Anda di halaman 1dari 13

uan

TATA LETAK DAUN, RUMUS DAUN, DAN DIAGRAM DAUN


PRAKTIKUM III
MORFOLOGI TUMBUHAN
(AKKC 224)
TATA LETAK DAUN, RUMUS DAUN, DAN DIAGRAM DAUN
Dosen Pengasuh:
Dra. Sri Amintarti, M.Si
M. Arsyad, S.Pd, M.Pd
Asisten Dosen:
Anis
Yunida Ulfah
Disusun Oleh:
Habibah Nurhayati (A1C214012)
KELOMPOK VIIA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
MARET
2015

PRAKTIKM III
Topik
: Tata letak daun, rumus daun, dan diagram daun
: Mengenal berbagai tata letak daun pada batang, menetukan rumus daun serta
menggambar bagan dan diagram daun.
Hari/Tanggal
: Sabtu/ 7 Maret 2015
Tempat
: Laboratorium Biologi FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
1. Baki

2. Alat Tulis
B. Bahan
1. Ranting kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
2. Ranting alamanda (Allamanda cathartica L.)
3. Tumbuhan pandan (Pandanus sp)
4. Tanaman Bayam (Amaranthus spinosus)
5. Tanaman Pepaya (Carica papaya L.)

II. CARA KERJA


1. Mengamati duduk daun pada ranting, cabang, atau batang (tunggal tersebar, tunggal
berseling, berhadapan, berseling berhadapan, berkarang, roset batang, roset akar,
monospirotik, trispirotik).
2. Menghitung rumus daun: , 2/5, 3/5, dst.
3. Menggambar bagan dan diagram daun.

III.

TEORI DASAR
Daun-daun pada suatu tumbuhan biasanya terdapat pada batang atau cabangnya,
ada kalanya daun-daun berjejal-jejal pada suatu bagian batang, yaitu pada pangkal atau
bagian ujungnya. Umumnya daun-daun pada batang terpisah pada batang terpisah-pisah
dengan suatu jarak yang nyata. Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun
permulaan garis spiral tadi mengelilingi batang a kali, dan jumlah daun yang di lewati
selama itu adalah b,juga dinamakan rumus daun atau disvergensi.
Pecahan a/b selanjutnya dapat menunjukkan sudut antara dua daun berturutturut jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak antara kedua daun pun tetap dan
besarnya adalah a/b x 3600, yang di sebut sudut disvergensi, ternyata didapati pecahan a/b
dapat terdiri dari pecahan 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dan seterusnya. Untuk menjelaskan
tata letak daun dapat dilakukn dengan bagan tata letak daun dan diagram tata letak
daunnya.
A. Bagan Tata Letak Daun
Untuk membuat bagan tata letak daun, batang tumbuhan digambar sebagai
silinder dan padanya digambar membujur ortostik-ortostiknya, demikian pula pada bukubuku batangnya.
B. Diagram Tata Letak Daun
Untuk membuat diagram tata letak daun, batang tumbuhan harus di pandang
sebagai kerucut memanjang, denan buku-bukunya sebagai lingkaran-lingkaran
sempurna. Jika diproyeksikan pada bidang datar maka buku-buku tersebut akan menjadi

lingkaran-lingkaran yang konsentris dan puncak kerucut akan menjadi titik pusat
lingkaran-lingkaran tadi.
C. Spirostik dan Parastik
Pada suatu tumbuhan garis-garis ortostik yang biasanya tampak lurus ke atas,
dapat mengalami perubahan-perubahan arahnya karena pengaruh macam-macam
faktor. Perubahan sangat karakteristik ialah ortostik menjadi garis spiral yang tampak
melingkar batang pula. Dalam keadaan yang demikian, spiral genetik sukar ditentukan
dan tampaknya letak daun pada batang mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi
garis spiral tadi yang diberi nama lain spirostik.
Bagian tumbuhan yang letak daunnya cukup rapat, daunnya seakan-akan
mengikuti garis spiral ke kiri atau ke kanan. Garis spiral dengan arah putaran ke kiri dan
ke kanan menghubungkan daun-daun yang menurut ke arah samping (mendatar,
horizontal) mempunyai jarak terdekat. Setiap daun mempunyai tetangga yang terdekat,
satu ke kiri dan satunya ke kanan. Dari sudut situ pula tampak ada spiral ke kiri dan ke
kanan. Gari-garis itu disebut parastik.
IV. HASIL PENGAMATAN
A. Tabel hasil pengamatan
No.
Nama Spesies
1.
Hibiscus rosa-sinensis
2.
Allamanda cathartica L.
3.
Pandanus sp
4.
Amaranthus spinosus L.
5.
Carica papaya L.
B. Gambar, bagan, dan diagram hasil pengamatan
1. Ranting kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
a.

Gambar
Keterangan:

a.

Tangkai

b. daun
b.
Menurut literatur
Keterangan:
1. Tangkai
2. Daun

Tata Letak daun


Tunggal tersebar
Berkarang
Spirostik
Tunggal tersebar
Tunggal tersebar

Rumus daun
2/5
2/5
3/8

Sumber: Anonim a. Hibiscus rosa-sinensis


c. Bagan
d. Diagram
I.
ANALISIS DATA
1. Ranting kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
Klasifikasi:
Kingdom
:Plantae
Divisio
: Magnoliophyta
Classis
: Magnoliopsida
Ordo
: Malvales
Family
: Malvaceae
Genus
: Hibiscus
Species
: Hibiscus rosa-sinensis L.
(Sumber: Cronquist. 1981)
Pada batang tanaman Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) memiliki
susunan daun tunggal dengan tata letak daun tersebar. Tumbuhan ini mempunyai bentuk
batang bulat, upih daun tidak ada, tangkai daun silindris, sisi atas tegak pipih dan menebal
pada pangkalnya. Arah tumbuh batang tegak menuju ke atas.
1. Rumus tata letak daun : 2/5
Rumus daun merupakan perbandingan banyaknya daun yang tegak lurus yang
dikelilingi garis spiral pada batang (a) dan jumlah daun yang dilewati (b) = a/b. Rumus ini
diperoleh dengan menentukan daun pertama sebagai patokan (o), kemudian menentukan
daun di atasnya yang persis tegak lurus dengan daun pertama tadi , setelah dapat baru
menghitung jumlah daun pertama sampai daun yang tegak lurus tadi, pada bayam
terdapat 5 daun yang melingkari batang sebanyak 2 kali sehingga ditemukan rumus
daunnya 2/5.
Sudut divergensi : 2/5 x 360 = 144
Dengan menggunakan rumus daun dapat menggunakan jarak sudut antara dua
daun yang berturut-turut yaitu dikali besarnya lingkaran = a/b x 360. Sudut yang
berdekatan antara dua daun ini disebut dengan sudut divergensi . Pada ranting kembang
sepatu sudut yang dibentuk antara dua daun yang berdekatan yang besarnya selalu sama
yaitu 144.
2. Ranting alamanda (Allamanda cathartica L.)
Klasifikasi:
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Magnoliophyta
Classis
: Magnoliopsida
Ordo
: Gentianales
Family
: Apocynaceae
Genus
: Allamanda
Species
: Allamanda cathartica L.
Sumber: Anonim b. 2011.

Tanaman Alamanda memiliki daun yang ujungnya meruncing, pangkal daun tumpul,
tepi daun rata dan pada permukaan daunya licin. Tanaman alamanda termasuk dalam
golongan perdu berkayu dengan tinggi yang dapat mencapai 2 meter. Tanaman ini
bersifat evergreen (hijau sepanjang tahun). Batangnya yang sudah tua akan berwarna
cokelat karena pembentukan kayu, sementara tunas mudanya berwarna hijau. Daunnya
memiliki bentuk yang melancip di ujung dengan permukaan yang kasar dengan panjang 6
hingga 16 cm. Selain itu daun alamanda pada umumnya berkumpul sebanyak tiga atau
empat helai. Bunga alamanda berwarna kuning dan berbentuk seperti terompet dengan
ukuran diameter 5-7.5 cm. Tanaman ini memiliki bunga yang harum.
Pada tiap-tiap batang tanaman Allamanda cathartica L. terdapat empat daun yang
dengan demikian tata letak daun adalah berkarang. Oleh karenanya tidak dapat
menentukan rumus daun alamanda ini. Menurut (Gembong Tjitrosoepomo:11), tata letak
daun yang demikian ini dinamakan: berkarang (folia verticillata), dapat a.l. ditemukan
pada pohon pulai (Alstonia scholaris R. Br.), alamanda (Allamanda cathartica L.). oleander
(Nerium oleander L.). Pada tumbuhan yang tata letak daunnya berkarang tidak dapat
ditentukan rumus daunnya, tetapi pada duduk batang yang seperti ini dapat
memperlihatkan adanya ortostik-ortostik yang menghubungkan daun-daun yang tegak
lurus satu sama lain
3. Tumbuhan pandan (Pandanus sp)
Klasifikasi:
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Magnoliophyta
Classis
: Magnoliopsida
Ordo
: Pandanales
Family
: Pandanaceae
Genus
: Pandanus
Species
: Pandanus sp
(Sumber : Cronquist. 1981)
Morfologi daun pandan yaitu daun dengan ujung segitiga lancip, tepi daun dan
lapisan bawah dari pada ibu tulang daun berduri tempel (emergensia), berlilin dan hijau
tua,
daun
bentuk
pita
berpelepah.
Pandan
merupakan
segolongantumbuhan monokotil dari genus Pandanus. Sebagian besar anggotanya
merupakan tumbuh di pantai-pantai daerah tropika. Anggota tumbuhan ini dicirikan
dengan daun yang memanjang (seperti daun palem atau rumput), seringkali tepinya
bergerigi. Akarnya besar dan memiliki akar tunjang yang menopang tumbuhan ini.
Tata letak daun pada tanaman pandan mengikuti garis-garis ortostik yang telah
berubah menjadi garis spiral yang melingkari batang atau dapat dikatakan karena terjadi
pertumbuhan batang yang tidak lurus melainkan memutar, akibatnya ortostiknya ikut
memutar yang disebut spirostik. Batang tanaman pandan memperlihatkan tiga spirostik
atau disebut trispirotik. Oleh karena itu, tanaman pandan tidak dapat ditentukan rumus
daunnya.
4. Tanaman Bayam (Amaranthus spinosus)
Klasifikasi:
Kingdom
: Plantae

Divisio
: Magnoliophyta
Classis
: Magnoliopsida
Ordo
: Caryophyllales
Family
: Amaranthaceae
Genus
: Amaranthus
Species
: Amaranthus spinosus L.
(Sumber: Cronquist.1981)
Daun pada tanaman bayam letaknya berselang-seling dan pada setiap buku-buku
batang tanaman ini hanya terdapat satu daun, sehingga tata letak daun bayam adalah
tunggal tersebar (folia sparsa). Batang basah dan berair berbentuk bulat dan mempunyai
permukaan batang yang licin, tangkai daun silinder, sisi agak pipih, daun menebal pada
pangkalnya. Arah tumbuh batang tegak lurus dan tiper percabangannya adalah
monopodial yaitu batang pokok tampak jelas karena lebih besar dan lebih panjang. Sifat
batangnya sirus pendek yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas pendek selain daun.
Helaian daun bulat telur dengan susunan tulang daun menyirip, pangkal daun tumpul
dengan ujung daun yang agak membulat sedangkan tepi daunnya rata.
Oleh karena itu rumus daun tanaman ini dapat dicari. Untuk mengetahui rumus
daun bayam diambillah satu daun sebagai titik tolak, bergerak mengikuti garis yang
menuju ke titik duduk daun pada buku-buku batang di atasnya dengan mengambil jarak
terpendek, demikian seterusnya, hingga sampai pada daun yang letaknya tepat pada garis
vertikal (sejajar) di atas daun pertama yang dipakai sebagai titik tolak. Ada 5 daun yang
dilewati dari titik tolak sampai daun yang sejajar itu, tanpa menghitung daun titik tolak
dan menghitung daun yang sejajar. Juga telah dua kali mengelilingi batang bayam hingga
mencapai daun yang sejajar tadi.
Jadi untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral
tadi mengelilingi batang 2 kali, dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah 5 kali,
maka perbandingan kedua bilangan tadi akan merupakan pecahan 2/5, itulah rumus daun
(divergensi)nya. Dari rumus tersebut dapat kita cari sudut divergensinya, yaitu jarak
sudut antara dua daun berturut-turut.
Sudut divergensi:
5. Tanaman Pepaya (Carica papaya L.)
Klasifikasi:
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Magnoliophyta
Classis
: Magnoliopsida
Ordo
: Violales
Family
: Caricaceae
Genus
: Carica
Species
: Carica papaya L.
(Sumber: Cronquist:1981)
Tanaman pepaya merupakan semak berbentuk pohon dengan tipe batangherba.
Lurus, bulat silindris dengan permukaan batang memperlihatkan adanya berkas-berkas
daun dan pada sebelah dalam terdapat spons dan memiliki rongga. Arah tumbuh batang
adalah memanjat dengan tipe percabangan monodial dan merupakan tumbuhan bineal,

daun berjejal pada ujung batang dan ujung cabang yang merupakan roset batang. Pohon
pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, tumbuh hingga setinggi 5-10 m
dengan daun-daunan yang membentuk serupa spiral pada batang pohon bagian atas.
Daunnya menyirip lima dengan tangkai yang panjang dan berlubang di bagian tengah.
Bentuknya dapat bercangap ataupun tidak. Pepaya kultivar biasanya bercangap dalam
Daun pepaya merupakan daun tunggal dan pada tiap-tiap buku-buku batang
bayam terlihat hanya terdapat satu daun saja, sehingga tata letak daun bayam adalah
tunggal tersebar (folia sparsa). Untuk mengetahui rumus daun bayam diambillah satu
daun sebagai titik tolak, bergerak mengikuti garis yang menuju ke titik duduk daun pada
buku-buku batang di atasnya dengan mengambil jarak terpendek, demikian seterusnya,
hingga sampai pada daun yang letaknya tepat pada garis vertikal (sejajar) di atas daun
pertama yang dipakai sebagai titik tolak. Ada 8 daun yang dilewati dari titik tolak sampai
daun yang sejajar itu, tanpa menghitung daun titik tolak dan menghitung daun yang
sejajar. Juga telah tiga kali mengelilingi batang pepaya hingga mencapai daun yang sejajar
tadi.
Jadi untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral
tadi mengelilingi batang 3 kali, dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah 8 kali,
maka perbandingan kedua bilangan tadi akan merupakan pecahan 3/8, itulah rumus daun
(divergensi)nya. Dari rumus tersebut dapat kita cari sudut divergensinya, yaitu jarak
sudut antara dua daun berturut-turut.
Sudut divergensi:
II.
KESIMPULAN
1. Tata letak daun pada batang ada tersebar, berhadapan-bersilang, berkarang, spirostik,
dan parastik.
2. Hanya tata letak daun tersebar yang dapat diketahui rumus daunnya sehingga dapat
dibuat diagram dan bagannya, di praktikum ini hanya rantik kembang sepatu, tanaman
bayam, dan tanaman pepaya yang dapat dicari.
3. Untuk mencari rumus daun dapat dilakukan dengan perbandingan berapa kali daun yang
tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral mengelilingi batang (a) dibanding jumlah
daun yang dilewati semala itu (b). Rumus daun = a/b
4. Diagram daun merupakan diagram tata letak daun, yang dipandang sebagai kerucut
memanjang, dengan buku-buku batang sebagai lingkaran yang sempurna. Ini berpatokan
pada sudut divergensinya maupun rumus daunnya.
5. Tumbuhan bayam (Amaranthus spinosus L.) rumus daunnya a/b = 2/5, sudut
disvergensinya 2/5 x 360 = 144
6. Tumbuhan pepaya (Carica papaya L.), rumus daunnya a/b = 3/8, sudut disvergensinya 3/8
x 360 = 135
7. Tumbuhan alamanda (Allamanda cathartica L.) letak daunnya berkarang atau tersusun
dalam satu lingkaran sehingga sulit ditentukan rumus daunnya.
8. Tumbuhan pandan (Pandanus sp.) letak daunnya tersusun dalam spiral yang
memperlihatkan 3 spirostik sehingga tidak dapat ditentukan rumus daunnya.

III. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti,Sri. 2015. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. Banjarmasin: PMIPA FKIP
UNLAM.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta:Gajah Mada University Press.
Anonim a. 2012. Forum. http://community.breastcancer.org (online).
Anonim b. 2011. Deskripsi Allamanda cathartica.http://luqmanmaniabgt.blogspot.com (online).
Anonim c. 2012. Pandanus. http://www.peakoil.org.au (online).
Anonim d. 2012. Plant. http://www.hear.org (online).
Anonim e. 2012. Carica papaya. http://toptropicals.com (online).

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam suatu tumbuhan daun biasanya terdapat pada batang dan cabang-cabangnya. Ada
pula daun-daun suatu tumbuhan yang berjejal-jejal pada suatu bagian batang yaitu pada pangkal
batang atau pada ujung-ujungnya setiap tumbuhan memiliki system percabangan yang berbedabeda. Misalkan pada pohon papaya, pohon sirkaya, dan bunga soka. Dari ketiga jenis tumbuhan
tersebut terlihat jelas perbedaan system percabangan serta tata letak daun pada batang.
Dari perbedaan tata letak daun inilah maka, setiap tumbuhan memiliki system phillotaxis
yang berbeda. Dari phillotaxis ini dapat ditentukan rumus daun serta diagram duduk daun pada
tumbuhan. Untuk tumbuhan yang sejenis (misal semua pohon papaya) akan kita dapati tat letak
daun yang sama. Oleh dapat kita gunakan sebagai tanda pengenal suatu tumbuhan.
Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini akan membahas lebih lanjut mengenai tata letak
daun, bagan dan diagram tata letak daun pada tumbuhan.

1.
2.
3.
4.

1.2.Rumusan Masalah
Apakah pengertian tata letak daun (phyllotaxis)?
Bagian-bagian Jenis-Jenis PHYLLOTAXIS ?
Bagaimanakah tata letak daun pada batang?
Bagaimanakah bagan (skema) dan diagram tata letak daun?

1.
2.
3.
4.

1.3.Tujuan Masalah
Untuk mengetahui tata letak pada daun.
Untuk mengetahui Bagian-bagian Jenis-Jenis PHYLLOTAXIS.
Untuk mengetahui bagaimana tata letak daun pada batang.
Untuk mengetahui bagaimana bagan (skema) dan diagram tata letak daun.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tata Letak Daun (Phyllotaxis)
Tata letak daun atau Phyllotaxis adalah aturan tata letak daun pada batang. Pada batang
dewasa, daun tampak tersusun dalam pola tertntu dan berulang-ulang. Susunan daun pada batang
tersebut disebut duduk daun atau filotaksis. Istilah filotaksis sebenarnya merupakan istilah yang
digunakan untuk menyatakan urutan terbentuknya daun pada batang, tetapi dikarenakan urutan
daun tersebut tampak jelas setelah daun maupun batang yang ditempatinya mengalami
pendewasaan, maka istilah tersebut digunakan secara umum untuk menyatakan susunan daun
pada batang. Susunan daun dari suatu tumbuhan biasanya bersifat konstan. Susunan daun pada
batang biasanya turut ditentukan oleh banyaknya helai daun yang terbentuk dalam suatu nodus
(buku). Untuk itu, daun dapat dibentuk secara tunggal bila ada satu helai daun pada setiap buku,
berpasangan bila ada dua helai daun pada setiap buku, atau dalam karangan bila terdapat tiga
helai daun atau lebih pada setiap buku.
2.2 PHYLLOTAXIS
a. Jenis-jenis PHYLLOTAXIS
Jenis-jenis phyllotaxis ditentukan dari pola duduk daun pada buku batang. Berdasarkan
pola duduk pada daundibagi menjadi tiga yaitu:
1. Folia Spara
Pada poola yang pertama, di mana pada satu buku batang duduk hanya stu tanggkai daun. Maka
pola seperti ini dikenal sebagai pola daun duduk tersebar(folia spara). Biasanya daun tersusun
bersalang-seling. Susuna tanggkai daun dapat berselang selang teratur tau tidak teratur. Contoh
tumbuhan ini yaitu:

a.

Alang-alang (imperata cylindrica)

b. Mangga (mangifera indica)


c.

Belimbing wuluh (averhoa belimbi)

Duduk daun folia spara juga berlaku untuk daun majemuk menyirip.contonya yaitu:
a. Angsana (pterocarpus indicus)
b. Cemarai (phyllanthus arcidus)
c. Belimbing wuluh (averhoa belimbi)
Sedangkan daun folia spara majemuk menjari antara lain :

a. Wali songo (schefflera grandiflora)


b. Karet (hevea bransiliensis)
2. Folia Opposida
Pada pola kedua, setiap buku daun diduduki dua tangkai daun. Pada pola ini daun duduk
berpasang-pasangan atau berhadap-hadapan sehingga disebut juga Folia Opposida.
Contonya dapat ditemukan pada beberpa jenis tumbuhan bakau seperti ;
a. Bakau (Rhizophora mucronata)
b. Salam (syzygium polyanthum)
c.

Jambu air (eugania aquatica)

d. Jambu biji (pisdium guajava)


Ada juga beberapa daun memiliki Folia Opposida yang saling bersilangan antara dengan satu
buku dengan buku yang lainnya. Mialnya pada buku pertama , ketiga, kelima , dan seterusnya
posisi daun saling berhadapan. Pada buku kedua, keempat , kelima posisi daun yang berhadapan
memutar 900 dari posisi daun yang berada pada di atas dan di bawahnyatersebut. Duduk daun
seperti ini dinamakan brhadapan bersilangancontonya:
a.

.mengkudu (Morinda citrifolia L.)

b.

soka (Ixora poludosa Kurz.)

3. Folia Verticillata
Pada pola yang ketiga, pada setiap daun terdapat tiga atau lbih daun yang duduk di sana. Pola
seperti ini dinamankan sebagai daun yang berkarang Folia Verticillata. Pada beberapa buku
determinasi tumbuhan , pola berkarang sering di sebut karang daun. Contoh daun berkarng
dengan tiga daun dengan satu buku dapat ditemukan pada :
a.

Oleander (nerium olender)

Sedangkan tumbuhan berkarang lebih dari tiga daun pada satu buku dapat ditemukan pada :
a. alamanda (Allamanda cathartica L.),
b. Pulai (alstonia schorllis)

c. Istilah- Istilah Dalam Phyllotaxis


Beberapa istilah yang dipakai dalam phyllotaxis antara lain:
a. roset akar, yaitu jika batang amat pendek, sehingga semua daun berjejal-jejal diatas tanah,
contohnya pada lobak (Raphanus sativus L.) dan tapak liman(Elephantopus scaber L.), lidah
buaya (aloe vera),kubis (brassica aloeraccea).

tapak liman (Elephantopus scaber L.)

lidah buaya (aloe vera),

b. roset batang, jika daun yang rapat berjejal-jejal itu terdapat pada ujung batang, contohnya pada
pohon kelapa (Cocos nucifera L.) dan bermacam macam palma lainnya.
Pada cabang-cabang yang mendatar atau serong keatas, daun-daun dengan tata letak
tersebar dapat teratur sedemikian rupa pada suatu bidang datar, dan membentuk suatu pola
seperti mosaik (pola karpet). Susuna daun yang demikian itu disebut mosaik daun.

2.4 Bagan (Skema) Dan Diagram Tata Letak Daun


1.Bagan Tata Letak Daun
Batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya digambar membujur ortostikortostiknya demikian pula buku-buku batangnya. Daun-daun digambar sebagai penampang
melintang helaian daun yang kecil. Pada bagan akan terlihat misalnya pada daun dengan rumus
2/5 maka daun-daun nomor 1, 6, 11, dst atau daun-daun nomor 2, 7, 12, dst akan terletak pada
ortostik yang sama.
Gambar: bagan duduk daun menurut rumus 2/5
2.Diagram Tata Letak Daun Atau Disingkat Diagram Daun
Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut yang
memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada
setiap lingkaran berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya, seperti pada pembuatan
bagan tadi dan di beri nomor urut. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun
adalah 2/5 lingkaran, jadi setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral genetikya dalam
diagram daun akan merupakan suatu garis spiral yang putarannya semakin keatas digambar
semakin sempit.
Diagram daun menurut rumus 2/5.
3.Spirotis dan Parastik
Pada suatu tumbuhan garis-garis ortostik yang biasanya tampak lurus ke atas , dapat
mengalami perubahan-perubahan arahnya karena pengaruh macam-macam faktor. Perubahan
yang sangat karakteristik perubahan orstotik menjadi garis sepiral yang tampang melingkar pada
batang pula. Dalam keadaan yang demikan sepiral genetik sukar untuk ditentkan, dan tampaknya
letak daun pada batang mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi, yang
disini lalu diberi nama yang lain pula, yaitu spirostik.suatu spirostik terjadi biasanya karena
pertumbuhan batang tidak lurus melainkan memutar. Akibatnya ortostiknyapun ikut memutar
dan berubah menjadi spirostik tadi. Tumbuhan yang memperlihatkan sifat demikian ini misalnya:

a) Pacing (Costus speciosus smith) yang mempunyai satu spirostik, hingga daun-daunnya tersusun
seperti anak tangga pada tangga yang melingkat.
b) Bupleurum falcatum, yang mempunyai dua spirostik.
c) Pandan (Pandanus tectorius sol) yang memperlihatkan tiga spirodstik.
Selanjutnya pada tumbuhan yang letak dunnya cukup rapat satu sama lain, misalnya pada kelapa
sawit (elaesis gueensis) daun-daunya seakan akan duduk menurut garis-garis spiiral kekiri atau
ke kanan. Pada pohon ini orstotik dan spiral genetiknya amat sukar untuk ditentukan. Garis-garis
spiral dengan arah putaran melingkar batang ke kiri dan kekanan itu mengghubungkan daundaun yang menurut arah ke samping (mendatar horizontal) mempunyai jarak terdekat. Dapat
dimengerti bahwa setip daun mempunyai tetangga yang terrdekat satu disebelah kiri dan satu lagi
disebelah kanannya. Dari itu pula tampaknya ada dua spiral kekiri dan ke kanan. Garis-garis
spiral ini lah yang disebut parastik. Garis-garis spiral yang tampak pada buah nanas yang
menunjukkan aturan letak mata-mata pada buah nanas tadi adalah parastik-parastik.

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa tata letak daun(Phyllotaxis)
adalah aturan tata letak daun pada batang dan tata letak daun pada batang berlaku pada setiap
buku-buku hanya terdapat satu daun saja, tiap buku-buku batang terdapat dua daun yang
berhadap-hadapan dan setiap buku-buku batang terdapat lebih dari dua daun. Untuk mengetahui
bagan tata letak daun batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya digambar

membujur ortostik-ortostiknya demikian pula buku-buku batangnya. Daun-daun digambar


sebagai penampang melintang helaian daun yang kecil sedangkan untuk membuat diagram daun
Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut yang
memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna

DAFTAR PUSTAKA
Rosanti,dewi.2013,Morfolgi Tumbuhan,Jakarta: Erlangga
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007, Morfologi Tumbuhan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Anda mungkin juga menyukai