Anda di halaman 1dari 9

RINGKASAN MATERI

AUDIT OPERASIONAL DAN KINERJA


A. Audit Operasional
Audit operasional merupakan suatu cara atau metode yang dipakai untuk melakukan
evaluasi terhadap berbagai aktivitas yang telah dan sedang dilaksanakan, sehingga dapat
memberikan masukan ke depan untuk bagaimana aktivitas operasi dapat dilaksanakan
lebih efektif, efisien, dan ekonomis sehingga meminimalkan kemungkinan timbulnya
hambatan atau gangguan serta akan lebih mempermudah organisasi dalam mencapai
tujuannya.
Tujuan audit operasional :
1. Mereview dan menilai efektifitas desain dan aplikasi pengendalian internal.
2. Memastikan kepatuhan atas kebijakan, rencana, dan prosedur yang telah ditetapkan.
3. Memastikan keandalan data manajemen yang disusun oleh organisasi.
4. Menilai kualitas kinerja pelaksanaan tanggung jawab.
5. Merekomendasikan perbaikan operasi
6. Mempertanggungjawabkan dan melindungi aset
Proses pelaksanaan audit operasional dapat membantu dan bermanfaat serta memberikan
solusi kepada manajemen, terutama dalam hal :
1. Mengidentifikasi area operasi yang membutuhkan peningkatan dan perbaikan yang
positif dan kontinyu.
2. Menunjukkan dengan tepat penyebab (bukan sekedar gejala) dari suatu masalah.
3. Mengkuantisir dampak dari situasi atau kondisi yang sedang terjadi.
4. Mengembangkan rekomendasi sebagai tindakan alternatif untuk memperbaiki situasi.
Audit operasional berbeda dengan audit keuangan. Berikut adalah beberapa karakteristik
audit operasional yang membedakannya dengan audit keuangan :
N
o
editor :de_102013

Karakteristik

Audit Keuangan

Audit Operasional

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tujuan
Ruang Lingkup
Keterampilan Dasar
Orientasi Waktu
Pelanggan
Opini
Hasil Audit
Fokus Audit
Ukuran Keberhasilan

Pemberian opini
Catatan keuangan
Accounting
Masa lalu
Stakeholder & pihak eksternal
Mandatory (wajib)
Opini atas laporan keuangan
Kewajaran laporan keuangan
Opini Wajar Tanpa Pengecualian
(WTP)

Perbaikan kinerja
Aktivitas operasi
Berbagai disiplin
Masa depan
Internal manajemen
Diberikan bila perlu
Rekomendasi kepada manajemen
Perbaikan aktivitas operasi
Tindak lanjut atas rekomendasi

Maksud dari audit opersional adalah untuk :


1. Menilai Kinerja
Dengan cara membandingkan aktivitas atau kegiatan operasi yang telah dilaksanakan,
misalnya dengan :
- Kebijakan organisasi, standar, goals, objectives, dan rencana details.
- Fungsi sejenis atau individu lain di dalam organisasi (internal benchmarking)
- Organisasi lain (eksternal benchmarking)
2. Mengidentifikasi Peluang untuk Perbaikan
Audit dimaksudkan mampu untuk mengidentifikasi peluang untuk perbaikan atau
penerapan praktik-praktik yang baik di dalam organisasi, yaitu dengan cara
melakukan :
- Analisa berdasarkan interview individu-individu baik yang ada di dalam maupun di
luar organisasi.
- Observasi kegiatan atau operasi
- Review data operasional yang lalu atau saat sekarang
- Analisa transaksi-transaksi
- Membuat perbandingan baik internal maupun eksternal
- Pelaksanaan professional-judgment didasarkan pada pengalaman dengan organisasi
tertentu atau yang lainnya.
B. Audit Key Performance Indicator (KPI)
Di Negara Indonesia belum ada ketentuan yang mewajibkan Lembaga Pemeriksa yang
ada untuk melakukan audit atas kelayakan indikator kinerja dan validasi atas capaiannya.
Negara baru mewajibkan instansi pemerintah dan BUMN untuk mempublikasikan
indikator kinerjanya saja.
Tujuan audit secara umum adalah untuk menyediakan sebuah opini atas sifat informasi
yang dilaporkan dan apakah itu akan membantu pengguna laporan untuk menilai kinerja.
Adapun tujuan audit sebagai berikut :
1. Menentukan informasi kinerja yang dilaporkan sudah cukup komprehensif
2. Menentukan tingkat keselarasan dengan sasaran, maksud dan tujuan
3. Menentukan indikator kinerja merupakan ukuran yang tepat untuk menilai
pencapaian dan cukup mempresentasikan kemajuan menuju target dan sasaran
4. Menentukan apakah indikator kinerja obyektif, dapat diukur, dan dapat dikuantifikasi
editor :de_102013

C. Audit Atas Efisiensi dan Efektivitas


Setiap organisasi atau badan usaha haruslah melaksanakan pengukuran terhadap kinerja
operasi atau organisasinya. Salah satu kinerja operasi atau organisasi yang harus diukur
adalah efisiensi dan efektivitas. Pada badan usaha, pengukuran efisiensi dan efektivitas
adalah masalah pokok untuk memastikan perolehan laba yang dapat menjaga
kelangsungan usaha mereka. Sedangkan di sektor publik, pengukuran efisiensi dan
efektivitas diperlukan untuk menjaga pengelolaan sumber daya agar dapat memberikan
pelayanan terbaik dan mewujudkan misi organisasi.
Efisiensi adalah penggunaan input yang minimum untuk menghasilkan output dengan
kuantitas dan kualitas tertentu. Efektivitas adalah kesesuaian hasil (outcome) dari suatu
kegiatan dengan tujuan atau hasil yang diinginkan.
Tujuan audit efisiensi adalah untuk menentukan :
1. Apakah sebuah entitas memperoleh, melindungi, dan menggunakan sumber daya
yang dimilikinya secara ekonomis dan efisien
2. Penyebab praktik-praktik inefisiensi, dan
3. Apakah entitas telah menaati aturan dan ketentuan terkait dengan kehematan dan
efisiensi.
Tujuan-tujuan tersebut dapat dirinci sesuai dengan kondisi audit dan lingkup audit.
Tujuan audit efektivitas adalah audit yang dilakukan untuk menentukan :
1. Sampai seberapa jauh hasil atau manfaat yang ditetapkan oleh aturan telah dapat
dicapai
2. Efektivitas organisasi, program, aktivitas, dan fungsi
3. Apakah entitas telah menaati aturan dan ketentuan terkait dengan program yang
diaudit
Tujuan-tujuan tersebut harus dicapai oleh auditor dengan proses audit yang sistematis
dan terencana dengan baik.
Proses audit atas efisiensi dan efektifitas untuk mencapai tujuan audit disusun
menggunakan pendekatan teknis sebagai berikut :
1. Pengenalan dan pemahaman obyek audit oleh auditor
Auditor harus mengetahui dan memahami obyek auditnya dengan baik sebelum
melaksanakan pengujian-pengujian.auditor perlu memiliki berbagai informasi yang
relevan dengan penugasan.
Selanjutnya, auditor perlu menelaah kemudian mendiskusikan dengan pimpinan
auditee tentang sistem manajemen kinerja yang dijalankan pada operasi atau
organisasi.
2. Analisis dan verifikasi bukti-bukti
Setelah didapat pemahaman yang rinci tentang auditee, tahap selanjutnya adalah
analisis dan verifikasi. Analisis adalah pengujian yang lebih detail atas data dan
informasi berkaitan dengan kondisi bagian-bagiannya. Verifikasi adalah pengujian
yang independen atas asersi-asersi yang dibuat oleh auditor setelah tahap pengenalan
dan pemahaman.
3. Evaluasi hasil audit
editor :de_102013

Evaluasi hasil audit diakukan auditor dengan mereview bukti-bukti yang terkumpul
dan berusaha menarik kesimpulan yang menjadi dasar pemberian rekomendasi.
Evaluasi hasil audit dilaksanakan dengan 3 pertanyaan yaitu :
- Seberapa baik tujuan-tujuan audit tercapai dengan mengevaluasi relevansi,
kompetensi, dan kecukupan bukti ?
- Seberapa efektif dan efisien kinerja operasi-operasi yang diaudit?
- Pengendalian dan operasi manakah yang dapat dilaksanakan dengan lebih baik ?
pelaksanaan pengendalian dan operasi yang lebih baik adalah tujuan pemberian
rekomendasi oleh auditor.
4. Pelaporan hasil audit
Pada tahap ini, auditor melaporkan temuan-temuan auditnya, mengajukan
rekomendasi untuk tindakan korektif dan memberikan waktu kepada pihak
manajemen untuk melaksanakan tindakan korektif.
Tahap di atas dapat diterapkan dengan prosedur sebagai berikut :
1. Memahami risiko pengendalian
Auditor internal harus mengevaluasi terlebih dahulu risiko pengendalian yang
berhubungan dengan proses produksi.
2. Melaksanakan survey pendahuluan
Pada tahap ini, auditor perlu mengumpulkan informasi berupa :
- Rumusan tujuan umum audit
- Rencana audit dengan pihak-pihak terkait
- Informasi yang relevan dengan auditan
- Mengatur berbagai hal yang diperlukan bagi pelaksanaan audit di tempat
auditan
3. Menyusun rencana audit
Berdasarkan hasil survey pendahuluan, auditor menyusun rencana audit yang
detail, atau biasa disebut program audit. Proram audit ini mengarahkan perhatian
auditor pada tujuan audit dan area potensial yang membutuhkan pengujian lebih
detail.
4. Melaksanakan rencana audit
Pelaksanaan rencana audit adalah melakukan verifikasi terhadap asersi.
5. Mengevaluasi hasil audit
Pada tahap ini, auditor mereview bukti-bukti yang terkumpul dan berusaha
menarik kesimpulan yang menjadi dasar pemberian rekomendasi. Evaluasi hasil
audit dilaksanakan dengan 3 pertanyaan yaitu :
- Seberapa baik tujuan-tujuan audit tercapai dengan mengevaluasi relevansi,
kompetensi, dan kecukupan bukti?
- Seberapa efektif dan efisien kinerja operasi-operasi yang direview? jika ada
masalah, mengapa tida tercapai kinerja yang diinginkan?
- Pengendalian dan operasi manakah yang dapat dilaksanakan dengan lebih
baik?
6. Temuan audit, simpulan, dan rekomendasi
Pada tahap ini, auditor melaporkan temuan-temuan auditnya, mengajukan
rekomendasi untuk tindakan korektif dan memberi waktu kepada pihak
manajemen untuk melaksanakan tindakan korektif.

editor :de_102013

D. Audit Atas Kontrak dan Due Diligence


Audit atas kontrak meliputi kontrak pengadaan secara umum, outsourcing audit internal,
dan outsource IT atau IS. Due deligence adalah uji tuntas sebagai suatu usaha yang
dilakukan oleh pihak yang berkepentingan untuk menghindari hal-hal buruk yang
mungkin terjadi pada dirinya maupun pihak lain. Sedangkan dalam bisnis due diligence
didefinisikan sebagai proses investigasi atau survei yang dilakukan oleh suatu pihak
kepada pihak lainnya sebelum proses penandatanganan kontrak atau berlakunya kerja
sama diantara semua pihak tersebut.
1. Penugasan Kontrak
Internal auditor sering mendapat tugas melakukan evaluasi terhadap salah satu
bentuk perjanjian, yaitu kontrak. Biasanya, kontrak dikemas dengan jenis kotrak
lump-sum (harga tetap), cost-plus, atupun unit-price.
a. Kontrak lump-sum
Kontrak lump-sum adalah kontrak dengan harga tetap. Dalam mengevaluasi jenis
kontrak ini, auditor internal perlu mempertimbangkan :
- Progres pembayaran
- Insentif yang diberikan kepada kontraktor
- Klausul eskalasi (escalator clause), seperti adanya klausul yang mengatur
tentang kenaikan harga kontrak karena ada kejadian tertentu yang
menyimpang dari kontrak
- Penyesuaian upah tenaga kerja
- Perubahan order
Ketentuan yang biasanya di atur dalam kontrak ini, meliputi :
- Penetapan batas maksimum cost yang boleh terjadi
- Insentif untuk penyelesaian pekerjaan yang lebih cepat dari waktu yang
ditetapkan
b. Kontrak unit-price
Kontrak jenis ini sering digunakan bilamana terdapat ukuran-ukuran yang andal
untuk pekerjaan yang bersangkutan. Masalah kunci dalam penerapan kontrak
jenis ini adalah akurasi ukuran pekerjaan yang dilaksanakan.
c. Kontrak outsourcing
Outsource audit internal. Dalam melaksanakan aktivitasnya, audit internal dapat
melakukan outsource staf audit. Keuntungan utamanya, provider (provider pihak
ketiga) yang besar biasanya memiliki kantor cabang di beberapa daerah sehingga
penugasan untuk lokasi di daerah tetap mudah dilaksanakan.
Kelemahannya, provider kurang familiar dengan kondisi perusahaan, tidak seperti
auditor internal yang sangat familiar dengan perusahaannya sendiri. Dalam
menjalankan tugasnya, provider dapat terganggu dengan prioritas lain, mengingat
outsource provider banyak melayani banyak klien sehingga akan menyusun
prioritas sesuai pertimbangan bisnisnya kerugian lainnya dapat muncul dari
peraturan pemerintah, misalnya jika ada peraturan yang melarang bagi eksternal
auditor untuk sekaligus memberikan jasa audit internal.

editor :de_102013

2. Outsourcing Audit Atas Sistem Informasi (IS)


Pimpinan audit intern harus menyiapkan sumber daya auditor yang independen dan
kompeten untuk melaksanakan audit atas IS. Apakah dengan memiliki staf auditor
sendiri atau memiliki akses terhadap sumber daya tersebut untuk membantu
melaksanakan tugas audit internal. Audit intern dapat melakukan outsource dari
organisasi lain untuk melaksanakan audit atas IS dan mengevaluasi eksporsur risiko
yang berkaitan.
Pimpinan audit atau auditor yang ditunjuk juga harus menilai kemungkinan untuk
menyandarkan pada hasil kerja audit atas IS yang dilaksanakan baik oleh provider
jasa IA atau provider yang independen yang dikontrak oleh provider jasa.
Kemampuan mengaudit atau menyandarkan pekerjaan pada pihak lain harus
diputuskan sebelum audit dilaksanakan.
3. Audit Atas Outsource
Audit atas outsource berlaku untuk outsource secara umum, misalnya audit atas
outsource yang berkenaan dengan pekerjaan sisem informasi.
4. Perencanaan
Auditor harus memahami sifat, waktu dan luasnya jasa outsource. Auditor harus
menentukan pengendalian apa yang sudah dilakukan oleh penerima jasa untuk
menjamin peran dan tanggung jawab provider benar-benar secara jelas didefinisikan
dan dipenuhi secara kontinyu. Risiko yang berkaitan dengan jasa outsource harus
diidentifikasi dan dinilai.
Prosedur yang harus dilakukan oleh auditor :
a. Memperoleh pemahaman
Auditor harus memperoleh dan mendokumentasikan pemahaman tentang
hubungan antara jasa yang diberikan oleh provider dan lingkungan penegndalian
user.
Untuk melaksanakan tahap ini, langkah yang perlu dilakukan auditor meliputi :
1. Mendokumentasikan proses dan pengendalian provider yang mempunyai
pengaruh langsung terhadap proses operasi dan tujuan pengendalian
perusahaan.
2. Mengidentifikasi setiap pengendalian (lingkungan pengendaliannya), jenis
pengendalian (fungsi preventif, detektif atau korektif), dan unit operasi
perusahaan yang melakukan fungsi tersebut.
3. Menilai risiko, pengendalian dan tujuan pengendalian atas jasa yang diberikan
oleh provider kepada perusahaan.
4. Menentukan signifikansi pengendalian provider dalam rangka mencapai
pengendalian tujuannya.
5. Mengkonfirmasi pemahaman lingkungan pengendalian dengan cara
melakukan inquiri, observasi, dan transaction walk-through.

b. Menilai peran pengendalian provider


editor :de_102013

Auditor harus menilai pengendalian provider untuk menyakini bahwa


pengendalian provider beroperasi secara efektif dan membantu user dalam
mencapai tujuan pengendaliannya.
c. Menilai kelemahan pengendalian user
Auditor harus menilai kemungkinan atau risiko yang muncul dari kelemahan
pengendalian user seperti kelemahan perancangan, kesenjangan dalam
pengendalian, atau operasi yang tidak efektif dalam lingkungan teknologi
informasi.
5. Corporate Governance
Auditor harus mengidentifikasi dan mereview bagian-bagian dari proses aktivitas
manajemen user dalam menangani provider. Auditor dalam mereview terhadap
proses governance harus meyakini apakah manajemen telah mereview kinerja
provider dibandingkan dengan standar atau kriteria yang tertulis dalam kontrak atau
standar lain yang diterbitkan oleh lembaga yang berkompeten. Proses governance
yang dilakukan manajemen tersebut harus meliputi review terhadap :
a. Kinerja keuangan provider
b. Ketaatan provider terhadap isi kontrak
c. Perubahan lingkungan pengendalian yang dilakukan oleh provider, auditor
provider, ataupun oleh regulator
d. Hasil review pengendalian yang dilakukan oleh pihak lain, termasuk auditor,
monsultan, dan lainnya yang ditunjuk oleh provider
e. Kepemilikan jaminan asuransi yang memadai oleh provider
6. Mereview Pengendalian Provider Masalah Kontrak
Pada saat mereview pengendalian provider, auditor harus mempertimbangkan
hubungan kerja kontrak antara perusahaan dengan provider serta memperhatikan
evaluasi dan pelaporan pengendalian provider.
7. Laporan Independen
Auditor dapat menggunakan laporan dari provider sebagai basis sandaran atas
pengendalian sistem informasi provider. Jika auditor memutuskan untuk
menggunakan laporan independen tersebut sebagai tumpuan, auditor harus mereview
laporan tersebut untuk menentukan hal-hal berikut :
a. Phak independen yang menerbitkan laporan tersebut memenuhi kualifikasi
kompetensi
b. Pihak independen tersebut tidak punya hubungan istimewa dengan provider yang
dapat merusak independensi dan obyektifitasnya
c. Cakupan periode laporan masih memungkinkan dipakai sebagai rujukan
d. Cakupan laporan cukup untuk memenuhi kebutuhan auditor
e. Apakah pengujian pengendalian sudah memadai, dalam arti sifat, waktu, dan
luasnya prosedur yang dilakukan
f. Laporan menguraikan tanggung jawab provider dan tanggung jawab perusahaan
sebagai user
g. User telah memberikan tanggung jawab pada kontrol yang tepat
editor :de_102013

8. Pelaksanaan Audit
Selama audit dilaksanakan, auditor akan mengumpulkan bukti yang diperlukan untuk
mendukung kesimpulan hasil penugasannya.
9. Pelaporan
Pada akhir pekerjaan audit, auditor harus menyiapkan laporan dalam format yang
tepat yang ditujukan kepada manajemen user. Laporan auditor harus menunjukkan
ruang lingkup audit yang diperluas pada pengendalian, baik pada organisasi user
maupun provider. Auditor harus menunjukkan identifikasi pengendalian, kelemahan
pengendalian, dan pengendalian pengganti (compensating control) yang ada dalam
organisasi. Kesimpulan dan rekomendasi harus mempertimbangkan hubungan antara
user dan provider jasa.
10. Aktivitas Tindak Lanjut
Auditor harus melakukan monitoring terhadap tindak lanjut hasil audit. Auditor perlu
meminta informasi yang tepat baik dari user maupun provider berkenaan dengan
tindak lanjut atas temuan audit sebelumnya, kesimpulan, dan rekomendasi. Auditor
harus menentukan apakah tindakan perbaikan telah dilaksanakan tepat waktu oleh
provider.
11. Penugasan Due Diligence
Pada mulanya, istilah Due Diligence digunakan untuk menggambarkan tindakan
defense yang dilakukan oleh akuntan terhadap kewajibannya dalam menyiapkan
laporan keuangan yang secara formal diperuntukkan bagi pasar modal. Tindakan ini
dilakukan ketika fakta yang material telah disajikan di dalam atau dihilangkan dari
laporan keuangan tersebut. akuntan yang menyiapkan atau mengesahkan laporan
keuangan yang digunakan untuk kepentingan pasar modal atau pengungkapan lain,
hanya perlu menguji due diligence berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan yang
mereka lakukan.
Dalam perkembangan audit internal, disamping untuk pengertian diatas, juga dipakai
untuk memberi nama suatu jasa yang diberikan oleh auditor internal untuk
menentukan validitas justifikasi bisnis terhadap transaksi tertentu.
Dalam melaksanakan due diligence, auditor internal dapat mereview kegiatan
operasi, seperti pengadaan, pengiriman dan penerimaan barang, pengelolaan
persediaan; dan mereview pengendalian internal terhadap sistem informasi,
kompatibilitas kultur organisasi, serta masalah keuangan dan akuntansi.
Laporan final penugasan due deligence harus faktual, tidak subyektif, dengan
informasi pendukung yang diberi nomor indeks. Laporan harus berisi executive
summary dan harus disesuaikan dengan keadaan organisasi yang menjadi obyek
penugasan.
DAFTAR PUSTAKA
Yayasan Pendidikan Internal Audit.(2008). Modul Pembelajaran Audit Operasional &
Kinerja. Jakarta

editor :de_102013

http://www.jaringanbisnis.com/artikel-umum/apa-itu-due-diligence. Diakses
2013

24 September

Wikipedia. (2013, 2 April). http://id.wikipedia.org/wiki/Uji_tuntas. Diakses 7 Oktober 2013

editor :de_102013