Anda di halaman 1dari 4

Jurnal Parasitologi FMIPA UNMUL 2016

11 Oktober 2016, Samarinda, Indonesia

PENGAMATAN PLATYHELMINTHES (Fasciola hepatica dan


Taenia sp.)
FMIPA UNMUL 2016
Berty Veibrita S1, Minati Diah Permata Sari 2*
1

Laboratorium Anatomi Hewan dan Mikroteknik, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Mulawarman
2
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Mulawarman
*Corresponding Author: minatidiah21@gmail.com

Abstrak. Platyhelminthes atau cacing daun adalah cacing pipih bertubuh lunak simetris bilateral yang dapat
hidup bebas juga sebagai parasit. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui bentuk keseluruhan
morfologi dari cacing platyhelminthes (Fasciola hepatica dan Taenia sp.) dan daur hidupnya sebagai parasit.
Metode yang digunakan yaitu pengamatan langsung dengan menggunakan bahan preparat awetan Taenia sp.
dan Fasciola hepatica. Hasil pengamatan yang didapatkan yaitu pada Taenia sp. dan Fasciola hepatica
diamati bagian posterior, anterior dan sucker. Taenia sp. mempunyai bentuk sucker globular.
Kata-Kata Kunci: Platyhelminhes, Fasciola bagian kepalanya. Bintik mata tersebut mengandung
hepatica,Taenia sp.,simetris bilateralPendahuluan pigmen yang disebut oseli. Indra peraba pada Planaria
Asal nama Platyhelminthes berasal dari bahasa disebut aurikula (telinga), ada juga yang memiliki
yunani, yaitu 'platy' yang berarti pipih dan 'helminthes'organ keseimbangan dan organ untuk mengetahui arah
yang berarti cacing. Plathyhelmintes (cacing pipih) ini aliran air (reoreseptor)[4].
berbentuk pipih, lunak, dan simetri bilateral. Dapat Platyhelminthes bisa berreproduksi dengan cara
hidup bebas di air tawar atau air laut, misalnya, aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan
Planaria dan sebagai parasit pada hewan atau manusia, dengan pembelahan tubuh. Tiap-tiap hasil pembelahan
misalnya, cacing hati. Cacing ini tidak mempunyai akan meregenerasi bagian tubuh yang hilang. Cara
saluran
pencernaan
makanan
dan
anus.
reproduksi aseksual tersebut biasanya dilakukan oleh
Platyhelminthes ada yang hidup bebas ada juga yang
Tubellaria sp. Platyhelminthes juga bisa bereproduksi
hidup sebagai parasit. Platyhelminthes kelas
Trematoda hidup sebagai parasit di tubuh inangnya secara seksual dengan cara perkawinan silang
(endoparasit) pada siput air, sapi, babi bahkan meskipun cacing pipih bersifat hermafrodit. Zigot dan
kuning telur yang terbungkus kapsul akan menempel
manusia[1].
Tubuh Platyhelminthes memiliki tiga lapisan pada batu atau tumbuhan, kemudian menetas menjadi
[5]
embrional, yaitu ektoderma, mesoderma, dan embrio yang mirip induknya .
endoderma.
Endoderm
membatasi
rongga Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui
keseluruhan
morfologi
dari
cacing
gastrovaskuler. Diantara ekstoderm dan endodermbentuk
terdapat lapisan mesoderm. Mesoderm terdiri dariplatyhelminthes (Fasciola hepatica dan Taenia sp.)
jaringan ikat yang longgar. Pada mesoderm terdapat dan daur hidupnya sebagai parasit.
organ-organ misalnya organ kelamin jantan dan
betina[4].
Cacing memiliki saluran pencernaan dari mulut,Metode
faring, menuju kerongkongan. Akan tetapi, cacing Bahan yang digunakan yaitu preparat awetan
pipih tidak memiliki saluran pencernaan. Cacing pipih Taenia sp. dan Fasciola hepatica. Cara kerja dalam
hanya memiliki usus yang bercabang-cabang menuju percobaan ini yaitu disiapkan mikroskop, diletakkan
seluruh tubuh sehingga peredaran makanan tidakpreparat awetan Taenia sp. dan Fasciola hepatica
melalui pembuluh darah, tetapi langsung diedarkandiatas meja sedian mikroskop selanjutnya diamati
dan diserap tubuh dari cabang usus tersebut. Sistem dengan perbesaran awal 4 x 10 dan diperbesar sesuai
ini disebut dengan sistem pencernaan gastrovaskuler[2].kebutuhan. Digambar pada kertas yang telah
Platyhelminthes tidak memiliki anus atau sistem disediakan dan diberi keterangan gambar.
pembuangan. Pengeluaran dilakukan melalui mulut
Hasil dan Pembahasan
sedangkan sisa makanan berbentuk cair dikelurkan
Dari praktikum yang dilakukan, didapatkan hasil
melalui permukaan tubuhnya. Sistem saraf hampir
sebagai berikut:
sama dengan sistem saraf pada Coelenterata, dapat
bergerak aktif karena adanya sistem saraf dan sistem
indra. Pada cacing hati terdapat dua bintik mata pada

Jurnal Parasitologi FMIPA UNMUL 2016


11 Oktober 2016, Samarinda, Indonesia
bermigrasi ke saluran empedu pada hati inang yang
baru untuk memulai daur hidupnya[3].

Gambar 1.1 Fasciola hepatica


Perbesaran 4 x 10
Keterangan : 1. Anterior, 2. Posterior, 3. Sucker

Klasifikasi
Gambar 1.2 Taenia sp.
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Perbesaran 4 x 10
Kelas : Trematoda
Keterangan : 1. Anterior, 2. Sucker, 3. Posterior
Ordo
: Prosostomata
Klasifikasi :
Famili : Fascioloidea
Kingdom : Animalia
Genus : Fasciola
Filum : Platyhelminthes
Spesies : Fasciola hepatica[2]
Kelas
: Cestoda
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah kami Ordo
: Cyclophyllidea
lakukan, cacing hati (Fasciola hepatica) memiliki ciriFamily : Taeniidae
berupa tubuh pipih, dan tidak berongga, berukuranGenus : Taenia
kecil sehingga harus diamati melalui mikroskop.Spesies :Taenia sp.[5]
Karena cacing hati memiliki tubuh yang Berdasarkan hasil pengamatan yang telah kami
pipih,sehingga cacing ini dimasukkan kedalam filumlakukan, cacing Taenia sp. memiliki ciri berupa tubuh
Plathyhelmintes. Pengamatan cacing hati melaluipipih, dan tidak berongga, berukuran cukup panjang.
mikroskop dengan perbesaran 4 x 10. PadaKarena cacing ini memiliki tubuh yang pipih,sehingga
pengamatan, bagian tubuh cacing yang teramati cacing
ini
dimasukkan
kedalam
filum
adalah bagian sucker (penghisap), tubuh cacingPlathyhelmintes. Pengamatan cacing Taenia sp.
berwarna oranye tua dengan bercak-bercak hitam dan melalui mikroskop dengan perbesaran 4 x 10. Pada
abu-abu. Bercak abu-abu tersebut merupakan sel api pengamatan, bagian tubuh cacing yang teramati adalah
pada cacing hati.
bagian sucker (penghisap), tubuh cacing berwarna
Menurut literatur, Fasciola hepatica berbentuktransparan.
pipih seperti daun. Cacing dewasa berwarna coklat Menurut literatur, Taenia saginata adalah salah
abu-abu dengan bentuk seperti daun, pipih, melebar satu cacing pita yang berukuran besar dan panjang
dan lebih melebar keanterior dan berakhir dengan terdiri atas kepala yang disebut skoleks, leher dan
tonjolan berbentuk conus. Ukuran tubuh cacingstrobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas
dewasa dapat mencapai panjang 30 mm dan lebarnyaproglotid, sebanyak 1000 2000 buah. Panjang cacing
13 mm. Mempunyai batil isap mulut (oral sucker) dan4 12 meter atau lebih. Skolek berbentuk globular
batil isap perut (ventral sucker) yang besarnya hampiryang mempuyai ukuran 1-2 mm. Mempunyai 4 batil
sama. Saluran pencernaan bercabang-cabang sampaihisap. Tidak mempunyai kait. Termasuk cacing
ke ujung distal sekum. Testis dan kelenjar vitelin juga hemaprodit. Lubang kelamin letaknya selang seling
bercabang-cabang[2].
pada sisi kanan atau kiri strobila. Strobila terdiri atas
rangkaian proglotid yang belum dewasa (imatur) yang
Siklus hidup Fasciola hepatica dimulai dari telurdewasa (matur) dan yang mengandung telur atau
keluar ke alam bebas bersama feses hewan ternak.disebut gravid. Pada proglotid yang belum dewasa,
Bila menemukan habitat basah. telur menetas dan belum terlihat struktur alat kelamin yang jelas.
menjadi larva bersilia, yang disebut Mirasidium.Sedangkan pada proglotid yang dewasa terlihat
masuk ke dalam tubuh siput Lymnea akan tumbuh struktur atau alat kelamin seperti folikel testis yang
menghasilkan
Sporokista.
Sporokista
searaberjumlah 300 400 buah, tersebar di bidang dorsal[3].
partenogenesis akan menghasilkan Redia. Redia Siklus hidup Taenia dimulai dari didalam usus
secara paedogenesis akan membentuk serkaria.manusia terdapat proglotid yang sudah masak yakni
Serkaria meninggalkan tubuh siput menempel pada yang mengandung sel telur yang telah dibuahi
rumput dan berubah menjadi metaserkaria.(embrio). Telur yang berisi embrio ini keluar bersama
Metaserkaria
termakan
oleh
hewan
ternakfeses. Bila telur ini termakan sapi, dan sampai pada
berkembang menjadi cacing muda yang selanjutnya usus akan tumbuh dan berkembang menjadi larva
onkoster. Larva onkoster menembus usus dan masuk

Jurnal Parasitologi FMIPA UNMUL 2016


11 Oktober 2016, Samarinda, Indonesia
ke dalam pembuluh darah atau pembuluh limpa,terhadap penderita. Lakukan kewaspadaan enterik
kemudian sampai ke otot lurik dan membentuk kista pada institusi dimana penghuninya diketahui ada
yang disebut Cysticercus bovis (larva cacing). Kistamenderita infeksi Taenia sp. atau Fasciola sp. untuk
akan membesar dan membentuk gelembung yang mencegah terjadinya cysticercosis. Daging sapi atau
disebut Cysticercus (sistiserkus). Manusia akandaging babi yang dibekukan pada suhu di bawah
tertular cacing ini apabila memakan daging sapi minus 5oC (23oF) selama lebih dari 4 hari dapat
mentah atau setengah matang. Dinding Cysticercusmembunuh cysticercus. Radiasi dengan kekuatan 1
akan dicerna di lambung sedangkan larva dengankGy sangat efektif. Pengawasan terhadap bangkai sapi
skoleks menempel pada usus manusia. Kemudian atau bangkai babi hanya dapat mendeteksi sebagian
larva akan tumbuh membentuk proglotid yang dapatdari bangkai yang terinfeksi; untuk dapat mencegah
menghasilkan telur. Bila proglotid masak akan keluar penularan harus dilakukan tindakan secara tegas untuk
bersama feses, kemudian termakan oleh sapi. membuang bangkai tersebut dengan cara yang aman,
Selanjutnya telur yang berisi embrio tadi dalam ususmelakukan iradiasi atau memproses daging tersebut
sapi akan menetas menjadi larva onkoster. Setelah itu untuk dijadikan produk yang masak. Jauhkan ternak
larva akan tumbuh dan berkembang mengikuti siklusbabi kontak dengan jamban dan kotoran manusia[6].
hidup kembali seperti diawal[4].
Kesimpulan
Taeniasis merupakan penyakit yang disebabkan
Pada praktikum ini dapat disimpulkan bahwa pada
oleh cacing Taenia sp.. Cacing ini merupakan cacing
Taenia sp. dan Fasciola hepatica diamati bagian
pita dari sapi. Hospes definitif dari cacing pita Taenia posterior, anterior dan sucker. Taenia sp. mempunyai
sp. adalah manusia, sedangkan hewan memamah biakbentuk sucker globular.
dari keluarga bovidae, seperti sapi, kerbau dan lainnya
adalah hospes perantara. Penyebaran dari cacing ini Refrensi
kosmopolit. Fasciolosis adalah penyakit cacing[1] Brotowidjojo, M.D. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta:
Erlangga.
penting yang disebabkan oleh dua trematoda Fasciola
hepatica dan Fasciola gigantica. Penyakit ini[2] Jutje S Lahay. 2006. Zoologi Invetebrata.
Makassar: Universitas Negeri Makassar
disebabkan oleh trematoda yang bersifat zoonosis. F.
hepatica
adalah
ini
menimbulkan
banyak[3] Hairani, Budi dan Annida. 2012. Insidensi
Parasit Pencernaan pada Anak Sekolah Dasar di
kekhawatiran, karena distribusi dari kedua inang
Perkotaan dan Pedesaan di Kabupaten Tanah
definitif cacing sangat luas dan mencakup mamalia
Bumbu Kalimantan Selatan. Jurnal Epidemiologi
herbivora, termasuk manusia Siklus hidup termasuk
dan Penyakit Bersumber Binatang, Volume 4(2)
siput air tawar sebagai hospes perantara parasit[6].
Pencegahannya
dapat
dilakukan
dengan[4] Hall, H.T.B. 1977. Deseases and Parasites of
Livestock in The Tropic. First Edition. London:
meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui
Longman Group Ltd.
penyuluhan kesehatan untuk mencegah terjadinya
[5]
Kadarsan, S. 2005. Binatang Parasit. Bogor:
pencemaran atau kontaminasi tinja terhadap tanah, air,
Lembaga Biologi Nasional- LIPI.
makanan dan pakan ternak dengan cara mencegah
[6]
Soedarto, 2011. Buku Ajar Parasitologi
penggunaan air limbah untuk irigasi. Dianjurkan
Kedokteran. Jakarta: CV Agung Seto
untuk memasak daging sapi atau daging babi secara
sempurna. Lakukan diagnosa dini dan pengobatan

LAMPIRAN