Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN KLIMAKTERIUM

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Keperawatan Maternitas pada Program Profesi
Ners

Disusun Oleh:
FISKA OKTORI
220112160097

PROGRAM PROFESI NERS XXXII


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN REPRODUKSI


(GINEKOLOGI)
MIOMA UTERI
A. Definisi
Mioma uteri merupakan tumor jinak otot polos uterus yang terdiri dari sel-sel
jaringan otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Dalam kepustakaan ginekologi
mioma uteri terkenal dengan istilah-istilah fibrimioma uteri, leiomyoma uteri atau uterine
fibroid (Prawirohardjo,1996:281). Mioma ini berbentuk padat karena jaringan ikat dan otot
rahimnya dominan. Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang paling umum dan sering
dialami oleh wanita. Neoplasma ini memperlihatkan gejala klinis berdasarkan besar dan
letak mioma (Manuaba, 2004).
B. Klasifikasi
Terdapat 3 jenis mioma uteri, diantaranya :
1. Mioma Uteri Subserosum
Lokasi tumor di sub serosa korpus uteri. Dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula
sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan
kearah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum, dan disebut sebagai mioma
intraligamen. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneum sebagai suatu
massa. Perlekatan dengan ementum di sekitarnya menyebabkan sisten peredaran darah
diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai semakin mengecil dan
terputus, sehingga mioma terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam
rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai mioma jenis parasitik.
2. Mioma Uteri Intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitalial, biasanya multiple. Apabila masih kecil, tidak
merubah bentuk uterus, tapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus
bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering tidak memberikan gejala klinis
yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah
bawah.
3. Mioma Uteri Submukosum
Mioma yang berada di bawah lapisan mukosa uterus/endometrium dan tumbuh kearah
kavun uteri. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan bentuk dan besar kavum uteri.
Bila tumor ini tumbuh dan bertangkai, maka tumor dapat keluar dan masuk ke dalam
vagina yang disebut mioma geburt. Mioma submukosum walaupun hanya kecil selalu
memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit dihentikan, sehingga
sebagai terapinya dilakukan histerektomi.

C. Faktor yang Mempengaruhi Mioma Uteri

Penyebab mioma uteri belum diketahui pasti dan diduga merupakan penyakit
multifaktorial. Mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi
somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Tumbuh mulai dari benih multiple yang sangat
kecil dan tersebar pada miometrium sangat lambat tetapi progresif. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan mioma uteri (Manuaba, 2004):
a. Estrogen
Mioma uteri kaya akan reseptor estrogen. Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell nest
atau teori genitoblast, teori ini menyatakan bahwa untuk terjadinya mioma uteri harus
terdapat dua komponen penting yaitu: sel nest ( sel muda yang terangsang) dan estrogen
(perangsang sel nest secara terus menerus). Percobaan Lipschutz yang memberikan
estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada
permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Hormon estrogen dapat diperoleh
melalui penggunaan alat kontrasepsi yang bersifat hormonal (Pil KB, Suntikan KB, dan
Susuk KB). Peranan estrogen didukung dengan adanya kecenderungan dari tumor ini
menjadi stabil dan menyusut setelah menopause dan lebih sering terjadi pada pasien yang
nullipara.
b. Progesteron
Reseptor progesteron terdapat di miometrium dan mioma sepanjang siklus menstruasi
dan kehamilan. Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron
menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17 - Beta
hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
D. Tanda dan Gejala
a. Gejala Subjektif
Pada umumnya kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Timbulnya gejala subjektif dipengaruhi
oleh: letak mioma uteri, besar mioma uteri, perubahan dan komplikasi yang terjadi.
Gejala subjektif pada mioma uteri yaitu:
1) Perdarahan abnormal, merupakan gejala yang paling umum dijumpai. Gangguan
perdarahan yang terjadi umumnya adalah: menoragia, dan metrorargia. Beberapa
faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini antara lain adalah: pengaruh ovarium
sehingga terjadilah hiperplasia endometrium, permukaan endometrium yang lebih
luas dari pada biasa, atrofi endometrium, dan gangguan kontraksi otot rahim karena
adanya sarang mioma di antara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit
pembuluh darah yang melaluinya dengan baik. Akibat perdarahan penderita dapat
mengeluh anemis karena kekurangan darah, pusing, cepat lelah, dan mudah terjadi
infeksi.
2) Rasa nyeri, gejala klinik ini bukan merupakan gejala yang khas tetapi gejala ini dapat
timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis
setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan
dilahirkan dan pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat
menyebabkan juga dismenore.

3) Tanda penekanan, Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri.
Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuria, pada uretra dapat
menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan
hidronefrosis, pada rektum dapat menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada
pembuluh darah dan pembuluh limfe di panggul dapat menyebabkan edema tungkai
dan nyeri panggul.
b. Gejala Objektif
Gejala Objektif merupakan gejala yang ditegakkan melalui diagnosa ahli medis.
Gejala objektif mioma uteri ditegakkan melalui:
1) Pemeriksaan Fisik.
Pemeriksaan fisik dapat berupa pemeriksaan Abdomen dan pemeriksaan pelvik.
Pada pemeriksaan abdomen, uterus yang besar dapat dipalpasi pada abdomen.
Tumor teraba sebagai nodul ireguler dan tetap, area perlunakan memberi kesan
adanya perubahan degeneratif. Pada pemeriksaan Pelvis, serviks biasanya normal,
namun pada keadaan tertentu mioma submukosa yang bertangkai dapat
mengakibatkan dilatasi serviks dan terlihat pada ostium servikalis. Uterus
cenderung membesar tidak beraturan dan noduler. Perlunakan tergantung pada
derajat degenerasi dan kerusakan vaskular. Uterus sering dapat digerakkan, kecuali
apabila terdapat keadaan patologik pada adneksa.
2) Pemeriksaan Penunjang; Apabila keberadaan masa pelvis meragukan maka
pemeriksaan dengan ultrasonografi akan dapat membantu. Selain itu pemeriksaan
dengan laporoskopi juga dapat dilakukan untuk mengetahui ukuran dan lokasi
tumor dan biopsi untuk mengetahui adanya keganasan.
E. Pencegahan
1. Pencegahan Primordial
Pencegahan ini dilakukan pada perempuan yang belum menarche atau sebelum terdapat
resiko mioma uteri. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mengkonsumsi makanan
yang tinggi serat seperti sayuran dan buah.
2. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan awal pencegahan sebelum seseorang menderita mioma.
Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan penyuluhan mengenai faktor-faktor resiko
mioma terutama pada kelompok yang beresiko yaitu wanita pada masa reproduktif.
Selain itu tindakan pengawasan pemberian hormon estrogen dan progesteron dengan
memilih pil KB kombinasi (mengandung estrogen dan progesteron), pil kombinasi
mengandung estrogen lebih rendah dibanding pil sekuensil, oleh karena pertumbuhan
mioma uteri berhubungan dengan kadar estrogen.
3. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan untuk orang yang telah terkena mioma uteri, tindakan ini
bertujuan untuk menghindari terjadinya komplikasi. Pencegahan yang dilakukan adalah
dengan melakukan diagnosa dini dan pengobatan yang tepat.
4. Pencegahan Tersier

Umumnya pada tahap pencegahan ini adalah berupa rehabilitasi untuk meningkatkan
kualitas hidup dan mencegah timbulnya komplikasi. Pada dasarnya hingga saat ini belum
diketahui penyebab tunggal yang menyebabkan mioma uteri, namun merupakan
gabungan beberapa faktor atau multifaktor. Tindakan yang dilakukan adalah dengan
meningkatkan kualitas hidup dan mempertahankannya. Penderita pasca operasi harus
mendapat asupan gizi yang cukup dalam masa pemulihannya.
F. Komplikasi
1. Degenerasi Ganas
Mioma uteri yang menjadi Leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32 0,6 % dari seluruh
mioma, serta merupakan 50 75 % dari seluruh sarkoma uterus. Keganasan umumnya
baru ditemukan pada pemeriksaan histology uterus yang telah diangkat. Kecurigaan akan
keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran
sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (Putaran Tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah syndrome abdomen akut. Jika
torsi terjadi perlahan-lahan gangguan akut tidak terjadi. Hal ini hendaknya dibedakan
dengan suatu keadaan dimana terdapat banyak sarang mioma dalam rongga peritoneum
3. Nekrosis dan Infeksi
Pada mioma submukosum, yang menjadi polip, ujung tumor kadang-kadang dapat
melalui kanalis servikalis dan dilahirkan di vagina. Dalam hal ini ada ada kemungkinan
gangguan sirkulasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.
G. Penatalaksanaan
Terdapat beberapa penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada mioma uteri, diantaranya:
3) Pada mioma kecil dan tidak menimbulkan keluhan, tidak diberikan terapi hanya
diobservasi tiap 3 6 bulan untuk menilai pembesarannya. Mioma akan lisut setelah
menopause
4) Radioterapi
5) Pemberian GnRH agonis selama 6 minggu
6) Miomektomi dengan atau tanpa histerektomi bila uterus melebihi seperti kehamilan 12
14 minggu
7) Estrogen untuk pasien setelah menopause dan observasi setiap 6 minggu.

H. Patofisilogi
Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil di dalam miometrium dan lambat laun
membesar karena pertumbuhan itu miometrium terdesak menyusun semacam pseudekapsula
atau simpai semu yang mengelilingi tumor di dalam uterus mungkin terdapat satu mioma,
akan tetapi mioma biasanya banyak. Jika ada satu mioma yang tumbuh intramural dalam
korpus uteri maka korpus ini tampak bundar dan konstipasi padat. Bila terletak pada dinding
depan uterus, uterus mioma dapat menonjol ke depan sehingga menekan dan mendorong
kandung kencing ke atas sehingga sering menimbulkan keluhan miksi
Masalah akan timbul jika terjadi berkurangnya pemberian darah pada mioma uteri yang
menyebabkan tumor membesar, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan mual. Selain itu
masalah dapat timbul lagi jika terjadi perdarahan abnormal pada uterus yang berlebihan
sehingga terjadi anemia. Anemia ini bisa mengakibatkan kelemahan fisik, kondisi tubuh
lemah, sehingga kebutuhan perawatan diri tidak dapat terpenuhi. Selain itu dengan
perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan seseorang mengalami kekurangan volume
cairan. (Sastrawinata S: 151)
I. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan efek sekunder dari mioma uteri
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam, perdarahan
uterus yang berlebihan atau abnormal
3. Gangguan eliminasi : BAK berhubungan dengan adanya penekanan pada mioma uteri
terhadap kandung kemih
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik, keterbatasan pergerakan.
J. Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan efek sekunder dari mioma uteri,
proses penyakit.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri hilang dan berkurang.
Kriteria hasil : pasien mengungkapkan nyeri yang dirasakan dapat berkurang, ekspresi
wajah rileks dan tenang
Intervensi :
a. Kaji tingkat dan kerakteristik nyeri, termasuk kualitas, frekuensi, durasi, lokasi dan
intensitasnya
b. Ajarkan pasien latihan teknik relaksasi nafas dalam
c. Berikan pasien posisi yang nyaman
d. Kontrol tanda-tanda vital pasien
e. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam, perdarahan
uterus yang berlebihan / abnormal
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan volume cairan dalam kondisi
seimbang

Kriteria hasil : tidak terjadi hipovelemi (oliguri, kapilarirefil menurun, turgor jelek),
tanda-tanda vital dalam batas normal (TD 120/80 mmHg, nadi 69 100
x/menit, RR 16 24 x/menit, suhu 37 C)
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda vital
b. Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran cairan
c. Catat perdarahan baru setelah berhentinya perdarahan awal
d. Catat respon fisiologis individual pasien terhadap perdarahan, misal perubahan
mental, kelemahan, gelisah, pucat, berkeringat, peningkatan suhu
e. Berikan cairan baik roral maupun parenteral sesuai program
f. Monitor jumlah tetesan infus
3. Gangguan eliminasi : BAK berhubungan dengan adanya penekanan pada mioma uteri
terhadap kandung kemih
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan eliminasi BAK
lancar.
Kriteria hasil : urine dapat keluar lancar, klien tidak mengeluh sakit, klien merasa
nyaman
Intervensi :
a. Kaji pola BAK pasien
b. Awasi pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urine
c. Anjurkan pasien untuk minum banyak
d. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik, keterbatasan pergerakan.
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan perawatan diri terpenuhi
Kriteria hasil : klien merasa nyaman dan kebutuhan perawatan diri terpenuhi
Intervensi :
a. Kaji kondisi klien
b. Motivasi klien untuk melakukan perawatan diri
c. Bantu klien untuk kebutuhan personal hygiene
d. Libatkan keluarga dalam pemehunan perawatan diri
e. Ajarkan pada klien cara untuk perawatan diri

DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, I. B. (2004). Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekolog. Jakarta: EGC.
Ompusunggu,
M.
L.
(2011).
Mioma
Uteri.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25190/4/Chapter%20II.pdf.

USU: