lain meliputi :

Aspek mutu hasil pekerjaan


Aspek volume pekerjaan
Aspek waktu penyelesaian pekerjaan
Aspek biaya keseluruhan pekerjaan

Segala sesuatunya harus merujuk kepada ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum
dalam kontrak pemborongan.
E.1.5. PENGENDALIAN ATAS KOORDINASI TERKAIT
Konsultan pengawas dalam rangka melaksanakan tugas pengendalian teknis tersebut
diatas berkewajiban mengendalikan proses koordinasi yang perlu dilakukan oleh pihak
lain yang terkait dengan proyek tersebut.
Koordinasi dengan instansi terkait, antara lain dilakukan dengan :

Kuasa Pengguna Anggaran Fisik


Konsultan lain yang terkait
Instansi terkait lainnya.

E.1.6. PENGENDALIAN ADMINISTRASI PROYEK


Dalam hal ini konsultan pengawas berkewajiban merancang, memberlakukan serta
mengendalikan pelaksanaan keseluruhan sistem administrasi proyek yang diawasinya,
yaitu mencakup antara lain surat, memorandum, risalah, laporan, contoh barang, foto,
berita acara, gambar, sketsa, brosur, kontrak & addendum, request, back-up perhitungan
volume pekerjaan, administrasi quality control, dan lain-lain yang dianggap perlu.
Langkah-langkah dan tindakan yang akan dilakukan konsultan pengawas untuk maksud
diatas :

Mempelajari, menanggapi, memecahkan dan menyelesaikan sampai tuntas maksud


dari surat masuk maupun keluar.
Memperhatikan memorandum dan risalah untuk pedoman dalam pelaksanaan tugas
konsultan.
Mempesiapkan dan mengecek contoh barang agar memenuhi persyaratan yang
ditetapkan baik kualitas dan kuantitas.
Membuat foto-foto dokumentasi pada setiap paket pekerjaan.
Mempelajari dan mengecek gambar-gambar / sketsa pelaksanaan agar sebelum
maupun sesudah pekerjaan selesai tidak terjadi penyimpangan.
Membantu / menyiapkan format / formulir untuk kelengkapan administrasi proyek.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 8

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Membantu / menyiapkan addendum serta lain-lain yang dianggap perlu.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E- 9

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

E.1.7. PRE CONSTRUCTION MEETING


Pre Construction Meeting atau Rapat Persiapan Pelaksanaan adalah pertemuan antara
pihak proyek (Kuasa Pengguna Anggaran = sesuai dengan pejabat dalam struktur
Pengguna Anggaran), Kontraktor dan Konsultan, yang dilakukan selambat-lambatnya 14
hari setelah diterbitkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja) oleh Pengguna Anggaran /
Pemimpin Proyek, guna membahas dan kemudian menyepakati bersama berbagai hal
yang secara umum adalah sebagai berikut :

Organisasi kerja pelaksanaan konstruksi.


Tata-cara pengaturan pelaksanaan pekerjaan.
Review dan penyempurnaan terhadap construction schedule yang harus sesuai
dengan target volume, mutu dan waktu.
Jadual mobilisasi personel dan peralatan.
Jadual penggunaan peralatan.
Jadual pengadaan bahan.
Mwnyusun rencana pemeriksaan lapangan (mutual check) dan review terhadap
simplified design yang ada.
Menentukan lokasi sumber quarry (sumber bahan / material), estimate kuantitas
bahan serta rencana pemeriksaan mutu bahan yang akan digunakan.
Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat berkaitan dengan
pelaksanaan proyek.

Jadi dengan demikian tujuan penyelenggaraan Pre Construction Meeting adalah


menyatukan pengertian terhadap seluruh isi dokumen kontrak dan membuat
kesepakatan-kesepakatan terhadap hal-hal penting yang belum terdapat di dalam
dokumen kontrak serta membahas jalan keluar terhadap kendala-kendala yang mungkin
terjadi selama pelaksanaan konstruksi.
1. Substansi pokok yang dibahas
Substansi pokok yang dibahas dalam Pre Construction Meeting sebagai berikut :
a.

Aplikasi pasal-pasal penting dalam dokumen kontrak tentang :

b.

Pekerjaan tambah kurang.


Termination.
Mobilisasi.
Maintenance & protection of traffic.
Sub letting.
Insurance of works.
Organisasi kerja.

Prosedur administrasi penyelenggaraan pekerjaan, antara lain :

Request & approval dalam rangka examination of works.


Extension time for completion of works.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-10

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

c.

Gambar kerja dan kelengkapannya.


Pengajuan MC (Monthly Certificate).
PHO dan FHO.
Pembuatan addendum kontrak.
Jadual pengadaan bahan.
Jadual penggunaan peralatan.
Jadual personel.
Review dan penyempurnaan terhadap jadual kerja yang harus sesuai dengan
target volume, mutu dan waktu.
Menyusun rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan (mutual check)
sehubungan dengan review design terhadap simplified design yang ada.

Tata-cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan, antara lain :

Pelaksanaan konstruksi.
Pelaksanaan produksi.
Menentukan lokasi sumber material, estimate kuantitas bahan beserta rencana
pemeriksaan mutu bahan yang akan digunakan.
Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat berkaitan
dengan pelaksanaan proyek.

2. Peran masing-masing unsur dalam Pre Construction Meeting


Peran masing-masing unsur dalam Pre Construction Meeting sebagai berikut :
a.

Atasan langsung Pemimpin Proyek (Kuasa Pengguna Anggaran)

b.

Sebagai moderator dan nara sumber.


Memberikan pengarahan secara umum pelaksanaan proyek.
Menjelaskan bahwa Pemimpin Proyek / Pemimpin Bagian Proyek ikut
bertanggung-jawab terhadap review design beserta prosedur survai sampai
dengan penyelesaiannya sebagai pedoman awal pelaksanaan pekerjaan.
Lain-lain yang dianggap perlu.

Pemimpin Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran untuk Pengawas

Menjelaskan kebijaksanaan teknis tentang perlunya review design (jika ada).


Menjelaskan prosedur review design termasuk :
o Metodologi survai.
o Mekanisme proses administrasi review design dan proses Addendum
Kontrak atau Memorandum Kontrak.

Menjelaskan kapan review design harus diselesaikan.


Menjelaskan prosedur dan jadual kerja seluruh tenaga konsultan pengawas
mulai dari mobilisasi sampai demobilisasi.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-11

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Menjelaskan TOR / tugas-tugas dan tanggung-jawab konsultan pengawas


serta kualifikasi personilnya.
Menjelaskan laporan-laporan kemajuan pelaksanaan fisik yang akan dibuat
oleh konsultan pengawas dan distribusinya, jika tidak ditentukan lain oleh
Pemimpin Proyek (Kuasa Pengguna Anggaran) laporan-laporan umumnya
terdiri dari :
o
o
o
o
o
o
o

Monthly executive summary report.


Monthly progress report.
Quarterly report.
Quality control report.
Technical report : Review design, Technical justification, Technical paper.
Draft final report.
Final report.

Serta kapan waktunya laporan tersebut harus selesai dikirim.

Menjelaskan bahwa konsultan bertanggung-jawab dalam pengarsipan


dokumen-dokumen lapangan.
Menjelaskan adanya penilaian performance konsultan atau kontraktor yang
sedang melaksanakan pekerjaan.
Menjelaskan akomodasi dan fasilitas yang disediakan oleh kontrak konsultan.
Secara periodik Bagian Proyek Pengawasan akan melaksanakan uji petik.
As built drawing harus dibuat sesuai dengan standar yang berlaku.
Menjelaskan adanya keharusan untuk mencari data yang berasal dari original
design mencakup antara lain :
o Tipe konstruksi.
o Parameter penting dalam perencanaan.

c.

Lain-lain yang dianggap perlu.

Pemimpin Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran Fisik

Sebagai Chairman.
Menjelaskan susunan organisasi Kuasa Pengguna Anggaran Fisik.
Membahas struktur organisasi pelaksanaan konstruksi yang diusulkan oleh
kontraktor maupun yang disarankan oleh konsultan pengawas.
Membahas tugas kontraktor mengenai :
o
o
o
o
o
o

Survai dan membuat gambar kerja.


Rencana pengadaan personil.
Rencana pengadaan peralatan.
Rencana pengadaan bahan.
Penyiapan construction schedule Financial progress schedule S. curve.
Rencana Vector diagram (untuk proyek jalan) setelah review design.

Menjelaskan bahwa keterlambatan mobilisasi dapat dikenakan denda.


Menjelaskan kapan dan bagaimana proses PHO dan FHO.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-12

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Menjelaskan diperlukannya Show Cause Meeting bilamana terjadi


keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang mengakibatkan realisasi
pelaksanaan pekerjaan tidak sesuai dengan rencana pelaksanaan pekerjaan.
Menjelaskan bahwa 1 bulan sebelum PHO maka Pemimpin Proyek / Pemimpin
Bagian Proyek akan mengeluarkan pengumuman kepada masyarakat sekitar
proyek tentang akan selesainya proyek untuk menghindari adanya tagihan
utang yang belum dibayar oleh kontraktor kepada masyarakat sekitar proyek.
Menjelaskan mekanisme kerja antara ketiga unsure proyek (Kuasa Pengguna
Anggaran, Kontraktor dan Pengawas) dalam hal perlunya Contractors Request
sebelum dimulainya pekerjaan dan sebelum mulainya penerimaan pekerjaan
(waktunya ditentukan oleh Kuasa Pengguna Anggaran Fisik).
Menjelaskan kapan serah terima lapangan dapat dilakukan.
Menjelaskan kewajiban pembayaran untuk pungutan retribusi maupun
asuransi.
Menjelaskan prosedur pembongkaran dan penyerahan barang bekas proyek.
Menjelaskan kapan tanggal mobilisasi terakhir dan kapan akhir masa
konstruksi dan apa sanksi-sanksinya jika tanggal tersebut dilewati.
Menjelaskan standar Laporan Harian dan Mingguan yang sudah merupakan
standar baku.
Menjelaskan proses pengusulan dan pembayaran termijn (monthly certificate).
Menjelaskan proses pengujian bahan.
Menjelaskan perlu tidaknya sondir pada awal sebelum dimulainya pekerjaan
pondasi jembatan.
Membahas metode pelaksanaan yang diajukan oleh kontraktor pada saat
pelelangan.
Menjelaskan bahwa quality control untuk pekerjaan jalan menggunakan
fasilitas laboratorium yang disediakan oleh kontraktor dari item mobilisasi.
Menekankan tidak adanya biaya tambahan terhadap biaya test bahan untuk
quality control dan menegaskan bahwa biaya test sudah termasuk dalam harga
penawaran.
Menjelaskan perlunya pendekatan terhadap masyarakat dan pemerintah
daerah setempat sehubungan dengan rencana kerja yang nantinya akan
berkaitan dengan masalah jalan akses ke lokasi quarry, pembebasan lahan
terhadap pagar, listrik, telpon, PDAM dan sebagainya.
Menjelaskan bahwa pihak pemerintah dibebaskan dari adanya tuntutan pihak
ketiga jika terjadi kalalaian kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan.
Menjelaskan barang-barang yang menjadi milik pemerintah.
Membahas mata pembayaran yang spesifik :
o
o
o
o

Beton.
Agregat untuk bahu jalan.
Pemeliharaan rutin.
Pelaksanaan pekerjaan pada masa pemeliharaan (warranty period).

Menjelaskan adanya tim mutual check selama periode kontrak.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-13

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

d.

Kontraktor

Menjelaskan rencana kerja pada saat mobilisasi yang meliputi :


Mobilisasi personil.
Mobilisasi peralatan.
Survai lapangan meliputi : drainase, perkerasan jalan, struktur.
Pengembalian kondisi dan pekerjaan minor (dilakukan setelah survai
lapangan selesai), meliputi : perkerasan jalan, bahu jalan.
o Pemeliharaan rutin (dilaksanakan setelah diterbitkannya SPMK atau
dimulainya pekerjaan).
o
o
o
o

Rencana kerja review design :


o Melaksanakan survai.
o Membuat gambar kerja.

Menjelaskan metode / cara pelaksanaan konstruksi.


Menjelaskan struktur organisasi serta tugas dan tanggung-jawabnya.
Menjelaskan kualifikasi personil kontraktor yang akan dimobilisasi.
Menjelaskan bagian pekerjaan yang akan di-subkontrakkan serta calon sub
kontraktornya.
Menjelaskan rencana penggunaan peralatan, termasuk :
o
o
o
o

Menjelaskan rencana pengadaan bahan serta surat ijinnya :


o
o
o
o

e.

Jenis alat.
Kapasitas alat.
Jumlah alat.
Penempatan alat.
Jalan : aspal, agregat, tanah timbunan.
Jembatan : bangunan atas, pondasi.
Lokasi quarry, jumlah deposit quarry.
Kualitas bahan jalan, struktur, termasuk cara pengujiannya.

Menjelaskan rencana kerja berdasarkan S-Curve.

Konsultan

Mencatat seluruh kesepakatan dalam Pre Construction Meeting dan


dituangkan dalam Berita Acara tersendiri sebagai dokumen proyek.
Mempersiapkan formulir-formulir isian antara lain :
o
o
o
o

Laporan harian.
Laporan mingguan.
Laporan bulanan (Monthly progress report).
Executive summary report.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-14

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

o
o
o
o
o

Menjelaskan struktur organisasi konsultan dan tugas dari masing-masing


personel konsultan.
Menjelaskan personel konsultan yang sudah di-mobilisasi dan rencana
personel lainnya yang akan di-mobilisasi.
Menjelaskan rencana kerja Review Design (jika ada) :
o
o
o
o
o

Survai lapangan untuk review design.


Kerangka gambar kerja.
Perhitungan volume / back-up data serta Monthly Certificate (MC).
Quality control.
Request untuk : memulai pekerjaan, test material, penerimaan pekerjaan.

Waktu yang diperlukan untuk survai lapangan.


Personel yang dilibatkan didalam survai lapangan.
Kelengkapan yang diperlukan untuk survai lapangan.
Ruang lingkup pekerjaan yang akan disurvai.
Alternative penanganan dari hasil survai pendahuluan (jika sudah ada
gambaran umum).

Menegaskan pengambilan lokasi foto dokumentasi : dimana, kapan, berapa


kali yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.

E.1.8. EVALUASI RENCANA


Konsultan pengawas melakukan evaluasi atas rencana proyek yang akan dilaksanakan
serta menyarankan perubahan / penyempurnaan / penyesuaian rencana yang perlu
dilakukan (bila ada) guna menjamin tercapainya maksud dan tujuan proyek dengan
sebaik-baiknya.
E.1.9. VERIFIKASI HASIL PEKERJAAN KONTRAKTOR
Konsultan pengawas berwenang dan pada saatnya berkewajiban menyatakan bahwa
hasil pekerjaan kontraktor telah memenuhi segala persyaratan untuk disetujui atau
disyahkan oleh Pemberi Tugas.
E.1.10. KONTROL SISTEMATIK TERHADAP KEGIATAN LAPANGAN
Dalam konteks lebih luas, pekerjaan konsultan supervisi mengemban juga fungsi kontrol
manajemen proyek konstruksi. Sebelum memeriksa hasil pekerjaan, perlu diperiksa
dahulu persiapan kerjanya. Persiapan pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah atau
dengan cara perencanaan yang mendadak akan mengakibatkan hasil kerja yang tidak
memuaskan. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan suatu kontrol yang sistimatik.
Pengawas lapangan perlu menerapkan sistim kontrol yang baik dilapangan.
Kontrol yang sistimatik terhadap kegiatan dilapangan memiliki tiga tujuan yaitu :

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-15

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Meninjau secara periodik hasil dan kemajuan pekerjaan pada beberapa bidang
kegiatan pokok. Bilamana terdapat kekurangan yang terjadi, maka harus
dikembangkan sasaran jangka pendek dan program kerja untuk mengatasinya.
Memastikan bahwa pekerjaan pengawasan berjalan secara benar sehingga
peringatan secara dini dapat diberikan apabila terjadi sesuatu kesalahan.
Mengamankan bahwa biaya yang sudah dianggarkan oleh proyek tidak dilampaui bila
tidak terjadi perubahan kontrak.

Bidang-bidang sasaran kegiatan pokok yang perlu dikontrol pada waktu peninjauan
dilapangan yaitu :

Pencapaian target kemajuan fisik.


Pencapaian target keuangan.
Pengadaan dan pembelian barang, bahan dan peralatan.
Pemakaian tenaga kerja dan peralatan untuk menjamin efektivitas dan efisiensi kerja
lapangan.
Pemantapan kerja sama antar pekerja proyek dari seluruh bagian / divisi.
Hubungan dengan pihak pemilik.

Tiap bidang tersebut diatas ditinjau apakah situasinya mantap, kurang memadai atau
menunjukkan tendensi yang tidak menggembirakan.
Dengan mengetahui keadaan dan situasi masalah dengan benar, maka langkah-langkah
yang diambil untuk mengatasinya akan lebih cepat dan efektif.
E.1.11 KUNJUNGAN LAPANGAN / SITE VISIT
Frekwensi kunjungan ke lapangan tergantung dari pentingnya keadaan lapangan,
sifatnya dapat secara harian, mingguan. Frekwensi kunjungan juga dapat bergantung
pada tahapan / program kerja dari Pemimpin Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran yang
mengelolanya beserta para teamnya.
E.1.12 PENGONTROLAN PROYEK
Merencana dan membangun adalah suatu aktivitas yang dinamis, dan yang dipengaruhi
oleh bermacam-macam faktor. Karena itu network / s-curve chart yang telah disetujui
sebagai pegangan untuk pelaksanaan harus secara periodik dicheck kembali :

Apakah waktu yang direncanakan telah ditepati.


Akan ditepati dalam jangka panjang atau segera.
Nantinya akan ditepati (jangka panjang).

Bila perlu dapat diadakan perubahan baru untuk mengendalikan jalannya proyek seperti
yang dikehendaki.
Jarak waktu kontrol
Jarak waktu kontrol dapat dibedakan menjadi 2 macam rentang waktu yaitu :

1 - 2 minggu untuk aktivitas-aktivitas yang kritis atau yang mendekati kritis.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-16

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

2 - 4 minggu untuk aktivitas-aktivitas yang tidak kritis.

Cara mengontrol
Dibedakan 3 cara mengontrol, sebagai berikut :

Untuk sebuah aktivitas yang akan dimulai : Disajikan langkah-langkah cara


mengontrol seperti flow chart Gambar E.4.

Untuk menguji pekerjaan yang seharusnya sudah dimulai : Disajikan langkah-langkah


cara mengontrol seperti flow chart Gambar E.5.

Uji pekerjaan yang seharusnya sudah selesai : Disajikan langkah-langkah cara


mengontrol seperti flow chart Gambar E.6.

FLOW CHART LANGKAH-LANGKAH CARA MENGONTROL


UNTUK AKTIVITAS YANG AKAN DIMULAI
Dapatkah pekerjaan
dimulai ?

Ya

OK

Tidak

Alasannya ?
Ada keterlambatan ?

Diperlukan
penanganan
pemecahannya

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-17

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Gambar E.4.

FLOW CHART LANGKAH-LANGKAH CARA MENGONTROL


PEKERJAAN YANG SEHARUSNYA SUDAH DIMULAI

Pekerjaan yang
seharusnya sudah mulai

Apakah pekerjaan ini


sesuai schedule mulainya ?

Kenapa tidak dimulai ?


Apa penangguhannya
dapat dikejar ?

Tidak

Ya

Tidak

Berapa lama ditangguhkan ?


Ada float ?

Ya

OK

OK

Berapa lama terlambat ?


Kenapa ?
Apa prestasinya sampai waktu
kontrol dicapai ?

Tangani

Tidak

Ya

OK

Apa prestasinya
bisa dikejar ?

Tidak

Ya

OK

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

Berapa lama perpanjangan ?


Ada float ?

Tangani

E-18

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Gambar E.5.

FLOW CHART LANGKAH-LANGKAH CARA MENGONTROL


PEKERJAAN YANG SEHARUSNYA SUDAH SELESAI

Pekerjaan yang seharusnya


selesai

Tidak

Sisa waktu sampai selesai ?


Alasan keterlambatan ?

Ya

Diperlukan
penanganan

OK

Gambar E.6.
E.1.13. SISTIM INFORMASI MANAJEMEN PROYEK
Sistim informasi manajemen proyek pada hakekatnya adalah suatu sistim untuk
mendukung pihak Pimpinan Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran dalam memantau dan
mengendalikan proyek.
Tujuan sistim ini untuk digunakan pihak Pemilik dalam mendapatkan informasi proyek
secara berkala, cepat dan akurat. Sistim ini dibuat dan dikembangkan berdasarkan studi
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-19

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

dan evaluasi situasi dan kondisi yang dihadapi dilapangan serta mengintegrasikan
keinginan-keinginan dari pihak Pimpinan Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran yang
mewakili pihak Pemilik Proyek tentang apa-apa yang mau dimonitor dan dikendalikan.
Di project-site setiap saat hasil pekerjaan fisik berkembang bertambah banyak dan
supaya perkembangannya terjadi menurut rencana, dimana rencana tersebut dijabarkan
dalam besaran uang dan besaran waktu.
Khusus untuk mengontrol mutu pekerjaan, peranan sistim informasi manajemen proyek
hanya sebagai penerus informasi saja. Pengontrolan mutu pekerjaan dilakukan oleh
petugas khusus dan harus dilaksanakan dilapangan, tidak dapat dilaksanakan di kantor.
Tolok ukur pengukuran mutu pekerjaan adalah dokumen tender (Spesifikasi Pekerjaan).
Perkembangan pekerjaan yang terjadi selalu diikuti oleh perkembangan datanya atau
dimonitor dimana perkembangan suatu proyek selalu diikuti oleh perkembangan data
proyeknya. Volume data kian hari kian membengkak sesuai dengan perkembangan
pekerjaan secara fisik.
Data proyek sesungguhnya belum dapat memberikan informasi kepada Pemberi Tugas,
kerena masih belum diolah, jadi masih mentah. Data proyek yang telah dikumpulkan
secara periodik kemudian diolah / diproses untuk dijadikan informasi proyek (laporan
proyek). Artinya dari laporan proyek dapat diketahui pekembangan pekerjaan yang nyata
terjadi (prestasi aktual). Dari laporan proyek ini Pimpinan Proyek / Kuasa Pengguna
Anggaran baru dapat mengevaluasi tentang perkembangan proyeknya, pertumbuhan dari
tiap-tiap pekerjaan dilapangan dengan diperbandingkan terhadap rencana.
Pimpinan Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran mengendalikan proyeknya / pekerjaan
dengan keputusan-keputusan yang dibuat dan diimplementasikan ke project site. Hasil
dari implementasinya menciptakan data proyek baru dan dengan demikian siklus project
management control system berulang kembali. Siklus ini baru berhenti apabila proyek
telah selesai.
E.1.14. FUNGSI KONSULTAN SUPERVISI
Fungsi konsultan supervisi pada dasarnya dibagi dalam 2 fungsi, yaitu : Fungsi
Administratif dan Fungsi Pengawasan.
1.

Fungsi administratif

Membantu Kuasa Pengguna Anggaran Phisik dalam memahami dan


melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum yang tercantum dalam dokumen
kontrak, terutama sehubungan dengan penentuan kewajiban dan tugas
kontraktor.
Mengadakan komunikasi dan surat-menyurat, membuat memorandum atas
pekerjaan konstruksi.
Membuat dokumentasi hasil-hasil test pelaksanaan pekerjaan berupa, foto-foto
yang dibuat sebelum proyek berlangsung (mulai), sedang berjalan dan proyek
selesai, serta kejadian dilapangan lainnya.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-20

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

2.

Menyiapkan rekomendasi sehubungan dengan Contract Change Order dan


Addendum sehingga perubahan-perubahan kontrak yang diperlukan dapat
dibuat secara optimal dengan mempertimbangkan semua aspek yang ada.
Menyiapkan dan menyampaikan laporan pekerjaan secara berkala.

Fungsi pengawasan (supervisi)

Membantu Pemimpin Proyek Phisik dalam melaksanakan tugas dan


kewajibannya dalam mengendalikan pelaksanaan pekerjaan.
Melaksanakan pengumpulan data lapangan untuk mendukung review design
(bila ada).
Melaksanakan pengecekan pengukuran dan perhitungan volume pekerjaan
sebagai dasar pembayaran.
Meninjau pengadaan personil dan peralatan kontraktor.
Memantau dan mengecheck pengendalian mutu dan volume pekerjaan untuk
sertifikasi Monthly Certificate (MC).
Melakukan pengecheckan dan persetujuan gambar terlaksana (as built
drawing).
Membantu Pemimpin Proyek Phisik dalam menyiapkan pelaksanaan
Provisional Hand Over (PHO).

E.1.15. TANGGUNG-JAWAB KONSULTAN PENGAWAS


Konsultan pengawas bertanggung jawab penuh kepada Pemimpin Proyek / Kuasa
Pengguna Anggaran bahwa hasil pelaksanaan pembangunan proyek yang dilaksanakan
oleh kontraktor adalah benar-benar sesuai ketentuan dalam kontrak pemborongan.
Konsultan harus memberikan jaminan segala ijin kerja, persetujuan dari setiap jenis /
langkah pelaksanaan dan persyaratan konstruksi yang telah dikeluarkan.
Untuk memperjelas uraian tersebut diatas, berikut ini dilengkapi Bagan Alir Aktivitas
Pengawasan Pekerjaan dari pekerjaan dimulai sampai pekerjaan selesai (Gambar 6.7.).
E.1.16. PENGENDALIAN MUTU
Selama periode konstruksi, konsultan akan senantiasa memberikan pengawasan,
arahan, bimbingan dan instruksi yang diperlukan kepada kontraktor guna menjamin
bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan baik, tepat kualitas. Aspek-aspek
pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan konstruksi antara lain
sebagai berikut dibawah ini namun tidak terbatas pada :

Peralatan laboratorium
Penyimpanan bahan / material
Cara pengangkutan material / campuran ke lokasi kerja.
Pengujian material yang akan digunakan.
Penyiapan job mix formula campuran
Pengujian rutin laboratorium selama pelaksanaan

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-21

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Tes lapangan
Administrasi dan formulir-formulir

Pengendalian kualitas tersebut diatas seperti diuraikan berikut ini :


1.

Peralatan laboratorium dan personil

2.

Penyimpanan bahan / material

3.

Bahan-bahan harus disimpan dengan suatu cara yang sedemikian rupa untuk
menjamin perlindungan kualitas.
Bahan-bahan yang disimpan harus ditempatkan sedemikian rupa yang mudah
dapat diperiksa oleh konsultan.
Tempat penyimpanan harus bebas dari tumbuh-tumbuhan dan puing, harus
mempunyai drainase yang lancar.
Bahan-bahan yang diletakkan langsung diatas tanah tidak boleh digunakan
dalam pekerjaan kecuali tempat kerja tersebut telah dipersiapkan dan diberi
lapisan atas dengan suatu lapisan pasir atau kerikil setebal 10 cm.
Bahan-bahan (crushed stone, dlsb.) harus disimpan dengan cara yang
sedemikian rupa untuk mencegah segregasi dan untuk menjamin gradasi yang
sesuai serta mengontrol kadar air. Tinggi maksimum tumpukan 5 m.
Penumpukan berbagai ragam agregat untuk hotmix, beton, harus dipisahkan
dengan papan pembatas guna mencegah pencampuran bahan-bahan.
Tumpukan agregat harus dilindungi dari hujan untuk mencegah kejenuhan
agregat yang akan mengakibatkan penurunan kualitas.

Cara pengangkutan material / campuran

4.

Peralatan laboratorium yang perlu dipergunakan, seperti disebutkan pada buku


spesifikasi, dan dimungkinkan dapat menggunakan laboratorium / fasilitas
pengujian yang berbadan hukum resmi atas persetujuan Pemberi Tugas.
Personil / tenaga yang terkait untuk maksud pengujian harus cukup
berpengalaman dan mengenal dengan baik tentang testing laboratorium
maupun lapangan.

Konsultan dapat mengenakan pembatasan bobot pengangkutan untuk


perlindungan terhadap setiap jalan atau struktur yang ada disekitar proyek.
Pengangkutan hotmix perlu ditutup dengan bahan tebal guna mempertahankan
suhu campuran.
Bilamana terjadi gangguan diantara operasi berbagai pekerjaan, konsultan
akan mempunyai wewenang untuk memerintahkan kontraktor dan untuk
menentukan urutan pekerjaan yang diperlukan guna mempercepat
penyelesaian seluruh proyek.

Pengujian material yang akan digunakan

Semua material dari setiap bagian pekerjaan akan di inspeksikan oleh


konsultan. Staf anggota team konsultan setiap saat akan membuat rencana
untuk menginspeksi material yang akan digunakan berdasarkan atas jadwal
kerja kontraktor.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-22

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

5.

Walaupun bahan-bahan yang disimpan telah disetujui sebelum penyimpanan,


namun dapat diperiksa ulang dan ditest kembali oleh konsultan.
Material yang akan digunakan harus ditest di laboratorium untuk mendapat
persertujuan dari konsultan, jenis dan jumlah test seperti yang disebutkan
dalam spesifikasi.

Job Mix Formula


Agar mendapatkan campuran yang baik dan memenuhi persyaratan spesifikasi,
sebelum pekerjaan dimulai perlu dibuatkan dahulu suatu Job Mix Formula yang
disetujui konsultan, antara lain untuk pekerjaan : Beton, Aggregate Base Class A &
B, Hotmix.

6.

Pengujian routin laboratorium


Selama pelaksanaan seperti yang disebutkan dalam spesifikasi, bahan-bahan atau
campuran-campuran perlu dilakukan pengujian routin harian atau selama
pekerjaan berlangsung guna menjamin kualitas sesuai dengan persyaratan.
Jenis dan frekuensi / jumlah test routin ini seperti yang disebutkan dalam
spesifikasi.

7.

Test lapangan
Setelah pekerjaan selesai
dilaksanakan,
produk tersebut perlu diadakan
PENGENDALIAN
MUTU
pengujian/test lapangan seperti apa yang disebutkan dalam persyaratan pengujian.
PENGAWAS / PROYEK

8.

KONTRAKTOR

Formulir-formulir pengujian

Survey lokasi sumber

Formulir-formulir pengujian baik untuk testing dibahanlaboratorium dan lapangan,


menggunakan form yang sudah baku dan disetujui oleh Pemberi Tugas.
Penentuan sumber bahan

Gambar E.7. menunjukkan diagram pengendalian mutu guna memperjelas uraian diatas.
Permohonan pemakaian bahan

Pemeriksaan mutu bahan

Ya
Tidak

Periksa mutu
bahan

Proses pengolahan
material
Proses penyiapan rumusan kerja

JMF

Pelaksanaan pekerjaan

Pengujian mutu

Mutu sesuai
Spec.

Tidak

Penanganan
perbaikan

Ya
Persetujuan mutu
hasil PRATAMA,
pekerjaan
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU
PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-23
Dokumentasi mutu
hasil pekerjaan

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Gambar E.7.

Tinjauan khusus pengendalian mutu beton


Major work flyover / jembatan terdiri dari material / komponen beton, pengendalian mutu
beton perlu dilakukan agar tidak terjadi kegagalan yang beresiko tinggi. Persyaratan
dalam spesifikasi sudah jelas dan harus diikuti dan dilaksanakan.
1.

Sifat-sifat bahan beton


Sifat-sifat bahan beton diperlihatkan seperti pada Gambar 6.9.

Gambar E.8. : Sifat-sifat beton


2.

Slump

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-24

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Gambar E.9. : Sifat-sifat beton


3.

Pengujian mutu kuat tekan beton


Pengecoran, benda uji beton, dan peralatan pengujian mutu kuat tekan beton
diperlihatkan seperti pada Gambar 6.10.

Gambar E.10. : Pengecoran, benda uji beton, dan peralatan pengujian mutu kuat
tekan beton.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-25

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

4.

Pendekatan batasan proporsi takaran campuran

5.

Pendekatan rancangan campuran

6.

Tahapan pengendalian mutu beton

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-26

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

E.1.17 PENGENDALIAN KUANTITAS (VOLUME)


Pengawasan kuantitas (Quantity Control), akan mengecek bahan-bahan / campuran
(atau setiap item pekerjaan) yang ditempatkan atau yang dilaksanakan oleh kontraktor.
Konsultan akan memproses bahan-bahan / campuran berdasarkan atas :

Hasil pengukuran yang memenuhi batas toleransi pembayaran.


Metoda perhitungan.
Lokasi kerja.
Jenis pekerjaan.
Tanggal diselesaikannya pekerjaan.

Setelah produk pekerjaan memenuhi persyaratan baik kwalitas maupun elevasi dan
persyaratan lainnya, maka pengukuran kwantitas dapat dilakukan agar volume pekerjaan
dengan teliti / akurat yang disetujui oleh konsultan sehingga kwantitas dalam kontrak
adalah benar diukur dan di-sertifikasi oleh konsultan dan mendapat persetujuan Pemberi
Tugas.
Beberapa pengukuran pekerjaan tersebut antara lain :
1.

Pengukuran meter persegi (m2)


Pengukuran dilapangan dapat dilakukan dengan meteran, yaitu panjang dan lebar,
setelah ketebalan memenuhi persyaratan tebal minimal atau toleransi yang
dibenarkan dalam spesifikasi.

2.

Pengukuran meter panjang (m)


Pengukuran di lapangan dapat dilakukan dengan meteran, yaitu panjang, setelah
penampang suatu konstruksi telah sesuai dengan gambar yaitu dimensinya.

3.

Pengukuran meter kubik (m3)


Pengkuran di lapangan dapat dilakukan dengan meteran untuk panjang dan lebar.
Sedangkan untuk ketebalan dapat diukur dengan Core Drill atau alat ukur,
sehingga panjang, lebar, dan tebal menghasilkan volume yang akurat.

4.

Pengukuran berat (ton)

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-27

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Untuk pengukuran ton dapat dilakukan dengan dua cara :

Penimbangan dengan timbangan atau truck scale (misal hotmix di AMP).


Pengukuran meter kubik dikalikan berat jenis bahan tersebut (berat jenis dapat
diketahui dari laboratorium).

Formulir untuk perhitungan kuantitas tersebut (Quantity Sheet) telah dipunyai konsultan.
Form-form ini dibuat secara computerized, sehingga perhitungan-perhitungan volume
pekerjaan dapat dilakukan dengan cepat.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-28

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Gambar E.11. menunjukkan diagram pengendalian volume guna memperjelas uraian


diatas.
PENGENDALIAN VOLUME
PENGAWAS / PROYEK

KONTRAKTOR

Survey

Shop
drawing

Pematokan

Ijin pelaksanaan
Tidak

Periksa
Volume rencana
Ya
Pengawasan

Pelaksanaan pekerjaan

Permohonan pemeriksaan
& pengukuran pekerjaan
Diperiksa Team Pengawas
Pengawasan

Pengukuran volume pekerjaan

Evaluasi Team Pengawas


Kurang

Sesuai volume
rencana
Lebih

Dapat dipertanggungjawabkan secara teknis


Ya

Tidak

Ya

BA. Hasil pengukuran

Lebih dari volume rencana


(tidak diterima/dibayar)
Konsep MC / Termijn

Diperiksa
Konsultan
Setuju
MC / Termijn

Gambar E.11.
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-29

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

F.19. PENGENDALIAN WAKTU


Didalam proyek padat alat, alat berat, tenaga kerja dan jumlah jam kerja per hari adalah
sangat erat sekali hubungannya dengan waktu pelaksanaan penyelesaian pekerjaan.
Dibawah ini adalah bagaimana pengendalian waktu perlu mendapat perhatian agar tidak
terjadi perpanjangan waktu yang tidak perlu yang akan memboroskan waktu, tenaga dan
biaya.
1.

Schedule kontraktor
Sebelum pekerjaan dimulai konsultan akan mengecek schedule pelaksanaan yang
dibuat kontraktor.
Apakah rencana kerja progres pekerjaan yang ditargetkan sudah layak dan
realistis. Misalnya dalam musim hujan, target pekerjaan lebih kecil bila
dibandingkan pada musim kemarau untuk pekerjaan pengaspalan misalnya, untuk
kondisi kerja yang sama.
Kemudian juga construction method, urutan kerja kontraktor apakah sudah
sistematis, konsepsional dan benar.
Selanjutnya berdasarkan schedule kontraktor yang sudah disetujui, konsultan
pengawas akan mengendalikan waktu pelaksanaan tersebut.
Dari time schedule tersebut bisa dijabarkan kedalam target harian, sehingga setiap
hari apakah terget volume tersebut bisa tercapai atau tidak, bila target volume
tersebut tidak tercapai maka selisih volume harus diprogramkan / dikejar untuk
schedule hari berikutnya.
Dengan time schedule yang dibuat dan disetujui itu bila dilaksanakan dengan
sebagaimana mestinya dan dikendalikan dengan baik maka diharapkan proyek
bisa diselesaikan on schedule.

2.

Alat berat (heavy equipment)


Untuk mengerjakan pekerjaan jalan, diperlukan alat berat, bisa kombinasi /
beberapa jenis dari jumlah alat.
Pertama harus diketahui/dianalisis kapasitas alat, kalau alat tersebut adalah suatu
kombinasi, maka kapasitas yang diperhitungkan adalah yang terkecil, misal untuk
pengaspalan / overlay hotmix, maka alat yang digunakan adalah AMP, Asphalt
Sprayer, Asphalt Finisher, Tandem Roller, Pneumatic Tire Roller dan sejumlah
Dump Truck. Dari alat tersebut dianalisis produksi nyata per jam, kemudian
produksi terkecil yang digunakan untuk evaluasi pengendalian waktu. Alat untuk
beton, misalnya concrete batching plant, mixer truck.
Untuk rencana sekian jam kerja per hari, apakah mampu alat tersebut
menghasilkan produk hotmix seperti volume yang ditargetkan. Bila tidak tercapai
maka perlu diambil tindakan-tindakan antara lain :

Menambah jumlah alat, atau


Menambah jam kerja / overtime

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-30

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Efisiensi dan manajemen pengoperasian alat berat.

Sedemikian hingga volume pekerjaan yang direncanakan bisa diselesaikan dalam


waktu yang ditentukan.
3.

Tenaga kerja
Demikian juga untuk tenaga kerja, untuk suatu pekerjaan diperlukan cukup atau
sejumlah tenaga kerja, sehingga pekerjaan akan bisa diselesaikan oleh tenaga
kerja sesuai dengan jadwal / waktu yang ditentukan. Bila kondisi pekerjaan
diperkirakan tidak bisa diselesaikan, maka tenaga kerja perlu ditambah atau kerja
dua shift atau kerja lembur / overtime.
Dengan tenaga kerja yang cukup dan jam kerja yang cukup / effektip maka
diharapkan pelaksanaan pekerjaan bisa tepat waktu sesuai yang ditargetkan.

4.

Jumlah jam kerja


Untuk penyelesaian suatu pekerjaan, tergantung juga pada jam kerja per hari.
Jumlah jam kerja yang sedikit akan menghasilkan produk yang lebih kecil daripada
bila per hari jam kerjanya lebih banyak.
Jam kerja perlu disesuaikan dengan kapasitas alat, tenaga kerja, sedemikian
hingga volume pekerjaan yang ditargetkan bisa diselesaikan. Kalau suatu
pekerjaan tidak bisa diselesaikan dalam satu hari siang, maka perlu untuk kerja
malam / overtime.
Untuk administrasi pengendalian waktu, agar pengendalian dapat dicapai secara
optimal maka konsultan akan memahami secara sungguh-sungguh Network
Planning yang umumnya telah dibuat oleh kontraktor dengan metode lintas kritis
(Critical Path Method / CPM).
Mengingat sangat pentingnya Network Planning ini dalam suatu pekerjaan
pengawasan, maka konsultan akan menganalisa secara rutin Network Planning
dari kontraktor dan akan membantu kontraktor dalam mereview dan menyusun
kembali Netwok Planning tersebut bila memang diperlukan.
Pengendalian schedule pelaksanaan lainnya dapat menggunakan Barchart / Scurve yang biasa dan juga dapat digunakan Vector Diagram yang baik / cocok
untuk pekerjaan jalan karena dapat mengetahui / menunjukkan lokasi dan waktu.
Schedule ini, pada arah basis menunjukkan lokasi atau STA, sedangkan arah
ordinat menggambarkan waktu.

E.1.18. PENGENDALIAN BIAYA


Didalam kontrak pelaksanaan pekerjaan tercantum :

Biaya proyek
Estimated Quantity / Volume Pekerjaan
Harga satuan pekerjaan

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-31

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Guna pengendalian biaya pelaksanaan proyek, hal-hal pokok yang perlu diperhatikan
antara lain sebagai berikut :

Pengukuran hasil pekerjaan, perlu dilakukan dengan akurat dan benar-benar


sehingga kwantitas yang dibayar sesuai dengan gambar rencana atau yang
terpasang. Dengan demikian volume dalam kontrak tidak dilampaui yang pada
akhirnya biaya yang dikeluarkan sudah sesuai dengan yang dianggarkan.

Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang sudah diterima dari segi
pengukuran / kwantitas dan kwalitas, sehingga biaya yang dikeluarkan adalah benarbenar untuk pekerjaan yang sudah memenuhi spesifikasi.

Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang tercantum dalam kontrak dan
harga satuan pekerjaan yang sudah ada dalam kontrak pelaksanaan, sehingga biaya
proyek dibayarkan sesuai dengan item pekerjaan yang ada dalam kontrak.

E.1.19. ADMINISTRASI PROYEK


Sebelum kontraktor memulai aktivitas konstruksi, kontraktor akan membuat suatu
permohonan secara tertulis kepada konsultan untuk prosedur konstruksi dan persetujuan
pekerjaan dalam tahap yang logis.
Untuk maksud tersebut, konsultan akan :

Menginspeksi dan menyetujui bahan-bahan yang akan digunakan


Menginspeksi dan menyetujui pelaksanaan pekerjaan fisik.
Menginspeksi dan menyetujui metoda dan ketelitian pekerjaan konstruksi.
Melaksanakan test-test lapangan.
Melaksanakan test laboratorium terhadap sampel yang diambil dari lokasi kerja.
Melaksanakan test-test yang lain sesuai dengan spesifikasi.

Bagian tersebut diatas adalah merupakan sebagian dari administrasi / prosedur proyek
yang perlu dilengkapi / didukung dengan suatu kelengkapan administrasi proyek, antara
lain dalam bentuk Formulir / Form misalnya.
Gambar 6.18. menunjukkan kelengkapan administrasi proyek.
Form-form administrasi yang diperlukan proyek antara lain dan tidak terbatas pada
sebagai berikut dibawah ini :

Serah terima lapangan (site hand over).


Pre construction meeting.
Mobilisasi.
Mutual check awal (MCo).
Dokumen kontrak.
Gambar rencana.
Struktur organisasi.
Buku direksi.
Penyiapan time schedule.
Bagan cuaca.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-32

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Shop drawing.
Request.
Laporan harian.
Laporan mingguan.
Buku instruksi.
Bobot pekerjaan / prestasi rutin.
Evaluasi produk pekerjaan.
Evaluasi akhir (tim evaluasi).
ADMINISTRASI PROYEK

Tahap
Persiapan

Tahap
Pelaksanaan

Site Hand Over


Struktur organisasi
Mobilisasi
Time schedule , metode kerja
Persiapan Traffic management
Pre Construction Meeting
Field Engineering
Material dan penyimpanan
Pembuatan format-format

Shop drawing
Request
Laporan harian
Laporan mingguan
Buku instruksi
Bobot pekerjaan prestasi rutin
Evaluasi produk pekerjaan
Teguran, peringatan
Photo dokumentasi
Risalah rapat
Contract Change Order (CCO)
Addendum
As built drawing
Justifikasi teknis perpanjangan waktu
Justifikasi teknis pek. tambah/kurang
Perintah perubahan (CCO)

Administrasi
Proyek

Quantity Sheet
Quality Control

Tahap
Pembayaran

Tahap
Serah terima

Monthly
Certificate

PHO

SK Pimpro, pembentukan panitia


Berita acara PHO
BA penilaian hasil pekerjaan I
BA penilaian hasil pekerjaan II
Pemeriksaan administrasi kantor
Pemeriksaan mutu (pengujian)
Pemeriksaan mutu (dimensi)
Pemeriksaan
defect & deficiencies
Check list PHO

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-33

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Gambar E.12.

Teguran (4 hari) I dan II.


Peringatan (4 hari).
Photo dokumentasi.
Risalah rapat.
Change order (CCO).
Addendum.
Justifikasi teknis perpanjangan waktu pelaksanaan.
Justifikasi teknis pekerjaan tambah-kurang.
Monthly certificate (MC)
Quantity sheet.
Quality control.

E.1.20. SERTIFIKASI DAN PEMBAYARAN


Kontraktor harus menyerahkan suatu nilai estimasi dari pekerjaan yang dilaksanakan
kepada konsultan supervisi pada setiap akhir bulan yang berjalan atau sesuai aturan
pembayaran, yang selanjutnya disebut sebagai termijn / sertifikat bulanan (MC).
Format termijn / sertifikat bulanan harus sesuai dengan standar atau diusulkan oleh
Konsultan supervisi dan disetujui oleh Pemberi Tugas.
Konsultan Pengawas akan memeriksa kemajuan pekerjaan yang diajukan pada
sertifikat bulanan dan apabila telah dianggap sesuai dengan sebenarnya yang telah
terjadi di lapangan, selanjutnya dapat disetujui untuk menanda-tangani bersama oleh
wakil kontraktor, konsultan, dan Pemimpin Proyek. MC harus didukung / dilengkapi
dengan back-up data yang terdiri dari Back-up Quantity Sheet dan Back-up Quality
Control.
Prosedur sertifikasi pembayaran diperlihatkan seperti pada Gambar 6.19.
FLOW CHART PROSEDUR SERTIFIKASI TERMIJN / MONTHLY CERTIFICATE

Tidak

Tidak

Ya

Ya

KONTRAKTOR

KONSULTAN PENGAWAS

PENGGUNA JASA

Termijn / MC

Team Leader

Kuasa Pengguna Anggaran

PERSETUJUAN

Pembayaran
Termijn / MC

Back-up Quantity

RE Structure

Back-up Quality

RE Highway & Measurement


RE Soil & Material

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-34

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Gambar E.13.
E.1.21. PEMERIKSAAN PEMBAYARAN AKHIR
Tim Pengawas Teknis akan memeriksa kembali seluruh pembayaran yang telah lalu.
Pembayaran terdahulu yang sudah disetujui apabila terdapat kesalahan masih dapat
dikoreksi pada pembayaran berikutnya / akhir.
E.1.22. PROSEDUR PERUBAHAN (CONTRACT CHANGE ORDER)
Perubahan terhadap pekerjaan dapat dimulai oleh Direksi Pekerjaan atau Kontraktor dan
harus disetujui dengan suatu Perintah Perubahan yang ditandatangani oleh kedua belah
pihak. Jika dasar pembayaran yang ditetapkan dalam suatu Perintah Perubahan tersebut
menyajikan suatu perubahan dalam struktur Harga Satuan Jenis Pembayaran atau suatu
perubahan yang diperkirakan dalam Jumlah Kontrak cukup besar, maka Perintah
Perubahan harus dirundingkan dan dirumuskan dalam suatu Addendum.
E.1.23. SERTIFIKASI PENYELESAIAN AKHIR
Bila kontraktor menganggap pekerjaan akan selesai, termasuk semua kewajiban dalam
perioda jaminan, maka kontraktor harus membuat permohonan untuk serah terima
pertama, umumnya pada tingkat penyelesaian fisik mencapai 97 % (Provisional Hand
Over / PHO).
Setelah penyelesaian dari setiap pekerjaan perbaikan yang diminta oleh Panitia Serah
Terima, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan akhir terhadap pekerjaan tersebut, maka
konsultan membantu mempersiapkan Sertifikat Penyelesaian Akhir.
E.1.23. PERNYATAAN PERHITUNGAN AKHIR
Kontraktor harus membuat permohonan untuk pembayaran perhitungan akhir, bersamasama dengan semua rincian pendukung sebagaimana diperlukan oleh Direksi Pekerjaan.
Setelah peninjauan kembali oleh Direksi Pekerjaan dan jika diperlukan, amandemen oleh
kontraktor, Direksi Pekerjaan akan mengeluarkan suatu pernyataan Perhitungan Akhir
yang disetujui untuk pembayaran oleh Pemberi Tugas.
E.1.24. ADDENDUM PENUTUP
Berdasarkan pada rincian pernyataan Direksi Pekerjaan mengenai Perhitungan Akhir.
Setelah memperoleh tanda-tangan kontraktor, Direksi Pekerjaan akan menyampaikan
addendum penutupan tersebut kepada Pemberi Pekerjaan untuk ditanda-tangani
bersama-sama dengan Pernyataan Perhitungan Akhir yang disetujui.
E.1.25. DOKUMEN CATATAN PROYEK

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-35

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Kontraktor harus memelihara suatu catatan yang cermat tentang semua perubahan
dalam Dokumen Kontrak dan Dokumen Catatan Proyek selama pelaksanaan pekerjaan.
E.1.26. SERAH TERIMA PEKERJAAN
Konsultan, memberikan pengarahan, petunjuk dan saran untuk membantu Kuasa
Pengguna Anggaran menyusun rencana serah terima pekerjaan (Provisional Hand Over
= PHO) dari kontraktor kepada Pemimpin Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran.
Bila Kontraktor menganggap pekerjaan akan selesai, termasuk semua kewajiban dalam
perioda / masa jaminan, maka kontraktor harus membuat permohonan untuk serah
terima pertama.
Setelah penyelesaian dari setiap pekerjaan perbaikan yang diminta oleh Panitia Serah
Terima, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan akhir terhadap pekerjaan tersebut, maka
konsultan membantu mempersiapkan Sertifikat Penyelesaian Akhir atau Berita Acara
Serah Terima Pekerjaan.
Bagan alir serah terima pekerjaan diperlihatkan seperti pada Gambar 6.20.
E.1.27. MANAJEMEN LALU-LINTAS DAN KESELAMATAN KERJA
Pekerjaan ini yang dengan volume lalu lintas yang padat memerlukan pengaturan lalu
lintas dan metoda pelaksanaan yang lebih khusus dan teliti, baik pada saat pelaksanaan
pekerjaan survey maupun pelaksanaan pekerjaan konstruksinya agar arus lalu lintas
yang ada tetap terjaga kelancarannya dan pemakai jalanpun merasa aman melewatinya
sesuai dengan tujuan dari pembangunan jalan / jembatan itu sendiri.
Manfaat yang didapatkan pada pemeliharaan lalu-lintas yang baik selama pelaksanaan
memberikan keselamatan dan kenyamanan lalu lintas yang lebih baik pula.
Situasi semacam itu sangat membantu untuk menghilangkan persoalan-persoalan yang
diakibatkan oleh kacaunya lalu lintas yang pada gilirannya akan menghambat
pelaksanaan pembangunan proyek itu sendiri.
Untuk itulah pada proyek pembangunan jalan / jembatan tersebut diatas perlu dibuat
sistim pengaturan lalu lintas yang baik dan memenuhi standard.
Penyajian rencana pemeliharaan lalu lintas selama masa pelaksanaan pembangunan
jalan dimaksudkan menyampaikan gambaran masalah yang ada dan yang diperkirakan
terjadi pada masa pelaksanaan.
Pada tahap pelaksanaan pembangunan, diperkirakan ada beberapa aktivitas antara lain :

Pemasangan pagar untuk pengaman dan kerapian pekerjaan pada kedua sisi jalan.
Pekerjaan perkerasan jalan.
Pekerjaan beton.
Pekerjaan tanah, galian, timbunan dan mengangkut keluar / masuk lokasi.
Pekerjaan form work / alat bantu pasang.
Pekerjaan lainnya.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-36

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Semua kegiatan tersebut di atas jelas menjadi kendala bagi kelancaran dan keselamatan kerja
bagi pemakai jalan maupun bagi pekerja proyek.

Oleh sebab itu penanganan khusus sangat diperlukan agar tercapai hasil yang optimal
dan sesedikit mungkin akibat yang ditimbulkannya.

SERAH TERIMA PEKERJAAN

Prestasi pekerjaan
selesai 100 %

Kontraktor mengajukan
PHO

Konsultan
Checking lapangan & defect list
No
Kontraktor
Perbaikan / penyempurnaan lap.
Yes
Konsultan
Rekomendasi PHO ke Pengguna Anggaran
Kuasa Pengguna Anggaran
Membentuk Panitia
PHO / FHO
Panitia
Proses penelitian
Administrasi & Teknik
No
(Defect list with grace period)

No
Administrasi
(Team A)

Teknis
(Team B)

Yes

Panitia
Rekomendasi kepada
Kuasa Pengguna Anggaran

ADMINISTRASI PROYEK
- Dokumen kontrak
- Addendum kontrak
- Laporan-laporan
- Bukti-bukti penagihan
- Instruksi-instruksi
TEKNIS
- Quality test
- Perhitungan quantity
- As built drawing
- Foto-foto pelaksanaan

Maintenance period
- 3 bulan proyek-proyek LCB
- 1 tahun proyek-proyek ICB

PHO

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

Gambar E.14.

E-37

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Untuk mengantisipasi pengurangan lebar jalur effective, bahu jalan dibagian luar yang
sudah diperkeras bisa dipakai sebagai jalur lalu lintas khusus untuk kendaraan
penumpang sedan dan jeep atau sejenisnya dan alternatip lain dengan membuat jalur
baru dengan memanfaatkan areal yang kosong disekitar lokasi pekerjaan tersebut.
Demikian pula mengenai penanganan pembuangan tanah hasil galian haruslah dengan
penanganan yang baik, misalnya dimana Dump Truck harus masuk dan keluar dari lokasi
proyek. Tidak kalah pentingnya dari penanganan tersebut di atas adalah cara pemuatan
dan transportasi pembuangan tanah hasil galian haruslah memperhatikan wawasan
lingkungan.
Tanah yang dimuat diatas Dump Truck harus diberi penutup agar tidak tercecer diatas
permukaan jalan yang ada, sebab bila turun hujan akan menjadi licin dan menyebabkan
kecelakaan lalu lintas yang pada gilirannya menghambat arus lalu lintas yang ada.
Didalam pelaksanaan Traffic Management untuk proyek ini kriteria penanganan dibagi
menjadi 2 bagian :

1.

Pelayanan Umum
Keselamatan Kerja.
Pelayanan Umum
Indikasi yang diperlukan dalam pelayanan umum adalah sebagai berikut :
a.

Efektifitas sistim informasi


Sistim informasi bersifat pemberitahuan kepada calon pemakai jalan selama
pelaksanaan yang tujuannya memberikan informasi bahwa akan ada proyek
pembangunan.
Sistim ini dapat diwujudkan dalam 2 media, yaitu :

b.

Melalui media cetak yang bersifat pengumuman


Pembagian pamflet

Mengurangi kemacetan
Dalam mengatasi adanya kemacetan lalu-lintas, dapat dilakukan dengan
perambuan sementara selama pelaksanaan pekerjaan dan dengan
menyiagakan satuan penanggulangan gangguan.

2.

Keselamatan kerja
Indikasi diperlukan dalam keselamatan kerja meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.

Disiplin kerja

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-38

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

b.

Pengendalian pelaksanaan dilapangan secara ketat dan terus menerus


dimonitor dengan perlengkapan komunikasi untuk dapat saling
berhubungan setiap saat dengan cepat.
Pengendalian waktu dimaksudkan agar penyelesaian proyek sesuai
jadwal yang telah ditetapkan.
Pengendalian waktu ini disesuaikan dengan tuntunan lapangan yang
mencakup seluruh aspek terkait.

Peniadaan kecelakaan fatal

Perambuan sesuai dengan standar perambuan.


Pemasangan pagar pengaman yang juga berfungsi sebagai penciptaan
kerapian kerja sepanjang daerah proyek yang diperkirakan perlu (kiri dan
kanan) dan diberi lampu-lampu agar mudah terlihat pada malam hari.

Kecelakaan lalu-lintas adalah aspek negatif dari meningkatnya mobilitas transportasi.


Keseimbangan antara mentalitas pengemudi, kemajuan teknologi kendaraan dan
penyediaan prasarana lalu lintas merupakan unsur-unsur yang menentukan mobilitas
transportasi yang semakin dinamis, cepat dan semakin nyaman sesuai dengan tuntutan
keadaan.
Ketidak-seimbangan dari salah satu unsur tersebut diatas dalam beradaptasi akan
menyebabkan kesenjangan yang cenderung kepada terjadinya kecelakaan.
Bekerja pada sebuah proyek jalan / jembatan pada tahapan pelaksanaan menanggung
resiko tinggi pada terjadinya kecelakaan yang setiap saat bisa terjadi. Untuk itulah maka
diperlukan persyaratan keselamatan kerja pada pelaksanaan proyek yang berbeda pada
ruas jalan yang sedang beroperasi.
Dalam pelaksanaan proyek, beberapa faktor keselamatan kerja yang terkait, antara lain :

Faktor perambuan darurat.


Sistim transportasi pada lokasi proyek.
Atribut pada tenaga kerja.
Astek.
Dan lain-lain.

Pada tahap pelaksanaan, yang mana banyak aktivitas jenis pekerjaan yang ditangani dan
melibatkan banyak tenaga yang bekerja, maka keselamatan kerja daripada semua
eksponen terkait menjadi faktor utama dari kelancaran progress yang hendak dicapai.
Pada tahap ini, gambaran pencapaian keselamatan kerja dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1.

Perambuan darurat
Perambunan pada tahap pelaksanaan mempunyai andil besar dalam keselamatan
kerja yang memberikan rasa aman dalam melaksanakan pekerjaan bagi para
pekerja yang berada pada daerah perambuan.
Rambu-rambu darurat yang diperlukan pada tahap pelaksanaan misalnya rambu
peringatan, rambu perintah dan larangan serta rambu petunjuk, juga rubber cone

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-39

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

serta lighting yang pengaturan letak penempatan serta jaraknya seperti ditunjukan
pada keperluan rambu darurat.
Disamping itu diperlukan pagar pembatas antara daerah kerja dan lajur yang
beroperasi yang diletakkan sepanjang daerah kerja. Pagar pambatas dicat dengan
warna crossing kuning-biru dan pada setiap jarak tertentu diberi tanda spot light
atau cat berpendar yang bisa terlihat bila kena sorot lampu pada malam hari.
Bisa juga dengan lampu-lampu sebagai pengganti spot light.
2.

Sistim transportasi pada lokasi proyek


Pengaturan transportasi, adalah sebagai berikut :

3.

Pintu keluar / masuk kendaraan proyek pada daerah kerja ditentukan, rute
perjalanan pembuangan dibuat searah dengan arus lalu lintas, pada prinsipnya
tidak boleh ada arah crossing sehingga tidak ada konflik.

Dump truck yang menunggu giliran pengangkutan, antri dan berderet ke


belakang namun harus masih tetap dalam area perambuan.

Untuk pengangkutan tanah, tiap dump truck harus dilengkapi dengan penutup
bak belakang. Ini dimaksudkan agar tanah yang diangkut tidak tercecer dimuka
jalan, sebab tanah yang tercecer tersebut sangat licin bila sedikit saja kena air
hujan dan ini dapat mengakibatkan kecelakaan fatal.

Mobilisasi peralatan berat ke lapangan juga harus memperhatikan keselamatan


dari peralatan maupun operatornya, dan bila perlu minta satuan pengawal dari
pihak kepolisian.

Atribut pada tenaga kerja


Semua tenaga kerja disarankan mengenakan atribut yang mudah dikenal dan
terlihat dari jarak yang cukup jauh dan ini bisa terpenuhi dengan pemakaian baju
rompi refleksionis warna orange menyolok yang harus selalu dikenakan pada saat
melaksanakan tugas.
Penggunaan topi di lapangan juga dianjurkan, sebab sangat membantu
mengurangi keletihan akibat terik matahari. Bekerja pada kondisi badan letih yang
dipaksakan apalagi di jalan yang padat lalu lintas yang beroperasi sangat
membahayakan dan mengurangi akurasi kerja.

4.

Astek (Asuransi tenaga kerja)


Jaminan perlindungan keselamatan terhadap tenaga kerja pada daerah beresiko
tinggi adalah mutlak diperlukan. Setiap tanaga kerja tersebut harus dijamin dengan
asuransi tenaga kerja yang lebih dikenal dengan astek.
Mengingat pentingnya Astek pada pelaksanaan pekerjaan tersebut maka astek
tidak bisa dipisahkan dari dokumen kontrak, jadi merupakan satu kesatuan dalam
dokumen kontrak.

E.1.28. PENGETAHUAN TENTANG PEKERJAAN FISIK PROYEK

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-40

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

1. Pematokan dan pengukuran


Suatu pembangunan membutuhkan pelaksanaan seluruh elemennya pada posisi yang
benar.
Untuk memindahkan suatu Gambar Rencana dari atas kertas ke suatu bangunan di
lapangan, maka dibutuhkan :

Disana harus ada sejumlah titik kontrol pengukuran yang harus dikaitkan pada
suatu sistem koordinat yang tetap.
Perencanaan konstruksi harus dikaitkan pada sistem koordinat yang sama.

Apabila terdapat ketidak jelasan informasi pada gambar rencana yang menimbulkan
keraguan interpretasi, maka pengawas lapangan harus menghubungi perencananya
untuk mendapatkan kejelasan. Kontraktor bertanggung jawab dalam penentuan dan
pematokan secara keseluruhan, sedang pengawas lapangan harus memastikan bahwa
kontraktor mendapatkan informasi yang tepat serta menyiapkan titik-titik kontrol yang
dipasang.
a. Pengukuran horizontal
Pengukuran horizontal didasarkan baik pada sistem kontrol garis ataupun
sistem koordinat, namun bila dibutuhkan dapat merupakan kombinasi dari kedua
sistem diatas.
b. Pengukuran vertikal
Ketinggian permukaan tanah dapat diukur dari titik Bench Mark. Geometri
vertikal garis kontrol biasanya telah ditentukan. Data ini merinci rangkaian titik
tangen vertikal, ketinggian dan kemiringan permukaan akhir.
c. Titik kontrol survai
Suatu jaringan titik kontrol survei ditentukan untuk mencakup seluruh daerah
proyek, dan ditempatkan pada posisi yang tepat didalam pekerjaan konstruksi.
Jarak antara titik-titik kontrol dianjurkan kira-kira 50 meter.
Titik-titik kontrol survei sebaiknya berada dekat dengan lokasi pekerjaan tetapi
bebas dari area kegiatan, dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan
adanya pergeseran posisi akibat aktivitas pekerjaan termasuk pengoperasian
dari peralatan. Untuk itu letak titik-titik kontrol tersebut harus selalu dicek secara
teratur. Perubahan letak titik kontrol juga dapat terjadi pada dasar tanah, pada
timbunan pelapisan tanah yang mudah mampat atau proses dalam tanah itu
sendiri, seperti proses yang terjadi akibat besarnya variasi kadar kelembaban.
d. Penentuan elemen-elemen struktur
Letak dari elemen-elemen utama struktur ditentukan berdasarkan pada sistem
referensi yang digunakan.
Titik offset referensi harus ditetapkan untuk tiap elemen utama. Letak dan jarak
offset tiap-tiap titik referensi harus hati-hati diputuskan dan dikenali dilapangan
dan untuk menyiapkan tahap penentuan kembali yang mudah bagi letak elemen
utama selama pelaksanaan pekerjaan sehingga titik-titik ini tidak terganggu.
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-41

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Letak elemen-elemen kecil lain seperti kerb, parapet, galian drainase ditentukan
berdasarkan pada letak elemen-elemen dengan mempertimbangkan
pengukuran.
Penempatan dan pematokan letak elemen-elemen yang telah ditentukan harus
diperiksa. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara terpisah dan dilakukan oleh
Staf Engineer dengan menggunakan peralatan lain yang berbeda dengan
peralatan yang digunakan pada saat penempatan dan pematokan awal.
Bagi kontraktor yang melaksanakan pemeriksaan ulang atas hasil pekerjaannya
sendiri, dianjurkan untuk menggunakan methoda lain yang berbeda dengan
methoda yang telah digunakan pada saat awal penempatan dan pematokan.
Untuk menghindari kesalahan dari ketidak tepatan identifikasi patok, ketidaktepatan panandaan atau kesalahan dalam melaksanakan survei, maka
pengukuran jarak dan beda tinggi dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan
dari titik awal suatu sisi sampai pada titik akhir pada sisi yang lain, kemudian
diikatkan pada titik kontrol hasil survei pertama. Pemeriksaan ini tidak
diperkenankan dilakukan hanya dengan mengukur dari satu titik akhir saja atau
dua titik akhir pada sisi yang terpisah.
2. Material / Bahan-beton
a.

Semen
Konsultan Supervisi harus memastikan bahwa kontraktor memenuhi persyaratan
syarat-syarat teknik yang berhubungan dengan pemakaian, penyimpanan dan
umur semen.

b.

Agregat
Pemilihan agregat yang sesuai sangat penting pada produksi beton yang baik.
Agregat beton harus terdiri dari partikel-partikel yang bersih, keras dan tahan serta
cukup kuat untuk menahan beban yang diterima oleh beton. Pada umumnya,
agregat tersebut terdiri dari pasir atau kerikil alam, atau batu pecah.
Agregat beton harus :

Cukup kuat dan keras untuk dapat menghasilkan beton dengan kekuatan tekan
yang memenuhi syarat, dan tahan terhadap abrasi.

Bersih atau bebas dari kotoran seperti zat-zat organik, karena dapat
menghambat pembekuan dan pengerasan beton. Tidak mengandung lanau
dan lempung karena dapat memperlemah beton. Partikel-partikel yang lemah
dan lunak dapat mengurangi kekuatan beton dan dapat hancur bila terbuka
terhadap cuaca. Lempung atau bahan lemah lainnya yang menutupi
permukaan agregat dapat mengurangi ikatan antara agregat dan pasta semen.

Gradasi :
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-42

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Agregat yang bergradasi baik akan menghasilkan beton yang mudah


dikerjakan agregat yang tidak memenuhi gradasi yang disyaratkan cenderung
untuk terjadi pemisahan (segregation) dan airnya akan merembes keluar
(bleeding).

Pada umumnya pasir yang bergradasi kasar paling dikehendaki. Disisi lain,
semua pasir harus mengandung kuantitas partikel halus yang cukup untuk
membantu mendapatkan kemampuan pengerjaan yang baik. Suatu gradasi
pasir dimana satu atau dua ukuran partikel sangat dominan harus dihindarkan.
Pasir demikian mempunyai kadar udara yang besar, oleh karena itu
memerlukan pasta semen dalam jumlah besar untuk dapat menghasilkan
campuran yang dapat dikerjakan dengan baik.

Bentuk partikel dan tekstur permukaan :


Bentuk partikel dan permukaan dari agregat akan mempengaruhi kemampuan
pengerjaan pada beton. Partikel sepihan (flakey) bersudut tidak hanya menyulitkan
dalam pengerjaan tetapi juga menyebabkan pemisah, maka harus dihindari.
Kekuatan maksimum, dengan sedikit kesulitan dalam pengerjaan, akan dihasilkan
oleh agregat pecah (crushed) dengan pelekatan antara muka batuan yang tidak
rata.
Ukuran maksimum :
Penghematan yang paling besar didapatkan bila ukuran agregat maksimum
terbesar digunakan. Faktor-faktor yang membatasi gradasi adalah kemampuan
peralatan pengaduk, pengangkat dan pengecoran untuk dapat menangani ukuranukuran lebih besar, dan jarak bebas (spacing) antara acuan dan tulangan. Ukuran
agregat maksimum tidak boleh melebihi dua pertiga jarak bebas antara tulangan
atau tiga perempat selimut beton hingga penulangan. Dalam syarat-syarat teknik,
penggunaan beton pada berbagai bagian pekerjaan diberi batasan yang
menggambarkan batas-batas tersebut diatas.
c.

d.

Air

Air yang dipakai untuk beton tidak boleh mengandung garam, larutan zat
organik, atau bahan lain yang akan mengganggu hidrasi semen.

Air yang dapat diminum biasanya memuaskan. Jika ada keraguan, suatu batch
percobaan beton harus dibuat dan diuji untuk membandingkan tingkat
pengerasan dan kekuatan ultimatenya dengan beton serupa yang dibuat
dengan air murni / segar.

Air laut tidak boleh digunakan pada beton bertulang, karena menyebabkan
korosi pada penulangan.
Udara

Kehadiran rongga didalam beton sangat mengurangi kekuatannya. Jumlah sekecil


5 persen dapat mengurangi kekuatan dengan 30 persen, dan 2 persen dapat
mengurangi kekuatan 10 persen.
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-43

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Rongga pada beton adalah :

Gelembung udara yang tertahan, atau


Ruangan yang tertinggal setelah air berlebihan dihilangkan, hal ini tergantung
pada ratio semen air (water cement ratio) dari campuran

Telah biasa dilaksanakan untuk entrain udara hingga 8 persen dalam beton dengan
menggunakan campuran tambahan yang sesuai. Gelembung udara tersebut jauh
lebih kecil (0,05 mm) dari pada gelembung yang secara tidak sengaja masuk atau
tertahan, dan terpisah-pisah sehingga tidak berbentuk saluran untuk lewatnya air
dan permeabilitas beton tidak bertambah.
3. Penyimpanan Bahan
1.

Semen
Harus disimpan didalam gudang semen atau bangunan tahan cuaca dan teratur
agar dapat digunakan dengan urutan sesuai pengiriman. Semen yang disimpan
lebih dari empat bulan harus diuji kembali sebelum digunakan.

2.

Agregat
Agregat harus disimpan dalam bak (bin) atau tempat penimbunan (stockpile)
berdekatan dengan pekerjaan dengan tiap ukuran dipisah dari ukuran lainnya
secara pasti untuk mencegah saling tercampur. Lantai penimbunan harus kering
dan dilapisi kerikil atau bahan untuk mencegah bercampurnya timbunan dengan
tanah.

4. Pekerjaan Jalan
A. Komponen utama pekerjaan jalan
Pembangunan jalan meliputi komponen pekerjaan pokok antara lain dan tidak
terbatas pada :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Penentuan batas-batas pekerjaan.


Pekerjaan galian.
Pekerjaan timbunan.
Penyiapan subgrade / tanah dasar.
Pembuatan sub base course & base course.
Pembuatan lapis permukaan / pengaspalan / hotmix.
Pekerjaan rigid pavement.
Pekerjaan struktur.

a.

Penentuan batas-batas pekerjaan


Sebelum pekerjaan dimulai perlu diadakan pengukuran, khususnya
berkenaan dengan ukuran lebar jalan, lokasi jalan, elevasi permukaan,
struktur drainase.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-44

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Kontraktor dan Konsultan harus mencapai persetujuan terlebih dahulu


mengenai ketepatan pengukuran agar hasil pekerjaan sesuai dengan
Gambar kontrak.
b.

Pekerjaan Galian
Pekerjaan ini umumnya terdiri dari galian, pembuangan dari tanah atau
batuan atau bahan-bahan lainnya dari badan jalan atau yang berdekatan
yang diperlukan untuk pembentukan konstruksi jalan.
Pekerjaan tersebut juga diperlukan untuk pembuatan saluran air dan
selokan, untuk pembentukan pondasi untuk pipa, gorong-gorong atau
struktur lainnya, untuk pengeluaran bahan-bahan yang tidak terpakai dan
tanah humus, untuk pekerjaan stabilisasi, untuk bahan-bahan konstruksi
galian tambahan atau pembuangan bahan-bahan sisa galian dan pada
umumnya untuk pembentukan tempat kerja yang sesuai dengan spesifikasi.

c.

Pekerjaan Timbunan
Pekerjaan ini terdiri dari pengangkutan, penempatan dan pemadatan tanah
atau bahan-bahan butiran untuk pekerjaan timbunan, untuk pengurugan
kembali pada parit atau galian disekeliling pipa atau daerah luar struktur,
penimbunan untuk pembentukan konstruksi menurut garis, kelandaian dan
ketinggian dari penampang melintang yang ditentukan.

d.

Penyiapan subgrade / tanah dasar


Pekerjaan ini terdiri dari persiapan permukaan tanah dasar setelah
penyelesaian pekerjaan-pekerjaan penggalian atau penimbunan untuk
penempatan lapisan pondasi bawah (subbase), trotoar, jalur-jalur pemisah
(median) dan bahu jalan (termasuk tempat parkir dan persimpangan).
Pekerjaan meliputi penggalian kecil dan pekerjaan timbunan diikuti dengan
pembentukan, pemadatan dan pengujian / test laboratorium maupun test
lapangan, serta pemeliharaan dari pada permukaan yang dipersiapkan
sampai bahan-bahan perkerasan jalan ditempatkan diatasnya.

e.

Pembuatan subbase course & base course


Pekerjaan terdiri dari penyediaan, pemrosesan, pengangkutan,
penghamparan, pembasahan dan pemadatan agregat dari campuran batu
pecah bergradasi tertentu pada suatu permukaan yang dipersiapkan untuk
itu.
Pemrosesan meliputi pemecahan, penyaringan, pencampuran dan setiap
operasi pelaksanaan lainnya untuk menghasilkan suatu bahan sesuai
dengan persyaratan pengujian bahan/material apakah bisa digunakan atau
tidak untuk agregat sesuai dengan persyaratan, jika test lapangan dilakukan
untuk pengendalian kualitas.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-45

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

f.

Pekerjaan pengaspalan / hotmix


Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan suatu lapisan hotmix, campuran tersebut
harus dicampur dalam Asphalt Mixing Plant, dihampar dan dipadatkan pada
suatu permukaan yang disetujui oleh Konsultan.
Pelapisan aspal direncanakan dengan menggunakan prosedur khusus yang
diberikan dalam spesifikasi, untuk menjamin bahwa asumsi-asumsi rencana
mengenai kadar aspal efektip, rongga udara, stabilitas, dan ketebalan lapisan
aspal benar-benar terpenuhi.
Equipment yang digunakan pada umumnya terdiri dari Asphalt Mixing Plant,
Asphalt Sprayer, Asphalt Finisher, Tendem Roller dan Pneumatic Tire Roller.
Untuk mendapatkan campuran hotmix yang memenuhi persyaratan
spesifikasi, test-test antara lain sebagai berikut ini perlu dilaksanakan :

g.

Marshall test
Extraction test
Asphalt properties
Suhu campuran
Core drill
dan lain-lain yang disebutkan dalam spesifikasi.

Pekerjaan rigid pavement


Pekerjaan ini terdiri dari konstruksi perkerasan jalan beton semen portland
diberi dowel dan tie bar sebagaimana disyaratkan, di atas badan jalan yang
telah dipersiapkan, dan menurut garis-garis, ketinggian, kelandaian, ukuran,
penampang melintang dan penyelesaian akhir yang diperlihatkan dalam
gambar.
1).

Bahan-bahan
Bahan / material berikut ini harus mengikuti ketentuan dalam
spesifikasi :

Semen
Air
Persyaratan gradasi agregat
Sifat agregat
Membran kedap air
Tulangan baja, dowel, tie bar : Batanq baja untuk Dowel harus
berupa batang bulat biasa sesuai denqan AASHTO M 31. Batangbatang Dowel berlapis plastik yang memenuhi AASHTO M 254
dapat digunakan. Batang pengikat harus berupa batang-batang
baja berulir sesuai dengan AASHTO M 31.
Bahan-bahan untuk sambungan

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-46

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

2).

Persyaratan sifat campuran dan kekuatan beton

Kuat tekan karateristik beton dan kuat lentur karakteristik harus


sesuai dengan persyaratan dalam spesifikasi.

3)

4).

5).

Beton harus merupakan jenis yang memiIiki sifat kemudahan


pengerjaan yang sesuai untuk mencapai pemadatan penuh. Slump
optimum harus sesuai dengan persyaratan dalam spesifikasi.
Pengecoran

Pengecoran beton harus diteruskan dengan tanpa berhenti sampai


pada suatu sambungan konstruksi yang telah ditentukan dan
disetujui sebelumnya atau sampai pekerjaan tersebut diselesaikan.

Beton harus dicor dengan cara sedemikian rupa untuk


menghindari segregasi / pemisahan partikel-partikel halus dan
kasar dalam campunan yang bersangkutan. Beton harus dicor ke
dalam acuan-acuan sedekat mungkin dengan posisi akhirnya
untuk menghindari pengaliran dan tidak boleh mengalir lebih dari 1
m setelah pengecoran.

Beton harus dicor dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga


beton yang baru dicor menyatu dengan beton yang dicor
sebelumnya sementara yang baru dicor masih plastis.

Perawatan

Segera setelah penyapuan dan perapian tepi selesai perawatan


beton harus dimulai.

Permukaan terbuka beton yang baru dicor harus dilindungi dengan


menggunakan bahan-bahan yang bersifat merefleksi panas dan
hujan.

Bahan yang digunakan harus dijaga agar tetap basah untuk waktu
tidak kurang dari 5 hari, sampai suatu tingkat yang menjamin
bahwa 100 % kelembaban dipertahankan pada permukaan beton.

Kegiatan-kegiatan pengecoran beton harus ditunda jika


penyediaan air tidak cukup baik untuk perawatan, atau bila tidak
cukup persediaan bahan perawatan lainnya tersedia di lokasi
pekerjaan.

Pembongkaran acuan
Acuan-acuan tidak boleh dibongkar sampai beton yang baru
ditempatkan telah mengeras untuk sekurang-kurangnya 12 jam.
Acuan-acuan tersebut harus dibongkar dengan hati-hati untuk
menghindarkan kerusakan pada perkerasan jalan.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-47

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

6).

Pembukaan untuk lalu-lintas


Jalan tidak boleh dibuka untuk lalu-lintas sebelum hasil test terhadap
sampel mencapai kekuatan lentur minimum tidak kurang dari 90 %
kekuatan umur 28 hari, sebagaimana ditentukan pada spesifikasi.
Perkerasan tak boleh dibuka untuk lalu-lintas sebelum 14 hari dari saat
beton dihamparkan. Sebelum lalu lintas dibuka, perkerasan harus
dibersihkan dan penutup (sealing) sambungan sudah sempurna.

7).

Sambungan (joints)
Sambungan harus dibuat dengan tipe, ukuran dan pada lokasi seperti
yang ditentukan dalam Gambar. Semua sambungan harus dilindungi
agar tidak kemasukan material yang tidak dikehendaki sebelum ditutup
dengan bahan pengisi.
a).

b).

Sambungan memanjang (longitudinal joints)

Batang baja ulir (deformed) dengan panjang, ukuran, dan


jarak seperti yang ditentukan harus diletakkan tegak lurus
dengan sambungan longitudinal.

Sambungan longitudinal gergajian (longitudinal sawn joint)


harus dibuat dengan pemotongan beton dengan gergaji
beton yang disetujui sampai kedalaman, lebar dan garis
sesuai Gambar. Sambungan longitudinal ini harus digergaji
sebelum berakhirnya masa perawatan beton, atau segera
sesudahnya sebelum peralatan atau kendaraan
diperbolehkan memasuki perkerasan beton baru tersebut.
Daerah yang akan digergaji harus dibersihkan dan
sambungan harus segera diisi dengan material penutup
(sealer) sesuai dengan yang disyaratkan.

Sambungan kontraksi melintang (transverse contraction


joints)
Sambungan ini terdiri dari bidang-bidang yang diperlemah dengan
membuat takikan / alur dengan pemotongan permukaan
perkerasan, disamping itu bila tertera pada Gambar juga harus
mencakup pasangan alat transfer beban (load transfer
assemblies).

Sambungan kontraksi kepingan melintang (transverse strip


contraction joints)
Takikan / alur (formed grooves)
Sambungan gergajian (sawn contraction joints)
Sambungan kontraksi acuan melintang (transverse formed
contraction joints)

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-48

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

c).

8).

9).

10).

Alur pada sambungan

Alur-alur tersebut dapat dibentuk pada waktu beton masih


dalam keadaan plastis atau digergaji setelah beton
mengeras.

Bagian alur yang akan ditutup / disegel harus mempunyai


sisi-sisi yang benar-benar vertikal dan sejajar.

Penyegelan (penutup alur)

Penyegelan
permanen
sambungan-sambungan
harus
dilaksanakan dalam waktu 28 hari sejak pengecoran beton.
Segera sebelum penyegelan permanen, sambungan harus
dibersihkan dari segala kotoran, bahan lepas, penyegelan
sementara, pembentuk atau bahan pengisi yang harus dibuang.

Bahan penyegel harus dituang sampai pada suatu permukaan


antara 3 mm dan 6 mm di bawah permukaan beton yang
bersangkutan.

Alat transfer beban (load transfer devices)

Bila digunakan dowel (batang baja polos), maka harus dipasang


sejajar dengan permukaan dan garis sumbu perkerasan beton,
dengan memakai pengikat / penahan logam yang dibiarkan
terpendam dalam perkerasan.

Ujung dowel harus dipotong agar permukaannya rata. Ukuran


bagian dowel yang harus dilapisi pelumas harus sesuai yang
tertera pada Gambar, agar bagian tersebut tidak ada lekatan
dengan beton, penutup (selubung) dowel, harus dipasang pada
setiap batang dowel pada sambungan ekspansi. Penutup itu harus
berukuran pas dengan dowel dan bagian ujung yang tertutup harus
tahan air.

Menutup sambungan (sealing joint)

Sambungan harus ditutup segera sesudah selesai proses


perawatan (curing) beton dan sebelum jalan terbuka untuk lalulintas, termasuk kendaraan Kontraktor. Sebelum ditutup, setiap
sambungan harus dibersihkan dari material yang tidak
dikehendaki, termasuk bahan perawatan (membrane curing
compound) dan permukaan sambungan harus bersih dan kering
ketika diisi dengan material penutup.

Material penutup (joint sealer) yang digunakan pada setiap


sambungan harus sesuai dengan yang tertera pada Gambar.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-49

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Material penutup harus diaduk selama pemanasan untuk


mencegah pemanasan yang berlebihan secara tidak merata.
Waktu dituangkan, jangan sampai material ini tumpah pada
permukaan beton yang terbuka. Kelebihan material pada
permukaan beton harus segera dibersihkan. Penggunaan pasir
atau material lain sebagai pelindung material penutup tidak
diperbolehkan.

B. Jenis dan fungsi lapisan perkerasan


Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari lapisan-lapisan yang diletakkan diatas
tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk
menerima beban lalu-lintas dan menyebarkannya ke lapisan dibawahnya.
Konstruksi perkerasan terdiri dari :

Lapisan permukaan ( surface course ).


Lapisan pondasi atas ( base course ).
Lapisan pondasi bawah ( subbase course ).
Lapisan tanah dasar ( subgrade ).

a.

Lapisan permukaan ( surface course )


Lapis permukaan berfungsi sebagai :

b.

Lapis perkerasan penahan beban roda.


Lapis kedap air.
Lapis aus.
Lapis yang menyebarkan beban ke lapisan bawah.

Lapis pondasi atas ( base course )


Fungsi lapisan pondasi atas ini antara lain sebagai :

c.

Menahan gaya lintang beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan


dibawahnya.
Lapisan peresapan.
Bantalan terhadap lapisan permukaan.

Lapis pondasi bawah ( subbase course )


Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :

Menyebarkan beban roda ke tanah dasar.


Effisiensi penggunaan material.
Mengurangi tebal lapisan diatasnya yang lebih mahal.
Lapis peresapan.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-50

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

d.

Lapisan pertama agar pekerjaan dapat berjalan lancar.


Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke
lapis pondasi atas.

Lapisan tanah dasar ( subgrade )

Lapisan tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah
aslinya baik, atau tanah baik yang didatangkan dari tempat lain dan
dipadatkan.
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat ditentukan
oleh sifat-sifat daya dukung tanah dasar.

C. Material konstruksi perkerasan


a. Tanah dasar

Tanah dasar yang baik untuk konstruksi perkerasan jalan adalah tanah
dasar yang berasal dari lokasi itu sendiri atau didekatnya (klasifikasi
tanah baik, bukan tanah A-7-6), yang telah dipadatkan sampai tingkat
kepadatan tertentu sehingga mempunyai daya dukung yang baik serta
berkemampuan mempertahankan perubahan volume selama masa
pelayanan walaupun terdapat perbedaan kondisi lingkungan.

Sifat masing-masing jenis tanah tergantung dari tekstur, kepadatan,


kadar air, kondisi lingkungan, dan lain sebagainya.

Daya dukung tanah dasar dapat diperkirakan dengan mempergunakan


hasil klasifikasi ataupun dari pemeriksaan CBR.

b. Agregat
Agregat / batuan merupakan komponen utama dari lapisan perkerasan jalan
yaitu mengandung 92 - 95 % agregat berdasarkan persentase berat. Dengan
demikian daya dukung, keawetan dan mutu perkerasan jalan ditentukan juga
dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain.
Sifat dan kwalitas agregat menentukan kemampuannya dalam memikul
beban lalu-lintas. Sifat agregat yang menentukan kwalitasnya sebagai bahan
konstruksi perkerasan jalan dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu :

Kekuatan dan keawetan (strength & durability) lapisan perkerasan


dipengaruhi oleh : gradasi, ukuran maksimum, kadar lempung,
kekerasan dan ketahanan, bentuk butir, tekstur permukaan.

Kemampuan dilapisi aspal dengan baik, dipengaruhi oleh : porositas,


kemungkinan basah, jenis agregat.

Kemudahan dalam pelaksanaan dan menghasilkan lapisan yang nyaman


dan aman, dipengaruhi oleh : tahanan geser (skid resistance), campuran
yang memberikan kemudahan dalam pelaksanaan (workability).

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-51

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Gradasi
Gradasi atau distribusi partikel-partikel berdasarkan ukuran agregat
merupakan hal yang penting dalam menentukan stabilitas perkerasan.
Gradasi agregat mempengaruhi besarnya rongga antar butir yang akan
menentukan stabilitas dan kemudahan dalam proses pelaksanaan.
Gradasi agregat dapat dibedakan atas :

Gradasi seragam (Uniform graded) :


Adalah agregat dengan ukuran yang hampir sama atau mengandung
agregat halus yang sedikit. Gradasi seragam disebut juga gradasi
terbuka. Agregat dengan gradasi seragam akan menghasilkan lapisan
perkerasan dengan sifat permeabilitas tinggi, stabilitas kurang, berat
volume kecil.

Gradasi rapat (Dense graded) :


Merupakan campuran agregat kasar dan halus dalam porsi yang
berimbang, sehingga dinamakan juga agregat bergradasi baik (well
graded). Agregat dengan gradasi rapat akan menghasilkan lapisan
perkerasan dengan stabilitas tinggi, kurang kedap air, sifat drainase jelek
dan berat volume besar.

Gradasi buruk (Poorly graded) :


Merupakan campuran agregat yang tidak memenuhi 2 kategori diatas.
Agregat bergradasi buruk yang umum digunakan untuk lapisan
perkerasan lentur yaitu gradasi senjang (gap graded), merupakan
campuran agregat dengan 1 fraksi hilang atau sedikit sekali. Agregat
dengan gradasi senjang akan menghasilkan lapisan perkerasan yang
mutunya terletak antara kedua jenis diatas.

Kadar lempung
Lempung mempengaruhi mutu campuran agregat dengan aspal, karena :

Lempung membungkus partikel-partikel agregat sehingga ikatan antara


agregat dan aspal berkurang.
Luas daerah yang harus diselimuti aspal bertambah.
Tipisnya lapisan aspal mengakibatkan lapisan mudah teroksidasi
sehingga lapisan cepat rapuh / getas.
Lempung cenderung menyerap air yang berakibat hancurnya lapisan
aspal.

Daya tahan agregat


Daya tahan agregat adalah ketahanan agregat untuk tidak hancur/pecah oleh
pengaruh mekanis ataupun kimia.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-52

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Bentuk dan tekstur agregat


Bentuk dan tekstur mempengaruhi stabilitas dari lapisan perkerasan yang
dibentuk oleh agregat tersebut.

Partikel agregat bulat saling bersentuhan dengan luas bidang kontak


kecil sehingga menghasilkan daya interlocking yang lebih kecil dan lebih
mudah tergelincir.
Partikel agregat berbentuk lonjong mempunyai sifat interlocking hampir
sama dengan yang berbentuk bulat.
Partikel berbentuk kubus mempunyai bidang kontak yang lebih luas,
memberikan interlocking / saling mengunci yang lebih besar, dengan
demikian kestabilan yang diperoleh lebih besar dan lebih tahan terhadap
deformasi yang timbul. Agregat berbentuk kubus ini paling baik
digunakan sebagai bahan konstruksi perkerasan jalan.
Agregat berbentuk pipih mudah pecah pada waktu pencampuran,
pemadatan, ataupun akibat beban lalu-lintas, oleh karena itu banyaknya
agregat pipih ini dibatasi dengan menggunakan nilai indeks kepipihan
yang disyaratkan.

Daya lekat terhadap aspal


Faktor yang mempengaruhi lekatan aspal dan agregat dapat dibedakan atas
2 bagian yaitu :

Sifat mekanis yang tergantung dari : Pori-pori dan absorbsi, Bentuk dan
tekstur permukaan, Ukuran butir.
Sifat kimiawi dari agregat.

Berat jenis (spesific gravity)


Besarnya berat jenis agregat penting dalam perencanaan campuran agregat
dengan aspal karena umumnya direncanakan berdasarkan perbandingan
berat dan juga untuk menentukan banyak pori. Agregat dengan berat jenis
yang kecil mempunyai volume yang besar sehingga dengan berat yang sama
membutuhkan jumlah aspal yang lebih banyak. Disamping itu agregat
dengan kadar pori besar membutuhkan jumlah aspal yang banyak.
c. Aspal
Sebagai salah satu material konstruksi perkerasan lentur, aspal merupakan
salah satu komponen kecil, umumnya 4 - 8 % berdasarkan berat, tetapi
merupakan komponen yang relatif mahal.
Sifat aspal akan berubah akibat panas dan umur, aspal akan menjadi kaku
dan rapuh dan akhirnya daya adhesinya terhadap partikel agregat akan
berkurang. Perubahan ini dapat diatasi / dikurangi jika sifat-sifat aspal
dikuasai dan dilakukan langkah-langkah yang baik dalam proses
pelaksanaan.
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-53

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Jenis aspal berdasarkan cara diperolehnya dapat dibedakan atas :

Aspal alam : contoh aspal Buton.


Aspal buatan : contoh aspal minyak.

Aspal minyak dapat dibedakan :

Aspal keras / panas (Asphalt Cement = AC) : AC pen 40/50, AC pen


60/70, AC pen 85/100, AC pen 120/150, AC pen 200/300.
Aspal dingin / cair (Cut back asphalt) : RC (Rapid Curing cut back), MC
(Medium Curing cut back), SC (Slow Curing cut back).
Aspal emulsi (Emulsion Asphalt) : Kationik, Anionik, Nonionik, RS (Rapid
Setting), MS (Medium Setting), SS (Slow Setting).

Aspal yang dipergunakan pada konstruksi perkerasan jalan berfungsi


sebagai :

Bahan pengikat.
Bahan pengisi.

D. Aspal beton campuran panas (Hotmix)


Hotmix merupakan salah satu jenis dari lapis perkerasan lentur. Jenis perkerasan
ini merupakan campuran antara agregat dan aspal pada suhu tertentu (dicampur
dalam keadaan panas).
a.

Klasifikasi aspal beton


Berdasarkan fungsinya aspal beton campuran panas dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :

b.

Sebagai lapis permukaan.


Sebagai lapis pondasi atas.
Sebagai lapis pembentuk pondasi / permukaan.

Karakteristik campuran
Karakteristik campuran yang harus dimiliki oleh campuran aspal beton
campuran panas adalah :

c.

Stabilitas.
Durabilitas.
Fleksibilitas.
Tahanan geser (skid resistance).
Kedap air.
Kemudahan pengerjaan (workability).
Fatique resistance.

Perencanaan campuran

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-54

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Campuran antara agregat dan aspal harus ditentukan / direncanakan


seoptimal mungkin sehingga dihasilkan lapisan perkerasan dengan kwalitas
yang baik, meliputi gradasi agregat (dengan juga memperhatikan mutu
agregat) dan kadar aspal sehingga dihasilkan lapisan perkerasan yang dapat
memenuhi kriteria sebagai berikut :

Kadar aspal cukup memberikan kelenturan.


Stabilitas cukup memberikan kemampuan memikul beban sehingga tak
terjadi deformasi yang merusak.
Kadar rongga cukup memberikan kesempatan untuk pemadatan
tambahan akibat beban berulang dan flow dari aspal.
Dapat memberikan kemudahan kerja.

Perencanaan campuran diperlukan untuk mendapatkan resep campuran


yang memenuhi spesifikasi. Metode perencanaan campuran yang umum
dipergunakan di Indonesia antara lain yang bersumber dari BS594 yang lebih
dikenal dengan nama metode CQCMU.
d.

Asphalt Mixing Plant


Proses pencampuran aspal beton campuran panas dilakukan di Asphalt
Mixing Plant (AMP).
Jenis AMP sesuai dengan komponen-komponen yang dimiliki AMP dibagi
atas 2 jenis yaitu :

e.

Alat pencampur dengan penakaran (Batch plant).


Alat pencampur tipe menerus (Continuous plant).

Permasalahan yang dapat mempengaruhi kwalitas hotmix


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kwalitas hotmix antara lain :

Penimbunan agregat, yang dapat menyebabkan terjadinya segregasi


dan degradasi serta kontaminasi, jika tidak mengikuti proses yang benar.
Over heating baik agregat maupun aspal.
Under heating baik agregat maupun aspal.
Campuran rencana yang tidak tepat.
Agregat yang basah.
Komponen AMP mengalami kerusakan yang tidak diketahui.
Pengaturan masing-masing komponen tidak memenuhi persyaratan
yang diminta.
Penimbangan yang tidak baik / terkontrol baik.
Pemuatan ke truck pengangkut yang kurang baik sehingga terjadi
segregasi.
Penghamparan yang kurang baik sehingga terjadi segregasi.
Tebal penghamparan yang terlalu tebal.
Alat pemadat dan proses pemadatan yang tidak baik.
Temperatur penghamparan dan pemadatan yang tidak tepat.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-55

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

f.

Kondisi lokasi jalan sebelum penghamparan tidak memenuhi


persyaratan.
Jangka waktu dari proses pemadatan sampai jalan dibuka untuk lalulintas umum terlalu cepat.

Pemadatan hotmix
Pemadatan dilakukan dalam 3 tahap yang berurutan :

Pemadatan awal (Breakdown rolling) : Berfungsi untuk mendudukkan


material pada posisinya dan sekaligus memadatkannya. Alat yang
digunakan adalah Tandem Roller.

Pemadatan antara / kedua (Secondary rolling) : Merupakan


pemadatan seperti pemadatan akibat beban lalu-lintas. Alat yang
digunakan adalah Pneumatic Tire Roller.

Pemadatan akhir (Finishing rolling) : Untuk menghilangkan jejak-jejak


roda ban. Penggilasan dilakukan pada temperatur diatas titik lembek
aspal. Alat pemadat yang digunakan adalah Tandem Roller.

5. Pekerjaan struktur
A. Beton

Pekerjaan ini mencakup pelaksanaan seluruh struktur beton, termasuk


tulangan, struktur pracetak, sesuai dengan Spesifikasi dan sesuai dengan
garis, elevasi, kelandaian dan dimensi yang ditunjukkan dalam Gambar.

Pekerjaan ini harus meliputi pula penyiapan tempat kerja untuk pengecoran
beton, pemeliharaan pondasi, pengadaan lantai kerja, pemompaan atau
tindakan lain untuk mempertahankan agar pondasi tetap kering.

Mutu beton yang akan digunakan pada masing-masing bagian dari pekerjaan
dalam Kontrak haruslah seperti yang ditunjukkan dalam Gambar.

Syarat dari RSNI-T-12-2004, BMS 1992, SNI-03-2833-1992, AASHTO (Bridge),


harus diterapkan sepenuhnya pada semua pekerjaan beton yang dilaksanakan
dalam Kontrak ini, kecuali bila terdapat ketidak-sesuaian dengan ketentuan
dalam Spesifikasi.

B. Kelas beton dan penggunaannya


Jenis beton dan penggunaannya adalah seperti dijelaskan dalam spesifikasi dan
ketentuan dalam gambar, atau diperintahkan Konsultan Pengawas.
C. Standar proporsi campuran beton untuk struktur
Proporsi campuran seperti dalam spesifikasi atau campuran beton yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas dan atau Kuasa Pengguna Anggaran.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-56

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

D. Pembongkaran Acuan

Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal, dinding, kolom yang tipis dan
struktur yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton. Cetakan
yang ditopang oleh perancah di bawah pelat, balok, gelegar, atau struktur
busur, tidak boleh dibongkar hingga pengujian menunjukkan bahwa paling
sedikit 85 % dari kekuatan rancangan beton telah dicapai.

Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, acuan yang digunakan untuk


pekerjaan ornamen, sandaran (railing), dinding pemisah (parapet), dan
permukaan vertikal yang terekspos harus dibongkar dalam waktu paling sedikit
9 jam setelah pengecoran dan tidak lebih dari 30 jam, tergantung pada
keadaan cuaca.

E. Perawatan dengan pembasahan

Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan dini,


temperatur yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton harus dijaga
agar kehilangan kadar air yang terjadi seminimal mungkin dan diperoleh
temperatur yang relatif tetap dalam waktu yang ditentukan untuk menjamin
hidrasi yang sebagaimana mestinya pada semen dan pengerasan beton.

Beton harus dirawat, sesegera mungkin setelah beton mulai mengeras, dengan
menyelimutinya dengan bahan yang dapat menyerap air. Lembaran bahan
penyerap air ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling sedikit 3 hari.
Semua bahan perawat atau lembaran bahan penyerap air harus dibebani atau
diikat ke bawah untuk mencegah permukaan yang terekspos dari aliran udara.

Bilamana digunakan acuan kayu, acuan tersebut harus dipertahankan basah


pada setiap saat sampai dibongkar, untuk mencegah terbukanya sambungansambungan dan pengeringan beton. Lalu lintas tidak boleh diperkenankan
melewati permukaan beton dalam 7 hari setelah beton dicor.

Lantai beton sebagai lapis aus harus dirawat setelah permukaannya mulai
mengeras dengan cara ditutup oleh lapisan pasir lembab setebal 5 cm paling
sedikit selama 21 hari.

E.1.29. MENGHINDARI KEMUNGKINAN KEGAGALAN PEKERJAAN


Kesalahan umum (common mistake) yang kemungkinan akan terjadi perlu dihindari, yaitu
mungkin disebabkan karena perencanaan dan pelaksanaan serta mungkin akibat atau
masalah yang timbul.
1.

Pengukuran

Elevasi perletakan dan jarak antar perletakan tidak sesuai : Untuk


menyamakan elevasi landasan, dilakukan peninggian atau pembobokan
bagian atas abutment atau pilar.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-57

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

Jembatan tidak dapat dipasang : Apabila jarak antar perletakan tidak sesuai,
dilakukan perbaikan dimensi abutment atau pilar, juga mungkin akan berakibat
pada pondasi sehingga harus menambah tiang pancang.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-58

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

2.

Penulangan
Penyusunan tulangan salah (tulangan utama dan bagi terbalik), Ukuran tulangan
tidak sesuai rencana : Terjadi pengurangan kekuatan, Lantai retak / pecah.
Alternatif solusinya antara lain :

3.

Beton dibongkar dan tulangan diperbaiki kemudian baru beton dicor.


Kalau beton belum dicor, tulangan diperbaiki susunannya.

Penggantian tulangan
Tulangan ulir diganti dengan tulangan polos tanpa dilakukan penyesuaian : Luas
tulangan berkurang, Panjang penyaluran gaya berbeda, Momen geser berkurang,
Beton dapat retak / hancur. Alternatif solusinya antara lain :

4.

Ganti tulangan polos dengan ulir.


Lakukan penyesuaian luas yang terpasang.
Panjang penyaluran gaya disesuaikan (polos lebih panjang daripada ulir).
Beton terlanjur dicor, periksa desain dan apabila batas toleransi dilewati, maka
beton dibongkar.

Mutu beton lantai


Mutu beton untuk lantai jembatan kurang dari K-350 ( fc = 30 MPa. ) : Lantai dapat
retak, Umur rencana lantai tidak tercapai. Alternatif solusinya antara lain :

5.

Perkuatan lantai dengan penambahan pelat baja di bagian bawah lantai.


Mengurangi momen yang akan terjadi dengan menambah gelagar.
Perbaikan retak dan pekuatan.

Penghentian pengecoran
Penghentian pengecoran beton tidak pada daerah momen nol : Akan terjadi retak
pada sambungan. Alternatif solusinya antara lain :

6.

Terlanjur dan parah, beton dibongkar dan cor ulang.


Kondisi tidak parah, periksa tegangan yang terjadi.
Gunakan lem beton pada sambungan beton untuk menyatukan beton.

Celah expansion joint


Celah expansion joint terlalu besar, terjadi ketidak nyamanan pengguna jalan,
dapat terjadi kecelakaan. Celah expansion joint terlalu kecil, terjadi tumbukan
antara jembatan dengan backwall. Alternatif solusinya antara lain :

Modifikasi celah expansion joint.


Ganti expansion joint yang sesuai dengan lebar celah (mahal).
Usahakan jenis expansion joint yang tertutup agar kotoran tidak merusak
bagian landasan.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-59

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

7.

Pelaksanaan jalan pendekat


Tinggi tanah timbunan > tinggi izin : Tanah timbunan akan longsor. Alternatif
solusinya antara lain :

Lakukan pengamanan tebing, dengan cara pemasangan tiang pancang, sheet


pile, tembok penahan tanah dsb.
Lakukan penimbunan tanah samping sebagai counter-weight (kalau mungkin).

Penimbunan di atas tanah lunak, tanpa perbaikan tanah : Terjadi setlement, dan
tekanan tanah dapat mendorong kepala jembatan. Alternatif solusinya antara lain :

Lakukan perbaikan tanah dengan cara pemancangan crucuk, geotextile


dengan arah mulai dari abutment ke arah luar.

Pemadatan jalan pendekat tidak sesuai dengan Spesifikasi : Terjadi settlement,


jalan pendekat akan runtuh. Alternatif solusinya antara lain :

8.

Apabila keruntuhan jalan pendekat sudah parah, bongkar dan lakukan


pemadatan yang sesuai.
Apabila kerusakan parah dan tidak mungkin dilakukan perbaikan, bentangan
jembatan ditambah sesuai dengan kondisi yang diperlukan, perhitungkan
abutment sebagai pilar.

Checklist pemeriksaan perancah scaffolding :

Landasan atau dasar kuat.


Pondasi cukup kering / ada drainase.
Periksa sekrup-sekrup penyesuaian.
Harus diperoleh copy gambar layout perancah.
Toleransi maksimum tegak 1 : 300.
Semua kerangka harus saling berhubungan.

E.1.30. QUALITY ASSURANCE


Jaminan mutu memerlukan perubahan struktural terhadap metode supervisi. Juga
diperlukan supervisi yang permanen (tentunya untuk pekerjaan yang lebih besar),
standarisasi test dan pengetesan (termasuk kekerapan pengetesan) serta kriteria untuk
penaksiran (termasuk toleransi yang diijinkan). Diperlukan pula guideline yang spesifik
untuk supervisor dan client atau pihak ketiga (seperti konsultan atau team audit teknis).
Tetapi untuk mengikat kontraktor dengan semua jaminan ini, perlu dimasukkan kedalam
tender dan dokumen kontrak, spesifikasi teknis, surat pernyataan, kwantitas dan gambar.
Aspek lain yang sangat mempengaruhi mutu akhir pekerjaan sipil ialah kecermatan
rancangan. Rancangan yang dibuat berdasarkan dana yang tersedia dan / atau
berdasarkan survey yang tidak akurat cenderung mendapatkan lebih banyak masalah
mutu dibandingkan dengan rancangan yang secara akurat mewakili kebutuhankebutuhan dilapangan. Karena sebagian besar kontrak berdasarkan kwantitas, maka
fokus pengawasan juga berdasarkan kwantitas. Hal ini dikuatkan pula dengan banyaknya
perbaikan yang diperlukan sebagai akibat tidak akuratnya rancangan. Perbaikan ini juga
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-60

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

memakan banyak waktu dan usaha kontraktor dan supervisor sehingga mereka hampir
tak mempunyai waktu untuk pemeriksaan mutu.
Pada format kontrak saat ini, supervisor harus membuktikan bahwa pekerjaan kontraktor
mengikuti standard. Ini berarti bahwa semua pengetesan harus dibayarkan oleh Pemberi
Tugas, dengan kata lain : cadangan anggaran untuk pengetesan merupakan persyaratan
untuk lebih memperkuat mutu.
Persyaratan testing dan kekerapannya pada dasarnya berarti pergeseran tanggung
jawab yaitu : kontraktor harus membuktikan bahwa pekerjaan itu dilakukan menurut
spesifikasinya, bukannya supervisor harus membuktikan bahwa pekerjaan ada dibawah
standard.
Memulai dan membentuk perubahan tanggung jawab ini bukanlah praktek yang mudah
dan cepat. Pola kerja dan prosedur yang sudah terbentuk harus dibuang, praktek dan
prosedur baru harus diambil tetapi input-input seperti peng-auditan tehnis, evaluasi yang
dilakukan kontraktor dan lain-lain cenderung mempunyai dampak pada pendekatan
masalah ini.
Konsultan akan mendukung dan coba memulai perubahan-perubahan tersebut melalui
saran-saran yang sehubungan dengan perhitungan tehnis, saran yang berhubungan
dengan evaluasi yang dilakukan kontraktor, saran pengawasan konstruksi serta
pelatihan. Satu cara yang mungkin dilakukan ialah mulai ber-experimen dengan
beberapa proyek yang dijalankan dengan cara yang berbeda dan yang diatur dengan
jenis kontrak yang berbeda pula.
Suatu pendekatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi, terhadap jaminan kualitas,
yang difokus secara intern, dilakukan dengan cara ketat memberlakukan prosedur review
baik terhadap rancangan maupun hal-hal berikutnya serta ketaatan terhadap jadual
waktu untuk pembuatan rancangan.
Pendekatan ini bisa dilaksanakan dengan pemberitahuan dalam waktu singkat dan
diantisipasi untuk meningkatkan kontrol proses persiapan. Dengan pemberitahuan
singkat, diantisipasi dapat meningkatkan kualitas dibanding pendekatan-pendekatan lain
yang disebutkan diatas, karena membutuhkan waktu lebih lama untuk mempersiapkan
dan melaksanakannya.
E.1.31. DIAGRAM ALIR PEKERJAAN
Untuk memperjelas dan melengkapi suatu gambaran dari tugas dan kewajiban supervisi
sehubungan dengan aktivitas dari proyek ini, maka dibuat suatu bagan alir (diagram alir)
pelaksanaan pengawasan beberapa pekerjaan, sebagai berikut :

Bagan alir pelaksanaan pekerjaan struktur


Bagan alir pengendalian pekerjaan tanah
Bagan alir pelaksanaan pekerjaan sub base course
Bagan alir pelaksanaan pekerjaan tack coat / prime coat
Bagan alir pelaksanaan pekerjaan AC Base
Bagan alir pelaksanaan pekerjaan saluran samping

Bagan alir tersebut, disajikan pada Gambar E15. s/d E.21. berikut ini
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-61

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

BAGAN ALIR PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR

Persiapan

Pemasangan form work

Campuran material beton


yang telah disetujui

Pemasangan
tulangan

Mengaduk bahan

Slump test
Tindakan
perbaikan

Cor
beton
Ya

Test kuat tekan

Tidak

Perbaikan
komposisi
Tidak

Buang

Pemeliharaan

Bongkar form work


Tidak
Analisis
teknis

Tidak

Hasil test
kuat tekan

Ya

Ya

Finishing

Stop

Gambar E.15

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-62

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

BAGAN ALIR PENGENDALIAN PEKERJAAN TANAH

Pembersihan
lahan

Pemeriksaan kondisi
tanah asli

Jelek

Galian dan buang


s/d subgrade

Baik
Mencari lokasi
pengambilan
bahan timbunan

Kontrol
kualitas
Daerah
Timbunan

Tidak

Perbaikan
tanah

Daerah
Galian
Diratakan,
dipadatkan

Pemeriksaan
bahan

Baik
Percobaan
pemadatan lapangan

Penghamparan lapisan
bahan timbunan

Peralatan

Pemadatan
lapisan

Pemeriksaan
kadar air

Tidak

Ya
Pemeriksaan
kepadatan

Tidak

Ya
Kontrol
elevasi

Tidak

Ya
Stop

Gambar E.16
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-63

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

BAGAN ALIR PELAKSANAAN SUB BASE

Pematokan,
pengukuran

Pencampuran
material

Persiapan
lapangan

Pemeriksaan
kualitas

Tidak

Penyempurnaan camp.
atau rejected

Ya

Penyiapan
material

Pengangkutan
kelapangan

Ya

Penyebaran dan
perataan

Tidak

Pemeriksaan
kualitas

Tidak

Rejected

Pemeriksaan kerataan
dan ketebalan
Ya

Pemadatan

Tidak

Pemeriksaan
kepadatan lapangan

Ya

Pemeriksaan
permukaan

Perbaikan
Tidak

Ya

Pekerjaan sub base


selesai

Gambar E.17

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-64

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

BAGAN ALIR PELAKSANAAN TACK COAT / PRIME COAT

Pencampuran asphalt
Tack Coat / Prime Coat

Penyiapan peralatan :
- Asphalt sprayer
- Compressor

Perbaikan
komposisi
campuran
Check mutu
campuran

Pengisian ke
asphalt sprayer

Sesuai
Spec.

Tidak sesuai

Persiapan, pembersihan
lapangan

Check permukaan
lapangan

Pemanasan dan pengangkutan


ke lapangan

Kalibrasi
volume

Tidak

Ya

Penyemprotan
Tinggi datang nozle,
Pengaturan nozle,
Tek. sprayer.
Pengaturan kecepatan
kendaraan penggerak
asphalt sprayer

Perbaikan

Ya

Temperature
sesuai spec.

Check mutu
(paper test)

Tidak sesuai
dengan percobaan

Tidak sesuai
spesifikasi

Check
temperature

Tidak sesuai
spesifikasi

Pengaturan
pemanasan

Perbaikan tinggi datang


nozle, kecepatan
kendaraan penggerak

Ya

Pekerjaan Tack Coat /


Prime Coat selesai

Pekerjaan
hotmix

Gambar E.18

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-65

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

BAGAN ALIR PELAKSANAAN AC BASE

Pengukuran
permukaan

Mencampur material
di AMP

Persiapan
lapangan

Pemeriksaan
kualitas

Tidak sesuai
spec.

Ya

Penyiapan
asphalt finisher

Pengangkutan
kelapangan

Penyebaran dan
perataan

Tidak

Ya

Pemeriksaan
kualitas

Dibuang/
rejected

Tidak sesuai
spec.

Pemeriksaan kerataan
dan ketebalan

Ya

Pemadatan

Breakdown rolling

Intermidiate rolling

Finishing rolling

Tidak

Pemeriksaan
kepadatan lapangan

Ya

Pemeriksaan
permukaan

Perbaikan
Tidak

Ya

Pekerjaan AC Base
selesai

Gambar E.19
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-66

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM
KERJA

BAGAN ALIR PELAKSANAAN SALURAN SAMPING

Gambar kerja

Check dan penyesuaian


dengan lapangan

Perubahan

Tidak

Ya
Pengukuran dan
pematokan

Penentuan titik
elevasi tetap

Penentuan daerah aliran


pada arah badan jalan

Pekerjaan
penggalian

Check
elevasi

Tidak

Ya
Tidak

Check elevasi
dasar saluran
Ya

Tidak

Check dimensi
saluran
Ya

Perbaikan

Tidak

Check kemiringan
dasar saluran
Ya

Tidak

Check mutu hasil


kerja keseluruhan
Ya

Stop

Gambar E.20
PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-67

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGARAM KERJA

FLOW CHART AKTIVITAS SUPERVISI

Koordinasi proyek

Survey, verifikasi data,


pengendalian kerja

Inspeksi lapangan
Memeriksa dan
menyetujui metoda dan
jadwal pelaksanaan
konstruksi kontraktor

Kelengkapan
kontraktor

Pengujian laboratorium
Memeriksa stakingout / pengukuran

Tinjauan dokumen
lelang dan collecting
data

Proses perubahan
rencana jika diperlukan
penyesuaian dan
revisi rencana

Memeriksa dan
menyetujui daftar
peralatan, fasilitas
camp, lokasi AMP,
concrete plant, stockyard

Rekomendasi usulan
pelaksanaan

Persiapan keseluruhan
yang diperlukan, gambar
tambahan untuk kerja
kontraktor yang disetujui
oleh employer

Membantu employer
untuk memeriksa dan
menyelesaikan problem
utama untuk mencegah
yang tidak perlu dari
kontraktor

Memeriksa dan
rekomendasi personil
utama kontraktor

Record kondisi cuaca


Memeriksa dan
menyetujui metode
konstruksi

Memeriksa dan
menyetujui quarry /
material yang
disiapkan kontraktor

Pengukuran kuantitas

Contract change order


bila ada

Addendum kontraktor
bila ada

Memeriksa dan menata


metodologi kualitas
dan kuantitas

Meneliti shop drawing

Rekomendasi lain
jika ada

Reporting
Mendapatkan dan memelihara segala jaminan yang diperlukan : material, peralatan.
Pembayaran Sertifikat Bulanan ( Monthly Certificate / Termijn )
Catatan kondisi yang tidak pasti di lapangan dan mencegah kelambatan
Pengawasan kemajuan
Mengarahkan kepada kontraktor
Menghindari / memeriksa claim kontraktor

Gambar E.21

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-68

Memeriksa dan
menyetujui As built
drawing yang dibuat
kontraktor
Laporan
Akhir

Pemeriksaan
penyerahan pekerjaan

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

E.2

PROGRAM KERJA
Di dalam pelaksanaan pekerjaan layanan konsultansi, perlu adanya suatu program kerja yang
konsepsional, efektif dan efisien sedemikian sehingga setiap aktivitas kerja terprogram dengan baik
dalam rangka mencapai target sukses pekerjaan.
Rencana kerja yang akan dilaksanakan disesuaikan dengan ketentuan dalam Kerangka Acuan
Kerja atau Term of References (TOR).
Dalam penyusunan rencana kerja antara lain dan tidak terbatas berdasar :

Ruang lingkup pekerjaan.


Volume pekerjaan.
Batas waktu.
Keahlian personil.
Jumlah personil.
Peralatan yang dipakai.
Schedule mobilisasi.
Arahan Pemberi Tugas.
Aktivitas pelaksana fisik.
Aspek-aspek teknis dan non teknis lainnya.

Secara garis besar program kerja tersebut diuraikan seperti berikut ini :
Untuk melaksanakan pekerjaan secara tepat waktu dan hasil dengan mutu yang tinggi akan
dilaksanakan sesuai dengan jadual kerja yang direncanakan.
Rencana kerja disusun dan dilaksanakan berdasarkan urutan pekerjaan yang efektif dan sesuai
dengan waktu pelaksanaannya. Rencana kerja disusun secara sistimatis dengan tujuan agar
tercapai sasaran dan tujuan pekerjaan ini.
Untuk mendapatkan efektivitas tinggi atas input konsultan dan untuk menggunakan sumber daya
yang tersedia secara efisien, kita perlu mengikuti suatu perencanaan dan pelaksanaan sistem
layanan konsultansi yang ketat. Hanya dengan cara ini baik kualitas maupun kuantitas pekerjaan
dapat dikontrol sambil menghindari beban pekerjaan puncak yang cukup besar. Beban puncak
dalam pekerjaan memerlukan mobilisasi staf tambahan dan pengenalan terhadap proyek dan pada
umumnya mengakibatkan berkurangnya kualitas pekerjaan, hal ini diupayakan dihindari.
Aktivitas pokok pekerjaan pengawasan teknik meliputi tahapan utama sebagai berikut :
1.

Persiapan awal, studi data.

2.

Koordinasi konsultan dengan Pemimpin Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran.

3.

Koordinasi dengan unsur proyek.

4.

Koordinasi team konsultan.

5.

Koordinasi dengan instansi terkait.

6.

Tahap construction supervision, technical assistance, pemeliharaan.

Block diagram umum rencana kerja konsultan diperlihatkan pada Gambar E.22. berikut

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-69

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM KERJA
BLOCK DIAGRAM UMUM RENCANA KERJA KONSULTAN

Pengendalian mutu
Pengendalian kuantitas
Pengendalian waktu
Tahap construction supervision

Pengendalian biaya

Pemeriksaan akhir pekerjaan

Pengendalian lalu-lintas
Administrasi proyek
Koordinasi dgn Pemimpin Proyek
Koordinasi dengan unsur proyek
Persiapan awal

Technical assistance

Koordinasi internal team konsultan

Laporan Akhir

Koordinasi dengan instansi terkait


Pelaporan
Advis / bantuan teknis
Masa pemeliharaan

Gambar E.22. Block diagram umum rencana kerja konsultan


PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-70

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

E.2.1. RENCANA KERJA PADA PERIODE TAHUN ANGGARAN 2012


Sesuai Kerangka Acuan Kerja Besarnya biaya konsultansi yang disediakan pada tahun
anggaran 2012, dan waktu yang tersedia sampai dengan September 2012, maka konsultan
memperkirakan aktivitas lapangan relative terbatas pada pekerjaan-pekerjaan awal saja.
Kondisi ini konsultan akan menyesuaikan mobilisasi dan kegiatannya, namun tetap berprinsip
kelancaran pekerjaan perlu mendapat perhatian.
E.2.2. PERSIAPAN AWAL DAN STUDI DATA
1. Persiapan awal
Segera setelah konsultan mengadakan mobilisasi sesuai Manning Schedule dan atau
kebutuhan aktivitas pekerjaan, team konsultan segera mengadakan persiapan awal,
antara lain dan tidak terbatas pada :

Menata / penyiapan kantor, furniture, perlengkapan kantor, dll.


Mengadakan rapat koordinasi awal seluruh team konsultan.
Mengadakan kunjungan / koordinasi awal dengan instansi - instansi dan pihak - pihak
terkait.
Penyiapan format / form - form standar yang akan digunakan selama periode
pekerjaan.
Pengumpulan data yang tersedia.
Studi / analisa data yang tersedia.
Field reconnaisance / site visit.
Mempelajari kembali design dan scope pekerjaan fisik.

2. Studi data
Semua data yang akan dijadikan dasar / pegangan pelaksanaan pengawasan konstruksi
adalah berupa gambar-gambar rencana dan spesifikasi-spesifikasi, baik teknis maupun
umum yang akan dikumpulkan / dicari konsultan pengawas untuk dipelajari dan kemudian
dilaksanakan. Data tersebut umumnya dapat diperoleh dari Pengguna Jasa.
E.2.3. KOORDINASI KONSULTAN DENGAN PEMIMPIN PROYEK (WAKIL PENGGUNA JASA)
Koordinasi dengan Pemimpin Proyek (Representative Pengguna Jasa) perlu dilakukan secara
routine dan dengan frekwensi yang cukup.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-71

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

E.2.4. KOORDINASI DENGAN UNSUR PROYEK


Selama waktu pelaksanaan, akan diadakan Monthly Project Meeting (jika dipandang perlu
dapat dilakukan weekly meeting) antara Konsultan, Kontraktor dan Representative Pengguna
Jasa / Fisik, disini bisa dievaluasi, dimonitor dan dibahas hal-hal antara lain :
Membahas pekerjaan yang akan dikerjakan, agar tidak terjadi keragu-raguan atau kesalahan
Gambar 5.1.
dalam pelaksanaan.
Management / pengaturan / penempatan alat berat oleh kontraktor.
Kemajuan pekerjaan.
Informasi-informasi yang perlu disampaikan kepada kontraktor dan atau sebaliknya.
Masalah-masalah di lapangan dan pemecahannya.
Rencana kerja kontraktor untuk bulan berikutnya.
Dan lain-lain.
Bila terjadi hal-hal khusus misal kelambatan pekerjaan, pekerjaan yang perlu dilaksanakan
dengan crash-program dan lain-lain, dalam hal ini perlu diadakan meeting khusus.
Project meeting antara Konsultan dan Kontraktor dilakukan secara periodik (mingguan), untuk
kondisi khusus dapat dilakukan dalam rentang 2 3 harian.
E.2.5. KOORDINASI TEAM KONSULTAN
Dalam melaksanakan tugas, team konsultan selain akan melaksanakan tugasnya sesuai
dengan job description, juga perlu ada koordinasi antara Team Leader dengan stafnya, seperti
antara lain dan tidak terbatas pada :
a. Rapat bulanan antara Team Leader dan staff, membahas :

Laporan bulanan.
Aktivitas yang sudah dan akan dilaksanakan.
Masalah lapangan dan pemecahannya.
Penjelasan dan diskusi teknis untuk menunjang kelancaran pekerjaan.

b. Professional Staff (Tenaga Inti) Konsultan akan melakukan kunjungan secara berkala
kelapangan pada waktu pekerjaan berjalan untuk meyakinkan bahwa pekerjaan
dilaksanakan sesuai dengan kontrak. Porsi kunjungan lapangan direncanakan 80 %
setiap bulan, sisanya 20 % setiap bulan untuk mengadakan evaluasi, analisis, koordinasi
dikantor proyek. Namun personil konsultan akan selalu tetap berada di lapangan setiap hari
dengan mengatur penempatan / schedule.
c. Sub Professional Staff (Tenaga Teknisi) akan melaksanakan inspeksi harian untuk
meyakinkan bahwa material, tenaga kerja dan hasil pekerjaan fisik sesuai dengan dokumen
kontrak dalam hal mutu, volume dan waktu.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-72

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

d. Pertemuan-pertemuan khusus antara Site Engineer dengan team atau antar Staff konsultan
dengan frekwensi yang cukup atau sesuai kebutuhan (harian) agar terjadi komunikasi,
koordinasi, informasi yang baik.
E.2.6. KOORDINASI DENGAN INSTANSI TERKAIT
Dalam rangka melaksanakan tugas pengawasan teknik, konsultan perlu melakukan koordinasi
dengan instansi dan konsultan lain terkait yang berhubungan dengan scope pekerjaan.
E.2.7. TAHAP CONSTRUCTION SUPERVISION
Konsultan selama periode konstruksi, akan senantiasa memberi arahan, bimbingan dan
instruksi yang diperlukan kepada kontraktor guna menjamin bahwa semua pekerjaan
dilaksanakan dengan baik, tepat kualitas, tepat kuantitas, tepat waktu dan tepat biaya dengan
berdasarkan dokumen kontrak dan petunjuk teknis lainnya.
Selain itu, tugas konsultan meliputi : melakukan sertifikasi atas pekerjaan penanganan jalan dan
jembatan yang dilaksanakan oleh kontraktor.
Semua aktivitas konsultan dilapangan, dirangkum di bawah ini :
1. Pematokan bersama (Setting out)
Semua survey di lapangan selama pematokan bersama dan selama konstruksi akan
dilaksanakan oleh kontraktor di bawah petunjuk konsultan.
Hasil survey tersebut akan dikaitkan dengan gambar-gambar konstruksi, kondisi yang ada
dan beberapa ketidaksesuaian antara gambar-gambar dan kondisi-kondisi yang ada akan
dipergunakan oleh konsultan untuk mereview design untuk keperluan proyek (bila ada).
2. Persiapan lapangan
Pada tahap persiapan dilapangan, tim pengawas akan mengawasi dan mencek aktivitasaktivitas konstruksi sebagaimana yang dijabarkan di bawah ini :

Memeriksa kualitas dari semua bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk


konstruksi.
Penyiapan rancangan campuran pekerjaan (job mix formula) untuk beton, aspal
dan lain-lain.
Lokasi letak bahan-bahan.
Kondisi tumpukan bahan di lokasi kerja.
Jumlah dan kondisi semua peralatan.
Jumlah personil kontraktor.
Jumlah dan kualitas bahan-bahan.
Kondisi cuaca.
Prosedur administrasi kontraktor.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-73

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

Form / formulir kerja.

Persiapan form-work.

Mengecek jadual kontraktor.

Persiapan konstruksi.
3. Pekerjaan konstruksi
Setelah mobilisasi dan persiapan di lapangan telah selesai dan diperiksa oleh konsultan
dan Representative Pengguna Jasa Proyek Fisik maka kontraktor akan diijinkan untuk
melanjutkan pekerjaan konstruksi.
Team konsultan akan mengecek langsung dalam hal-hal berikut ini :

Metoda pekerjaan konstruksi.

Campuran-campuran bahan.

Pengecekan jadual.

Kondisi cuaca dari waktu ke waktu selama periode pelaksanaan pekerjaan.

Pengambilan contoh (sampling).


Sebelum pekerjaan fisik dimulai, kontraktor mengajukan Request terlebih dahulu, yang
berisi antara lain :

Jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan.

Lokasi pekerjaan.

Peralatan yang akan digunakan.

Estimasi volume pekerjaan.

Material yang akan digunakan.

Rencana jam kerja.


4. Pengawasan mutu
Pekerjaan yang perlu diawasi dengan teliti dan cermat selama pengawasan kualitas antara
lain sebagai berikut :
Sebelum kontraktor memulai aktivitas konstruksi, kontraktor akan membuat suatu
permohonan secara tertulis kepada konsultan untuk prosedur konstruksi dan persetujuan
pekerjaan dalam tahap yang logis.
Konsultan akan :

5.

Menginspeksi dan menyetujui bahan-bahan yang akan digunakan.


Menginspeksi dan menyetujui pelaksanaan pekerjaan fisik.
Menginspeksi dan menyetujui metoda dan ketelitian pekerjaan konstruksi.
Memeriksa / menginstruksikan test-test lapangan.
Memeriksa / menginstruksikan test laboratorium terhadap sampel-sampel yang
diambil dari lokasi kerja.
Memeriksa / menginstruksikan test-test yang lain sesuai dengan spesifikasi.

Pengawasan kuantitas

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-74

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

Pekerjaan perlu diawasi dengan teliti dan cermat. Pengawasan kuantitas (quantity
control) akan mengecek bahan-bahan yang ditempatkan atau yang dipindahkan oleh
kontraktor. Konsultan akan memproses bahan-bahan dan produk fisik nya berdasarkan
atas :

6.

Hasil pengukuran yang memenuhi batas toleransi pembayaran.


Metoda perhitungan.
Lokasi kerja.
Jenis pekerjaan (work item).
Tanggal diselesaikannya pekerjaan.

Catatan-catatan teknis
Catatan-catatan akan dikeluarkan / diberikan dari waktu ke waktu, untuk memberikan
petunjuk-petunjuk kepada kontraktor guna meningkatkan aspek-aspek pekerjaan fisik,
metode kerja / construction methode dan lain-lain.
Demikian juga catatan-catatan / instruksi-instruksi diberikan juga untuk pekerjaan yang
hasilnya tidak sesuai dengan spesifikasi.

7.

Masa pemeliharaan
Pekerjaan yang dilakukan pada tahap masa pemeliharaan antara lain :

Mengawasi kualitas dan kuantitas pekerjaan selama masa pemeliharaan.


Memeriksa kondisi hasil pekerjaan yang telah diselesaikan pada tahap konstruksi
yang mungkin terjadi kerusakan-kerusakan yang perlu perbaikan.
Membantu Pemimpin Proyek / Kuasa Pengguna Anggaran dalam pendataan
penyiapan daftar Defect & deficiencies (cacat dan ke-tidak sempurnaan) pekerjaan.

E.2.8. WAKTU PELAKSANAAN


Jangka waktu pelaksanaan untuk pekerjaan jasa konsultan pada PW 45 : Pengawasan Teknik
Jalan di Pulau Pantar yaitu 5 (lima) bulan.
Pelaksanaan Konsultan mulai bekerja setelah dikeluarkan / diterbitkan SPK / SPMK (Surat
Perintah Mulai Kerja).
E.2.9 TATA LAKSANA BAKU (SOP) PENERAPAN K3
1. Pengertian
Tata Laksana Baku (Standar Operating Procedure = SOP) penerapan K3
Konstruksi diatur dalam Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tempat Kegiatan

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-75

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

Konstruksi yang dikeluarkan dalam bentuk Surat keputusan


Kerja dan Menteri Pekerjaan

Bersama

Menteri

Tenaga

umum
tanggal 4 Maret 1986, yang sekaligus berfungsi sebagai
petunjuk umum berlakunya Buku Pedoman Pelaksanaan, terutama khusus tentang
Keselamatan Kerja dan yang sifatnya lebih menekankan kepada pencegahan.
Adapun tentang Kesehatan Kerja lebih khusus diatur dalam Keputusan Presiden No. 22
Tahun 1993 tentang Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja., yang kemudian
dilengkapi dengan petunjuk melalui Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja tentang Pedoman
Diagnosis dan Penilaian Cacat Karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja. Yang terakhir
ini lebih menekankan pada penanganan akibat.
Dalam Pedoman yang tertuang dalam Surat Keputusan Bersama tersebut persyaratan yang
harus ditemui dirinci sebagai berikut :
a. Persyaratan Administratif
b. Persyaratan Teknis
c. Perancah (Scaffolds)
d. Tangga Kerja Lepas (Ladder) dan Tangga Kerja Sementara (Stairs)
e. Peralatan Untuk Mengangkat (Lifting Appliance)
f. Tali, Rantai dan Perlengkapan Lainnya.
g. Permesinan : Ketentuan Umum
h. Peralatan
i. Pekerjaan Bawah Tanah
j. Penggalian
k. Pemancangan Tiang Bor
l. Pengerjaan Beton
m. Operasi lainnya Dalam Pembangunan
n. Pembongkaran (Demolition)
o. Penanggulangan Kecelakaan
Terlihat bahwa Tata Laksana Baku ini mengatur sebagian besar bidang dan jenis
pekerjaan konstruksi. Dalam setiap Bagian lebih lanjut diatur sangat rinci mengenai lingkup
berlakunya peraturan, kewajiban umum, keharusan dibentuknya organisasi K3, laporan
kecelakaan dan pertolongan pertama pada kecelakaan serta persyaratan-persyaratan
lainnya. Uraian lebih rinci dapat di acu kepada SKB, Menaker dan Mentri
PU tersebut di atas.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-76

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

2. Persyaratan
a. Persyaratan Administratif
Dalam persyaratan ini pertama-tama dinyatakan, terhadap semua tempat
dimana
dilakukan
kegiatan
konstruksi
berlaku
semua ketentuan hukum mengenai
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang berlaku di Indonesia. Disini jelas, bahwa tidak
hanya berlaku untuk proyek milik Pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
akan tetapi juga proyek milik swasta ataupun anggota masyarakat lainnya.
Selanjutnya sebagai kewajiban umum bagi kontraktor dinyatakan bahwa :
Tempat kerja, peralatan, lingkungan kerja dan tata cara kerja diatur demikian rupa
sehingga tenaga kerja terlindung dari risiko kecelakaan.
Harus menjamin bahwa mesin-mesin peralatan, kendaraan atau alat-alat lain harus
aman digunakan dan sesuai keselamatan kerja.
Kontraktor harus turut mengawasi agar tenaga kerja bisa selamat dan aman dalam
bekerja.
Kontraktor harus menunjuk Petugas Keselamatan kerja yang karena jabatannya di
dalam organisasi kontraktor bertanggungjawab mengawasi koordinasi pekerjaan yang
dilakukan, untuk menghindari risiko bahaya kecelakaan.
Pekerjaan yang diberikan harus cocok dengan keahlian, usia dan jenis kelamin serta
kondisi fisik dan kesehatan tenaga kerja.
Kontraktor harus menjamin bahwa semua tenaga kerja telah diberi petunjuk
terhadap bahaya demi pekerjaannya masing- masing dan usaha pencegahannya.
Petugas Keselamatan Kerja tersebut diatas bertanggungjawab pula terhadap semua
tempat kerja, peralatan, sarana pencegahan kecelakaan, lingkungan kerja dan caracara pelaksanaan kerja yang aman.
Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam penyelenggaraan
keselamatan dan kesehatan kerja ini menjadi tanggung jawab kontraktor.
b. Organisasi keselamatan dan Kesehatan kerja
Mengenai organisasi Keselamatan dan Kesehatan kerja digariskan sebagai berikut :
Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja harus bekerja secara penuh (full time),
berarti tidak bisa sambilan atau separoh waktu.
Bila mempekerjakan sejumlah minimal 100 orang atau kondisi dari sifat proyek memang
memerlukan, diwajibkan untuk membentuk unit Pembina Keselamatan dan Kesehatan
Kerja. Unit ini merupakan unit struktural yang dikelola organisasi Kontraktor.
Petugas K3 harus bekerja sebaik baiknya dibawah koordinasi

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-77

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

Kontraktor serta bertanggung jawab kepada kontraktor.


Dalam hubungan ini keawajiban kontraktor adalah :
- Menyediakan fasilitas untuk melaksanakan tugasnya untuk Panitia Pembina
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Safety Committee).
Berkonsultansi dengan Safety Committee dalam segala hal yang berhubungan
dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di proyek.
- Menggambil langkah-langkah praktis untuk memberikan efek pada rekomendasi
dari Safety Committee.
Jika terdapat dua atau lebih Kontraktor bergabung dalam suatu proyek mereka harus
bekerja sama membentuk kegiatan-kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

c. Laporan Kecelakaan
Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan
kepada Depnakertrans, dan Departemen Pekerjaan Umum
Laporan tersebut harus meliputi statistik yang :
Menunjukkan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja, pekerja masingmasing, dan
- Menunjukkan gambaran semua kecelakaan dan sebab- sebabnya.
d. Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
Diwajibkan memeriksa kesehatan individu pekerja pada :
- Sebelum atau beberapa saat setelah pertama kali memasuki masa kerja.
- Secara berkala sesuai risiko yang terdapat pada pekerjaan.
Pekerja berumur dibawah 18 tahun harus dapat pengawasan kesehatan khusus,
meliputi pemeriksaan kembali atas kesehatannya secara teratur.
Data pemeriksaan keehatan harus dicatat dan disimpan untuk referensi.
Suatu organisasi untuk keadaan darurat harus dibentuk untuk setiap daerah tempat
bekerja yang meliputi semua pekerja, dibentuk petugas Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K)yang dilengkapi alat komunikasi dan jalur transportasi. Setiap pekerja
harus diberitahu adanya hal ini.
Memberikan pertolongan pertama kecelakaan atau ada yang kena sakit secara tibatiba harus dilakukan oleh Dokter. Juru Rawat atau orang yang terdidik dalam P3K.
Alat-alat P3K dan kotak obat yang memadai harus tersedia ditempat kerja dan
dijaga agar tidak kotor, kena udara lembab dsb.
Isi alat P3K atau kotak obat tidak boleh ditempati benda-benda
lain, dan paling sedikit harus berisi : obat kompres, perban.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-78

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

Gauze yang steril, antiseptic, plester, forniquet, gunting, splint dan perlengkapan bila
ada yang digigit ular. Juga harus dilengkapi instruksi yang jelas dan mudah
dimengerti, dan harus dijaga supaya tetap berisi.
Kereta pengangkut orang sakit (Carrying Basket) harus selalu tersedia.
Jika tenaga kerja dipekerjakan dibawah tanah atau pada keadaan lain, alat penyelamat
harus selalu tersedia di dekat tempat mereka bekerja.
Jika tenaga kerja dipekerjakan di tempat-tempat yang ada kemungkinan risiko
tenggelam atau keracunan gas alat-alat penyelamat harus selalu tersedia di dekat tempat
mereka bekerja.
Persiapan-persiapan harus dilakukan untuk memungkinkan mengangkut dengan
cepat, jika diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke
rumah sakit atau tempat berobat semacam itu.
Petunjuk atau informasi harus diumumkan atau ditempelkan ditempat yang strategis
dengan memberitahukan :
- Kotak obat terdekat, alat P3K, ambulan, alat pengangkut orang sakit dan alamat
untuk urusan kecelakaan.
- Tempat telepon terdekat untuk memanggil ambulan, nama dan nomor telepon
orang yang bertugas.
- Nama, alamat nomor telepon dokter, rumah sakit dan tempat penolong yang
dapat segera dihubungi dalam keadaan darurat.
3. Persyaratan Teknis
Persyaratan Teknis mengatur tentang Tempat Kerja dan Peralatan
a. Pintu Masuk dan Keluar harus dibuat dan dipelihara dengan baik.
b. Lampu dan Penerangan bila tidak memadai harus diadakan diseluruh tempat kerja, harus
aman dan cukup terang. Harus dijaga oleh petugas bila perlu bila ada gangguan.
c. Ventilasi, harus ada ditempat tertutup termasuk pembuangan udara kotor.
d. Jika tidak bisa menghilangkan debu dan udara kotor, harus disediakan alat pelindung diri.
e. Kebersihan, bahan yang tidak terpakai harus dibuang, paku yang tidak terpakai harus
dibuang atau dibengkokkan, benda-benda yang bisa menyebabkan orang tergelincir serta
sasa barang dan alat harus dibuang, tempat kerja yang licin karena oli harus dibersihkan
atau disiram pasir. Alat-alat yang mudah dipindahkanharus dikembalikan ke tempat
penyimpanan.
f. Pencegahan Bahaya Kebakaran Dan Alat Pemadam Kebakaran.
Persyaratan ini sangat rinci antara lain mengatur bahwa harus tersedia alat
pemadam kebakaran dan saluran air dengan tekanan yang cukup. Semua pengawal
dan sejumlah tenaga terlatih harus disediakan dan selalu siap selama jam kerja. Alatalat itu harus diperiksa secara periodik oleh yang berwenang, dan ditempatkan ditempat
yang mudah dicapai. Alat pemadam dan jalan menuju ketempat pemadaman harus

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-79

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

terpelihara. Demikian juga tentang syarat jumah, bahan kimia peralatan itu dan syarat
pemasangan pipa tempat penyimpanan air.
g. Syarat-syarat mengenai Alat Pemanas (Heating Appliances). h. Syarat-syarat
mengenai Bahan Yang Mudah Terbakar.
i. Syarat mengenai Cairan Yang Mudah Terbakar.
j. Syarat-syarat tentang Inspeksi dan Pengawasan.
k. Syarat-syarat tentang Perlengkapan dan Alat Peringatan.
l. Syarat-syarat tentang perlindungan Terhadap Benda-benda Jatuh dan
Bagian Bangunan Yang Rubuh.
m. Persyaratan Perlindungan Agar Orang Tidak Jatuh, Tali Pengaman dan pinggir Pengaman.
n. Persyaratan Lantai Terbuka dan Lubang Pada Lantai. o. Persyaratan
tentang Lubang Pada Dinding.
p. Persyaratan tentang Tempat Kerja Yang Tinggi.
q. Pencegahan Terhadap Bahaya Jatuh Kedalam Air.
r. Syarat-syarat mengenai kebisingan dan getaran (Vibrasi).
s. Syarat-syarat tentang Penghindaran Terhadap Orang Yang Tidak
Berwenang.
t. Syarat-syarat tentang Struktur Bangunan dan Peralatan. Memuat mengenai Konstruksi
Bangunan, Pemeriksaan, Pengujian dan Pemeliharaan serta Pemakaian atau
penggunaannya.
4. P e r a n c a h (Scaffold)
a. Persyaratan Umum
Perancah harus dibuatkan untuk semua pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan secara
aman pada suatu ketinggian.
Perancah hanya dapat dibuat atau diubah oleh Pengawas yang ahli
bertanggungjawab atau orang-orang yang ahli.
b. Persyaratan rinci tentang bahan untuk perancah. c. Persyaratan
konstruksi Perancah.
d. Persyaratan Pemeriksaan dan Pemeliharaan.
e. Persyaratan Perlengkapan Pengangkat Pada Perancah.
f. Persyaratan Kerangka Siap Pasang (Prefabricated Frames). g. Persyaratan
Penggunaan Perancah.
h. Persyaratan Pelataran Tempat Kerja (Platform) yang memuat :
Persyaratan Umum
Balustrade Pengaman dan Papan Pengaman Kaki (Guard rails and toeboards).
Pelataran Tergantung.
i. Persyaratan Gang, Jalur Penghubung Antar Tingkat Pelataran Yang
Tidak Sama Tinggi dan Jalur Pengangkut Bahan.
j. Perancah Kayu Bulat (Dolken), terdiri atas :

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-80

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

Yang Tegak Vertikal


Batang Penyangga Bentangan Panjang dan Balok Memanjang.
k. Perancah Gantung dan Perancah Ditarik Dengan Tangan.
l. Perancah Gantung Yang Ditarik Oleh Motor.
m. Perancah Tupang Sudut dan Perancah Tupang Siku.
n. Perancah Tangga.
o. Perancah Dongkrak Tangga.
p. Perancah Siku Dengan Penunjang.
q. Perah Kuda-kuda.
r. Perancah Persegi.
s. Perancah Topang Jendela.
t. Pelataran Untuk Truk dan Kereta Pembuang Bahan-bahan.
u. Perancah Pipa Logam.
v. Perancah Yang Bergerak.
w. Perancah Kursi Gantung.
x. Truk Dengan Perancah Bak.
5. Tangga Kerja Lepas Dan Tangga Kerja Sementara
a. Persyaratan Umum, memuat :
Persyaratan Konstruksi
Pengawasan dan Pemeliharaan.
b. Tangga Berkaki Yang Dapat Berdiri Sendiri.
c. Tangga Kuda-kuda Yang Dapat Berdiri Sendiri.
d. Tangga Yang Dapat Diperpanjang.
e. Tangga Lepas Mekanik.
f. Tangga Permanen.
g. Tangga Sementara.
h. Peralatan Untuk mengangkat.
1. Pesyaratan Umum, memuat :
Persyaratan Gaya Muatan Maksimal Yang Aman.
Persyaratan Pemasangan.
Persyaratan Ruang Kemudi dan Tenda Pengemudi.
Persyaratan Alat-alat Pengendali.
Persyaratan Alat Penyetop (Rem).
Persyaratan Keranjang dan Sangkar Muatan.
Persyaratan Mesin Derek dan Tromol.
Persyaratan Tali-tali dan Katrol.
Persyaratan Pengawasan dan Pemeliharaan.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-81

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

Persyaratan Pengoperasian.

2.

Alat Pengangkut, memuat :


Pesyaratan Ruang Luncur dan Menara.
Persyaratan Mesin Penggerak.
Persyaratan Tali Kawat Baja.
Persyaratan Pelataran.
persyaratan Pemberat.
Persyaratan Tempat Pemberhentian.
Persyaratan Pengawasan dan Pemeliharaan.

3.

Derek atau Keran Angkat, memuat :


Persyaratan Kerangkanya.
Persyaratan Pemasangan.
Persyaratan Tentang Angker dan Bobot Imbang (ballast).
Persyaratan Kran Angkat Berbatang Tambahan.
Persyaratan Derek Bersumbu Putar.
Persyaratan Derek Scotch (Scotch Derrick Cranes).
Persyaratan Pengendalian Derek Angkat dengan Tenaga Listrik.
Persyaratan Muatan dan Indikator Radius.
Persyaratan Pemeriksaan dan Pengujian.
Persyaratan Pelaksanaan Pekerjaan.

4.

Derek Atau Kran Pengangkat Yang Dapat Berpindah, memuat :


Persyaratan Batang Rel.
Persyaratan Jalur Jalan.
Persyaratan Jarak Yang Bebas Penghalang.
Persyaratan Kran Pengangkat Listrik Dengan Rel.
Persyaratan Jalur Kereta Listrik.
Persyaratan Kerangka Untuk Kran Pengangkat Yang Bergeser.

5.

Derek Bergeser Di Atas, memuat :


Persyaratan Rel.
Persyaratan Konstruksi Derek/Kran Angkat.
Persyaratan Jembatan.

6. Derek/Kran Angkat Menara Yang Bersumbu Putar, memuat :


Persyaratan Umum.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-82

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

i.

Persyaratan Bobot Pengimbang.


Persyaratan Untuk Menjalankan Derek/Kran Angkat.

7.

Kerekan Monorail/Kerekan Ber-rel Tunggal, memuat :


Persyaratan Umum.
Persyaratan Pengendali Tenaga Gerak.
Persyaratan Ruang Kemudi.

8.

D e r e k, memuat :
Persyaratan Derek Berkaki Kuat.
Persyaratan Derek Yang Memakai Jepit Penguat.
Persyaratan Menjalankan Derek.

9.

Persyaratan Ranka Segi Tiga (A-frame) dan Kaki Penahan (Sheer- legs).
Persyaratan Tiang Derek dan Roda Derek.
Persyaratan Kerekan (Winches), memuat :
Persyaratan Umum.
Teromol Kerekan.
Kerekan Yang Digerakkan Oleh Tangan.
D o n g k r a k.

Tali, Rantai dan Perlengkapan Lainnya.


Persyaratan Umum.
Kabel-kabel Kawat Baja.
Tali-tali Yang Terbuat Dari Serat (Fibre Rops).
Rantai-rantai.
Alat Penggantung.
Roda Kerekan.
P e n g a i t.
Belenggu Pengikat.

j. Permesinan, Ketentuan Umum :


Instasi dan Pemasangan.
Pengawasan dan Pemeliharaan Mesi.
Penggunaan Mesin.
k. P e r a l a t a n, terdiri atas :

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-83

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

1. Peralatan Pemindahan Tanah, Ketentuan Umum :


Persyaratan Kontruksi.
Persyaratan Cara Penggunaan Peralatan.
2. Power Schovels dan Excavator, memuat :
Persyaratan Umum.
Persyaratan Cara Penggunaan Schovels.
3. B u l d o z e r s
4. S c r a p e r s.
l. Peralatan Aspal, memuat :
Persyaratan Umum.
Persyararan Cara Penggunaan. q. Mesin Penggilas Jalan.
r. Pengaduk Beton, memuat :
Persyaratan Umum
Persyaratan Cara Penggunaan.
m. Alat-alat Pemuat (Ban Berjalan atau Wheel Loaders).
n. Mesin Untuk Pekerjaan Kayu, memuat :
Pesyaratan Umum.
o. Gergaji Bundar, memuat :
Persyaratan Pemeriksaan dan Pemeliharaan.
Persyaratan Cara Penggunaan.
p. Gergaji Pita, memuat :
Persyaratan Kontruksi.
Persyaratan Cara Penggunaan.
q. Mesin Penyerut, memuat :
Persyaratan Konstruksi.
Persyaratan Cara Penggunaan
r. Alat Kerja Tangan (Hand Tools), memuat :
Persyaratan Bahan dan Konstruksinya.
Persyaratan Pemeliharaan.
Persyartatan Pengangkutan.
Persyaratan Tempat Penyimpanan.
Persyaratan Cara Memegang dan Menggunakannya.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-84

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

s. Peralatan Yang Menggunakan Tekanan Udara, memuat :


Persyaratan Konstruksi.
t. Alat Yang Menggunakan Bubuk Peledak Sebagai Tenaga (Powder
Actuated Tools), memuat :
Defiinisi
Ketentuan Umum
Persyaratan Konstruksi Alat.
Persyaratan Peluru dan Amunisi.
Persyaratan Proyektil.
Persyaratan Pemeriksaan dan Pemeliharaan.
Persyaratan Penyimpanan Alat, Peluru dan Proyektil
Persyaratan Penggunaan.
u.Traktor Dan Truk, memuat :
Persyaratan umum.
Persyaratan Kabin.
Persyaratan
Persyaratan Alat Penyambung/Penggandeng.
Persyaratan Titik Penggandeng.
Persyaratan Lampu Sorot.
Persyaratan Alat Penghidup Mesin (Alat Starter).
Persyaratan Peralatan Lainnya.
v.Truk Pengangkut Dan Truk Keperluan Industri Lainnya, memuat :
Persyaratan Konstruksi.
Persyaratan
w. Pekerjaan Bawah Tanah, memuat :
Persyaratan Umum.
Persyaratan Membuat atau Menggali Sumur.
Persyaratan Penyangga.
Persyaratan Ventilasi Udara.
Persyaratan Perlindungan Terhadap Bahaya Kebakaran.
Persyaratan Penerangan Bawah Tanah.
Persyaratan Pengeboran.
Persyaratan Pengaturan Debu.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-85

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

x.Pekerjaan Penggalian, memuat :


Persyaratan Umum.
Persyaratan Penyangga Pekerjaan Galian.
Persyaratan Pekerjaan Galian Parit.
Persyaratan Pekerjaan Galian Sumur.
y.Pemancangan Tiang Bor, memuat :
Persyaratan Umum.
Persyaratan Pemeriksaan dan Pemeliharaan Mesin Bor.
Persyaratan Penggunaan Mesin Bor.
Persyaratan Mesin Bor Terapung.
z. Pekerjaan Beton, memuat :
Persyaratan Umum.
Persyaratan Pengecoran dan Pemancangan Beton.
Persyaratan Besi Tulangan.
Persyaratan Menara Bak Muatan Beton.
Persyaratan Pekerjaan Struktur/Kerangka.
aa. Operasi Lainnya Dalam Pembangunan, terdiri atas :
Persyaratan Pendirian Bangunan Dengan Menggunakan Prefab yang mudah
Dibongkar-pasang.
Persyaratan Transportasi.
Persyaratan Penempatan Komponen Prefab.
Pemasangan Konstruksi Baja, memuat :
Persyaratan Umum.
- Persyaratan Lantai Floorinhg.
- Persyaratan Pengerekan.
- Persyaratan Pengelingan.
a. Persyaratan
Pekerjaan
Dalam Lift Koker dan Lubang
Tangga.
b. Persyaratan Pemasangan Kerangka Atap.
c. Persyaratan Mengenai Lantai Sementara.
d. Pekerjaan Dengan Aspal Panas, Ter dll., memuat :
- Persyaratan Peralatan dan Perlengkapan.
- Persyaratan Pengoperasian.
e. Persyaratan Pekerjaan Dengan Pengawet Kayu.
f. Persyaratan
Lantai,
Dinding
Dan Bahan Yang Mudah

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-86

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

Terbakar.
g. Pekerjaan Insulasi, memuat ;
- Persyaratan Pekerjaan Dengan Asbes.
- Persyaratan Pekerjaan Yang Menggunakan Glass Wool
Dan Bahan Sejenisnya.
h. Pekerjaan Yang Berhubungan Dengan Atap, memuat :
- Persyaratan Umum.
- Persyaratan Atap Bangunan Yang Curam.
- Persyaratan Atap Bangunan Yang Terbuat Dari Bahan
Yang Mudah pecah (Rapuh).
i. Pekerjaan Pengecetan, memuat :
- Persyaratan Umum.
- Persyaratan Cat Yang Mengandung Timah.
- Persyaratan Cat Semprot.
- Persyaratan Penyemprotan Cat Tanpa Udara.
j. Pengelasan dan Pemotongan Dengan Nyala Api, memuat :
- Persyaratan Umum.
- Persyaratan Las Listrik.
- Pekerjaan Peledakan, memuat :
- Persyaratan Umum.
- Persyaratan Pengeboran dan Pengisian Bahan Peledak
Pada Lubang Bor.
- Persyaratan Penembakan dan Peledakan Memuat :
k. Persyaratan Umum.
l. Persyaratan Peledakan Dengan Sumbu Peledak.
m. Persyaratan Peledakan Dengan Listrik.
n. Persyaratan Setelah Penembakan dan Peledakan.
o. Pekerjaan Pencampuran Batuan.
bb. Pembongkaran (demolition), memuat:
Persyaratan Persiapan Kerja.
Persyaratan Umum Pekerjaan Pembangunan.
Persyaratan Daerah Jalan Keluar-Masuk.
Persyaratan Alat Pelindung Diri.
Persyaratan Peralatan Untuk Pembongkaran.
Persyaratan Lantai Pengaman Untuk Pekerjaan Pembongkaran.
Persyaratan Pembongkaran Dinding
Persyaratan Pembongkaran lantai
Persyaratan Pembongkaran Bangunan Baja.
Persyaratan Pembongkaran Cerobong Tinggi dan Sejenisnya,-

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-87

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

cc. Penanggulangan Kecelakaan.


Dalam hal terjadi kecelakaan kerja, proses yang harus ditempuh adalah sebagai
berikut:
a. Kontraktor wajib melaporkan setiap terjadi kecelakaan kerja kepada Kantor
Departemen/Dinas Tenaga Kerja dan PT Jamsostek Setempat.
b. Tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja, keluarganya atau teman sekerjanya
berhak melaporkan terjadinya kecelakaan, tanpa menghilangkan kewajiban
kontraktor menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud di atas.
c. Dalam hal terjadi kecelakaan kerja, kontraktor wajib :
Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan.
Membayar terlebih dahulu ongkos pengangkutan dari tempat terjadinya
kecelakaan ke
Rumah Sakit atau ke-rumahnya.
Membayar terlebih dahulu biaya pengobatan dan perawatan.
Membayar terlebih dahulu santunan sementara tidak mampu bekerja.
E3 ORGANISASI DAN PERSONIL
E.3.1. STRUKTUR ORGANISASI TEAM KONSULTAN
Penyusunan organisasi team konsultan untuk PW-01 : PENGAWASAN TEKNIK JALAN DI
KOTA KUPANG DAN KABUPATEN KUPANG ini didasarkan pada kepentingan dan prioritas
dari jenis kegiatan.
Untuk penyelenggaraan seluruh tugas-tugas layanan konsultansi dilaksanakan oleh seluruh
team pelaksana tugas yang terkait dengan tugas / aktivitasnya yang dikoordinir / dipimpin oleh
Site Engineer.
Site Engineer berkewajiban melaksanakan, mengkoordinir, mengarahkan dan memonitor
seluruh kegiatan anggota team konsultan.
Struktur organisasi team konsultan diperlihatkan pada Tabel E.1. berikut.

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-88

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-89

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA

E.3.2. PERSONIL PELAKSANA PEKERJAAN


Seperti telah disebutkan pada Bab sebelumnya, Tenaga Ahli (Professional Staff), Sub
Professional Staff dan Supporting Staff yang ditugaskan untuk melaksanakan pekerjaan ini,
seperti pada Tabel E.1. Penempatan tugasnya pada Paket ini sampai tugas pengawasan
berakhir.
Tabel E.1. : Daftar Professional Staff, Sub Professional Staff & Supporting Staff
No.

Posisi/Jabatan

Nama

Lama Waktu
Penugasan

Ir.Didik Sulitia

7.00 bulan
5.00 bulan

I.
1.

Professional Staff
Site Engineer (SE)

2.

Quality Engineer (QE)

Quality Engineer (QE)

Komaruddin D. Zaini,
ST
Harrya Raditia, ST

Quality Engineer (QE)

Ir. Edy Suyanto

5.00 bulan

Chief Inspektor (CI)

Ir. Mubarak

5.00 bulan

Chief Inspektor (CI)

M. Riswan,ST

6.00 bulan

Chief Inspektor (CI)

Lilik Ibrahim, ST

5.00 bulan

Chief Inspektor (CI)

Dede Sobar, ST

5.00 bulan

Chief Inspektor (CI)

Daryuli, ST

6.00 bulan

Sub Professional Staff (Tenaga Pendukung)


Ruas/Link : Pelebaran Jalan Oesao - Bokong
Inspector (I 1)

To Be Name

5.00 bulan

Surveyor (S 1)

To Be Name

5.00 bulan

Lab. Technician (Lt1)

To Be Name

3.00 bulan

Ruas/Link : Berkala Oesao Bokong


Inspector (I)

To Be Name

7.00 bulan

Surveyor (S)

To Be Name

7.00 bulan

Lab. Technician (Lt)

To Be Name

400 bulan

II.

4.00 bulan

Perusahaan

PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,


DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB

PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,


DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-90

BAB E. PENDEKATAN METODOLOGI


DAN PROGRAM
KERJA
1
2
3

1
2
3

1
2
3
III.
1
2
3
4

Ruas/Link : Berkala Dalam Kota Kupang (Timor Raya, Urip Sumoharjo, Pahlawan Yos Sudarso)
Inspector (I)
To Be Name
5.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Surveyor (S)
To Be Name
5.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Lab. Technician (Lt)
To Be Name
3.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Ruas/ Link : Kawasan Strategis Peningkatan Jalan Linkar Luar Kota Kupang Cs
Inspector (I)
To Be Name
6.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Surveyor (S)
To Be Name
6.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Lab. Technician (Lt)
To Be Name
5.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Ruas Link : Peningkatan Struktur Jalan Tua Bata
Inspector (I)
To Be Name
7.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Surveyor (S)
To Be Name
7.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Lab. Technician (Lt)
To Be Name
5.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Supporting Staff
Project Officer
To Be Name
7.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Cadman
To Be Name
7.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Operator Computer
To Be Name
7.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB
Office Boy
To Be Name
8.00 bulan
PT. BA JO CV.BP, PT.CWN,,
DAN PT.GAB

PT. BUANA ARCHICON JO CV. BAYU PRATAMA, PT. CIPTA WAHANA NUSANTARA,
DAN PT. GAGAS ADI BAGASKARA

E-91