Anda di halaman 1dari 18

PEROKSISOM DAN PENELITIAN TERKAIT

Disususn Oleh :
MUSPIKAWIJAYA/0402515053
USMAN/0402515085
HAS SABDHOSIH/0402515090
UMI FADLILAH/0402515066

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA/KONSENTRASI BIOLOGI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2016
PEROKSISOM
Peroksisom adalah kompartemen metabolik terspesialisasi yang dibatasi oleh membran
tunggal. Peroksisom mengandung enzim-enzim yang mentransfer hidrogen dari berbagai
substrat ke oksigen (

O2

), menghasilkan hidrogen peroksida

H 2 O2
) sebagai produk

sampingan, yang menjadi sumber nama organel tersebut.


Reaksi-reaksi ini mungkin memiliki banyak fungsi yang berbeda. Beberapa
peroksisom menggunakan oksigen untuk memecah asam lemak menjadi molekul-molekul
yang lebih kecil yang kemudian dapat ditranspor ke mitokondria, tempat molekul-molekul
tersebut digunakan sebagai bahan bakar untuk respirasi seluler.
Peroksisom di hati mendetoksifikasi alkohol dan senyawa-senyawa berbahaya lain
dengan cara mentransfer hidrogen dari racun-racun itu ke oksigen.

H 2 O2

yang dibentuk

peroksisom sendiri bersifat toksik, namun organel itu juga mengandung sejenis enzim yang
mengubah

H 2 O2

menjadi air.

Berbeda dengan lisosom, peroksisom tidak muncul melalui pertunasan dari sistem
endomembran. Peroksisom tumbuh menjadi besar dengan cara menggabungkan proteinprotein yang terutama dibuat di sitosol, lipid yang dibuat di RE, dan lipid yang disintesis di
dalam peroksisom itu sendiri. Jumlah peroksisom dapat bertambah dengan cara pembelahan
menjadi dua ketika telah mencapai ukuran tertentu.
Peroksisom adalah organel yang ditemukan di hampir semua sel eukariotik yang
terbungkus oleh membran tunggal dari lipid yang mengandung protein reseptor. Peroksisom
awalnya diidentifikasi sebagai komponen untuk memproduksi hidrogen peroksida, degradasi
hidrogen peroksida, dan metabolisme asam lemak, yang merupakan fungsi umum untuk
hampir semua organisme.

Peroksisom terlibat dalam proses metabolisme asam lemak, asam amino, dan
biosintesis plasmalogens, yaitu efek fosfolipid yang penting untuk fungsi otak mamalia
dan paru-paru. Peroksisom tidak memiliki genom dan mengandung sekitar 50 enzim, seperti
katalase dan urea oksidase yang mengkristal di pusatnya. Peroksisom mampu beradaptasi
dengan kondisi yang berubah-ubah. Peroksisom pertama kali dikenal sebagai organel oleh
sitologis dari Belgia Christian de Duve pada tahun 1967 setelah pertama kali dijelaskan oleh
mahasiswa doktor dari Swedia, J. Rhodin pada tahun 1954.
1. Struktur Peroksisom
Untuk mengetahui struktur dan fungsi peroksisom, teknik sentrifugasi gradient
kepadatan (isodensity gradient centrifugation) tidaklah memadai karena relative kecilnya
perbedaan kepadatan antara lisosom dan peroksisom. Untuk itu dilakukan injeksi dengan
deterjen Triton WR- 1339 dilanjutkan dengan penggunaan mikroskop electron
(Kleinsmith dan Kish, 1988; Sheeler dan Bianchii, 1980). Hasilnya menunjukkan bahwa
peroksisom mengkonfirmasikan identitas yang unik. Bentuknya kecil seperti bola kasar,
berukuran antara mitokondria dan ribosom. Karena ukuran yang kecil inilah (0.2 2 m),
bersama-sama dengan glioksisom maka peroksisom digolongkan dalam benda-benda
mikro. Peroksisom mempunyai struktur yang terdiri dari kristal-kristal padat dan pekat yang
terbungkus oleh satu lapis membran unit.
2. Fungsi Peroksisom
Fungsi utama peroksisom adalah menyederhanakan rantai asam lemak yang panjang
melalui beta oksidasi. Dalam sel hewan, asam lemak yang sangat panjang menjadi rantai
medium asam lemak, yang kemudian dibawa ke mitokondria dan akhirnya dipecah menjadi
karbon dioksida dan air. Dalam sel tanaman, proses ini hanya untuk peroksisom.
Reaksi pertama dalam pembentukan plasmalogen dalam sel-sel hewan juga terjadi di
peroksisom. Plasmalogen adalah fosfolipid terbanyak di selubung mielin. Kekurangan
plasmalogens menyebabkan kelainan di bagian selubung mielin pada sel saraf, yang
merupakan salah satu alasan mengapa gangguan pada peroksisom mempengaruhi sistem saraf.
Peroksisom juga berperan dalam produksi asam empedu yang penting untuk pencernaan

lemak dan vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A dan K. Gangguan kulit adalah
kelainan genetik yang mempengaruhi fungsi peroksisom.
Peroksisom berisi enzim oksidatif, katalase, asam amino, dan asam urat. Namun enzim
asam urat terdapat pada manusia, dan dapat mengakibatkan penyakit yang dikenal sebagai
asam urat yang disebabkan oleh akumulasi asam urat. Enzim tertentu dalam peroksisom,
dengan menggunakan molekul oksigen dan menghapus atom hidrogen, menghasilkan
hidrogen peroksida (H2O2) yang beracun.
Enzim katalase yang terdapat di dalam peroksisom menggunakan H 2O2 untuk
mengoksidasi substrat lainnya, seperti fenol, asam format, formaldehida, dan alkohol. Proses
ini akan menghilangkan hidrogen peroksida yang beracun tersebut. Reaksi ini sangat penting
dalam hati dan sel-sel ginjal, dimana peroksisom mendetoksifikasi berbagai zat-zat beracum
yang masuk ke dalam darah. Sekitar 25% etanol pada minuman keras teroksidasi dengan cara
ini. Selain itu, ketika kelebihan H2O2 di dalam sel, enzim katalasi mengubahnya melalui reaksi
ini.
Pada tanaman yang lebih tinggi tingkatannya, peroksisom juga berisi antioksida. Ini
membuktikan bahwa peroksisom menghasilkan superoksida (O2-) dan nitrat oksida (NO).
Peroksisom pada sel tumbuhan terpolarisasi ketika melawan jamur penetrasi.
3. Reaksi di dalam Peroksisom
Peroksisom menggunakan oksigen (O2) dan hidrogen peroksida (H2O2) untuk
melakukan reaksi oksidatif. Enzim-enzim dalam peroksisom ini menggunakan molekul
oksigen untuk melepaskan atom hidrogen dari substrat organik (R) tertentu dalam suatu reaksi
oksidatif yang menghasilkan hidrogen peroksida (H2O2).
H2O2 dimanfaatkan oleh enzim katalase untuk mengoksidasi substrat lain (fenol, asam
format, formaldehida, dan alkohol). Reaksi oksidasi ini berperan untuk mendetoksifikasi
bermacam-macam molekul racun dalam darah. Penumpukan H 2O2 diubah oleh katalase
menjadi O2.

Salah satu fungsi penting dari reaksi oksidatif yang dilakukan di peroksisom adalah
pemecahan molekul-molekul asam lemak dalam proses yang disebut beta-oksidasi. Oksidasi
asam lemak diikuti pembentukan H2O2 yang berasal dari oksigen. H2O2 akan diuraikan oleh
katalase dengan cara diubah menjadi molekul H2O atau dioksidasi oleh senyawa organik lain.
Enzim-enzim pada peroksisom selain katalase berfungsi mengoksidasi substrat untuk
menghasilkan hydrogen peroksida (H2O2) seperti pada persamaan (1). Selanjutnya enzim
katalase menguraikan hydrogen peroksida (H2O2) menjadi air (H2O) dan oksigen (O2)
seperti pada persamaan (2) dan (3). Reaksi selengkapnya adalah sebagai berikut (Giese,
1974) :
RH2 + O2

R + H2O2

H2O2 + H2O2

O2 + 2 H2O (model katalitik)

(1)

(2)

katalase
RH2 + H2O2

R + 2 H2O (model peroksidatik)

(3)

katalase
4. Pembentukan Peroksisom
Ada dua Ada dua teori yang menerangkan bagaimana peroksisom dibentuk dan
dihasilkan oleh sel. Teori pertama yang disebut model klasik menyatakan bahwa
protein peroksisom disintesis dengan bantuan ribosom yang menempel pada endoplasmik
retikulum, kemudian protein peroksisomal tersebut masuk ke dalam sisternae dari
endoplasmik retikulum dan membentuk kantung (ekor) yang selanjutnya menggenting serta
akhirnya memisahkan diri membentuk peroksisom bebas.
Teori kedua menyatakan bahwa protein peroksisomal disintesis dengan bantuan
ribosom bebas, kemudian protein peroksisomal tersebut dibebaskan ke sitoplasma dan
berkembang menjadi peroksisom.

Peroksisom dapat berasal dari retikulum endoplasma dan replikasi oleh fisi.
Peroksisom mempunyai komposisi enzim yang berbeda dalam jenis sel yang berbeda. Matriks
peroksisom diterjemahkan di dalam sitoplasma sebelum dilepas. Ada setidaknya 32 protein
peroksisom yang disebut peroksin, yang berperan dalam proses perakitan peroksisom.
Reseptor protein, peroksin PEX5 dan peroksin PEX7 mengantarkan peroksisom (mengandung
PTS1 atau urutan asam amino PTS2) dan kembali ke sitosol. Mekanisme ini disebut
mekanisme antar-jemput. Sekarang, telah ada bukti bahwa hidrolisis ATP diperlukan untuk
daur ulang reseptor untuk sitosol.
5. Keragaman Peroksisom
Peroksisom mempunyai komposisi enzim yang berbeda dalam jenis sel yang berbeda.
Peroksisom mampu beradaptasi dengan kondisi yang berubah-ubah. Contohnya, sel khamir
yang ditumbuhkan dalam gula mempunyai peroksisom yang kecil, sedangkan sel ragi yang
ditumbuhkan dalam metanol mempunyai peroksisom yang besar untuk mengoksidasi metanol.
Jika sel khamir tersebut ditumbuhkan dalam asam lemak peroksisomnya membesar untuk
memecahkan asam lemak tersebut menjadi asetil-KoA melalui beta-oksidasi.
7.1. Peroksisom Sel Hewan dan Tumbuhan
Pada tumbuhan terdapat dua macam peroksisom sedangkan pada hewan terdapat satu
macam peroksisom. Salah satu fungsi penting biosintetik dari peroksisom hewan adalah untuk
mengkatalisis reaksi pertama dari pembentukan plasmalogen. Plasmalogen merupakan jenis
phospolipid terbanyak pada myelin. Kekurangan plasmalogen ini menyebabkan myelin pada
sel saraf menjadi abnormal, karena itulah kerusakan peroksisom berujung pada kerusakan
saraf.
Peroksisom juga sangat penting dalam tumbuhan. Terdapat dua jenis peroksisom sudah
yang diteliti secara ekstensif. Tipe pertama terdapat pada daun, yang berfungsi untuk
mengkatalisis produk sampingan dari reaksi pengikatan CO2 pada karbohidrat, yang disebut
fotorespirasi. Reaksi ini disebut fotorespirasi karena menggunakan O2 dan melepaskan CO2.
Tipe peroksisom lainnya, terdapat dalam biji yang sedang berkecambah. Peroksisom kedua
ini, dinamakan glioksisom, mempunyai fungsi penting dalam pemecahan asam lemak, yang

tersimpan dalam lemak biji, menjadi gula yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman muda.
Proses pengubahan lemak menjadi gula ini dilakukan dengan rangkaian reaksi yang disebut
siklus glioksilat.
Dalam siklus glioksilat, dua molekul asetil-KoA dihasilkan dari pemecahan asam
lemak, selanjutnya digunakan untuk membuat asam suksinat. Selanjutnya asam suksinat ini
meninggalkan peroksisom dan akan diubah menjadi glukosa. Siklus glioksilat ini tidak terjadi
pada sel hewan. Hal ini menyebabkan sel hewan tidak dapat mengubah asam lemak menjadi
karbohidrat.
7.2. Reaksi Fotorespirasi Pada Sel Tumbuhan
Selama fotosintesis, CO2 diubah menjadi glukosa melalui siklus Calvin, yang dimulai
dengan penambahan CO2 ke dalam gula lima karbon, ribulosa-1,5-bifosfat. Akan tetapi,
enzim yang terlibat dalam reaksi ini kadang-kadang mengkatalisis penambahan O2 ke dalam
ribulosa-1,5-bifosfat, yang berakibat pada produksi senyawa dengan dua karbon, fosfoglikolat.
Fosfoglikolat kemudian diubah menjadi glikolat, yang kemudian ditransfer ke peroksisom,
kemudian dioksidasi dan diubah menjadi glisin. Kemudian glisin ditransfer ke mitokondria
dan diubah menjadi serin. Serin lalu dikembalikan ke dalam peroksisom dan diubah menjadi
gliserat, yang kemudian ditransfer kembali ke kloroplas.
6. Kondisi Medis yang Terkait dengan Peroksisom
Gangguan pada peroksisom adalah suatu kondisi media yang biasanya mempengaruhi
sistem saraf manusia serta banyak organ lainnya. Dua contoh umum yang terkait adalah
adrenoleukodystrophy dan gangguan biogenesis peroksisom.
8.1. Sindrom Zellweger
Sindrom Zellweger merupakan penyakit keturunan yang disebabkan oleh mutasi pada
gen yang mengkode protein integral membran peroksisom (Peroksin PEX2) sehingga tidak
dapat melakukan impor protein. Sindrom ini menyebabkan abnormalitas pada otak, hati,
ginjal, dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini belum ada pengobatannya dan

menyebabkan komplikasi pneumonia dan gangguan pernapasan, serta kematian setelah enam
bulan kelahiran.

7. Mekanisme Transfer Protein ke dalam Peroksisom


Peroksisom tidak memiliki DNA dan ribosom sehingga tidak dapat mensintesis protein
sendiri. Oleh karena itu dilakukan impor protein melalui membran. Hanya protein tertentu
yang dapat masuk ke peroksisom, yaitu protein yang memiliki sekuen tiga asam amino
spesifik (serin-lisin-leusin) pada ujung C atau ujung N (Protein Targeting Signal/PTS). Protein
reseptor impor peroksisom yang terlibat dalam transpor protein ke dalam peroksisom adalah
peroksin (PEX). Protein reseptor impor peroksisom yang larut dalam sitosol (PEX2 atau
PEX5) mengenali protein peroksisom di sitosol yang mengandung tiga sekuens asam amino
spesifik di ujung N atau ujung C. PEX2 atau PEX5 mengangkut protein ke dalam peroksisom
dengan bantuan protein membran peroksisom. Kemudian di dalam peroksisom protein
dilepaskan lalu PEX2 atau PEX5 kembali ke sitosol.

8. Fungsi Peroksisom Pada Tumbuhan


Tolbert, seorang ahli fisiologi tumbuhan dari Amerika (Prawiranata, Harran dan
Tjondronegoro, 1981) menemukan bahwa ada dua enzim utama yang amat berperan pada
peroksisom tumbuhan yaitu asam glikolat oksidase dan katalase. Pada tumbuhan fungsi
peroksisom adalah berperan dalam fotorespirasi, bersama-sama dengan dua organel sel
lainnya yaitu kloroplas dan mitokondria membentuk rangkaian kerja 3 in 1. Hal ini
mengakibatkan mengapa sering diperoleh pengamatan (dengan mikroskop elektron)
bahwa ketiga organel sel tersebut selalu terletak berdekatan satu dengan lainnya.
Fotorespirasi didefinisikan sebagai respirasi yang terjadi pada saat pencahayaan
(terang). Decker (dalam Prawiranata dkk, 1981) menyatakan bahwa fotorespirasi
berlangsung bersama-sama dengan respirasi normal. Salah satu perbedaan antara
respirasi normal dan fotorespirasi adalah responsnya terhadap konsentrasi oksigen (O2) pada
atmosfir luar, dimana respirasi normal jenuh pada konsentrasi O2 sebanyak 2 % , sedang
fotorespirasi terus meningkat hingga konsentrasi O2 udara normal )21 %). Untuk dapat

memahami tentang fotorespirasi, diperlukan pengetahuan tentang enzim RubisCO serta


mengenai biosintesa dan metabolisme asam glikolat (CH2OHCOOH).
Bergantung kepada perbandingan konsentrasi O2 dan CO2 dalam atmosfer, enzim
RubisCO dapat mengkarboksilasi atau sebaliknya mengoksidasi substrat RuBP. Bila RuBP
bergabung dengan CO2 akan masuk ke lintasan atau siklus Calvin dari fotosintesa
menghasilkan 2 (dua) molekul asam fosfogliserat (PGA), tetapi bila RuBP bergabung
dengan O2 akan masuk ke lintasan fotorespirasi menghasilkan satumolekul asam
fosfogliserat dan satu molekul asam fosfoglikolat. Asam fosfoglikolat selanjutnya
mengalami reaksi defosforilasi oleh enzim glikolat fosfatase membentuk asam glikolat.
Pembentukan asam glikolat terjadi di kloroplas. Kemudian asam glikolat menuju ke
peroksisom dan dioksidasikan oleh enzim glikolat oksidase menghasilkan asam glioksilat dan
hydrogen peroksida.
Hidrogen peroksida selanjutnya diurai menjadi oksigen dan air oleh enzim
katalase. Asam glioksilat beberapa rangkaian reaksi akan menghasilkan glisin (salah satu jenis
asam amino). Metabolisme selanjutnya terjadi dalam mitokondria, dimana 2 (dua) molekul
glisin bergabung membentuk satu molekul serin (jenis asam amino) dan juga karbondioksida
(CO2). Reaksi oleh enzim serin transhidroksimetilase ini merupakan sumber utama dari
produksi CO2 pada fotorespirasi. Serin kembali ke peroksisom dan melalui beberapa
rangkaian reaksi akan membentuk gliserat. Gliserat oleh kloroplas dengan bantuan enzim
gliserat kinase dan dengan membutuhkan satu molekul ATP akan membentuk satu molekul
asam fosfogliserat dan satu molekul ADP.

KESIMPULAN

1. Peroksisom adalah kompartemen metabolik terspesialisasi yang dibatasi oleh membran


tunggal. Peroksisom mengandung enzim-enzim yang mentransfer hidrogen dari berbagai
substrat ke oksigen (

O2

), menghasilkan hidrogen peroksida

H 2 O2
) sebagai produk

sampingan, yang menjadi sumber nama organel tersebut.


2. Peroksisom adalah organel yang ditemukan di hampir semua sel eukariotik yang
terbungkus oleh membran tunggal dari lipid yang mengandung protein reseptor.
Peroksisom awalnya diidentifikasi sebagai komponen untuk memproduksi hidrogen
peroksida, degradasi hidrogen peroksida, dan metabolisme asam lemak, yang merupakan
fungsi umum untuk hampir semua organisme.
3. Walaupun relatif kurang dikenal sebelumnya, namun fungsi peroksisom amatlah penting
dalam metabolisme tumbuhan. Bersama-sama dengan kloroplas dan mitokondria,
peroksisom berperan dalam fotorespirasi tumbuhan. Terjadinya

fotorespirasi

menyebabkan berkurangnya fotosintesa bersih (netto) dari tumbuhan. Efek negatif terhadap
fotosintesa ini lebih sering terdeteksi pada tanaman jenis C3 daripada tanaman jenis C4.

DAFTAR PUSTAKA

Neil A. Campbell dan Jane B. Reece. 2008. Biologi. Edisi Kedelapan Jilid I. Erlangga.
Jakarta.
Prawiranata, W., S. Harran dan P. Tjondronegoro. 1981. Dasar-dasar Fisiologi
Tumbuhan. Departemen Botani Fakultas Pertanian IPB, Bogor.

Penelitian Terkait Peroksisom


Peroxisome Proliferator-Activated Receptor (PPAR)-a:
A Pharmacological Target with a Promising Future
(Peroksisom Proliferator-Activated Receptor (PPAR) -a:
Sebuah target farmakologis dengan Masa Depan yang Menjanjikan)
Peroksisom reseptor proliferator-diaktifkan (PPAR) -a adalah faktor transkripsi ligan-aktif
yang milik keluarga reseptor nuklir. PPAR-a mengatur ekspresi gen yang terlibat dalam asam
lemak 0-oksidasi dan merupakan regulator utama homeostasis energi. Fibrat adalah PPAR-a
agonis dan telah digunakan untuk mengobati dislipidemia selama beberapa dekade karena
trigliserida (TG) menurunkan dan kepadatan tinggi lipoprotein kolesterol (HDL-C)
meningkatkan efek. Penelitian yang lebih baru telah menunjukkan tindakan anti-inflamasi dan
anti-trombotik dari PPAR-a agonis pada dinding pembuluh juga. Dengan demikian, PPAR-a
agonis menurunkan perkembangan aterosklerosis dengan memodulasi faktor risiko metabolik
dan dengan tindakan anti-inflamasi pada tingkat dinding pembuluh darah. Hal ini dikonfirmasi
oleh beberapa studi klinis, di mana fibrat telah terbukti mengurangi pembentukan plak
aterosklerotik dan tingkat kejadian penyakit jantung koroner (PJK), terutama pada pasien yang
menderita sindrom metabolik (MS). MS ditandai dengan sekelompok faktor risiko metabolik
yang meliputi obesitas, tekanan darah tinggi, dyslipidemia, resistensi insulin atau intoleransi
glukosa, dan keadaan prothrombotic, dan insiden di dunia Barat meningkat ke level epidemik.
Makalah ulasan ini akan fokus pada fungsi PPAR-dalam asam lemak 0-oksidasi, metabolisme
lipid, dan peradangan pembuluh darah. Selanjutnya, PPAR-a genetika, penggunaan klinis dari
PPAR-a activator.
PEROXISOME PROLIFERATOR-ACTIVATED RECEPTOR (PPAR)-a

Pada tahun 1990, Eisenmann et al. (11) menemukan bahwa proliferators Peroksisom,
kelompok heterogen senyawa, diaktifkan salah satu reseptor nuklir orphan yang mencakup
klofibrate obat hipolipidemik. nama mereka didasarkan pada pengamatan bahwa agen ini
menginduksi proliferasi peroksisom organel sel pada hewan pengerat (12). Oleh karena itu,
anak yatim reseptor nuklir bernama "Peroksisom proliferatoractivated reseptor." Manusia
PPAR-a dikloning pada tahun 1993 (13). Beberapa tahun kemudian, cDNA dari anggota lain
dari subfamili ini nuklir reseptor, PPAR-'y dan PPAR-8, dikloning (14,15). Meskipun tidak
ada anggota keluarga PPAR sebenarnya menginduksi proliferasi Peroksisom pada manusia,
nama belum berubah.
Salah

satu

reseptor

intraseluler

yang

kini

mendapat

banyak

perhatian

adalah Peroxisome proliferators-activated receptors atau PPAR. Dinamakan demikian karena


reseptor ini diaktifkan oleh suatu ligan yang dapat menginduksi proliferasi peroxisome di
hepar, suatu organel yang terlibat dalam oksidasi asam lemak. Ligan tersebut adalah golongan
fibrat, suatu senyawa yang berefek hipolipidemik. Ditemukan pertama kali pada tahun 1990
oleh Isseman dan Green ketika sedang mencari target molekuler untuk agen proliferator
peroksisom, reseptor ini terdiri dari tiga subtipe ( , , dan ) dan masing-masing memiliki
ligan, target gen, dan fungsi biologis yang berbeda. Sebagai contoh, eikosanoid leukotrien B4
adalah ligan dari PPAR, sedangkan prostaglandin J2 adalah ligan untuk PPAR (Ikawati,
2008).
MEKANISME KERJA
PPAR-a adalah faktor transkripsi ligan-aktif yang mengikat urutan DNA yang dikenal
sebagai elemen respon proliferator Peroksisom (PPRE), yang terletak di daerah promotor gen
sasaran . Sebuah PPRE biasanya terdiri dari dua mengulangi langsung enam nukleotida, spasi
oleh satu atau dua nukleotida dan sering disebut sebagai DR1 atau DR2 masing-masing.
Setelah aktivasi oleh ligan biologis atau sintetis, PPAR-a heterodimerizes dengan retinoid X
receptor (RXR) -a dan mengalami perubahan konformasi, yang memungkinkan pengikatan
PPAR-a-RXR-kendaraan ke PPRE. Ligan dari PPAR-a dan RXR-a sendiri dapat menginduksi
transcription, tetapi ketika kedua reseptor diaktifkan oleh ligan mereka pada saat yang sama,
mereka sinergis meningkatkan transkripsi gen. Selain aktivasi ligan-dependent, PPAR-a juga

bisa diatur oleh fosforilasi dua situs protein (MAP) kinase mitogen-diaktifkan terletak di
wilayah modulator reseptor. Sejumlah hormones, misalnya insulin, dapat memodulasi PPARkegiatan melalui jalur ini.

KESIMPULAN
Fibrat telah digunakan untuk waktu yang lama karena efek hipolipidemik mereka, tapi
setelah pengenalan statin lebih kuat, penggunaannya telah dibatasi. Baru-baru ini interest di
fibrat telah diperbaharui. Alasan pertama untuk ini adalah kemampuan mereka untuk
meningkatkan kadar HDL-C rendah, yang merupakan faktor risiko utama untuk
pengembangan PJK. Kedua, fibrat telah terbukti sangat efektif dalam patients dislipidemik
dengan DM tipe II atau MS, penyakit yang prevalence di negara-negara Barat meningkat
cepat dan yang sering pembuka CVD.
PPAR-y dinyatakan dalam jaringan adiposa di mana ia mengendalikan adiposit
differentiation. agonis PPAR-y, yang thiazolidinediones (TZD), meningkatkan sensitivitas
insulin, kadar glukosa yang lebih rendah, dan plasma lebih rendah TG dan tingkat FFA dengan
meningkatkan serapan mereka ke adiposit. aktivasi ganda dari kedua PPAR-a dan PPAR-y
bisa memiliki efek menguntungkan pada sejumlah aspek dari gangguan metabolisme terlihat
pada DM tipe II dan MS. Senyawa baru harus menunjukkan dalam uji klinis apakah mereka
berguna dalam pengobatan aterosklerosis dan CVD.

Pengaruh a-Tokoferol Terhadap Profil Superoksida Dismutase


dan Malondialdehida pada Jaringan Hati Tikus di Bawah
Kondisi Stres
Tutik Wresdiyati

1)

, Made Astawan 2), Diini Fithriani


Adnyane1), Savitri
Novelina1), dan Saptina Aryani1)

2)

, I Ketut Mudite

Bagian Anatomi, Histologi, dan Embriologi, Departemen Anatomi, Fisiologi,


dan
Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
Hewan tingkat tinggi, dalam kondisi makanan berlimpah akan
membakar karbohidrat untuk menghasilkan ATP. Ketika energi
(glukosa) asupan berlimpah, sintesis asam lemak ditingkatkan dan
oksidasi asam lemak berkurang. Akibatnya, kelebihan karbohidrat
diubah menjadi asam lemak, yang kemudian disimpan sebagai
triasilgliserol, di mana asam lemak yang terhubung ke gliserol
melalui ikatan ester. Triasilgliserol bersifat hidrofobik untuk sebagian
besar volume adiposit, sel-sel besar khusus untuk penyimpanan
lemak dalam jaringan adiposa. Ketika ketersediaan glukosa rendah
selama periode kelaparan, triasilgliserol yang tersimpan dalam
jaringan adiposa yang dihidrolisis untuk membebaskan asam lemak
dan dimobilisasi ke dalam sitosol. Lemak netral dikatabolisme
menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak merupakan
bahan bakar utama. Pada keadaan normal, katabolisme asam
lemak terjadi di dalam mitokondria melalui proses yang dikenal
sebagai -oksidasi. Namun, dalam kondisi kelaparan terjadi
peningkatan proses -oksidasi pada peroksisom yang pada kondisi
normal merupakan jalur minor proses -oksidasi (Orelana et
al., 1992).
Penelitian ini bertujuan
tokoferol

terhadap

profil

untuk

mempelajari

superoksida

dismutase

pengaruh
(SOD)

dan

malondialdehida (MDA) pada jaringan hati tikus di bawah kondisi

stres. Sebanyak dua puluh lima ekor tikus jantan galur Wistar
digunakan dalam penelitian ini dan dibagi menjadi lima kelompok
perlakuan yaitu (1) kelompok kontrol (tanpa perlakuan stres
maupun -tokoferol), (2) kelompok stress (perlakuan stres tanpa
pemberian -tokoferol), (3) kelompok stress yang kemudian
diberi -tokoferol, (4) kelompok perlakuan -tokoferol yang
kemudian diberi perlakuan stres, dan (5) kelompok perlakuan tokoferol sebelum dan sesudah perlakuan stress. Perlakuan stress
diberikan dengan cara puasa selama 5 hari dan berenang selama
5 menit/hari dengan pemberian air minum secara ad libitum.
Perlakuan -tokoferol diberikan secara oral dengan dosis 60
mg/Kg/BW/day selama tujuh hari.

Kondisi stres menurunkan

aktivitas SOD dan kandungan Cu,Zn-SOD, serta meningkatnya


kadar MDA jaringan hati bila dibandingkan kelompok kontrol.
Pemberian -tokoferol meningkatkan aktivitas SOD dan kandungan
Cu, ZnSOD, dan menurunkan kadar MDA dalam jaringan hati tikus.
Pemberian -tokoferol dengan cara kombinasi sebelum dan
sesudah perlakuan stress memberikan hasil yang terbaik, yakni
dapat meningkatkan kandungan Cu, Zn-SOD, dan aktivitas SOD
sebanyak 3,7 kali, serta menurunkan kadar MDA sampai 80,69%
dalam jaringan hati bila dibandingkan kelompok kontrol..
Wresdiyati dkk (2006) melaporkan bahwa dalam kondisi stres
seperti

puasa

dapat

meningkatkan

jumlah

peroksisom

berdampak pada peningkatan oksidasi di peroksisom.

yang

Dengan

makin meningkatnya aktivitas -oksidasi di dalam peroksisom


jumlah radikal bebas juga meningkat sebagai salah satu hasil
samping dari metabolisme.

Radikal bebas akan dinetralkan

menjadi produk yang lebih stabil oleh enzim antioksidan intraseluler, seperti
superoksida dismutase, katalase, dan glutathion peroksidase. Peningkatan
jumlah radikal bebas yang terus-menerus pada kondisi stres puasa akan meningkatkan

pemakaian enzim antioksidan intraseluler. Hal ini dapat menurunkan aktivitas


maupun kandungan antioksidan, seperti terlihat pada kelompok stres dengan aktivitas
SOD dan kandungan Cu,Zn-SOD yang menurun secara tajam bila dibandingkan
kelompok control.

Gambar 1. Aktivitas SOD (U/g) hati tifus perlakuan, K=kontrol, S=stres, ST=stres+tokoferol, TS= -tokoferol+stres, TST= -tokoferol+ stres+ -tokoferol