Anda di halaman 1dari 100

RINGKASAN

RATNA MAULI LUBIS. Kajian Sifat Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi
Penggunaan Lahan dalam Hubungannya dengan Produktivitas Tanah dan
Tanaman Tembakau Deli (Dibimbing oleh : Dr. Ir. Abdul Rauf, MP. sebagai
Ketua Komisi Pembimbing, Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP. Dan Dr. Ir. Rachmat
Adiwiganda, MSc sebagai Anggota Komisi Pembimbing).
Tembakau deli sebagai pembungkus cerutu merupakan salah satu komoditi
ekspor Indonesia di Eropa yang tidak dapat ditandingi oleh tembakau yang lain.
Tanaman ini hanya bisa tumbuh baik di daerah Deli antara Sungai Wampu
Kabupaten Langkat dengan Sungai Ular Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.
Namun sangat disayangkan, pada saat ini, lahan ini telah mengalami degradasi
yang berpengaruh terhadap menurunnya produksi tembakau deli. Beberapa usaha
harus dilakukan untuk menanggulangi masalah ini, pertama kali, adalah
mempelajari karakteristik fisika dan kimia tanahnya yang diduga disebabkan oleh
sistem rotasi tanaman. Hasil yang akan dicapai dari penelitian ini adalah
menentukan sistem terbaik dari rotasi penggunaan tanah di lahan ini yang dapat
menjamin kelangsungan dari produksi yang baik dari tembakau deli.
Penelitian dilakukan dengan melakukan survai lapang yang diikuti dengan
pengambilan sampel tanah dan analisanya di laboratorium. Informasi sejarah
tentang lahan juga dikumpulkan dari administratur dan asisten lapang sebagai data
sekunder. Lokasi penelitian adalah di Kebun Klambir Lima PTPN-II. Observasi
tentang berbagai sistem rotasi penggunaan tanah dilakukan pada saat survey,
sedangkan pengaruh dari berbagai sistem sistem rotasi terhadap produktivitas
tanah dilakukan melalui analisa laboratorium dalam hal karakteristik fisika dan
kimia tanahnya. Data analisa telah dites dengan menggunakan Analisis Variance
satu arah (One Way Anova). Analisis ini digunakan untuk mentest apakah
terdapat perbedaan antara nilai rata-rata dari sampel. Perangkat lunak SPSS 12
digunakan untuk menganalisis semua data. Sepuluh sampel tanah diambil dari
setiap sistem rotasi penggunaan tanah. Sistem penggunaan tahan dari areal studi
dispesifikasikan menjadi empat tipe, yaitu (1) lahan dengan tanaman hutan yaitu
tanaman jati (Tectona grandis L.); (2) lahan yang dirotasi dengan bero
(tembakauberotembakau); (3) lahan yang dirotasi dengan tanaman tebu
(Saccharum officinarum L) (tembakautebutembakau); dan (4) lahan yang
dirotasi dengan tanaman semusim (palawija) (tembakaupalawijatembakau).
Hasil studi dari pengukuran sifat fisika dan kimia tanah menunjukkan
bahwa penggunaan tanah dengan sistem hutan (jati) dan sistem bero ternyata lebih
baik dibanding rotasi penggunaan tanah dengan tebu dan palawija sehubungan
dengan produksi tembakau. Disamping itu berdasarkan hasil dari analisis linier
berganda menunjukkan bahwa kandungan bahan organik berpengaruh nyata
terhadap beberapa sifat fisika tanah yaitu kerapatan lindak tanah (BD),
permeabilitas, total ruang pori dan pori air tersedia tanah. Kandungan bahan
organik juga berpengaruh nyata terhadap beberapa sifat kimia tanah yaitu
kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB), P-tersedia, dan N-total tanah.
Bahkan dapat juga dilaporkan bahwa produksi tembakau pada lahan dengan rotasi
bero ternyata memberikan hasil tembakau 12,5 % lebih tinggi dibanding rotasi

ii

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

dengan tanaman tebu. Atas dasar hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa
penggunaan tanah dengan hutan jati dan sistem bero adalah sangat
direkomendasikan dengan maksud untuk menjaga keseimbangan dinamik dari
kesuburan fisik dan kimia tanah dalam memelihara dan meningkatkan produksi
tembakau deli.

ii

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

SUMMARY

RATNA MAULI LUBIS. The Study of Soil Properties Caused by Various


Landuse Rotation Systems on the Land and Productivity Deli Tobacco
(Supervised by Dr. Ir. Abdul Rauf, MP. as Chairman, and Dr. Ir. Hamidah
Hanum, MP. And Dr. Ir. Rachmat Adiwiganda, M.Sc as Member).
Deli tobacco as sigar wrapper represent on of the export commodities of
Indonesia in Europe which can not be competed by other tobacco. It can only
grow in Deli area between Wampu River in Langkat and Ular River in Deli
Serdang District, North Sumatra. Unfortunately, at present, this land have been
suffered by degradation which influence to the declining the production of deli
tobacco. Some efforts have to be done to overcome this problem, firstly, is to
study the soil physical and chemical properties which is presumed caused by the
type of landuse rotation sysrems. The output to be reached from this study is to
define the best landuse system in the area which can guarantee the continuation of
the best production of deli tobacco.
Researchs were done by carrying out soil survey followed by soil
sampling and analyzing soil samples in the laboratory. Historical informations of
the land are also collected from the estate manager and field assistant as secondary
data. The research location was at Klambir Lima Plantation PTPN-II. Observation
of various landuse rotation system was done during field survey, meanwhile the
influence of various rotation system on soil productivity was carried out by
laboratory analyses by analyzing physical and chemical soil characteristics. The
analytical data were tested by using One Way Analyses of Variance. It was used
to test whether there are the difference of means value of some samples. The
SPSS 12 software was used to analyse all data. Ten soil sampels were taken from
each landuse rotation system. The laduse rotation system in the study area was
specified to four types, include 1) land with the forest crop that is teak ( Tectona
Grandis L.), 2) land rotated with bero (tobacco-bero-tobacco), 3) land rotated by
sugarcane ( Saccharum Officinarum L) ( tobacco-sugarcane-tobacco), and 4) land
rotated by annual crop ( tobacco-annual crops-tobacco).
The study results of soil characteristic measurement showed that the
landuse with teak and rotated by bero were better than those rotation by both
sugarcane and annual crops concerning to the tobacco production. Based on
multiple regresion analysis that soil organic matter wassignificant influence some
soil physics properties they were bulk density, total of soil pore, soil permeability,
and the pore of soil water available. Soil organic matter was also significant
influence of some soil chemistry properties they were cation exchangeable
capacity, base saturation, P-available, and the total of N soil. It can also be
reported that the tobacco production at bero rotation giving 12.5% higher
production than the land rotated by sugarcane. Based on those results, therefore, it
can be concluded that landuse rotation by teak and bero are strictly
recommended by means of keeping dynamical balance of soil physical and
chemical fertility on maintaining and increasing the production of Deli Tobacco.

ii

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN

SUMMARY

iii

KATA PENGANTAR

iv

RIWAYAT HIDUP

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR GAMBAR

viii

DAFTAR LAMPIRAN

ix

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Hipotesis
Kegunaan Penelitian

1
1
3
4
4
4

TINJAUAN LITERATUR
Sejarah Penanaman Tembakau Deli
Syarat Tumbuh Tembakau Deli
Iklim
Tanah
Sifat dan Jenis Tanah di Lokasi Penelitian
Kondisi Tanah Tembakau Deli Saat Ini
Upaya Konservasi Areal Tembakau Deli yang Telah Dilakukan
Pengaruh Rotasi Tanaman terhadap Produktivitas Lahan
Kualitas Lahan
Persyaratan Penggunaan Lahan

5
5
7
7
8
9
10
15
16
17
18

METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Bahan dan Alat
Metode Penelitian
Pelaksanaan Penelitian
Peubah Amatan
Analisis Sifat Fisika Tanah
Analisis Sifat Kimia Tanah

20
20
20
21
22
23
23
27

HASIL DAN PEMBAHASAN


Survey Lapang
Sifat Fisika Tanah

28
28
29

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

a. Stabilitas Agregat
b. Kekerasan Tanah
c. Laju Infiltrasi
d. Kerapatan Lindak (BD)
e. Total Ruang Pori (TRP)
f. Permeabilitas Tanah
g. Distribusi Pori Air Tersedia
Sifat Kimia Tanah
a. pH tanah
b. C-Organik, Kandungan Bahan Organik Tanah dan N-total
c. P-tersedia
d. Kation Tukar Tanah (K, Ca, Mg, Na)
e. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Tanah
f. Kejenuhan Basa (KB) Tanah

29
31
33
35
37
38
39
41
42
43
47
48
52
53

Hubungan Kandungan Bahan Organik dengan Sifat Fisika Tanah

54

Hubungan Kandungan Bahan Organik dengan Sifat Kimia Tanah

55

Produksi Tembakau Deli

56

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Saran

58
58
59

DAFTAR PUSTAKA

60

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

DAFTAR TABEL
No.
1.

Judul

Halaman

Deskripsi profil tanah lokasi penelitian di Kebun Klambir Lima


PT. Perkebunan Nusantara II

10

2.

Metode analisis yang digunakan untuk masing-masing peubah amatan

23

3.

Kelas kecepatan permeabilitas tanah

25

4.

Kelas laju infiltrasi tanah dalam cm/jam

26

5.

Kelas stabilitas agregat tanah

27

6.

Indeks stabilitas agregat pada masing-masing jenis penggunaan lahan

29

7.

Kekerasa tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan

32

8.

Laju infiltrasi tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan

34

9.

Kerapatan lindak tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan

36

10.

Total ruang pori tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan

37

11.

Permeabilitas tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan

39

12.

Distribusi pori air tersedia dari masing-masing jenis penggunaan lahan 41

13.

pH tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan

42

14.

C-organik tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan

44

15.

Kandungan bahan organik tanah dari masing-masing jenis penggunaan


lahan
44

16.

N-total tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan

45

17.

P-tersedia tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan

47

18.

K-dd tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan

49

19.

Ca-dd dan Mg-dd tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan

50

20.

Na-dd tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan

51

21.

Kapasitas tukar kation tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan 52

22.

Kejenuhan basa (KB) tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan 53

23.

Produksi tembakau deli tahun 2006 pada lahan bekas rotasi tebu dan
bero di Kebun Klambir Lima

56

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

DAFTAR GAMBAR
No.

Judul

Halaman

1. Indeks stabilitas agregat dari masing-masing jenis penggunaan lahan

31

2. Kekerasan tanah (kg/cm2) dari masing-masing jenis penggunaan lahan

33

3. Laju infiltrasi (cm/jam) dari ke empat jenis penggunaan lahan

35

4. BD (g/cm3) dari masing-masing jenis penggunaan lahan

36

5. Total ruang pori (%) dari masing-masing jenis penggunaan lahan

38

6. Permeabilitas tanah (cm/jam) dari masing-masing jenis penggunaan


lahan

39

7. Distribusi pori air tersedia dari masing-masing jenis penggunaan lahan 41


8. pH tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan

43

9. C-organik pada masing-masing jenis penggunaan lahan

45

10. Kandungan bahan organik tanah (%) pada masing-masing jenis


penggunaan lahan dengan

45

11. N-total (%) dari ke empat jenis penggunaan lahan

46

12. P-tersedia (ppm) pada ke empat jenis penggunaan lahan

48

13. K-dd (me/100 g) pada ke empat jenis penggunaan lahan

49

14. Ca-dd (me/100 g) pada ke empat jenis penggunaan lahan

50

15. Mg-dd (me/100 g) pada masing-masing jenis penggunaan lahan

51

16. Na-dd (me/100 g) pada ke empat jenis penggunaan lahan

52

17. Kapasitas tukar kation pada ke empat jenis penggunaan lahan

53

18. Kejenuhan basa pada ke empat jenis penggunaan lahan

54

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Halaman

1. Produksi Tembakau Deli di Kebun klambir lima Lima Tahun Terakhir

64

2. Peta Lokasi Pengambilan Sampel Tanah pada Kebun Klambir Lima

65

3. Pengukuran Sifat Fisik di Lapang

66

4. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari Indeks
Stabilitas Agregat Tanah

67

5. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari


Penetrasi Tanah

68

6. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari


Laju Infiltrasi

69

7. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari


Kerapatan Lindak (BD) Tanah

70

8. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari Total
Ruang Pori Tanah

71

9. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari


Permeabilitas Tanah

72

10. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari Pori
Air Tersedia

73

11. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari pH-tanah 74
12. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari C-organik 75
13. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Kandungan Bahan Organik Tanah

76

14. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari N-total

77

15. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari P-tersedia 78
16. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari K-dd

79

17. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari Ca-dd

80

18. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari Mg-dd

81

19. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari Na-dd

82

20. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari KTK

83

21. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Kejenuhan Basa (KB) Tanah

84

22. Kriteria Hasil Analisis Sifat Kimia Tanah

85

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tembakau deli (Nicotiana tabaccum, L) sebagai pembalut cerutu (cigar
wrapper) di luar negeri dikenal dengan nama tembakau sumatera merupakan
komoditi ekspor Indonesia yang sangat diminati oleh masyarakat penggemar
cerutu di Eropa. Tanaman ini merupakan komoditi spesifik yang hanya dapat
tumbuh dengan baik, dengan citra rasa, aroma serta sifat kualitas yang prima bila
dibudidayakan di tanah Deli, yaitu wilayah antara dua sungai besar di Sumatera
Utara yaitu Sungai Ular dan Wampu. Sebagai komoditi Pertanian maka
keberadaan dan kelangsungan budidaya tanaman khas tanah Deli harus tetap
dipertahankan dan dilestarikan.
Dari sekian banyak keunggulan yang dimiliki oleh tembakau deli dan
berdasarkan uji coba yang telah dilakukan dari tahun 1863 maka kriteria mutu
tersebut di atas terbentuk karena kombinasi iklim dan kesesuaian lahan yang
hanya terdapat di tanah Deli. (Erwin, 1997). Bahan induk tanah berupa bahan
endapan sungai, campuran bahan endapan sungai dan laut, endapan beting pantai
dan sedikit tufa Toba yang bersifat dasitik. Jenis tanah termasuk ke dalam ordo
Inceptisol (Puslittanak, 1993).
Lahan yang digunakan untuk penanaman tembakau deli merupakan lahan
yang dirotasi dengan tanaman tebu, palawija seperti ubi kayu, cabai, jagung, serta
diberokan. Lahan yang paling dominan digunakan saat ini adalah rotasi dengan
tanaman tebu selama 3 tahun lalu diberokan selama 2 tahun. Tujuan dari rotasi
ini pada mulanya adalah untuk memutuskan daur hidup dari penyakit layu yang
disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Pada waktu zaman kolonial

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

Belanda lahan tembakau deli hanya diberokan dengan hutan rotasi selama lebih
kurang delapan tahun untuk memutuskan daur hidup dari bakteri tersebut.
Kenyataan ini tidak bisa lagi dilakukan oleh pihak perusahaan yang dalam hal ini
adalah PTPN-II. Lahan yang diberokan akan menjadi areal yang diokupasi oleh
masyarakat sekitar. Sebagian masyarakat nenganggap bahwa lahan tersebut
merupakan lahan tidur yang dapat digarap. Disamping itu lahan tersebut telah
menjadi tempat penggembalaan ternak seperti sapi dan kambing sehingga yang
tadinya bermaksud untuk memutuskan daur hidup dari bakteri penyakit layu
menjadi tempat berkembang biaknya bakteri tersebut (Erwin, 1997). Melihat
kenyataan ini maka perusahaan merotasikan lahan tembakau dengan tanaman tebu
(Saccharum officinarum L), palawija dan sebagian lahan hanya diberokan begitu
saja selama tiga tahun. Untuk tanaman palawija diserahkan pada karyawan kebun
dalam pengelolaannya. Sebagian lahannya ditanami dengan tanaman jati
(Tectona grandis L.) yang berguna sebagai penahan angin dan kayunya digunakan
sebagai pembuatan bangsal pada waktu penanaman tembakau akan dimulai
(BPTD, 1997).
Permasalahan yang dirasakan akibat rotasi penggunaan lahan dengan
tanaman tebu adalah terjadi penurunan kualitas tanah seperti tanah semakin padat,
kemampuan tanah untuk memegang air menjadi terbatas, dan penurunan kadar
bahan organik (BPTD, 1997). Disamping itu Siregar (1999) melaporkan bahwa
terjadinya penurunan beberapa sifat tanah di lahan tembakau deli antara lain
kandungan bahan organik tanah, populasi mikrobia tanah, bobot isi tanah,
kapasitas tukar kation, permeabilitas dan infiltrasi tanah

yang tidak optimal

terhadap pertumbuhan tanaman tembakau. Sebagai sampel diambil produksi

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

tembakau di Kebun Klambir Lima pada lima tahun terakhir tidak mencapai
break even point (BEP) (Lampiran 1). Pengaruh positif dari pemanfaatan lahan
yang dirotasikan terutama dengan tanaman tebu dapat memberikan nilai tambah
serta memperbaiki struktur keuangan perusahaan dan juga bermanfaat dalam
menampung tenaga kerja yang cukup besar serta dapat menekan penggarapan
lahan liar dari lahan tersebut (Erwin, 1997).
Berdasarkan uraian di atas maka telah dilakukan penelitian untuk
mengkaji potensi lahan tembakau deli akibat berbagai sistem rotasi penggunaan
lahan dalam hubungannya dengan produktivitas tanah dan tanaman untuk
keberlanjutan komoditasnya.
Perumusan Masalah
Kebutuhan lahan yang semakin meningkat, langkanya lahan pertanian
yang subur dan potensial, serta adanya persaingan penggunaan lahan antara sektor
pertanian dan nir-pertanian memerlukan teknologi tepat guna dalam upaya
mengoptimalkan

penggunaan

lahan

secara

berkelanjutan.

Untuk

dapat

memanfaatkan sumberdaya lahan secara terarah dan efisien diperlukan


tersedianya data dan informasi yang lengkap mengenai keadaan iklim, tanah dan
lingkungan fisik lainnya, serta persyaratan tumbuh tanaman yang diusahakan
terutama tanaman-tanaman yang mempunyai peluang pasar dan arti ekonomi
cukup baik (BPT, 2003).
Kemerosotan produktivitas tanah dan tanaman tembakau deli beberapa
tahun terakhir ini disebabkan antara lain oleh terjadinya penurunan sifat-sifat
tanah. Usaha untuk pemecahan masalah ini adalah dengan mengkaji potensi lahan
ini akibat berbagai sistem rotasi penggunaan lahan dengan menganalisis sifat-

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

sifat fisik dan kimia tanah. Keluaran yang akan dicapai dari kajian ini adalah
tercapainya pemecahan masalah untuk keberlanjutan penggunaan lahan.

Tujuan Penelitian
Untuk mengkaji potensi lahan akibat berbagai sistem rotasi penggunaan
lahan dengan mengevaluasi dan menganalisis sifat fisik dan kimia tanah. Keluaran
yang diinginkan adalah untuk mencari arah penanggulangan atau peningkatan
kualitas lahan tembakau deli guna mempertahankan keberlanjutannya.
Hipotesis
1. Terdapat perbedaan sifat-sifat tanah antara berbagai sistem rotasi
penggunaan lahan pada lahan tembakau deli.
2. Terdapat hubungan antara berbagai sifat kimia dan fisika tanah dari
berbagai sistem rotasi penggunaan lahan

Kegunaan Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat digunakan sebagai landasan
dalam perencanaan untuk meningkatkan kualitas lahan tembakau deli
dalam keberlanjutan pembudidayaannya.
2. Sebagai bahan penulisan tesis yang merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh Magister Pertanian di Sekolah Pasca Sarjana Universitas
Sumatera Utara.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

TINJAUAN LITERATUR

Sejarah Penanaman Tembakau Deli


Tembakau deli atau yang lebih dikenal dengan nama tembakau sumatera
di pasaran dunia merupakan bahan pembungkus cerutu (sigar wrapper) yang
memiliki kriteria mutu antara lain warna terang dan rata, rasa dan aroma yang
khas, daya bakar baik dan teratur, abu sisa pembakaran berwarna putih, daun tipis
dan elastis serta tulang daun relatif halus, sehingga harganya cukup tinggi di
pasaran Eropa yang digunakan pada cerutu mutu tinggi.
Penanaman tembakau deli di Sumatera dimulai sekitar tahun 1863 oleh
seorang pioner bangsa Belanda yang bernama Nienhuys. Setelah melakukan
beberapa kali penanaman di beberapa tempat yang berbeda, baru pada saat hasil
tembakau yang diusahakan di daerah antara Sungai Wampu dan Sungai Ular
memberikan harapan yang baik serta mendapat pasaran yang baik pula di pasaran
tembakau Eropa. Untuk memperbaiki tingkat usaha serta untuk mempertahankan
budidaya tembakau di Deli, maka pada tahun 1906 didirikan balai penelitian yang
bernama Deli Proefstation. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh dari balai ini
menjadi pegangan dasar bagi perusahaan dalam mempertahankan, meningkatkan
hasil dan melestarikan mutu tembakau deli yang merupakan tembakau pembalut
cerutu yang terbaik di dunia karena aroma dan mutunya yang khas (Erwin, 1997).
Saat ini perkebunan tembakau deli dikelola oleh PTPN-II.
Pada tahun 1959 semua perkebunan tembakau yang dimiliki bangsa
Belanda diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Pada periode ambil alih ini usaha
perkebunan tembakau sedikit mengalami masa suram, baik dalam hal produksi
maupun terhadap pemasaran tembakau di Eropa. Kemelut lain yang muncul dari

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

kalangan masyarakat sekitar perkebunan yang ingin menguasai dan memiliki


tanah perkebunan yang mereka anggap adalah milik kolonial Belanda sehingga
terjadi penggarapan liaar secara besar-besaran terhadap areal penanaman
tembakau terutama lahan-lahan yang sedang diberokan. Melihat kenyataan ini
sesuai dengan surat Menteri Pertanian No. 30/UM/1958 pada 13 Maret 1958
tentang Peralihan Perusahaan Milik Asing kepada Perusahaan Perkebunan Milik
Negara, maka N.V. VDM dan Senembah Miy digabung dan dirubah namanya
menjadi PPN baru. Pada 18 April 1968 berdasarkan PP No 14 tahun 1968 dan
Lembaran Negara No. 23/1968 pada 13 April 1968 nama perusahaan diubah
menjadi Perusahaan Negara Perkebunan IX (PNP IX). Pada 1 April 1974 nama
perusahaan diubah menjadi Perusahaan Terbatas PT Perkebunan IX (PTP IX).
Pada 14 Pebruari 1996 sesuai dengan peraturan pemerintah No.7 tahun 1996 PTP
IX bergabung dengan PTP-II sehingga nama perusahaan ini menjadi PTPN-II
(PTPN-II, 1997).
Berdasarkan kenyataan di atas maka penanaman tembakau deli diusahakan
pada area yang berada di antara Sungai Wampu Kabupaten Langkat dan Sungai
Ular Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Bahan induk yang menyusun
tanah berupa bahan endapan sungai, campuran bahan endapan sungai dan laut,
endapan beting pantai dan sedikit tufa Toba yang bersifat dasitik, dengan
fisiografi kipas vulkanis. Jenis tanahnya termasuk ke dalam ordo Inceptisol dan
sebagian kecil Entisol dengan rejim kelembaban Aquik serta rejim temperatur
isohiperthermik (Wahyunto, dkk, 1990 dan Puslitnak,1993). Untuk daerah di luar
areal ini ternyata kriteria mutu tidak dapat dicapai dan hasilnya kurang baik
(PTPN-II, 1997). Oleh karena itu karakteristik ini tidak akan muncul jika

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

tembakau deli ditanam di tempat lain di seluruh dunia (Brazil, Jember, USA , dan
lain-lain) (Direktorat Perdagangan Internasional, 2004).
Upaya merekayasa kondisi iklim Sumatera di luar negeri yaitu di
Conecticut (AS) misalnya dengan menggunakan naungan, atau penanaman
tembakau bawah naungan, telah membawa hasil yang lebih baik dan hampir
menyamai kualitas tembakau deli, tetapi dalam hal rasa dan aroma masih belum
setara (MKTI, 2001).

Syarat Tumbuh Tanaman Tembakau Deli


Iklim
Iklim merupakan karakteristik lahan yang sangat berperan dalam
menentukan kualitas daun tembakau. Ciri iklim yang penting pada areal-areal
pengusahaan tembakau deli adalah iklim humid, tanpa adanya periode bulan
kering selama setahun dengan suhu malam hari relatif hangat serta mempunyai
kelembaban udara relatif pada malam hari mendekati 100%. Hal ini berarti
tembakau menyerap cukup banyak air dari udara pada malam hari (WTC, 1951).
Tanaman tembakau deli dapat diusahakan pada elevasi mulai dari dataran
rendah sampai dataran tinggi yang terbentang antara garis lintang 60 LU 40 LS.
Di daerah Deli tanaman tembakau diusahakan pada ketinggian 12 15 meter di
atas permukaan laut (BPTD, 1997). Umumnya varietas tembakau tidak begitu
peka terhadap lamanya penyinaran matahari, atau disebut sebagai tanaman berhari
netral.

Lamanya periode penyinaran tidak mempengaruhi besarnya keadaan

struktur bahan tembakau.


Tembakau deli pada awal penanaman memerlukan curah hujan yang kecil,
apalagi pada saat sebelum penanaman, karena energi panas matahari sangat

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

diperlukan untuk penjemuran tanah, yang berguna untuk menekan perkembangan


bakteri penyakit layu dan nematoda, serta sangat diperlukan dalam pekerjaan
pengolahan tanah. Jumlah hujan yang tinggi diperlukan pada saat tembakau deli
telah dibumbun kedua sampai dengan waktu panen, karena pada periode ini
tanaman tembakau sangat membutuhkan air untuk proses pertumbuhan. Bila pada
periode tersebut terjadi defisit air maka tanaman akan memperlihatkan
pertumbuhan yang kerdil dan luas daun menyempit serta sangat mudah terserang
penyakit (BPTD, 1997).
Kebutuhan bersih curah hujan pada pertumbuhan tanaman tembakau deli
selama periode tanam sampai panen yaitu selama 77 hari adalah sebesar 435 mm
(Puslittanak, 1993). Curah hujan rata-rata bulanan di lokasi penelitian pada saat
musim tanam (Maret sampai pertengahan bulan Mei) selalu berada di bawah
kebutuhan optimum untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu suplai air perlu sekali
dilakukan. Intensitas hujan juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman tembakau. Curah hujan yang terlalu tinggi pada suatu saat tertentu dapat
mengganggu pertumbuhannya. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan
tanaman tembakau berkisar antara 21-32,3 oC (Abidin, 1999).

Tanah
Faktor tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan tembakau deli. Tanaman
tembakau sangat menghendaki tanah dengan tingkat kesuburan yang cukup baik,
menghendaki bahan organik dan kelembaban tanah yang cukup tinggi. Jumlah
unsur hara yang cukup dan seimbang sangat menentukan produktivitasnya.
Kelebihan salah satu unsur hara seperti fosfat akan menyebabkan pertumbuhan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

akar terganggu dan akhirnya mempengaruhi jumlah daun dan tanaman menjadi
cepat matang dan berbunga (Erwin 1997).

Sifat dan Jenis Tanah di Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian ini adalah di Kebun Klambir Lima PTPN-II, Kecamatan
Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Fisiografi di daerah penelitian berupa
dataran alluvial (alluvial plain) dengan bentuk wilayah datar, memiliki lereng
kurang dari 3 %. Endapan aluvium di daerah ini terdiri atas endapan sungai yang
berasal dari formasi geologi yang bersifat andesit-dasitik dan bahan-bahan yang
bersifat liparito-dasitik (Khusrizal, 2003).
Jenis tanah di lokasi penelitian termasuk ke dalam ordo Inceptisol dengan
subgroup Aeric tropaquepts. Perkembangan profilnya masih lemah dan dicirikan
oleh adanya horizon kambik. Tanah ini berkembang dari bahan endapan aluvium
(liat dan pasir) dan tufa volkan yang bersifat dasitik. Warna tanah bervariasi dari
coklat sampai kelabu terang, tekstur lempung berpasir sampai liat berat. Sebagian
besar tekstur lapisan atas dan lapisan bawah berbeda nyata dan di bawah
kedalaman 100 cm sebagian besar bertekstur lempung, debu atau pasir. Struktur
tanah gumpal agak bersudut dan berbutir (granular), konsistensi gembur sampai
sangat teguh. Sebagian tanah ini pada kedalaman antara 40 cm sampai 60 cm
mempunyai lapisan padat. Di lapisan bawah tanah mencirikan adanya sifat
pengendapan berlapis (fluventic) tetapi bersifat memadat sehingga mempunyai
permeabilitas sangat lambat. Karena sifatnya yang demikian, maka air yang
masuk ke dalam tanah sering tertahan sehingga drainase tanah secara keseluruhan
termasuk terhambat (Puslittanak, 1993). Deskripsi profil di lokasi penelitian
menurut Puslittanak (1993) pada Tabel 1.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

10

Tabel 1. Deskripsi profil tanah lokasi penelitian di Kebun Klambir Lima


PT. Perkebunan Nusantara II (Puslitanak, 1993)
Sifat Tanah
Deskripsi
Kedalaman tanah
Dalam
Ketebalan solum
Sedang
Kedalaman efektif
Sedang
Drainase
Terhambat
Permeabilitas
Terhambat
Tekstur : pasir (%)
50
Debu (%)
20
Liat (%)
30
Bahan induk tanah
Alluvium sungai andesitikdasitik
Lereng
02%
Lapisan atas : - Ketebalan (cm)
- Warna
- Tekstur
- Reaksi tanah
- Batu/krikil

15 25
coklat sangat gelap kekelabuan
liat berpasir
agak masam
tidak ada

Lapisan bawah : - Ketebalan (cm)


- Warna
- Tekstur
- Reaksi tanah
- Batuan/krikil

70 80
Coklat gelap - kelabu terang
Liat berpasir/pasir
Agak masam netral
Tidak ada

Kemudahan untuk diolah

Agak berat

Kondisi Tanah Tembakau Deli Saat Ini


Beberapa sifat fisik lahan tembakau deli yang saat ini (Erwin, 1997)
merupakan faktor penghambat bagi tanaman sebagai akibat penggunaan areal
budidaya tebu antara lain :
-

Pori Aerasi; Hasil evaluasi sifat fisik tanah oleh Pusat Penelitian Tanah
dan Agriklimat Bogor, ternyata keadaan pori aerasi tanah-tanah di areal
tembakau tergolong rendah sampai tinggi pada lapisan atas tanah.
Sedangkan pori aerasi tanah-tanah lapisan bawah tergolong rendah yang

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

11

disebabkan karena tidak terjangkau oleh alat pengolah tanah. Rendahnya


pori aerasi tanah dapat menghambat pertumbuhan tanaman tembakau,
karena akan mengganggu respirasi akar.
-

Pori pemegang Air; Persentase pori-pori pemegang air tersedia bagi


tanaman di areal-areal tembakau tergolong rendah sampai tinggi. Pori
pemegang air ini sangat penting untuk diperbaiki. Upaya perbaikan dapat
dilakukan dengan memperdalam pengolahan tanah, sehingga kapasitas
resapan air akan meningkat dan aliran permukaan akan berkurang, karena
air akan ditahan di celah-celah bongkahan tanah dan terinfiltrasi. Upaya
lain untuk meningkatkan daya pegang air tanah tersebut adalah dengan
aplikasi pupuk organik dan kompos.

Permeabilitas dan Infiltrasi; Lahan tembakau deli sekarang ini memiliki


tingkat permeabilitas yang agak lambat (0.12 0.5 cm/jam), hal ini sangat
mengganggu pertumbuhan tanaman karena tanaman akan kekurangan
oksigen bila permeabilitas tanah sangat lambat. Laju infiltrasi tanah
tembakau deli terlalu cepat di beberapa lokasi yaitu 16.74 242.38
cm/jam). Hal ini menyebabkan sistem pemberian air ke tanah untuk
memenuhi kebutuhan tanaman dengan sistem irigasi atau aliran
permukaan atau dengan sistem jog tidak akan efisien. Sistem irigasi yang
terbaik dengan tipe tanah yang berinfiltrasi cepat adalah dengan sistem
sprikle irrigation atau irigasi tetesan.

Indeks Plastisitas; Tanah-tanah di lahan tembakau pada umumnya


tergolong agak plastis sampai plastis dengan indeks 10 30 pada ke dua
lapisan tanah atas dan bawahnya.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

12

Stabilitas Agregat; Kestabilan agregat tanah-tanah di lahan tembakau


pada umumya tergolong agak stabil sampai sangat stabil dengan indeks 50
80.

Lapisan Tanah Padat; Tanah-tanah di areal tembakau pada umumnya


menunjukkan tingkat kepadatan tanah antara 1,5 5,0 kg/cm2 pada
kedalaman tanah 0 35 cm. Tingkat kekerasan tanah menunjukkan
hubungan negatif dengan kandungan C-organik (Basyaruddin 2004)
Tanah-tanah bekas rotasi tebu banyak terjadi pemadatan di lapisan bawah
akibat pengolahan secara mekanis maupun pengaruh alat alat berat
lainnya. Pemadatan tanah lapisan bawah ini menyebabkan terhambatnya
perkembangan perakaran tanaman semusim yang ukuran relatif pendek,
sehingga daerah jelajah perakaran akan sangat terbatas.
Adapun beberapa sifat kimia tanah yang mengalami perubahan setelah

rotasi tanaman tebu di lahan-lahan tembakau deli adalah sebagai berikut :


-

Bahan organik; kandungan bahan organik tanah di lahan tembakau deli


menurun dengan tajam setelah dirotasi dengan tanaman tebu. Hal ini
disebabkan karena rotasi yang semakin pendek waktunya menghasilkan
biomasa rendah, disamping juga jenis vegetasinya berubah. Pada lahan
yang telah dirotasi dengan tebu tiga tahun berturut-turut, ditanam mimosa
dan dibiarkan tumbuh bersama gulma bahkan di beberapa tempat
gulmanya didominasi oleh alang-alang, dengan demikian siklus hara
diperpendek. Hal tersebut akan mempengaruhi kualitas bahan organik dan
pembentukan humus, bahkan mungkin banyak terjadi proses mineralisasi
dengan meningkatnya suhu tanah.

Pada waktu persiapan lahan untuk

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

13

tembakau bahan organik dibakar, dan khususnya ketika tanaman tembakau


masih kecil lahannya bersih sehingga erosinya cukup besar.

Hal ini

tercermin dari endapan di parit-parit drainase yang cukup tebal, begitu


juga koloid-koloid berupa lumpur yang terbawa oleh erosi. Jadi keadaan
inipun memberikan kontribusi terhadap kehilangan bahan organik.
Seolah-olah usaha rotasi di lahan ini hampir tidak memberikan hasil
terhadap penambahan bahan organik. Penurunan bahan organik lebih
nyata setelah tahun 1980-an, atau setelah areal tembakau dirotasikan
dengan tebu.
-

Nitrogen; Berbeda dengan bahan organik (C-organik), N-organik (N-total)


perubahannya kecil sekali dan cendrung konstan.

Hal ini mungkin

merupakan batas terendah (limit) untuk tanah-tanah di lahan tembakau


deli. Selama beberapa tahun pengamatan, kandungan N-total rata-rata
kurang dari 0,2 %. Nilai C/N 9 12 untuk lahan tembakau deli sudah
merupakan keseimbangan alam. Walaupun pada kenyataannnya secara
pengamatan visual terlihat kecendrungan tanaman tembakau menunjukkan
gejala defisiensi N. Aplikasi N pada tanaman tembakau juga
memperlihatkan respon yang tinggi terhadap peningkatan dosis pupuk
nitrogen. Hubungan kandungan bahan organik dengan ketersediaan N di
tanah cukup erat. Tanah-tanah yang miskin bahan organik umumnya akan
menjadi defisiensi N (Erwin, 1997).
-

Fosfat (P); Kandungan P tanah umumnya menurun terus sampai tahun


1989, dan kemudian menaik lagi. Peningkatan kadar P tersedia tanah
disebabkan pemupukan TSP untuk tebu sebesar 200 250 kg/ha setiap

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

14

musim. Akibat ketersediaan P yang lebih di lahan-lahan tembakau deli


mempunyai dampak terutama terhadap pertumbuhan dan produksi.
Penggunaan tanah yang mengandung mineral amorf (alofan) secara
intensif dapat mempercepat pelapukan mineral primer menjadi imogolit
haloisit kaolinit, bahkan menjadi gibsit yang akan membebaskan banyak
fosfat (Tan 1998; Basyaruddin 1999) Tanaman tembakau akan dipacu
untuk lebih cepat menjalani proses generatif dan menghambat proses
vegetatif.

Beberapa tahun terakhir terlihat kinerja tembakau deli kurang

baik, tanaman cendrung mengecil/kerdil, luas daun menyempit, tanaman


cepat berbunga serta mengacaukan kriteria matang panen, yang kesemua
hal tersebut merupakan ciri-ciri sebagai akibat kelebihan ketersediaan P di
dalam tanah.
-

Kalium (K); Kandungan K berfluktuasi, mencerminkan bahwa unsur ini


sangat mobil dan sulit untuk mencapai keseimbangan. Berdasarkan
pengamatan lapangan, endapan Sungai Wampu mengandung banyak
muskovit (mika) yang merupakan sumber dari K. Hal ini juga tercermin
dari tingginya K pada kompleks adsorpsi dan K total dengan ekstraksi HCl
25 %. Disamping itu endapan laut dapat juga memberikan konstribusi
terhadap tingginya K disamping pembakaran. Keadaan ini tercermin juga
dari tajamnya fluktuasi kandungan K pada tanah-tanah di areal tembakau
deli.
Dari sifat-sifat tanah di atas dan dari hasil penilaian kelas dan sub kelas

kesesuaian lahan di lahan bekas rotasi tanaman tebu maka terdapat lahan-lahan
yang tergolong cukup sesuai (S2) seluas 5.745 hektar, lahan yang tergolong sesuai

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

15

marginal (S3) seluas 3.354 hektar dan yang tidak sesuai saat ini (N1) seluas 30
hektar. Faktor yang menjadi pembatas utama pertumbuhan tanaman tembakau deli
adalah ketersediaan air, kedalaman perakaran efektif dangkal karena adanya
lapisan padat atau padas, tekstur tanah, rendahnya retensi hara (KTK tanah),
keseimbangan hara, dan di beberapa tempat drainase terhambat (Puslitnak, 1993).

Upaya Konservasi Areal Tembakau Deli yang Telah Dilakukan


Upaya konservasi lahan-lahan tembakau deli yang telah dilakukan oleh
PTPN-II pada tahun 1995 adalah dengan menanam tanaman hutan untuk mengisi
permukaan tanah yang berfungsi sebagai penutup tanah dan sumber bahan organik
tanah. Tanaman hutan ini juga penting dalam memutuskan siklus bakteri penyakit
layu yang selama ini mengancam keberadaan dan kelanjutan komoditi tembakau
deli serta penggarapan lahan oleh masyarakat luar. Adapun tanaman hutan yang
ditanam sebagai tanaman konservatif adalah Senu (Melochia umbellata), Sengon
(Albizia falcataria), Anggrung (Trema orientale), Mindi (Melia azedarach),
Nimba (Azadirachta Indica), serta Akasia (Acacia auriculiformis). Bila ditinjau
dari fungsinya maka tanaman-tanaman hutan ini berfungsi : (a) melindungi tanah
terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, (b) melindungi tanah terhadap
daya perusak aliran air di atas permukaan tanah, (c) memperbaiki kapasitas
infiltrasi tanah dan penahan air yang langsung mempengaruhi besarnya aliran
permukaan, dan (d) mampu memutuskan siklus patogen tanah seperti bakteri
penyakit layu serta menghindari lahan dari penggarap-penggarap liar (Peranginangin 1998).
Upaya-upaya yang sudah direncanakan dan yang sudah dilakukan sejak
tahun 1995 untuk konservasi areal tanaman tembakau deli dengan tanaman hutan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

16

mengalami kegagalan pada saat berakhirnya masa Orde Baru.

Masyarakat

mengatas namakan berbagai kelompok telah menggarap areal konservasi tersebut


dengan menebangi, mengkapling-kapling lahan tersebut dan menanami dengan
tanaman semusim, bahkan mereka juga membuat gubuk. Saat musim tanam tiba
maka pihak PTPN-II harus mengeluarkan dana dan tenaga yang besar untuk
mengusir para penggarap tersebut dibantu oleh aparat TNI dan Polri. Sehingga
saat ini, setelah panen, sisa tanaman tembakau dicabut dan ditanami tanaman
palawija oleh para karyawan PTPN-II di lahan-lahan yang rawan penggarapan
(PTPN-II, 1997). Akhirnya upaya-upaya konservasi tadi dianggap gagal.

Pengaruh Rotasi Tanaman terhadap Produktivitas Lahan


Rotasi tanaman adalah sistem penanaman berbagai tanaman secara bergilir
dalam urutan waktu tertentu pada suatu bidang tanah (Arsyad, 2000). Dalam
menunjang sistem pertanian berkelanjutan akhir-akhir ini sering dilakukan rotasi
tanaman hutan. Sistem ini merupakan keterpaduan antara kegiatan kehutanan
dengan pertanian, atau dengan peternakan yang membentuk usaha tani terpadu
sehingga optimalisasi dan diversifikasi penggunaan lahan dapat tercapai
(Wulandari dkk., 1995).
Pada hakekatnya rotasi tanaman memberikan keuntungan-keuntungan
seperti pemberantasan hama dan penyakit, pemberantasan tumbuhan pengganggu,
dan yang paling penting adalah mempertahankan/memperbaiki sifat-sifat fisik dan
kimia tanah dalam menunjang kesuburan tanah. Rotasi tanaman akan
mempertinggi kemampuan tanah menahan dan menyerap air serta sumbangan
bahan organik yang dihasilkannya akan mempertinggi stabilitas agregat dan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

17

kapasitas infiltrasi tanah serta memelihara keseimbangan unsur hara (Arsyad,


2000). Pelaksanaan rotasi ini sangat sesuai untuk pertumbuhan tanaman tembakau
deli yang memang telah dilakukan sejak zaman Belanda dahulu (PT. Perkebunan
IX. 1995).
Kualitas Lahan
Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup
pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi, tanah, hidrologi, dan
bahkan keadaan vegetasi alami yang semuanya secara potensial akan berpengaruh
terhadap penggunaan lahan (Sys, 1985). Penggunaan yang optimal memerlukan
keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya. Hal tersebut disebabkan
adanya keterbatasan dalam penggunaan lahan sesuai dengan karakteristik dan
kualitas lahannya bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahannya secara lestari
dan berkesinambungan (BPT, 2003).
Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribut yang bersifat
kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan
(performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan
tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan. Kualitas lahan
ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada
umumnya ditetapkan dari pengertian karakteristik lahan (FAO, 1976).
Kualitas lahan dapat berperan positif atau negatif terhadap penggunaan
lahan tergantung dari sifat-sifatnya. Kualitas lahan yang berperan positif sifatnya
menguntungkan bagi suatu penggunaan. Sebaliknya kualitas lahan yang bersifat
negatif akan merugikan terhadap penggunaan tertentu, sehingga merupakan faktor
penghambat atau pembatas. Setiap kualitas lahan dapat berpengaruh terhadap satu

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

18

atau lebih dari jenis penggunaannya. Demikian pula satu jenis penggunaan lahan
tertentu akan dipengaruhi oleh berbagai kualitas lahan (Sys et al, 1993).

Persyaratan Penggunaan Lahan


Semua jenis komoditas pertanian termasuk tanaman pertanian, peternakan,
dan perikanan yang berbasis lahan untuk dapat tumbuh atau hidup dan
berproduksi optimal memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan
penggunaan lahan dikaitkan dengan kualitas lahan dan karakteristik lahan.
Persyaratan karakteristik lahan untuk masing-masing komoditas pertanian
umumnya berbeda, tetapi ada sebagian yang sama sesuai dengan persyaratan
tumbuh komoditas pertanian tersebut (BPT, 2003).
Persyaratan tersebut terutama terdiri atas energi radiasi, temperatur,
kelembaban, oksigen dan hara. Persyaratan temperatur dan kelembaban umumnya
digabungkan, dan selanjutnya disebut sebagai periode pertumbuhan (FAO, 1983).
Persyaratan lain berupa media perakaran, ditentukan oleh drainase, tekstur,
struktur dan konsistensi tanah, serta kedalaman efektif. Persyaratan tumbuh atau
persyaratan penggunaan lahan yang diperlukan oleh masing-masing komoditas
mempunyai batas kisaran minimum, optimum, dan maksimum untuk masingmasing karakteristik lahan (BPT, 2003).
Persyaratan penggunaan/karakteristik lahan untuk tanaman tembakau deli sampai
sekarang belum ada acuannya, tetapi untuk tanaman tembakau secara umum
dengan karakteristik kelas kesesuaian lahan S1 sebagai berikut :
- Temperatur rerata pada masa pertumbuhan 22 28 0C
- Curah hujan pada masa pertumbuhan 600 mm 1200 mm dengan kelembaban
udara 24 75 %

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

19

- Media perakaran dengan tekstur agak kasar, sedang, agak halus, halus dengan
bahan kasar < 15 % dan kedalaman tanah > 75 cm.
- KTK liat > 16 me/100 g, kejenuhan basa > 35 %, pH H2O 5,5 6,2 serta Corganik > 1,2 % (Balittanak, 2003).

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

20

METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi kajian penelitian yaitu kebun Klambir Lima Perkebunan Tembakau
Deli PTPN-II. Secara umum kebun ini jenis tanahnya adalah Inceptisol dengan
famili tanah Aeric tropaquepts (Puslitnak, 1993). Secara administratif kebun ini
terletak di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang dengan
ketinggian tempat lebih kurang 15 meter di atas permukaan laut.
Pengambilan sampel tanah dan analisis sifat fisik di lapang dilakukan
mulai dari September 2006 hingga Nopember 2006. Analisis sifat fisik dan kimia
tanah dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UISU dimulai
dari bulan Nopember hingga bulan Pebruari 2007.

Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan untuk menguji sifat fisik dan kimia tanah adalah
contoh tanah utuh dan contoh tanah komposit. Sampel tanah diambil secara
komposit untuk analisis sifat kimia tanah sedangkan analisis sifat fisika tanah
diambil sampel tanah utuh dengan menggunakan cover ring. Sampel tanah ini
diambil untuk masing-masing lokasi rotasi penggunaan lahan dari kedalaman
tanah 0 20 cm (lapisan olah tanah). Seterusnya sampel tanah dinalisis sifatsifatnya di laboratorium.
Alat yang digunakan dalam pengambilan sampel tanah ini meliputi alatalat di lapangan seperti cangkul, bor belgie, sekop, pisau, cover ring, meteran dan
lain-lain yang berkaitan dengan pengambilan sampel tanah. Alat-alat yang lain
adalah alat untuk mengukur sifat fisik di lapangan seperti double ring

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

21

infiltrometer, penetrometer serta alat untuk

analisis sifat kimia tanah seperti

atomic absorption spectrometer (AAS), alat permeabilitas, dan lain-lain.

Metode Penelitian
Pengamatan terhadap pelaksanaan berbagai sistem rotasi dilakukan dengan
cara survei lapang, sedangkan pengaruh dari berbagai sistem rotasi terhadap
produktivitas tanah dilakukan dengan cara analisis laboratorium yaitu dengan
menganalisis sifat fisika dan kimia tanah. Dari analisis ini maka datanya diolah
dengan menggunakan Analisis Variance satu arah (One Way Anova). Analisis ini
digunakan untuk menguji apakah rata-rata dari beberapa sampel berbeda atau
tidak (Pratisti, 2004). Perangkat lunak yang digunakan untuk menganalisis semua
data adalah SPSS 12. Jenis penggunaan lahan pada lokasi penelitian terdiri atas 4
jenis yaitu :
R1 = lahan dengan tanaman hutan yaitu tanaman jati (Tectona grandis L.)
R2 = lahan diberokan (tembakau bero tembakau)
R3 = lahan dengan rotasi dengan tanaman tebu (Saccharum officinarum L)
(tembakau tebu tembakau)
R4 = lahan digunakan dengan tanaman palawija (tembakau palawija
tembakau)
Model linier yang diasumsikan pada analisis ini adalah :

Yij = + i + ij : i = 1, 2, ..k ;

j = 1, 2, ..nk
dimana : Yij = variabel yang akan dianalisis

= efek umum atau efek rata-rata yang sebenarnya


i = efek yang sebenarnya dari perlakuan ke i

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

22

ij = efek yang sebenarnya dari pada unit eksperimen ke j yang berasal


dari perlakuan ke i

Pelaksanaan Penelitian
Pengambilan sampel tanah dilakukan secara komposit dari lapisan olah di
setiap rotasi penggunaan lahan untuk keperluan analisis sifat-sifat kimia tanah di
laboratorium. Untuk analisis sifat fisika tanah diambil sampel tanah utuh dengan
menggunakan cover ring. Penentuan titik-titik pengambilan contoh tanah
berdasarkan keadaan di lapang yaitu pada masing-masing rotasi penggunaan lahan
yang beracuan pada peta tanah (Lampiran 2) Kebun Klambir Lima. Untuk setiap
jenis perlakuan diambil sebanyak 10 sampel tanah. Metode analisis dari masingmasing sifat fisika dan kimia tanah yang merupakan peubah amatan diuraikan
pada Tabel 2.
Pada waktu dilakukan pengamatan langsung di lapang terlihat masingmasing jenis rotasi penggunaan lahan berada pada kongsi-kongsi yang berbeda.
Maka untuk setiap keadaan ini diambil sampelnya dengan beberapa titik lalu
dicampurkan dan diambil satu sampai tiga sampel tergantung besarnya
lahan/petak tanaman rotasi.
Untuk analisis sifat fisik di lapang seperti infiltrasi tanah dan penetrasi
tanah dilakukan dengan menggunakan alat double ring infiltrometer dan
penetrometer (Lampiran 3).

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

23

Tabel 2. Metode analisis yang digunakan untuk masing-masing peubah amatan


Peubah Amatan
Metode Analisis

Sifat Fisika Tanah :


1. Stabilitas agregat
2. Kerapatan lindak (BD) (g/cm3)
3. Total ruang pori (%)
4. Infiltrasi (cm/jam)
5. Permeabilitas tanah (cm/jam)
6. Air tersedia (%)
7. Kekerasan tanah (kg/cm2)
Sifat Kimia Tanah
1. C-organik (%)
2. N-total (%)
3. P-tersedia (ppm)
3. KTK (me/100g)
4. Kation tukar tanah (K, Ca, Mg, Na)
5. Kandungan bahan organik tanah (%)
6. Kejenuhan Basa Tanah (%)
7. pH

De Leenheer dan De Boodt


Ring sample-gravimetri
Perhitungan dari bobot isi dan
bobot jenis butiran
Double ring infiltrometer
De Boodt
Perhitungan dari kadar air
kapasitas lapang dengan
kadar air titik layu permanen
Penetrometer
Walkley dan Black
Kyeldahl
Bray II
NH4Oac
NH4Oac
Hasil perhitungan dari C-org
Hasil perhitungan dari KTK
dan kation tukar tanah
Elektrometri

Peubah Amatan
Peubah amatan untuk analisis sifat fisika tanah terdiri atas stabilitas
agregat, kerapatan lindak (BD), total ruang pori (TRP), infiltrasi, permeabilitas
dan air tersedia. Metode analisis dari masing-masing sifat ini diuraikan pada Tabel
2.
a. Pengukuran Kerapatan Lindak (BD) dan Porositas (total ruang pori) Tanah
Pada pengukuran BD tanah pertama sekali dilakukan adalah menentukan
kadar air tanahnya dengan cara menimbang tanah beserta ring lalu tanah
dikeringovenkan selama 24 jam pada suhu 1050C. Diameter ring dan tebal ring
diukur sehingga diketahui volumenya sebagai berikut :

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

24

Dimana

V = (r cm)2 x t cm
: V = volume
= 22/7
r = x (diameter ring = 7,4 cm)
t = tinggi ring (cm) = 3,85 cm
dalam hal ini diameter = 7,4 cm

Berdasarkan perhitungan itu maka didapat BD tanah dengan rumus :


Kerapatan Lindak (g/ml) =

berat tanah kering oven


volume tanah

Pada pengukuran TRP tanah terlebih dahulu dilakukan pengukuran


partikel density (PD) tanah dengan cara tanah kering oven dari pengukuran BD
dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml (timbang beratnya) sebanyak 30 g lalu
labu. Dengan menggunakan hot plate labu itu

labu diisi dengan air

dipanaskan hingga mendidih lalu dibiarkan satu malam. Selanjutnya tambahkan


air hingga mencapai volume 100 ml dan ditimbang. Berat/volume air adalah berat
total dikurangi berat botol dan berat tanah, sedangkan volume tanah adalah 100
ml dikurangi volume air. Dari perhitungan ini maka PD dapat dihitung dengan
rumus :
PD =

berat butiran tanah


volume butiran tanah

Dengan demikian maka :


TRP = ( 1 -

BD
) x 100 %
PD

b. Pengukuran Permeabilitas Tanah


Metode yang digunakan dalam pengukuran permeabilitas tanah adalah
metode De Boodt. Contoh tanah utuh yang berada dalam ring sampel direndam
dalam bak perendam berisi air 3 cm dari dasar baki selama 24 jam. Setelah
perendaman selesai, contoh tanah yang sudah jenuh air dengan ring nya
dipindahkan

ke

alat

pengukur permeabilitas

atau

unit

permeameter

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

25

kemudian dialiri air. Pengukuran jumlah air yang tertampung pertama


dilakukan

selama

jam, selanjutnya

setiap

hari

sampai

kali

pengukuran. Terakhir diamati volume air yang telah keluar setelah melalui
masa tanah selama 1 jam lagi. Setelah itu diambil rata -rata dari keenam
pengukuran itu. Perhitungan permeabilitas tanah diperoleh dari rumus::
Q
l
1
Permeabilitas (K) = ------- x ----- x ------ (cm/jam)
t
h
A
dimana :
Q = banyaknya air yang mengalir pada setiap pengukuran (ml)
t = waktu pengukuran (jam)
l = tebal contoh tanah (cm)
h = tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm)
A = luas permukaan contoh tanah (cm2 )
Dalam hal ini , l = 3,8 cm, h = 5 cm, A= 45,72 cm2
Klasifikasi permeabilitas dalam cm/jam menurut Uhland dan ONeal (1951)

dalam FP-UISU (2001) diuraikan pada Tabel 3.


Tabel 3. Kelas kecepatan permeabilitas tanah (Uhland dan ONeal. 1951)
Kecepatan Permeabilitas (cm/jam)
Kelas
<
0.13 0.51
2.01
6.26
12.51 >

0.12
0.51
2.00
6.25
12.50
25.00
25.00

Sangat lambat
Lambat
Agak lambat
Sedang
Agak cepat
Cepat
Sangat cepat

c. Pengukuran Infiltrasi Tanah


Metode yang digunakan untuk mengukur parameter ini adalah Double

Ring Infiltrometer. Pengukuran infiltrasi dilakukan dengan cara membenamkan


alat double ring infitrometer di atas permukaan tanah. Ring yang ada di bagian
dalam diisi air sampai rata dengan permukaan ring lalu dihitung besarnya
kecepatan aliran air secara vertikal ke bawah dalam cm/jam.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

26

Tabel 4. Kelas laju infiltrasi tanah dalam cm/jam (Hillel, 1980)


Laju Infiltrasi (cm/jam)
Kelas
25 - 50
sangat cepat
12,5 - 25

cepat

7,5 - 15

sedang

0,5 - 2,5

lambat

< 0,5

sangat lambat

d. Pengukuran Air Tersedia


Dalam pengukuran persentase ketersediaan air pada penelitian ini
dilakukan dengan cara terlebih dahulu menghitung berapa besar kadar air kapasit
as lapang (KL) dan kadar air titik layu permanen (TLP) dari sampel tanah
tersebut. Selisih dari kadar air KL dengan TLP adalah persentase air tersedia.

e. Pengukuran Stabilitas Agregat


Penetapan stabilitas agregat tanah secara kuantitatif dari masing-masing
perlakuan dilakukan dengan cara pengayakan kering dan basah di laboratorium
menurut metode De Leenheer dan De Boodt. Dari hasil pengukuran ini maka
didapat klasifikasi indeks stabilitas sebagai berikut :
Tabel 5. Kelas stabilitas agregat tanah (De Leenheer dan De Boodt, 1958)
Indeks Kestabilan Agregat
Kelas
> 200
80 200

sangat stabil sekali


sangat stabil

66 80

stabil

50 66

agak stabil

40 50

kurang stabil

< 40

tidak stabil

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

27

f. Pengukuran Penetrasi Tanah


Pengukuran penetrasi tanah dilakukan dengan menggunakan alat
penetrometer. Pengamatan dilakukan dengan cara menusukkan penetrometer ke
dinding lobang tanah hingga muncul angka. Besarnya penetrasi tanah diperoleh
dengan membaca besarnya gaya yang dihasilkan pada alat. Setiap sampel diambil
angka rataan dari 10 kali pengukuran.

Analisis Sifat Kimia Tanah


Peubah amatan dari sifat kimia tanah yaitu N-total, P-tersedia, C-organik,
kandungan bahan organik, kation-kation tukar tanah (Ca, Mg, K, dan Na),
kapasitas tukar kation (KTK), pH dan kejenuhan basa (KB). Metode dari masingmasing peubah amatan ini diuraikan pada Tabel 1. Analisis sampel tanah ini
dilakukan di laboratorium FP-UISU.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

28

HASIL DAN PEMBAHASAN


Survey Lapang
Hasil pengamatan dari survey lapang adalah berupa pengamatan sistem
rotasi penggunaan lahan yang ada di Kebun Klambir Lima, wawancara dengan
administratur, asisten dan mandor kebun tentang sejarah penggunaan lahan, dan
produksi tembakau deli.
Luas Kebun Kelambir Lima 967 Ha dan merupakan luasan termasuk jalan
kebun dan bangsal. Setiap kebun yang ditanami tembakau dibagi menjadi
beberapa afdeling. Untuk penanaman tembakau deli dibagi ke dalam kongsi dan
setiap kongsi terdiri dari beberapa ladang. Luas perladang tembakau lebih kurang
0.8 Ha, dengan jumlah tanaman 19.000 batang/ladang.
Dari hasil survey lapang penggunaan lahan jati dengan luasan 32,32 ha,
dan pada waktu pengamatan luas lahan jati yang masih ada tanaman jatinya 4,3
ha yang terdiri atas 16.748 pokok jati dan merupakan lokasi pengambilan sampel
tanah. Lahan ini terdapat pada :

Sebelah timur kongsi 1dan 2 seluas 2,5 ha dengan 8926 pohon jati

Sebelah timur kongsi 3 dan 4 seluas 1,8 ha dengan 7822 pohon jati
Untuk lahan bero terdiri atas 2 kongsi yaitu kongsi 3 dan kongsi 4. Kongsi

3 terdiri atas 34 ladang ( 27,2 ha) dan kongsi 4 terdiri atas 35 ladang (28 ha)
dan merupakan lokasi pengambilan sampel tanah.
Untuk lahan rotasi tebu terdiri atas 2 kongsi yaitu kongsi 1 dan kongsi 2.
Kongsi 1 terdiri atas 26 ladang ( 20,8 ha) dan kongsi 2 terdiri atas 25 ladang
(20 ha) dan merupakan lokasi pengambilan sampel tanah.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

29

Pada lahan rotasi palawija terdiri atas 2 kongsi dengan 50 ladang ( 40 ha)
dan merupakan lokasi pengambilan sampel tanah. Untuk lahan ini tidak ditanami
lagi tembakau karena telah digarap oleh masyarakat sehingga data produksi
tembakau dari lahan ini tidak ada.

Sifat Fisika Tanah


Hasil pengukuran sifat fisika tanah dari masing-masing peubah amatan
rata-rata perlakuannya, analisis sidik ragam, dan uji beda rataan diuraikan pada
Lampiran 3 sampai 9. Dari semua peubah amatan yang diukur memberikan
perbedaan nyata sampai sangat nyata pada setiap jenis penggunaan lahan kecuali
stabilitas agregat tanah..

a. Stabilitas Agregat
Stabilitas agregat tanah adalah ketahanan agregat tanah terhadap daya
yang dapat menimbulkan penghancuran agregat. Dari hasil pengukuran stabilitas
agregat ini masing-masing perlakuan memiliki indeks stabilitas agregat agak
stabil (De Leenheer dan De Boodt, 1958). Rata-rata perlakuan dari masing-masing
rotasi penggunaan lahan disajikan pada Tabel 6. Hasil pengukuran dari masingmasing sampel dan analisis sidik ragam indeks stabilitas pada masing-masing
rotasi penggunaan lahan pada Lampiran 4.
Tabel 6. Indeks stabilitas agregat pada masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Indeks Stabilitas Agregat
Jati
63,66
Bero
60,50
Rotasi Tebu
52,83
Rotasi Palawija
50,35
Stabilitas agregat tidak dipengaruhi secara nyata dari penggunaan lahan.
Lahan jati memberikan indeks stabilitas yang lebih besar (63,66) dibandingkan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

30

dengan penggunaan lahan lainnya. Kohnke (1986 dalam Juanda, dkk, 2003)
menyebutkan bahwa kekuatan agregat dipengaruhi oleh kelembaban tanah, tipe
liat, daya adsorbsi kation dan kandungan bahan organik. Pernyataan sejalan
dengan hasil penelitian ini yang mendapatkan lahan jati memiliki indeks yang
lebih tinggi dan tanaman jati memiliki kanopi tanaman yang besar yang dapat
menjaga kelembaban tanah dibandingkan dengan lahan lainnya. Disamping itu
hutan jati menyumbangkan bahan organik yang besar. Dari hasil pengukuran pada
penelitian ini lahan jati mengandung 2,98 % bahan organik.
Dari semua jenis penggunaan lahan rotasi palawija memberikan indeks
stabilitas yang paling

kecil (50,35) dibandingkan dengan penggunaan lahan

lainnya. Hal ini disebabkan kerena rotasi dengan palawija pengolahan tanahnya
lebih intensif sehingga ketahanan agregat tanahnya lebih kecil dan juga berakibat
kelembaban tanah rendah di samping kecilnya kanopi tanaman dalam melindungi
tanah dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya. Rotasi dengan palawija
juga kecil dalam hal menyumbangkan bahan organik tanah. Dari hasil pengukuran
pada penelitian ini lahan rotasi palawija memberikan 1,48 % bahan organik.
Indeks stabilitas agregat tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan
dilukiskan pada Gambar 1.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

31

6 3 ,6 6
6 0 ,5 0
6 0 ,0 0

5 2 ,8 3

Indeks Stabilitas Agregat

5 0 ,3 5

4 0 ,0 0

2 0 ,0 0

0 ,0 0
J a ti

B e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 1. Indeks stabilitas agregat dari masing-masing jenis penggunaan lahan

b. Kekerasan Tanah
Kekerasan tanah adalah kemampuan tanah dalam menahan beban yang
dinyatakan dalam satuan kg/cm2. Sifat ini diukur dengan alat penetrometer pada
kondisi lapang. Sifat ini penting untuk : (1) menduga tingkat kemudahan atau
kemampuan akar tanaman menembus tanah; (2) tingkat pemadatan tanah (soil
compaction), baik proses alami maupun oleh adanya aktifitas mekanisasi alat-alat
pertanian; (3) tingkat kemantapan atau kekompakan struktur tubuh tanah (Hillel,
1980).
Hasil pengukuran kekerasan tanah, analisis sidik ragam dan uji beda rataan
dari masing-masing jenis penggunaan lahan disajikan pada Lampiran 5, rataan
pengukurannya pada Tabel 7. Perbedaan jenis rotasi secara nyata mempengaruhi
nilai kekerasan tanah. Lahan yang diberokan menyebabkan nilai kekerasan tanah
lebih rendah (1,74 kg/cm2) di antara jenis rotasi lainnya. Sementara itu lahan yang
dirotasi dengan tebu (2,18 kg/cm2) dan palawija (2,64 kg/cm2) memiliki kekerasan
tanah yang tinggi. Pemberoan tanah akan menyebabkan berbagai jenis tanaman

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

32

akan tumbuh di lahan itu dengan aneka ragam kedalaman akar. Akibatnya tanah
memiliki rongga-rongga pori yang lebih banyak dan sebaran akar halus lebih
besar sehingga penetrasi akar ke lapisan bawah lebih mudah dan akan
menghasilkan nilai kekerasan tanah lebih rendah.
Tabel 7. Kekerasan tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Kekerasan Tanah (kg/cm2)
Jati
1,87 a
Bero
1,74 a
Rotasi Tebu
2,18 b
Rotasi Palawija
2,64 c
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Lahan yang dirotasi dengan tebu dan palawija memiliki kekerasan tanah
yang besar dan berbeda nyata dengan lahan jati dan lahan bero. Pada lahan rotasi
tebu dan palawija pengolahan tanah sangat intensif akibatnya sebaran akar halus
tetumbuhan sedikit begitu juga akar berukuran besar . Semakin besar sebaran akar
halus maupun akar besar pada suatu lahan akan mengakibatkan kekerasan tanah
semakin rendah (Basyaruddin, 2004).

Oleh sebab itu maka rotasi dengan tebu

maupun palawija kekerasan tanahnya besar. Lahan rotasi palawija berbeda nyata
dengan lahan rotasi tebu dimana rotasi palawija kekerasan tanahnya lebih besar
dibandingkan dengan rotasi tebu. Hal ini mungkin disebabkan tanaman tebu
dipanen setahun sekali sementara palawija tiga bulan sekali sehingga pengolahan
tanah pada lahan palawija lebih intensif bila dibandingkan dengan lahan rotasi
tebu. Semakin intensif lahan diolah maka terjadi pemadatan tanah (soil
compaction) sehingga penetrasi akar ke lapisan bawah lebih sulit dan memberikan
nilai penetrasi tanah yang besar (Hillel, 1980). Penetrasi tanah dari ke empat jenis
penggunaan lahan disajikan pada Gambar 2.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

33

2 ,6 4 c
2 ,5

2 ,1 8 b
Penetrasi Tanah (kg/cm2)

2 ,0

1 ,8 7 a
1 ,7 4 a

1 ,5

1 ,0

0 ,5

J a ti

B e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n la h a n

Gambar 2. Kekerasan tanah (kg/cm2) dari masing-masing rotasi penggunaan lahan

c. Laju Infiltrasi
Infiltrasi adalah laju kecepatan masuknya air ke dalam tanah melalui
permukaan tanah secara vertikal ke bawah. Dari ke empat jenis penggunaan lahan
laju infiltrasinya tergolong ke dalam kelas cepat sampai sangat cepat. Dari ke
empat jenis penggunaan lahan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap laju
infiltrasi tanah. Hasil pengukuran laju infiltrasi, analisis sidik ragam, dan uji beda
rataan dari masing-masing jenis penggunaan lahan disajikan pada Lampiran 6,
rataan perlakuan dari masing-masing jenis penggunaan lahan pada Tabel 8. Lahan
hutan jati memiliki laju infiltrasi yang paling besar yaitu 43,28 cm/jam
dibandingkan dengan jenis penggunaan lahan lainnya. Susswein, et al., (2001)
menyatakan bahwa tanah hutan mempunyai laju infiltrasi permukaan yang tinggi
dan makroporositas yang relatif banyak, sejalan dengan tingginya aktivitas biologi
tanah dan turnover perakaran. Lahan jati dapat diasumsikan sebagai lahan hutan
sehingga kecepatan aliran air (laju infiltrasi) tanah di permukaan tinggi.
Penyerapan air oleh akar tanaman hutan menyebabkan dehidrasi tanah,

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

34

pengkerutan, dan terbukanya rekahan-rekahan kecil. Kedua proses tersebut dapat


memicu terbentuknya pori yang lebih besar sehingga laju infiltrasi tanah di
permukaan tinggi. Disamping itu hutan jati memiliki lapisan serasah yang tebal
dan penutupan permukaan tanah oleh kanopi tanaman yang akan menyebabkan
rendahnya pembentukan kerak di permukaan tanah sehingga laju infiltrasi tinggi
(Marshall et al., 1999). Laju infiltrasi pada lahan bero (41,35 cm/jam) dan rotasi
tebu (34,26 cm/jam) tidak berbeda nyata dengan lahan rotasi jati.
Lahan rotasi palawija memiliki laju infiltrasi yang paling kecil (17,20
cm/jam) dan berbeda nyata dibandingkan dengan jenis penggunaan lahan lainnya.
Hal ini erat kaitannya dengan kelembaban tanah dimana infiltrabilitas tanah serta
variasinya tergantung dari kelembaban tanah (Effendi, 1982). Dari ke empat jenis
penggunaan lahan, rotasi palawija memiliki kelembaban tanah yang paling rendah
dibandingkan dengan lainnya, oleh karena penutupan kanopi tanaman kecil
disamping pengolahan tanah yang intensif. Laju infiltrasi dari ke empat jenis
penggunaan lahan dilukiskan pada Gambar 3.
Tabel 8. Laju infiltrasi tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Laju infiltrasi (cm/jam)
Jati
43,28 b
Bero
38,97 b
Rotasi Tebu
16,26 a
Rotasi Palawija
8,40 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

35

4 3 ,2 8 b
3 8 ,9 7 b

Laju Infiltrasi (cm/jam)

4 0 ,0

3 0 ,0

2 0 ,0

1 6 ,2 6 a
8 ,4 0 a

1 0 ,0

J a ti

b e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 3. Laju infiltrasi (cm/jam) dari ke empat jenis penggunaan lahan

d. Kerapatan Lindak (BD)


Kerapatan lindak tanah berhubungan erat dengan penetrasi tanah, semakin
tinggi nilai penetrasi tanah memberikan BD yang tinggi. Hal ini dapat terjadi
karena pemadatan tanah dapat memampatkan fase padat tanah sehingga berat
persatuan volume meningkat. Hasil pengukuran BD tanah, analisis sidik ragam
dan uji beda rataan dari masing-masing jenis penggunaan lahan disajikan pada
Lampiran 7, rataan perlakuan dari masing-masing jenis penggunaan lahan pada
Tabel 9. Dari ke empat jenis penggunaan lahan rotasi tebu memiliki nilai BD yang
paling tinggi (1,40 g/cm3) dan tidak berbeda nyata dengan lahan rotasi palawija
(1,37 g/cm3). Hal ini disebabkan bahwa ke dua keadaan lahan ini merupakan
lahan yang pengolahan tanahnya sangat intensif

sehingga terjadinya proses

pemadatan tanah akibat dari alat mekanisasi pertanian yang akhirnya akan
meningkatkan nilai BD tanah. Soepardi (1983 dalam Juanda dkk. 2003)
menyatakan bahwa pengolahan tanah dapat menaikkan berat jenis isi tanah (BD).
Disamping itu ke dua jenis rotasi ini dalam nenyumbangkan bahan organik juga

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

36

rendah dan terjadinya degradasi bahan organik akibat pengolahan tanah yang
intensif akan menyebabkan pemadatan tanah cukup tinggi, sehingga terjadinya
peningkatan BD tanah.
Tabel 9. Kerapatan lindak tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Kerapatan Lindak (g/cm3)
Jati
1,06 a
Bero
1,08 a
Rotasi Tebu
1,40 b
Rotasi Palawija
1,37 b
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Kerapatan lindak dari lahan yang diberokan (1,08 g/cm3) tidak berbeda
nyata dengan lahan jati (1,06 g/cm3).

Hal ini sejalan dengan kekerasan tanah

dari ke dua keadaan ini memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan ke
dua jenis rotasi (tebu dan palawija) dan disamping itu dalam menyumbangkan
bahan organik juga lebih besar pada lahan jati dan bero sehingga memberikan
nilai BD rendah. Kerapatan lindak dari ke empat jenis penggunaan lahan
dilukiskan pada Gambar 4.

1 ,4 0 b

1 ,5 0

1 ,3 7 b

1 ,0 6 a

1 ,0 8 a

BD (g/cm )

1 ,0 0

0 ,5 0

0 ,0 0
J a ti

B e ro

Tebu

P a l a w ij a

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 4. BD (g/cm3) dari masing-masing jenis penggunaan lahan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

37

e. Total Ruang Pori (TRP)


Porositas tanah merupakan perbandingan antara volume ruang pori
(makro/mikro) dengan volume total contoh tanah. Pori makro berfungsi sebagai
tempat lalu lintas air dan udara, sedangkan pori mikro berfungsi menyimpan air.
Total ruang pori berkorelasi negatif dengan BD tanah, semakin besar jumlah total
ruang pori akan semakin kecil BD tanah (Sudaryono, 2001). Hasil pengukuran
TRP, analisis sidik ragam, dan uji beda rataan dari masing-masing jenis
penggunaan lahan disajikan pada Lampiran 8, rataan perlakuan dari masingmasing jenis penggunaan lahan pada Tabel 10. Total ruang pori tanah dari ke
empat jenis penggunaan lahan, lahan bera memiliki nilai yang paling tinggi yaitu
52,65 % dan tidak berbeda nyata dengan lahan jati (48,32 %). Penetrasi dan BD
tanah juga menunjukkan bahwa lahan bera dan jati memiliki nilai penetrasi tanah
rendah dan BD yang rendah sehingga total ruang porinya tinggi.
Tabel 10. Total ruang pori tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Total Ruang Pori (%)
Jati
48,32 b
Bero
52,65 b
Rotasi Tebu
37,52 a
Rotasi Palawija
39,06 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Total ruang pori untuk lahan rotasi tebu sebesar 37,52 % dan rotasi
palawija 39,06 % dan berhubungan tidak nyata antar ke duanya; serta berbeda
nyata dengan lahan rotasi jati dan bera. Hal ini erat kaitannya dengan kekerasan
tanah dan BD tanah di atas.

Lahan rotasi tebu dan palawija telah terjadi

pemadatan tanah karena ruang pori terisi oleh partikel tanah terlarut dalam air
melalui proses pengendapan. Oleh karena itu porositas ditentukan oleh BD tanah,

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

38

dengan demikian perubahan porositas mengikuti perubahan BD tanah. Total ruang


pori dari ke empat jenis rotasi penggunaan lahan dilukiskan pada Gambar 5.

5 2 ,6 5 b
5 0 ,0 0

4 8 ,3 2 b
3 9 ,0 6 a

Total Ruang Pori (%)

4 0 ,0 0

3 7 ,5 2 a

3 0 ,0 0

2 0 ,0 0

1 0 ,0 0

J a ti

B e rO

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 5. Total ruang pori (%) dari masing-masing jenis penggunaan lahan

f. Permeabilitas Tanah
Permeabilitas yaitu suatu sifat yang menyatakan laju pergerakan suatu zat
cair melalui suatu media berpori. Dalam hal ini adalah laju pergerakan air melalui
pori-pori tanah (Hillel, 1980). Dari hasil pengukuran pada ke empat jenis
penggunaan lahan kelas permeabilitas tanah tergolong sedang sampai lambat
(Lampiran 9). Rataan pengukuran permeabilitas tanah dari masing-masing jenis
pernggunaan lahan pada Tabel 11. Permeabilitas pada lahan rotasi tebu (1,17
cm/jam) dan rotasi palawija (0,87 cm/jam) tidak berbeda nyata antar keduanya,
sementara untuk lahan jati (5,83 cm/jam) dan bera (4,27 cm/jam) berbeda nyata
antar ke duanya.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

39

Tabel 11. Permeabilitas tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan


Penggunaan Lahan
Permeabilitas (cm/jam)
Jati
5,83 c
Bero
4,27 b
Rotasi Tebu
1,17 a
Rotasi Palawija
0,89 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Permeabilitas tanah erat kaitannya dengan total ruang pori tanah dimana
semakin besar total ruang pori tanah maka semakin besar pula permeabilitas
tanah. Artinya laju pergerakan air semakin besar apabila total ruang pori di dalam
tanah besar. Dari ke empat jenis penggunaan lahan rotasi tebu dan palawija
memiliki total ruang pori yang lebih kecil dibandingkan dengan lahan jati dan
bera sehingga memberikan kelas permeabilitas yang lebih lambat. Illustrasi dari
ke empat jenis penggunaan lahan ini pada Gambar 6.

5 ,8 3 c

Permeabilitas Tanah (cm/jam)

6 ,0 0

4 ,2 7 b
4 ,0 0

2 ,0 0

1 .1 7 a
0 ,8 9 a

0 ,0 0
J a ti

B e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 6. Permeabilitas tanah (cm/jam) dari masing-masing jenis penggunaan


lahan

g. Distribusi Pori Air Tersedia


Distribusi pori penting untuk diketahui karena menggambarkan tata air
dan udara tanah untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Menurut
Sutono, dkk. (1996) ruang pori total tanah yang tinggi belum dapat menjamin

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

40

tanah dapat memberikan petumbuhan yang baik bagi akar tanaman atau
keseluruhan tanaman, karena ruang pori total hanya menunjukkan persentase
volume tanah yang berisi pori dan tidak menunjukkan ukuran pori. Distribusi pori
meliputi tiga ukuran pori yaitu pori air tersedia, pori drainase lambat, dan pori
drainase cepat (pori yang berisi udara/pori aerase).
Pori air tersedia merupakan pori tanah dimana akar tanaman akan mampu
menyerap air yang berada di dalam pori-pori tanah (Baver, dkk., 1983). Pori ini
sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman dan terdapat antara
kadar air pada kapasitas lapang dan kadar air pada titik layu permanen dengan
ukuran pori 0,2 8,7 mikron dan dinyatakan dalam persen volume tanah (Sarief,
1989). Pori drainase lambat merupakan pori yang berada antara kadar air pada
kapasitas lapang dengan kadar air tanah yang masih memungkinkan adanya
pergerakan air ke bawah secara lambat oleh pengaruh gaya gravitasi, dengan
ukuran pori yaitu antara 8,7 29,7 mikron dan dinyatakan dalam persen volume
tanah (Sarief, 1989). Pori drainase cepat merupakan pori yang terisi udara pada
waktu tanah dalam keadaan kapasitas lapang. Pori drainase cepat ini, perlu
diketahui karena sangat mempengaruhi keberadaan oksigen di dalam tanah yang
sangat diperlukan oleh mikroorganisme tanah dalam melakukan aktivitasnya,
serta di dalam proses respirasi tanaman (Baver, dkk., 1978).
Dari hasil pengukuran distribusi pori air tersedia dari ke empat jenis
penggunaan lahan terdapat pada Lampiran 10 dan Tabel 8, lahan jati memberikan
persentase paling besar yaitu 42,43 % dan tidak berbeda nyata dengan lahan bera
(39,30 %). Untuk rotasi tebu (37,65 %) dan rotasi palawija (36,41 %) berbeda
nyata dengan lahan jati dan bera.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

41

Tabel 12. Distribusi pori air tersedia dari masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Pori Air tersedia (%)
Jati
42,43 b
Bero
39,30 ab
Rotasi Tebu
37,65 a
Rotasi Palawija
36,41 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Distribusi pori air tersedia dari ke empat jenis penggunaan lahan


diilustrasikan pada Gambar 7.

4 2 ,4 3 b
3 9 ,3 0 a b

4 0 ,0 0

3 7 ,6 5 a

3 6 ,4 1 a

Pori AirTersedia (%)

3 0 ,0 0

2 0 ,0 0

1 0 ,0 0

J a ti

B e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 7. Distribusi pori air tersedia dari masing-masing jenis penggunaan lahan

Sifat Kimia Tanah


Semua peubah sifat kimia tanah yang diukur memberikan perbedaan yang
nyata sampai sangat nyata pada masing-masing jenis penggunaan lahan, kecuali
kandungan Na-dd. Lahan jati dan bera umumnya memberikan sifat kimia yang
lebih baik dibandingkan dengan rotasi tebu dan palawija. Hal ini erat kaitannya
dengan peubah sifat fisik yang diukur dimana lahan jati dan bera memberikan
sifat fisik yang lebih baik dibandingkan dengan rotasi tebu dan palawija.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

42

a. pH-tanah
Dari hasil pengukuran pH tanah pada masing-masing jenis penggunaan
lahan memberikan perbedaan yang nyata. Hasil pengkuran, analisis sidik ragam,
dan uji beda rataan pH tanah disajikan pada Lampiran 11, rataan pengukuran pH
tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan pada Tabel 9. pH tanah dari
masing-masing jenis penggunaan lahan tergolong masam sampai agak masam
(Hardjowigeno, 1995).
Tabel 13. pH tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
pH-tanah
Jati
5,73 b
Bero
5,67 b
Rotasi Tebu
5,22 a
Rotasi Palawija
5,19 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Lahan jati dengan pH 5,73 dan pada lahan bero dengan pH 5,67 memiliki
nilai pH yang lebih tinggi dibandingkan dengan rotasi penggunaan lahan tebu dan
palawija. pH tanah sangat berkorelasi terhadap pengolahan tanah dan kandungan
bahan organik tanah, dimana pH berkorelasi negatif terhadap pH tanah dan
kandungan bahan organik tanah. Semakin aktif pengolahan tanah dan semakin
rendah kandungan bahan organik akan memberikan pH tanah yang rendah
(masam) (Hardjowigeno, 1995). Hubungan pH dengan ke empat jenis penggunaan
lahan dilukiskan pada Gambar 8.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

43

5 ,7 3 b
5 ,6 7 b
5 ,2 2 a

5 ,1 9 a

5 ,0 0

PH-tanah

4 ,0 0

3 ,0 0

2 ,0 0

1 ,0 0

J a ti

B e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 8. Hubungan pH dengan masing-masing jenis penggunaan lahan

b. C-organik,,Kandungan Bahan Organik, dan N-Total Tanah


Hasil pengukuran C-organik dari masing-masing jenis penggunaan lahan
tergolong sangat rendah sampai rendah (Hardjowigeno, 1995). Terdapat
perbedaan yang sangat nyata dari ke empat jenis penggunaan lahan terhadap Corganik tanah (Lampiran 12), rataan hasil pengukuran C-organik pada Tabel 10.
Rataan kandungan C- organik untuk lahan jati adalah 1,73 % dan lahan bero 1,74
%, adalah lebih tinggi dibandingkan dengan lahan rotasi tebu (1,48 %) dan
palawija (0,89 %). Hal ini berhubungan erat dengan suumbangan bahan organik
terhadap tanah dimana lahan jati dan bero lebih tinggi. Ditinjau dari sisi
pengolahan tanah, lahan tebu dan palawija pengolahan tanahnya sangat intensif
sehingga mempercepat proses pelapukan dan terjadinya degradasi kandungan
bahan organik, oleh sebab ini maka kandungan C-organik untuk lahan rotasi tebu
dan palawija lebih kecil. Hubungan C-organik dengan ke empat jenis rotasi
penggunaan lahan dilukiskan pada Gambar 9.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

44

Tabel 14. C-organik tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan


Penggunaan Lahan
C-organik (%)
Jati
1,73 c
Bero
1,74 c
Rotasi Tebu
1,48 b
Rotasi Palawija
0,89 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Kandungan karbon dalam tanah merupakan komponen utama dalam bahan


organik yang mempengaruhi sifat tanah baik secara fisik dan kimia maupun
biologi. Lahan jati dan bero mempunyai sifat fisik yang lebih baik dibandingkan
dengan lahan rotasi tebu dan palawija. Hubungan kandungan bahan organik tanah
dengan ke empat jenis penggunaan lahan pada Lampiran 13 dan Tabel 15.
Tabel 15. Kandungan bahan organik tanah dari masing-masing jenis penggunaan
lahan
Penggunaan Lahan
Bahan Organik tanah (%)
Jati
2,98 c
Bero
3,00 c
Rotasi Tebu
2,56 b
Rotasi Palawija
1,54 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Hubungan kandungan bahan organik tanah dengan ke empat jenis


penggunaan lahan berbeda sangat nyata. Penggunaan lahan jati mengandung
bahan organik tanah sebesar 2,98 % dan lahan bero 3,00 % lebih tinggi
dibandingkan dengan lahan rotasi tebu (2,56 %) dan rotasi palawija (1,54 %). Hal
ini erat kaitannya dengan kandungan C-organik tanah di atas dimana penggunaan
lahan jati dan bero lebih tinggi kandungan C-organiknya dibandingkan dengan
penggunaan lahan rotasi tebu dan palawija. Hubungan diantara ke empat jenis
penggunaan lahan dengan kandungan bahan organik tanah dilukiskan pada
Gambar 10.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

45

1,73 c

1,74 c
1,48 b

C-Organik (%)

1,50

0,89 a

1,00

0,50

0,00
Jati

bero

T ebu

P alawija

Jenis P enggunaan Lahan

Gambar 9. Hubungan masing-masing jenis penggunaan lahan dengan C-organik

3,00

2,98 c

3.00 c

Bahan Organik (%)

2,56 b

2,00

1,54 a

1,00

0,00
Jati

bero

Tebu

Palawija

Jenis Penggunaan Lahan

Gambar 10. Hubungan masing-masing jenis penggunaan lahan dengan


kandungan bahan organik tanah (%)
Hasil pengukuran N-total tanah juga berkorelasi positif dengan kandungan
C-organik tanah dimana lahan jati (0,18 %) dan bera (0,18 %) lebih tinggi

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

46

dibandingkan dengan lahan tebu (0,16 %) dan lahan palawija (0,15 %). Hasil
pengukuran N-total pada masing-masing jenis penggunaan lahan terdapat pada
Lampiran 14 dan Tabel 12.
Tabel 16. N-total tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
N-total (%)
Jati
0,18 b
Bero
0,18 b
Rotasi Tebu
0,16 a
Rotasi Palawija
0,15 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Hasil akhir dekomposisi bahan organik adalah bentuk-bentuk N yang


dapat digunakan tanaman, sehingga apabila C-organik tanah tinggi di dalam tanah
akan mineralisasi ini akan memberikan N-total tanah yang tinggi. Dari rataan Ntotal pada ke empat jenis penggunaan lahan kandungannya tergolong rendah.
(Hardjowigeno, 1995). Hubungan ke empat jenis penggunaan lahan dengan Ntotal tanah dilukiskan pada Gambar 11.

0 ,1 8 b
0 ,1 8 b
0 ,1 6 a
0 ,1 5 a

N- Total (%)

0 ,1 5

0 ,1 0

0 ,0 5

0 ,0 0
J a ti

b e ro

T ebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 11. N-total (%) dari ke empat jenis penggunaan lahan

c. P-Tersedia

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

47

Kandungan P-tersedia tanah pada ke empat jenis rotasi penggunaan lahan


tergolong sedang (Hardjowigeno, 1995). Hasil pengukuran P-tersedia pada
masing-masing jenis penggunaan lahan terdapat pada Lampiran 15 dan Tabel 13.
Tabel 17. P-tersedia tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
P-tersedia (ppm)
Jati
14,65 a
Bero
14,71 a
Rotasi Tebu
24,42 c
Rotasi Palawija
23,60 b
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Rataan P-tersedia untuk lahan jati adalah 14,65 ppm dan lahan bero 14,71
ppm, lebih rendah dibandingkan dengan lahan rotasi tebu yaitu 24,42 ppm dan
palawija 23,60 ppm. Hal ini disebabkan kerena lahan tebu untuk penanamannya
diperlukan hara P yang relatif besar sehingga residu P dimungkinkan masih tinggi
di dalam tanah, begitu juga halnya dengan lahan palawija. Akibat dari pengolahan
tanah yang intensif, maka mineral alofan yang ada di dalam tanah akan
termineralisasi sehingga P yang tadinya dijerap oleh mineral ini akan lepas ke
dalam larutan tanah yang mengakibatkan P akan besar di dalam larutan tanah
(Tan, 1998). Hubungan P-tersedia dari ke empat jenis penggunaan lahan
dilukiskan pada Gambar 12.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

48

2 4 ,4 2 c
2 3 ,6 0 b

2 5 ,0 0

P-tersedia (ppm)

2 0 ,0 0

1 5 ,0 0

1 4 ,6 7 a

1 4 ,7 1 a

1 0 ,0 0

5 ,0 0

J a ti

b e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 12. Hubungan P-tersedia (ppm) dengan ke empat jenis penggunaan lahan

d. Kation Tukar Tanah (K, Ca, Mg, dan Na)


Hasil pengukuran kandungan K-dapat dipertukarkan (K-dd) dari ke empat
jenis penggunaan lahan terdapat pada Lampiran 16 dan Tabel 14 dimana
kandungan K-dd tergolong rendah sampai sedang (Hardjowigeno, 1995). Lahan
jati (0,47 me/100 g), bero (0,42 me/100 g), tebu (0,20 me/100 g), dan palawija
(0,21 me/100 g). Hubungan kandungan K-dd tanah dengan ke empat jenis
penggunaan lahan berbeda sangat nyata.
Kandungan K-dd rendah bisa dihubungkan dengan kandungan
mineral yang ada pada tanah lokasi penelitian. Menurut Puslittanak (1993), tanah
di Kebun Klambir Lima mengandung mineral campuran antara mineral 2 : 1 dan
alofan sedikit imogulit. Mineral 2 : 1 yang dominan di tanah ini adalah illit,
montmorilonit dan mineral lainnya. Diketahui bahwa mineral illit kuat memfiksasi
K di antara kisi-kisi mineralnya. Oleh sebab ini walaupun dilakukan pemupukan
K namun K yang dapat dipertukarkan di dalam tanah rendah. Pada Gambar 13
dilukiskan hubungan antar masing-masing jenis penggunaan lahan dengan
kandungan K-dd tanah.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

49

Tabel 18. K-dd tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan


Penggunaan Lahan
K-dd (me/100 g)
Jati
0,47 d
Bero
0,36 c
Rotasi Tebu
0,15 b
Rotasi Palawija
0,08 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

0 ,4 7 b
0 ,4 2 b

K-dd (me/100 g)

0 ,4 0

0 ,3 0

0 ,2 0 a

0 ,2 1 a

Tebu

P a la w ija

0 ,2 0

0 ,1 0

0 ,0 0
J a ti

b e ro

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 13. Hubungan diantara ke empat jenis penggunaan lahan dengan


kandungan K-dd (me/100 g).
Hasil pengukuran kandungan Ca-dapat dipertukarkan (Ca-dd) dari ke
empat jenis penggunaan lahan tergolong tinggi sampai sangat tinggi dan
kandungan

Mg-dapat

dipertukarkan

(Mg-dd)

rendah

sampai

sedang

(Hardjowigeno, 1995). Hubungan Ca-dd dan Mg-dd dengan ke empat jenis


penggunaan lahan berbeda sangat nyata (Lampiran 17 dan Tabel 15).
Tabel 19. Ca-dd dan Mg-dd tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Ca-dd (me/100 g)
Mg-dd (me/100 g)
Jati
1,36 a
0,32 a
Bero
4,22 c
1,29 d
Rotasi Tebu
4,56 c
1,22 c
Rotasi Palawija
2,88 b
1,03 b
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

50

Tingginya kandungan Ca-dd berhubungan dengan pengapuran yang terus


dilakukan apabila akan dimulai penanaman baik pada penanaman tembakau
maupun tebu. Jenis kapur yang digunakan adalah dolomit dan kiserit. Oleh sebab
itu kandungan Mg tinggi dari residu pengapuran tersebut. Kandungan Ca-dd lebih
tinggi pada lahan bero dan lahan rotasi tebu dibandingkan dengan lahan jati dan
lahan rotasi palawija serta berbeda nyata diantaranya. Hal ini disebabkan karena
lahan bero dan lahan rotasi tebu tetap dilakukan pengapuran setiap musim
tanamnya sedangkan lahan jati tidak dilakukan pengapuran. Lahan rotasi palawija
pengapuran dilakukan pada saat akan dimulainya penanaman tembakau setelah itu
tidak dilakukan lagi pengapuran. Hubungan ke empat jenis penggunaan lahan
dengan kandungan Ca-dd dan Mg-dd dilikiskan pada Gambar 14 dan 15.

2 5 ,3 7 c
2 3 ,8 9 c

2 5 ,0 0

Ca-dd (me/100 g)

2 0 ,0 0

1 5 ,0 0

1 7 ,9 7 b
1 4 ,0 7 a

1 0 ,0 0

5 ,0 0

J a ti

b e ro

T ebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 14. Hubungan antara Ca-dd (me/100 g) dengan masing-masing jenis


penggunaan lahan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

51

1 ,2 9 d
1 ,2 2 c
1 ,0 3 d

Mg.dd (me/100 g)

1 ,0 0

0 ,5 0

0 .3 9 a

0 ,0 0
J a ti

b e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 15. Hubungan dari masing-masing jenis penggunaan lahan dengan Mg-dd
(me/100 g).
Hasil pengukuran Na-dd dari masing-masing jenis rotasi penggunaan
lahan tergolong rendah (Hardjowigeno, 1995) dimana lahan jati (0,10 me/100 g),
bera (0,18 me/100 g), tebu (0,11 me/100 g), palawija (0,12 me/100 g). Hubungan
di antara ke empat jenis penggunaan lahan dengan kandungan Na-dd tanah tidak
berbeda nyata (Lampiran 19 dan Tabel 16).
Tabel 20. Na-dd tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Na-dd (me/100 g)
Jati
0,10
Bero
0,11
Rotasi Tebu
0,10
Rotasi Palawija
0,11
0 ,1 1

0 .1 0

0 .1 1

0 ,1 0
0 ,1 0

Na-dd (me/100 g)

0 ,0 8

0 ,0 6

0 ,0 4

0 ,0 2

J a ti

b e ro

Tebu

P a l a w i ja

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

52

Gambar 16. Hubungan antar ke empat jenis penggunaan lahan dengan kandungan
Na-dd (me/100 g)

e. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Tanah


Kapasitas tukar kation merupakan suatu ukuran kapasitas tanah yang
berhubungan dengan kemampuan menyediakan hara kepada tanaman. Sifat ini
selalu digunakan sebagai indeks kesuburan tanah. Hasil pengukuran KTK tanah
dari ke empat jenis rotasi penggunaan lahan tergolong sangat rendah sampai
rendah (Hardjowigeno, 1995). Lahan jati memberikan nilai 6,45 me/100 g, lahan
bero 5,72 me/100 g, lahan rotasi tebu 4,54 me/100 g, dan lahan rotasi palawija
4,73 me/100 g. Hubungan antara ke empat jenis penggunaan lahan dengan KTK
tanah adalah berbeda sangat nyata (Lampiran 20 dan Tabel 17).
Tabel 20. Na-dd tanah dari masing-masing jenis penggunaan lahan
Penggunaan Lahan
Na-dd (me/100 g)
Jati
0,10
Bero
0,11
Rotasi Tebu
0,10
Rotasi Palawija
0,11
Tabel 17. Kapasitas tukar kation tanah dari masing-masing jenis penggunaan
lahan
Peubah Amatan
Penggunaan Lahan
Rata-rata Perlakuan
Jati
6,45 c
Bero
5,72 b
KTK (me/100 g)
Rotasi Tebu
4,73 a
Rotasi Palawija
4,54 a
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Rendahnya nilai KTK ini adalah disebabkan kandungan bahan organik


dari ke empat jenis penggunaan lahan tergolong sangat rendah sampai rendah.
Hal ini sejalan dengan KTK tanah dimana kandungan bahan organik tanah
berkorelasi positif dengan KTK tanah. Hubungan diantara keempat jenis rotasi
penggunaan lahan dengan KTK tertera pada Gambar 17.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

53

6 ,4 5 c
5 ,7 2 b

6 ,0

4 ,7 3 a
KTK Tanah (me/100 g)

4 ,5 4 a
4 ,0

2 ,0

0 ,0
J a ti

b e ro

Tebu

P a la w ija

J e n is P e n g g u n a a n L a h a n

Gambar 17. Hubungan KTK (me/100 g) dengan ke empat jenis lahan

f. Kejenuhan Basa (KB) Tanah


Kejenuhan basa tanah adalah perbandingan antara jumlah kation tukar
tanah (K, Ca, Mg, dan Na) dengan kapasitas tukar kation tanah. Hasil pengukuran
KB tanah dari ke empat jenis penggunaan lahan terdapat pada Lampiran 21 dan
Tabel 18. Hubungan antara KB tanah dengan ke empat jenis penggunaan lahan
dilukiskan pada Gambar 18.
Tabel 18. Kejenuhan basa (KB) tanah dari masing-masing jenis penggunaan
lahan
Peubah Amatan
Penggunaan Lahan
Rata-rata Perlakuan
Jati
282 a
Bero
680 b
KB (me/100 g)
Rotasi Tebu
8,15 c
Rotasi Palawija
6,10 b
Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji Duncan

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

54

8,15 c
8,00

6,80 b
6,10 b

KB (%)

6,00

4,00

2,82 a
2,00

Jati

bero

Tebu

Palawija

Jenis Penggunaan Lahan

Gambar 18. Hubungan KB (%) dengan ke empat jenis penggunaan lahan


Produksi Tembakau Deli
Beberapa catatan penting sehubungan produksi tembakau deli dapat
dikemukakan :
1. Lahan yang dirotasi dengan palawija sudah tidak lagi digunakan untuk
menanam tembakau deli selam 5 tahun terakhir ini, hal ini kemungkinan
hak guna usaha (HGU) akan berakhir.
2. Lahan rotasi jati juga tidak digunakan untuk penanaman tembakau deli
karena lahan tersebut diperlukan untuk menahan angin di samping
kayunya juga digunakan untuk bangunan bangsal.
3. Data produksi yang ada pada saat mengumpulkan data primer adalah
produksi dari lahan rotasi tebu dan lahan bero. Produksi tembakau deli
pada tahun 2006 untuk lahan rotasi tebu dan lahan bero terdapat pada
Tabel 19.
Tabel 19. Produksi tembakau deli tahun 2006 pada lahan bekas rotasi tebu dan
bero di Kebun Kelambir Lima

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

55

Produksi Tembakau Deli


Jumlah
(pikul)
Ladang
I (Lahan Tebu)
109,38
26
II (Lahan Tebu)
80,073
25
III (Lahan Bero)
164,432
34
IV (Lahan Bero)
128,305
35
Sumber : Administratur Kebun Kelambir Lima (2006)
Kongsi

Rataan Produksi
(pikul/ladang)
4,21
3,20
4,84
3,67

Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa total produksi pada lahan bekas rotasi
tebu adalah 189,417 pikul dengan rata-rata produksi 3,71 pikul/ladang, sedangkan
untuk lahan bekas bero total produksi 292,737 pikul dan rata-rata produksi 4,24
pikul/ladang. Selisih rataan produksi untuk lahan bekas rotasi bero dengan tebu
adalah 0,53 pikul/ladang. Artinya lahan bekas rotasi bero lebih tinggi produksinya
sekitar 12,5 %. Atas dasar ini maka untuk keberlangsungan tanaman tembakau
deli dan menjaga dinamika kesuburan fisik dan kimia tanah lahan tembakau deli
dianjurkan rotasi penggunaan lahan yang lebih tepat adalah dengan pemberoan
tanah dan atau mengkondisikan lahan hutan (jati) selama pemberoaan tanah
berlangsung. Hal ini juga dapat menambah pendapatan (income) pada kebun
tersebut.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

56

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
1. Dari semua sifat fisika tanah yang diukur semuanya memberikan
perbedaan yang nyata, kecuali stabilitas agregat tanah dan laju infiltrasi.
Penggunaan lahan jati dan bero memberikan sifat fisik yang lebih baik
dibandingkan dengan penggunaan lahan rotasi tebu dan rotasi palawija.
2. Dari semua sifat kimia tanah yang diukur semuanya memberikan
perbedaan yang nyata, kecuali kandungan Na-dd tanah. Penggunaan lahan
jati dan bero memberikan sifat kimia yang lebih baik, kecuali kandungan
Ca-dd dan Mg-dd tanah dibandingkan dengan penggunaan lahan rotasi
tebu dan rotasi palawija.
3. Ca-dd dan Mg-dd tanah lebih tinggi pada penggunaan lahan rotasi tebu
dan lahan bero disebabkan karena pada penggunaan le dua lahan ini di
setiap memulai penanaman tebu atau tembakau tetap dilaksanakan
pengapuran.
4. Produksi lahan bekas rotasi bera lebih tinggi produksinya 12,5 %
dibandingkan dengan lahan bekas rotasi tebu
Saran
1. Dari hasil pengukuran sifat-sifat tanah yang dilakukan bahwa keluaran
yang diperoleh yaitu kondisi lahan bero dan jati keberlangsungannya
harus tetap dipertahankan untuk menjaga keseimbangan dinamika
kesuburan fisik dan kimia tanah guna meningkatkan dan atau
mempertahankan produksi tembakau deli

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

57

2. Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut bagaimana mengkondisikan


lahan seperti penggunaan lahan jati atau bero.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

58

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z., 1999. Pemupukan Tembakau Deli. Penyegaran Tenaga Peneliti dan
Praktisi Tembakau Eksport Lingkup. PTP. Nusantara II dan PTP.
Nusantara X. BPTD, Medan Akehurst, B.C. 1967. Tobacco, Longman
Green and Co, Limited, London. 40p.
Arsyad, S., 2000. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor. 287p.
Balittanak, 2003. Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Departemen Pertanian. 153p.
Barrow, C. J., 1991. Land degradation. Cambridge University Press. 295p.
Baver, L. D., W. H. Gardner, and W. R. Gardner, 1983. Soil Physics. Fourth
Edition. Wiley Eastern Limited. New Delhi. Banglove. Bombay. Calcultta.
240p.
Beek, K.J. and J. Bennema, 1972. Land evaluation for agriculture land use
planning, an ecological methodology. Vol. 24. Agric. University. p.5-10.
Basyaruddin, 2004. Perubahan Sifat Kekerasan Tanah Andisol yang Digunakan
sebagai Areal Rotasi Tanaman dan Pengaruhnya Terhadap Beberapa Sifata
Tanah serta Distribusi Akar Tumbuhan di Sumatera Utara. Jurnal Penelitian
Pertanian. Vol : 23, 1, Juni 2004, 1-7.
Baver, L.D., W. H. Gardner., W. R. Gardner, 1972. Soil Physic. 4 th edition.
Willey Eastern Limited New Delhi. Bangalore. Bombay. 498p.
BPTD, 1997. Upaya Pengendalian penyakit Tanaman Tembakau. Balai Penelitian
Tembakau Deli. Sampali. PTPN II Medan. 65p.
Djajadi dan G. Dalmadiyo, 1998. Konservasi Lahan Tembakau Temanggung :
Peluang dan Kendalanya. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Propinsi
Jawa Tengah. 15p.
Embassy, 2002. Lelang Tembakau Jawa dan Sumatera di Bremen, Jerman.
Embassy of The Republic of Indonesia in Berlin Germany 8 Juli 2002.
http://www.kbri-berlin.org./index.htm . 8p.
Erwin, 1997. Tembakau Deli (Sejarah, Posisi dan Pemasaran). PTP-N II
(Persero). Balai Penelitian Tembakau Deli. Medan. 108p.
Erwin, 1999. Dasar Perhitungan Dosis Pupuk pada Tanaman Tembakau Deli.
Penyegaran Tenaga Peneliti dan Praktisi Tembakau Eksport Lingkup.
PTP. Nusantara II dan PTP. Nusantara X. BPTD, Medan. 35p

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

59

Erwin, 2000. Hama dan Penyakit Tembakau Deli. Balai Penelitian Tembakau
Deli. Medan. 42p.
Erwin dan T. Sabrina, 2000. Sejarah Tembakau Deli. PTPN-2 (Persero) Medan.
95p.
Erwin dan T. Sabrina, 2000. Pupuk dan Pemupukan Tembakau Deli. Balai
Penelitian Tembakau Deli. PTP-N II (Persero) Medan. 25p.
FAO, 1983. Guidelines land evaluation for rainfed agriculture. Soil Resources
Management and Conservation Service Land and Water Development
Division. FAO Soil Bull. No.52. FAO-UNO, Rome. 72p.
FP-UISU.,2001. Penuntun Praktikum Analisa Fisika Tanah. PS. Ilmu Tanah FPUISU.
Gomez, A.K., dan A.A. Gomez,. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian
Pertanian. Penterjemah : Endang, S. dan J.S. Baharsjah. Penerbit Universitas
Indonesia. 258p.
Hardjowigeno, S., 1995. Ilmu Tanah. Edisi Revisi. Penerbit Akademika
Pressindo. Jakarta. 126p.
Hillel, D., 1980. Apllication of soil physics. Academic Press Inc. London, 385
pp.
Juanda, D.J.S., N. Assaad dan Warsana, 2003. Kajian Laju Infiltrasi dan
Beberapa Sifat Fisik Tanah pada Tiga Jenis Tanaman Pagar dalam Sistem
Budidaya Lorong. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 4 (1) hal : 25-31.
Kalo, S., 2003. Studi Mengenai Sengketa Pertanahan antara Masyarakat versus
PTPN-II dan PTPN-III di Sumatera Utara. Disertasi. PPs USU Medan. 67p.
Katyal, J. C., 2000. Organic matter maintenance: Mainstay of soil quality. Journal
of the Indian Society of Soil Science. 48:4:Dec. 2000.704-716.
Kim, H. Tan, 1998. Principle of soil chemistry. 3 rd edition. Marcel Dekker Inc.
New York. 521p.
Lal, R., 1989. Conservation tillage for sustainable agriculture : Tropics versus
temperate environment. Advances in Agronomy 42:85-197.
Manna, M.C., T.K. Gangguly and B.N. Ghosh, 2000. Evaluation of compost
maturity and mineral enrichment quality through sample chemical
parameters. Journal of the Indian Society of Soil Science. 48:4:Dec.
2000.781-786.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

60

Marshall, T.J., J. W. Holmes, . dan C.W. Rose, 1999. Soil Physics. Cambridge
niversity Press. 453p.
MKTI (Myasarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia), 2001. Kebijakan
Konservasi Tanah dan Air dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah.
Prosiding Kongres IV dan Seminar Nasional MKTI. Medan 25 27 Mei
2000. Hal : 24-38.
Moldenhauer, W. C. dan N. W. Hudson, 1988. Conservation farming on step
lands. Soil and Water Conservation Society World Association of Soil and
Water Conservation Ankeny. Iowa. 296p.
Oades, J.M., 1984. Soil organic matter and structural stability : Mechanism and
implications for management. Plant Soil 76:319-337.
Perangin-angin, S., Erwin, dan Riyanto, S., 1999. Konservasi Areal Tembakau
Deli dengan Beberapa Jenis Tanaman Hutan. PTPN II. Balai Penelitian
Tembakau Deli. Sampali. Medan. 38p.
Perangin-angin, S. dan Erwin, 1998. Tembakau Deli (Produktivitas dan
Permasalahan). Balai Penelitian Tembakau Deli. PTPN II. Medan. 52p.
PT. Perkebunan IX, 1995. Konversi Areal Tembakau. PT. Perkebunan IX
(Persero) Medan. 108p.
PT. Perkebunan II, 1997. Sejarah Tembakau Deli. PTPN II Tanjung Morawa,
Medan. 132p.
Puslitnak, 1993. Pengkajian Potensi, Pemecahan, Hambatan, dan Pemetaan
Sumberdaya Lahan/Tanah Detail Areal PT. Perkebunan IX (Persero) Medan
Sumatera Utara. Tim Peneliti Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat
Bekerjasama dengan PTP IX. 177p.
Pratisto, A, 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan
Percobaan dengan SPSS 12. Penerbit PT. Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia, Jakarta. 281p.
Reganold, J.P., L.F. Elliot, and Y.L. Unger, 1987. Long-term effects of organic
and conventional farming on soil erotion Nature 330(26):370-372.
Schulten, H.R. and P. Leinweber, 1999. Thermal stability and composition of
mineral-bound organic matter in density fraction of soil. European Journal
of Soil Science. June 1999, 50, 237-248.
Sri Asdiningsih, 2000. Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian Departemen Pertanian. 105p.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

61

Sudaryono, 2001. Pengaruh Pemberian Bahan Pengkondisi Tanah terhadap Sifat


Fisik dan Kimia Tanah pada Lahan Marginal Berpasir. Jurnal Teknologi
Lingkungan, Vol.2, No. 1, Januari 2001 : 106-112
Supriharyono, 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah
Pesisir Tropis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 138p.
Susswein, P.M., Van Noordwijk, M. dan B. Verbist,. 2001. Forest Watershed
Functions and Tropical Land Use Change. Dalam van Noordwijk, M.,
Williams, S. dan B. Verbist (Eds.), Towards integrated natural resource
management in forest margins of the humid tropics: local action and global
concerns. International Centre for Research in Agroforestry. Bogor. 28 p.
Sys, C., E. Va Ranst, J. Debaveye, and F. Beeraert, 1993. Land Evaluation. Crp
Requirements Part III. Agricultural Publication No. 7. General
Administration for development Corp. 1050 Brussels-Belgium.
Tan, K.H., 1998. Andosol. Kapita Selekta. PS. Ilmu Tanah. PPs-USU, Medan.
109p.
Tisdalle, J.M. and J.M. Oades, 1982. Organic matter and water stable aggregates
in soils. J.Soil Sci. 33:141-163.
Wahyunto, D.S. Puksi, A. Rochman, W. Wahdini, paidi, J. Dai, A. Hidayat, P.
Buurman dan T. Balsem, 1990. Buku Keterangan Peta Satuan Lahan dan
Tanah Lembar Medan (0619) Sumatera. Proyek Perencanaan dan Evaluasi
Sumber Daya Lahan. Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian.257p.
Warintek, 2000. Tembakau. Http://warintek.progressio.or.id/-by rans 5p.
WTC (World Tobacco Congress), 1951. Report on Tobacco Cultivation in
Indonesia. WTC, Amsterdam Indonesia. 78p.
Wulandari, C., A. Setiawan, S.P. Harianto dan Indrianto, 1995. Olah Tanah
Konservasi dalam Sistem Agroforestry Intercroping Jati (Tectona grandis)
dan Mahoni dengan Jagung. Pros.Sem.Nas. V.BDP. Bandar Lampung
Oktober 1995. Hal 103-106.
Yakin, A., 2004. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Akademika Presindo,
Jakarta. 98p.

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

62

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

63

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

64

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

65

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

Lampiran 11. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari Pori
Aerase (%)

Pori Aerase Tanah


(%)

Tabel. 25. Hasil Pengukuran Pori Aerase (%) pada Masing-masing Jenis Rotasi
Penggunaan Lahan
Peubah
Jenis Rotasi
Amatan
Jati
Bera
Tebu
Palawija
23,38
12,75
20,27
24,53
23,20
21,87
25,60
21,61
24,22
13,18
23,81
22,77
19,54
21,30
21,11
27,66
23,07
26,05
25,02
24,85
22,16
15,53
24,82
15,14
26,14
28,63
23,74
18,00
21,37
35,82
18,47
18,43
27,15
26,45
21,02
21,70
9,29
27,62
32,23
19,98
Rataan
21,95
22,92
23,61
21,47
Perlakuan
Tabel. 26. Analisis Sidik Ragam dari Hasil Pengukuran Pori Aerase
SK
db
JK
KT
F-hitung
FK

F-tabel 0,05

ANOVA
Poriaerasi

Between Groups

Sum of
Squares
27,753

Mean Square
9,251

977,733

36

27,159

1005,486

39

Within Groups
Total

df

F
,341

Sig.
,796

Tabel. 27. Uji Beda Rata Duncan Untuk Pori Aerase

Palawija

10

alpha =
.05
1
21,4663

Jati

10

21,9503

Bera

10

22,9201

Tebu

10

23,6085

Jenis Rotasi

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

64

Lampiran 1. Produksi Tembakau Deli di Kebun Klambir Lima Lima Tahun


Terakhir

Gambar 19. Produksi tembakau deli di Kebun Klambir Lima lima tahun terakhir

Tabel 20. Data produksi tembakau deli di Kebun Kelambir Lima tahun tanam
2000/2001 - 2005/2006 (Distrik Tembakau Deli, 2006)
Thn

Jlh
LDG

Tembakau Kering (Kg) op Stapel


Reguler
Jlh Non
Total
Z
VA VB JLH
Reg

Produksi Akhir (Kg)


Lelang Bremen
% Pro duk
LB
Z
VA VB JLH

00/01
250 197 202 102 500
64
565
74 106 36 216
38
01/02
250 98 104 36 238
169
406
19
14
6
39
10
02/03
250 151 205 67 424
212
636
26
24
7
57
9
03/04
208 79 139 0
219
132
350
4
26
0
30
9
04/05
210 82 167 40 289
70
359
34
55
3
92
26
05/06
170 80 100 0
180
89
269
28
31
38
7
76
Rerata 223 115 153 41 308
123
431
31
44
10
85
20
Keterangan : LDG = ladang; Z = daun pasir; VA = daun kaki I; VB = daun kaki II; Reg =
reguler; LB = lelang Breman

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

50

Lampiran 2. Deskripsi Profil Tanah


Tabel 6. Deskripsi profil tanah lokasi penelitian di Kebun Klambir Lima
PT. Perkebunan Nusantara-2 (Puslitanak, 1993)
Sifat Tanah
Deskripsi
Kedalaman tanah
Dalam
Ketebalan solum
Sedang
Kedalaman efektif
Sedang
Drainase
Terhambat
Permeabilitas
Terhambat
Tekstur : pasir (%)
50
Debu (%)
20
Liat (%)
30
Bahan induk tanah
Alluvium sungai andesitikdasitik
Lereng
02%
Lapisan atas : - Ketebalan (cm)
15 25
- Warna
coklat sangat gelap kekelabuan
- Tekstur
liat berpasir
- Reaksi tanah
agak masam
- Batu/krikil
tidak ada
Lapisan bawah : - Ketebalan (cm) 70 80
- Warna
Coklat gelap - kelabu terang
- Tekstur
Liat berpasir/pasir
- Reaksi tanah
Agak masam netral
- Batuan/krikil
Tidak ada
Kemudahan untuk diolah
Agak berat
Sifat kimia tanah :
- C organik (%)
0,87
- N-total (%)
0,12
- Bahan organik (%)
1,49
- P-Bray II (ppm)
69,81
- K-dd (me/100 g)
0,54
- Ca-dd (me/100 g)
11,76
- Mg-dd (me/100 g)
2,63
- KTK (me/100 g)
8,85
Family
Aeric tropaquepts, berliat di
atas berpasir, mineral
campuran, isohipertermik

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

66

Lampiran 3. Pengukuran Sifat Fisik di Lapang

Gambar 20. Pengukuran laju infiltrasi tanah di lapangan

. Pengukuran penetrasi tanah di lapangan

Gambar 21. Pengukuran kekerasan tanah di lapang

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

66

Gambar 22. Rotasi penggunaan lahan palawija

Gambar 23. Rotasi penggunaan lahan tebu

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

66

Gambar 24. Rotasi penggunaan lahan jati

Gambar 25. Rotasi penggunaan lahan bera

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

67

Lampiran 4. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Indeks Stabilitas Agregat Tanah

Indeks Stabilitas
Agregat

Tabel. 21. Hasil pengukuran stabilitas agregat tanah pada masing-masing jenis
penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
39,58
52,69
50,77
68,19
69,76
50,74
43,39
81,88
46,83
48,90
69,47
69,64
76,17
52,73
62,19
40,84
42,54
66,14
41,76
36,21
65,48
66,52
64,20
40,96
70,56
66,15
55,39
42,22
72,00
66,52
52,21
39,25
78,00
72,90
46,64
41,26
75,65
61,70
42,25
43,00
Rataan
63,66
60,50
52,83
50,35
Perlakuan

Tabel. 22. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran stabilitas agregat tanah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
F-tabel
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
0,05
tn
Perlakuan
3
1181,487
393,829
2,415
2,86
Galat
36
5871,221
163,089
Total
40
7052,708

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

67

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

68

Lampiran 5. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Penetrasi tanah

Penetrasi tanah
(kg/cm2)

Tabel. 23. Hasil pengukuran Kekerasan Tanah (kg/cm2) pada masing-masing jenis
penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
1,7
1,8
2,2
2,3
1,8
1,8
2,6
2,2
1,9
1,8
2,0
2,3
1,8
1,7
2,3
2,3
2,0
1,7
2,2
2,9
2,1
1,8
1,9
3,2
1,9
1,9
2,5
2,5
1,7
1,6
2,1
2,9
1,9
1,8
1,9
3,1
1,9
1,5
2,1
2,7
Rataan
1,9
1,7
2,2
2,6
Perlakuan

Tabel. 24. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran kekerasan tanah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
F-tabel
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
.05
.01
Perlakuan
3
4,803
1,601
29,043 ** 2,86
4,36
Galat
36
1,985
0,055
Total
39
7052,708

Tabel. 25. Uji beda rata Duncan untuk kekerasan tanah


Jenis
alpha = .05
Penggunaan
N
Lahan
a
b
c
Bero
Jati
Rotasi Tebu
Rotasi Palawija
.

10
10
10
10

1,740
1,870
2,180
2,640

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

69

Lampiran 6. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Laju infiltrasi

Laju infiltrasi
(cm/jam)

Tabel. 26. Hasil pengukuran laju infiltrasi (cm/jam) pada masing-masing jenis
penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
31,5
46,0
2,4
2,0
32,4
57,0
8,0
6,0
45,0
60,0
26,0
12,0
61,2
50,0
2,0
4,0
52,0
40,2
22,0
14,0
57,0
11,0
31,5
2,0
24,0
17,0
22,0
5,5
46,0
15,0
20,0
20,0
34,2
65,0
16,2
6,5
49,5
28,5
12,5
12,0
Rataan
43,28
38,97
16,26
8,40
Perlakuan

Tabel. 27. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran laju infiltrasi tanah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
F-tabel
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
.05
.01
**
Perlakuan
3
8693,788 2897,929
17,08
2,86
4,36
Galat
36
6108,211
169,673
Total
39
14801,999
Tabel. 30. Uji beda rata Duncan untuk laju infiltrasi tanah
Jenis Rotasi

alpha = .05

Palawija

10

a
8,400

Tebu

10

16,260

Bero

10

38,972

Jati

10

43,280

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

70

Lampiran 7. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Kerapatan Lindak (BD) Tanah

Bulk Density
(g/cm3)

Tabel. 28. Hasil pengukuran BD tanah (g/cm3) pada masing-masing jenis


penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
1,03
1,25
1,45
1,47
1,09
0,96
1,90
1,35
1,25
1,21
1,51
1,45
1,21
1,05
1,39
1,24
1,10
0,87
1,35
1,42
1,05
0,90
1,44
1,45
1,05
1,12
1,25
1,22
0,98
1,09
1,45
1,39
0,92
1,31
1,45
1,42
0,92
1,01
1,28
1,25
Rataan
1,06
1,08
1,45
1,37
Perlakuan

Tabel. 29. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran BD tanah


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
1,177
0,392
20,898 **
Galat
36
0,676
0,019
Total
39
1,852

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

Tabel. 30. Uji beda rata Duncan untuk BD tanah


Jenis
alpha = .05
N
Penggunaan
Lahan
a
b
Jati
Bero
Rotasi Palawija
Rotasi Tebu

10
10
10
10

1,0600
1,0770
1,3660
1,4470

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

71

Lampiran 8. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Total Ruang Pori Tanah

Total Ruang Pori Tanah


(%)

Tabel. 31. Hasil pengukuran total ruang pori tanah (%) pada masing-masing jenis
penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
47,66
49,58
38,82
37,97
45,34
51,07
37,29
40,96
45,89
47,39
29,11
41,77
46,12
50,01
35,35
40,67
50,23
61,33
43,75
39,57
49,52
64,14
44,19
39,33
42,22
51,05
47,26
40,78
47,37
51,56
29,61
34,12
50,21
48,72
35,56
33,95
58,74
51,67
34,36
41,43
Rataan
48,33
52,65
37,53
39,06
Perlakuan

Tabel. 32. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran TRP tanah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
1593,249
531,083
22,351 **
Galat
36
855,399
23,761
Total
39
2448,647

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

Tabel. 33. Uji beda rata Duncan untuk TRP tanah


Jenis
alpha = .05
N
Penggunaan
Lahan
a
b
Rotasi Tebu
Rotasi Palawija
Jati
Bero

10
10
10
10

37,5285
39,0560
48,3294
52,6528

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

72

Lampiran 9. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Permeabilitas Tanah

Permeabilitas Tanah
(cm/jam)

Tabel. 34. Hasil pengukuran permeabilitas (cm/jam) pada masing-masing jenis


penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
7,94
2,57
1,31
0,57
6,72
2,01
1,50
0,41
7,94
2,26
1,69
0,21
9,72
6,90
1,17
1,50
5,65
5,16
1,51
1,19
3,95
7,19
0,50
1,17
3,56
6,15
0,28
0,15
2,45
2,01
0,15
2,10
5,54
3,94
2,00
1,15
4,87
4,54
1,54
0,41
Rataan
5,83
4,27
1,17
0,88
Perlakuan

Tabel. 35. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran permeabilitas tanah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
F-tabel
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
.05
.01
**
Perlakuan
3
174,821
58,274
23,221
2,86
4,36
Galat
36
90,342
2,509
Total
39
265,162

Tabel. 36. Uji beda rata Duncan untuk permeabilitas tanah


Jenis
alpha = .05
N
Penggunaan
Lahan
a
b
c
Rotasi
Palawija
Rotasi Tebu
Bero
Jati

10

,8860

10
10
10

1,1650
4,2730
5,8340

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

73

Lampiran 10. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Pori Air tersedia

Pori Air tersedia


(%)

Tabel. 37. Hasil pengukuran pori air tersedia (%) pada masing-masing jenis
penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
40,89
42,41
36,84
38,05
44,80
41,87
40,23
42,34
41,54
44,22
36,84
40,32
45,18
40,77
39,00
35,17
40,71
38,76
32,02
25,36
40,46
40,92
39,09
39,51
42,15
41,20
39,07
38,65
45,35
34,35
40,62
37,56
38,02
38,22
39,87
31,52
45,14
30,25
32,93
35,58
Rataan
42,43
39,30
37,65
36,41
Perlakuan

Tabel. 38. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran pori air tersedia tanah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
F-tabel
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
.05
.01
**
Perlakuan
3
203,641
67,880
4,751
2,86
4,36
Galat
36
514,327
14,287
Total
39
717,968

Tabel. 39. Uji beda rata Duncan untuk pori air tersedia
Jenis
Penggunaan
N
alpha = .05
Lahan
a
b
Rotasi Palawija
10
36,4056
Rotasi Tebu
10
37,6498
Bero
10
39,2960 39,2960
Jati
10
42,4257

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

74

Lampiran 11. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
pH-tanah

pH-tanah

Tabel. 40. Hasil pengukuran pH-tanah pada masing-masing jenis penggunaan


lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
5,95
5,54
5,21
5,12
5,61
5,60
5,22
5,27
5,60
5,71
5,10
5,24
5,87
5,83
5,23
5,24
5,61
5,62
5,22
5,21
5,85
5,63
5,30
5,21
5,64
5,62
5,22
5,14
5,72
5,73
5,22
5,16
5,74
5,72
5,23
5,12
5,74
5,71
5,21
5,22
Rataan
5,73
5,67
5,22
5,19
Perlakuan

Tabel. 41. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran pH tanah


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
2,497
0,832
121,333 **
Galat
36
0,247
0,007
Total
39
2,744

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

Tabel. 42. Uji beda rata Duncan untuk pH-tanah


Jenis
Penggunaan
N
alpha = .05
lahan
a
b
Rotasi Palawija
10
5,1930
Rotasi Tebu
10
5,2160
Bero
10
5,6710
Jati
10
5,7330

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

75

Lampiran 12. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
C-organik

C-organik
(%)

Tabel. 43. Hasil pengukuran C-organik (%) pada masing-masing jenis


penggunaan Lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
1,75
1,81
1,27
0,87
1,84
1,78
1,21
0,81
1,60
1,57
1,33
0,84
1,78
1,75
1,63
1,02
1,72
1,60
1,72
0,90
1,74
1,45
1,66
0,92
1,78
2,50
1,60
0,82
1,80
1,54
1,84
0,87
1,63
1,60
1,27
1,01
1,65
1,83
1,30
0,85
Rataan
1,73
1,74
1,48
0,89
Perlakuan

Tabel. 44. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran C-organik


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
4,767
1,589
42,027 **
Galat
36
1,361
0,038
Total
39
6,129

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

Tabel. 45. Uji beda rata Duncan untuk C-organik


Jenis
N
Penggunaan
alpha = .05
Lahan
a
b
c
Rotasi Palawija
10
,8910
Rotasi Tebu
10
1,4830
Jati
10
1,7290
Bero
10
1,7430

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

76

Lampiran 13. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Kandungan Bahan Organik Tanah

Bahan Organik
(%)

Tabel. 46. Hasil pengukuran kandungan bahan organik tanah pada masingmasing jenis penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
3,02
3,12
2,19
1,50
3,17
3,07
2,09
1,40
2,76
2,71
2,29
1,45
3,07
3,02
2,81
1,76
2,97
2,76
2,97
1,55
3,00
2,50
2,86
1,59
3,07
4,31
2,76
1,41
3,10
2,65
3,17
1,50
2,81
2,76
2,19
1,74
2,84
3,15
2,24
1,47
Rataan
2,98
3,00
2,56
1,54
Perlakuan

Tabel. 47. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran kandungan bahan organik
tanah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
F-tabel
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
0,05
**
Perlakuan
3
14,169
4,723
42,027
2,86
Galat
36
4,046
0,112
Total
39
7052,708

Tabel. 48. Uji beda rata Duncan untuk kandungan bahan organik tanah
Jenis
alpha = .05
N
Penggunaan
lahan
a
b
c
Rotasi Palawija
10
1,5361
Rotasi Tebu
10
2,5567
Jati
10
2,9808
Bero
10
3,0049

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

77

Lampiran 14. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
N-total

N-total
(%)

Tabel. 49. Hasil pengukuran N-total (%) pada masing-masing jenis penggunaan
lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
0,18
0,18
0,18
0,15
0,18
0,19
0,17
0,15
0,18
0,18
0,16
0,17
0,18
0,16
0,15
0,17
0,17
0,18
0,15
0,17
0,18
0,19
0,14
0,15
0,17
0,19
0,15
0,15
0,15
0,17
0,16
0,14
0,19
0,19
0,18
0,14
0,18
0,19
0,18
0,15
Rataan
0,17
0,18
0,16
0,15
Perlakuan

Tabel. 50. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran N-total (%)
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
0,005
0,002
11,331 **
Galat
36
0,005
0,000
Total
39
0,010

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

Tabel. 51. Uji beda rata Duncan untuk N-total (%)


Jenis
alpha = .05
N
Penggunaan
Lahan
a
b
Rotasi Palawija
Rotasi Tebu
Jati
Bero

10
10
10
10

0,1540
0,1620
0,1760
0,1820

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

78

Lampiran 15. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
P-Tersedia (Bray II)

P-tersedia
(ppm)

Tabel. 52. Hasil pengukuran P-tersedia (ppm) pada masing-masing jenis


penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
14,65
14,94
25,00
23,68
15,03
14,36
21,65
23,39
14,65
14,65
20,94
23,39
14,65
14,65
26,11
23,68
14,65
14,36
25,23
23,50
14,65
14,94
25,23
23,61
14,65
14,94
25,23
23,45
15,03
14,94
24,94
24,00
14,36
14,36
24,65
23,65
14,36
14,94
25,23
23,68
Rataan
14,65
14,71
24,42
23,60
Perlakuan

Tabel. 53. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran P-tersedia


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
872,723
290,908
383,350 **
Galat
36
27,319
0,759
Total
39
900,042

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

Tabel. 54. Uji beda rata Duncan untuk P-tersedia


Jenis
alpha = .05
N
Penggunaan
:Lahan
a
b
c
Jati
10
14,6680
Bero
10
14,7080
Rotasi Palawija
10
23,6030
Rotasi Tebu
10
24,4210

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

79

Lampiran 16. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
K-dd

K-dd
(me/100 g)

Tabel 55. Hasil pengukuran K-dd (me/100 g) pada masing-masing jenis


penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Jati
Bero
Rotasi
Rotasi
Amatan
Tebu
Palawija
0,46
0,35
0,17
0,12
0,47
0,35
0,15
0,12
0,47
0,45
0,15
0,09
0,49
0,42
0,17
0,08
0,47
0,34
0,16
0,09
0,45
0,32
0,15
0,08
0,49
0,35
0,14
0,07
0,48
0,34
0,15
0,07
0,47
0,35
0,15
0,09
0,48
0,35
0,15
0,07
Rataan
0,47
0,36
0,15
0,09
Perlakuan

Tabel. 56. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran K-dd


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
0,963
0,321
578,372 **
Galat
36
0,020
0,001
Total
39
0,982

Tabel. 57. Uji beda rata Duncan untuk K-dd


Jenis
alpha = .05
Penggunaan
N
Lahan
a
b
c
Palawija
10
0,0880
Tebu
10
0,1540
bero
10
0,3620
Jati
10

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

0,4730

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

79

Jenis
Penggunaan
Lahan
Rotasi Tebu
Rotasi Palawija
Bera
Jati

alpha = .05
N
10
10
10
10

,1990
,2140
,4210
,4730

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

80

Lampiran 17. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Ca-dd

Ca-dd
(me/100 g))

Tabel. 58. Hasil pengukuran Ca-dd (me/100 g)) pada masing-masing jenis
penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
,51
2,51
2,21
4,36
2,21
3,56
4,13
4,21
1,21
3,80
5,62
2,23
,76
4,25
5,10
2,71
1,85
4,87
5,35
2,15
1,85
4,66
4,00
2,35
1,85
4,58
4,58
2,35
1,21
4,30
4,68
2,85
1,21
4,91
4,50
2,54
,96
4,79
5,45
3,00
Rataan
1,36
4,56
4,22
2,87
Perlakuan

Tabel. 59. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran Ca-dd


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
63,731
21,244
34,219 **
Galat
36
22,350
0,621
Total
39
86,.081
Tabel. 60. Uji beda rata Duncan untuk Ca-dd
Jenis
alpha = .05
Penggunaan
N
Lahan
a
b
Jati
10
1,3620
Palawija
10
2,8750
Tebu
10
Bero
10

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

4,2230
4,5620

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

81

Lampiran 18. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Mg-dd

Mg-dd
(me/100 g)

Tabel. 61. Hasil pengukuran Mg-dd (me/100 g) pada masing-masing jenis


penggunaan lahan
Jenis Penggunaan lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
,44
1,31
1,21
,96
,56
1,39
1,12
1,05
,26
1,26
1,23
1,02
,39
1,24
1,23
1,02
,31
1,31
1,22
1,08
,23
1,23
1,11
,99
,25
1,25
1,29
1,05
,22
1,31
1,20
,99
,25
1,35
1,30
1,10
,32
1,22
1,28
1,05
Rataan
0,32 a
1,28 b
1,22 c
1,03 b
Perlakuan

Tabel. 62. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran Mg-dd


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
5,847
1,949
366,979**
Galat
36
0,191
0,005
Total
39
6,038

Tabel. 63. Uji beda rata Duncan untuk Mg-dd


Jenis
N
Penggunaan
alpha = .05
Lahan
a
b
c
Jati
10
0,3230
Palawija
10
1,0310
Tebu
10
1,2190
Bero
10

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

1,2870

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

82

Lampiran 19. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Na-dd

Na-dd
(me/100 g)

Tabel. 64. Hasil pengukuran Na-dd (me/100 g) pada masing-masing jenis


penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
0,11
0,11
0,10
0,11
0,11
0,11
0,10
0,11
0,10
0,10
0,11
0,11
0,10
0,11
0,12
0,11
0,10
0,11
0,10
0,10
0,11
0,11
0,10
0,12
0,09
0,10
0,10
0,11
0,09
0,11
0,11
0,10
0,10
0,10
0,10
0,11
0,10
0,10
0,10
0,11
Rataan
0,10
0,12
0,11
0,12
Perlakuan

Tabel. 65. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran Na-dd


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
0,001
0,000001
2,795tn
Galat
36
0,001
0,000
Total
39
0,001

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

83

Lampiran 20. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
KTK

KTK
(me/100 g)

Tabel. 66. Hasil pengukuran KTK (me/100 g) pada masing-masing jenis rotasi
penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
17,4
14,2
12,4
10,4
17,2
15,0
12,2
10,8
17,2
14,2
12,2
11,0
16,0
14,2
13,0
10,6
17,2
13,0
12,0
12,2
16,0
13,4
12,6
12,2
17,4
13,6
13,0
9,0
17,2
14,6
12,2
12,6
16,0
14,6
12,4
12,8
18,0
14,0
12,4
12,8
Rataan
16,96
14,08
12,44
11,44
Perlakuan

Tabel. 67. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran KTK tanah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
174,636
58,212
89,83 **
Galat
36
23,238
0,648
Total
39
197,964

Tabel. 68. Uji beda rata Duncan untuk KTK tanah


Jenis
alpha = .05
N
Penggunaan
Lahan
a
b
c
Palawija
10
11,440
Tebu
10
12,440
Bero
10
14,080
Jati
10

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

16,960

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

84

Lampiran 21. Hasil Pengukuran, Analisis Sidik Ragam, Uji Beda Rata dari
Kejenuhan Basa (KB) Tanah

KB
(%)

Tabel. 69. Hasil pengukuran KB (%) pada masing-masing jenis penggunaan lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Peubah
Rotasi
Rotasi
Amatan
Jati
Bero
Tebu
Palawija
8,74
30,14
29,76
53,37
19,48
36,07
45,08
50,83
11,86
39,51
58,28
31,36
10,88
42,39
50,92
36,98
15,87
51,00
56,92
28,03
16,50
47,16
42,54
29,02
15,40
46,18
47,00
39,78
11,63
41,51
50,33
31,83
12,69
45,96
48,79
30,00
10,33
46,14
56,29
33,05
Rataan
13,34 a
42,61 b
48,59 c
36,42 b
Perlakuan

Tabel. 70. Analisis sidik ragam dari hasil pengukuran KB tanah


Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
F-hitung
Keragaman
Bebas
Kuadrat
Tengah
Perlakuan
3
7136,352
2378,784
47,446 **
Galat
36
1804,902
50,136
Total
39
8941,255

Tabel. 71. Uji beda rata Duncan untuk KB tanah


Jenis
alpha = .05
N
Penggunaan
a
b
Lahan
Jati
Rotasi Palawija
Bero
Rotasi Tebu

10
10
10
10

F-tabel
.05
.01
2,86
4,36

13,34
36,42
42,61
48,59

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.

85

Lampiran 22. Kriteria Hasil Analisis Sifat Kimia Tanah


Tabel 72. Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah (Hardjowigeno, 1995).
Sifat Tanah
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
_____________________________________________________________________________
C -Organik (%)
Nitrogen (%)
C/N

< 1,00
< 0,10
<5

1,00-2,00
0,10-0,20
5 - 10

P2O5 HCl (mg/100g)

< 10

P2O5 Bray-1I (ppm)


P2O5 Olsen (ppm)

< 10

2,01-3,00
0,21-0,50
11 - 15

3,01-5,00
0,51-0,75
16 - 25

10 - 20

21 - 40

41 - 60

10 - 15

16 - 25

26 - 35

> 5,00
> 0,75
> 25
> 60
> 35

< 10

10 - 25

26 - 45

46 - 60

> 60

K2O HCl 25% (mg/100g) < 10

10 - 20

21 - 40

41 - 60

> 60

5 - 16

17 - 24

25 - 40

> 40

KTK (me/100g)

<5

Susunan Kation :
K (me/100g)

< 0,1

0,1-0,2

0,3-0,5

0,6-1,0

>1,0

Na (me/100g)

< 0,1

0,1-0,3

0,4-0,7

0,8-1,0

>1,0

Mg (me/100g)

< 0,4

0,4-1,0

1,1-2 ,0

2,1-8,0

> 8,0

Ca (me/100g)

< 0,2

2 - 5

6 - 10

11 - 20

> 20

Kejenuhan Basa (%)

< 20

20 - 35

36 - 50

51 - 70

> 70

Aluminium (%)
< 10
10 - 20
21 - 30
31 - 60
> 60
______________________________________________________________________________
Sangat
Masam
Agak
Netral
Agak
Alkalis
masam
masam
alkalis
______________________________________________________________________________
< 4,5
4,5 - 5,5
5,6- 6,5
6,6-7,5
7,6-8,5
> 8,5
pH H2O
______________________________________________________________________________
Sumber : Hardjowigeno, (1995).

Ratna Mauli Lubis : Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Berbagai Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli.
USU e-Repository 2008.