Anda di halaman 1dari 6

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Percobaan untuk Sampel Glukosa (C6H12O6) dengan Pelarut Aquadest
(H2O)
Berikut adalah hasil percobaan untuk sampel Glukosa (C6H12O6) dengan berat
zat terlarut sebesar 0,8 g, 1,0 g, dan 1,2 g menggunakan pelarut aquadest.
Tabel Data Percobaan Glukosa (C6H12O6) dengan Pelarut Aquadest (H2O)

Sampel

Run

Berat
Zat
terlar
ut (gr)

Glukosa(C6H1
2O6)

0,8

II

III

1,2

Temperatur(oC)
Glukosa 0,8 gram

Temperatur
Jerni Keru
h
h
(C)
(C)
77
36

Volum
e
pelaru
t (ml)
4

76

34

13,793

6
4

74
79

32
38

11,765
20,000

76

35

16,667

6
4

74
80

34
37

14,287
23,077

76

36

19,355

73

34

16,667

Glukosa 1,2 gram

Volume Larutan (ml)


4.1

16,667

Glukosa 1 gram

%
BeratZatTerlar
ut

Hubungan Volume Larutan dengan Temperatur

Gambar 4.1 Hubungan Volume Larutan dengan Temperatur


Grafik diatas menunjukkan hubungan temperatur terhadap volume
larutan yang diperoleh dari hasil percobaan. Pada percobaan ini digunakan
pelarut aquadest

dimana pada saat pencampuran Glukosa (C6H12O6) dan

aquadest, yang terjadi adalah keduanya saling melarut meskipun tanpa


pemanasan. Hal ini dikarenakan, kedua senyawa tersebut bersifat polar
sehingga lebih mudah untuk melarut.
Menurut teori, jika suhu dinaikkan maka volume akan berkurang karena
kemungkinan terjadi penguapan. Jika suhu diturunkan maka volume akan
bertambah karena kemungkinan terjadi pembekuan (Sinaga, 2015).
Untuk Glukosa (C6H12O6) pada run I, II dan III dengan massa 0,8 gram,
1 gram, dan 1,2 gram. Grafik mengalami penurunan pada setiap penambahan
volume pelarut berikutnya. Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak volume
pelarut yang ditambahkan pada sampel, maka temperatur akan menurun.
Berdasarkan hasil percobaan yang diperoleh, didapatkan hasil yang
sesuai dengan teori dimana semakin besar volume pelarut, maka semakin kecil
temperatur jernihnya.

4.2

82
80
78
76
Temperatur(C) 74
Glukosa 0,8 gram
72
70
68
10

Glukosa 1 gram

15

Glukosa 1,2 gram

20

25

Massa Sampel (%)


Hubungan Persen Massa Sampel dengan Temperatur

Gambar 4.2 Hubungan Persen Massa Sampel dengan Temperatur


Melalui gambar diatas dituunjukkan hubungan temperatur terhadap berat
sampel (%), yang diperoleh dari hasil percobaan. Pada percobaan ini digunakan
pelarut aquadest dimana pada saat pencampuran Glukosa dan aquadest, yang
terjadi adalah keduanya saling melarut meskipun tanpa pemanasan.
Hal ini dikarenakan, kedua senyawa tersebut bersifat polar sehingga lebih
mudah untuk melarut.

Menurut teori, semakin tinggi temperatur semakin besar % berat sampel,


dan sebaliknya semakin rendah temperatur semakin kecil % berat sampel. Dan
dari hubungan tersebut dapat disimpulkan bahwa naiknya temperatur
berbanding lurus dengan % berat sampel, karena naiknya temperatur
berbanding lurus dengan kelarutan (Marwati, 2011).
Dari hubungan tersebut dapat disimpulkan bahwa naiknya temperatur
sebanding dengan jumlah massa zat, karena naiknya temperature berbanding
lurus dengan kelarutan. Maka didapatkan hasil percobaan sesuai dengan teori
dimana semakin besar berat sampelnya (%), semakin besar pula temperaturnya.
4.3

Hubungan Kelarutan dengan Temperatur


82
80
78
76

Temperatur ( oC) 74
Glukosa 0,8 gram
72

Glukosa 1 gram

Glukosa 1,2 gram

70
68
0.5

0.75

1.25

1.5

Kelarutan (M)
Gambar 4.3 Hubungan Kelarutan dengan Temperatur
Grafik diatas menunjukkan hubungan temperatur terhadap kelarutan,
yang diperoleh dari hasil percobaan. Gambar 4.3 memperlihatkan bahwa grafik
mengalami peningkatan pada semua sampel.
Pada percobaan ini digunakan pelarut aquadest

dimana pada saat

pencampuran Glukosa dan aquadest, yang terjadi adalah keduanya saling


melarut meskipun tanpa pemanasan. Hal ini dikarenakan, kedua senyawa
tersebut bersifat polar sehingga lebih mudah untuk melarut.
Menurut teori, Pengaruh temperatur tergantung dari panas pelarutan.
Bila panas pelarutan (H) negatif, maka daya larut turun dengan turunnya
temperatur. Bila panas pelarutan (H) positif, maka daya larut naik dengan
naiknya temperatur. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya

dinaikkan, zat padat tersebut dikatakan bersifat endoterm, karena pada proses
kelarutannya membutuhkan panas (Kusuma, dkk., 2013).
Berdasarkan hasil percobaan yang diperoleh, didapatkan hasil yang
sesuai dengan teori di mana terjadi kenaikan kelarutan ketika temperatur
semakin besar.

4.4

Hubungan Ksp dengan Temperatur


100
90
Ksp Praktek Glukosa 0,8 gram

Ksp Praktek Glukosa 1 gram

80

Temperatur (oC)

70
Ksp Praktek Glukosa 1,2 gram

Ksp Teori Glukosa 0,8 gram

60
50
Ksp Teori Glukosa
1 gram
0.500

1.000

Ksp Teori1.500
Glukosa 1,2 gram2.000

Kelarutan (mol/L)
Gambar 4.4 Hubungan Ksp dengan Temperatur
Gambar 4.4 menunjukkan hubungan temperatur terhadap ksp yang
diperoleh dari hasil percobaan maupun teori. Pada percobaan ini digunakan
pelarut aquadest dimana pada saat pencampuran Glukosa dan aquadest, yang
terjadi adalah keduanya saling melarut meskipun tanpa pemanasan.
Hal ini dikarenakan, kedua senyawa tersebut bersifat polar sehingga lebih
mudah untuk melarut.
Dari gambar 4.4 dapat dilihat untuk Glukosa (C6H12O6) run I, run II, dan
run III mengalami peningkatan. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa
semakin besar suhu suatu zat, maka hasil kali kelarutan cenderung naik.
Pengaruh suhu terhadap kelarutan dapat dilihat pada peristiwa
sederhana yang terjadi pada kehidupan sehari-hari yaitu kelarutan gula dalam
air. Gula yang dilarutkan ke dalam air panas, dan satu lagi ke dalam air dingin,
maka gula akan lebih cepat larut pada air panas karena semakin besar suhu
semakin besar pula kelarutannya (Anggraeni, 2011).

Berdasarkan hasil percobaan yang diperoleh, didapatkan hasil yang


sesuai dengan teori di mana terjadi kenaikan hasil kali kelarutan ketika
temperature semakin besar.