Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN HASIL PRAKTEK LAPANGAN

PENGAMATAN VEKTOR

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

LELY
H. PUJI
H. YANTO
H. RIDWAN
UCA SUKARSA
ADITHYAR
EKA YUNI ASTUTI
INDAH LUSITASARI
SANNI IMMA

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Lingkungan yang bersih merupakan manivestasi kesehatan. Lingkungan
yang bersih dan sehat identic dengan lingkungan yang jauh dari unsur kotor dan
pengaruh pengganggu lainnya. Pengganggu ini tidak hanya dating dari sampah
yang berserakan atau tempat yang kumuh akan tetapi ligkungan yang bersih
juga harus bebas dari unsur vector hewan pengganggu maupun hewan
pembawa penyakit yang dapat mengganggu kesehatan. Jentik nyamuk apabila
tumbuh manjadi nyamuk dewasa jika menggigit manusia bisa menimbulkan
penyakit, misalnya malaria yang disebabkan gigitan nyamuk Anopheles.
Dinamakan hewan pengganggu karena beberapa hewan ini akan menyebabkan
ketidaknyamanan bagi suatu tempat tersebut. Hewan pengganggu ini biasanya
senang dengan tempat yang memiliki unsur bisa memberikan mereka
kenyamanan, salah satunya hewan ini senang berada di tempat yang kumuh.
Salah satu hewan pengganggu ini adalah tikus. Tikus termasuk dalam hewan
rodent. Rodent merupakan salah satu ordo dari binatang menyusui. Bahasa
Latinnya Rodentia. Ada sekitar 2000 sampai 3000 spesies binatang pengerat
yang ditemukan di semua benua kecuali Antarktika. Hewan pengerat memiliki
gigi depan yang selalu tumbuh dan harus diasah dengan menggerigiti sesuatu.
Keberadaan nyamuk dalam kehidupan sehari-hari sangat dekat dengan
manusia. Nyamuk tinggal dan berkembang biak disekitar lingkungan hidup
manusia, dekat penampungan air, dibawah daun, baju yang tergantung, dalam
botol bekas, pot bunga, saluran air dan lain lain. Secara umum nyamuk dikenal
dalam tiga kelompok: Aedes, Culex, Anopheles. Nyamuk sebagai penyebab
demam berdarah dan juga malaria, oleh karena itu harus ada upaya yang
dibutuhkan untuk mencegah penyakit tersebut.
Meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD) menggugah minat
masyarakat untuk melindungi diri dan memerangi penyakit tersebut, karena takut
terhadap akibatnya yang fatal.
Selain nyamuk, hewan pengganggu dan pembawa penyakit lainnya yaitu
Tikus. Kuman pes, Pasteurella, berkembang biak dalam tubuh penyakit tikus

sehingga akhirnya menyumbat tenggorokkan pinjal. Jika pinjal ingin mengisap


darah maka ia harus terlebih dulu muntah untuk mengeluarkan kuman-kuman
pes yang menyumbat tenggorokkannya. Muntahan tersebut masuk dalam luka
gigitan dan terjadi infeksi dengan Pasteurella
Kedua jenis hewan diatas dapat mengganggu kesehatan manusia
sehingga perlu diadakan pengawasan dan pengendalian atas ketiganya. Salah
satu metode pengawasan dan pengendalian nyamuk adalah visual dan ovitrap.
Pengendalian atas vektor pinjal dapat dilakukan dengan metode mekanik, yaitu
penyisiran pinjal pada bulu tikus. Selain itu pengendalian tikus juga dapat
dilakukan dengan metode mekanik, yaitu trapping.
B. TUJUAN PRAKTEK LAPANGAN
1. Tujuan umum :
Untuk mengetahui keberadaan vector nyamuk dan tikus di lokasi praktek.
2. Tujuan khusus :
a. Untuk mengetahui keberadaan jentik nyamuk
b. Untuk mengetahui keberadaan tikus melalui jejaknya
C. WAKTU DAN LOKASI PRAKTEK LAPANGAN
1. Waktu :
Hari / tanggal

: Selasa/ 8 November 2016

Pukul

: 14.30 15.00 WIB

2. Lokasi
a. Wisma Bougenvile
b. Dapur
c. Laundry
D. STRATEGI PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara dan
instrument cheklist

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. KRONOLOGIS PRAKTEK LAPANGAN


Dalam melaksanakan pengamatan, tahapan yang perlu dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
a. Pembentukan kelompok kecil.
Kelompok 2 dibagi menjadi 3 tim kecil untuk melakukan pemantauan dan
pemeriksaan jentik dan tikus di 3 lokasi yaitu Wisma Bougenville, Dapur
dan Loundri. Pembagian kelompok adalah sebagai berikut :
- Wisma Bougenville
: H. Puji, Sani Imma, Indah L.
- Dapur
: H. Ridwan, H. Yanto, Abah Uca.
- Laundry
: Lely, Adityar, Eka Y.
b. Persiapan alat dan bahan.
- checklist pemantauan jentik dan tikus.
- ATK
- Senter
- Kamera
2. Tahap Pelaksanaan
Masing-masing tim kecil melakukan pengamatan dengan memeriksa
tempat dimana diduga terdapat vektor jentik dan tikus, seperti di tempat
penampungan air, genangan air, tanaman-tanaman, kandang ayam,
halaman belakang. Peserta mencatat hasil pengamatan dalam checklist.
Jika ditemukan jentik maupun jejak tikus dicatat dengan jelas. Peserta
mendokumentasikan hasil kegiatan.
3. Tahap Pelaporan
Setelah melakukan pengamatan dan pemeriksaan, peserta menyusun
laporan kegiatan.
B. GAMBARAN UMUM LOKASI
1. Wisma Bougenville
Wisma Bougenville merupakan bangunan dengan satu lantai, dan
konon katanya adalah bangunan peninggalan Belanda. Terletak di belakang
kantor, sebelah kiri koperasi WASERDA. Lingkungan sekitar wisma terlihat
kotor, banyak ditemukan material bangunan, dikarenakan bangunan sebelah

kiri wisma sedang proses pembangunan. Wisma dalam keadaan sepi, tidak
ada penghuni, dan tidak ada petugas wisma yang bisa ditemui, sehingga
pengamatan dilakukan hanya di bagian luar wisma. Terdapat kandang ayam
di belakang wisma, dan kolam ikan yang dikelilingi taman di halaman depan.
Saluran air hujan terbuka, dan ditemukan genangan air pada botol minuman
bekas.
2. Dapur
Dapur terletak di samping ruangan Laundry dan di belakang wisma
Bougenville. Terdapat pembuangan dan pengolahan limbah dapur, serta
empang. Ruangan penyimpanan bahan makanan dipisahkan antara bahan
makanan basah dengan bahan makanan kering. Tempat penampungan air
antara lain : bak di kamar mandi, ember pencucian piring, ember
penampungan air bersih (untuk memasak).
3. Laundry
Bangunan Laundry terletak di belakang Koperasi, dan di samping
kanan dapur. Bangunan satu lantai, dengan 4 ruangan yaitu tempat
pencucian dan setrika, tempat penyimpanan linen bersih, toilet, dan ruang
petugas Laundry. Tempat penampungan air antara lain : dispenser air minum
dan ember di kamar mandi. Terdapat beberapa lemari yang sudah tidak
terpakai lagi.
C. IDENTIFIKASI LOKASI RESIKO
Proses identifikasi lokasi

resiko

yaitu

menggunakan

checklist

Pemantauan. Checlist yang digunakan adalah sebagai berikut :

Checklist Pemantauan Jentik Nyamuk :


No
1
2
3

Lokasi

Jentik
(+)

Dst

Keterangan
(-)

Checklist Pemantauan Tikus :


No

Lokasi

Tikus / jejak tikus


Ada
Tidak

Keterangan

.*)
2

3
Dst
*) ditemukan jejak / kotoran / bau tikus
Setelah checklist diisi, kemudian dilakukan penghitungan Countainer
Index (CI) dan Angka Bebas Jentik (ABJ).
No
A

Area

Potensi Vektor
Nyamuk
Tikus

Pengendalian

Dapur
Tempat
pengolahan
dan

Tempat
penyimpanan
bahan
makanan

pewadahan

Ruang

Pakai

kasa

nyamuk,
perangkap nyamuk
elektrik
Lem

TIkus,

perangkap tikus
Cuci Kamar mandi Pakai
kasa

Piring

nyamuk,
perangkap nyamuk
elektrik
Lem

Kamar mandi

Halaman
belakang

TIkus,

perangkap tikus
Pakai
kasa
nyamuk,
perangkap nyamuk
elektrik
Lem

TIkus,

Halaman

perangkap tikus
Pakai
kasa

Belakang

nyamuk,
perangkap nyamuk
elektrik
Lem

TIkus,

perangkap tikus
B

Laundry

Dispenser

Tempat

Pakai

kasa

(Laundry)

penyimpana
n pakaian
(lemari/rak)

nyamuk,
perangkap nyamuk
elektrik
Lem

TIkus,

perangkap tikus
Kamar Mandi Kamar mandi Pakai
kasa
(Laundry)

nyamuk,
perangkap nyamuk
elektrik
Lem

TIkus,

perangkap tikus
C

Wisma Bougenvil
Kandang

Selokan

Ayam

Pembersihan
tempat

minum

burung
Lem

TIkus,

perangkap tikus
Kolam diberi Ikan

Taman depan
wisma

pemakan jentik,
Lem
TIkus,

bougenvile

perangkap tikus
D. HASIL SURVEILLANCE VEKTOR WILAYAH PRAKTEK
Untuk mengetahui kepadatan vektor nyamuk pada suatu tempat,
diperlukan survei yang meliputi suvei nyamuk, survei jentik,). Data data yang
diperoleh nantinya dapat digunakan untuk melakukan pencegahan dan
pemberantasan nyamuk. Setelah dilakukan survei, didapatkan hasil sebagai
berikut :
No
1
2
3
4

Bangunan
Dapur

Lokasi
Tempat pengolahan dan
pewadahan
Ruang Cuci Piring
Kamar mandi
Halaman Belakang

Jentik
(+)

Keterangan
(-)
Toples bekas

5
6
7

Laundry
Wisma

Dispenser (Laundry)
Kamar Mandi (Laundry)
Kandang Ayam

Tempat minum

Taman

ayam
tanaman

Bougenville
8

depan

wisma

bougenvile
Jumlah

1. Container Index (CI) :


CI =

jumlah kontainer yang positif jentik


seluruh kontainer yang diperiksa.
3
CI = x 100
8

X
100%

= 37,5 %
Didapatkan hasil CI yaitu sebesar 37,5 %.
2. Angka Bebas Jentik (ABJ) :
ABJ = Jumlah bangunan yang tidak ditemukan jentik
Jumlah bangunan yang diperiksa
1
x 100
3

X
100%

= 33,3 %
Didapatkan ABJ sebesar 33,3 %.

No

Lokasi

Ruang

pencucian

dan

pencacahan (dapur)
Penyimpanan
bahan

Tikus / jejak tikus


Ada
Tidak

Keterangan

makanan

basah

dan

kering (dapur)
Ruang
pengolahan

(dapur)
Ruang

5
6

(dapur)
Kamar mandi (dapur)
Halaman

pewadahan

Ditemukan
tikus

7
8

Wisma bougenville
Ruang laundry

jejak

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Kontainer di lokasi praktek (Wisma bugenvile, dapur dan laundry) dapat
dikatakan tidak bebas jentik nyamuk, karena masih ditemukan jentik saat
dilakukan pemeriksaan dengan metode visual. Perhitungan CI yaitu 37,5%
artinya kepadatannya di lokasi ini tinggi.
Untuk hasil pengamatan vektor tikus yang ada di lokasi praktek lapangan

1.
2.
3.
4.

tidak melihat tikus berkeliaran tapi hanya menemukan lubang jejak tikus.
B. SARAN
Membuat checklist harian pemeriksaan jentik dan tikus di setiap ruangan
Menabur abate secara berkala tiap minggu
Melaksanakan ovitrap
Membuat ovitrap sebagai bentuk pengendalian perkembangan nyamuk aedes
aegypti

FOTO KEGIATAN PRAKTEK LAPANGAN