Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH HEMODIALISA

BAB I
PENDAHULUAN
Penderita yang menjalani dialisa memerlukan makanan dan obat khusus. Nafsu makan
penderita menurun dan terjadi kehilangan protein selama dialisa peritoneal, karena itu penderita
biasanya memerlukan diet tinggi protein (secara kasar sebanyak 1 gram/kg BB). Asupan natrium
dan kalium harus dibatasi sampai 2 gram/hari. Asupan makanan kaya fosfat juga harus dibatasi.
Asupan cairan pada penderita yang memiliki kadar natrium rendah harus dibatasi. Sangat penting
untuk melakukan penimbangan berat badan setiap hari. Penambahan berat badan yang berlebihan
menunjukkan terlalu banyaknya asupan cairan.
Multivitamin dan tambahan zat besi perlu diberikan untuk menggantikan zat gizi yang
hilang pada proses dialisa. Penderita yang menjalani dialisa dan menerima banyak transfuse
darah seringkali mendapatkan terlalu banyak zat besi, karena darah mengandung sejumlah besar
zat besi. Untuk merangsang pembentukan sel darah merah bisa diberikan hormone (testosterone
atau eritropoietin). Pengikat fosfat (misalnya kalsium karbonat atauu kalsium asetat) diberikan
untuk membuang kelebihan fosfat. Kadar kalsium darah yang rendah atau penyakit tulang
hiperparatiroid yang berat diobati dengan kalsitriol (salah satu bentuk vitamin D) dan tambahan
kalsium.
Pada penderita gagal ginjal sering dijumpai tekanan darah tinggi. Pada 50% penderita, hal
ini bisa diatasi secara sederhana dengan membuang sejumlah cairan selama dialisa. Sedangkan
pada penderita lainnya perlu diberikan obat obatan untuk menurunkan tekanan darah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Hemodialisa beasal dari kata hemo berarti darah dan dialisa berarti pemisahan atau
filtrasi. Pada prinsipnya, hemodialisa menempatkan darah berdampingan dengan cairan
dialisat atau pencuci yang dipisahkan oleh suatu membrane atau selaput semi permeable.
Membrane ini dapat dilalui oleh air dan zat tertentu atau zat sampah. Proses ini disebut
dialysis yaitu proses berpindahnya air atau zat, bahan melalui membrane semi permeable
(Pardede, 1996).
Terapi hemodialisa adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti untuk
mengeluarkan sisa sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia,
seperti air, natrium, kalium, hydrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat zat lain melalui
membrane semi permeable sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan
dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultra filtrasi (Setyawan, 2001).
Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah buangan.
Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien berpenyakit
akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat. (DR. Nursalam M. Nurs. 2006).
Haemodialysis adalah pengeluaran zat sisa metabolism seperti ureum dan zat beracun
lainnya dengan mengalirkan darah lewat alat dialyzer yang berisi membrane yang selektif
permeable dimana melalui membrane tersebut fusi zat zat yang tidak dikehendaki terjadi.
Haemodialysa dilakukan pada keadaan gagal ginjal dan beberapa bentuk keracunan (Christin
Brooker, 2001).
Metode pencucian darah dengan menggunakan peritoneum (selaput yang melapisi
perut dan pembungkus organ perut). Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya
akan pembuluh darah. Zat zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum
ke dalam rongga perut. Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus
dinding perut ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga
limbah metabolic dan aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut, kemudian
cairan dikeluarkan, dibungan, dan diganti dengan cairan yang baru. Pada hemodialisa, darah
penderita mengalir melalui suatu selang yang dihubungkan ke fistula arteriovenosa dan
dipompa ke dalam dialyzer. Untuk mencegah pembekuan darah selamaberada dalam dialyzer,
maka diberikan heparin.

Di dalam dialyzer, suatu selaput buatan yang memiliki pori pori memisahkan darah
dari suatu cairan (dialisat) yang memiliki komposisi kimia yang menyerupai cairan tubuh
normal. Tekanan didalam ruang dialisat lebih rendah dibandingkan dengan tekanan didalam
darah, sehingga cairan limbah metabolic dan zat zat racun didalam darah disaring melalui
selaput dan masuk kedalam dialisat. Tetapi, sel darah dan protein yang besar tidak dapat
menembus pori pori selaput buatanini. Darah yang telah dicuci lali dikembalikan ke dalam
tubuh penderita.
Dialyzer memiliki ukuran dan tingkat efisiensi yang berbeda beda. Mesin yang
lebih baru sangat efisien. Darah mengalir lebih cepat dan masa dialisa lebih pendek (2 3
jam), sedangkan mesin yang lama memerlukan waktu 3 5 jam. Sebagian besar penderita
gagal ginjal kronis perlu menjalani dialisa sebanya 3 kali/minggu.
B. Tujuan Hemodialisa
Sebagai terapi pengganti, kegiatan hemodialisa mempunyai tujuan :
1. Membuang produk metabolisme protein seperti urea, kreatinin dan asam urat
2. Membuang kelebihan air.
3. Mempertahankan atau mengembalikan system buffer tubuh.
4. Mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh.
5. Memperbaiki status kesehatan penderita.
Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain :
1. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa
metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang lain.
2. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya
dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
3. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
4. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.

C. Indikasi
Price dan Wilson (1995) menerangkan bahwa tidak ada petunjuk yang jelas
berdasarkan kadar kreatinin darah untuk menentukan kapan pengobatan harus dimulai.
Kebanyakan ahli ginjal mengambil keputusan berdasarkan kesehatan penderita yang terus
diikuti dengan cermat sebagai penderita rawat jalan. Pengobatan biasanya dimulai apabila
penderita sudah tidak sanggup lagi bekerja purna waktu, menderita neuropati perifer atau
memperlihatkan gejala klinis lainnya. Pengobatan biasanya juga dapat dimulai jika kadar
kreatinin serum diatas 6 mg/100 ml pada pria , 4 mg/100 ml pada wanita dan glomeluro
filtration rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit. Penderita tidak boleh dibiarkan terus menerus
berbaring ditempat tidur atau sakit berat sampai kegiatan sehari-hari tidak dilakukan lagi.
Menurut konsensus Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2003) secara
ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG kurang
dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari 5 mL/menit
walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Selain indikasi tersebut juga disebutkan
adanya indikasi khusus yaitu apabila terdapat komplikasi akut seperti oedem paru,
hiperkalemia, asidosis metabolik berulang, dan nefropatik diabetik.
Kemudian Thiser dan Wilcox (1997) menyebutkan bahwa hemodialisa biasanya
dimulai ketika bersihan kreatinin menurun dibawah 10 mL/menit, ini sebanding dengan
kadar kreatinin serum 810 mg/dL. Pasien yang terdapat gejala-gejala uremia dan secara
mental dapat membahayakan dirinya juga dianjurkan dilakukan hemodialisa. Selanjutnya
Thiser dan Wilcox (1997) juga menyebutkan bahwa indikasi relatif dari hemodialisa adalah
azotemia simtomatis berupa ensefalopati, dan toksin yang dapat didialisis. Sedangkan
indikasi khusus adalah perikarditis uremia, hiperkalemia, kelebihan cairan yang tidak
responsif dengan diuretik (oedem pulmonum), dan asidosis yang tidak dapat diatasi.

D. Kontra Indikasi
Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari hemodialisa adalah hipotensi
yang tidak responsif terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan sindrom otak organik.
Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari hemodialisa adalah tidak
mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa, akses vaskuler sulit, instabilitas
hemodinamik dan koagulasi. Kontra indikasi hemodialisa yang lain diantaranya adalah
penyakit alzheimer, demensia multi infark, sindrom hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan
ensefalopati dan keganasan lanjut (PERNEFRI, 2003).
E. Proses Hemodialisa
Dalam kegiatan hemodialisa terjadi 3 proses utama seperti berikut :
a) Proses Difusi yaitu berpindahnya bahan terlarut karena perbedaan kadar di dalam
darah dan di dalam dialisat. Semakian tinggi perbedaan kadar dalam darah maka
semakin banyak bahan yang dipindahkan ke dalam dialisat.
b) Proses Ultrafiltrasi yaitu proses berpindahnya air dan bahan terlarut karena perbedaan
tekanan hidrostatis dalam darah dan dialisat.
c) Proses Osmosis yaitu proses berpindahnya air karena tenaga kimia, yaitu perbedaan
osmolaritas darah dan dialisat ( Lumenta, 1996 ).

F. Alasan Dilakukan Hemodialisa


Hemodialisa dilakukan jika gagal ginjal menyebabkan :
a. Kelainan fungsi otak (ensefalopati uremik).
b. Perkarditis (peradangan kantong jantung).
c. Asidosis (peningkatan keasaman darah) yang tidak memberikan respon terhadap
pengobatan lainnya.
d. Gagal jantung.
e. Hiperkalemia (kadar kalium yang sangat tinggi dalam darah).

G. Frekuensi Hemodialisa
Frekuensi, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, tetapi sebagian besar
penderita menjalani dialisa sebanyak 3 kali/minggu. Program dialisa dikatakan berhasil jika :
a. Penderita kembali menjalani hidup normal.
b. Penderita kembali menjalani diet yang normal.
c. Jumlah sel darah merah dapat ditoleransi.
d. Tekanan darah normal.
e. Tidak terdapat kerusakan saraf yang progresif (Medicastore.com, 2006).
Dialisa bisa digunakan sebagai pengobatan jangka oanjang untuk gagal ginjal
kronis atau sebagai pengobatan sementara sebelum penderita menjalani pencangkokan
ginjal. Pada gagal ginjal akut dialisa dilakukan hanya selama beberapa hari atau beberapa
minggu, sampai fungsi ginjal kembali normal.

H. Komplikasi Hemodialisa
Komplikasi dalam pelaksanaan hemodialisa yang sering terjadi pada saat dilakukan terapi
adalah :
Komplikasi
Demam.

Penyebab
-

Bakteri atau zat penyebab demam (pirogen)


di dalam darah.

Dialisat terlalu panas.

Reaksi anafilaksis yang berakibat fatal (anafilaksis).

Alergi terhadap zat di dalam mesin.


Tekanan darah rendah.

Tekanan darah rendah.

Terlalu banyak cairan yg dibuang.

Gangguan irama jantung.

Kadar kalium & zat lainnya yg abnormal


dalam darah.

Emboli udara.

Udara memasuki darah di dalam mesin.

Perdarahan usus, otak, mata atau perut.

Penggunaan heparin di dalam mesin untuk


mencegah pembekuan.

Menurut Tisher dan Wilcox (1997) serta Havens dan Terra (2005) selama tindakan
hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi, antara lain :
1. Kram otot

: pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya hemodialisa

sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot seringkali terjadi pada
ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan volume yang tinggi.
2. Hipotens

: terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat,

rendahnya dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati otonomik, dan


kelebihan tambahan berat cairan.
3. Aritmia

: hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa,

penurunan kalsium, magnesium, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh
terhadap aritmia pada pasien hemodialisa.
4. Sindrom ketidakseimbangan dialisa

:Sindrom

ketidakseimbangan

dialisa

dipercaya secara primer dapat diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan
urea yang kurang cepat dibandingkan dari darah, yang mengakibatkan suatu gradien
osmotik diantara kompartemen-kompartemen ini. Gradien osmotik ini menyebabkan
perpindahan air ke dalam otak yang menyebabkan oedem serebri. Sindrom ini tidak lazim
dan biasanya terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan azotemia
berat.
5. Hipoksemia

: hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu

dimonitor pada pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.


6. Perdarahan

: uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat

dinilai dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama hemodialisa


juga merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan.
7. Ganguan pencernaan : gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah
yang disebabkan karena hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai dengan sakit
kepala. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.
8. Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak
adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Suatu mesin hemodialisa yang digunakan untuk tindakan hemodialisa berfungsi
mempersiapkan cairan dialisa (dialisat), mengalirkan dialisat dan aliran darah melewati suatu
membran semipermeabel, dan memantau fungsinya termasuk dialisat dan sirkuit darah
korporeal. Pemberian heparin melengkapi antikoagulasi sistemik. Darah dan dialisat
dialirkan pada sisi yang berlawanan untuk memperoleh efisiensi maksimal dari pemindahan
larutan. Komposisi dialisat, karakteristik dan ukuran membran dalam alat dialisa, dan
kecepatan aliran darah dan larutan mempengaruhi pemindahan larutan (Tisher & Wilcox,
1997).
Dalam proses hemodialisa diperlukan suatu mesin hemodialisa dan suatu saringan
sebagai ginjal tiruan yang disebut dializer, yang digunakan untuk menyaring dan
membersihkan darah dari ureum, kreatinin dan zat-zat sisa metabolisme yang tidak
diperlukan oleh tubuh. Untuk melaksanakan hemodialisa diperlukan akses vaskuler sebagai
tempat suplai dari darah yang akan masuk ke dalam mesin hemodialisa (NKF, 2006).
B. Saran
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari sempurna maka dari itu penulis minta kritik dan saran yang membangun untuk
kelancaran pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
penulis khususnya dan untuk pembaca umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.suryahusadha.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=71&Itemid=104
http://annurhospital.com/web/index.php?option=com_content&view=article&id=55&Itemid=84
http://b11nk.wordpress.com/hemodialisa/