Anda di halaman 1dari 2

Deskripsi Kasus Psikoanalisis

1.

Mira adalah seorang gadis kecil yang lucu dan ceria. Dia hidup bersama kedua orang

tuanya dan kedua kakaknya, namun diusianya yang beranjak 6 tahun ada kejadian yang
membuatnya sering sekali ketakutan apalagi pada saat dekat ayahnya, karena dia sering melihat
perlakuan ayahnya yang tidak senonoh pada kedua kakaknya dan juga terlebih-lebih pada
ibunya. Karena kejadian itu, ada banyak rasa kekecewaan hingga membuatnya sering mengalami
ketakutan yang berlebihan. Dia tidak menyangka sesosok pria yang selama ini dia banggakan
hanya dapat menyakiti seorang wanita. Karena rasa sakit yang timbul dalam hatinya mulai
merasuk kedalam jiwa dan menjadikan dia trauma atau ketakutan yang berlebihan dibawah alam
sadar akan sesuatu hal. Semenjak kejadian itu akhirnya mira mulai menutup dirinya terlebih
lebih pada seorang pria. Dan setiap ada pria yang mencoba mendekatinya, mira selalu bersikap
cuek dan seakan tak peduli pada perasaan mereka. Karena masih sering terbayang-bayang akan
masa lalu yang dialami oleh ibu dan kedua kakaknya, sehingga ia takut untuk menjalin hubungan
dengan seorang pria. Dan lebih memilih untuk dekat dan menjalin hubungan dengan seorang
wanita, karena dia merasa adanya kepuasan dan kenyaman batin bila bersama seorang wanita.
Dalam pandangan psikoanalisis yang menyebabkan seseorang menjadi lesbian adalah
adanya trauma dimasa lalu yang dalam perkembangan selanjutnya berpengaruh pada
kepribadiannya khususnya struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego, dan super ego. Id yang
merupakan komponen biologis yang berprinsip ada kesenangan. Ego merupakan komponen
psikologis yang berprinsip pada kenyataan dan super ego memiliki fungsi dan mekanisme
sendiri.
2.

Reza mengalami kecelakaan bersama keluarganya di daerah kali wanggu, dalam peristiwa

itu keluarganya meninggal dunia. Reza merasa sangat trauma dengan peristiwa itu, sehingga ia
tidak mau lagi mengingat peristiwa kecelakaan yang menimpa keluarganya dengan menyibukkan
diri dengan kegiatan-kegiatan yang dapat menghilangkan memori kecelakaan tersebut. Sehingga
akhirnya ia bisa melupakan semua peristiwa kecelakaan yang menimpanya dan keluarganya.
Contoh ini menurut Sigmund Freud merupakan mekanisme yang dilakukan oleh ego untuk
meredakan kecemasan dengan jalan menekan dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang
menjadi penyebab kecemasan tersebut. Tingkah laku ini sebagai terapis terhadap pengalaman
masa lalunya.

3.

Rendi sering kali melempar benda-benda disekitarnya saat merasa marah. Selain itu, tidak

hanya saat marah, Rendi juga seperti itu saat ia melihat orang-orang asing. Ia selalu mudah
curiga terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya. Tidak segan ia melempar orang yang
dianggap berbahaya tanpa melihat terlebih dahulu. Ternyata sejak kecil, Rendi mendapat
perlakuan yang tidak menyenangkan oleh teman-temannya. Teman-temannya mengejek dengan
sangat menyakitkan karena kebetulan Rendi berasal dari keluarga yang pas-pasan. Awalnya
Rendi bias bersabar. Namun akhirnya, ejekan yang bertubi-tubi itu bias membuat Rendi lepas
kendali. Ia memukuli orang yang mengejeknya hingga tak sadarkan diri. Setelah kejadian itu,
tidak ada lagi orang-orang yang berani mengganggunya.
Menurut Frued pengalaman masa lalu sangat berperan terhadap pembentukkan kepribadian
seseorang. Tingkah laku ini merupakan akibat dari pengalaman masa lalunya. Sehingga ia selalu
melakukan hal tersebut agar pengalaman tidak menyenangkan pada masa lalunya tidak terulang
lagi. Walaupun akhirnya ia dianggap mengalami gangguan terhadap kepribadiannya.