Anda di halaman 1dari 7

HAM : Diskursus Agama dan Demokrasi

Dalam mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu agama, seseorang tidak akan dapat menghindari adanya
perbedaan yang nyata antara agama per se dan ilmu agama. Namun ia juga tidak dapat melupakan
adanya hubungan yang erat antara keduanya sebab beberapa nilai dasar agama seperti menghargai
dan melindungi Hak Asasi Agama (HAM), keadilan, kemanusiaan, kemaslahatan umum dan lain
sebagainya adalah bersifat integral dengan nilai-nilai non-agama. Ini artinya bahwa sebuah
argumentasi tentang HAM umpamanya harus menggabungkan antara argumentasi yang rasional dan
religious.
Sebuah argumentasi yang murni religious yaitu yang hanya berdasarkan pada text-text agama saja- hanya
akan berakhir pada tautology. Untuk itu, mempertimbangkan kaidah-kaidah rasional dalam mengutarakan
berbagai argumentasi tentang berbagai macam persoalan sekalipun persoalan itu bersifat religious- adalah
suatu keniscayaan. Adalah rasio bukan agama- yang mendefinisikan kebenaran, keadilan, kemanusian dan
nilai-nilai agama lainnya. Mungkin ini sedikit bersifat paradox; bagaimana nilai-nilai agama ditentukan oleh rasio
dan bukan oleh agama sendiri.
Agama hanya concern kepada nilai-nilai yang bersifat universal saja, sedang pemahaman, penafsiran dan
aplikasi nilai-nilai universal itu murni menjadi hak prerogatif rasio. Dalam soal penegakan HAM, ini berarti bahwa
rasio-lah yang memiliki wewenang untuk melakukannya. Bahwa agama peduli terhadap penegakan HAM adalah
benar, namun pra-kondisi terhadap terwujudnya hal itu berupa terciptanya kondisi yang kondusif di mana HAM
dapat ditegakkan, adalah tugas rasio untuk melakukannya.
Dalam ungkapan lain, nilai-nilai Islam yang universal harus diolah terlebih dahulu melalui proses historisasi
sebelum diaplikasikan. Sejak dulu, para tokoh Islam telah melakukan proses historisasi ini tidak hanya terhadap
nilai-nilai universal saja tapi juga terhadap hukum-hukum agama sekalipun. Contoh hukum agama yang telah
dihistorisasi oleh para tokoh pemikir agama adalah masalah perbudakan.
Islam tidak pernah melarang perbudakan padahal perbudakan nyata-nyata melanggar dan bertentangan dengan
hak asasi manusia yang paling mendasar. Sekelompok besar pemikir Islam menolak perbudakan, namun dalam
rangka mengakomodir pandangan al-Quran, mereka melakukan proses historisasi terhadap text Kitab Suci itu
yang kemudian menghasilkan sebuah pemahaman bahwa perbudakan diperbolehkan hanya pada fase sejarah
tertentu saja sedang pada fase lain, tidak diperbolehkan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang paling
mendasar tentang persamaan status manusia.
Dalam kerangka ini pemahaman tentang penegakan HAM dalam Islam haruslah dilandasi oleh semangat untuk
menterjemahkan ajaran-ajaran al-Quran sesuai dengan semangat zaman yang terus berkembang. Harus diakui
bahwa banyak di dalam al-Quran statemen-statemen mengenai persamaan hak yang harus dipahami secara
lebih jeli. Jika kebanyakan pemikir Muslim terdahulu memandang seorang non-Muslim umpamanya, memiliki
haksecondary sebagai ahl al-zimmah dalam sebuah Negara Islam, maka pemikir Muslim kontemporer seperti
Fahmi Huwaidi tidak demikian. Baginya, hak semua warga dalam sebuah negara adalah sama terlepas dari
agama yang dianutnya. Pandangan seperti ini sulit ditemui dalam literatur Islam kuno yang rata-rata
memposisikan non-Muslim secara diskriminatif sebagai warga negara kelas dua dengan hak-hak yang terbatas
dan kewajiban yang lebih berat.
Perlu digarisbawahi bahwa sebenarnya masalah HAM bukanlah persoalan yang berada dalam ranah Syariah,
tapi berada di bawah payung filsafat. Ini penting untuk disebutkan karena akan membawa implikasi pada cara
pandang kita tentang HAM dalam Islam. Jika kita mengatakan masalah HAM berada di dalam ranah Syariah,
maka implikasinya adalah bahwa kita tidak akan lagi memandang masalah itu sebagai persoalan spekulatif
namun sudah merupakan masalah iya dan tidak, boleh dan tidak boleh. Padalah seperti persoalanpersoalan yang serupa termasuk objektifitas nilai-nilai etika, masalah kebebasan, keberadaan Tuhan, dan
kenabian, masalah HAM berada di luar domain agama, walau sekali lagi- HAM pada dirinya merupakan nilai

yang bersifat religious. Apakah seseorang akan setuju dengan pandangan ini atau tidak, yang jelas diskursus
pemikiran Islam kontemporer berbeda dengan klasik- tentang HAM dan berbagai persoalan yang serupa
berada dalam wilayahextra-religious dan bukan intra-religious.
Kebenaran agama tidak hanya diukur secara metafisik dan teologis, tapi juga secara sosial, logis dan etis. Jika
selama ini kesempurnaan Islam hanya dipahami dari sudut pandang metafisik dan teologis, maka sejatinya
kesempurnaan Islam itu juga terletak pada sisi social, logis dan etis. Itulah sebabnya belakang ini pemahaman
Islam lebih banyak dititik beratikan pada ketiga aspek terakhir itu, dan bukan pada dua aspek pertama. Bukan
karena aspek metafisik dan teologis tidak lagi relefan, tapi karena dimensi sosial dan sebagainya lebih
menentukan apakah sebuah agama dalam era moderen ini mampu memperlihatkan dinamikanya apa tidak.
Sebuah masyarakat yang mengaku mengenal dan berpegang pada nilai-nilai agama haruslah sadar bahwa
untuk memelihara dimensi dalam dan luar agama yang mereka anut, mereka harus melakukan upaya-upaya
kongkret menyuguhkan agama itu dalam bentuk yang damai dan sejuk. Masyarakat agama karena sifatnya
yang agamis- sepatutnya tidak puas dengan kesempurnaan internal agamanya, tapi juga harus membuktikan
kesempurnaan agamanya itu secara empirik, pragmatik, dan praktis. Sesungguhnya tidak ada salahnya jika kita
katakan bahwa kebenaran dan tidak hanya kesempurnaan- sebuah agama tergantung pada kemampuannya
menterjemahkan ajaran-ajarannya ke dalam kontek sosial. Hampir semua masyarakat bersifat multi-ethnik, multireligious dan seterusnya. Agama dituntut untuk memahami karakter ini dan kemudian merumuskan langkahlangkah strategik dalam rangka mengimplementasikan ajaran-ajarannya sesuai dengan kondisi sosial
itu.Menghargai ciri khas sebuah entitas sosial, dan melindungi hak-hak asasi manusia yang ada di dalamnya
merupakan inti dari ajaran agama yang tidak hanya akan menjamin kestabilan sebuah masyarakat, tapi juga
akan mempertahankan karakter religiositasnya. Jika sebagian orang berasusmi bahwa keutuhan dan
keselamatan sebuah agama hanya dapat dipertahankan melalui formalisasi ajarannya, maka sejatinya hal itu
merupakan upaya mereduksi agama yang jauh lebih luas dari sekedar formalisasi.
Sebagai poin terakhir, saya ingin mengatakan bahwa belakangan ini ada semacam asumsi bahwa sensitifitas
terhadap isu HAM merupakan ketertundukan terhadap liberalisme relatifistik. Ini asumsi yang tidak benar dan
muncul semata-mata karena pemahaman yang salah terhadap liberalisme relatifistik. Pada sisi lain, ini justru
merupakan pelecehan terhadap agama karena merupakan pengakuan terhadap peran penting liberalisme
relatifistik dan penolakan terhadap peran agama- dalam hal penegakan HAM.
Memang benar, bahwa HAM dalam bentuk dan formatnya yang moderen diformulasikan oleh para
tokohEnlightenment yang liberal tanpa adanya keterikatan apapun terhadap agama, keyakinan kepada Tuhan,
atau pengakuan terhadap agama sebagai sumber kebenaran dan pembenaran. Benar pula bahwa pemikir
agama terlalu terlambat merespon isu HAM yang diusung oleh para tokoh Enlightenment ini. Namun harus pula
diingat bahwa keterlambatan para pemikir agama bukan tanpa sebab. Setidaknya ada dua sebab kenapa itu
terjadi. Pertama, karena para pemikir agama merasa bahwa mereka sudah memiliki khazanah pemikiran yang
cukup mengenai etika, hak asasi manusia, dan sejenisnya sehingga tidak perlu adanya pengayaan lebih
lanjut. Akibatnya, para pemikir agama tidak terpanggil untuk bergabung dengan pemikir Barat dalam rangka urun
rembuk membahas masalah HAM dan yang sejenisnya.
Kedua, karena bahasa agama dan bahasa hukum agama adalah bahasa kewajiban, dan bukan bahasa
hak. Akibatnya, kaum beragama tidak terlalu peduli pada hak ketimbang pada kewajiban. Mereka lebih
memperhatikan perintah agama dari pada apa yang dapat mereka peroleh dari agama sebagai hak. Lebih
tepatnya lagi, kaum beragama lebih tertarik untuk menjalankan kewajiban agama dalam rangka mencari hak
ketimbang sebaliknya.
Ini semua bukan berarti bahwa agama adalah anti dan bertentangan dengan konsep moderen tentang
HAM. Justru sebaliknya, ini merupakan masukan bagi mazhab-mazhab pemikiran Barat seperti liberalisme yang
justru selama ini memonopoli diskursus tentang HAM, sebuah diskursus yang secara politis praktis banyak
diterjemahkan dalam sebuah pesta disebut demokrasi.
Abdul Kadir Riyadi

Pengasuh Rubrik Telaah Akidah Majalah Tebuireng

Human Rights Watch selama tiga tahun berturut-turut dalam World Report 2012[1], World
Report 2013[2], dan World Report 2014 melansir bahwa Indonesia termasuk dalam negara yang
rentan melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), terutama dalam aspek kebebasan
beragama dan berkeyakinan.[3] Pelanggaran tersebut juga diuraikan oleh Setara Institute yang
menyatakan bahwa terdapat 216 kasus serangan terhadap kelompok minoritas agama pada tahun
2010, 244 kasus pada tahun 2011, dan 264 kasus pada tahun 2012 di Indonesia.[4] Hal ini
mencerminkan diskriminasi penyelenggara negara terhadap kelompok minoritas.[5] Mereka
didiskriminasi dan negara tidak melindunginya,[6] bahkan dalam banyak kasus, negara adalah pelaku.
[7]
Pelanggaran HAM dalam konteks kebebasan beragama dan berkeyakinan juga seringkali menjadi
pemicu dari pelanggaran hak lainnya terhadap kelompok minoritas, misalnya anak-anak dari umat
Syiah yang tak bisa sekolah karena terusir dari kampung halamannya[8] atau pengusiran paksa dan
kekerasan fisik yang dialami oleh jemaat Ahmadiyah di Nusa Tenggara Barat.[9] Padahal, HAM
memiliki prinsip saling terkait (interdependent dan interrelated) yang berarti untuk dapat
melaksanakan pemenuhan suatu hak, hak lain harus terlaksana terlebih dahulu dan di antaranya
sama sekali tidak dapat digantikan/ditukar satu dengan yang lain (indivisible).[10]
Tulisan ini akan mencoba menjelaskan mengapa pemahaman HAM dalam konteks kebebasan
beragama dan berkeyakinan penting untuk menghindari kekerasan atas nama agama, terutama
terhadap kelompok minoritas.
Antara HAM dan Agama
Hak Asasi Manusia bersumber dari hak kodrati. Hak kodrati adalah hak yang melekat kepada
manusia sejak ia dilahirkan dan merupakan hak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia.
[11] Hal tersebut tercermin di dalam pasal 1 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia yang
menyatakan bahwa:
Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama.
Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam
persaudaraan.; dan
di dalam butir a dan butir b pembukaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia yang menyatakan:
1. bahwa manusia, sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang
mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan penuh
ketaqwaan dan penuh tanggung jawab untuk kesejahteraan umat manusia,

oleh pencipta-Nya dianugerahi hak asasi untuk menjamin keberadaan harkat


dan martabat kemuliaan dirinya serta keharmonisan lingkungannya;
2. bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat
pada diri manusia, bersifat universal dan langgem, oleh karena itu harus
dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi,
atau dirampas oleh siapapun.
HAM dalam konteks Kebebasan beragama dan berkeyakinan diatur dalam pasal 18 Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia[12] (DUHAM), pasal 18 Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan
Politik[13], Deklarasi Majelis Umum PBB Tahun 1981 tentang Penghapusan Semua Bentuk
Intoleransi Dan Diskriminasi Berdasarkan Agama Atau Kepercayaan, dan Pendapat Umum PBB
Nomor 22 Tahun 1993. Hak atas kebebasan beragama merupakan hak yang bersifat nonderogable(absolut), yaitu hak yang tidak dapat dikurangi pemenuhannya dalam kondisi apapun,
termasuk dalam keadaan bahaya seperti perang sipil ataupun invasi militer. Misalnya: umat Kristiani
tetap harus dapat beribadah dengan aman setiap Hari Minggu meskipun Negara sedang berada
dalam situasi kerusuhan, seorang Muslim tetap harus dapat melaksanakan shalatlima waktu
meskipun ia sedang menjadi tawanan perang, dsb.
Agama Dalam Perspektif HAM
Keyakinan dalam konteks kebebasan beragama dan berkeyakinan terbagi dalam dua lingkup, yaitu:
(1) forum internum; dan (2) forum eksternum. Pertama, forum internum adalah ruang lingkup
internal atau kebatinan dalam diri manusia yang meliputi hak seseorang untuk secara merdeka
memiliki dan menganut sebuah agama / keyakinan berdasarkan pilihan sadarnya[14], misalnya:
keyakinan umat Kristen bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan atau keyakinan umat Islam bahwa
Muhammad SAW adalah Nabi terakhir, dsb. Kedua, forum eksternum, yaitu wilayah menjalankan
manifestasi agama atau keyakinan seseorang[15], misalnya penyembahan, nyanyian, penyembelihan,
tarian, ritual, dan lain sebagainya.
Forum internum tidak dapat dibatasi karena berkaitan dengan keyakinan internal seseorang yang ia
yakini secara mutlak dan tidak dapat diukur secara objektif, misalnya: siapa yang lebih beriman antara
X dan Y, dan karenanya harus dihargai.Apa yang dapat dibatasi adalah forum eksternum (wilayah
manifestasi) karena HAM dalam konteks kebebasan beragama dan berkeyakinan bertujuan untuk
melindungi: (1) keamanan umum; (2) ketertiban umum; (3) kesehatan umum; (4) moral masyarakat;
(5) hak dan kebebasan dasar orang lain. Maka, manifestasi dari agama yang bertentangan dengan
kelima aspek tersebut diperbolehkan untuk dibatasi pelaksanannya berdasarkan hukum sebagaimana
diatur dalam pasal 18 ayat (3) Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik.[16]
Keyakinan

apa

sajakah

yang

dilindungi

oleh

instrumen

HAM?

Semua

keyakinan

yang

pelaksanaannya tidak bertentangan dengan pasal 18 ayat (3) Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil
dan Politik. Lebih lanjut,Pasal 2 General Comment No. 22 Tahun 1993 mendeskripsikan bahwa
keyakinan mencakup keyakinan theistik, non-theistik, atheistic, maupun ketidakpercayaan terhadap
keyakinan

apapun.

Lebih

lanjut,

T.

Jeremy

Gunn

dalam Harvard

Human

Rights

Journalmenyatakan dalam konteks potensi persekusi terhadap umat beragama agama dapat
dibagi ke dalam tiga unsur, yaitu: keyakinan, identitas, dan cara hidup seseorang.[17]
Apakah dengan demikian instrumen HAM menganggap bahwa seluruh keyakinan adalah benar?
Dalil tersebut tidak tepat, karena menentukan suatu keyakinan sebagai benar atau salah bukanlah
fungsi dari instrumen HAM. HAM mengimplementasikan penghargaan keyakinan setiap orang dalam
bentuk perlindungan terhadap pelaksanaan ibadahnya, selama pelaksanaan tersebut tidak

bertentangan dengan hak asasi orang lain. HAM menghargai akidah setiap kepercayaan dan
melindungi pelaksanaannya tanpa memberikan label apakah seorang pemeluk keyakinan adalah
sesat atau bukan.
Apakah dengan demikian HAM juga membatasi penyebaran keyakinan dan hak orang lain untuk
berpindah keyakinan? Tidak. Setiap orang boleh melakukan kegiatan penyebaran agama (dakwah,
penginjilan, dsb) dengan damai[18]; selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diatur
dalam instrumen HAM (red: pasal 18 ayat (3) ICCPR). Setiap orang juga diperbolehkan untuk
berpindah keyakinan selama dilandasi oleh kesadarannya sendiri dan tanpa paksaan/ancaman.[19]
Penyebab Kekerasan
Komisi Hak Asasi Manusia PBB, badan ahli internasional yang memantau pemenuhan negara
terhadap ICCPR, menyatakan dalam pembukaan General Comment No. 22 Tahun 1993 bahwa
memandang dengan prihatin adanya kecenderungan mendiskriminasi suatu agama
atau kepercayaan atas dasar apapun, termasuk berdasarkan kenyataan bahwa mereka
mewakili minoritas agama yang mungkin menjadi subyek permusuhan dalam
komunitas agama mayoritas tertentu.[20]
Namun, di Indonesia, terdapat instrumen hukum yang membuka peluang bagi negara dan kelompok
kekerasan untuk melakukan diskriminasi terhadap keyakinan warga negaranya ketika negara
seharusnya berfungsi sebagai pelindung[21], misalnya: (1) UU PNPS 1965 tentang Pencegahan
Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang membenarkan sanksi pidana terhadap kelompokkelompok yang dinilai telah menodai agama[22]; (2) Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa
Agung, dan Menteri Dalam Negeri (No. 3/2008) yang mengatur Ahmadiyah untuk menghentikan
penyebaran penafsiran dan kegiatan keagamaan. Peraturan inilah yang kemudian memicu
tindak kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah;[23] dan (3) peraturan lain seperti SKB Rumah Ibadah
1969 dan 2006 yang mempersulit pendirian rumah ibadah dan memberikan stigma terhadap
kelompok Kristen melakukan Kristenisasi dari beberapa oknum kelompok kekerasan hanya karena
mengajukan pendirian rumah ibadah di sebuah daerah di mana banyak terdapat kelompok mayoritas.
[24]
Hakim Konstitusi Prof. Maria Farida Indrati dalam dissenting opinion (pendapat berbeda) putusan
Mahkamah Konstitusi Nomor 84/PUU-X/2012 tentang Judicial Review UU PNPS 1965 menyatakan
bahwa pengaturan mengenai penodaan agama seharusnya inkonstitusional karena dengan tegas
mendiskriminasi minoritas-minoritas agama dan akan memaksa individu-individu meninggalkan
keyakinan tradisional dan kepercayaan minoritas yang melawan keinginan mereka. Prof. Maria Farida
juga menambahkan bahwa intervensi negara terhadap forum internum bertentangan dengan asasasas HAM terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang telah tertuang di dalam Pasal 28E,
Pasal 28I, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2005 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil Politik.[25]
Kekerasan Atas Nama Agama Masih Terjadi
Wahid Institute dalam Laporan Tahunan Kebebasan Beragama / Berkeyakinan dan
Intoleransi Tahun 2013 menyatakan bahwa terdapat banyak kasus pelanggaran dan intoleransi
yang tidak terselesaikan yang mengakibatkan nasib korban semakin tidak menentu. Dalam catatan
Wahid Institute yang dipublikasikan tahun 2014 tersebut, beberapa kasus yang masih menggantung
antara lain:

1. pengabaian nasib pengungsi Ahmadiyah di Asrama Transito Mataram NTB (7


tahun);
2. pelanggaran hak rumah ibadah GKI Yasmin Bogor (5 tahun);
3. pelanggaran hak rumah ibadah umat muslim Baluplat NTT (3 tahun);
4. pelanggaran hak rumah ibadah HKBP Filadelfia Bekasi (2 tahun);
5. nasib pengungsi Syiah Sampang di Jawa Timur (1 tahun).
Seluruh pelanggaran di atas umumnya terjadi atas dasar tekanan dari oknum-oknum kelompok
mayoritas yang juga memberikan label terhadap beberapa kelompok minoritas sebagai sesat atau
berbeda.

Beberapa

kasus

juga

menampilkan

fakta

bahwa

perbuatan

tersebut

turut

dilakukan/didukung oleh negara melalui ragam kebijakannya serta peraturan yang berlaku. Padahal,
sebagaimana telah dijabarkan di bagian-bagian sebelumnya, keyakinan seseorang tidak boleh
dijadikan landasan untuk melakukan intimidasi terhadap dirinya. Diskriminasi dan intimidasi terhadap
kebebasan beragama dan keyakinan seseorang / kelompok minoritas merupakan pelanggaran HAM.
Penegakan dan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap HAM dalam konteks kebebasan
beragama dan berkeyakinan mampu menjadi kunci agar kekerasan atas nama agama tidak lagi
terulang. Penegakan dan kesadaran HAM juga merupakan kunci untuk meletakkan peran manusia
secara

proporsional

di

dalam

memelihara

kehidupan

beragama

dan

berkeyakinan

yang

damai. Karena kepalan tangan yang kita gunakan untuk memukul orang lain yang kita
hakimi sebagai sesat, tak serta merta membuat kita jadi orang yang lebih benar.
Catatan Kaki:
[1] Human Rights Watch, World Report 2012: Events of 2011, HRW: United States of America,
2012, hal. 335 337.
[2] Human Rights Watch, World Report 2013: Events of 2012, HRW: United States of America,
2013, hal. 324 326.
[3] Human Rights Watch, World Report 2014: Events of 2013, HRW: United States of America,
2014, hal. 344.
[4] Setara Institute dalam Human Rights Watch, Atas Nama Agama: Pelanggaran Terhadap
Minoritas Agama di Indonesia,HRW: United States of America, 2013, hal. 2.
[5] Pasal 2 Declaration on Elimination of All Forms of Intolerance and of Discrimination
Based on Religion and Beliefmenyatakan intoleransi dan diskriminasi terhadap kebebasan
beragama dan berkeyakinan memiliki makna: any distinction, exclusion, restriction or
preference based on religion or belief and having as its purpose or as its effect
nullification or impairment of the recognition, enjoyment or exercise of human rights and
fundamental freedoms on an equal basis
[6] H. Bashori A. Hakim, Pandangan Masyarakat Terhadap Tindak Kekerasan Atas Nama
Agama (Studi Hubungan Antara Pemahaman Keagamaan Dengan Tindak Kekerasan Atas
Nama Agama), Kementerian Agama RI: Jakarta, 2010, hal. 62.
[7] Wahid Institute, Laporan Tahunan Kebebasan Beragama / Berkeyakinan dan Intoleransi
Tahun 2013, The WAHID Institute: Jakarta, 2014, hal. 30 31.
[8]

Metro

TV, Anak

Pengungsi

Syiah

Terusir

dan

Putus

Sekolah, diakses

http://microsite.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/02/6/165260/Anak-Pengungsi-SyiahTerusir-dan-Putus-Sekolah pada tanggal 8 Agustus 2014 jam 12.57.


[9] Wahid Institute, hal. 44 45.

di

[10] Prinsip saling terkait dalam HAM mempunyai dua unsur, yaitu interdependent (saling
membutuhkan) dan interrelated(saling terhubung). Pelaksanaan prinsip ini, misalnya untuk
memenuhi hak atas kesehatan seseorang juga diperlukan hak atas pembangunan yang layak, hak
atas atas pendidikan dan hak atas informasi.
[11] Alex Tuckness, Lockes Political Philosophy dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy,
Stanford University: Stanford, 2012, hal. 5 10.
[12] Bunyi pasal 18 DUHAM: Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan
agama; dalam hal ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dengan
kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaan dengan cara mengajarkannya,
melakukannya, beribadat dan mentaatinya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan
orang lain, di muka umum maupun sendiri.
[13] Bunyi pasal 18 Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik:
(1)

Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan beragama. Hak ini

mencakup kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya


sendiri, dan kebebasan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain,
baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama dan kepercayaannya
dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengamalan, dan pengajaran;
(2)

Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk

menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.


(3)

Kebebasan menjalankan dan menentukan agama atau kepercayaan seseorang

hanya dapat dibatasi oleh ketentuan berdasarkan hukum, dan yang diperlukan untuk
melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan, atau moral masyarakat, atau hak-hak dan
kebebasan mendasar orang lain.
(4)

Negara Pihak dalam Kovenan ini berjanji untuk menghormati kebebasan orang tua

dan apabila diakui, wali hukum yang sah, untuk memastikan bahwa pendidikan agama
dan moral bagi anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.