Anda di halaman 1dari 19

A.

Bencana Laut
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor
nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana dibagi ke dalam
tiga kategori yaitu:
a) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang
disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,
kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
b) Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa
nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah
penyakit.
c) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang
diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas
masyarakat, dan teror (UU RI No 24 Tahun 2007).

B.

C.

Mitigasi Kelautan
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana (UU No 4 Tahun 2008).
Mitigasi bencana merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai suatu titik
tolak utama dari manajemen bencana. Sesuai dengan tujuan utamanya, yaitu mengurangi
dan/atau meniadakan korban dan kerugian yang mungkin timbul, maka titik berat perlu diberikan
pada tahap sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama kegiatan penjinakan/peredaman atau
dikenal dengan istilah mitigasi. Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis
bencana, baik yang termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun bencana sebagai
akibat dari perbuatan manusia (man-made disaster). Mitigasi pada umumnya dilakukan dalam
rangka mengurangi kerugian akibat kemungkinan terjadinya bencana, baik itu korban jiwa
dan/atau kerugian harta benda yang akan berpengaruh pada kehidupan dan kegiatan manusia.
Untuk mendefenisikan rencana atau strategi mitigasi yang tepat dan akurat perlu dilakukan
kajian resiko (risk assessment) (BAKORNAS PBP, 2002).
Ada empat hal penting dalam mitigasi bencana, yaitu :1) tersedia informasi dan peta
kawasan rawan bencana untuk tiap jenis bencana; 2) sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman
dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana, karena bermukim di daerah rawan
bencana; 3) mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari, serta mengetahui cara
penyelamatan diri jika bencana timbul, dan 4) pengaturan dan penataan kawasan rawan bencana
untuk mengurangi ancaman bencana ( Peraturan Menteri Dalam Negeri, 2006).
Jenis Jenis Bencana Yang Dapat Terjadi Di Laut

1. Tsunami

Tsunami adalah serangkaian gelombang panjang yang timbul karena adanya perubahan dasar laut
atau perubahan badan air yang terjadi secara tiba-tiba dan impulsif, akibat gempa bumi, erupsi
gunung api bawah laut, longsoran bawah laut, ekstrusi gas dari volcanic mud, runtuhan gunung
es, ledakan nuklir, bahkan akibat terjangan benda-benda angkasa luar ke permukaan laut.
2. Gelombang Badai

Gelombang badai Yaitu Gelombang yang terbentuk oleh angin yang sangat kuat
Dengan Kecepatan angin lebih dari 91 Km/jam, Tinggi gelombang 7 meter 30

meter, Berbahaya bagi pelayaran dan pemukiman /bangunan di pantai serta Dapat
menyebabkan abrasi pantai. Contoh : Badai, typhoon / hurricane, La Nina, El nino

3. Kenaikan Permukaan Laut

Kenaikan permukaan laut adalah suatu peristiwa yang menimbulkan naiknya permukaan air laut
ke pesisir pantai kerena beberapa faktor.
4. El nina dan La nina

El-Nino adalah fenomena dimana terjadi peningkatan suhu permukaan laut yang biasanya dingin
yang menyebabkan upwelling dan biasaya kita indikasikasikan dengan kekeringan pada daerah
tersebut dan La-Nina adalah fenomena dimana terjadi pendingginan suhu permukaan laut akibat
menguatnya upwellig dan biasanya kita indikasikan dengan banjir pada daerah tersebut.
5. Banjir

Banjir adalah debit aliran air sungai yang secara relatif lebih besar dari biasanya/normalnya
akibat hujan yang turun di hulu atau di suatu tempat tertentu secara terus menerus, sehingga tidak
dapat ditampung oleh alur sungai yang ada, maka air melimpah keluar dan menggenangi daerah
sekitarnya. Selain air sungai, banjir juga dapat terjadi karena aliran air yang berasal dari laut
karena adanya bencana badai atau tsunami.
6. Abrasi Pantai

Yaitu Pengikisan (erosi) pantai oleh pukulan gelombang laut yang terus menerus terhadap
dinding pantai. Hingga saat ini luas areal yang hilang dari Brebes hingga Rembang mencapai
lebih 4.000 (ha). Rata-rata daratan yang terseret arus laut 5-30 meter per tahun. Abrasi itu
mengakibatkan rusak dan hilangnya hutan bakau (mangrove), perkebunan rakyat, areal
pertambakan, dan permukiman penduduk yang berada di bibir pantai. (WWF).

D.
1.

Mitigasi Bencana Yang Terjadi Di Laut


Bencana
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
A. Jenis Bencana
a) Bencana Alam

Bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan
oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin
topan, dan tanah longsor
b) Bencana nonAlam

Bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara
lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
c) Bencana Sosial

Bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh
manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
2. Mitigasi Bencana
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana.
a) Bentuk mitigasi :
Mitigasi struktural: membuat chekdam, bendungan, tanggul sungai, rumah tahan gempa, dll.
Mitigasi non-struktural: peraturan perundang undangan, pelatihan, dll.

b) Penanganan bencana
Kesiapsiagaan
Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian
serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU 24/2007). Misalnya: Penyiapan
sarana komunikasi, poskomando, penyiapan lokasi evakuasi, Rencana Kontinjensi, dan
sosialisasi peraturan / pedoman penanggulangan bencana.
Tanggap Darurat (response)
Upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang
ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.
Bantuan Darurat (relief)

Merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar
berupa :
- pangan,
- sandang
- tempat tinggal sementara
- kesehatan, sanitasi dan air bersih
Pemulihan (recovery)
Proses pemulihan darurat kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan
kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula. Upaya yang dilakukan adalah memperbaiki
prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar puskesmas, dll).
Rehabilitasi (rehabilitation)
Upaya langkah yang diambil setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat
memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan menghidupkan kembali
roda perekonomian.
Rekonstruksi (reconstruction)
Program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fisik, sosial danekonomi untuk
mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.

C. Mitigasi Bencana Laut


a) Tsunami

Gambar: proses terjadinya tsunami


Indonesia terletak pada zona batas empat lempeng bumi yang sangat aktif sehingga memiliki
aktivitas tektonik dan vulkanik yang sangat tinggi, oleh karena itu Indonesia mempunyai banyak

zona-zona patahan aktif dan sebaran gunung api. Sebagian patahan dan gunung api berada di
bawah laut sehingga kejadian gempa dan letusan gunung apinya berpotensi membangkitkan
tsunami. Selain dua sumber utama tsunami ini, peristiwa longsoran bawah laut yang sering
dipicu oleh kejadian gempa dan letusan gunung api juga dapat menimbulkan tsunami.
Tsunami adalah serangkaian gelombang panjang yang timbul karena adanya perubahan dasar
laut atau perubahan badan air yang terjadi secara tiba-tiba dan impulsif, akibat gempa bumi,
erupsi gunung api bawah laut, longsoran bawah laut, ekstrusi gas dari volcanic mud, runtuhan
gunung es, ledakan nuklir, bahkan akibat terjangan benda-benda angkasa luar ke permukaan laut.
Kecepatan tsunami bergantung pada kedalaman perairan, akibatnya gelombang tersebut
mengalami percepatan atau perlambatan sesuai dengan bertambah atau berkurangnya kedalaman
perairan. Dengan proses ini arah pergerakan arah gelombang juga berubah dan energi gelombang
bisa menjadi terfokus atau juga menyebar. Di perairan dalam, tsunami mampu bergerak dengan
kecepatan 500 sampai 1000 kilometer per jam. Sedangkan di perairan dangkal, kecepatannya
melambat hingga beberapa puluh kilometer per jam, demikian juga ketinggian tsunami juga
bergantung pada kedalaman perairan. Amplitudo tsunami yang hanya memiliki ketinggian satu
meter di perairan dalam bisa meninggi hingga puluhan meter di garis pantai.
Berdasarkan sumber dan jarak pembangkitannya tsunami dapat dibagi menjadi tsunami jarak
jauh (far-field tsunami) yang posisi sumbernya berjarak lebih dari 1000 km dan melewati
pinggiran paparan benua, tsunami regional (regional tsunami) dengan sumber berjarak antara 100
km sampai dengan 1000 km dan tsunami lokal (near field tsunami) yang dibangkitkan di dalam
paparan benua dengan jarak sumber kurang dari 100 km.. Bahaya tsunami dan kerusakan yang
ditimbulkan tergantung pada kondisi morfologi pantai yang didatanginya. Elevasi maksimum
rayapan bergantung pada paras muka laut (pasut) saat waktu tsunami mencapai pantai, tsunami
kecil yang terjadi pada saat pasang tinggi dapat menjangkau elevasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tsunami yang lebih besar yang tiba pada saat surut terendah. Kondisi pasut
sangat penting untuk dikaji dan dipertimbangkan dalam menganalisis tinggi jangkauan rayapan
tsunami di suatu daerah.
Kerusakan dan kehancuran karena tsunami merupakan hasil langsung dari terjangan
gelombang dan arus tsunami, sementara korban jiwa muncul karena tenggelam dalam golakan
tsunami. Arus kuat juga menyebabkan terjadinya erosi pada kaki pondasi dan rubuhnya
jembatan, menyeret rumah dan membalikkan kendaraan. Kerusakan yang cukup parah juga
disebabkan oleh puing-puing bangunan yang mengapung termasuk kapal, mobil dan pepohonan
yang dapat menjadi benda-benda berbahaya ketika menghantam gedung, dermaga dan
kendaraan. Kerusakan ikutan lainnya berupa kobaran api yang berasal dari tumpahan minyak
atau ledakan dari kapal yang hancur di pelabuhan, pecahnya tempat penyimpanan minyak di
pantai dapat menimbulkan kerusakan yang terkadang lebih parah daripada dampak langsung
gelombang tsunami. Bahaya ikutan lainnya dapat disebabkan oleh polusi kotoran dan bahan
kimia yang terangkut oleh tsunami dan mencemari sumber air bersih.
Mitigasi bencana didefinisikan secara umum bahwa segala upaya yang dilakukan untuk
mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh suatu bencana, baik sebelum, saat atau setelah
terjadinya suatu bencana. Untuk menghindari bencana tsunami perlu upaya untuk tidak

1)

2)

3)
4)

mempertemukan unsur bahaya dan kerentanan dengan cara: (i) Menjauhkan kerentanan terhadap
bahaya, misalnya memindahkan penduduk ke tempat yang aman dari bahaya; (ii) Mereduksi
bahaya sampai sekecil mungkin, sehingga bahaya tidak menerjang suatu kerentanan, misalnya
pembangunan tembok penahan tsunami. Kedua opsi ini terkadang sangat sulit untuk dilakukan
karena menimbulkan permasalahan sosial serta memerlukan biaya tinggi; kemudian (iii)
Mereduksi bahaya serta menaikan kapasitas dari suatu kerentanan dengan cara adaptif atau
akomodatif menggunakan menejemen risiko bencana.
Penerapan menajemen risiko bencana ini perlu dilakukan secara sistimatis melalui kebijakan
administratif, organisasi, kemampuan dalam operasional, strategi dan implementasi serta
kemampuan masyarakat untuk menghadapi bencana sehingga dapat mengurangi dampak bahaya
yang ditimbulkannya. Menejemen risiko bencana ini mengkaji seluruh aktivitas baik dalam
penanganan struktural (structural measures) maupun non-struktural (nonstructural measures)
untuk menghindarkan (preventif) atau untuk mengurangi (mitigasi dan preparedness) efek yang
ditimbulkan oleh bahaya tsunami. Penanganan struktural untuk tsunami meliputi sistem
perlindungan pantai dengan membangun tembok penahan ombak berupa breakwater, seawall,
dan pintu air yang dikenal sebagai hard protection, dan perlindungan dengan menggunakan
vegetasi pantai (mangrove dan coastal forest), sand dune dan terumbu karang atau dikenal sebagi
soft protection. Selanjutnya untuk penanganan non-struktural meliputi: undang-undang dan
peraturan pemerinatah; penegakan hukum; organisasi pemerintah dan non pemerintah yang
terkait dengan penanganan bencana (PMI, ambulans dan tenaga medis, pemadam kebakaran,
Karang Taruna dan lain lain); penyediaan peta bahaya dan risiko tsunami, serta peta jalur
evakuasi; konsep penataan ruang yang akrab bencana tsunami, sistem peringatan dini (TEWS),
pendidikan masyarakat, serta penyiapan fasilitas-fasilitas penyangga hidup (life line).
Dengan uraian dan penjelasan tentang tingginya frekuensi tsunami menerjang pesisir
Indonesia serta besarnya kerugian yang ditimbulkan baik jiwa manusia maupun harta benda,
serta tata cara kajian risiko dan mitigasinya, maka diharapkan kepada pemerintah pusat,
pemerintah daerah, kalangan industri dan masyarakat umum, secara sistimatis, komprehensif,
terarah dan lebih terpadu dapat:
Meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bahaya tsunami di tingkat masyarakat dan serta
memperkenalkan tindakan lokal yang perlu diambil untuk mengurangi risiko yang
ditimbulkannya.
Merangsang kewaspadaan para perencana baik di tingkat nasional dan maupun lokal untuk
mengimplementasikan perencanaan pembangunan nasional yang akrab bencana tsunami,
khususnya di daerah-daearah rawan bencana tsunami.
Membantu politisi, pemerintah, serta penentu kebijakan untuk memahami sifat dari jenis risiko
yang dihadapi oleh komunitas serta membantu memahami dampak yang ditimbulkannya.
Mendemonstrasikan cara dan arti dalam mengurangi risiko-risiko tersebut, pada lingkup
nasional dan lokal, melalui keputusan serta perencanaan yang tepat.

B. Gelombang Badai

Gambar: proses gelombang badai


gelombang badai terjadi menyusul terjadinya badai atau tiupan angn yang sangat kencang di
lautan (fenomena meteorologi), tinggi gelombangnya dapat mencapai belasan meter di daerah
dekat sumber angin, dan gelombang terus berlangsung selama angin bertiup dan reda bersama
dengan redanya tiupan angin. Berkaitan dengan mekanisme pencetusannya, fenomena
gelombang badai ini hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu yang berkaitan dengan musim
angin tertentu, dan hanya akan melanda lokasi-lokasi tertentu pula.
Fenomena gelombang badai muncul berkaitan dengan fenomena meteorologi berupa tiupan
angin yang kemungkinan waktu terjadinya relatif teratur sepanjang tahun sesuai dengan
perubahan musim. Dengan demikian, prediksi atau peringatan dini akan terjadinya gelombang
badai lebih mudah dilakukan dari pada prediksi atau peringatan dini tsunami.
Mengenai sifat merusak dari gelombang badai ini, kemampuan merusak dari gelombang
badai memang kecil bila dibandingkan dengan tsunami seperti yang melanda Propinsi Nagroe
Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004. Meskipun demikian, untuk kondisi tertentu di suatu
tempat tertentu, gelombang badi bisa cukup kuat, seperti yang terjadi pada 11 Juni 2007 di Pantai
Nobbys, Newcastle, Australia. Gelombang badai yang terjadi di kawasan pesisir itu mampu
mengkandaskan kapal yang memuat batubara seberat 30.000 ton ke pantai
C. Kenaikan Permukaan Laut

Gambar: kenaikan permukaan laut


Meningkatnya emisi gas-gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4),
dinitrooksida (N2O) dan chlorofluorokarbon (CFC) ke atmosmer bumi telah menimbulkan efek
rumah kaca (green house effect) yang menyebabkan terperangkapnya radiasi matahari yang
dipantulkan oleh permukaan bumi di dalam atmosfer, mengakibatkan temperatur permukaan
bumi dan atmosfer terus bertambah sampai mencapai keseimbangan baru. Jumlah panas yang
masuk dan keluar atmosfer tidak berubah, tetapi jumlah panas yang tersimpan di bumi dan
atmosfer semakin meningkat sehingga menaikkan temperatur permukaan bumi dan atmosfer.
Temperatur rata-rata permukaan Bumi adalah sekitar 15 C. Selama seratus tahun terakhir,
temperatur rata-rata ini telah meningkat sebesar 0,6 C. IPCC (2001) memperkirakan pemanasan
global dapat menaikkan temperatur pemukaan bumi hingga 1,4 5,8 C pada tahun 2100.
Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan,
yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan yang pada tahun 2100 diperkirakan akan
menaikkan permukaan laut dunia sekitar 9 88 cm. IPCC (2007) menyatakan sejak tahun 1961
sampai dengan 1993 permukaan laut dunia telah mengalami kenaikan dengan laju rata-rata 1,8
mm/tahun (1,3 2,3 mm/tahun). Sejak tahun 1993 sampai dengan 2003 kenaikan permuka laut
rata-rata 3,1 mm/tahun (2,4 3,8 mm/tahun). Berdasarkan penelitian yang dilakukan WWF, di
Indonesia telah terjadi peningkatan suhu 0,3 C sejak tahun 1990 dan skenario perubahan iklim
yang dilakukan WWF Indonesia dan IPCC (1999) melaporkan bahwa suhu di Indonesia akan
mengalami kenaikan sebesar 1,3 C sampai 4,6 C pada tahun 2100 dengan laju kenaikan 0,1 C
sampai 0,4 C yang akan meningkatkan kenaikan permukaan laut di Indonesia sebesar 20 100
cm dalam 100 tahun.
Pemanasan global diperkirakan memberikan pengaruh yang signifikan pada kenaikan
muka air laut di abad ke-20 ini. Dampak fisis akibat kenaikan permukaan laut antara lain
meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir karena efek pembendungan oleh adanya kenaikan
permukaan laut. Pembendungan ini mengakibatkan kecepatan aliran sungai di muara semakin
berkurang dan laju sedimentasi di muara akan bertambah yang akan mengakibatkan
pendangkalan di muara. Pendangkalan muara dan naiknya permukaan laut akan meningkatkan

frekuensi dan intensitas banjir di daerah di sekitar muara sungai. Naiknya permukaan laut akan
mengakibatkan mundurnya garis pantai akibat tergenangnya wilayah pesisir yang landai,
hilangnya daerah rawa dan meningkatnya erosi pantai. Erosi wilayah pesisir akan diperbesar
karena gelombang dapat masuk jauh ke arah darat akibat naiknya permukaan laut. Kenaikan
permukaan laut bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil. Intrusi air laut ke darat juga
merupakan masalah serius bagi daerah pesisir. Adanya pemanfaatan air tanah yang tidak
memperhitungkan keseimbangan mengakibatkan turunnya permukaan air tanah yang akan
memudahkan terjadinya intrusi air laut kedalam air tanah. Kenaikan permukaan laut juga
mengakibatkan volume air laut yang mendesak masuk ke dalam sungai akan semakin besar. Air
laut yang mendesak masuk jauh ke darat melalui sungai ini merupakan masalah bagi wilayah
pesisir yang menggantungkan air bakunya dari sungai. Terjadinya kenaikan paras muka laut juga
berdampak terhadap keamanan bangunan pantai yang ada. Kenaikan paras muka laut
meningkatkan tinggi gelombang dan akan memperbesar frekuensi overtopping bangunan pantai
sehingga tingkat keamanan bangunan pantai menjadi berkurang. Kenaikan permukaan laut juga
berdampak pada ekosistem pantai akibat kenaikan salinitasr air laut. Kenaikan salinitas air laut
yang terjadi akibat kenaikan permukaan laut akan mengakibatkan mangrove bermigrasi ke arah
darat ke daerah yang kurang asin. Spesies yang tidak tahan akan salinitas yang tinggi akan mati.
Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam termasuk naiknya permukaan
laut perlu dilakukan upaya mitigasi. Mitigasi dapat dilakukan baik secara fisik (struktural)
maupun secara non-fisik (nonstruktural). Pendekatan fisik dilakukan melalui upaya teknis, baik
buatan maupun alami, sedangkan pendekatan non-fisik menyangkut penyesuaian dan pengaturan
kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi baik fisik maupun upaya
lainnya.
Dalam usaha untuk memperkecil dampak dari kenaikan permukaan laut terdapat tiga
strategi adaptif yaitu: retreat (mundur), accomodation (akomodasi) dan protection (proteksi).
Strategi mundur adalah meninggalkan daerah yang rentan genangan akibat kenaikan permukaan
laut dan melakukan kembali penataan ruang, strategi akomodasi adalah melakukan adaptasi
terhadap perubahan lingkungan akibat genangan misalnya dengan membuat rumah panggung,
memodifikasi drainase dan lain lain, sementara strategi proteksi adalah tindakan defensif untuk
melindungi daerah pesisir terhadap rendaman, intrusi air laut dan hilangnya sumber daya alam
akibat naiknya permukaan air laut. Strategi proteksi dilakukan dengan membangun tanggul
(dikes) atau dinding pelindung pantai (seawall)
Kenaikan permukaan laut tidak hanya diakibatkan oleh pemanasan global tetapi juga oleh
faktor-faktor lain seperti pasang surut, turunnya permukaan tanah (land subsidence), gelombang
badai (storm surge) atau gelombang badai pasang (storm tide), La Nina, dan tsunami. Upaya
mitigasi bencana akibat kenaikan permukaan laut yang disebabkan oleh faktor-faktor diatas perlu
dilakukan oleh Pemerintah Daerah setiap provinsi dengan cara menyiapkan peta kerentanan dan
peta risiko rendaman akibat kenaikan permukaan laut.
D. El-Nino dan La-Nina

El-Nino, menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang teramati oleh para penduduk
atau nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur
menjelang hari natal (Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu
permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur
dan kaya akan ikan (akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak
nutrien dari dasar) menjadi sebaliknya.. Di kemudian hari para ahli juga menemukan bahwa
selain fenomena menghangatnya suhu permukaan laut, terjadi pula fenomena sebaliknya yaitu
mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini
selanjutnya diberi nama La-Nina.
Fenomena ini memiliki periode 2-7 tahun. Jadi berdasarkan hal diatas dapat kita memberi
pengertian bahwa yang dimaksud dengan El-Nino adalah fenomena dimana terjadi peningkatan
suhu permukaan laut yang biasanya dingin yang menyebabkan upwelling dan biasaya kita
indikasikasikan dengan kekeringan pada daerah tersebut dan La-Nina adalah fenomena
dimanaterjadi pendingginan suhu permukaan laut akibat menguatnya upwellig dan biasanya kita
indikasikan dengan banjir pada daerah tersebut.
Proses kejadian El Nino dan La Nina

Gambar : proses el nino


Ketika Peru mengalami musim panas, arus laut dingin Humbolt tergantikan oleh arus laut
panas. Kuatnya penyinaran oleh sinar matahari pada perairan di Pasifik Tengah dan Timur
menyebabkan meningkatnya suhu dan kelembapan udara pada atmosfer sehingga tekanan udara di
Pasifik Tengah dan Timur menjadi rendah. Hal ini diikuti oleh kemunculan awan-awan konvektif, atau
awan yang terbentuk oleh penyinaran matahari yang kuat.
Di sisi lain, di bagian Pasifik Barat awan sulit terbentuk. Daerah Pasifik Barat contohnya
adalah Indonesia, yang pada dasarnya cuacanya dipengaruhi oleh angin muson, angin pasat, dan
angin lokal walaupun sebenarnya pengaruh angin muson yang lebih kuat berasal dari daratan Asia.

Oleh karena sifat udara adalah bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah, udara
dari Pasifik Barat akan bergerak ke Pasifik Tengah dan Timur. Hal ini menyebabkan awan konvektif
di atas Indonesia bergeser ke Pasifik tengah dan Timur.
Pada La Nina, atau kebalikan dari El Nino, fenomena tersebut terjadi saat permukaan laut di
Pasifik Tengah dan Timur suhunya lebih rendah dari biasanya pada waktu-waktu tertentu. Kemudian,
tekanan udara di kawasan Pasifik Barat jadi menurun yang memungkinkan terbentuknya awan.
Sebagai akibatnya, tekanan udara di Pasifik Tengah dan Timur menjadi tinggi sehingga proses
pembentukan awan terhambat.

Gambar : proses la nina


Sementara itu, di bagian Pasifik Barat, misalnya di Indonesia, tekanan udara menjadi rendah
sehingga mudah terbentuk awan cumulus nimbus. Awan ini menimbulkan turunnya hujan lebat yang
disertai petir. Seperti yang disebutkan sebelumnya, sifat udara yang bergerak dari tekanan udara
tinggi ke tekanan udara rendah menyebabkan udara dari Pasifik Tengah dan Timur bergerak ke
Pasifik Barat. Hal ini menyebabkan awan konvektif di atas Pasifik Tengah dan Timur bergeser ke
Pasifik Barat.
Dampak El Nino dan La Nina di Indonesia
Dampak yang paling nyata dari fenomena El Nino adalah kekeringan di Indonesia yang
menyebabkan langkanya air di sejumlah daerah dan kemudian berakibat pada penurunan produksi
pertanian karena tertundanya masa tanam. Selain itu, meluasnya kebakaran hutan yang terjadi di
beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera juga diindikasikan sebagai salah satu dampak dari
fenomena El Nino tersebut. Untuk La Nina, dampak yang paling terasa adalah hujan deras yang
juga menyebabkan gagal panen pada pertanian karena sawah tergenang.
Ada juga keuntungan dari El Nino, yaitu bergerak masuknya ikan tuna yang berada di
Samudera Hindia ke selatan Indonesia. Hal itu terjadi karena perairan di timur samudera mendingin,
sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat. Akibat proses ini,
Indonesia mendapat banyak ikan tuna, sebuah berkah yang perlu dimanfaatkan.

Cara Penanggulangan atau mitigasi El-Nino dan La-Nina


Seperti yang kita ketahui bahwa El-Nino bukan gejala yang disebabkan oleh ulah manusia
El-Nino adalah peristiwa alam. Oleh sebab itu El-Nino tidak bisa dicegah maupun dihentikan,
maka kita hanya bisa mencoba mengurangi dampak yang dihasilkan oleh El-Nino. Oleh sebab

itu, tindakan yang dapat dilakukan untuk beradaptasi dengan El-Nino adalah dengan memberikan
pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat dari jauh-jauh hari. Selain itu pemerintah juga
harus mempersiapkan segala upaya untuk mencegah besarnya akibat yang dihasilkan oleh ElNino, seperti membuat gerakan hemat air karena El-Nino bisa membuat kemarau yang
berkepanjangan, mengatur tata penggunaan air, irigasi, termasuk ketersediaan air di wadukwaduk, dll.El-Nino juga bisa mengancam kehidupan nelayan tradisional di Indonesia. Menurut
yang saya baca dari beberapa situs internet mengatakan bahwa para nelayan hanya bisa pasrah
dan menunggu El-Nino berlalu karena mereka tidak mempunyai alat yang memadai untuk
menangkap ikan.
Untuk menggulangi La-Nina hal yang harus dilakukan adalah pembuatan waduk,
restorasi / reboisasi hutan yang gundul untuk memperluas resapan air, dan penertiban
pembuangan sampah di daerah sungai
E. Banjir

Gambar: proses banjir


Banjir adalah debit aliran air sungai yang secara relatif lebih besar dari biasanya/normal
akibat hujan yang turun di hulu atau di suatu tempat tertentu secara terus menerus, sehingga tidak
dapat ditampung oleh alur sungai yang ada, maka air melimpah keluar dan menggenangi daerah
sekitarnya. Selain air sungai banjir juga dapat terjadi karena aliran air yang berasal dari laut
karena adanya bencana badai atau tsunami.
Teknik pengendalian banjir harus dilakukan secara komprehensip pada daerah yang rawan terkena banjir
dan daerah pemasok air banjir. Prinsip dasar pengendalian daerah kebanjiran secara teknis dilakukan dengan
meningkatkan dimensi palung sungai sehingga aliran air yang lewat tidak melimpah keluar dari palung sungai,
manajemen yang bisa dilakukan adalah dengan membuat tanggul sungai yang memadai serta membuat waduk
atau tandon air untuk mengurangi banjir puncak. Untuk memenuhi kapasitas tampung palung sungai, upaya
lain yang bisa dilakukan seperti menambah saluran pembuangan air dengan saluran sudetan (banjir kanal atau

floodway). Disamping itu, pengetatan larangan penggunaan lahan di bantaran sungai untuk bangunan, apalagi
di badan sungai juga diperlukan, serta larangan pembuangan sampah ke sungai atau saluran drainase.
Berdasarkan KepPres No. 32/1990 dan PP No. 47/1997, sempadan sungai yang harus merupakan kawasan
lindung adalah lebar minimum dari bibir kiri-kanan sungai ke arah darat yang berada : di luar pemukiman :
100 m, anak sungai : 50 m, daerah pemukiman : 10 15 m, bertanggul (dari tepi luar tanggul) : 5 m

1)
2)
3)
4)
5)

6)
7)
8)
9)
10)
11)
12)
13)
14)

Teknik pengendalian banjir di daerah kebanjiran umumnya dilakukan oleh Departemen


Pekerjaan Umum beserta institusi vertikalnya. Sedangkan teknik pengendalian banjir di daerah
tangkapan air bertumpu pada prinsip penurunan koefisien limpasan melalui teknik konservasi
tanah dan air, yakni : (1) upaya meningkatkan resapan air hujan yang masuk ke dalam tanah, (2)
dan mengendalikan limpasan air permukaan pada pola aliran yang aman. Bentuk teknik yang
diaplikasikan dapat berupa teknik sipil, vegetatif, kimiawi, maupun kombinasi dari ketiganya,
sesuai dengan jenis penggunaan lahan dan karakteristik tapak (site) setempat. Semua upaya
tersebut sangat terkait dengan kemampuan tanah/lahan dalam mengendalikan air hujan untuk
bisa masuk ke dalam bumi, termasuk vegetasi/hutan yang ada di atasnya. Jenis tanaman hutan
yang sama dimana yang satu tumbuh di atas lapisan tanah tebal dan satunya lagi di atas lapisan
tanah tipis, akan memiliki dampak yang berbeda dalam mengendalikan limpasan air permukaan
atau banjir.
Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana banjir antara lain:
Pengawasan penggunaan lahan dan perencanaan lokasi untuk menempatkan fasilitas vital yang
rentan terhadap banjir pada daerah yang aman.
Penyesuaian desain bangunan di daerah banjir harus tahan terhadap banjir dan dibuat
bertingkat.
Pembangunan infrastruktur harus kedap air.
Pembangunan tembok penahan dan tanggul di sepanjang sungai, tembok laut sepanjang pantai
yang rawan badai atau tsunami akan sangat membantu untuk mengurangi bencana banjir.
Pengaturan kecepatan aliran air permukaan dan daerah hulu sangat membantu mengurangi
terjadinya bencana banjir. Beberapa upa ya yang perlu dilakukan untuk mengatur kecepatan air
masuk kedalam sistem pengaliran diantaranya adalah dengan pembangunan bendungan/ waduk,
reboisasi dan pembangunan sistem peresapan.
Pengerukan sungai, pembuatan sudetan sungai baik secara saluran terbuka maupun dengan pipa
atau terowongan dapat membantu mengurangi resiko banjir.
Pembuatan tembok penahan dan tembok pemecah ombak untuk mengurangi energi ombak jika
terjadi badai atau tsunami untuk daerah pantai.
Memperhatikan karakteristik geografi pantai dan bangunan pemecah gelombang untuk daerah
teluk.
Pembersihan sedimen.
Pembangunan pembuatan saluran drainase.
Peningkatan kewaspadaan di daerah dataran banjir.
Desain bangunan rumah tahan banjir (material tahan air, fondasi kuat).
Pelatihan pertanian yang sesuai dengan kondisi daerah banjir.
Meningkatkan kewaspadaan terhadap penggundulan hutan.

15)
16)

Pelatihan tentang kewaspadaan banjir seperti cara penyimpanan/pergudangan perbekalan,


tempat istirahat/ tidur di tempat yang aman (daerah yang tinggi).
Persiapan evakuasi bencana banjir seperti perahu dan alat - alat penyelamatan lainnya.

F. Abrasi pantai

Gambar: abrasi pantai


Secara detail penyebab abrasi pantai dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Penurunan Permukaan Tanah. (Land Subsidence)
Pemompaan Air tanah yang berlebihan untuk keperluan industri dan air minum di
wilayah pesisir akan menyebabkan penurunan tanah terutama jika komposisi tanah pantai
sebagian besar terdiri dari lempung/lumpur karena sifat-sifat fisik lumpur /lepung yang mudah
berubah akibat perubahan kadar air. Akibat penurunan air tanah adalah berkurangnya tekanan air
pori. Hal ini mengakibatkan penggenangan dan pada gilirannya meningkatkan erosi dan abrasi
pantai. Hal ini menunjukkan bahwa potensi penurunan tanah cukup besar dan memberikan
kontribusi terhadap genangan (rob) pada saat air laut pasang.
2. Kerusakan Hutan Mangrove
Hutan Mangrove merupakan sumberdaya yang dapat pulih (sustaianable resources) dan
pembentuk ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir. Mangrove

memiliki peran penting sebagai pelindung alami pantai karena memiliki perakaran yang kokoh
sehingga dapat meredam gelombang dan menahan sedimen. Ini artinya dapat bertindak sebagai
pembentuk lahan (land cruiser).Sayangnya keberadaan hutan mangrove ini sekarang sudah
semakin punah karena keberadaan manusia yang memanfaatkan kayunya sebagai bahan bakar
dan bahan bangunan.
3. Kerusakan akibat gaya-gaya hidrodinamika gelombang
Orientasi pantai yang relatif tegak lurus atau sejajar dengan puncak gelombang dominan.
Hal ini memberikan informasi bahwa pantai dalam kondisi seimbang dinamik. Kondisi
gelombang yang semula lurus akan membelok akibat proses refrksi/difraksi dan shoaling. Pantai
akan menanggai dengan mengorientasikan dirinya sedemikian rupa sehingga tegak lurus arah
gelombang atau dengan kata lain terjadi erosi dan deposisi sedimen sampai terjadi keseimbangan
dan proses selanjutnya yang terjadi hanya angkutan tegak lurus pantai (cros shore transport)
4. Kerusakan akibat sebab alam lain
Perubahan iklim global dan kejadian ekstrim misal terjadi siklon tropis. Faktor lain
adalah kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global (efek rumah kaca) yang
mengakibatkan kenaikan tinggi gelombang
5. Kerusakan akibat kegiatan manusia yang lain
- Penambangan Pasir di perairan pantai
- Pembuatan Bangunan yang menjorok ke arah laut
- Pembukaan tambak yang tidak memperhitungkan keadaan kondisi dan lokasi
Untuk menanggulangi atau mencegah terjadinya abrasi pantai yaitu :
1. Pelestarian terumbu karang
Terumbu karang juga dapat berfungsi mengurangi kekuatan gelombang yang sampai ke pantai.
oleh karena itu perlu pelestarian terumbu karang dengan membuat peraturan untuk melindungi
habitatnya. ekosistem terumbu karang, padang lamun, mangrove dan vegetasi pantai lainnya
merupakan pertahanan alami yang efektif mereduksi kecepatan dan energi gelombang laut
sehingga dapat mencegah terjadinya abrasi pantai. jika abrasi pantai terjadi pada pulau-pulau
kecil yang berada di laut terbuka, maka proses penenggelaman pulau akan berlangsung lebih
cepat.
2. Melestarikan tanaman bakau/mangrove
Fungsi dari tanaman bakau yaitu untuk memecah gelombang yang menerjang pantai dan
memperkokoh daratan pantai, selain untuk mempertahnakan pantai, mangrove juga berfungsi
sebagai tempat berkembangbiakan ikan dan kepiting.
3. Melarang penggalian pasir pantai
Pasir pantai yang terus menerus diambil akan mengurangi kekuatan pantai.
4. Sedangkan pada pantai yang telah atau akan mengalami abrasi, akan dibuatkan pemecah ombak
atau talud untuk mengurangi dampak dari terjangan ombak, tindakan ini sering juga disebut
tindakan pencegahan secara teknis.

upaya untuk meminimalisir resiko abrasi. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan
memperkecil hazard dan vulnerability atau dengan meningkatkan capacity daerah pesisir. Hazard
dari resiko abrasi sangat susah untuk diperkecil, sementara vulnerability juga tidak mudah
diterapkan di Indonesia. Memperkecil nilai vulnerability ini dilakukan dengan membatasi atau
melarang komunitas untuk beraktivitas dan tinggal di pesisir. Hal tersebut sangat susah dilakukan
karena akan menimbulkan berbagai macam masalah terutama konflik sosial. Memperbesar nilai
capacity merupakan solusi yang paling realistis untuk mengurangi resiko abrasi di pesisir.
Peningkatan capacity daerah pesisir untuk mengurangi resiko abrasi harus dilakukan
secara komprehensif dan terdapat konsesi yang kuat antara semua pihak yang berkepentingan.
Tanpa adanya itu, peningkatan capacity tidak dapat dilakukan dengan baik. Cara peningkatan
capacity ini dapat dilakukan dengan adaptasi, mitigasi, dan inovasi sehingga tercipta daerah
pesisir yang tangguh. Dari ketiga cara tersebut, mitigasi merupakan upaya yang dapat kita
kembangkan dan terapkan rekayasanya.
Mitigasi abrasi di daerah pesisir ini akan dapat meningkatkan capacity dan mengurangi
resiko abrasi sehingga akan tercipta daerah pesisir yang tangguh. Beberapa mitigasi yang dapat
dilakukan antara lain membuat pemecah gelombang dan tanggul di sepanjang pantai, membuat
hutan bakau, membuat rencana tata ruang detail untuk daerah pesisir dan beberapa cara lain.
Membuat rencana detail tata ruang daerah pesisir sangat penting untuk mengatur
penggunaan lahan, pengelolaan potensi masalah di daerah pesisir dan mengarahkan
pembangunan daerah pesisir. Rencana detail tata ruang ini digunakan untuk membuat zoning
kawasan lindung dan budidaya. Setiap persil seharusnya ditentukan guna lahan, KDB, KLB,
jumlah lantai agar pembangunan daerah pesisir dapat terarah.
Dalam rencana detail ini juga berisi di mana akan dibangun pemecah gelombang dan
tanggul karena pemecah gelombang ini dapat menghambat perjalanan ombak ke pantai. Ombak
akan terpecah saat melewati pemecah gelombang sehingga ombak yang mencapai bibir pantai
memiliki kekuatan yang lebih kecil. Selain pemecah gelombang pembangunan tanggul di
sepanjang pantai juga akan mengurangi resiko abrasi. Tanggul dapat menahan air laut sehingga
air laut tidak dapat masuk ke pemukiman penduduk dan memperkuat daya tahan pinggir pantai.
Selain itu dalam rencana detail tata ruang hutan bakau seharusnya menjadi kewajiban untuk
semua daerah pesisir di Indonesia. Tanaman bakau dapat mengurangi resiko abrasi dan dapat
mengurangi resiko intrusi air laut. Dalam rencana detail dirumuskan pembangunan fisik dan
pembangunan sosial ekonominya. Bagaimana pembangunan sosial ekonomi penduduk pesisir
akan menetukan keberhasilan pembangunan fisik daerah pesisir tersebut. Pembangunan sosial
selain bertujuan membuat keadaan sosial yang lebih manusiawi juga dibutuhkan agar penduduk
pesisir dapat mengelola upaya mitigasi terhadap abrasi.