Anda di halaman 1dari 9

Akuntansi Keperilakuan

Aspek Keperilakuan pada Pengambilan Keputusan dan Para Pengambil


Keputusan

OLEH :
PUTU PUTRI PRABHAWANTI

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
2016

(1406305102)

7.1 PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Definisi
Dalam organisasi, pengambilan keputusan biasanya didefinisikan sebagai proses memilih di
antara berbagai alternatif tindakan yang berdampak pada masa depan. Proses pengambilan
keputusan dapat dijabarkan dalam langkah-langkah yang berurutan, yaitu:
1. Pengenalan dan pendefinisian atas suatu masalah atau suatu peluang. Untuk mengenali dan
mendefi-nisikan masalah atau peluang, para pengambil keputusan memerlukan informasi
lingkungan, keua-ngan, dan operasi.
2. Pencarian atas tindakan alternatif dan kuantifikasi atas konsekuensinya. Dalam tahap ini,
sebanyak mungkin alternatif yang praktis diidentifikasikan dan dievaluasi. Fitur-fitur yang dapat
dikuantifika-sikan akan berupa estimasi keuangan atas biaya dan manfaat yang berkaitan dengan
setiap alternatif.
3. Pemilihan alternatif yang optimal atau memuaskan. Walaupun tahap ini tampaknya rasional,
tetapi keputusan akhir sering kali didasarkan pada pertimbangan politik dan psikologis daripada
fakta-fakta ekonomi.
4. Penerapan dan tindak lanjut. Kesuksesan atau kegagalan dari keputusan akhir bergantung pada
efisi-ensi dari penerapannya. Untuk menjamin efisiensi penerapannya, umpan balik secara
periodik dan koreksi segera atas segala kesalahan yang terjadi mutlak diperlukan.
Motif Kesadaran
Motif kesadaran sangat penting dalam proses pengambilan keputusan karena merupakan
sumber dari proses berfikir. Dua faktor penting dari motif kesadaran dalam konteks pengambilan
keputusan, yaitu :
1. Keinginan akan kestabilan atau kepastian. Keinginan akan kestabilan menegaskan adanya
kemam-puan untuk memprediksikan.
2. Keinginan akan kompleksitas dan keragaman. Motif kompleksitas menimbulkan keinginan akan
suatu stimulus dan eksplorasi serta mengaktifkan pikiran sadar dan bawah sadar untuk mencari
data baru dari ingatan atau lingkungan, kemudian menyeimbangkannya dan mengaturnya dengan
motif. Dua faktor penting dari proses pengambilan keputusan adalah kompleksitas dan
prediksinya (pasti atau tidak pasti).
Dengan menggunakan dimensi-dimensi kompleksitas dan kemampuan untuk membuat
prediksi, para ahli psikologi telah mengembangkan empat jenis model keputusan:

1.
2.
3.
4.

Model keputusan yang diprogram secara sederhana.


Model keputusan yang tidak diprogram secara sederhana.
Model keputusan yang diprogram secara kompleks.
Model keputusan yang tidak diprogram diprogram secara kompleks.

Jenis-Jenis dari Model Proses


1. Model Ekonomi. Model tradisional mengasumsikan bahwa seluruh kegiatan dan keputusan
manusia
adalah rasional sempurna dan bahwa dalam suatu organisasi, terdapat konsistensi antara beragam
motif dan tujuan.
2. Model Sosial. Model ini mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya adalah irasional dan
keputu-san yang dihasilkan terutama didasarkan pada interaksi sosial.
3. Model Kepuasan Simon. Model ini didasarkan pada konsep Simon tentang manusia
administrasi, di mana manusia dipandang sebagai rasional karena mereka mempunyai
kemampuan untuk berpikir, mengolah informasi, membuat pilihan, dan belajar.
7.2 PENGAMBIL KEPUTUSAN ORGANISASI
Perusahaan sebagai Unit Pengambilan Keputusan
Suatu perusahaan dapat dianggap sebagai unit pengambilan keputusan yang serupa dalam
banyak hal dengan seorang individu. Untuk mengatasi kelebihan beban dalam pengambilan
keputusan, organisasi mengembangkan prosedur operasi standar yang formal atau tidak formal
untuk masalah-masalah yang berulang. Cyber dan March menggambarkan empat konsep dasar
relasional sebagai inti dari pengambilan keputusan bisnis:
1. Resolusi Semu dari Konflik. Teori keputusan klasik mengasumsikan bahwa konflik dapat
diselesai-kan dengan menggunakan rasionalitas lokal.
2. Penghindaran Ketidakpastian. Cyber dan March (1963) menemukan bahwa para pengambil
keputu-san dalam organisasi sering kali menggunakan strategi yang kurang rumit ketika
berhadapan dengan risiko dan ketidakpastian. Schiff dan Lewin (1974) menambahkan slack
organisasi ke alat-alat yang digunakan untuk menghindari ketidakpastian.
3. Pencarian Masalah. Menurut Cybert dan March pencarian masalah didefinisikan sebagai proses
menemukan suatu solusi atas suatu masalah tertentu atau sebagai suatu cara untuk bereaksi
terhadap suatu peluang.
4. Pembelajaran organisasional. Walaupun organisasi tidak mengalami proses pembelajaran seperti
yang dialami oleh individu, organisasi memperlihatkan perilaku adaptif dari karyawannya.
Manusia Para Pengambil Keputusan Organisasional

Penting untuk diingat bahwa manusia, dan bukannya organisasi, yang mengenali dan
mendefinisikan masalah atau peluang dan yang mencari tindakan alternatif. Manusialah yang
memilih kriteria pengam-bilan keputusan, memilih alternatif yang optimal, dan menerapkanya.
Kekuatan dan Kelemahan Individu sebagai Pengambil Keputusan
Manusia merupakan makhluk yang rasional karena mereka memiliki kapasitas untuk
berpikir, memilih, dan belajar. Tetapi rasionalitas manusia adalah sangat terbatas karena mereka
hampir tidak pernah memperoleh informasi yang penuh dan hanya mampu memproses informasi
yang tersedia secara berurutan.
Peran Kelompok sebagai Pembuat Keputusan dan Pemecah Masalah
Kelompok dianggap sebagai faktor yang menyebabkan ide-ide diinvestigasi dengan lebih
teliti dan meningkatnya kemungkinan bahwa keputusan tersebut akan dapat diterapkan dengan
efektif. Kemam-puan kelompok untuk menganalisis masalah, mendefinisikan, dan menilai
alternatif secara kritis, serta untuk mencapai keputusan yang valid bisa diperlemah oleh dua
fenomena perilaku, yaitu: fenomena pemikiran kelompok, dan fenomena pergeseran yang
berisiko (dampak diskusi kelompok).
Kesatuan Kelompok
Kesatuan kelompok didefinisikan sebagai tingkat dimana anggota-anggota kelompok tertarik
satu sama lain dan memiliki tujuan kelompok yang sama. Tingkat kesatuan kelompok
dipengaruhi oleh jumlah waktu yang dihabiskan bersama oleh para anggota kelompok, tingkat
kesulitan dari penerimaan anggota baru ke dalam kelompok, ukuran kelompok, ancaman
eksternal yang mungkin, dan sejarah keberhasilan dan kegagalan di masa lalu. Faktor lainnya
yang juga mempengaruhi kesatuan kelompok secara mengun-tungkan adalah riwayat dari
kelompok itu.
Pengambilan Keputusan dengan Konsensus vs Aturan Mayoritas
Konsensus dalam konteks pengambilan keputusan didefinisikan oleh Holder (1972) sebagai
kesepakatan semua anggota kelompok dalam pilihan keputusan. Dalam kebanyakan situasi,
konsensus hanya bisa dicapai setelah pertimbangan yang matang serta evaluasi yang kritis atas
lebih atau kurangnya. Pengambilan keputusan dengan konsensus membutuhkan lebih banyak
waktu dibandingkan dengan penambilan keputusan dengan pengaturan mayoritas.

Kontroversi yang Disebabkan oleh Hubungan Atasan Bawahan


Ketika kelompok pengambilan keputusan terdiri atas atasan dan bawahan, kontroversi tidak
bisa di-hindarkan. Atasan mempunyai akses terhadap informasi yang berbeda, sehingga memiliki
pendapat yang berbeda pula dibandingkan dengan bawahannya. Kualitas dari pilihan keputusan
akan sangat bergantung bagaimana atasan menangani kontroversi tersebut.
Pengaruh Dasar Kekuasaan
Dalam situasi pengambilan keputusan, seseorang mampu memengaruhi hasil keputusan
karena we-wenang atau kekuasaan yang diberikan oleh organisasi. Elemen kekuasaan yang
paling sering disebutkan adalah kekuasaan posisi, kekuasaan keahlian, kekuasaan sumber daya,
atau kekuasaan politik.
Dampak dari Tekanan Waktu
Tekanan waktu menyebabkan para anggota kelompok menjadi lebih sering setuju guna
mencapai konsensus kelompok; lebih kurang menuntut dan lebih bersifat mendamaikan dalam
situasi tawar-menawar; lebih membatasi partisipasi dalam proses pengambilan keputusan hanya
pada relatif sedikit anggota; dan lebih menyukai aturan mayoritas.
7.3 PENGAMBILAN KEPUTUSAN OLEH PENDATANG BARU VS OLEH PAKAR
Studi atas sikap pengambilan keputusan secara keseluruhan menunjukkan bahwa pendatang
baru mengumpulkan data tanpa melakukan diskriminasi dan menunggu untuk melihat apa yang
akan terjadi. Sebaliknya, para pakar mengumpulkan data secara diskriminatif guna
menindaklanjuti observasi tertentu; mereka secara teratur meringkas data tersebut dan
memformulasikan hipotesis. Untuk menggambarkan perbedaan dalam penggunaan data; peneliti
membagi tugas analisis keuangan tersebut ke dalam tiga komponen, yaitu:
1. Pengujian Informasi. Pengujian didefinisikan sebagai kegiatan menganalisis informasi yang
disajikan dan menyeleksi untuk dipertimbangkan lebih lanjut, hanya informasi yang terlihat
sangat relevan dengan tugas keputusan itu yang harus dilaksanakan. Para pakar lebih banyak
mengandalkan aturan-aturan yang diperoleh berdasarkan pengalaman dibandingkan dengan para
pendatang baru dan mereka juga menguji data dari lebih banyak tahun.
2. Integrasi Pengamatan dan Temuan. Integrasi melibatkan pengelompokan atas pengamatan, baik
berdasarkan hubungan sebab akibat atau berdasarkan komponen fungsional dari perusahaan.

Ketika mengintegrasikan pengamatan dan temuan, para pendatang baru menghubungkan


pengamatan dan temuan yang menjelaskan satu sama lain dan mengabaikan yang tidak.
Sebaliknya, para pakar menempatkan penekanan khusus pada kontradiksi yang potensial dalam
pengamatan dan temuan sebagai alat untuk mendeteksi masalah yang mendasari.
3. Pertimbangan. Pertimbangan yang digunakan di sepanjang proses pengambilan keputusan
tampak lebih jelas dalam formulasi hipotesis, pengembangan petunjuk dalam formulasi
keputusan akhir, dan dalam penyusunan ringkasan temuan.
7.4

PERAN

KEPRIBADIAN

DAN

GAYA

KOGNITIF DALAM

PENGAMBILAN

KEPUTUSAN
Perbedaan psikologis individu dapat dibagi menjadi dua kategori: kepribadian dan gaya
kognitif. Kepribadian mengacu pada sikap atau keyakinan individu, sementara gaya
kognitif mengacu pada cara atau metode dengan mana seseorang menerima, menyimpan,
memproses, serta meneruskan

informasi. Dalam suatu situasi pengambilan keputusan,

kepribadian dan gaya kognitif

saling berinteraksi dan memengaruhi (menambah atau

mengurangi) dampak dari informasi akuntansi.


7.5 PERAN INFORMASI AKUNTANSI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Secara definisi, keputusan manajemen memengaruhi kejadian atau tindakan masa depan,
sedangkan informasi akuntansi memfokuskan pada peristiwa-peristiwa di masa lalu tidak dengan
sendirinya dapat mengubah kejadian atau dampaknya kecuali jika hal itu dilakukan melalui
proses pengambilan keputusan dengan mana kejadian masa depan beserta konsekuensinya
ditentukan. Karena pengambilan keputusan dan informasi mengenai hasil kinerja akuntansi fokus
pada periode waktu yang berbeda, maka keduanya hanya dihubungkan oleh fakta bahwa proses
pengambilan keputusan menggunakan data akuntansi tertentu yang dimodifikasi selain informasi
nonkeuangan.
Data Akuntansi sebagai Stimuli dalam Pengenalan Masalah
Akuntansi dapat berfungsi sebagai stimuli dalam pengenalan masalah melalui pelaporan
deviasi kinerja aktual dari sasaran standar atau anggaran atau melalui pemberian informasi
kepada manajer bahwa mereka gagal untuk mencapai target output atau laba yang ditentukan
sebelumnya.

Dampak Data Akuntansi dalam Pilihan Keputusan


Informasi akuntansi memainkan peran yang lebih penting dalam keputusan jangka pendek
di-bandingkan dalam keputusan yang melibatkan konsekuensi jangka panjang, karena informasi
akuntansi hanya mencerminkan biaya dan pendapatan yang berkaitan dengan operasi sekarang.
Dan kelihatannya para pengambil keputusan lebih memilih informasi eksternal jika informasi
tersebut langsung tersedia dan tidak begitu mahal dibandingkan dengan data akuntansi yang
dikembangkan secara internal.
Hipotesis Keperilakuan dari Dampak Data Akuntansi
Informasi akuntansi adalah salah satu input dalam model pengambilan keputusan. Input
tersebut dapat bersifat keuangan, nonkeuangan, atau bahkan tidak dapat dikuantifikasi.
Bruns (1981) mengelompokkan pengambil keputusan ke dalam tiga kelompok:
1. Para pembuat keputusan dalam perusahaan yang mengambil keputusan mengenai operasi dan
sistem akuntansi digunakan untuk menyusun laporan (manajemen puncak).
2. Para pengambil keputusan dalam perusahaan yang hanya dapat membuat keputusan mengenai
operasi saja (manajer operasi).
3. Mereka yang berada di luar perusahaan yang membuat keputusan mengenai perusahaan tersebut
yang dapat memengaruhi lingkungan dan operasinya, tetapi yang tidak memiliki kendali
langsung atas operasi perusahaan atau aktivitas apapun yang dilakukannya.
Para peneliti lain mempelajari pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana para pengambil
keputu-san menyesuaikan terhadap perubahan dalam metode dan terminologi akuntansi. Mereka
menemukan bahwa ada dua faktor yang menentukan tingkat penyesuaian, yaitu: umpan balik dan
fiksasi fungsional.
Umpan Balik
Untuk memahami perubahan dalam metode atau istilah akuntansi dan untuk menyesuaikan
aturan pengambilan keputusan sesuai dengan itu, maka pengambil keputusan harus menerima
informasi me-ngenai perubahan tersebut atau memiliki umpan balik tidak langsung mengenai
perubahan tersebut. Jika seseorang mengabaikan dampak jangka pendek yang mungkin akibat
selang waktu antara perubahan dan indikasinya, maka kecil kemungkinannya bahwa tidak
terdapat umpan balik sama sekali.

Fiksasi Fungsional
Sebagai suatu atribut dari pengambilan keputusan, fiksasi fungsional bervariasi tingkatnya
dari situasi yang satu ke situasi yang lain namun tidak pernah tidak ada sama sekali.

DAFTAR PUSTAKA
Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.