Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PROTISTA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3 KLOTER 1
1. Zuni Mikftakhurrahmah
2. Rafiqa Rahma
3. Mutiara Azzara
4. Alfi Diana
5. Kuwati
6. Noor Faidah
7. Anik Oktavia
8. Anik Satria Darmawan
(24020115130119)
9. Widayu Mutiya Ramadhani
(24020115140122)

LABORATORIUM STRUKTUR DAN FUNGSI HEWAN


DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan

penyusunan laporan Praktikum Protista.

Penyusunan laporan ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan
mata kuliah praktikum Protista di Universitas Diponegoro. Penulisan laporan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Udi Tarwotjo, Mp. dan Bapak Dr. Jumari, S.si, M.si selaku dosen pengampu
pada mata kuliah Protista. Rekan-rekan semua yang mengikuti praktikum Protista.
2. Fajar Sara selaku asisten praktikum dan Tim Laboratorium Ekologi dan Biosistematik
yang mendampingi penyusun selama praktikum Protista.
3. Rekan-rekan yang mengikuti praktikum Protista.
4. Keluarga yang selalu mendukung penyusun.
5. Semua pihak yang ikut membantu penyusunan laporan yang tidak dapat penyusun
sebutkan satu persatu.
Dalam penyusunan laporan ini penyusun masih

merasa banyak kekurangan

dalam penyusunan laporan ini, baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan pembuatan laporan ini.
Semarang, 10 November 2016

Penyusun

ACARA I
KULTUR MIKROALGA
I.

TUJUAN
Mampu membuat kultur mikroalga beberapa spesies mikroalga yang utama melihat
potensinya untuk bioremediasi

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Chlorella
Chlorella berasal dari zat bewarna hijau ( chlorophyll) yang juga

berfungsi

sebagai katalisator dalam pr oses fotosintesis. Chlorella sp. dikategorikan ke dalam


kelompok alga hijau yang memiliki jumlah genera sekitar 450 dan jumlah spesies lebih
dari 7500. Nama alga hijau diberikan karena kandungan zat hijau (chlorophyll ) yang
dimilikinya sangat tinggi, bahkan melebihi jumlah yang

dimiliki oleh beberapa

tumbuhan tingkat tinggi. Bentuk umum sel-sel Chlorella adalah bulat atau elips (bulat
telur), termasuk mikroalgae bersel tunggal (unicellular) yang soliter, namun juga dapat
dijumpai hidup dalam koloni atau bergerombol. Diamater sel umumnya berkisar antara
2-12 mikron, warna hijau karena pigmen yang mendominasi adalah klorofil (Rositini,
2007).
Chlorella memiliki tingkat reproduksi yang tinggi, setiap sel Chlorella mampu
berkembang menjadi 10.000 sel dalam waktu 24 jam. Chlorella akan mencapai puncak
pertumbuhan dan perkembangbiakan pada hari ke 5 setelah penebaran bibit, puncak
tersebut ditandai oleh air media yang berwarna hijau pekat. Pertumbuhan populasi
fitoplankton dalam kultur terdiri dari lima fase, yaitu fase adaptasi (istirahat), fase
logaritmik (eksponensial), fase penurunan relatif, fase stasioner dan fase kematian
(Prihantini, 2005).
Chlorella merupakan organisme eukariotik (memiliki inti sel) dengan dinding sel
yang terdiri atas selulosa dan pektin, sedangkan protoplasmanya berbentuk cawan.
Berdasarkan habitat hidupnya Chlorella dapat dibedakan menjadi Chlorella air tawar
dan Chlorella air laut. Chlorella air tawar dapat hidup dengan kadar salinitas hingga 5

ppt, sementara Chlorella air laut dapat mentolerir salinitas antara 33-40 ppt . Beberapa
spesies Chlorella air laut dapat mentolerir kondisi lingkungan yang relatif bervariasi.
Tumbuh optimal pada salinitas 25-34 ppt sementara pada salinitas 15 ppt tumbuh
lambat dan tidak tumbuh pada salinitas 0 ppt dan 60 ppt. Umumnya Chlorella bersifat
planktonis yang melayang di dalam perairan (Rositini, 2007) .
Reproduksi Chlorella adalah aseksual dengan pembentukan autospora

yang

merupakan bentuk miniatur dari sel induk. Tiap satu sel induk ( parrent cell) akan
membelah menjadi 4, 8, atau 16 autospora yang kelak akan menjadi sel-sel anak
( daughter cell) dan melepaskan diri dari induknya. Reproduksi Chlorella dapat dibagi
menjadi 4 tahap yaitu tahap pertumbuhan pada tahap ini sel Chlorella tumbuh
membesar, tahap pemasakan awal saat terjadi peningkatan aktivitas sintesa yang
merupakan persiapan awal pembentukan autospora, tahap pemasakan akhir yaitu pada
tahap ini autospora terbentuk, tahap pelepasan autospora yaitu dinding sel induk akan
pecah dan diikuti oleh pelepasan autospora yang akan tumbuh menjadi sel induk muda
(Zahara, 2003).
Menurut Zahara (2003), klasifikasi chlorella sebagai berikut:

II.2

Divisi

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Ordo

: Chlorococcales

Famili

: Oocystaceae

Genus

: Chlorella

Spesies

: Chlorella sp.

Teknik Kultur Mikroalga


Crude oil adalah hasil dari proses ektraksi mikroalga yang sebelumnya dikultivasi.
Kultivasi adalah suatu teknik untuk menumbuhkan mikroalga dalam lingkungan tertentu
yang terkontrol. Tujuannnya untuk menyediakan spesies tunggal pada kultur masal
mikroalga untuk tahap pemanenan. Dalam kegiatan kultivasi terdapat beberapa tahapan.
Teknik sterilisasi dilakukan untuk membersihkan peralatan dan media yang akan
digunakan untuk kultivasi, sehingga mikroalga yang dikultivasi dapat terhindar dari
gangguan. Teknik ini terdiri dari beberapa prosedur, yaitu sterilisasi ruang yang berguna

untuk membersihkan ruangan beserta rak yang berada di dalamnya. Ruangan dan rak
harus dibersihkan dengan disinfektan sebelum dikeringkan, dan disemprotkan alcohol
70% ke seluruh ruangan. Sprayer yang berisi alcohol 70% ditaruh di samping pintu
ataupun dalam ruangan yang dapat digunakan untuk mensterilkan tangan sebelum
masuk ke dalam ruangan. Kemudian sterilisasi peralatan dengan melakukan cara
khusus, seperti menutup erlenmeyer dan tabung reaksi dengan menggunakan
alumunium foil, dan pipet tetes dibungkus dengan alumunium foil. Sterilisasi peralatan
yang tidak tahan panas dilakukan perendaman dalam larutan HCl 10% selama dua hari,
kemudian dibilas dengan air tawar. Selain itu, dapat direndam dengan chlorine 150
mg/L selama 12-24 jam, kemudian dinetralisir dengan 40-50 mg/L Na-Thiosulfat dan
dibilas dengan air tawar hingga bau klorin hilang. Setelah itu dilakukan sterilisasi media
cair. Media cair yang telah disaring dimasukkan dalam wadah tahan panas dan ditutup
dengan menggunakan alumunium foil dan disterilisasi dengan autoclave. Untuk
mendapatkan sterilisasi 10 L cairan, media cair dipanaskan hingga suhu 121C selama
kurang lebih 1 jam. Media cair dalam jumlah besar disaring dengan saringan bertingkat.
Kemudian, dilanjutkan dengan chlorine 15-20 ppm dan diaerasi selama 2-3 hari hingga
bau chlorine hilang. Sterilisasi toples pembiakan harus dibersihkan dengan cara
menyikat bagian dasar dan sisi toples hingga bersih. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari adanya bakteri yang mengganggu pertumbuhan mikroalga. Kedua, teknik
kultivasi mikroalga dipengaruhi pengaruh internal (genetic, umur, dan ukuran) serta
pengaruh external (suhu, kualitas, kuantitas nutrient, intensitas cahaya, pH, aerasi, dan
salinitas). Media tumbuh mikroalga yang telah disediakan disimpan di dalam toples,
kemudian mikroalga yang telah diisolasi dimasukan dan diberikan cahaya. Aerator
dinyalakan agar terjadi pengocokan nutrien dan gas setiap 24 jam sekali. Setelah 7 hari
mikroalga dapat dipindah dalam wadah yang lebih besar. Selama kultur dlakukan
sampling agar bisa diketahui laju pertumbuhan dan pertambahan sel dari mikroalga.
Sampling dilakukan dengan mengambil beberapa tetes sampel dari media kultur
kemudian dihitung kepadatannya menggunakan mikroskop. Pengamatan dilakukan pada
media gelas yang dikenal dengan Hemasitometer agar memudahkan dalam
penghitungan individu (Borowitzka, 2007).

III. METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1. Hemositometer
2. Pipet tetes
3. Mikroskop Cahaya
4. Colony Counter
5. Kaca Penutup
6. Alat Tulis
7.
3.1.2 Bahan
Kultur Chlorella sp dalam medium limbah tahu
3.2 Cara Kerja

1. Semua peralatan, bahan dan tempat yang akan digunakan dipersiapkan termasuk
pengesetan lampu, aerasi dan kebersihan tempat.
2. Sterilisasi peralatan dengan cara medium cair disterilisasi dalam autoklaf pada suhu
1200c dengan tekanan 1 atm sedangkan bejana,selang, aerator dan batu aerasi
disterilkan dengan direndam dalam larutan kaporit selama 15 menit
3. Persiapan media kultur dilakukan dengan cara, 3 botol yang ukurannya sedang dan 1
toples besar disiapkan
4. Toples yang paling besar diisi dengan 500 ml air tawar tanpa campuran limbah tahu
5. Botol sampel 1 diisi dengan konsentrasi 25% (125 ml limbah tahu dan 375 ml air
tawar)
6. Botol sampel 2 diisi dengan konsentrasi 50 % (250 ml limbh tahu dan 250 ml air
tawar)
7. Botol sampel 3 diisi dengan konsentrasi 75 % (375 ml limbh tahu dan 125 ml air
tawar)
8. Tutup botol dilubangi sampai selang dapat dimasukkan ke dalam tutup botol sampel
9. Botol sampel ditutup dengan selang ditengah tutup botolnya
10. Kultur diambil dari botol kultur mennggunakan pipet tetes dan diteteskan di atas
hemositometer

11. Hemositometer ditutup meggunakan kaca penutup


12. Preparat diamati di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran tertentu
13. Setiap sel Chlorella sp dihitung menggunakan colony counter mengacu pada petak
hemositometer yaitu 5x5.
14. N1 dan N2 dihitung dan hasilnya dicatat
15. Hasil N1 dan N2 dimasukkan ke dalam rumus (N1+N2)/2
16. Dari hasilperhitunganakandiketahuikepadatanpopulasispesies Chlorella sp
17. Hasil dibuat dalam laporan resmi secara kelompok

IV.

HASIL PENGAMATAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil yaitu jumlah
Chlorella dalam beberapa konsentrasi tertentu antara lain:
50%
25%

N1
131
59
N1
243
86
203
47
108
105
131
228
1025
104
438
86
211
229
168
371
164
109
150
120
217
123
101

93

N1
N2
N2
Jumlah
177
100
50%
9775% 1140000
45
38
N1
N2
Jumlah
66
625000
N2
Jumlah
277
253
177
100
1385000
209
2260000
104
950000
69
195
45
38
415000
180
1915000
35
410000
95
221
277
253
2650000
118
1130000
115
1100000
177
100
69
195
1320000
97
1140000
117
1725000
229
334
95
221
1580000
869
9470000
90
970000 943
987
177
100
1385000
421
4295000
104
950000
336
368
229
334
2815000
292
2515000
30
1295000
153
82
987
943
9650000
78
1230000
345
3580000
406
417
336
368
3520000
152
1580000
191
1500000
121
78
153
82
1175000
124
1370000
67
935000
406
417
4115000
320
2685000
65
42
121
78
995000
52
875000
79
900000
65
39

42
535000
655000

Jumlah
1385000
415000
2650000
1320000
1580000
1385000
2815000
9650000
3520000
1175000
4115000
995000

535000

V.

PEMBAHASAN
Praktikum Protista acara pertama dengan judul Kultur Mikroalga dilakukan pada
hari Jumat, 30 September 2016 di Laboratorium Ekologi dan Biosistematik Departemen
Biologi Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, Semarang. Tujuan dari
praktikum kali ini yaitu membuat kultur mikroalga beberapa spesies mikroalga yang
utama guna melihat potensinya untuk bioremediasi. Spesies yang digunakan pada
praktikum kali ini adalah Chlorella sp. Chlorella termasuk dalam alga hijau. Hal ini
sesuai dengan pendapar Prihantini (2005), bahwa Chlorella berasal dari zat bewarna hijau
( chlorophyll) yang juga

berfungsi sebagai katalisator dalam pr oses fotosintesis.

Chlorella sp. dikategorikan ke dalam kelompok alga hijau yang memiliki jumlah genera
sekitar 450 dan jumlah spesies lebih dari 7500. Nama alga hijau diberikan karena
kandungan zat hijau (chlorophyll) yang dimilikinya sangat tinggi, bahkan melebihi
jumlah yang dimiliki oleh beberapa tumbuhan tingkat tinggi. Alat yang digunakan antara
lain lima botol kultur, hemositometer, pipet tetes, kaca penutup, selang, colony counter,
dan alat tulis. Media yang digunakan pada praktikum ini adalah limbah tahu, sedangkan
pupuk yang digunakan adalah pupuk walne. Pupuk walne digunakan sebagai nutrisi
untuk mikroalga itu sendiri. Penggunaan pupuk walne kali ini sendiri sesuai dengan
pendapat Isnansetyo (2005) ,bahwa

pupuk yang digunakan pada skala laboratium

terbuat dari bahan kimia Pro Analisis (PA) dengan dosis pemakaian 1 ml pupuk untuk 1 li
ter volume kultur. Pro Analisis (PA) terdiri dari dua jenis komposisi pupuk yaitu komposi
si pupuk walne yang diperuntukkan untuk plankton hijau dan komposisi pupuk guillard u
ntuk plankton coklat. Penggunaan limbah tahu sebagai medium karena limbah tahu
merupakan air yang mengandung banyak nitrogen dan senyawa organic yang
dibuutuhkan untuk kultur Chlorella. Hal ini didukung pendapat Husin (2008), bahwa
salah satu cara untuk menghasilkan Chlorella sp. yang dapat dijadikan sebagai sumber
biodiesel perlu memperhatikan beberapa hal, salah satunya adalah pada media
pertumbuahan Chlorella sp. Media pertumbuhan Chorella sp. bukan merupakan lahan
yang berair khusus, namun cukup dengan air yang mengandung nitrogen dan kaya akan
zat organik. Berdasarkan karakteristrik tersebut limbah cair tahu merupakan salah satu
bahan yang memungkinkan untuk digunakan sebagai media tumbuh Chorella sp.

Langkah pertama yang dilakukan yaitu sterilisasi peralatan dengan cara medium
cair disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 120 0c dengan tekanan 1 atm sedangkan
bejana,selang, aerator dan batu aerasi disterilkan dengan direndam dalam larutan kaporit
selama 15 menit. Sterilisasi dilakukan agar mikroalga yang dikultur tidak mengalami
kontaminasi. Hal ini didukung oleh pendapat Borowitzka (2007), bahwa teknik sterilisasi
dilakukan untuk membersihkan peralatan dan media yang akan digunakan untuk
kultivasi, sehingga mikroalga yang dikultivasi dapat terhindar dari gangguan.
Selanjutnya, media kultur disiapkan dengan menyiapkan 3 botol ukuran sedang dan 1
botol ukuran sedang. Toples yang paling besar disi dengan 500 ml air tawar tanpa
campuran limbah tahu, botol sampel 1 diisi dengan konsentrasi 25% (125 ml limbah tahu
dan 375 ml air tawar), botol sampel 2 diisi dengan konsentrasi 50 % (250 ml limbah tahu
dan 250 ml air tawar) dan botol sampel 3 diisi dengan konsentrasi 75 % (375 ml limbh
tahu dan 125 ml air tawar). Kemudian, tutup botol dilubangi sampai selang dapat
dimasukkan ke dalam tutup botol sampel. Botol sampel ditutup dengan selang ditengah
tutup botolnya. Kultur kali ini tidak menggunakan air laut karena jenis Chlorella yang
digunakan merupakan Chlorella yang hidup di air tawar. Chlorella sp. memang ada yang
hidup d air tawar, dan ada yang hidup di air laut. Hal ini sesuai dengan pendapat Rositni
(2007), bahwa berdasarkan habitat hidupnya Chlorella dapat dibedakan menjadi
Chlorella air tawar dan Chlorella air laut.
Pengamatan terhadap petumbuhan kultur Chlorella dilaksanakan selama 2 minggu.
Pengamatan dilakukan setiap hari karena reprduksi dari Chlorella sendiri sangat cepat
setiap harinya. Hal ini didukung oleh pendapat Prihantini (2005), bahwa Chlorella
memiliki tingkat reproduksi yang

tinggi, setiap sel

Chlorella mampu berkembang

menjadi 10.000 sel dalam waktu 24 jam Langkah yang dilakukan pada pengamatan
populasi kultur Chlorella sp. yaitu kultur diambil dari botol kultur menggunakan pipet
tetes dan diteteskan di atas hemositometer. Hemositometer ditutup meggunakan kaca
penutup. Preparat diamati di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran tertentu. Setiap
sel Chlorella sp dihitung menggunakan colony counter mengacu pada petak
hemositometer yaitu 5x5. Lalu, N1 dan N2 dihitung dan hasilnya dicatat. N adalah
jumlah spesies atau sel yang terlihat pada hemositometer. Hasil N1 dan N2 dimasukkan

ke dalam rumus (N1+N2)/2 dan dikali 10.000 .Dari hasil perhitunganakan diketahui
kepadatan populasi spesies Chlorella sp. Hasil dibuat dalam laporan resmi secara
kelompok.
5.1 Konsentrasi air 25%

Berdasarkan

25%

hasil

pengamatan

yang

dilakukan,

dengan

konsentrasi air 25 % didapatkan jumlah populasi biakkan

N1

N2

Jumlah

131

97

1140000

59

66

625000

243

209

2260000

dapat mengalami kenaikan atau penurunan. Perbedaan jumlah

203

180

1915000

populasi yang didapat saat pengamatan bisa terjadi karena

108

118

1130000

131

97

1140000

1025

869

9470000

paling tinggi pada hari ke 7, dimana sesuai dengan literatur yang

438

421

4295000

ada bahwa siklus hidup Chlorella adalah sekitar 14 hari, dan hari

211

292

2515000

168

78

1230000

164

152

1580000

hemositometer. Hal ini sesuai dengan pendapat Kawaroe (2008)

150

124

1370000

bahwa siklus hidup Chlorella adalah sekitar 10-14 hari, dimana

Chlorella sebagai berikut:


Berdasarkan data disamping, dapat diambil kesimpulan
bahwa jumlah populasi Chlorella yang didapat saat pengamatan

berbagai faktor, seperti berbeda individu yang melakukan


pengamatan dan konsentrasi larutan yang dijadikan bahan untuk
pengamatan. Sesuai data, jumlah populasi biakkan Chlorella

ke 7 merupakan puncak dari siklus hidup Chlorella. Hal ini


terlihat dari jumlah populasi pada tabel bahwa pada hari ke 7 ada
sebanyak 9.470.000 biakkan Chlorella yang terlihat pada

puncak pertumbuhan terjadi pada hari ke 7. Semakin banyak


konsentrasi limbah tahu atau medium yang diberikan, semkin
123

52

875000

banyak

populasi

Chlorella

yang

tumbuh,

hal

tersebut

membuktikan bahwa limbah tahu cocok dijadikan sebagai media


dalam kultur mikroalga dalam hal ini adalah Chlorella. Hal ini dibuktikan

dengan

jumlah biakan Chlorella dengan konsentrasi air 25% dicampur konsentrasi air

75%

banyak dibanding konsentrasi yang lain.

bayaknya
terlihat

paling

5.2 Konsentrasi air 50%


Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dengan konsentrasi air 50 % didapatkan
jumlah populasi biakkan Chlorella sebagai berikut:
Berdasarkan data disamping, dapat diambil kesimpulan bahwa

50%

jumlah populasi Chlorella yang didapat saat pengamatan dapat

N1

N2

Jumlah

177

100

1385000

didapat saat pengamatan bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti

45

38

415000

berbeda individu yang melakukan pengamatan dan konsentrasi larutan

277

253

2650000

69

195

1320000

literatur yang ada bahwa siklus hidup Chlorella adalah sekitar 14 hari,

95

221

1580000

dan hari ke 7 merupakan puncak dari siklus hidup Chlorella. Hal ini

177

100

1385000

229

334

2815000

987

943

9650000

Chlorella adalah sekitar 10-14 hari, dimana puncak pertumbuhan terjadi

336

368

3520000

pada hari ke 8. Semakin banyak konsentrasi limbah tahu atau medium

153

82

1175000

406

417

4115000

121

78

995000

mengalami kenaikan atau penurunan. Perbedaan jumlah populasi yang

yang dijadikan bahan untuk pengamatan. Sesuai data, jumlah populasi


biakkan Chlorella paling tinggi pada hari ke 7, dimana sesuai dengan

terlihat dari jumlah populasi pada tabel bahwa pada hari ke 8 ada
sebanyak 9.650.000 biakkan Chlorella yang terlihat pada hemositometer.
Hal ini sesuai dengan pendapat Kawaroe (2008) bahwa siklus hidup

yang diberikan, semkin banyak populasi Chlorella yang tumbuh, hal


tersebut membuktikan bahwa limbah tahu cocok dijadikan sebagai media
dalam kultur mikroalga dalam hal ini adalah Chlorella. Pada konsentrasi
limbah tahu : aquadest adalah 50:50, jumlah biakkan Chlorella masih
terlihat banyak, dan walaupun memiliki jumlah terbanyak, tetapi secara

65

42

535000

keseluruhan jumlah populasi biakan paling banyak adalah dengan


perbandingan konsentrasi limbah tahu lah yang paling besar.

5.3 Konsentrasi 75% air


Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dengan konsentrasi air 75 % didapatkan jumlah
populasi biakkan Chlorella sebagai berikut:

Berdasarkan data di samping, dapat diambil kesimpulan bahwa

75%

jumlah populasi Chlorella yang didapat saat pengamatan dapat


N1

N2

Jumlah

86

104

950000

47

35

410000

105

115

1100000

228

117

1725000

literatur yang ada bahwa siklus hidup Chlorella adalah sekitar 14 hari,

104

90

970000

dan hari ke 8 merupakan puncak dari siklus hidup Chlorella. Hal ini

86

104

950000

229

30

1295000

371

345

3580000

siklus hidup Chlorella adalah sekitar 10-14 hari, dimana puncak

109

191

1500000

pertumbuhan terjadi pada hari ke 8. Semakin banyak konsentrasi

120

67

935000

217

320

2685000

cocok dijadikan sebagai media dalam kultur mikroalga dalam hal ini

101

79

900000

adalah Chlorella. Pada konsentrasi limbah tahu : aquadest adalah

mengalami kenaikan atau penurunan. Perbedaan jumlah populasi yang


didapat saat pengamatan bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti
berbeda individu yang melakukan pengamatan dan konsentrasi larutan
yang dijadikan bahan untuk pengamatan. Sesuai data, jumlah populasi
biakkan Chlorella paling tinggi pada hari ke 8, dimana sesuai dengan

terlihat dari jumlah populasi pada tabel bahwa pada hari ke 8 ada
sebanyak

3.580.000

biakkan

Chlorella

yang

terlihat

pada

hemositometer. Hal ini sesuai dengan pendapat Kawaroe (2008) bahwa

limbah tahu atau medium yang diberikan, semkin banyak populasi


Chlorella yang tumbuh, hal tersebut membuktikan bahwa limbah tahu

75:25, jumlah biakkan Chlorella masih terlihat banyak,, tetapi secara


93

39

655000

keseluruhan jumlah populasi biakan paling banyak adalah dengan


perbandingan konsentrasi limbah tahu lah yang paling besar.

Berikut adalah grafik pertumbuhan jumlah sel Chlorella sp:

Peningkatan pertumbuhan jumlah sel Chlorella sp. disebabkan oleh interaksi positif antara
Chlorella dengan limbah cair tahu. Limbah cair tahu memacu pertumbuhan Chlorella sp. Fase
eksponensial terjadi karena Chlorella sp. mampu menyerap nutrisi pada limbah cair tahu secara optimal.
Nutrisi penting yang dibutuhkan oleh Chlorella adalah nitrogen. Hal ini dapat diasumsikan jika limbah
tahu mengandung nitrogen karena tahu mengandung protein yang pada dasarnya kaya akan unsur
nitrogen. Menurut Gunawan (2010), kepadatan sel mikroalga tertinggi dihasilkan pada taraf konsentrasi
nitrogen tertinggi. Nitrogen merupakan bahan penting penyusun asam amino, amida, nukleoprotein, serta
esensial untuk pembelahan sel dan pembesaran sel, oleh karena itu nitrogen penting untuk pertumbuhan.
Peningkatan angka kelimpahan Chlorella sp. disebabkan oleh faktor lain seperti kandungan
ammonia yang tinggi pada media tersebut. Ammonia bersifat racun bagi mikroalga, namun berbeda
halnya jika ammonia yang tinggi disertai dengan pH perairan < 7, maka akan terjadi proses ionisasi
ammonia yang pada akhir prosesnya akan menghasilkan ammonium. Ammonium inilah yang merupakan
sumber nutrien bagi mikroalga tersebut.Chlorella sp tidak bergantung pada salinitas sehingga dalam
pengamatannya tidak diperlukan penghitungan salinitas. Menurut Irianto (2011), setelah fase
eksponensial akan terjadi fase penurunan laju pertumbuhan. Pada fase ini pembelahan sel tetap terjadi,
namun tidak seintensif pada fase eksponensial.
Fase penurunan pertumbuhan ditandai dengan menurunnya jumlah sel. Jumlah kepadatan sel
Chlorella semakin menurun, karena nutrisi yang tersedia dalam limbah cair tahu mulai berkurang. Selain
itu faktor cahaya dan suhu juga merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Chlorella sp.
Kepadatan sel Chlorella sp. dipengaruhi oleh temperatur, aerasi, cahaya, pH. Intensitas cahaya memegang
peran yang sangat penting karena cahaya dibutuhkan oleh Chlorella sp. untuk proses fotosintesis. Energi
yang dihasilkan dari proses fotosintesis digunakan untuk biosintesis sel, bergerak atau berpindah, dan
reproduksi (Kawaroe, 2010). Hal ini juga diperkuat oleh Gunawan (2010) intensitas cahaya sangat
diperlukan dalam proses fotosintesis karena hal ini berhubungan dengan jumlah energi yang diterima oleh
mikroalga untuk melakukan fotosintesis. Proses fotosintesis menghasilkan glukosa yang nantinya akan
digunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan dan perkembangan sel.

DAFTAR PUSTAKA
Borowitzka, MA.2007. Mikroalgal Biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press.
Gunawan. 2010. Keragaman dan Karakterisasi Mikroalga dari Sumber Air Panas yang
Berpotensi Sebagai Sumber Biodiesel [tesis]. Bogor: Fakultas Matematika dan
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Husin. 2008. Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu Dengan Biofiltrasi Anaerob Dalam
Reactor Fixed-Bed. Theses Universitas Sumatera Utara, Medan.
Irianto, D. 2011. Pemanfaatan Mikroalga Laut Scenedesmus sp sebagai Penyerap Bahan Kimia
Berbahaya Dalam Air Limbah Industri. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Isnansetyo, A. Dan Kurniastuty, 2005. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Kanisius,
Yogyakarta.
Kawaroe, M. 2010. Mikroalga, Potensi dan Pemanfaatannya untuk Produksi Bio Bahan Bakar.
Bogor: IPB Press.
Rostini I. S. Pi. 2007. Kultur Fitoplankton Chlorella sp. pada Skala Laboratorium. Fakultas
Perikanan dan Kelautan. Universitas Padjajaran : Bandung. Hal 33-36.
Prihantini, N. B., Putri. B. dan Ratna. Y. 2005. Pertumbuhan Chlorella spp. dalam Medium
Ekstrak Tauge (MET) dengan Variasi pH Awal. Departemen Biologi Fakultas MIPA
Universitas Indonesia: Depok.
Zahara. T. Dj. 2003. Perilaku Berwawasan Lingkungan dalam Pembangunan Keinovatifan dan
Pengetahuan Tentang Lingkungan. Bandung: Penebar Swadaya.