Anda di halaman 1dari 20

1

KATA PENGANTAR

Segala puji kepada Allah SWT, karena atas limpahan karunia, Rahmat, dan
Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul pendekaan
saitifik dalam pembelajaran IPA ini dalam bentuk sederhana.
Makalah ini berisikan tentang penjabaran pendekatan saitifik yang diterapkan
pada kurikulum baru, kurikulum 2013. Pendekatan saintifik selalu memiliki
keterkaitan dengan perkembangan teknologi dan berpengaruh pula terhadap
pendidikan sains. Untuk itulah pendekatan pembelajaran saintifik dewasa ini sudah
semestinya mendudukkan peserta didik sebagai pusat perhatian utama. Maka dari itu,
melalui makalah ini, adan dijelaskan mengenai penerapan pendekatan saitifik pada
pembelajaran IPA.
Dan akhirnya, kami mengucapkan terima kasih. Semoga karya ini bermanfaat
bagi semua. Saran dan kritik yang membangun kami harapkan agar penelitian
menjadi lebih baik

Makassar, November 2014

DAFTAR ISI

SAMPUL..............................................................................................................................
i
KATA PENGANTAR...........................................................................................................
ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
A...LATAR BELAKANG..............................................................................................
1
B...RUMUSAN MASALAH.........................................................................................
2
C...TUJUAN .................................................................................................................
3
BAB II PEMBAHASAN
A...ESENSI PENDEKATAN SAITIFIK........................................................................
3
B...PENDEKATAN SAINTIFIK DAN NON SAINTIFIK
DALAM PEMBELAJARAN...................................................................................
................................................................................................................................
C...LANGKAH LANGKAH PENDEKATAN SAINTIFIK
DALAM PEMBELAJARAN...................................................................................
................................................................................................................................
D...IMPLIKASI PENDEKATAN SAITIFIK DALAM PEMEBALAJARAN IPA.......
14
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A...KESIMPULAN........................................................................................................
17
B...SARAN....................................................................................................................
17
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................
18

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pendahuluan
Pencapaianstandar proses untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat
dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan
mempengaruhi proses pembelajaran. Begitu banyak komponen yang dapat
mempengaruhi kualitas pendidikan, namun demikian tidak mungkin upaya
meningkatkan kualitas dilakukan dengan memperaiki setiap komponen secara
serempak. Hal ini selain komponen-komponen itu keberadaannya terpencar, juga
kita sulit menentukan bagaimana pengaruh setiap komponen terhadap proses
pendidikan. Salah satu komponen yang mempengaruhi proses pendidikan adalah
strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran yang meliputi model
pembelajaran, pendekatan, metode, teknik dan taktik.
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh
karenanya, strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber

atau tergantung pada pendekatan tertentu. Roy Killen (1998) misalnya, mencatat
ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada
guru dan pendekatan yang berpusat pada siswa. Pendekatan yang berpusat pada
guru menurunkan strategi pembelajran langsung, pembelajaran deduktif atau
pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat
pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery, dan inkuiri serta strategi
pembebalajaran induktif (Sanjaya, 2008).
Pendekatan sains selalu memilikiketerkaitan dengan perkembangan
teknologi dan berpengaruh pula terhadap pendidikan sains. Untuk itulah
pendekatan pembelajaran sains dewasa ini sudah semestinya mendudukkan
peserta didik sebagai pusat perhatian utama. Pembelajaran sains (IPA) dikenal
beberapa pendekatan. Salah satu pendekatan menekankan pula pada fakta-fakta
dari IPA. Pendekatan yang lain adalah pembelajaran mengenai konsep konsep
yang dikembangkan dalam ilmu pengetahuan alam, sehingga orang dapat
mengajarkan proses-proses dari ilmu pengetahuan alam yang dimanfaatkan untuk
mengungkap fakta-fakta dan mengembangkan model. Pendekatan faktual dan
pendekatan konseptual dalam pembelajaran lebih mengutamakan produk ilmu
pengetahuan alam. Untuk itulah dalam proses pembelajaran sains didasarkan atas
pengamatan terhadap apa yang dilakukan oleh ilmuan (Nurhayati, 2011).
Pembelajaran merupakan proses ilmiah. Karena itu Kurikulum 2013
mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Hal tersebutlah
yang akan dibahas lebih lengkap pada makalah ini mengenai bagaimana esensi
dan

penerapan

pendekatan

saintifik

dalam

pembelajaran,

khususnya

pemebalajaran IPA pada SMP sederajat.


B. Rumusan masalah
1. Bagaimana esensi pendekatan saintifik?
2. Bagaimana pendekatan saintifik dan non saintifik dalam pembelajaran?
3. Bagaimana langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran?
4. Bagaimana implikasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPA?
C. Tujuan

1.
2.
3.
4.

Untuk mengetahui esensi pendekatan saintifik.


Untuk mengetahui pendekatan saintifik dan non saintifik dalam pembelajaran.
Untuk mengetahui langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran.
Untuk mengetahui implikasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPA.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Esensi pendekatan saintifik.
Dalam Anonim1 (2013), BukuPedoman Diklat Implementasi Kurikulum
2013, pembelajaran merupakan proses ilmiah. Karena itu Kurikulum 2013
mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan
ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Metode ilmiah umumnya
menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian
merumuskan simpulan umum.Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik
investigasi atas fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau
mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut
ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari
objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip
penalaran yang spesifik.Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serial
aktivitas pengoleksian data melalui observasi dan ekperimen, kemudian
memformulasi dan menguji hipotesis.
Hakikat IPA yang cukup penting adalah dimensi proses ilmiah(metode
ilmiah). Intinya bahwa siswa dalam belajar IPA bukanbelajar hafalan konsep
tetapi belajar menemukan melalui proses sains.Dengan melakukan hands on
activity dan minds on activity berbasisproses sains, siswa dapat memahami,

mengalami dan menemukanjawaban dari persoalan dari yang mereka temukan


dalam kehidupansehari-hari. Hal ini diperlukan untuk meningkatkan literasi sains
ataumelek sains terhadap berbagai persoalan, gejala dan fenomena sainsserta
aplikasinya dalam teknologi dan masyarakat. Hal ini tentunyamenuntut
kemampuan guru untuk memfasilitasi dengan kegiatandalam bentuk LKS
(worksheet) yang beorientasi pada keterampilanproses dan terintegrasi. Hal ini
dikuatkan bahwa pada Kurikulum2013 menekankan pembelajaran IPA yang
berbasis integrated scienceserta menekankan keterampilan berpikir dan
keterampilan proses (Susilowati, 2013).
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintific adalah
pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung
baik menggunakan observasi, eksperimen maupun cara yang lainnya, sehingga
realitas yang akan berbicara sebagai informasi atau data yang diperoleh selain
valid juga dapat dipertanggungjawabkan. Gagne, menyebutkan bahwa dengan
mengembangkan keterampilan Sains anak akan dibuat kreatif, dan mampu
mempelajari sains di tingkat yang lebih tinggi dalamwaktu yang lebih singkat.
Dengan menggunakan keterampilan-keterampilan memprosesperolehan, siswa
akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsepserta
menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai. Tujuan pembelajaran sains
akantercapai jika terdapat keberhasilan penilaian aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor. Aspekkognitif adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan,
pemahaman, dan keterampilanintelektual, aspek afektif erat kaitannya dengan
sikap dan emosi, dan aspek psikomotorberkaitan dengan keterampilan. Ketiga
aspek tersebut searah dengan hakikat sains yangharus ditinjau dari segi produk,
proses, dan sikap ilmiah. Penguasaan aspek-aspek tersebutpada siswa dapat
dilihat dari hasil belajar (Sujarwanta, 2012).

B. Pendekatan saintifik dan non saintifik dalam pembelajaran.


Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya
dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. Menurut Anonim1 (2013), hasil
penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi
dari guru sebesar 10 persensetelah lima belas menit dan perolehan pemahaman
kontekstual sebesar 25 persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah,
retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan
perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen. Proses pembelajaran
harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini bercirikan
penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan
penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus
dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah.
Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.
1. Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang
dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kirakira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2. Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta
didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau
penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
3. Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis,
dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan
mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam
melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari substansi atau
materi pembelajaran.

5. Mendorong

dan

menginspirasi

peserta

didik

mampu

memahami,

menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif


dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.
6. Berbasis

pada

konsep,

teori,

dan

fakta

empiris

yang

dapat

dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik
sistem penyajiannya.
Menurut Anonim1 (2013), proses pembelajaran harus terhindar dari sifatsifat atau nilai-nilai nonilmiah.Pendekatan nonilmiah dimaksud meliputisematamata berdasarkan intuisi, akal sehat,prasangka, penemuan melalui coba-coba, dan
asal berpikir kritis.
1. Intuisi.

Intuisi

sering

dimaknai

sebagai

kecakapan

praktis

yang

kemunculannya bersifat irasional dan individual. Intuisi juga bermakna


kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar
pengalaman dan kecakapannya. Istilah ini sering juga dipahami sebagai
penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara cepat dan
berjalan dengan sendirinya. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara
cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. Namun demikian,
intuisi sama sekali menafsirikan dimensi alur pikir yang sistemik dan
sistematik.
2. Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama
proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap,
keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika guru dan
peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat pula
menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.

3. Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata


atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu
kepentingan orang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi
pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didompleng kepentingan pelakunya,
seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. Hal
inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka
atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting,
jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk
atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan
peserta didik.
4. Penemuan coba-coba. Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan
wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian, keterampilan dan
pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak
terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku. Tentu
saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya dan bernilai kreatifitas. Karena
itu, kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta
dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan
kepastian jawaban.
5. Berpikir kritis.Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang,
khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini
bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan
tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak
orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak semuanya benar, karena bukan
berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu
hanya didasari atas pikiran yang logis semata.
C. Langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam
pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.

Pendekatan ilmiah

10

(scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi


mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan
mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi
tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan
secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus
tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai
atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini.
1.
Mengamati
Metode
mengamati
mengutamakan
kebermaknaan
proses
pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan
tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang
dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati
dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang
lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali
akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.Metode mengamati
sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga
proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode
observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek
yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru .
Menurut Aninim1, (2013), kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan
dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini.
a. Menentukan objek apa yang akan diobservasi
b. Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan
diobservasi
c. Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik
primer maupun sekunder
d. Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
e. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk
mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar

11

f. Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti


menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan
alat-alat tulis lainnya.
Menurut Anonim1 (2013), kegiatan observasi

dalam proses

pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. Dalam


kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam
observasi tersebut.
a. Observasi biasa (common observation). Pada observasi biasa untuk
kepentingan pembelajaran, peserta didik merupakan subjek yang
sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Di sini peserta didik
sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang
diamati.
b. Observasi terkendali (controlled observation). Seperti halnya observasi
biasa, padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta
didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi
yang diamati.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan
pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Namun demikian, berbeda dengan
observasi biasa, pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati
ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. Karena itu, pada
pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan
atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi.
c. Observasi partisipatif (participant observation). Pada observasi partisipatif,
peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek
yang diamati. Sejatinya, observasi semacam ini paling lazim dilakukan
dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Observasi semacam ini
mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau
objek yang diamati. Di bidang pengajaran bahasa, misalnya, dengan
menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan bermukim
langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu

12

pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat, termasuk melibakan


diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka.
2. Menanya
Guru

yang

meningkatkan

dan

efektif

mampu

mengembangkan

menginspirasi
ranah

peserta

sikap,

didik

keterampilan,

untuk
dan

pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing
atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab
pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk
menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.
a. Menurut Anonim1 (2013), Fungsi bertanya adalah
1. Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik
tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
2. Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta
mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
3. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan
ancangan untuk mencari solusinya.
4. Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada
peserta

didik

untuk

menunjukkan

sikap,

keterampilan,

pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.


5. Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam

dan

berbicara,

mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis,


dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
6. Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi, berargumen,
mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
7. Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima
pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan
toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
8. Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap
dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
9. Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan
berempati satu sama lain.
b. Menurut Anonim 1 (2013), kriteria pertanyaan yang baik
1. Singkat dan jelas.

13

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menginspirasi jawaban.
Memiliki fokus.
Bersifat probing atau divergen.
Bersifat validatif atau penguatan.
Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang
Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.
Merangsang proses interaksi.

3. Mencoba
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus
mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang
sesuai. Pada mata pelajaran IPA, peserta didik harus memahami konsep-konsep
IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus
memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam
sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk
memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Menurut Anonim1 (2013), aplikasi metode eksperimen atau mencoba
dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap,
keterampilan, dan pengetahuan.Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini
adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut
tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang
tersedia dan harus disediakan; (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan
hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan;
(5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;(6)
menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7)membuat laporan dan
mengkomunikasikan hasil percobaan.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru
hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2)

14

Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu


memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk
pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang
akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid
melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan
hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara
klasikal.

4. Menalar
a. Esensi Menalar
Istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan
pendekatan

ilmiah

yang

dianut

dalam

Kurikulum

2013

untuk

menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik
tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif
daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis
atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan
berupa pengetahuan.

Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah,

meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di


sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari
reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena
itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum
2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi
atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk
pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan
beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan
memori (Anonim1, 2013).
Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman
tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman

15

yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan


pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai
asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada
koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan
antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu.Menurut teori asosiasi,
proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi
interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Pola ineraksi itu
dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R).

Teori ini dikembangan

kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike, yang kemudian dikenal dengan


teori asosiasi. Jadi, prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh
Thorndike adalah asosiasi, yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon
(S-R). Menurut Thorndike, proses pembelajaran, lebih khusus lagi proses
belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap,
bukan secara tiba-tiba. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam
proses pembelajaran; (a) Hukum efek (The Law of Effect), (b) Hukum
latihan (The Law of Exercise), (c) Hukum kesiapan (The Law of Readiness)
(Anonim1, 2013).
b. Cara menalar
Seperti telah dijelaskan di muka, terdapat dua cara menalar, yaitu
penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif merupakan
cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut
khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Jadi, menalar secara induktif
adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara
individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum.Kegiatan
menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau
pengalaman empirik (Anonim1, 2013).
Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan
dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada
hal yang bersifat khusus. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola

16

silogisme. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal


yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagianbagiannya yang khusus.
5. Mengkomunikasikan
Pada pendekatan scientific guru diharapkan memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan
ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan
dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil
tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta
didik atau kelompok peserta didik tersebut. Kegiatan mengkomunikasikan
dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud
Nomor 81a Tahun 2013, adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan
berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Adapun
kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan sikap
jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat
dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik
dan benar (Anonim3, 2014).
D. Implikasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPA.
Pendekatan saintific dalam proses ilmiah merupakan suatu cara untuk
mempelajariaspek-aspek tertentu dari alam secara terorganisir, sistematik dan
melalui metode-metodesaintific yang terbakukan. Ruang lingkup sains terbatas
pada pada hal-hal yang dapatdipahami oleh indera (penglihatan, sentuhan,
pendengaran, rabaan, dan pengecapan).Sedangkan yang disebut metode saintific
adalah langkah-langkah yang tersusunsecara sistematik untuk memperoleh suatu
kesimpulan ilmiah. Metode saintific juga seringdisebut metode induktif karena
dalam prosesnya, metode saintific dimulai dari hal-halyang bersifat spesifik ke
kesimpulan yang bersifat general (Sujarwanta, 2012).

17

Metode saintific pada dasarnyamerujuk pada model penelitian yang


dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626) dalam Sujarwanta (2012). Model
tersebut memiliki langkah-langkah :
1. Mengidentifikasi masalah (dari fakta yang ditemukan di lingkungan).
2. Mengumpulkan data yang sesuai dengan permasalahan yang ditemukan.
3. Memilah data yang sesuai dengan permasalahan.
4. Merumuskan hipotesis (dugaan ilmiah yang menjelaskan data dan
permasalahan yangada sehingga dapat menentukan langkah penyelesaian
masalah lebih lanjut).
5. Menguji hipotesis dengan mencari data yang lebih faktual (mengadakan
eksperimen)
6. Menguji keakuratan hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya agar
dapat mentukantindakan terhadap hipotesis tersebut (mengkonfirmasi,
memodifikasi, ataupun menolakhipotesis).
Implikasi dalam pembelajaran berkenaan dengan hakikat metode saintific
di atas,maka pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian
ataupengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum-hukum
alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah.
Pembelajaran dengan pendekatan saintific dalam hal ini merujuk kepada sebuah
sistem untuk mendapatkan pengetahuan dengan menggunakan pengamatan dan
eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang
terjadi di alam. Penekanan belajar tampak bahwa siswa aktif berproses, ini secara
operasional membawa kepada situasi pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan saintific, menghadirkan keterampilan proses pada siswa (Sujarwanta,
2012).
Dalam pembelajaran IPA menyusun pembelajaran dengan pendekatan
saintifik bukanlah hal yang sulit. Yang penting jangan ceramah, karena pengajaran
ceramah

bukan

pembelajaran

yang

menggunakan

pendekatan

saintifik.

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik tidak harus selalu praktik. Karena itu,

18

untuk sekolah yang kurang memiliki alat-alat praktik dapat melaksanakan


pembelajaran saintifik itu.
Berpikir ilmiah dalam pendekatan saintifik dilaksanakan dengan selalu
mengacu pada obyek dan fenomena yang dipermasalahkan. Obyek dan fenomena
dapat diperlihatkan pada siswa melalui demonstrasi oleh guru atau siswa, obyekobyek di lingkungan sekolah, model 3 dimensi, minimal dengan gambar obyek.
Jika

menggunakan

gambar

diperlukan

dua

atau

lebih

gambar

yang

memperlihatkan perubahan obyek yang mengindikasikan peristiwa yang terjadi


pada obyek-obyek dalam gambar tersebut. Dalam berpikir ilmiah siswa
menggunakan pengetahuan dari obyek dan fenomena yang diamatinya dan
pengetahuan yang telah dimilikinya. Dengan cara itu pendekatan saintifik
diterapkan dalam pembelajaran IPA (Susilowati. 2013).
Kemampuan berpikir ilmiah akan selalu digunakan dalam setiap kegiatan
pembelajaran aktif dalam IPA. Sebagai contohnya siswa mempelajari suatu
konsep IPA dari suatu informasi di internet. Dalam mempelajari konsep tersebut
siswa harus mengetahui obyek dan fenomena apa yang dibahas dalam informasi
itu, bagaimana konsepnya (prinsip atau teorinya), syarat keberlakukan konsepnya,
dan aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan (Darliana, 2014).

19

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintific adalah pembelajaran
yang menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung baik
menggunakan observasi, eksperimen maupun cara yang lainnya, sehingga
realitas yang akan berbicara sebagai informasi atau data yang diperoleh selain
valid juga dapat dipertanggungjawabkan.
2. Pembelajaran berbasis pendekatan saintifik (ilmiah) bercirikan penonjolan
dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan
tentang suatu kebenaran. Proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan
dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Pendekatan nonilmiah
dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat,prasangka,
penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.
3. Langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran

meliputi

mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan


mencipta untuk semua mata pelajaran.
4. Implikasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPAyaitu dengan cara
menanamkan cara kerja ilmiah dalam mempelajari IPA yakni melput dengan
melakukan

observasi,

lalu

menanya,

mencoba,

menalar,

dan

mengkomunikasikan hasil belajar IPA.


B. Saran
Dengan adanya makalah ini kita sebagai guru diharapkan mampu menerapkan
pendekatan saintifik di kelas dengan baik agar anak-anak bisa dalam belajar bisa
menemukan pengetahuan itu dengan sendirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2013. Diklat Guru Dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013
(Analisis Materi Ajar Konsep Pendekatan Scientific SD/SMP/Sma)
Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Tahun 2013. https://3A%2F

20

%2Fakhmadsudrajat.files.wordpress.com
%2F2013%2F07%2Fpendekatan-saintifik-ilmiah-dalampembelajaran.docx.Diakses di Makassar pada tanggal 29 September
2014.
Anonim2. 2014.Arti Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013.
http://smpnsatap8konsel.blogspot.com/2013/11/arti-pendekatansaintifik-scintific.html. Diakses di Makassar pada tanggal 29 September
2014.
Anonim3. 2014. Kurikulum 2013 ; Langkah-langkah Umum Pembelajaran
dengan
Pendekatan
Saintifik
(2).http://ruangkreasikita.blogspot.com/2014/03/kurikulum-2013langkah-langkah-umum.html. Diakses di Makassar pada tanggal 29
September 2014.
Darliana.

2014. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran


IPA.http://www.m-edukasi.web.id/2014/07/penerapan-pendekatansaintifik-dalam.html. Diakses di Makassar pada tanggal 29 September
2014.

Nurhayati B. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Makassar. Badan Penerbit UNM


Sanjaya. Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan Edisi I Cetakan IV. Jakarta. Kencana
Susilowati. 2013. Integrated Science Worksheet Pembelajaran IPA SMP Dalam
Kurikulum
2013.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/susilowatispdsi-mpdsi/integrative-science-dalam-pemelajaran-ipa.pdf Pendidikan
IPA, Universitas Negeri Yogyakarta.
Sujarwanta, Agus. 2012 . Mengkondisikan Pembelajaran IPA dengan Pendekatan
Saintifik. Jurnal Nuansa Kependidikan Vol 16 Nomor.1, Nopember 2012
http://www.ummetro.ac.id/file_jurnal/MENGKONDISIKAN
%20%20PEMBELAJARAN%20IPA%20DENGAN.pdf. Diakses di
Makassar pada tanggal 29 September 2014.