Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

EKSPLORASI SEISMIK

PERAMBATAN GELOMBANG GEMPA

NAMA

: MIFTAKHUR RAHMAT

NRP

: 3714100052

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2016/2017

ABSTRAK
Telah dilakukan praktikum perambatan gelombang gempa menggunakan pemodelan struktur
bawah permukaan dengan bantuan perangkat lunak Tesseral. Dalam praktikum ini dibuat
struktur berupa lipatan dan patahan dengan empat jenis litologi yang berbeda. Setelah
dilakukan running Accoustic Modelling, didapat kesimpulan bahwa gelombang primer lebih
cepat dibanding gelombang sekunder, serta tampak pula perbedaan antara gelombang seismik
refleksi dan refraksi, selain itu didapat hubungan antara frekuensi gelombang, amplitude dan
kedalaman, yaitu semakin dalam atau jauh jarak yang ditempuh oleh gelombang, maka
amplitudonya semakin melebar dan frekuensi semakin merenggang.

Kata Kunci : Tesseral, Gelombang P, Gelombang S.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seismologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang gelombang gempa
dan
parameter-parameter
yang
menyertainya. Dalam studi ilmu
geofisika, terdapat satu metode yang
berhubungan
dengan
gelombang
gempa, yaitu metode seismik. Metode
ini sering dipakai di perusahaan
minyak dan gas untuk memetakan
struktur bawah tanah.
Pemetaan struktur bawah tanah
dilakukan dengan mengamati perilaku
dan hubungan antara gelombang
primer
atau
kompresional
dan
gelombang sekunder atau shear. Salah
satu contoh bentuk pemodelan
perambatan gelombang seismik pada
suatu struktur bawah permukaan dapat
dibuat dengan bantuan software
Tesseral2D. Dalam praktikum kali ini
akan dibuat pemodelannya sekaligus
pembahasannya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari dilakukannya percobaan
ini adalah untuk :
1. Mengerti dan memahami fasa-fasa
gelombang gempa
2. Dapat menggambarkan fasa-fasa
gelombang gempa
3. Mampu mengoperasikan software
Tesseral
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Gelombang Seismik
Gelombang seismik bergerak sangat cepat
ke segala arah dari pusat gempa.

Gelombang paling kuat terjadi pada titik


hiposentrum yang ada di permukaan bumi
yang letaknya tepat di atas pusat gempa
(episentrum). Semakin jauh dari pusat,
gelombang seismik akan semakin lemah.
Jumlah kerusakan yang biasa terjadi akibat
gelombang seismik tergantung pada
banyaknya
jenis
bebatuan
yang
membentuk permukaan bumi.
Batu granit padat dan lapisan tebal batu
pasir akan berguncang lebih pelan
daripada tanah berpasir yang sering kita
temukan di dekat sungai atau pantai.
Kadang-kadang, pecahnya batuan di
sepanjang patahan akan merambatkan
serangkaian gempa kecil yang terjadi
sebelum gempa besar. Gempa kecil itu
disebut gempa awal dan menjadi
peringatan penduduk untuk mencari
tempat yang aman.
Pada dasarnya, ada tiga macam gelombang
gempa,yaitu sebagai berikut:
(1) Gelombang longitudinal,
atau gelombang primer (P), yaitu
gelombang
yang
merambat
dari
hiposentrum ke segala arah dan tercatat
pertama kali oleh seismograf dengan
kecepatan antara 7 14 km per detik dan
periode gelombang 5 7 detik.
(2) Gelombang transversal
atau gelombang
sekunder (S),
yaitu
gelombang
yang
merambat
dari
hiposentrum ke segala arah dan tercatat
sebagai gelombang kedua oleh seismograf
dengan kecepatan antara 4 7 km per
detik dan periode gelombang 11 13
detik.

(3) Gelombang panjang

dimana

atau gelombang
permukaan,
yaitu
gelombang
yang
merambat
dari
episentrum menyebar ke segala arah di
permukaan bumi dengan kecepatan antara
3,5 3,9 km per detik dan periode
gelombang relatif lama.

k adalah modulus inkompresibilitas

2.2.

2.3.

Gelombang Primer

Gelombang-P atau gelombang


primer adalah salah satu dari dua
jenis gelombang seismik, sering juga
disebut gelombang tanah (dinamakan
demikian karena merambat di dalam
tanah),
adalah
gelombang
yang
ditimbulkan oleh gempa bumi dan terekam
oleh seismometer. Nama tersebut terutama
berasal
dari
fakta
bahwa
jenis gelombang ini memiliki kecepatan
paling tinggi dibandingkan gelombanggelombang seismik lainnya dan pertama
kali tiba pada setiap stasion pengukuran
seismik, di mana jenis gelombang
berikutnya
yang
datang
dinamakan gelombang-s atau gelombang
sekunder. Suara,
sebagaimana
suatu gelombang tekanan dan gelombang
longitudinal, adalah juga jenis gelombangP. Hal ini berarti bahwa partikel-partikel
yang berada di dalam tanah (tubuh dari
bumi) memiliki vibrasi-vibrasi sepanjang
atau sejajar dengan arah perambatan energi
dari gelombang yang merambat tersebut.
Kecepatan gelombang-P bergantung pada
medium tempat gelombang menjalar:

adalah modulus geser; dan

adalah kerapatan bahan


dimana
gelombang yang dimaksud merambat
Umumnya, variasi kerapatan tidaklah
terlalu besar, dengan demikian kecepatan
gelombang hampir sepenuhnya bergantung
pada nilai k dan .
Gelombang Sekunder

Gelombang sekunder

(gelombang
transversal) adalah gelombang atau getaran
yang merambat, seperti gelombang primer
dengan
kecepatan
yang
sudah
berkurang,yakni 4-7 km/detik. Gelombang
sekunder tidak dapat merambat melalui
lapisan cair. gelombang shear disebut
gelombang sekunder (S) karena tiba
setelah gelombang P

Gelombang Sekunder (S Wave) ini


menjalar seperti gelombang air yang
mengalun-alun. Menjalar naik-turun. Jadi
gelombang ini melempar-lemparkan keatas
kebawah ketika anda merasakan adanya
gempa. Gelombang Sekunder ini memilki
kecepatan penjalaran sekitar 4 Km/detik,
tentunya akan dirasakan lebih lambat dari
Gelombang Primer. Namun gelombang
sekunder ini memiliki lebar goyangan
(amplitudo) yg besar sehingga gelombang
ini akan memilki kekuatan yg sangat besar
dalam merontokkan bangunan, juga
mengakibatkan longsoran tebing-tebing
yang curam.

Buka Software
Tesseral2D

Klik File->New.

BAB III
METODOLOGI PENGOLAHAN
DATA
Setting Paramteter
pada Framework

Untuk membuat
struktur, klik icon New
Polygon.

Setelah struktur selesai


dibuat, setting source
dan receiver melalui
tab Source,
Observation pada
Framework

Running gelombang
pada Run-> Accoustic
Modelling

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa data


Struktur yang dibuat adalah lipatan dan
patahan, dengan hasil pemodelan sebagai
berikut :

Sedangkan hasil pembacaan dari receiver


dapat dilihat pada gambar berikut :

Source : Surface, garis yang memancarkan


gelombang gempa dari permukaan tanah.
Receiver: Berada di sepanjang permukaan
tanah.
Litologi batuan dari dalam ke luar secara
berurutan adalah sebagai berikut :
Biru-> Aleurolite (Density =2350)

Keterangan :

Ungu-> Sandstone (Density =2000)

Biru = Vp

Kuning-> Limestone (Density =1800)

Merah = Vs

Putih tulang -> Clay (Density = 1200)

4.2 Pembahasan

Dengan perbanding kecepatan Vp untuk


keempat jenis batuan sebagai berikut :

Seperti yang dapat dilihat dari running


penjalaran gelombang, terjadi pembelokan
dan pembiasan ketika muka gelombang
mengenai permukaan medium dengan
densitas yang berbeda.

Sandstone > Aleurolit > Limestone > Clay

Hasil running Accoustic modeling didapat


penjalaran gelombang seperti pada gambar
berikut :

Apabila mengenai medium yang lebih


rapat maka gelombang akan dibiaskan
menjauhi garis normal, begitu pula
sebaliknya apabila gelombang masuk ke
dalam medium yang lebih renggang
gelombang akan menuju garis normal.

Selain itu, dapat dilihat bahwa semakin ke


dalam, amplitude gelombang menjadi
semakin besar dan frekuensinya mengecil.
Sehingga lama kelamaan gelombang akan
memudar dan menghilang. Hal ini
dikarenakan oleh terjadinya peredaman
(atenuasi) gelombang di setiap medium
yang
disertai
dengan
penyerapan
energinya, sehingga semakin dalam atau
semakin jauh gelombang berjalan, maka
akan semakin lemah energinya.
Meninjau dari perbandingan kecepatan
gelombang primer dan sekunder, tampak
bahwa gelombang berwarna biru menjalar
terlebih dahulu diikuti dengan gelombang
sekunder yang berwarna merah, hal ini
sesuai dengan teori bahwa gelombang
primer adalah gelombang yang pertama
kali datang.
Terdapat dua jenis gelombang yang
dihasilkan pada penjalaran gelombang
tersebut, yaitu gelombang seismic refleksi
dan refraksi, perbedaannya dapat dilihat
pada gambar berikut :

Gelombang refleksi adalah gelombang


pantul akibat gelombang seismik yang
dikirimkan kembali oleh permukaan suatu
medium lain di bawah permukaan,
sementara gelombang refraksi mampu
menembus medium tersebut namun
dibelokkan dengan sudut deviasi tertentu.
Sementara untuk pembentukan secara
geologi dari pemodelan dari struktur yang
dibuat adalah, mula-mula terdapat lapisanlapisan sedimentasi yang kemudian
mendapat tenaga endogen sehingga
terbentuk lipatan. Dan kemudian muncul
patahan yang mendeformasi lipatan
tersebut. Dan setelah kurun waktu tertentu,
muncul lapisan baru (Clay) yang menutupi
struktur sebelumnya.
Terakhir, untuk pembacaan pada receiver,
dapat dilihat terdapat struktur perlapisan
dari lipatan dan struktur patahan, lebih
jelasnya dapat dilihat pada ilustrasi berikut
:

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :

Fasa gelombang gempa terdiri dari


gelombang
primer
atau

kompresional dan
gelombang
sekunder atau shear. Gelombang
primer memiliki kecepatan yang
lebih besar dibanding gelombang
sekunder.
Dalam perambatan gelombang
seismic,
terdapat
dua
tipe
perambatan
yaitu
refleksi(pemantulan) dan refraksi
yang mampu menembus medium
yang berbeda.
Tesseral dapat digunakan sebagai
simulasi
dan
pengamatan
perambatan gelombang gempa
terhadap suatu struktur atau
medium.

Daftar Pustaka
Boore, M. David. Some Thoughts on
relating density to velocity

Kozlovkaya,
2004.
Density-Velocity
Relationship in the Upper Lithosphere
Obtained from P- and S-Wave Velocity
Models Along The Eurobridge97 Seismic
Profile And Gravity Data