Anda di halaman 1dari 13

EVALUASI RASIO PANJANG USUS DENGAN PANJANG

TUBUH IKAN

Oleh :
Nama
: Wiwin Hadianti
NIM
: B1J014029
Rombongan : IV
Kelompok: 1
Asisten : Sutri Handayani

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI NUTRISI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO

2016

I.

PENDAHULUAN

I.1Latar Belakang
Sistem pencernaan (digestive system) adalah sistem
yang terdiri dari pencernaan saluran dan organ-organ lain
yang membantu tubuh memecah dan menyerap makanan.
Organ-organ

dalam

sistem

pencernaan

di

luar

saluran

pencernaan (disebut organ pencernaan aksesori) adalah


lidah, kelenjar ludah, hati, pankreas dan kandung empedu.
Bagian dari sistem saraf (yang disebut sistem saraf eneterik)
dan perdaran darah juga berperan penting dalam sistem
pencernaan. Sistem atau alat pencernaan pada ikan terdiri
dari

dua

bagian,

yaitu

saluran

pencernaan

(Tractus

digestivus) dan kelenjar pencernaan (Glandula digestoria).


Saluran pencernaan terdiri dari mulut, rongga mulut, farings,
esofagus,

lambung,

pilorus,

usus,

rektum

dan

anus,

sedangkan kelenjar pencernaan terdiri dari hati dan pankreas


yang berguna untuk menghasilkan enzim pencernaan yang
nantinya akan bertugas membantu proses penghancuran
makanan (Yuwono, 2001 ). Organ pencernaan pada ikan bervariasi dari
pendek dan sederhana ke kompleks, keragaman usus ikan pada vertebrata
sering diamati melalui sejarah evolusi dari panjang ikan dan ekologi ikan
tersebut (Rosa et al., 2015).
Makanan diperlukan untuk menghasilkan energi sebagai bahan
pembentuk tubuh, metabolisme dasar, pergerakan, produksi organ seksual,
perawatan bagian-bagian tubuh, penambah cairan tubuh, mengganti sel-sel
tubuh yang rusak dan membantu proses faal lain yang berlangsung di dalam
tubuh, dari sejumlah makanan yang dimakan oleh ikan, hanya 10 % saja
yang digunakan untuk tumbuh atau menambah berat, sedangkan selebihnya
digunakan untuk tenaga atau memang tidak dapat dicerna. Jumlah berat
makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan atau menambah berta badan itu
disebut nilai ubah atau konversi (Schmitdt & Nielsen , 1990). Pakan yang
dikonsumsi oleh ikan ke dalam tubuh, juga diperlukan dalam proses digesti,

dan fungsi laju digesti pada ikan yaitu untuk membantu laju metabolisme
ikan agar dalam prosesnya makanan yang masuk kedalam tubuh ikan akan
seimbang dan supaya dapat digunakan oleh tubuh dalam pertumbuhan
(Yuwono, 2001 ).
Jumlah populasi ikan dalam suatu perairan biasanya
ditentukan oleh pakan yang ada. Beberapa faktor yang
berhubungan dengan populasi tersebut, yaitu jumlah dan
kualitas pakan yang tersedia dan mudah didapatnya pakan
tersebut

(Effendi,

1997).

Jenis-jenis

pakan

alami

yang

dimakan ikan sangat bermacam-macam, bergantung pada


jenis ikan dan tingkat umurnya. Benih ikan yang baru mencari
makan,

pakan

utamanya

adalah

plankton

nabati

(fitoplankton) namun sejalan dengan bertambah besarnya


ikan berubah pula makanannya (Mudjiman, 1993).
I.2Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengevaluasi rasio
panjang usus dengan panjang tubuh untuk dapat memprediksi kategori makan
ikan.

II. MATERI DAN CARA KERJA


II.1 Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
beberapa jenis ikan seperti ikan lele (Clarias batrathus), ikan
belut (Monopterus albus), ikan nilem (Osteochilus vittatus),
ikan

tawes

(Barbonymus

gonionotus),

dan

ikan

mujair

(Oreochromis mossambicus).
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah bak
preparat, millimeter block, kertas tissue, alat bedah, pinset,
kain, dan alat tulis.
II.2 Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan seperti ikan, bak preparat,
millimeter block, alat bedah, pinset, kertas tissue dan kain.
2. Ukur panjang total ikan dengan millimeter block.
3. Lakukan pembedahan pada ikan menggunakan gunting bedah yang telah
disediakan. Pembedahan dimulai dari bagian ventral

depan, lakukan

pembedahan dengan hati-hati agar tidak sampai merusak saluran


pencernaan.
4. Keluarkan sistem pencernaan ikan, dan dengan hati-hati saluran
pencernaan diurai.
5. Ukur panjang usus dengan millimeter block, dimulai dari pangkal depan
lambung hingga ujung anus.
6. Hitung rasio panjang usus dengan panjang total tubuh. Lakukan hal yang
sama pada ikan dengan jumlah 3 ekor untuk dua jenis ikan yang berbeda.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Tabel 3.1.1 Rasio Panjang Usus Dengan Panjang Tubuh Ikan Nilem
N
o.

Panjang
Tubuh
Total (cm)

Panjang
Lambung
(cm)

Panjang
Usus
(cm)

1
2
3

14
13.5
14.5

4
3
3

97.5
103
129

Rasio
P anjang usus
panjang tubuh total Kategori
(cm)
7.25
herbivora
7.85
herbivora
9.1
herbivora

Jumlah
Rerata
Tabel 3.1.2 Rasio Panjang Usus Dengan Panjang Tubuh Ikan Lele
No
.

Panjang
Tubuh
Total (cm)

Panjang
Lambung
(cm)

Panjang
Usus
(cm)

1
2
3

20
18.5
19.5

1
1
2

25
23.5
25

Rasio
P anjang usus
panjang tubuh total Kategori
(cm)
1.3
herbivora
1.324
herbivora
1.324
herbivora

Jumlah
Rerata

Gambar 3.1.1 Panjang Usus


dengan Panjang Tubuh Ikan
Nilem Ke-1

Gambar 3.1.2 Panjang Usus


dengan Panjang Tubuh Ikan
Nilem Ke-2

Gambar 3.1.3 Panjang Usus


dengan Panjang Tubuh Ikan
Nilem Ke-3

Gambar 3.1.4 Panjang Usus


dengan Panjang Tubuh Ikan
Lele Ke-1

Gambar 3.1.5 Panjang Usus


dengan Panjang Tubuh Ikan
Lele Ke-2

Gambar 3.1.6 Panjang Usus


dengan Panjang Tubuh Ikan
Lele Ke-3

3.2

Pembahasan
Berdasarkan percobaan evaluasi rasio panjang usus dengan panjang
tubuh ikan kelompok 1 rombongan IV pada ikan lele (Clarias batracus) dan
ikan nilem (Osteochilus vittatus) menunjukkan pada ikan lele tergolong ke

dalam omnivora, sedangkan pada ikan nilem menunjukkan bahwa ikan nilem
termasuk ke golongan herbivora. Hal ini sesuai dengan penyataan
Taofiqurohman et al. (2007) bahwa ikan herbivora panjang total ususnya
melebihi panjang total badannya. Panjangnya dapat mencapai lima kali
panjang total badannya, sedangkan panjang usus ikan karnivora lebih pendek
dari panjang total badannya dan panjang total ikan omnivora hanya sedikit
lebih panjang dari total badannya.
Digesti adalah perombakan makanan dari molekul yang kompleks
yang dirombak menjadi molekul yang sederhana dalam bentuk-bentuk seperti
glukosa, asam lemak, dan gliserol serta nutrisi-nutrisi lain yang ada dan
bermanfaat bagi tubuh ikan. Kecepatan pemecahan makanan dari tubuh ikan
dari molekul besar ke molekul yang kecil yang akan diabsorpsi oleh tubuh
ikan prosesnya disebut laju digesti. Sedangkan zatzat yang dibutuhkan dan
yang akan diabsorpsi ikan melaui darah juga akan diedarkan ke seluruh tubuh
untuk keperluan metabolisme (Puspowardoyo, 2003). Laju digesti dapat
terjadi jika pencernaan pada usus berjalan dan pakan yang diserap dan dicerna
oleh usus melalui suatu gerakan yang disebut dengan gerakan peristaltik pada
usus ikan. Gerakan tersebut merupakan gerakan yang dari sifat otot polos dan
perangsangan pada sembarang tempat menyebabkan cincin pada usus
berkontraksi (Puspowardoyo, 2003). Pencernaan makanan pada ikan adalah
suatu proses tentang pakan yang dicerna kemudian dihaluskan menjadi
molekul-molekul atau butiran-butiran mikro (lemak) yang sesuai untuk
diabsorpsi melalui dinding gastrointestinal ke dalam aliran darah. Sistem
pencernaan pada ikan menyangkut saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan (Zonneveld, 1991).
Menurut Affandi et al. (2004), pada ikan herbivora tidak
dimiliki lambung yang sesungguhnya sehingga fungsinya
untuk menampung makanan digantikan oleh usus bagian
depan. Usus bagian depan ini termodifikasi menjadi kantung
yang membesar (menggelembung) dan selanjutnya disebut
lambung palsu. Ikan mas meupakan contoh yang memiliki
lambung palsu. Berdasarkan morfologi alat pencernaannya,
ikan dapat digolongkan atas ikan herbivora, karnivora dan

omnivora. Perbedaan struktur anatomis saluran pencernaan


pada ikan-ikan herbivora, karnivora, dan omnivora menurut
Huet (1971):
Organ

Kategori Ikan
Herbivora
Karnivora
Omnivora
tapis Banyak, panjang, Sedikit, pendek, Tidak
terlalu

Tulang
insang

dan rapat.

dan kaku.

banyak,
terlalu

tidak
panjang,

dan tidak terlalu


Rongga mulut

Lambung

Usus

Sering

rapat.
Bergigi kecil.

tidak Umumnya

bergigi

bergigi kuat dan

Tidak

tajam
Berlambung

berlambung/

dengan

Berlambung

bentuk dengan

bentuk

berlambung palsu yang bervariasi


kantung
Ukurannya sangat Pendek, kadang Sedang, 2-3 kali
panjang, beberapa lebih pendek dari dari

panjang

kali dari panjang panjang tubuhnya tubuhnya


tubuhnya
Ikan omnivora memanfaatkan karbohidrat makanan lebih baik
daripada karnivora karena berbeda morfologi dan fisiologisnya di dalam
saluran pencernaannya. Morfologi dan fisiologi saluran pencernaan juga
bervariasi di antara ikan omnivora, hal tersebut menyebabkan pemanfaatan
makanan yang berbeda dari sumber tanaman yang diperoleh. Ikan omnivora
dan herbivora memanfaatkan diet karbohidrat lebih baik daripada ikan
karnivora. Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan omnivora yang
khas dengan Ph lambung yang rendah, panjang usus dengan koefisien usus
rata-rata 6,14 dan distribusi enzimnya luas. Ikan nila memiliki kemampuan
yang berbeda untuk mencerna bahan pakan yang kaya akan pati. Pemanfaatan
pati olehikan tergantung pada beberapa factor seperti kebiasaan makan,
tingkat inklusi makanan, dan asupan pakan serta sumber dan jenis dari pati
(Rosa et al., 2015).

Komunitas ikan dapat dikelompokkan menjadi kelompok ikan


herbivora atau detritivora, karnivora dan omnivora berdasarkan bahan
makanan yang dimakannya. Kelompok ikan herbivora atau detritivora
memakan detritus dan plankton sebagai makanan utamanya. Kelompok ikan
omnivora memakan pakan alami berupa serangga air, udang, anak ikan dan
tumbuhan air. Sedangkan ikan karnivora makanan utamanya ialah udang dan
anak ikan (Purnomo, 1992). Menurut Mudjiman (1993), jenis ikan dapat
digolongkan menjadi tujuh kelompok menurut jenis makanannya, walaupun
harus juga diingat bahwa beberapa jenis pola makannya berubah sesuai
dengan perubahan umur, musim dan ketersediaan makanan. Perbedaan
golongan ikan menurut jenis makanannya ini berkaitan antara satu golongan
dengan golongan lain. Penggolongan berdasarkan jenis makanannya yaitu :
a. Herbivora

Ikan golongan ini makanan utamanya berasal dari bahan-bahan nabati


misalnya ikan tawes (Puntius javanucus), ikan nila (Osteochilus hasseli), ikan
bandeng (Chanos chanos).
b. Karnivora

Ikan golongan ini sumber makanan utamanya berasal dari bahan-bahan


hewani, misalnya ikan belut (Monopterus albus), ikan lele (Clarias
batrachus), ikan kakap (Lates calcarifer).
c. Omnivora

Ikan golongan ini sumber makanannya berasal dari bahan-bahan nabati dan
hewani, namun lebih menyesuaikan diri dengan jenis makanan yang tersedia
misalnya ikan mujair (Tilapia mossambica), ikan mas (Ciprinus carpio), ikan
gurami (Ospronemus goramy) dan ikan nila (Oreochromis niloticus).
d. Pemakan plankton

Ikan golongan ini sepanjang hidupnya selalu memakan plankton, baik


fitoplankton atau zooplankton misalnya ikan terbang (Exocoetus volitans),
ikan cucut (Rhinodon typicus).
e. Pemakan detritus

Ikan golongan ini sumber makanannya berasal dari sisa-sisa hancuran bahan
organik yang telah membusuk dalam air, baik yang berasal dari tumbuhan
maupun hewan misalnya ikan belanak (Mugil sp.).

Sistem

pencernaan

makanan

dalam

tubuh

dibagi

menjadi 3 bagian, yaitu proses penghancuran makanan yang


terjadi dalam mulut hingga lambung. Selanjutnya adalah
proses penyerapan sari-sari makanan yang terjadi di dalam
usus,

kemudian

proses

pengeluaran

sisa-sisa

makanan

melalui anus. Panjang usus ikan yang berbeda berhubungan


erat dengan jenis makanan. Usus yang sangat panjang pada
ikan herbivora merupakan kompensasi terhadap kondisi
makanan yang kadar seratnya tinggi dan keadaan villinya
yarig relatif rendah. Makanan ikan herbivora mangandung
banyak serat sehingga rnemerlukan pencernaan yang lebih
lama.

Pencernaan

yang

lama

membutuhkan

tempat

pencernaan (saluran pencernaan) yang panjang. Sementara


ikan karnivora memiliki usus yang pendek, dengan demikian
panjang usus merupakan suatu bukti bahwa dalam usus
terjadi proses pencernaan makanan, jika tidak terjadi proses
pencernaan makanan maka panjang usus ikan herbivora
maupun karnivora seharusnya sama. Saluran pencernaan
ikan karnivora lebih pendek dari saluran ikan herbivora
karena daging yang dimakan memiliki dinding sel tipis berupa
selaput sehingga lebih mudah dicerna. Saluran pencernaan
pada ikan karnivora hanya sepanjang tubuh saja sedangkan
pada ikan herbivora dapat mencapai tiga kali panjang
tubuhnya. Lambung ikan karnivora membesar dan berdinding
tebal yang kuat mirip dengan ampel pada ayam (Puspa,
2011).
Jarmanto et al. (2014), menyatakan bahwa keadaan usus yang panjang
pada ikan berfungsi sebagai penahan pakan dalam jumlah yang besar dalam
waktu yang lama. Panjang usus sebagai gambaran dari spesialisasi
penyesuaian di dalam ekologi kebiasaan makanan. Perbedaan perbandingan
panjang usus dengan panjang total tubuh pada ikan (herbivora, omnivora, dan

karnivora)

mencerminkan

penyesuaian

dari

usus

terhadap

tingkat

kompleksitas pakan yang dimakan.


IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan


bahwa:
1. Ikan lele, ikan nilem dan ikan tawes termasuk kedalam ikan herbivora
karena rasio panjang usus lebih panjang dari pada panjang tubuhnya. Ikan
belut merupakan ikan karnivora karena memiliki usus kurang dari 100%
panjang tubuhnya, sedangkan ikan mujair tergolong ke dalam ikan
omnivore karena rasio panjang ususnya intermediet dengan panjang
tubuhnya.

DAFTAR REFERENSI
Affandi, Eddy & Evi, L. 2004. Pakan Ikan. Yogyakarta: Kanisius.
Effendi, I.M. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.
Huet, M. 1971. Text-book of Fish Culture. England: Breeding and
Cultivation of Fish Fishing New Book ltd.
Jarmanto., Yusfiati., & Roza E. 2014. Morfometrik Saluran
Pencernaan Ikan Parang-Parang (Chirocentrus dorab
Forsskal 1775) dari Perairan Laut Bengkalis Provinsi Riau.
JOM FMIPA, 1(2), pp.464-471.
Mudjiman, A. 1993. Makanan Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Purnomo A. 1992. Hewan Akuatik. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Puspa, M.J. 2011. Identifikasi dan Studi Kebiasaan Makanan Ikan. Jakarta:
penerbit universitas Indonesia, pp.696-8,809-12.
Puspowardoyo, H. dan Djarijah, A. 2003. Pembenihan dan
Pembesaran Lele Dumbo Hemat Air. Yogyakarta: Kanisius.
Rosa M.C.G., Ana P.O.R., Bruna M., Alicia F., Gilberto M., & Debora M.F. 2015.
Comparison between the omnivorous jundia catfish (Rhamdia quelen)
and Nile tilapia (Oreochromis niloticus) on the utilization of dietary
starch sources: Digestibility, enzyme activity and starch microstructure.
Journal of Aquaculture Elsevier, 435, pp.92-99.
Schmitdt K., & Nielsen. 1990. Animal Phisiology 5th edition. Australia: Cambrige
University Press.
Taofiqurohman, A., Isni, N., & Zahidah H. 2007. Studi Kebiasaan Makanan Ikan
(Food Habit) Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) Di Tarogong Kabupaten
Garut. LITMUD, 267, pp,1-29.
Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Purwokerto: Fakultas Biologi
Unsoed.
Zonneveld, N. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.