Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANG

DI PT WILMAR NABATI INDONESIA


Jl. Kapten Darmo Sugondo No.56, Sidorukun,
Kec. Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61124

Diajukan oleh:
Saudi Rahman

201410220311079

Maulida Syafira Sudjono

201410220311126

ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

LEMBAR PERSETUJUAN
PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANG

1.
2.
3.
4.

Judul
Lokasi
Waktu
Peserta

:
: Jl. Kapten Darmo Sugondo No.56 Gresik
: 16 Januari 2017 17 Februari 2017
: 1. Saudi Rahman
(085244509519)
2. Maulida Syafira Sudjono (085607329587)

5. Jurusan

: Ilmu dan Teknologi Pangan

6. Fakultas

: Pertanian dan Peternakan

7. No. Handphone

: 085607329587/

. Email

: 1. saudi.rahman10@gmail.com
2. Maulidasyafira27@gmail.com
DISETUJUI dan DISAHKAN

Untuk diajukan sebagai Proposal Praktek Kerja Lapang pada Jurusan Ilmu dan
Teknologi Pangan

Ketua Jurusan

Dosen Koordinator Mata Kuliah

Moch. Wachid, STP., M.Sc


NIP. 105. 0501. 0408

Sri Winarsih, STP., MP


NIP. 105. 1410. 539

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Minyak goreng adalah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia
yang dipergunakan sebagai medium penghantar panas dan menambah citarasa
dalam masakan atau penggorengan bahan pangan.Minyak goreng lebih umum
digunakan untuk menggoreng bahan makanan.
Minyak goreng yang banyak digunakan adalah minyak goreng yang
bersumber dari bahan nabati seperti minyak kelapa, minyak kedelai, minyak
kacang, minyak kelapa sawit dan lain-lain.Minyak sawit adalah jenis minyak
goreng yang lebih sering digunakan apabila dibandingkan dengan jenis
minyak goreng yang lainnya. Hal ini disebabkan minyak kelapa sawit kasar
yang merupakan bahan baku dalam pengolahan minyak goreng kelapa sawit
mempunyai harga yang relatif lebih murah sehingga produk minyak goreng
yang dihasilkan lebih murah, selain itu produktivitas tanaman kelapa sawit
juga sangat tinggi.
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah tumbuhan industri
penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar
(biodiesel). Komoditas perkebunan kelapa sawit menghasilkankeuntungan
besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi
perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit
terbesar di dunia.
Pengetahuan

dan

pengalaman

mahasiswa

mengenai

kondisi

sesungguhnya dalam suatu perusahaan serta mengetahui permalahan


praktis dan alternatif penyelesaiannya. Memperluas wawasan pengetahuan
dan mengembangkan cara berfikir praktis, logis dan sistematis sehubungan
dengan

permasalahan

perusahaan.Mengetahui,

yang

timbul

mengerti

dan

dalam

proses

memahami

pengolahan
penerapan

di

ilmu

pengetahuan dan teknologi yang didapat selama perkuliahan dalam bentuk


praktek kerja lapang di perusahaan. Memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan pendidikan strata satu pada jurusan Ilmu dan

Teknologi

Pangan

Fakultas

Pertanian-Peternakan

Universitas

Muhammadiyah Malang.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Utama
Tujuan umum dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapang antara lain :
1. Menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa mengenai
kondisi sesungguhnya dalam suatu perusahaan serta mengetahui
permasalahan praktis dan alternatif penyelesaiannya.
2. Memperluas wawasan pengetahuan dan mengembangkan cara
berfikir

praktis,

logis

dan

sistematis

sehubungan

dengan

permasalahan yang timbul dalam proses pengolahan di perusahaan.


3. Mengetahui, mengerti dan memahami penerapan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang didapat selama perkuliahan dalam bentuk
praktek kerja lapang di perusahaan.
4. Memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan
strata satu pada jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas
Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang.
1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari pelaksanaan praktek kerja lapang antara lain :
1. Mengetahui kondisi secara umum PT. Wilmar Nabati Indonesia
2. Mengetahui serta memahami proses pengolahanminyak nabatimulai
dari penyediaan bahan baku, proses pengolahan, pengendalian mutu
sampai dengan produk akhir dan pengendalian limbah serta
penerapan aspek-aspek Ilmu dan Teknologi Pangan di dalamnya.
3. Mengetahui teknik pengolahan yang baik dan benar sesuai dengan
standar yang telah ditentukan.
4. Meningkatkan pengetahuan

sikap

dan

kemampuan

profesi

mahasiswa melalui penerapan ilmu, latihan kerja dan pengamatan


terhadap teknologi yang diterapkan di perusahaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil
minyak

masak,

minyak

industri,

maupun

bahan

bakar

(biodiesel).

Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar, sehingga banyak hutan dan


perkebunan lama di konversi menjadi perkebunan kelapa sawit.Indonesia
adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah malaysia. Di
Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, Pantai Timur Sumatra, Jawa,
sulawesi, dan Kalimantan.
Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya
karena keunggulan sifat yang dimilikinya, yaitu tahan oksidasi dengan tekanan
tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut
lainnya, mempunyai daya lapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi
pada tubuh dalam bidang kosmetik. Bagian yang paling populer untuk diolah
dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak
kelapa sawitmentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan
berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga
yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi.
Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.
2.2 Sejarah Kelapa sawit
Pohon Kelapa Sawit terdiri daripada dua spesies Arecaceae atau
famili palmayang digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran
minyak kelapa sawit. Pohon Kelapa Sawit Afrika, Elaeis guineensis, berasal
dari Afrika barat di antara Angola dan Gambia, manakala Pohon Kelapa Sawit
Amerika, Elaeis oleifera, berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan.
Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter.
Bunga dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil
dan apabila masak, berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat.
Daging dan kulit buahnya mengandungi minyak. Minyaknya itu digunakan

sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Hampasnya dimanfaatkan


untuk makanan ternak, khususnya sebagai salah satu bahan pembuatan
makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
Urutan dari turunan Kelapa Sawit:
Kingdom

: Tumbuhan

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Arecale

Famili

: Arecaceae

Jenis

: Elaeis

Spesies

: E. Guineensis

2.3 Ciri-ciri Fisiologi Kelapa Sawit


2.3.1 Daun
Daunnya merupakan daun majemuk. Daun berwarna hijau tua dan
pelapah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan
tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam.
2.3.2

Batang
Batang tanaman diselimuti bekas pelapah hingga umur 12 tahun.
Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga
menjadi mirip dengan tanaman kelapa.

2.3.3

Akar
Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping.
Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke
samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.

2.3.4

Bunga
Bunga jantan dan betina terpisah dan memiliki waktu pematangan
berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan
memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih
besar dan mekar.

2.3.5

Buah
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga
merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan
yang muncul dari tiap pelapah.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
a) Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin
b) Mesoskarp, serabut buah
c) Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit merupakan endosperm dan embrio dengan kandungan
minyak inti berkualitas tinggi.

2.4 Standar Mutu Minyak Kelapa sawit


Mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua arti, pertama,
benarbenar murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu
minyak kelapa sawit tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifatsifat
fisiknya, yaitu dengan mengukur titik lebur angka penyabunan dan bilangan
yodium. Kedua, pengertian mutu sawit berdasarkan ukuran. Dalam hal ini
syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar mutu internasional yang
meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan
ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang digunakan
sebagai bahan baku industri pangan dan non pangan masingmasing berbeda.
Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya
harus lebih Diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangat
ditentukan oleh banyak faktor. Faktorfaktor tersebut dapat langsung dari sifat
induk pohonnya, penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan
dan pengangkutan.
Beberapa faktor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit
tersebut, didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :
a) Crude Palm Oil
b) Crude Palm Stearin
c) RBD Palm Oil
d) RBD Olein

e) RBD Stearin
f) Palm Kernel Oil
g) Palm Kernel Fatty Acid
h) Palm Kernel
i) Palm Kernel Expeller (PKE)
j) Palm Cooking Oil
k) Refined Palm Oil (RPO)
l) Refined Bleached Deodorised Olein (ROL)
m) Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS)
n) Palm Kernel Pellet
o) Palm Kernel Shell Charcoal
Syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:
a) Kadar minyak minimum (%): 48; cara pengujian SPSMP131975
b) Kadar air maksimum (%):8,5 ; cara pengujian SPSMP71975
c) Kontaminasi maksimum (%):4,0; cara pengujian SPSMP3119975
d) Kadar inti pecah maksimum (%):15; cara pengujian SPSMP311975
2.5 Komposisi Minyak Kelapa Sawit
Minyak kelapa sawit dan inti minyak kelapa sawit merupakan susunan
dari fatty acids, esterified, serta glycerol yang masih banyak lemaknya.
Didalam keduanya tinggi serta penuh akan fatty acids, antara 50% dan 80%
dari masingmasingnya. Minyak kelapa sawit mempunyai 16 nama carbon
yang penuh asam lemak palmitic acid berdasarkan dalam minyak kelapa
minyak kelapa sawit sebagian besar berisikan lauric acid. Minyak kelapa sawit
sebagian besarnya tumbuh berasal alamiah untuk tocotrienol, bagian dari
vitamin E. Minyak kelapa sawit didalamnya banyak mengandung vitamin K
dan magnesium. Napalm namanya berasal dari naphthenic acid, palmitic acid
dan pyrotechnics atau hanya dari cara pemakaian nafta dan minyak kelapa
sawit. Ukuran dari asam lemak (Fas) dalam minyak kelapa sawit sebagai
acuan:

2.6 Pasca Panen Dan Proses Pengolahan Kelapa Sawit


2.6.1 Pasca Panen
Pengolahan buah Kelapa Sawit di awali dengan proses pemanenan
Buah Kelapa Sawit. Untuk memperoleh Hasil produksi dengan kualitas yang
baik serta dengan Rendemen minyak yang tinggi, Pemanenan dilakukan
berdasarkan Kriteria Panen (tandan matang panen ) yaitu dapat dilihat dari
jumlah berondolan yang telah jatuh ditanah sedikitnya ada 5 -10 buah yang
lepas/jatuh dari tandan.
Cara Pemanenan Kelapa Sawit harus dilakukan dengan baik sesuai
dengan standar yang telah ditentukan, hal ini bertujuan agar pohon yang
telah dipanen tidak terganggu produktifitasnya atau bahkan lebih meningkat
dibandingkan sebelumnya. Proses pemanenan diawali dengan pemotongan
pelepah daun yang menyangga buah, hal ini bertujuan agar memudahkan
dalam proses penurunan buah. Selanjutnya pelepah tersebut disusun rapi
ditengah gawangan dan dipotong menjadi dua bagian, Perlakuan ini dapat
meningkatkan unsur hara yang dibutuhkan Tanaman sehingga diharapkan
dapat meningkatkan produksi buah. Buah yang telah dipanen dilakukan
pemotongan tandan buah dekat pangkal, hal ini dilakukan untuk mengurangi
beban timbangan Kelapa Sawit. Berondolan yang jatuh dikumpulkan dalam
karung dan tandan buah segaar (TBS) selanjutnya di angkut menuju tempat
pengumpulan hasil (TPH) untuk selanjutnya ditimbang dan diangkut menuju
pabrik pengolahan Kelapa Sawit.
Tabel 1 Fase kematangan Buah Kelapa Sawit
No

Fase buah

Fraksi
buah

Jumlah berondolan yang jatuh

Tingkat
kematangan

00
1

Tdk ada tandan buah yg berwarna Sangat

hijau atau hitam


mentah
1 %-12,5 % buah luar atau 0-1
Mentah
berondolan/kg tandan membrondol
12,5-25% buah luar atau 2

berondolan/kg tandan 25 % dari Kurang

2
3

buah luar membrondol


25-50 % buah luar membrondol
50-75 % buah luar membrondol
75-100% buah luar membrondol

Mentah

Matang

4
3

matang
Matang
Matang
Lewat
matang

(ranum)
100 % buah luar membrondol dan Lewat

Lewat
5

sebagian berbau busuk

matang
(busuk)

Sumber: Pengamatan Para Pakar


Pengangkutan Tandan

Buah

Segar

(TBS)

menuju

pabrik

pengolahan kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan alat transportasi


berupa Truk atau Traktor. Sebelum masuk kedalam Loading Ramp, TBS
ditimbang terlebih dahulu. Penimbangan bertujuan untuk mengetahui berat
muatan (TBS) yang diangkut sehingga memudahkan dalam perhitungan
atau pembayaran hasil panen serta memudahkan untuk proses pengolahan
selanjutnya. TBS yang telah ditimbang kemudian di periksa atau disortir
terlebih dahulu tingkat kematangan buah menurut fraksi fraksinya. Fraksi
dengan kualitas yang diinginkan adalah fraksi 2 dan 3 karena pada fraksi
tersebut tingkat rendemen minyak yang dihasilkan maksimum sedangkan
kandungan Asam Lemak Bebas (free fatty acid) minimum.
2.6.2

Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi CPO


Untuk mencapai keberhasilan pengolahan di pabrik, prioritas
utama adalah meningkatkan efisiensi ketel uap (boiler). Sebab jika volume
dan tekanan uap yang berada di bawah normal akan mengakibatkan
kerugian-kerugian, antaralain :

1. Proses

pengolahan

tidak

sempurna

sehingga

mengakibatkan

pengutipan minyak dan inti rendah. Dengan katalain rendemen


menurun.
2. Tenaga listrik yang di hasilkan tidak dapat memenuhi kebutuhan
pabrik sehingga disubtitusi dengan pengoperasian genset dan biaya
olah menjadi lebih tinggi, sebab :
a. Ketel uap merupakan alat untuk memproduksi uap dari bahan baku
dengan menggunakan bahan bakar fibre dan cangkang.
b. Energy yang terkandung dalam uap (energi kinetis) di ubah
c.

menjadi tenaga mekanik yang menghasilkan tenaga listrik.


Listrik dan uap bekas dari turbin uap di pergunakan pabrik sebagai

d.

sumber tenaga penggerak dan pemanasan.


Keberhasilan kedua fungsi tersebut tergatung pada uap yang
diproduksi oleh ketel uap.
Berdasarkan pengamatan secara umum bahwa semakin tinggi

kapasitas

akan

semakin

tinggi

pula

tingkat

kesulitan

dalam

pengoperasiannya. Terutama pada malam hari stabilitas kerja untuk


memperoleh kapasitas dan tekanan uap yang stabil menjadi agak kendor.
Hasil pembakaran bahan bakar yang sempurna dan terpenting adalah
pemakaian bahan bakar dengan debit dan komposisi serabut (fiber) dan
cangkang yang tepat. Kadar ketepatan tersebut di tentukan oleh operator
dan operalatannya.
Untuk mengatasi stabilitas ketekunan operator pada malam hari di
anjurkan pemakaian peralatan tamabahan.
1. Dalam hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran
cangkang yang dihancurkan dengan menggunakan alat penghancur
2.

cangkang.
Tepung cangkang dimasukan ke silo dengan menggunakan alat
pemindah pneumatik atau mekanik. Fibre yang keluar dari fiber

cyclone di masukan ke dalam fibre silo.


3. Untuk memperoleh komposisi yang akurat pengeluaran fibre dan abu
cangkang dari silo dapat di atur dengan menggunakan alat pengatur
mekanis.

4. Dengan demikian komposisi fibre dan tepung cangkang dapat di atur


lebih mudah dan akurat. Dengan cara demikian kapasitas dan tekanan
uap dapat lebih stabil.
Proses pengolahan menjadi minyak dapat dilakukan dengan cara
yang sederhana dan dapat pula dengan teknologi tinggi yang sudah biasa
digunakan oleh perkebunan-perkebunan besar yang menghasilkan minyak
sawit mentah (crude palm oil) dengan kualitas ekspor.
Menurut Hatley (1976) sebuah pabrik pengolahan kelapa sawit
harus mempunyai bagian-bagian sebagai berikut: 1. Sterilisasi tandan
sawit, 2. Pemberondolan (stripping) tandan, 3. Pengadukan dan peremasan
buah sawit (digesting and pressing), 4. Ekstraksi, 5. Penjernihan minyak
(clariffing the oil), 6. Pemisahan serabut dari biji sawit, 7. Pengeringan
biji, 8. Grading biji sawit dan pemecahan biji sawit, 9. Pemisahan inti
sawit dari tempurungnya, 10. Pengeringan inti sawit dn tahap
pengarungannya (bagging).
Menurut Iyung Pahan(1993), tahapan pengolahan buah kelapa
sawit adalah sebagai berikut:
1. Penimbangan
Tandan Buah Segar (TBS) dari lapangan di angkut kepabrik
dengan truk langsung di timbang di pabrik, kemudian buah
dipindahkan ke loading ramp.
2. Pembongkaran buah (loading Ramp)
Setelah truk buah ditimbang, kemudian dibongkar di loading ramp.
Pada kesmpatan ini 5% dari jumlah truk buah di sortir untuk
penilaian mutu. Selanjutnya buah dipindahkan ke keranjang lori
rebusan yang berkapasitas 2,5 ton.
3. Perebusan ( Steriliser)
Lori-lori yang telah berisi TBS di masukan ke ketel rebusan
dengan bantuan seperti loko, kapstander dan lier. TBS di panaskan
dengan uap api yang bertekanan 2,8- 3 kg/cm.
Setiap ton TBS yang di olah memerlukan 0,5 ton uap air yang
dihasilkan oleh ketel uap. Tekanan uap harus berada antara 2,8- 3

kg/cmdan lama perebusan sekitar 90 menit. Selanjutnya gunakan


system perebusan triple pick ( tiga puncak).
Pengawasan disini harus ketat karena jika tekanan uap tidak cukup
maka presentase buah yang tidak lepas dari tandan akan tinggi. Isi satu
ketel rebusan bermacam-macam ada yang 4 untuk pabrik kecil dan ada
yang 10 untuk pabrik yang besar.
4. Penebahan (stripping, threshing)
Setelah perebusan, lori rebusan di tarik keluar, kemudian
diangkut keatas dengan hoisting crane. Dengan alat pengangkut ini lori
yang berisi buah rebusan ini dibalik di atas mesin penebah (stripping)
yang berfungsi melepaskan buah dari tandan. Buah yang lepas
(brondolan) jatuh kebawah dan melalui conveyor serta Elevator di
bawa menuju ketel adukan (digester).
5. Pengadukan (Digestion)
Disini buah diaduk hingga daging buah terlepas dari biji.
6. Pengempaan (Pressing)
Proses pengempaan ini bertujuan untuk mengeluarkan minyak
dan cairan. Minyak yang keluar ditampung dengan talang dann
dialirkan ke dalam Crude Oil Tank (tangki minyak kasar) melalui
saringan getar.
7. Pemurnian (Clarification)
Melalui stasiun terkahir ini minyak dimurnikan secara bertahap
menghasilkan minyak mentah (CPO). Proses pemisahan minyak
dengan air dan kotoran ini di lakukan dengan system pengendapan,
sentrifugal dan penguapan, selanjutnya CPO disimpan dalam tangki
timbun (CPO Storage).

2
3

BAB III

METODOLOGI PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat


4 Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) dilaksanakan di PT Wilmar
Nabati Indonesia Jl. Kapten Darmo Sugondo No.56, Sidorukun, Kec. Gresik,
Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61124 Jalan pada tanggal

16 Januari- 16

Februari 2017.
3.2 Metode Pelaksanaan kegiatan PKL
5

Sesuai tujuan utama PKL ini, maka metode pelaksanaannya di

lapang adalah
1. Mengikuti penempatan atau job-discription sesuai dengan yang ditetapkan
oleh pembimbing lapang.
2. Mahasiswa PKL wajib mengisi jurnal kegiatan harian dan di sahkan oleh
pembimbing lapang.
3. Mahasiswa PKL mencatat/mendokumentasikan atau

membuat jurnal

uraian kegiatan dan hasil pengamatan/pekerjaannya setiap tahapan


kegiatan dan sesuai dengan bidang ilmu peserta PKL.
4. Mahasiswa PKL menganalisis hasil pengamatan dan praktek lapang
berdasarkan bidang kerja dan kegiatan, sebagai bahan untuk menyusun
pelaporan.
5. Mahasiswa PKL menyusun karya ilmiah berupa Laporan Kegiatan PKL
sesuai dengan fokus pekerjaan, kegiatan dan bidang ilmunya.
3.3 Metode Pengumpulan Informasi Pelengkap
6

Informasi yang dikumpulkan dan dibutuhkan selama pelaksanaan

PKL ini adalah sebagai pelengkap dalam menyusun gambaran umum kegiatan
operasional perusahaan. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan
informasi pelengkap pada kegiatan PKL ini adalah dengan melakukan:
1. Studi Kepustakaan (dokumentasi melalui pencatatan)
7 Mempelajari buku-buku dalam usaha mengumpulkan informasi
kondisi di lapang serta pendukung data yang diperlukan sebagai bahan
pembanding.
2. Wawancara

Metode ini bertujuan untuk memperoleh keterangan-keterangan

dari semua pihak yang terkait dengan permasalahan yang ada beserta
solusinya. Untuk wawancara fokus utama diarahkan pada pembimbing lapang
pada waktu PKL berlangsung.
3. Observasi dan dokumentasi (visual/ audio visual)
9

Metode ini bertujuan untuk mengetahui situasi dan kondisi serta

mengidentifikasi masalah yang ada secara langsung.


4. Terlibat Langsung (Participatory)
10 Dengan mengetahui dan melakukan / terlibat langsung dalam
semua proses teknis sehingga didapatkan informasi dan pengalaman untuk
menambah kemampuan mahasiswa serta menunjang capaian target kegiatan
PKL.
3.4 Penyusunan Laporan kegiatan PKL
11 Informasi/data yang diperoleh, digunakan untuk dasar menyusun
Laporan Kegiatan PKL, dengan menggunakan metode analisis deskriptif,
yaitu mengidentifikasi kegiatan, masalah dan solusinya berdasarkan informasi,
pengalaman, pengamatan, dokumentasi (pencatatan, audio, audio visual)
dianalisis, dibahas dengan menghubungkan atau membandingkan dengan teori
kemudian ditarik kesimpulan. Selain itu, apabila data berupa data kuantitatif
maka dianalisis atau dikaji secara deskriptif menggunakan tabel silang,
frekuensi, prosentase, grafik dan lainnya yang sesuai.
3.5 Jadwal Kegiatan
12 Rancangan Kegiatan PKL di di PT Wilmar Nabati Indonesia Jl.
Kapten Darmo Sugondo No.56, Sidorukun, Kec. Gresik, Kabupaten
Gresik, Jawa Timur 61124
14 Bulan
Januari
13 Kegiatan

Minggu
17 3

22 Mengetahui tata letak dan fasilitas

15 Bulan Februari

23
perusahaan
28 Mengetahui sejarah berdiri dan 29

Ke18 4

Minggu Ke19 1

20 2

24

25

26

30

31

32

21 3
27
33

struktur organisasi di PT Wilmar


Nabati

Indonesia

Darmo
Sidorukun,

Jl.

Kapten

Sugondo

No.56,

Kec.

Gresik,

Kabupaten Gresik, Jawa Timur


61124
34 Mengetahui mesin dan peralatan
yang digunakan dalam proses
pengolahan maupun manajemen
sanitasi perusahaan
40 Mengetahui
ketenagakerjaan
dalam perusahaan
46 Mengetahui proses

pengolahan

minyak goreng
52 Mengetahui proses pengendalian
mutu produk
58 Mengetahui manajemen sanitasi
pengolahan minyak goreng
64
65
66
67
68

39
35

36

37

38

41

42

43

44

47

48

49

50

53

54

55

56

59

60

61

62

45
51
57
63

69 DAFTAR PUSTAKA