Anda di halaman 1dari 45

MINI PROJECT

UPAYA PENINGKATAN CDR(CASE DETECTION RATE)


PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU
DI PUSKESMAS ARUT SELATAN
KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT, KAL-TENG
Disusun oleh:
dr. Fatimah Irmayanti
Pendamping:
dr. Hj. Asmawati
NIP. 19691112 200904 2 001

Puskesmas Arut Selatan


Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah
Program Dokter Internsip Periode Juni 2014 - Juni 2015

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................................................
DAFTAR ISI.......................................................................................................................
1. PENDAHULUAN........................................................................................................
1.1. Latar Belakang.......................................................................................................
1.2.Pernyataan Masalah................................................................................................
1.3.Tujuan.....................................................................................................................
1.4.Manfaat...................................................................................................................
2. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................
2.1.Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).............................................................
2.2.Penyakit Tuberkulosis Paru..................................................................................
2.3.Penularan Tuberkulosis Paru................................................................................
2.4.Penemuan dan Gejala Klinis Pasien TB Paru.......................................................
2.5.Diagnosis TB Paru................................................................................................
2.6.Pengobatan Tb Paru..............................................................................................
2.7.Pedoman Kerja Puskesmas dalam P2TB Paru......................................................
2.8.Pemantauan dan Evaluasi Program P2TB............................................................
3. METODE....................................................................................................................
3.1.Identifikasi Penyebab Masalah.............................................................................
Analisis Masalah...................................................................................................
4. PEMECAHAN MASALAH......................................................................................
4.1.Intervensi Pemecahan Masalah Berdasarkan Penyebab Masalah........................
4.2.Perincian Intervensi Pemecahan Masalah............................................................
5. HASIL DAN DISKUSI..............................................................................................

6. KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................................


6.1.Kesimpulan...........................................................................................................
Saran.....................................................................................................................
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuberkulosis merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
penting di tingkat global, regional, nasional, maupun lokal. Tuberkulosis
menyebabkan 5000 kematian per hari, atau hampir 2 juta kematian per tahun di
seluruh dunia. TB, HIV/AIDS, dan malaria secara bersama-sama merupakan
penyebab 6 juta kematian setiap tahun. Seperempat juta (25%) kematian karena
TB berhubungan dengan HIV. Insidensi global TB terus meningkat sekitar 1% per
tahun, terutama karena peningkatan pesat insidensi TB di Afrika berkaitan dengan
komorbiditas HIV/AIDS.1,2
Indonesia menduduki peringkat ketiga di antara 22 negara di dunia yang
memiliki beban penyakit TB tertinggi. Menurut Global Tuberculosis Control
Report 2009 WHO, diperkirakan terdapat 528,063 kasus baru TB. Estimasi
insidensi TB 228 kasus baru per 100,000 populasi. Estimasi angka insidensi
hapusan dahak baru yang positif adalah 102 kasus per 100,000 populasi pada
2007. Berdasarkan kalkulasi disability-adjusted life-year (DALY) WHO, TB
menyumbang 6.3 % dari total beban penyakit di Indonesia, dibandingkan dengan
3.2 % di wilayah regional Asia Tenggara.1,2
Pengobatan kasus TB merupakan salah satu strategi utama dalam
pengendalian TB karena dapat memutuskan rantai penularan. Pada 1994 WHO
meluncurkan strategi pengendalian TB untuk diimplementasikan secara
internasional, disebut DOTS (Direct Observed Treatment Short-course). Lima
elemen strategi DOTS sebagai berikut (WHO, 2009b): (1) Komitmen politis yang
berkesinambungan; (2) Akses terhadap pemeriksaan mikroskopis dahak yang
berkualitas; (3) Kemoterapi standar jangka pendek untuk semua kasus TB dengan
manajemen kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan; (4)
Keteraturan penyediaan obat yang dijamin kualitasnya; (5) Sistem pencatatan dan

pelaporan yang memungkinkan penilaian hasil pada semua pasien dan penilaian
kinerja keseluruhan program.3
Strategi DOTS telah berhasil membantu tercapainya dua sasaran yang
dideklarasikan World Health Assembly (WHA) pada tahun 1991, yaitu deteksi
kasus baru BTA positif sebesar 70%, dan penyembuhan sebesar 85% dari kasus
pada tahun 2000. Meskipun demikian kecepatan kemajuan saat ini diperkirakan
tidak cukup untuk mencapai target penurunan prevalensi dan mortalitas TB dari
Millenium Development Goals (MDG) menjadi separoh pada tahun 2015. Karena
itu diperlukan kontinuitas implementasi strategi DOTS agar program itu dapat
mencapai target dan bahkan meningkatkan target indikator-indikator keberhasilan
program hingga tahun 2015.3
Pada 2006 WHO menetapkan strategi baru untuk menghentikan TB.
Strategi itu bertujuan untuk mengintensifkan penanggulangan TB, menjangkau
semua pasien, dan memastikan tercapainya target Millennium Development Goal
(MDG) pada tahun 2015. Strategi baru WHO ditetapkan berdasarkan pencapaian
DOTS, serta menjawab tantangan baru bagi keberhasilan penanggulangan TB.
Enam elemen strategi WHO untuk menghentikan TB untuk 2006-2015 (WHO,
2009c): (1) Perluasan dan peningkatan DOTS berkualitas tinggi; (2) Mengatasi
TB/HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya; (3) Penguatan sistem kesehatan; (4)
Pelibatan semua pemberi pelayanan kesehatan; (5) Pemberdayaan pasien dan
komunitas; (6) Mendorong dan meningkatkan penelitian.1,3
Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen yang
vital untuk menilai keberhasilan pelaksanan program penanggulangan TB.
Pemantauan yang dilakukan secara berkala dan kontinu berguna untuk mendeteksi
masalah secara dini dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan, agar
dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. Selain itu evaluasi berguna untuk
menilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya telah
tercapai pada akhir suatu periode waktu. Evaluasi dilakukan setelah suatu periode
waktu tertentu, biasanya setiap 6 bulan hingga 1 tahun. Dalam mengukur
keberhasilan tersebut diperlukan indikator dan standar. Hasil evaluasi berguna

untuk kepentingan perencanaan program dan perbaikan kebijakan program


penanggulangan TB.
Berdasarkan data laporan profil kesehatan Puskesmas Arut Selatan bulan
Januari Desember 2014, didapatkan data bahwa cakupan CDR (Case Detection
Rate) belum mencapai target yang ditetapkan (100%) yakni hanya sebesar
(52,17%). 4

1.2 Pernyataan Masalah


Dengan latar belakang tersebut sebuah studi evauasi telah dilakukan untuk
menjawab masalah penelitian sebagai berikut:
a. Sejauh mana tujuan dan target penemuan kasus tuberkulosis (TB)
yang telah ditetapkan, telah tercapai di Puskesmas Arut Selatan
b. Apakah faktor-faktor yang menghambat dan faktor yang mendukung
program penemuan kasus TB di Puskesmas Arut Selatan?
c. Apa saja kegiatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah
rendahnya cakupan CDR (Case Detection Rate) di wilayah
Puskesmas Arut Selatan?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengevaluasi pencapaian tujuan dan target program penemuan kasus TB
di Puskesmas Arut Selatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
a.

Mengidentifikasi faktor yang menghambat dan faktor yang


mendukung program penemuan kasus TB di Puskesmas Arut
Selatan.

b.

Memberikan saran/ rekomendasi untuk perbaikan implementasi


strategi dan penelitian lanjutan.

c.

Mampu menyusun rencana kegiatan/ plan of action pemecahan


suatu masalah.

1.4 Manfaat
1.4.1

Manfaat bagi Penulis


Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis
lebih mendalam tentang program penanganan TB, mampu menganalisis
hambatan-hambatan yang timbul serta alternatif pemecahan masalah pada
pelaksanaan penemuan kasus tuberkulosis di wilayah kerja Puskemas Arut
Selatan.
.

1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas


Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan
pertimbangan bagi perumusan kebijakan program kesehatan di Puskemas
Arut Selatan.
1.4.2

Manfaat bagi Masyarakat


Mensosialisasikan

kepada

masyarakat

tentang

penyakit

tuberkulosis dan pentingnya mendapatkan pengobatan sampai tuntas,


meningkatkan peran serta masyrakat dalam pencapaian masyarakat bebas
tuberkulosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
2.1.1Gambaran Umum Puskesmas
Puskesmas

adalah

unit

pelaksana

teknis

dinas

kesehatan

kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan


kesehatan di suatu wilayah kerja. Pembangunan kesehatan adalah
penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan
derajat

kesehatan

yang

optimal.

Pembangunan

kesehatan

meliputi

pembangunan yang berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan


keluarga serta pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu.2
Wilayah kerja adalah batasan wilayah kerja Puskesmas dalam
melaksanakan tugas dan fungsi pembangunan kesehatan, yang ditetapkan
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berdasarkan keadaan geografis,
demografi, sarana transportasi, masalah kesehatan setempat, keadaan sumber
daya, beban kerja Puskesmas dan lain-lain. Selain itu juga harus
memperhatikan

upaya

untuk

meningkatkan

koordinasi,

memperjelas

tanggung jawab pembangunan dalam wilayah kecamatan, meningkatkan


sinergisme

pembangunan

dalam

wilayah

kecamatan,

meningkatkan

sinergisme kegiatan dan meningkatkan kinerja. Apabila dalam satu wilayah


kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas maka Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dapat menunjuk salah satu Puskesmas sebagai koordinator
pembangunan kesehatan di kecamatan.2
Puskesmas memiliki tanggung jawab dalam hal mempromosikan
kesehatan kepada seluruh masyarakat sebagai upaya untuk memberikan
pengalaman belajar, menyediakan media informasi, dan melakukan edukasi
baik untuk perorangan, kelompok, dan masyarakan guna meningkatkan
pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat. Dengan berjalanannya program

kesehatan yang dijalankan oleh setiap Puskesmas, di harapkan pada akhirnya


akan berpengaruh pada perubahan kepada setiap individu, keluarga dan
masyarakat dalam membina dan memelihara prilaku sehat serta berperan aktif
dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.3

2.1.2Profil Puskesmas Arut Selatan


Kecamatan Arut Selatan beriklim tropis dengan curah hujan ratarata 2.300 mm/thn, dengan suhu udara maksimum berkisar antara 31,9 33
celcius dan suhu minimum berkisar 21,9 Celcius dengan kelembaban udara
sekitar 84,92%.4
Kecamatan Arut Selatan memiliki 6 ( enam) buah puskesmas, yaitu
:4
1. Puskesmas Arut Selatan
2. Puskesmas Mendawai
3. Puskesmas Madurejo
4. Puskesmas Natai palingkau
5. Puskesmas Kumpai Batu Atas
6. Puskesmas Runtu 4

Luas wilayah Kerja Puskesmas Arut Selatan 116,5 Km yang terdiri


dari 2 (dua) Kelurahan terdiri dari Kelurahan Raja dengan luas 1,50 Km dan
Kelurahan Raja Seberang 115 Km.4
Wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan memiliki batas-batas :4
Utara

: Kec. Arut Utara dan Kec. Kotawaringin Lama

Timur

: Wilayah Kerja Puskesmas Natai Palingkau

Barat

: Wilayah Kerja Puskesmas Mendawai

Selatan

: Wilayah Kerja Puskesmas Madurejo

Luas Wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan 116,5 km yang


terdiri dari 25% daratan dan 75% merupakan daratan terjal dan tanah rawarawa.4

Jalur darat berupa aspal dari gedung puskesmas Arut Selatan


sampai menjangkau desa dalam wilayah terjauh 0.5 km. Jalur air dengan
menyelusuri sungai Arut dapat dijangkau 3 desa, jarak terdekat ditempuh
dengan waktu 0.25 jam, sedangkan jarak terjauh dapat ditempuh dengan
waktu 1.5 jam dengan menggunakan spead boot.4
2.1.3 Penyebaran Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Arut Selatan
Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Arut Selatan berjumlah
8.491 jiwa, tersebar dalam 2 (dua) kelurahan. Penduduk terbanyak adalah
Kelurahan Raja berjumlah 6.532 jiwa dan Kelurahan Raja Sebrang 1.959
jiwa.4
Grafik 1. Persentase Jumlah Penduduk Menurut
Desa/Kelurahan Di
Wilayah Puskesmas Arut Selatan Tahun 2013

A. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk Wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan akhir
tahun 2013 per km sekitar 22 jiwa. Kelurahan yang terpadat penduduknya
adalah kelurahan Raja

sebesar 4355

jiwa dan disusul berturut-turut

10

kelurahan Raja Seberang 17 jiwa, kemudian saat itu desa Rangda 15 jiwa,
desa Kenambui 4 jiwa dan desa Sulung 7 jiwa.4
Grafik 2. Kepadatan Penduduk per KM Menurut Desa/Kelurahan Di
Wilayah
Puskesmas Arut Selatan Akhir Tahun 2013

B. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk disebabkan oleh adanya kelahiran,
kematian dan imigrasi. Pada akhir tahun 2012
Puskesmas Arut Selatan 10.885

penduduk di wilayah

jiwa. Adapun rata-rata pertumbuhan

penduduk di Kecamatan Arut Selatan selama 5 (lima) tahun terakhir adalah


sebesar - 3,6 % pertahun.4

C. Penduduk Menurut Golongan Umur4

11

TABEL 1. JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK


UMUR DI WILAYAH PUSKESMAS ARUT SELATAN TAHUN 2013

NO
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

KELOMPOK
UMUR
(TAHUN)
2
<1
14
59
10 14
15 19
20 24
25 29
30 34
35 39
40 44
45 49
50 54
55 59
60 64
65 69
70 74
75+

PUSKESMAS

JUMLAH PENDUDUK

119
371
357
1323
482
454
432
421
411
298
257
249
235
116
111
39
38

105
324
314
1202
436
412
422
381
372
259
232
223
217
106
99
35
33

LAKI-LAKI
+PEREMPUAN
5
224
695
671
2525
918
866
854
802
783
557
489
472
452
222
210
74
71

5713

5172

10885

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

D. Sosial Ekonomi
Mata pencaharian penduduk diperhitungkan dengan prosentase:4
Petani/nelayan

: 50%

Pedagang

: 40%

Pegawai/buruh

: 10%

Grafik 3. Persentase Mata Pencaharian Penduduk Di Wilayah


Puskesmas Arut Selatan Tahun 2013

12

2.1.4 Sarana Umum di Wilayah Kerja Puskesmas Arut Selatan4

Sarana Kesehatan

: 18 buah

Sarana Pendidikan

: 28 buah

Sarana Ibadah

: 23 buah

Perkantoran

: 15 buah

2.1.5 Sarana Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Arut Selatan


Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan dalam
menyerap informasi termasuk informasi kesehatan dan lebih pandai dalam
menyelesaikan masalah. Pendidikan dapat diklasifikasikan bahwa semua
penduduk di wilayah Puskesmas Arut Selatan sudah melek huruf serendahrendahnya pernah mengenyam bangku sekolah.Pada wanita diharapkan angka
melek huruf mempengaruhi dalam alternatif kesehatan sehingga Angka
Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi menurun.4

TK dan PAUD

SD/MI

: 15 buah

SLTP

4 buah

SLTA

2 buah

8 buah

2.1.6 Sarana Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Arut Selatan4

Puskesmas Induk

1 buah

Pustu / Poskesdes / Polindes :

1 buah

Posyandu

10 buah

Pos Yandu Lansia

4 buah

Poliklinik TNI-AD

1 buah

13

Rumah Bersalin/Bidan

1 buah

Dokter Praktek Swasta

1 buah

Dokter Praktek bersama

1 buah

Dokter Gigi Praktek swasta :

1 buah

Apotek

4 buah

Toko Obat

4 buah

Klinik Bedah dan Ibu&Anak :

1 buah

Optikal

2 buah

2.1.7 Fasilitas Penunjang Puskesmas Arut Selatan4

Mobil (Pusling)

1 buah

Sepeda Motor

8 buah

PLN

2400 watt

Telephon

1 buah

PDAM

1 buah

Komputer

5 unit

Laptop

2 unit ( 1 buah rusak berat )

Genset / generator

1 buah

LCD

1 buah (rusak berat)

2.1.8 Pasien Baru Tuberculosis Paru4


TABEL 2. JUMLAH PASIEN BARU TUBERKULOSIS PARU PERIODE JANUARI
2014-DESEMBER 2014 DI PUSKESMAS ARUT SELATAN

No.

Nama

L/

BTA

Umur

Alamat

Bulan

14

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Abd. Gafur
Abd. Syukur
Armanila
Lia Rahayu
Indah Lestari
Destri Aidi
Winda
Gt. Basri
Ade Supianur
Jainuri
Nor Fuad
Suharyono

P
L
L
P
P
P
P
P
L
L
L
L
L

3+
3+
1+
3+
2+
3+
3+
3+
3+
+1
1+
1+

29
38
56
25
15
15
22
52
17
26
25
51

Rt.2 Raja Seberang


Rt.16 Raja
Rt.2 Raja
Rt.11 Sidorejo
Rt.06 Sidorejo
Rt.12 Raja
Rt.22 Sidorejo
Rt. 2 Baru
Rt.5 Raja
Rt.16 Sidorejo
Rt.12 Raja
Rt.10 Baru

Februari
April
Mei
Mei
Juni
Agustus
September
September
Oktober
November
November
November

2.2 Penyakit Tuberkulosis Paru


Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya 2. Patogenesis
tuberkulosis paru ada 2, yaitu tuberkulosis primer dan tuberkulosis post
primer. Pada tuberkulosis primer, penularan tuberkulosis paru terjadi karena
kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam
udara. Bila partikel infeksius ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel
pada jalan napas atau paru-paru. Bila kuman menetap di jaringan paru, ia
bertumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Kuman yang
bersarang di jaringan paru-paru akan membentuk sarang tuberkulosis
pneumonia kecil dan disebut afek primer. Dari afek primer akan timbul
peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal), dan diikuti
pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer
+ limfangitis lokal + limfadenitis regional disebut kompleks primer. Kuman
yang dorman pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian
sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (tuberkulosis postprimer). 5

2.3 Penularan Tuberkulosis Paru

15

Sumber penularan adalah penderita dengan TB BTA positif, yang dapat


menularkan TB kepada orang disekelilingnya, terutama kontak erat. Pada
waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk droplet nuclei (percikan dahak). Sekali batuk dapat dikeluarkan 3000
droplet. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak
berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan,
sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat
bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. 2,5
Penularan umumnya terjadi dalam ruangan dengan ventilasi kurang.
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran
pernafasan. Setelah itu kuman TB dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh
lainnya, melalui sistem peredaran darah dan sistem limfe. Daya penularan
seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari
parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin
menular pasien tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan
kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut. Karena proses terjadinya infeksi oleh kuman TB
biasanya secara inhalasi, maka TB paru merupakan manifestasi klinis yang
paling sering dibandingkan organ lainnya. 2,5
Resiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.
Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan resiko
penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Resiko
penularan setiap tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis
Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama
satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000
penduduk terinfeksi setiap tahun. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.
Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi
positif. 2

16

Adapun resiko menjadi sakit TB hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB


akan menjadi sakit TB. Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000
penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100
orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah
pasien TB BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang
menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi
HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). HIV merupakan faktor risiko yang
paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV
mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular
immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti
tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa
mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka
jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di
masyarakat akan meningkat pula. 2
Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman diwilayah
perkotaan kemungkinan besar telah mempermudah proses penularan dan
berperan sekali atas peningkatan jumlah kasus TB. Sudah dibuktikan bahwa
lingkungan sosial ekonomi yang baik, pengobatan yang teratur dan
pengawasan minum obat ketat berhasil mengurangi angka morbiditas dan
mortalitas di Amerika selama 1950 1960. 3,5

2.4 Penemuan dan Gejala Klinis Pasien TB Paru


Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis,
penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan pasien merupakan
langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan dan
penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan
kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus
merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di
masyarakat. Strategi penemuan pasien TB yang diberlakukan DEPKES RI
dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka pasien

17

dilakukan di unit pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan secara


aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan
cakupan penemuan tersangka pasien TB.
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3
minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak
bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan
menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa
kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut
diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis,
bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di
Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK
dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek)
pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis
langsung. 2
Pemeriksaan Dahak Mikroskopis
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan
dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3
spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan
berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS) 2:
Pemeriksaan Biakan
Peran biakan dan identifikasi M.tuberkulosis pada penanggulangan TB
khususnya untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka
terhadap OAT yang digunakan. Selama fasilitas memungkinkan, biakan dan
identifikasi kuman serta bila dibutuhkan tes resistensi dapat dimanfaatkan
dalam beberapa situasi 2:
1. Pasien TB yang masuk dalam tipe pasien kronis
2. Pasien TB ekstraparu dan pasien TB anak.
18

3. Petugas kesehatan yang menangani pasien dengan kekebalan ganda.


Pemeriksaan Tes Resistensi
Tes resistensi tersebut hanya bisa dilakukan di laboratorium yang
mampu melaksanakan biakan, identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai
standar internasional, dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality
Assurance) oleh laboratorium supranasional TB. Hal ini bertujuan agar hasil
pemeriksaan tersebut memberikan simpulan yang benar sehinggga
kemungkinan kesalahan dalam pengobatan MDR dapat di cegah. 2

2.5 Diagnosis TB Paru


Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari,
yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS). Diagnosis TB Paru pada orang dewasa
ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB
nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan
diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan
dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan
indikasinya. 2
Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan
foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas
pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis. Gambaran kelainan
radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. Untuk lebih
jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.

19

Gambar 1. Alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru 2

Diagnosis TB ekstra paru.


Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku
kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran
kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang
belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-lainnya. Diagnosis pasti sering

20

sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan


gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan
penyakit lain. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan
bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji
mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto toraks dan lain-lain 2

2.6 Pengobatan TB Paru


Dalam kegiatan pokok Program Pemberantasan TB Paru dikenal 2
komponen, yaitu komponen diagnosis dan komponen pengobatan. Pada
komponen diagnosis meliputi deteksi penderita di poliklinik dan penegakkan
diagnosis secara laboratorium, sedangkan komponen pengobatan meliputi
pengobatan yang cukup dan tepat serta pengawasan menelan obat setiap hari
terutama pada fase awal. 8
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Paduan obat anti
tuberkulosis yang dipakai program sesuai dengan rekomendasi WHO berupa
OAT jangka pendek yang terdiri dari 4 kategori. Setiap kategori terdiri dari 2
fase pemberian yaitu fase awal/intensif dan fase lanjutan/intermiten. Adapun
perincian OAT program adalah sebagai berikut 2,8

21

Tabel 3. Regimen Terapi OAT 2,3,6


No. Kategori
1.

OAT
2HRZE/4H3R3

Keterangan
- Penderita baru BTA (+)
- Penderita baru BTA (-)/Ro (+) yang
sakit berat
- Pendeerita ekstra paru berat

2.

3.

II

III

2HRZES/HRZE/

- Kambuh (relaps) BTA (+)

5H3R3E3

- Gagal (failure) BTA (+)

2HRZ/4H3R3

- Penderita baru BTA (-)/Ro (+)


- Penderita ekstra paru ringan

4.

IV

- H seumur hidup

- Penderita dengan TB kronis

- Obat yang masih

- Penderita dengan MDR - TB

sensitif + Quinolon
5.

Sisipan

HRZE

- Bila penderita oleh K I dan K II pada


akhir fase awal/intensif masih BTA (+)

OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,


dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.
Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis
Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Untuk
menjamin kepatuhan pasien menelan obat agar dicapai kesembuhan dan
mencegah resistensi serta mencegah drop out/lalai, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO). 2
Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia menggunakan
panduan OAT 7,8 :

22

Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3
Sebagian besar penderita TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek
samping. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping. Oleh karena
itu pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting
dilakukan selama pengobatan. Pemantauan efek samping obat dapat dilakukan
dengan cara :

Menjelaskan kepada penderita tanda-tanda efek samping


Menanyakan adanya gejala efek samping pada waktu penderita mengambil
OAT.

Tabel 4. Efek Samping Berat OAT dan Penatalaksanaannya 2

23

2.7. Pedoman Kerja Puskesmas dalam P2TB Paru


a. Penatalaksanaan P2TBC
1. Penemuan penderita.
2. Pengobatan
b. Peningkatan sumber daya manusia
Pelatihan tenaga yang terkait dengan program P2TBC
c. Monitoring dan evaluasi
1. Supervisi
2. Pertemuan monitoring :
Evaluasi pengobatan melalui evaluasi klinik dan bakteriologik
d.

Promosi
Advokasi, kemitraan dan penyuluhan.

2.8. Pemantauan dan Evaluasi Program P2TB


Keberhasilan pelaksanaan program pemantauan dilaksanakan secara
berkala dan terus menerus, untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah
dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan, supaya dapat dilakukan
tindakan perbaikan segera. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu
(interval) lebih lama, biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Dengan evaluasi
dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya
24

dicapai. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Hasil


evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. 2
Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK, Kabupaten/Kota,
Propinsi, dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan
pada wilayahnya masing-masing. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari
aspek masukan (input), proses, maupun keluaran (output). Cara pemantauan
dilakukan dengan menelaah laporan, pengamatan langsung dan wawancara
dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. Dalam
pelaksanaan monitoring dan evaluasi, diperlukan suatu sistem pencatatan dan
pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. 2
Dalam Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, salah satu
komponen penting dari survailans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan
maksud mendapatkan data untuk diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan
dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Data yang dikumpulkan pada
kegiatan survailans harus valid (akurat, lengkap dan tepat waktu) sehingga
memudahkan dalam pengolahan dan analisis. Data program Tuberkulosis
dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang
dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. Formulir-formulir yang
dipergunakan dalam pencatatan TB di Unit Pelayanan Kesehatan/UPK
(Puskesmas, Rumah Sakit, BP4, klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam
melaksanakan pencatatan antara lain 2 :
Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS (TB.06).
Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak (TB.05).
Kartu pengobatan pasien TB (TB.01).
Kartu identitas pasien TB (TB.02).
Register TB UPK (TB.03 UPK)
Formulir rujukan/pindah pasien (TB.09).

25

Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan (TB.10).


Register Laboratorium TB (TB.04).
Untuk menilai kemajuan atau keberhasilan penanggulangan TB
digunakan beberapa indikator. Indikator penanggulangan TB secara Nasional
ada 2 yaitu: Angka Penemuan Pasien baru TB BTA positif (Case Detection
Rate = CDR) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate = SR). 2
Disamping itu ada beberapa indikator proses untuk mencapai indikator
Nasional tersebut di atas, yaitu 2 :
Angka Penjaringan Suspek
Proporsi Pasien TB Paru BTA positif diantara Suspek yang diperiksa
dahaknya
Proporsi Pasien TB Paru BTA positif diantara seluruh pasien TB paru
Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien
Angka Notifikasi Kasus (CNR)
Angka Konversi
Angka Kesembuhan
Angka Kesalahan Laboratorium
Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat
ukur kemajuan (marker of progress). Indikator yang baik harus memenuhi
syarat-syarat tertentu seperti: sahih (valid), sensitif dan Spesifik (sensitive and
specific), dapat dipercaya (realiable), dapat diukur (measureable), dapat
dicapai (achievable)
Analisa dapat dilakukan dengan membandingkan data antara satu
dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan, dan melihat
kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu.
26

BAB III
METODE
1.1 Identifikasi Penyebab Masalah
Pada Profil Kesehatan Puskesmas Arut Selatan bulan Januari
Desember 2014 didapatkan cakupan pencapaian CDR (Case Detection
Rate) TB paru belum mencapai target yang ditetapkan. Masalah ini
selanjutnya akan dilakukan analisis untuk menentukan kemungkinan
penyebab

masalah

dengan

metode

pendekatan

sistem

(Input,

Proses,Lingkungan, dan Output) yang akan dilakukan diwilayah kerja


Puskesmas Arut Selatan yang memiliki 2 kelurahan.
1.2 Analisis Masalah
Analisis masalah berdasarkan pendekatan sistem pada rendahnya cakupan
CDR di wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan adalah sebagai berikut :
1. Analisi Penyebab Masalah
a. Analisi Input
Kemungkinan penyebb masalah melalui pendekatan input meliputi
5M (Man, Money, Method, Material, Machine ) yang akan dibahas seebagai
berikut :

Tabel 5. Analisis Input


INPUT
Man

KELEBIHAN

1. 1. Adanya perawat yang


mendapat pelatihan P2 TB

KEKURANGAN
1. Pelatihan P2TB belum diperoleh
secara merata oleh tenaga kesehatan
2. Pemegang program TB belum

27

mendapatkan pelatihan mengenai


P2TB
3. Kurang terlibatnya kader posyandu
4. Kesulitan suspek kasus
mengeluarkan dahak
Money
Method

Material

1. Adanya dana yang


diturunkan untuk
petugas program P2 TB
1. Terdapat pedoman dari
1. Kerjasama antara institusi
Depkes RI mengenai
pemerintah dan swasta, atau institusi
pelaksanaan program
pemerintah masih kurang baik
P2TB yang digunakan
(upaya pencatatan pasien yang
sebagai acuan
masih belum jelas)
melaksanakan kegiatan
1. Peralatan Laboratorium 1. Tidak adanya media promosi oleh
sudah tersedia untuk
puskesmas
mendiagnosa TB Paru
2. Belum tersedianya tes mantoux
sebagai slah satu alat pemeriksaan TB
paru pada anak

Machine

1. ketidaklengkapan antara data-base

pencatatan dan pelaporan yang


tersedia pada komputer DKK dan
data pencatatan dan pelaporan
manual.

b. Analisi Proses
Tabel 6. Analisi Proses Penyebab Masalah
PROSES
P1
(Perencanaan)

KELEBIHAN

KEKURANGAN

1. Terdapat pedoman P2TB


1. Program TB hanya
Depkes RI sebagai acuan
mengandalkan Passive
2. Terdapat data dan sasaran
Case Finding (PCF)
yang disajikan Puskesmas dan
untuk menjaring kasus
Dinkes sebagai acuan
TB
menyusun rencana kegiatan

28

P2
(Pelaksanaan
&
Penggerakan)

1. Adanya kegiatan pelayanan


kesehatan untuk masyarakat
meliputi posyandu, pos
kesehatan desa, puskesmas
pembantu yang berjalan rutin
dan lancar

P3
(Pengawasan
Penilaian &
Pengendalian)

1. Evaluasi & feedback bulanan


dilakukan secara rutin oleh
Kepala Puskesmas &
koordinator program
2. Pelaporan disampaikan secara
rutin ke Dinkes Kotawaringin
Barat & diperoleh feedback
yang baik

1. Follow up tidak

maksimal.
2. Tidak ada komunikasi
dengan pihak lain (RS,
klinik,dll)
3. Pembinaan terhadap
Kader yang masih kurang
aktif sehingga kader
kurang mengetahui
tentang TB Paru
4. Kurang aktifnya promosi
dari pihak puskesmas.
1. Kurang ketatnya fungsi
pengawasan, penilaian &
pengendalian oleh oleh
koordinator program.

c. Analisis Lingkungan
Tabel 7. Analisis Lingkungan
LINGKUNGAN

KELEBIHAN

KEKURANGAN

Kelurahan

Terdapat kader
Posyandu disetiap
kelurahan

1. Kurangnya pengetahuan dan


keaktifan kader
2. Kurangnya pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan (khususnya
masalah TB paru)
3. Tidak adanya kerjasama lintas
sektoral seperti kelurahan, PKK,UPK
swasta, dll.

d. Outcome
Hasil kegiatan cakupan penemuan kasus TB paru sesuai Pedoman
Nasional Pengendalian Tuberkulosis Depkes RI di wilayah kerja Puskesmas Arut
Selatan bulan Januari Desember 2014 belum mencapai target.
2. Rumusan Kemungkinan Penyebab Masalah
Berdasarkan analisis input, proses dan lingungan di atas, rumusan
kemungkinan penyebab masalah tidak tercapainya target CDR (Case Detection
Rate) TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan adalah sebagai berikut.

29

a.
b.
c.
d.

Pelatihan P2TB belum diperoleh secara merata oleh tenaga kesehatan


Kurang terlibatnya kader posyandu
Kesulitan suspek kasus mengeluarkan dahak
Kerjasama antara institusi pemerintah dan swasta, atau institusi

pemerintah
e. Ketidaklengkapan antara data-base pencatatan dan pelaporan yang
tersedia pada komputer DKK dan data pencatatan dan pelaporan manual.
f. Program TB hanya mengandalkan Passive Case Finding (PCF) untuk
menjaring kasus TB
g. Follow up tidak maksimal.
h. Tidak terjalinnya komunikasi yang baik dengan pihak UPK lain (RS,
klinik,dll)
i. Kurang ketatnya fungsi pengawasan, penilaian & pengendalian oleh
koordinator program
j. Kurangnya pengetahuan dan keaktifan kader
k. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan (khususnya
masalah TB paru)
l. Tidak adanya kerjasama lintas sektoral seperti PKK,UPK swasta, dll.
Dari rumusan kemungkinan masalah seperti di atas, dapat
digambarkan dalam diagram fish bone sebagai berikut.

30

MAN
1. Pelatihan P2TB belum diperoleh secara
merata
2. Koordinator program yang belum
mendapatkan pelatihan P2TB
3. Kurang terlibatnya kader posyandu
4. Kesulitan suspek kasus mengeluarkan

INPUT

MONEY
Dana yang diturunkan
untuk kegiatan P2TB
sudah cukup
METHODE
1.Kerjasama antara institusi
pemerintah dan swasta yang masih
kurang baik

MATERIAL
Belum tersedianya media promosi

MACHINE : ketidaklengkapan antara data-base


pencatatan dan pelaporan yang tersedia pada
komputer DKK dan data pencatatan dan pelaporan
1.
Program TB hanya mengandalkan Passive
manual.
Case Finding (PCF) untuk menjaring kasus
TB
P1
1.Follow up tidak maksimal.
2.Tidak ada komunikasi
dengan pihak UPK lain (RS,
klinik,dll)
3.Pembinaan terhadap Kader
yang masih kurang aktif
sehingga kader kurang
mengetahui tentang TB Paru
4.Kurang aktifnya promosi dari
pihak puskesmas

P2

PROSES

Kurang
ketatnya
fungsi
pengawa
san,
penilaian
&
P3
pengend
alian oleh
oleh
koordinat
LINGKUNGAN
or
program.

Tercapainy
a
Target
CDR TB
paru
1.Kurangnya pengetahuan dan
keaktifan kader
2.Kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang
kesehatan (khususnya
masalah TB paru)
3.Tidak adanya kerjasama
lintas sektoral seperti
PKK,UPK swasta, dll

31

3. Penyebab Masalah Paling Mungkin


Setelah melakukan konfirmasi kepada petugas P2TB dan karyawan
Puskesmas Arut Selatan, maka berdasarkan analisis penyebab masalah di atas
didapatkan penyebab masalah yang paling mungkin yaitu :
a. Penjaringan suspek TB hanya dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan
(Passive Case Finding, PCF);
b. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan (khususnya
masalah TB paru)
c. Kesulitan suspek kasus mengeluarkan dahak.
d. Belum terdapat komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK
(pimpinan RS) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta
paramedis dan seluruh petugas terkait dalam penanggulangan TB dengan
strategi DOTS.
e. Kurangnya media promosi oleh pihak Puskesmas.

BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
4.1.

Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah diperoleh daftar penyebab maalah paling mungkin, langkah

selanjutnya adalah membuat alternatif pemecahan masalah sebagai berikut


Tabel 8. Daftar Alternatif Pemecahan Masalah

32

No .

MASALAH

PEMECAHAN MASALAH

1.

Penjaringan suspek TB hanya


dilakukan di fasilitas pelayanan
kesehatan (Passive Case Finding,
PCF)

Disarankan agar penjaringan kasus


ditingkatkan melalui ACF (Actife Case
Finding) dan Deteksi Dini Kasus TB
oleh kader Posyandu/ ibu-ibu PKK

2.

Kurangnya pengetahuan masyarakat


tentang kesehatan (khususnya masalah
TB paru)

3.

Meningkatkan penyuluhan kepada


Kader untuk disampaikan kepada
masyarakat.
Penyuluhan langsung kepada
masyarakat sekitar

Kesulitan suspek kasus mengeluarkan


dahak

Pemberian mukolitik ekspektoran

Menyediakan media promosi agar


penduduk memeriksakan diri ke
puskesmas bukan ke tempat
lainnya.

4.

Belum terdapat komitmen yang kuat


dari pihak manajemen UPK (pimpinan
RS) dan tenaga medis dalam
penanggulangan TB

Disarankan agar dibuat jejaring yang


bekerja lintas sektoral, agar pencatatan
kasus TB paru dapat berlangsung
dengan baik

5.

Kurangnya media promosi dari


puskesmas

-Dilakukan pembuatan Leaflet tentang


TB paru, agar pasien atau penduduk
tertarik untuk membawa anggota
keluarganya untuk memeriksakan diri
- Dilakukan pembuatan reklame atau
spanduk dengan kata-kata yang
menarik agar penduduk tertarik untuk
memeriksakan diri.

4.2.

Prioritas Pemecahan Masalah


Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya

dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas


alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan metode
Kriteria Matriks. Untuk mencari penyelesaian masalah sebaiknaya memenuhi
kriteria sebagai berikut :
1. Efektifitas program,

33

Yaitu menunjuk pada kemampuan program mengatasi penyebab masalah


yang ditemukan. Makin tinggi kemampuan, makin efektif cara penyelesaian
tersebut.
2. Efesiensi program,
Yaitu menunjuk pada pemakaian sumber daya, bila cara penyelesaian dengan
biaya (cost) yang kecil, maka cara tersebut disebut efesien
Untuk mengukur efektifitas pemecahan masalah, terdapat beberapa pedoman,
yaitu :
1. Berdasarkan besarnya penyebab masalah/ Magnitude
Semakin besar atau semakin banyak penyebab masalah yang dapat
diselesaikan, maka semakin efektif. Kriteria ini bernilai 1-5, semakin banyak
penyebab masalah yang dapat diselesaikan, maka semakin besar nilainya.
(semakin mendekati 5).
2. Berdasarkan pentingnya cara pemecahan masalah/ Importancy.
Semakin penting cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah maka
semakin efektif. Kriteria ini bernilai 1-5, semakin penting cara penyelesaian
dalam mengatasi masalah maka nilainya semakin mendekati 5.
3. Berdasarkan sensitifitas cara penyelesaian masalah/ Vulnerability
Semakin sensitif cara penyelesaian masalah maka semakin efektif. Kriteria ini
bernilai 1-5, semakin sensitif cara penyelesaian dalam mengatasai masalah
maka nilainya semakin mendekati nilai 5.
4. Berdasakan biaya dalam menyelesaikan maslah/ Cost
Kriteria ini bernilai 1-5, nilai mnedekati 1 bila biaya (sumber daya) yang
digunakan semakin kecil. Sebaliknya mendekati nilai 5 bila biaya (sumber
daya) makin besar.
Berdasarkan penjelasan di atas, matriks prioritas penyelesaian
masalah untuk mengatasi masalah tidak tercapainya target CDR TB Paru di
wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan adalah sebagai berikut.
Tabel 9. Matriks Prioritas Pemecahan Masalah Tidak Tercapainya
Target CDR TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Arut Selatan 2014
No.

Nilai Kriteria

Hasil Akhir

34

Prioritas pemecahan Masalah


1.

2.

Disarankan agar penjaringan


kasus ditingkatkan melalui
ACF (Actife Case Finding) dan
Deteksi Dini Kasus TB oleh
kader Posyandu/ ibu-ibu PKK
-

3.

4.

5.

Meningkatkan penyuluhan
kepada Kader tentang TB
Penyuluhan langsung
kepada masyarakat sekitar

Pemberian mukolitik
ekspektoran

Menyediakan media
promosi agar penduduk
memeriksakan diri ke
puskesmas bukan ke tempat
lainnya.

60

80

(MxIxV)/C

Prioritas
2

5
2

Disarankan agar dibuat jejaring


3
yang bekerja lintas sektoral,
agar pencatatan kasus TB paru
dapat berlangsung dengan baik
Dilakukan pembuatan Leaflet
tentang TB paru, agar pasien
atau penduduk tertarik untuk
4
membawa anggota keluarganya
untuk memeriksakan diri
- Dilakukan pembuatan
reklame atau spanduk dengan
kata-kata yang menarik agar
penduduk tertarik untuk
memeriksakan diri.

16

18

3
4

27

Setelah melakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah


dengan menggunakan metode Kriteria Matriks, maka didapatkan urutan prioritas
alternatif pemecahan penyebab masalah tidak tercapainya target CDR TB Paru di
wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan. Berdasarkan prioritas alternatif pemecahan
masalah tersebut didapatkan urutan alternatif pemecahan masalah sebagai berikut:
35

1. Meningkatkan penyuluhan kepada kader tentang TB paru dan penyuluhan


langsung kepada masyarakat sekitar.
2. Disarankan agar penjaringan kasus ditingkatkan melalui ACF (Actife Case
Finding) dan Deteksi Dini Kasus TB oleh kader Posyandu/ ibu-ibu PKK.
3. Dilakukan pembuatan Leaflet tentang TB paru, agar pasien atau penduduk
tertarik untuk membawa anggota keluarganya untuk memeriksakan diri dan
melakukan pembuatan reklame atau spanduk dengan kata-kata yang
menarik agar penduduk tertarik untuk memeriksakan diri.
5. RENCANA TINDAK LANJUT KEGIATAN
Setelah menentukan alternatif pemecahan masalah, kemudian dibuat tabel
rencana atau Plan Of Action yang meliputi kegiatan, tujuan, sasaran, waktu, dana,
lokasi, pelaksana, metode dan tolak ukur yang sesuai dengan masalah yang
ditemukan.

36

Tabel 10
Rencana Kegiatan Peningkatan Targert CDR TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Arut Selatan
No.

Tujuan

Sasaran

Waktu

Memberikan
penyuluhan
kepada kader
dan
masyarakat.

Meningkatk
an
pengetahua
n
masyarakat
dan
kesadaran
masyarakat
mengenai
penyakit TB

Seluruh
masyarak
at
di
wilayah
kerja
Puskesm
as
Arut
Selatan

Januari
s/d
Desemb
er 2015

2.

penjaringan kasus
ditingkatkan
melalui ACF
(Actife Case
Finding) dan
Deteksi Dini
Kasus TB oleh
kader Posyandu/
ibu-ibu PKK.

Meningkatk
an temuan
pasien baru
penderita
TB Paru

Seluruh
masyarak
at
di
wilayah
kerja
Puskesm
as
Arut
Selatan

3.

-pembuatan
Leaflet tentang

Meningkatk
an
pengetahua

1.

Kegiatan

Dana

Lokasi

Pelaksan
a

Metode

Tolak ukur

-Dana
PKM

-posyandu
balita
-posyandu
lansia
-posbindu
-sekolah
kelurahan

-dokter
-bidan
-perawat

-ceramah
-diskusi/
tanya
jawab

-terdapat
petugas
posyandu,
kader dan
masyarakat
yang aktif
dan mau
berkerjasam
a.

Januari
s/d
Desemb
er 2015

-Dana
PKM

perumaha
n
penduduk
-sekolah

-dokter
-bidan
-perawat

Swipping

-terdapat
peningkatan
jumlah
temuan
pasien baru
TB Paru

Seluruh
Januari
masyarak s/d
at
di Desemb

-Dana
PKM

-posyandu
-PKM

dokter
-bidan

Menyeba
rkan

Peningkatan
jumlah
kunjungan

37

TB paru
-pembuatan
reklame atau
spanduk tentang
TB Paru

n
masyarakat
dan
kesadaran
masyarakat
mengenai
penyakit TB

wilayah
er 2015
kerja
Puskesm
as
Arut
Selatan

Sponsor

-posbindu
-sekolah
kelurahan

-perawat

Leaflet
Menemp
el
spanduk

untuk
memeriksaka
n dahak.

38

BAB V
HASIL DAN DISKUSI

Program pengendalian TB dengan strategi DOTS telah berjalan di wilayah kerja


Puskesmas Arut Selatan. Tetapi pelaksanaan program pencapaian cakupan CDR TB paru
tersebut belum mencapai target yang diharapkan. Dimana target penemuan pasien baru
BTA positif adalah 23 orang dalam 1 tahun.
Menurut data yang didapat dari Puskesmas Arut Selatan, pada tahun 2014 hanya
ditemukan 12 orang pasien dengan BTA positif yaitu 52,17 % dari target yang ingin
dicapai. Tetapi, target ini seharusnya sudah diubah sejak perubahan wilayah kerja
puskesmas. Sejak bulan Mei 2014, wilayah kerja puskesmas Arut Selatan hanya
mencakup kelurahan Raja dan Raja Seberang. Jika berdasarkan jumlah penduduk di dua
kelurahan tersebut, target pencapaian pasien baru BTA positif hanya 18 orang per
tahunnya.
Dalam hal ini penulis telah melakukan upaya lintas sektoral dengan meminta data
ke RS terdekat. Diharapkan dengan salah satu upaya ini, bisa meningkatkan temuan
pasien baru BTA positif yang berasal dari wilayah kerja puskesmas Arut Selatan. Berikut
adalah hasil yang didapatkan dari data RS Sultan Imanudin.
TABEL 11. JUMLAH PASIEN BARU TUBERKULOSIS PARU PERIODE JANUARI 2014DESEMBER 2014 DI RS SULTAN IMANUDIN

No.
1
2
3
4
5
6

Nama
Deasy Ika
Diajeng R
Gt. Basri
Nasrudin
A.E. Efendi
Sodikin

L/P
P
P
L
L
L
L

BTA
3+
3+
3+
3+
3+
3+

Umur
23
24
35
47
35
27

Alamat
Jl. P.Negara Rt.11
Jl. P. Negara Rt.11
Jl. P.Antasari
Jl. Pakunegara
Jl. P. Antasari
Jl. Pakunegara

Bulan
Januari
September
September
September
November
Desember

Dari hasil data diatas terjadi peningkatan CDR yang awalnya 52,17% menjadi
78,26%. Dari data diatas terbukti adanya peningkatan terhadap temuan pasien baru
dengan BTA positif. Dalam hal ini terdapat kekurangan yaitu upaya ini hanya dilakukan
di salah satu RS terdekat. Sebaiknya dilakukan juga permintaan data kepada RS swasta
lain ataupun kepada dokter praktek swasta.
Akan tetapi jika kita menggunakan perhitungan target berdasarkan dua kelurahan,
yaitu dengan target yang sudah dikurangi dari 23 orang menjadi 18 orang, maka target

39

yang telah dicapai dengan menggunakan usaha pengambialn data dari rumah sakit ialah
100%.
Dari prioritas masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, penulis juga telah
melakukan upaya penyuluhan kepada kader-kader di puskesmas Arut Selatan. Dalam
upaya ini belum diketahui apakah terjadi perubahan yang signifikan terhadap jumlah
temuan pasien baru TB dengan BTA positif, dikarenakan upaya ini sebaiknya dilakukan
setiap bulan sekali dan di evaluasi setiap 6 bulan atau 1 tahun setelah program dilakukan.
Karena sebelum ini sangat jarang dilakukan penyuluhan tentang TB paru khususnya
masyarakat sekitar puskesmas Arut Selatan.
Dari pemecahan masalah yang berikutnya adalah dengan Active Case Finding, di
puskesmas Arut selatan sendiri upaya ini pernah dilakukan tetapi belum optimal.
Sebaiknya petugas puskesmas lebih aktif lagi dalam upaya ini, karena kemungkinan jika
program ini rutin dilakukan maka diharapkan akan meningkatkan jumlah temuan pasien
baru TB BTA positif. Metode ini dapat dilakukan dengan cara menanyakan kepada
kader-kader tentang masyarakat yang memiliki gejala-gejala TB paru. Jika sudah
ditemukan target yang ingin dikunjungi, maka sebaiknya dilakukan kunjungan rumah
kepada pasien tersebut.
Pemecahan dari prioritas masalah beikutnya adalah dengan melakukan media
promosi agar membuat masyarkat tertarik untuk memeriksakan diri ke puskesmas Arut
Selatan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara pembuatan leaflet dan spanduk dengan katakata yang menarik perhatian. Leaflet sendiri sebaiknya dibagikan kepada masyarakat
sekitar khususnya masyarakat yang memiliki gejala TB paru. Penulis sendiri sudah
melakukan upaya ini dengan membagikan leaflet kepada kader puskesmas Arut Selatan.
Tetapi upaya ini belum bisa menunjukkan hasil dengan cepat, karena sebaiknya evaluasi
ini dilakukan setiap 6 bulan atau satu tahun.

40

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Program pengendalian TB dengan telah berjalan di wilayah kerja Puskesmas
Arut Selatan. Tetapi pelaksanaan program pencapaian cakupan CDR TB

paru

tersebut belum mencapai target yang diharapkan. Penyebab utama adalah partisipasi
masyarakat, dokter, RS, dan tenaga kesehatan lainnya yang masih sangat rendah
dalam penemuan dan diagnosis kasus TB.
Penyebab lainnya adalah Penjaringan suspek TB hanya dilakukan di fasilitas
pelayanan kesehatan (Passive Case Finding, PCF) serta rendahnya pengetahuan dan
kesadaran masyarakat tentang panyakit TB Paru.
Setelah melakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan
menggunakan metode Kriteria Matriks, maka didapatkan urutan perioritas alternatif
pemecahan penyebab masalah tidak tercapainya target CDR TB Paru di wilayah kerja
Puskemas Arut Selatan :
1. Meningkatkan penyuluhan kepada kader tentang TB paru dan penyuluhan
langsung kepada masyarakat sekitar.
2. Disarankan agar penjaringan kasus ditingkatkan melalui ACF (Actife Case
Finding) dan Deteksi Dini Kasus TB oleh kader Posyandu/ ibu-ibu PKK.
3. Dilakukan pembuatan Leaflet tentang TB paru, agar pasien atau penduduk tertarik
untuk membawa anggota keluarganya untuk memeriksakan diri dan melakukan
pembuatan reklame atau spanduk dengan kata-kata yang menarik agar penduduk
tertarik untuk memeriksakan diri.
Dengan adanya alternatif pemecahan masalah di atas, diharapkan mampu
meningkatkan pencapaian target CDR TB Paru di wilayah kerja Puskemas Arut
Selatan.

41

6.2 Saran
1. Disarankan agar penjaringan kasus ditingkatkan melalui ACF (Actife Case
Finding) dan Deteksi Dini Kasus TB oleh kader Posyandu/ ibu-ibu PKK dll.
2. Meningkatkan pengadaan penyuluhan tentang masalah TB Paru dan membuat
media promosi deteksi dini TB Paru
3. Disarankan agar dibuat upaya lintas Sektoral antara Puskesmas dengan rumah
sakit sebagai penyedia pelayanan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

42

1. Chin, James. Tuberkulosis Dalam: Manual Pemberantasan Penyakit Menular. ed.


17. Editor Penterjemah: I Nyoman Kandun. American Public Health Association.
2000.
2. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi II. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI, 2008.
3. Makmur, Suwandi. DOTS (Direct Observed Treatment Shortcourse) Sebuah
Strategi

Pemberantasan

Tuberkulosis.

Dalam:

Tuberkulosis

Tinjauan

Multidisiplin. Edisi I. Editor: Isa M, Soefyani A, Juwono O dan Budiarti L.Y.


Pusat Studi Tuberkulosis FK Unlam. Banjarmasin, 2001
4. Puskesmas Dinas Kesehatan Kabupaten di Arut Selatan. Profil Kesehatan
Puskesmas Arut Selatan Tahun 2013. Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat,
2013.
5. Depkes RI. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan
Lingkungan

Pemukiman.

Pedoman

Penyakit

Tuberkulosis

dan

Penanggulangannya. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 1997


6. Wayan, I. Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. Departemen Kesehatan dan
Kesejahteraan Sosial RI. Jakarta. 2000.
7. Depkes RI. Komite Nasional Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis Paru di
Indonesia. Prosedur Tetap Penanggulangan TB Paru Nasional Secara Terpadu.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2006
8. Depkes RI. Proyek Kesehatan Keluarga dan Gizi. ARRIME Pedoman Manajemen
Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2002.

43

LAMPIRAN

44

Penyuluhan TB Paru dengan kader- kader Puskesmas Arut Selatan

45