Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gerak adalah kegiatan yang pasti terjadi dalam kehidupan di bumi ini. Dalam
kehidupan sehari-hari seringkali kita melihat orang bermain ayunan, bahkan kita pun pernah
melakukannya. Gerak dari ayunan yang kita mainkan merupakan salah satu contoh dari gerak
harmonik yang sederhana. Pernahkan Anda mengamati apa yang terjadi ketika senar gitar
dipetik lalu dilepaskan? Anda akan melihat suatu gerak bolak-balik melewati lintasan yang
sama. Gerakan seperti ini dinamakan gerak periodik. Contoh lain gerak periodik adalah
gerakan bumi mengelilingi matahari (revolusi bumi), gerakan bulan mengelilingi bumi,
gerakan benda yang tergantung pada sebuah pegas, dan gerakan sebuah bandul. Di antara
gerak periodik ini ada gerakan yang dinamakan gerak harmonik. Gerak harmonik merupakan
gerak sebuah benda dimana grafik posisi partikel sebagai fungsi waktu berupa sinus (dapat
dinyatakan dalam bentuk sinus atau kosinus). Gerak semacam ini disebut gerak osilasi atau
getaran harmonik. Contoh lain sistem yang melakukan getaran harmonik, antara lain, dawai
pada alat musik, gelombang radio, arus listrik AC, dan denyut jantung. Galileo di duga telah
mempergunakan denyut jantungnya untuk pengukuran waktu dalam pengamatan gerak.
Untuk memahami getaran harmonik, Anda dapat mengamati gerakan sebuah benda yang
digantungkan pada tali (sebagai bandul) dan kemudian disimpangkan dari titik
kesetimbangannya dengan sudut kecil. Gerak Harmonik Sederhana mempunyai persamaan
gerak dalam bentuk sinusoidal dan digunakan untuk menganalisis suatu gerak periodik
tertentu. Gerak periodik adalah gerak berulang atau berosilasi melalui titik setimbang dalam
interval waktu tetap.
1.2 Rumusan Masalah
2. Apa pengertian dari Gerak Harmonik Sederhana ?
3. Apa Saja Jenis Gerak Harmonik Sederhana dan Persamaannya ?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan pengertian dari Gerak Harmonik Sederhana.
2. Menjelaskan Jenis Gerak Harmonik Sederhana dan Persamaannya.
1.4 Manfaat
1. Dapat mengetahui pengertian dari gerak harmonik sederhana.
2. Dapat mengetahui jenis gerak harmonik sederhana dan persamaannya.

BAB II
MATERI

2.1 Pengertian Gerak Harmonik Sederhana


Gerak harmonik sederhana adalah gerak bolak - balik benda melalui suatu titik
keseimbangan tertentu dengan banyaknya getaran benda dalam setiap sekon selalu konstan.
Setiap gerak yang terjadi secara berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak
periodik. Karena gerak ini terjadi secara teratur maka disebut juga sebagai gerak
harmonik/harmonis. Apabila suatu partikel melakukan gerak periodik pada lintasan yang
sama maka geraknya disebut gerak osilasi/getaran. Bentuk yang sederhana dari gerak
periodik adalah benda yang berosilasi pada ujung pegas. Karenanya kita menyebutnya gerak
harmonis sederhana. Gerak Harmonik Sederhana mempunyai persamaan gerak dalam bentuk
sinusoidal dan digunakan untuk menganalisis suatu gerak periodik tertentu. Dalam fisika ada
berbagai macam gerak, diantaranya adalah gerak periodik. Gerak Periodik adalah suatu
getaran atau gerakan yang dilakukan benda secara bolak-balik melalui jalan tertentu yang
kembali lagi ke tiap kedudukan dan kecepatan setelah selang waktu tertentu. Contoh gerak
bolak balik adalah gerakan sebuah bandul.
Dari sekian banyak gerak periodik, ada gerak yang dinamakan gerak harmonik. Gerak
harmonik adalah gerak sebuah partikel sebagai fungsi waktu berupa sinusodial (dapat
dinyatakan dalam bentuk sinus atau kosinus).
(Surya, 2001: 55)
Ada beberapa macam gerak harmonik, salah satunya adalah gerak harmonik sederhana
(GHS). Gerak harmonik sederhana adalah gerak harmonik yang dipengaruhi oleh gaya yang
arahnya selalu menuju titik seimbang dan besarnya sebanding dengan simpangannya.
Contoh gerak osilasi (getaran) yang populer adalah gerak osilasipendulum
(bandul). Pendulum sederhana terdiri dari seutas tali ringan dan sebuah bola kecil (bola
pendulum) bermassa m yang digantungkan pada ujung tali, sebagaimana tampak pada
gambar di bawah. Dalam menganalisis gerakan pendulum sederhana, gaya gesekan udara kita
abaikan dan massa tali sangat kecil sehingga dapat diabaikan relatif terhadap bola.

Gambar di atas memperlihatkan pendulum sederhana yang terdiri dari tali dengan panjang L
dan bola pendulum bermassa m. Gaya yang bekerja pada bola pendulum adalah gaya berat (w
= mg)dan gaya tegangan tali FT. Gaya berat memiliki komponen m.g cos yang searah tali
dan mg sin teta yang tegak lurus tali. Pendulum berosilasi akibat adanya komponen gaya
berat mg sin teta. Karena tidak ada gaya gesekan udara, maka pendulum melakukan osilasi
sepanjang busur lingkaran dengan besar amplitudo tetap sama.
Gaya pemulih yang menyebabkan benda M melakukan gerak harmonic sederhana adalah
komponen w tegak lurus pada tali yaitu w sin . Dengan demikian gaya pemulih yang bkerja
pada benda bandul sederhana dinyatakan oleh
Fp = - W sin
= - m.g sin

(1)

Menurut Hukum Newton II percepatan benda pada ayunan sederhana:


F = m.a
a = -g. sin
-m.g sin = m.a

(2)

Gaya dalam arah sumbu x merupakan gaya pemulih, yaitu gaya yang selalu menuju titik
keseimbangan. Arah gaya tersebut berlawanan arah dengan simpangan, sehingga dapat ditulis
:
Dalam arah sumbu y, komponen gaya berat diimbangi oleh tegangan tali T sehingga gaya
dalam arah sumbu y bernilai nol.
Jika sudut cukup kecil ( < ), maka nilai sinus tersebut mendekati dengan nilai sudutnya,
sin . Sehingga hubungan antara panjang busur x dengan sudut teta dinyatakan dengan
persamaan :
x = L sin

atau

= x/L

(3)

(ingat bahwa sudut teta adalah perbandingan antara jarak linear x dengan jari-jari
lingkaran (r) jika dinyatakan dalam satuan radian. Karena lintasan pendulum berupa
lingkaran maka kita menggunakan pendekatan ini untuk menentukan besar simpangannya.
Jari-jari lingkaran pada kasus ini adalah panjang tali L).
Jika massa m menyimpang sejauh x dari titik seimbang, maka massa tersebut akan
mengalami gaya pemulih sebesar :
F = mg sin mg = x

(4)

2.1.1 HUKUM HOOKE


Besarnya gaya pemulih F berbanding lurus dengan perubahan panjang pegas x, baik pada
waktu itu ditarik maupun ditekan.
Gaya pemulih tersebut sebanding dengan simpangan, seperti pada gerak harmonic sederhana.
Sekarang kita akan membandingkan gaya pemulih untuk massa pada pegas dan gaya pemulih
untuk system bandul sederhana. Pada pegas berlaku :
F = -kx,

(5)

(dalam buku Fisika 2, Bambang Ruwanto : 58).


sedangkan pada bandul berlaku F = x. harga pada bandul adalah tetap sehingga dapat
dianalogikan denga/n tetapan pegas (k).
Periode bandul dapat pula dianalogikan dengan periode gerak massa pada pegas,
T = 2 , dengan mengganti k dengan mg/L :
T=2=2
Dengan eliminasi m, kita memperoleh periode ayunan bandul sebesar :
T=2
Frekuensi Pendulum Sederhana dapat dicari dengan rumus :
Ini adalah persamaan frekuensi pendulum sederhana, besarnya percepatan gravitasi dapat
ditentukan dengan persamaan :
T=2
T2 = 42
g=0

1.4.1

Jenis Gerak Harmonik Sederhana dan Persamaannya


4

Gerak Harmonik Sederhana dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :


a) Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Linier, misalnya penghisap dalam silinder gas, gerak
osilasi air raksa atau air dalam pipa U, gerak horizontal atau vertikal dari pegas, dan
sebagainya. Contohnya:
Gerak harmonik pada pegas
Sistem pegas adalah sebuah pegas dengan konstanta pegas (k) dan diberi massa pada
ujungnya dan diberi simpangan sehingga membentuk gerak harmonik. Gaya yang
berpengaruh pada sistem pegas adalah gaya Hooke.

a. Pegas normal
(setimbang)
b. Pegas teregang

c. Pegas tertekan

Gambar 1. Sistem pegas

Pada gambar a sebuah pegas diletakkan dilantai dasar dan dihubungkan dengan sebuah
benda, mula-mula pegas berada pada keadaan normal (setimbang), Jika benda ditarik
kekanan seperti gambar b, maka pegas akan memberi tarikan kepada benda ke arah kiri untuk
kembali ke titik keseimbangan. Jika benda ditarik kekiri gambar c, maka pegas akan
mendorong benda ke kanan untuk kembali ke titik keseimbangan. Gaya pegas yang bekerja
untuk mengembalikan benda pada posisi keseimbangan ini disebut gaya pemulih.
Gaya pegas merupakan gaya pemulih. Gaya pemulih adalah gaya yang bekerja pada gerak
harmonik yang selalu mengarah pada titik keseimbangan dan besarnya sebanding dengan
besar simpangannya. Sesuai dengan persamaan :
F = -k x
Persamaan ini dinamakan hukum Hooke, dimana k dinamakan kostanta pegas. Tanda negatif
menunjukkan bahwa gaya pemulih arahnya berlawanan dengan simpangan x. Sebaliknya,
jika simpangannya ke kiri gaya pulihnya kekanan.
Bunyi hukum Hooke: Pada daerah elastisitas benda, gaya yang bekerja pada benda
sebanding dengan pertambahan panjang benda.
(Sunaryono, 2010: 76)
Sedangkan meurut Hukum II Newton, F = m a
5

Dengan demikian, m a = -k x
ma+kx=0

(6)

Dengan x sebagai posisi, telah kita ketahui bahwa percepatan adalah turunan kedua dari x,
sehingga persamaan ini dapat ditulis sebagai:
m

+kx=0

(7)

Bagi kedua ruas persamaan dengan m


+

x=0

(8)

Persamaan diatas adalah persamaan diferensial homogen orde kedua. Secara matematis,
persamaan itu memiliki penyelesaian yang berbentuk fungsi sinusoida, yaitu:
x(t) = A sin (t + 0) atau x(t) = A cos (t + 0)

(9)

(Kanginan, 2006: 98)


b) Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Angular, misalnya gerak bandul atau bandul fisis,
osilasi ayunan torsi, dan sebagainya. Contonya:
Gerak harmonik bandul
Pendulum sederhana terdiri atas sebuah partikel bermassa m (yang disebut bandul
pendulum), yang digantung dengan seutas tali sepanjang l yang massanya diabaikan dan tidak
dapat diregangkan, sebagaimana pada gambar.

Gambar 2. Ayunan Bandul Sederhana


Bandul sederhana terdiri atas benda bermassa m yang diikat dengan seutas tali ringan yang
panjangnya l (massa tali diabaikan). Jika bandul berayun, tali akan membentuk sudut sebesar

terhadap arah vertikal. Jika sudut terlalu kecil, gerak bandul tersebut akan memenuhi
persamaan gerak harmonik sederhana seperti gerak massa pada pegas.
Kita tinjau gaya-gaya pada massa m. dalam arah vertikal, massa m dipengaruhi oleh gaya
beratnya yaitu sebesar w = mg, gaya berat tersebut memiliki komponen sumbu x sebesar mg
sin dan komponen sumbu y sebesar mg cos .

Gambar 3. Gaya pada ayunan bandul sederhana


Gaya dalam arah sumbu x merupakan gaya pemulih, yaitu gaya yang selalu menuju titik
keseimbangan. Arah gaya tersebut berlawanan arah dengan simpangan, sehingga dapat ditulis
:
Dalam arah sumbu y, komponen gaya berat diimbangi oleh tegangan tali T sehingga gaya
dalam arah sumbu y bernilai nol.
Jika sudut cukup kecil, maka nilai sinus tersebut mendekati dengan nilai sudutnya, sin
. Sehingga hubungan antara panjang busur x dengan sudut teta dinyatakan dengan
persamaan :
x = l sin atau =

(10)

(ingat bahwa sudut teta adalah perbandingan antara jarak linear x dengan jari-jari lingkaran
(r) jika dinyatakan dalam satuan radian. Karena lintasan pendulum berupa lingkaran maka
kita menggunakan pendekatan ini untuk menentukan besar simpangannya. Jari-jari lingkaran
pada kasus ini adalah panjang tali L).
Jika massa m menyimpang sejauh x dari titik seimbang, maka massa tersebut akan
mengalami gaya pemulih sebesar:
F = m g sin mg = x

(11)
7

Gaya pemulih tersebut sebanding dengan simpangan, seperti pada gerak harmonik sederhana.
Sekarang kita akan membandingkan gaya pemulih untuk massa pada pegas dan gaya pemulih
untuk sistem bandul sederhana.
Pada pegas berlaku F = kx, sedangkan pada bandul berlaku F = x. harga pada bandul adalah
tetap sehingga dapat dianalogikan dengan tetapan pegas (k).
Secara umum persamaan simpangan dari getaran selaras dapat dirumuskan :
x = A sin t

(12)

Dengan = kecepatan sudut dan t = waktu.


Turunan kedua terhadap waktu dari persamaan diatas menghasilkan :
d2x/dt2 = - A2 sin t = -2 x

(13)

karena =

T=

(14)

Dari persamaan (9) dapat ditentukan percepatan gravitasi (g)


g=

(15)

(Tim Dosen, 2013: 21)


Gerakan massa (m) terbatasi atau ditentukan oleh panjang pendulum (l), dan persamaan gerak
yang berlaku adalah :
d2 / dt2 = -mg sin

(16)

Dimana dalam hal ini kecepatan beban sepanjang lintasan yang berupa busur lingkaran
adalah v(t) = l (t). Faktor sin merupakan komponen yang searah dengan gravitasi dari gaya
yang bekerja pada beban dalam arah .
Selanjutnya dengan membuang m dari kedua sisi persamaan sebelumnya diperoleh bentuk
d2/ dt2 + g/L sin = 0 yang merupakan persamaan diferensial tak linear untuk .
Jika dianggap simpangan awal ayunan cukup kecil || 1 ( rad ), maka berlaku sin =
sehingga persamaan dapat diubah menjadi bentuk linear sebagai berikut:
d2/ dt2 + g/L = 0

(17)

Gaya Pemulih pada Ayunan Bandul Matematis

Gaya yang beraksi pada gambar, adalah beratnya mg dan gaya tarik T pada dawai. Kita
uraikan mg menjadi komponen radial mg cos dan mg sin yang merupakan tangen (garis
singgung) terhadap lintasan yang ditempuh oleh partikel. Dituliskan gaya pemulih sebagai
berikut:
F = -mg sin

(18)

Dengan tanda minus menunjukkan bahwa F bereaksi dalam arah yang berlawaan dengan
perpindahan.
Selain itu, perpindahan partikel s yang diukur sepanjang busutnya sama dengan L. Maka
untuk yang kecil, persamaanya menjadi:
F -mg = -mg = (

)s

Dengan mensubstitusikan

(19)

kedalam persamaan, utuk periode suatu pendulum sederhana

kita dapatkan:

T = 2

= 2

atau = 2

(20)

(Halliday, 2008: 616-617)

Simpangan gerak harmonik sederhana

Simpangan gerak harmonik sederhana dapat dianggap sebagai proyeksi gerak melingkar
beraturan pada diameter lingkaran, gambar melukiskan sebuah partikelyang bergerak
melingkar beraturan dengan kecepatan sudut dan jari-jari A. Anggap mula-mula partikel
berada di titik P. Setelah selang waktu t, partikel berada di titik Q dan sudut yang ditempuh
adalah:

= t =

(21)

Gambar 4. Simpangan gerak harmonik sederhana


Proyeksi titik Q terhadap diameter lingkaran (sumbu y) adalah titik Qy. Jika garis OQy kita
sebut y, yang merupakan simpangan gerak harmonik sederhana, maka:
y = A sin = A sin t = A sin

ft

(22)

Secara umum, jika partikel mula-mula berada pada posisi sudut o, maka persamaan dapat
ditulis menjadi:
y = A sin = A sin (t+o) = A sin (

(23)

Besar sudut dalam fungsi sinus, yaitu disebut sudut fase, jadi sudut fase bergaerak
harmonik adalah:

10

= (t+o) = (

(24)

Persamaan dapat juga ditulis menjadi

= 2 (

) = 2, dimana disebut juga fase, jadi fase gerak harmonik adalah:

= 2-1=

(25)

Beda fase dalam gerak harmonik dinyatakan dengan nilai mulai dari nol sampai dengan satu.
Bilangan bulat dalam beda fase dapat dihilangkan, misalnya beda fase 2

ditulis sebagai

beda fase

Dua kedudukan dikatatakan sefase apabila beda fasenya nol dan disebut berlawanan fase
apabila

beda

= , 1

fasenya

setengah.

Keadaan

sefase:

= n +

Dengan n adalah bilangan cacah, n = 0, 1, 2, 3,...

Kecepatan gerak harmonik sederhana

Kecepatan benda yang bergerak harmonik sederhana dapat diperoleh dari turunan perama
persamaan simpangan:

vy =

[ A sin (t+o)]

vy = Acos [(t+o)]

(26)

11

Mengingat nilai maksimum dari fungsi cosinus adalah satu, maka kecepatan maksimum vm
gerak harmonik sederhana adalah:
vm = A

(27)

Berdasarkan hubungan trigonometri cos2 (t+o) + sin2 (t+o) = 1, maka diperoleh cos
(t+o) =

ika nilai ini dimasukkan ke persamaan diperoleh:

vy = A

=
Mengingat A sin (t+o) = y, maka diperoleh:
vy =

(28)

Percepatan gerak harmonik sederhana


Percepatan benda yang bergerak harmonik sederhana dapat diperoleh dari turunan pertama
persamaan kecepatan atau turunan kedua persamaan simpangan:

Ay =

[ Acos (t+o)]

Ay = -2 Asin (t+o) = -2 y
Karena nilai maksimum dari simpangan maksimum adalah sama dengan amplitudo, yaitu
y=A, maka percepatan maksimum an gerak harmonik sederhana adalah:
Am = -2 A

(29)

Tanda minus menunjukkan bahwa arah percepatan selalu berlawanan dengan arah simpangan.
(Supriyanto, 2007: 72-74)

12

Hubungan Gerak Harmonik Sederhana (GHS) dan Gerak Melingkar Beraturan (GMB)

Gambar 4. Gerak Melingkar

Gerak Melingkar Beraturan dapat dipandang sebagai gabungan dua gerak harmonik
sederhana yang saling tegak lurus, memiliki Amplitudo (A) dan frekuensi yang sama namun
memiliki beda fase relatif

atau kita dapat memandang Gerak Harmonik Sederhana sebagai

suatu komponen Gerak Melingkar Beraturan. Jadi dapat diimpulkan bahwa pada suatu garis
lurus, proyeksi sebuah benda yang melakukan Gerak Melingkar Beraturan merupakan Gerak
Harmonik Sederhana. Frekuensi dan periode Gerak Melingkar Beraturan sama dengan
Frekuensi dan periode Gerak Harmonik Sederhana yang diproyeksikan.
Misalnya sebuah benda bergerak dengan laju tetap (v) pada sebuah lingkaran yang memiliki
jari-jari A sebagaimana tampak pada gambar. Benda melakukan Gerak Melingkar Beraturan,
sehingga kecepatan sudutnya bernilai konstan. Hubungan antara kecepatan linear dengan
kecepatan sudut dalam Gerak Melingkar Beraturan dinyatakan dengan persamaan:

(30)

Karena jari-jari (r) pada Gerak Melingkar Beraturan di atas adalah A, maka persamaan ini
diubah menjadi :

= ,v=A

(31)

13

Simpangan sudut (teta) adalah perbandingan antara jarak linear x dengan jari-jari lingkaran
(r), dan dinyatakan dengan persamaan :

(32)

x adalah jarak linear, v adalah kecepatan linear dan t adalah waktu tempuh (x = vt adalah
persamaan Gerak Lurus alias Gerak Linear). Kemudian v pada persamaan 2 digantikan
dengan v pada persamaan 1 dan jari-jari r digantikan dengan A :

=t
Dengan demikian, simpangan sudut benda relatif terhadap sumbu x dinyatakan dengan
persamaan :

= t + 0, (0 adalah simpangan waktu pada t = 0})


Pada gambar di atas, posisi benda pada sumbu x dinyatakan dengan persamaan :
x = A cos
x = A cos ( t + 0)

(33)

Persamaan posisi benda pada sumbu y :


y = A sin ( t + 0)

(34)

dengan: A = amplitudo; = kecepatan sudut; dan 0 = simpangan sudut pada saat t = 0.

14

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.2 Alat dan Bahan


1. Statip
2. Tali
3. Stopwatch
4. Beban (50gr dan 100gr)
5. Penggaris
3.3 Cara Kerja
Percobaan ini dibagi menjadi 3 bagian, masing-masing diulang sebanyak 3 kali
percobaan. Tiap bagian dilakukan secara berturut-turut dengan perbedaan besarnya
amplitudo, panjangnya tali, dan beratnya massa beban. Langkah-langkah yang dilakukan
sebagai berikut :

15

1.

Siapkan Statip kemudian atur berat beban, panjang tali, dan besar amplitudo sesuai

yang telah ditentukan.


2.

Gunakan penggaris untuk mengukur panjang simpangan.

3.

Ayunkan bandul dengan posisi sudut yang telah ditentukan.

4.

Hidupkan stopwatch bersamaan dengan pertama kali bandul diayunkan.

5.

Hentikan stopwatch jika bandul sudah melakukan 10 kali ayunan.

6.

Catat waktu terakhir di stopwatch.

7.

Ulangi percobaan hingga 3 kali pada tiap bagian.

8.

Tuliskan hasil pengamatan ke dalam tabel.

3.4 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah:
1. Gerak harmonik sederhana adalah gerak bolak - balik benda melalui suatu titik
keseimbangan tertentu dengan banyaknya getaran benda dalam setiap sekon selalu konstan
2. Gerak harmonik sederhana dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :
a) Gerak harmonik sederhana (ghs) linier, misalnya penghisap dalam silinder gas, gerak
osilasi air raksa atau air dalam pipa u, gerak horizontal atau vertikal dari pegas, dan
sebagainya
b) Gerak harmonik sederhana (ghs) angular, misalnya gerak bandul atau bandul fisis,
osilasi ayunan torsi, dan sebagainya
3. Sebuah bandul adalah massa (m) yang digantungkan pada salah satu ujung tali dengan
panjang l dan membuat simpangan dengan sudut kecil. Bila amplitudo getaran kecil berarti
bandul melakukan gerak harmonik.
4. Gaya pemulih adalah gaya yang besarnya sebanding dengan simpangan dan selalu
berlawanan arah dengan arah simpangan (posisi).
5. Ayunan bandul matematis merupakan suatu partikel massa yang tergantung pada suatu
titik tetap pada seutas tali, di mana massa tali dapat diabaikan dan tali tidak dapat

16

bertambah panjang. Dari gambar tersebut, terdapat sebuah beban bermassa m tergantung
pada seutas kawat halus sepanjang l dan massanya dapat diabaikan.
3.5 Saran
Dengan disusunnya makalah ini kami mengharapkan pembaca dapat mengetahui dan
memahami materi mengenai gerak harmonik sederhana pada bandul serta dapat
memberikan kritik dan saran nya agar makalah ini dapat menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Demikian saran yang dapat penulis sampaikan semoga dapat membawa
manfaat bagi semua pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Giancoli. 2005. Fisika. Jakarta: Erlangga


Halliday, dkk. 2008. Dasar-dasar Fisika. Tangerang: Binarupa Aksara
Kanginan, Marthen. 2006. Fisika Untuk Kelas XI SMA. Jakarta: Erlangga
Sunaryono, dkkk. 2010. Super Tips dan Trik Fisika SMA. Malang: Kawan Pustaka
Supriyanto. 2007. Fisika Untuk Kelas XI SMA. Jakarta: Erlangga
Surya, Yohanes. 1999. Fisika Itu Mudah. Tangerang: PT Bina Sumber Daya MIPA
Tim Dosen. 2013. Modul Praktikum Fisika Dasar I. Banjarmasin: Prodi Pendidikan
Fisika FKIP Unlam

17