Anda di halaman 1dari 58

DINAMIKA ANGIN DAN VARIASI GELOMBANG DI PERAIRAN

MALUKU PADA MUSIM TIMUR

SKRIPSI

OLEH :
MAIDAH MARASABESSY
NIM. 2009 64 002

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA

2014

DINAMIKA ANGIN DAN VARIASI GELOMBANG DI PERAIRAN


MALUKU PADA MUSIM TIMUR

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan
Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Pattimura

OLEH :
MAIDAH MARASABESSY
NIM. 2009 64 002

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2014

LEMBARAN PENGESAHAN

Skripsi Ini Telah Dipertahankan Dihadapan Panitia Ujian Sarjana Fakultas


Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Ambon, Pada :
Hari
Tanggal
Tempat

: Rabu
: 19 Maret 2014
: Ruang Ujian Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan
Kampus Poka Ambon

Dan Telah Diterima Sesuai Dengan Keputusan Panitia Ujian Sarjana


PEMBIMBING I

PEMBIMBING II

Ir. J. J. Wattimury, M.Si


NIP. 19650617 199103 1 002

D. E. Kalay, S.Pi, M.Si


NIP. 19751106 200312 1 005

PANITIA UJIAN SARJANA


KETUA

SEKRETARIS

Ir. H. Matakupan, M.Si


NIP. 19660725 199303 1 003

Ir. H. Matakupan, M.Si


NIP. 19660725 199303 1 003
ANGGOTA

PENGUJI I

PENGUJI II

Dr. Ir. S. Tubalawony, M.Si


NIP. 19671018 199303 1 002

Dr. Ir. J. A. N. Masrikat, M.Si


NIP. 19650720 199403 1 002

PENGUJI III

PENGUJI IV

Ir. J. J. Wattimury, M.Si


NIP. 19650617 199103 1 002

D. E. Kalay, S.Pi, M.Si


NIP. 19751106 200312 1 005

DISAHKAN OLEH :
DEKAN FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU
KELAUTAN

Ir. H. Matakupan, M.Si


NIP. 19660725 199303 1 003

DIKETAHUI OLEH :
KETUA JURUSAN MSP

Ir. J. W. Tuahatu, M.Si


NIP. 19630611 199003 2 001

DEDIKASI

Skripsi ini saya persembahkan kepada :

- Orang tua yang mencintai saya dan Almamater yang


saya cintai -

RIWAYAT PENDIDIKAN

Maidah Marasabessy, lahir di Ambon pada tanggal 8


April 1992. Penulis merupakan anak pertama dari tiga
bersaudara. Buah hati dari pasangan Abd. Rahman
Marasabessy dan Hajar Marasabessy. Pada Tahun 2003 lulus
di SD Negeri 04 Jakarta Timur. Tahun yang sama diterima di
SMP Negeri 217 Jakarta Timur dan pindah sekolah pada tahun
2004 di Ambon, kemudian lulus pada tahun 2006 di SMP
Negeri 2 Ambon. Pada tahun yang sama pula diterima di SMA
Negeri 13 Ambon hingga lulus pada tahun 2009. Melalui jalur Penyeleksian
Siswa-Siswi Berprestasi (PSSB), diterima menjadi Mahasiswa pada Program
Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura
Ambon pada tahun 2009.
Dibidang organisasi, pada tahun 2010 penulis menjadi pengurus
Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Pada tahun 2012 menjadi
sekertaris bidang pendidikan di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti periode 2011-2013, dan menjadi sekertaris
umum KORPS HMIwati (KOHATI) Komisariat Perikanan dan Ilmu Kelautan
Unpatti periode 2011-2012.
Untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis
melaksanakan Praktek Keterampilan Lapangan dengan judul, Pola Arus
Permukaan di Perairan Laguna Pulau Pombo dan melakukan penelitian bulan
Juni Agustus 2013 dengan judul, Dinamika Angin Dan Variasi Gelombang di
Perairan Mauku Pada Musim Timur sebagai tugas akhir.

i
RINGKASAN
MAIDAH MARASABESSY, NIM : 2009-64-002. DINAMIKA ANGIN DAN
VARIASI GELOMBANG DI PERAIRAN MALUKU PADA MUSIM
TIMUR. Dibawah bimbingan : Ir. J. J. WATTIMURY, M.Si dan DEGEN. E.
KALAY, S.Pi, M.Si
Angin merupakan unsur meteorologi yang penting untuk diperhatikan
dalam masalah kelautan. Angin disebabkan karena adanya perbedaan tekanan
udara yang merupakan hasil dari pengaruh ketidakseimbangan pemanasan sinar
matahari terhadap tempat-tempat yang berebeda di permukaan bumi. Prinsip
terjadinya gelombang di laut oleh angin adalah perpindahan energi dari angin ke
air lewat permukaan air (Holthuijsen, 2007). Kecepatan angin menimbulkan
tegangan pada permukaan laut, sehingga permukaan air yang semula tenang
akan terganggu dan timbul riak gelombang di atas permukaan air. Pencatatan
tinggi gelombang pada kasus-kasus tertentu diperlukan, terutama untuk
mengetahui dinamika gelombang pada musim barat atau musim timur. Maluku
merupakan propinsi kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah lautan,
dengan demikian dinamika yang terjadi di laut misalnya gelombang secara
langsung berdampak pada aktifitas manusia. Secara klimatologis wilayah Maluku
dipengaruhi oleh angin musim barat dan timur, dinamika ini akan berpengaruh
secara langsung terhadap dinamika gelombang yang terjadi di perairan Maluku.
Oleh karena itu informasi tentang variasi dan karakteristik gelombang yang terjadi
di perairan Maluku sangat diperlukan. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengkaji
pola angin mingguan serta variasi dan karakteristik gelombang di perairan Maluku
pada musim Timur. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan gambaran
tentang bagaimana pola sebaran angin mingguan di perairan Maluku pada musim
timur, serta sebagai bahan informasi kepada instansi terkait dan masyarakat
dalam melakukan kegiatan kelautan.
Penelitian ini di lakukan pada periaran Maluku dengan lokasi 0 080 LS dan
12501350 BT pada musim timur (Juni-Agustus) 2013. Dalam penelitian ini data
yang digunakan adalah data kecepatan angin yang terdiri atas komponen timurbarat (zonal) dan komponen utara-selatan (meridional). Data angin yang
digunakan adalah rata-rata harian bulan Juni, Juli dan Agustus diperoleh dari
satelit ERS dari lembaga penelitian IRFREMER.
Dinamika angin di perairan Maluku mempunyai variasi dari minggu ke
minggu, kecepatan angin rata-rata tertinggi yang terjadi pada musim timur di
perairan Maluku adalah 8.97 m/s terjadi pada minggu kedua bulan Juli disekitar
perairan Laut Banda. Sedangkan kecepatan angin terlemah terjadi pada minggu
pertama bulan Juni dengan kecepatan 3.05 m/s di sekitar perairan Laut Seram.
Pada bulan Juni di perairan Maluku kecepatan angin berkisar antara 1.28-9.68
m/det. Pada bulan Juli di perairan Maluku kecepatan angin berkisar antara 1.5410.5 m/det. Pada bulan Agustus di perairan Maluku kecepatan angin berkisar
antara 1.86-9.60 m/det. Umumnya pola angin pada musim timur dari minggu ke
minggu memiliki arah tiupan yang hampir sama (seragam). Di Laut Banda
umumnya angin bertiup dari arah tenggara, namun pada sekitar Laut Seram terjadi
pembelokan arah angin yang berebeda dibandingkan laut sebelah selatan (Laut
Banda). Jika klasifikasikan menggunakan skala beaufort, secara keseluruhan pada

ii
musim timur di perairan Maluku angin bertiup pada skala 25 dengan kecepatan
antara 0.310.7 m/s. Kecepatan angin lebih dominan pada skala 4 dengan tiupan
angin sedang dan keadaan laut terjadi ombak-ombak kecil menjadi panjang.
Karena angin mempunyai pengaruh besar terhadap gelombang yeng terjadi
di lautan dapat dilihat tinggi gelombang yang terjadi di sekitar perairan Maluku
sebanding dengan kecepatan angin yang bertiup diatasnya. Pada musim timur
gelombang di sekitar perairan Laut Banda memiliki tinggi gelombang yang relatif
besar di bandingkan tinggi gelombang di Laut Seram. Pada bulan Juni di perairan
Maluku tinggi gelombang berkisar antara 0.04-3.65 m. Pada bulan Juli di perairan
Maluku tinggi gelombang berkisar antara 0.05-4.09 m. Pada bulan Agustus di
perairan Maluku tinggi gelombang
berkisar antara 0.08-3.28 m. Jika
diklasifikasikan berdasarkan periode gelombang, pada musim timur keseluruhan
stasiun di perairan Maluku mempunyai periode gelombang yang sama yang
berkisar antara 0.9-10.2 detik dan jenis gelombang yang terjadi yaitu gelombang
besar (Swell).

iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini, dengan judul, DINAMIKA ANGIN DAN VARIASI
GELOMBANG DI PERAIRAN MALUKU PADA MUSIM TIMUR.
Penulisan skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik
pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura.
Skripsi ini berisikan informasi tentang dinamika angin dan variasi
gelombang di perairan Maluku. Informasi dalam skripsi ini kiranya dapat berguna
sebagai bahan informasi kepada instansi terkait dan masyarakat dalam melakukan
kegiatan kelautan, serta sebagai pengembangan ilmu pengetahuan di bidang
perikanan dan kelautan khususnya disiplin ilmu Kelautan.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini terdapat
banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan yang
dimiliki. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan
kritik,

saran,

dan

masukan-masukan

yang

bersifat

membangun

demi

penyempurnaan skripsi ini, kiranya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
penambahan ilmu pengetahuan dan informasi bagi pembaca dan siapapun yang
membutuhkan.

Ambon, Maret 2014

Penulis

iv
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dengan terselesaikannya skripsi ini,
sesungguhnya karena juga bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang
senantiasa memberi semangat kepada penulis. Sehingga melalui kesempatan ini
penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua tercinta
bapak Abd. Rahman Marasabessy dan Ibunda Hajar Marasabessy yang telah
memberikan dorongan, perhatian, serta doa kepada penulis selama ini, serta
ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :
1. Ir. H. Matakupan, M.Si. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Pattimura, beserta staf dosen dan para karyawan/
karyawati atas segala bantuan yang diberikan selama penulis mengikuti
pendidikan di Fakultas tercinta ini.
2. Dr. Ir. J. A. N Masrikat, M.Si sebagai ketua program studi dan dosen
penguji yang telah banyak memberikan masukkan, kritik, maupun saran
untuk penyempurnaan skripsi ini.
3. Ir. Irma Kesaulya, M.Sc, P.hd selaku penasehat akademik yang senantiasa
meluangkan waktu dalam memberikan arahan kepada penulis selama ini.
4. Ir. J. J. Wattimury, M.Si dan Degen. E. Kalay, S.Pi, M.Si selaku dosen
yang telah membimbing pembimbing yang senantiasa memberikan
dorongan, ilmu, pengarahan, dan setia membimbing hingga terselesainya
penulisan skripsi ini.
5. Dr. Ir. S. Tubalawony, M.Si, selaku dosen penguji yang telah memberikan,
masukan, kritikan dan saran guna penyempurnaan skripsi ini.
6.

Keluarga tercinta, kedua adik penulis yang telah membantu dan


memotivasi penulis Amaliah Marasabessy dan Nurnajati Marasabessy.

7. Senior senior, Meizwar Daties, Zulfikar Rumakey, Fitriyani S.S.


Sohilauw, Winda Latief, Ika Hardiyanti, Rahayu Tuanany, Johria
Sia,Gadri Attamimi, Alwan Aswiyanto, Ahmad Muharrar, Fauzan
Mahulette yang telah membantu dan memotivasi penulis selama
penyususnan skripsi ini.

v
8. Teman teman IK09 LAENG SAYANG LAENG (Nancy, Tirsa, Novy,
Nia, Verno, Debby, Elen, Anda, Ayu Ali, Mardia, Ayu Muda, Fani, Bay,
Eky, Afidal dan yang lainnya) dan dian (BDP09) yang telah membantu
penulis dari pengambilan data sampai penyusunan skripsi ini, thanks for
the Incredible Journey and every steps we take together.
9. Sahabat sahabat Emojer, Amaliah Fitri Ambon, Fadzlin Iswadi, Sry
Rahayu, dan Mentari Rasyid yang telah membantu dan memberikan
dorongan kepada penulis.
10. Keluarga besar Bengkel Seni Embun.
11. Keluarga RAJA TEGA, Abang Ul, Abang Ir, Nowen, Yani, Alwan, Muit,
Halid, Amel, Unul terimakasih atas kenyamanan dan kegilaan di mess
tercinta.
12. Pengurus HMI Komisariat Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti atas
segala apresiasi kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.
Segala kebaikan dan ketulusan hati yang diberikan kepada penulis,
kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberikan rahmat yang melimpah dan kasih
sayang yang tiada hentinya bagi kita semua.
Ambon, Maret 2014

Penulis

vi

DAFTAR ISI

LEMBARAN JUDUL
LEMBARAN PENGESAHAN
RINGKASAN .................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................... iv
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... ix
I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.3 Tujuan .................................................................................................... 2
1.4 Manfaat .................................................................................................. 3

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Angin .....................................................................................................
2.1.1 Definisi Angin ................................................................................
2.1.2 Pola Pergerakan Angin ...................................................................
2.1. 3 Jenis-jenis Angin ...........................................................................
2.1.4 Pola Umum Angin di Indonesia ......................................................
2.2 Gelombang .............................................................................................
2.2.1 Definisi Gelombang ........................................................................
2.2.2 Faktor-Faktor Pembentuk Dan Jenis Gelombang.............................
2.2.3 Pergerakan Gelombang ...................................................................

III.

4
4
4
7
9
11
11
12
14

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Lokasi .................................................................................


3.2 Alat dan Bahan ......................................................................................
3.3 Metode Pengumpulan Data.....................................................................
3.4 Metode Analisa Data ..............................................................................
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi ....................................................................................
4.2 Pola Angin dan Variasi Angin di Perairan Maluku ................................
4.3 Klasifikasi Angin Berdasarkan Skala Beaufort .......................................
4.4 Variasi Gelombang di Perairan Maluku ..................................................
4.5 Klasifikasi Gelombang ...........................................................................

17
17
18
18
23
24
31
32
39

vii
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ..........................................................................................
5.2 Saran ....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

41
42

viii
DAFTAR TABEL
No.

Judul

Hal.

1.

Klasifikasi Angin berdasarkan skala beaufort ............................................... 20

2.

Klasifikasi Gelombang berdasarkan Periode ................................................ 21

3.

Klasifikasi gelombang berdasarkan periode gelombang pada musim timur .. 39

ix
DAFTAR GAMBAR

No.

Judul

Hal.

1.

Peta Lokasi Penelitian .................................................................................. 17

2.

Arah Dan kecepatan angin di perairan Maluku pada bulan Juni .................... 25

3.

Arah Dan kecepatan angin di perairan Maluku pada bulan Juli ..................... 27

4.

Arah Dan kecepatan angin di perairan Maluku pada bulan Agustus ............. 29

5.

Grafik kecepatan angin rata-rata di perairan Maluku pada musim timur ....... 30

6.

Grafik skala beaufort di perairan Maluku ..................................................... 32

7.

Tinggi gelombang di perairan Maluku pada bulan Juni................................. 34

8.

Tinggi gelombang di perairan Maluku pada bulan Juli ................................. 35

9.

Tinggi gelombang di perairan Maluku pada bulan Agustus .......................... 36

10. Grafik tinggi gelombang rata-rata di perairan Maluku .................................. 37

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angin merupakan unsur meteorologi yang penting untuk diperhatikan
dalam masalah kelautan. Angin adalah udara yang bergerak akibat adanya
perbedaan tekanan udara. Angin disebabkan karena adanya perbedaan tekanan
udara yang merupakan hasil dari pengaruh ketidakseimbangan pemanasan sinar
matahari terhadap tempat-tempat yang berebeda di permukaan bumi. Keadaan ini
mengakibatkan naiknya sejumlah besar massa udara yang ditandai dengan
timbulnya sifat khusus yaitu terdapatnya tekanan udara yang tinggi dan rendah
(Hutabarat dan Evans, 1985).
Prinsip terjadinya gelombang di laut oleh angin adalah perpindahan energi
dari angin ke air lewat permukaan air (Holthuijsen, 2007). Angin yang
berhembus di atas permukaan air akan memindahkan energinya ke air. Kecepatan
angin menimbulkan tegangan pada permukaan laut, sehingga permukaan air yang
semula tenang akan terganggu dan timbul riak gelombang kecil di atas permukaan
air. Apabila kecepatan angin bertambah, riak tersebut menjadi semakin besar dan
apabila angin berhembus terus akhirnya akan terbentuk gelombang. Semakin lama
dan semakin kuat angin berhembus, semakin besar gelombang yang terbentuk.
Pencatatan tinggi gelombang pada kasus-kasus tertentu diperlukan,
terutama untuk mengetahui dinamika gelombang pada musim barat atau musim
timur. Untuk mengatasi keterbatasan data gelombang, biasanya dilakukan
peramalan gelombang dengan menggunakan data angin, karena data angin relatif
tersedia dan mudah diperoleh.

2
Data angin yang digunakan berupa data primer yang diperoleh dari
BMKG lebih diperuntukkan bagi penelitian-penelitian yang terpusat pada daerahdaerah sekitar perairan pantai saja, maka untuk menganalisis data angin di daerah
lepas pantai digunakan data yang berasal dari satelit. Menurut Kurniawan (2011)
rata-rata tinggi gelombang di wilayah perairan terbuka seperti di perairan
Samudera Indonesia bagian Barat Sumatera dan Selatan Jawa lebih

tinggi

dibandingkan dengan perairan antar pulau seperti di Laut Jawa, Laut Banda dan
Laut Flores, kondisi ini terjadi karena adanya perbedaan panjang fetch yang
terbentuk di wilayah perairan tersebut yang sangat di pengaruhi oleh kecepatan
dan persistensi angin.
Maluku merupakan Propinsi kepulauan yang sebagian besar wilayahnya
adalah lautan, dengan demikian dinamika yang terjadi di laut misalnya gelombang
secara langsung berdampak pada aktifitas manusia. Secara klimatologis wilayah
Maluku dipengaruhi oleh angin musim barat dan timur, dinamika ini akan
berpengaruh secara langsung terhadap dinamika gelombang yang terjadi di
Perairan Maluku. Oleh karena itu informasi tentang variasi dan karakteristik
gelombang yang terjadi di Perairan Maluku sangat diperlukan.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pola angin mingguan serta
variasi dan karakteristik gelombang di Perairan Maluku pada musim timur.

3
1.3 Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang
bagaimana variasi dan karakteristik gelombang di Perairan Maluku pada musim
timur, serta sebagai bahan informasi kepada instansi terkait dan masyarakat dalam
melakukan kegiatan kelautan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Angin

2.1.1. Definisi Angin


Adanya pemanasan yang berbeda di permukaan menimbulkan tekanan
yang berbeda antara dua lokasi yang menyebabkan masa udara mengalir dari
daerah yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. Kuat lemahnya
hembusan angin di permukaan air di sebabkan oleh kelandaian tekanan udaranya
atau dengan kata lain, kecepatan angin sebanding dengan kelandaian tekanan
udaranya. Selain itu, pola pergerakan angin di pengaruhi oleh faktor-faktor seperti
gaya coriolis yang membelokan arah angin dan kekasaran permukaan.
Di Indonesia yang secara geografis terletak di antara dua benua (Asia dan
Australia) dan dua samudera serta letak matahari yang berubah setiap enam bulan
berada di utara dan enam bulan berada di selatan khatulistiwa, maka angin passat
tersebut mengalami perubahan menjadi angin muson (angin musim) barat dan
angin muson timur (Wyrtki, 1961).

2.1.2. Pola pergerakan angin


Gaya yang menyebabkan adanya angin dapat di bagi atas 2 yaitu gaya
primer dan gaya sekunder. Gaya Primer yang menyebabkan terjadinya aliran
udara horizontal adalah gaya gradien tekanan. Gaya ini timbul karena adanya
perbedaan tekanan yang disebabkan perbedaan suhu udara, dalam hubungan ini
permukaan air menerima radiasi dengan laju pemanasan yang berbeda dari satu
tempat ke tempat lain. Perbedaan pemanasan ini tercermin dari suhu udara di atas
bagian permukaan yang terpanasi dan ketidak seimbangan ini menimbulkan

5
perbedaan tekanan. Udara yang berada pada daerah bersuhu tinggi akan
mengembang dan bergerak ke atas sehingga menjadi rendah dari sekitarnya.
Perbedaan tekanan ini menimbulkan gradien tekanan rendah dan semakin tinggi
perbedaan tekanan maka semakin cepat udara bergerak (Supangat dan Susana,
2003).
Gaya Sekunder adalah gaya-gaya yang bereaksi pada udara setelah udara
mulai bergerak. Tiga gaya sekunder yang penting yang menyebabkan terjadinya
jalur pada arah yang berbeda-beda, gaya ini adalah (Supangat dan Susana, 2003) :
-

Gaya Coriolis, Gaya yang timbul karena rotasi bumi yang di sebut dengan
gaya semu. Di belahan bumi utara angin berbelok ke kanan, sedangkan ke
belahan bumi selatan angin berbelok ke kiri. Gaya ini juga sebanding
dengan kecepatan angin yaitu semakin besar kecepatan angin maka
semakin besar juga gaya coriolis yang menyebabkannya. Perbelokan
maksimum terjadi di wilayah kutub sehingga menghasilkan gaya coriolis
maksimum.

Gaya Sentrifugal, Gaya tarik yang tejadi kearah dalam untuk


mempertahankan dari gaya sentripetal yang bergerak keluar.

Gaya Gesekan, Setiap benda yang berada pada permukaan bumi akan di
pengaruhi oleh gaya gesekan yang ditimbulkan dari interaksi benda yang
bergerak di atas permukaan yang tidak rata. Karena pengaruh kekasaran
permukaan bagian yang penting dari gaya gesekan, kecepatan angin di atas
permukaan air jauh lebih tinggi daripada di permukaan daratan. Dengan
mempertimbangkan pengaruh gesekan ini, dapat dijelaskan bahwa
kecepatan angin lebih besar pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi dari

6
pada dekat permukaan bumi. Berkurangnya kecepatan angin karena
adanya gaya gesekan menyebabkan gaya coriolis semakin berkurang,
sehingga udara membelok dari aslinya.
Seluruh permukaan bumi dapat dibagi menjadi beberapa daerah utama
yang mempunyai tekanan rendah dan tinggi yang tergantung kepada letak lintang.
Hal ini menyebabkan timbulnya tiga sistem angin utama pada setiap hemisfer,
terdiri dari :
1. Angin yang terletak pada lintang antara 00 dan 300 yang di kenal sebagai
Trade Winds. Angin bertiup dari arah Timur ke Barat.
2. Angin yang terletak pada lintang antara 300 dan 600 yang bertiup dari arah
Barat ke Timur.
3. Angin yang terletak di daerah kutub (antara 600 sampai ke kutub) yang
umumya bertiup dari arah Timur ke Barat.
Batas-batas pertemuan antara sistem angin utama ini juga merupakan suatu
hal yang menarik. Sebagai contoh, pertemuan sistem Trade Wind pada daerah
ekuator menghasilkan suatu daerah yang relatif mempunyai udara yang tenang
yang dikenal sebagai Doldrums. Di samping ini juga didapat di tempat lain yang
mempunyai udara yang tenang tetapi lebih bervariasi yaitu yang terdapat di daerah
pertemuan sistem angin yang terletak pada lintang 300. Sedangkan daerah yang
terletak di antara angin yang bertiup dari arah Timur dan Barat pada lintang
sekitar 600 mempunyai sifat khas yang yang ditandai dengan terjadinya angin
ribut (Hutabarat dan Evans, 1985).

7
2.1.3 Jenis-jenis Angin
Angin menurut wilayah berhembusnya dibedakan menjadi dua yaitu
(Tanudidjaja, 1998 dalam Ratuluhain, 2011 ) :
1. Angin Lokal
Terjadi sebagai akibat dari perbedaan tekanan di dua tempat yang
berdekatan. Di daerah gunung berhembus angin gunung , angin lembah, dan angin
turun yang kering. Di daerah yang lebih luas antara Asia dan Australia berhembus
angin musim.
Jenis-jenis angin lokal antara lain :
-

Angin Darat dan Angin Laut, Yang disebabkan adanya perbedaan tekanan
karena perubahan kecepatan saat pemanasan. Pada siang hari, darat lebih
cepat panas daripada lautan karena tekanan udara di darat lebih rendah
daripada di atas laut, yang kemudian bertiup angin laut. Keadaan
sebaliknya berlangsung pada malam hari, yaitu di darat lebih cepat
melepaskan panas daripada laut sehingga udara diatas laut lebih panas jika
dibandingkan di atas daratan. Maka, bertiuplah angin darat ke laut pada
malam hari. Angin laut pada umumnya basah artinya mengandung uap air.
Oleh karena itu, angin laut dapat menyebabkan terbentuknya awan di darat
bahkan kemudian menurunkan hujan.

Angin Lembah dan Angin Gunung, Di lereng gunung terjadi pergantian


arah akibat perbedaan tekanan udara di puncak dan lembah yang
mengapitnya. Pada siang hari bagian atas lereng lebih dahulu menerima
panas sehingga tekanan udara menjadi rendah daripada lembah, maka
bertiuplah angin lembah. Pada malam hari berlangsung sebaiknya karena

8
perbedaan ketinggian, pada malam hari tanpa penyinaran matahari puncak
gunung relative lebih dingin daripada di lembah.
-

Angin Musim, Penyebab angin musim ini adalah adanya dua daratan yang
berseberangan terhadap khatulistiwa dan faktor pendukung lainnya adalah
adanya pergeseran matahari antara belahan bumi utara dan selatan.

Angin Siklon dan Antisiklon, Angin siklon adalah angin yang geraknya
berputar ke dalam, mengelilingi daerah tekanan minimum. Angin
antisilikon adalah angin yang geraknya berputar ke luar, dengan tekanan
maksimum dipusatnya.

2. Angin Tetap
Terbentuk dari system perbedaan udara yang tetap dan bertiup dengan arah
yang sama.
a. Angin Pasat, Dari zona tekanan maksimum subtropik di sekitar 300-400
LU dan LS bertiup angin kea rah zona tekanan minimum ekuator, yaitu
angin pasat timur laut di belahan bumi utara dan angin pasat tenggara di
belahan bumi selatan.
b.

Angin Barat dan Timur, Dari zona tekanan maksimum juga bertiup angin
kearah utara, akan tetapi karena pengaruh rotasi, angin ini kemudian
membelok kearah timur menjadi angin barat. Sedangkan pembelokan
akibat rotasi yang sangat kuat dibelahan bumi utara menyebabkan
terjadinya angin timur.

c.

Angin di daerah estesia, Daerah anatra 300- 400 LU dan LS merupakan


daerah estesia yaitu daerah yang merupakan perbatasan daerah angin
pasat dengan daerah angin barat. Karena pergeseran matahari antara

9
belahan bumi utara dan belahan bumi selatan daerah estesia mengalami
berubahan angin.

2.1.4 Pola Umum Angin di Indonesia


Di Indonesia yang secara geografis terletak diantara dua benua (Asia dan
Australia) dan dua samudera serta letak matahari yang berubah setiap enam bulan
berada diselatan khatulistiwa, maka angin pasat tersebut mengalami perubahan
arah menjadi angin muson (angin musim) barat dan angin muson timur (Wyrikti,
1961). Notji (2007) mengatakan bahwa pola angin sangat berperan di Indonesia
adalah angin musim (monsoon). Angin musim bertiup secara menetap ke arah
tertentu pada suatu periode sedangkan pada periode lainnnya bertiup secara
menetap pula dengan arah yang berlainan. Posisi Indonesia antara benua Asia dan
Australia membuat kawasan ini paling ideal untuk berkembangnya angin musim.
Menurut Wyrtki (1961), keadaan musim di Indonesia terbagi menjadi tiga
golongan, yaitu :
1. Musim Barat (DesemberApril)
Pada musim barat pusat tekanan udara tinggi berkembang diatas
benua Asia dan pusat tekanan udara rendah terjadi diatas benua Australia
sehingga angin berhembus dari barat laut menuju tenggara. Di pulau Jawa
angin ini dikenal sebagai angin muson barat laut. Musim barat umumnya
membawa curah hujan yang tinggi di pulau Jawa. Angin muson barat
berhembus pada bualan OktoberApril, matahari berada di belahan bumi
selatan, mengakibatkan belahan bumi selatan khususnya Australia lebih
banyak memperoleh pemanasan matahari daripada benua Asia. Akibatnya di

10
Australia bertemperatur tinggi dan tekanan udara rendah. Sebaliknya di Asia
yang mulai ditinggalkan matahari temperaturnya rendah dan tekanan
udaranya tinggi.
Oleh karena itu terjadilah pergerakan angin dari benua Asia ke benua
Australia sebagai angin muson barat. Angin ini melewati Samudera Pasifik
dan Samudera Indonesia serta Laut Cina Selatan. Karena melewati lautan
tentunya banyak membawa uap air dan setelah sampai di kepulauan Indonesia
turunlah hujan. Setiap bulan November, Desember dan Januari di Indonesia
bagian barat sedang mengalami hujan dengan curah hujan yang cukup tinngi.
2. Musim Timur ( AprilOktober )
Pada musim timur pusat tekanan udara rendah yang terjad diatas
benua Asia dan pusat tekanan udara tinggi di atas benua Australia
menyebabkan angin berhembus dari tenggara menuju barat laut. Di pulau
Jawa bertiup angin muason tenggara. Selama musim timur, pulau Jawa
biasanya mengalami kekeringan. Angin muson timur berhembus setiap bulan
April-Oktober, ketika matahari mulai bergeser ke belahan bumi utara. Di
belahan bumi utara khususnya benua Asia temperaturnya tinggi dan tekanan
udara rendah. Sebaliknya di benua Australia yang telah ditinggalkan
matahari, temperaturnya rendah dan tekanan udara tinggi. Terjadilah
pergerakan angin dari benua Australia ke benua Asia melalui Indonesia
sebagai angin muson timur. Angin ini tidak banyak menurunkan hujan,
karena hanya melewati laut kecil dan jalur sempit seperti Laut Timor, Laut
Arafura dan sebagian selatan Irian Jaya serta kepualauan Nusa Tenggara.

11
3. Musim Peralihan ( MaretMei dan SeptemberNovember )
Diantara kedua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau
terdapat musim lain yang disebut musim pancaroba (peralihan). Adapun cirriciri musim pancaroba (peralihan), yaitu antara lain udara terasa panas, arah
angin tidak teratur, sering terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu yang
singkat dan lebat.
Dalam bulan Maret, angin barat masih berhembus tetapi kecepatan
dan kemantapannya berkurang. Dalam bulan April dan Mei arah angin sudah
tidak menentu dan periode ini dikenal sebagai musim peralihan atau
pancaroba awal tahun. Demikian pula terjadi dalam bulan Oktober dan
November, arah angin tidak menentu dan periode ini dikenal sebagai musim
pancaroba akhir tahun. Kekuatan angin umumnya lemah pada musim-musim
pancaroba dan karena itu laut pun umumnya tenang. Kekuatan angin rata-rata
di Indonesia berkisan antara 2,5-3,5 m/det (Notji, 2007).

2.2

Gelombang

2.2.1 Definisi Gelombang


Gelombang merupakan fenomena alam penaikan dan penurunan air secara
periodik dan dapat dijumpai di semua tempat di seluruh dunia. Gelombang adalah
pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang
membentuk kurva/grafik sinusoidal (Holtjusen, 2007). Sedangkan Gross (1993),
mendefenisikan gelombang sebagai gangguan yang terjadi di permukaan air.
Massa air permukaan selalu dalam keadaan bergerak, gerakan ini terutama
ditimbulkan oleh kekuatan angin yang bertiup melintasi permukaan air dan

12
menghasilkan energi gelombang dan arus. Gelombang dominan terjadi dilaut
adalah gelombang yang terbentuk sebagai akibat dari asosiasi antara angin dan
permukaan laut, secara praktis angin sangat penting bagi pembentukan gelombang
di permukaan laut, karena itu kecepatan angin, durasi angin dan jarak tiupan angin
terhadap pantai terbuka (Davis, 1991 dalam Kalay, 2008).

2.2.2 Faktor-faktor Pembentuk Gelombang dan Jenis-jenis Gelombang


Gelombang yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa macam berdasarkan gaya pembangkitnya, gaya pembangkit tersebut
terutama berasal dari angin, dari gaya tarik menarik bumi - bulan - matahari atau
yang disebut dengan gelombang pasang surut dan gempa bumi (Nichols, C.R &
Williams R.G, 2009) . Jenis-jenis gelombang ditinjau dari gaya pembangkitnya
terdapat 3 jenis yaitu:
1. Gelombang yang disebabkan oleh angin
Angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit utama
gelombang. Bentuk gelombang yang dihasilkan cenderung tidak menentu dan
bergantung pada beberapa sifat gelombang periode dan tinggi dimana gelombang
dibentuk. Gelombang seperti ini disebut Sea. Bentuk gelombang lain yang
disebabkan oleh angin adalah gelombang yang bergerak dengan jarak yang sangat
jauh sehingga semakin jauh meninggalkan daerah pembangkitnya gelombang ini
tidak lagi dipengaruhi oleh angin. Gelombang ini akan lebih teratur dan jarak yang
ditempuh selama pergerakannya dapat mencapai ribuan mil. Jenis gelombang ini
disebut Swell.

13
Tinggi gelombang rata-rata yang dihasilkan oleh angin merupakan fungsi
dari kecepatan angin, waktu dimana angin bertiup, dan jarak dimana angin bertiup
tanpa rintangan. Umumnya semakin kencang angin bertiup semakin besar
gelombang yang terbentuk dan pergerakan gelombang mempunyai kecepatan
yang tinggi sesuai dengan panjang gelombang yang besar. Gelombang yang
terbentuk dengan cara ini umumnya mempunyai puncak yang kurang curam jika
dibandingkan dengan tipe gelombang yang dibangkitkan dengan angin yang
berkecepatan kecil atau lemah. Saat angin mulai bertiup, tinggi gelombang,
kecepatan, panjang gelombang seluruhnya cenderung berkembang dan meningkat
sesuai dengan meningkatnya waktu peniupan berlangsung (Hutabarat dan Evans,
1984).
Jarak tanpa rintangan dimana angin bertiup merupakan fetch yang sangat
penting untuk digambarkan dengan membandingkan gelombang yang terbentuk
pada kolom air yang relatif lebih kecil seperti danau (di darat) dengan yang
terbentuk di lautan bebas (Pond and Picard, 1983). Gelombang yang terbentuk di
danau dengan fetch yang relative kecil dengan hanya mempunyai beberapa
centimeter sedangkan yang terbentuk di laut bebas dimana dengan fetch yang
lebih sering mempunyai panjang gelombang sampai ratusan meter.
2. Gelombang yang disebabkan oleh pasang surut
Gelombang pasang surut yang terjadi di suatu perairan yang diamati
adalah merupakan penjumlahan dari komponen-komponen pasang yang
disebabkan oleh gravitasi bulan, matahari, dan benda-benda angkasa lainnya yang
mempunyai periode sendiri. Tipe pasang berbeda-beda dan sangat tergantung dari
tempat dimana pasang itu terjadi (Cappenberg, 1992). Pasang surut atau pasang

14
naik mempunyai bentuk yang sangat kompleks sebab dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti hubungan pergerakan bulan dengan katulistiwa bumi, pergantian
tempat antara bulan dan matahari dalam kedudukannya terhadap bumi, distribusi
air yang tidak merata pada permukaan bumi dan ketidak teraturan konfigurasi
kolom samudera.
4. Gelombang yang disebabkan oleh tsunami
Gelombang tsunami merupakan bentuk gelombang yang dibangkitkan dari
dalam laut yang disebabkan oleh adanya aktivitas vulkanis seperti letusan gunung
api bawah laut, maupun adanya peristiwa patahan atau pergeseran lempengan
samudera (aktivitas tektonik). Panjang gelombang tipe ini dapat mencapai 160
Km dengan kecepatan 600-700 Km/jam. Pada laut terbuka dapat mencapai 10-12
meter dan saat menjelang atau mendekati pantai tingginya dapat bertambah
bahkan dapat mencapai 20 meter serta dapat menghancurkan wilayah pantai.
2.2.3 Pergerakan Gelombang
Berdasarkan kedalamannya, gelombang yang bergerak mendekati pantai
dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu gelombang laut dalam dan gelombang
permukaan. Gelombang laut dalam merupakan gelombang yang dibentuk dan
dibangun dari bawah kepermukaan. Sedangkan gelombang permukaan merupakan
gelombang yang terjadi antara batas dua media seperti batas air dan udara
(Tarigan, 1987).
Gelombang permukaan terjadi karena adanya pengaruh angin. Peristiwa ini
merupakan peristiwa pemindahan energi angin menjadi energi gelombang di
permukaan laut dan gelombang ini sendiri akan meneruskan energinya ke molekul
air. Gelombang akan menimbulkan riak dipermukaan air dan akhirnya dapat

15
berubah menjadi gelombang yang besar. Gelombang yang bergerak dari zona laut
lepas hingga tiba di zona dekat pantai (nearshore beach) akan melewati beberapa
zona gelombang yaitu : zona laut dalam (deep water zone), zona refraksi
(refraction zone), zona pecah gelombang (surf zone), dan zona pangadukan
gelombang (swash zone) (Dyer,1986). Uraian rinci dari pernyataan tersebut dapat
dikemukakan sebagai berikut:
Gelombang mula-mula terbentuk di daerah pembangkit (generated area)
selanjutnya gelombang-gelombang tersebut akan bergerak pada zona laut dalam
dengan panjang dan periode yang relatif pendek. Setelah masuk ke badan parairan
dangkal, gelombang akan mengalami refraksi (pembelokan arah) akibat topografi
dasar laut yang menanjak sehingga sebagian kecepatan gelombang menjadi
berkurang periodenya semakin lama dan tingginya semakin bertambah,
gelombang kemudian akan pecah pada zona surf dengan melepaskan sejumlah
energinya dan naik kepantai (swash) dan setelah beberapa waktu kemudian
gelombang akan kembali turun (backswash) yang kecepatnnya bergantung pada
kemiringan pantai atau slope. Pantai dengan slope yang tinggi akan lebih cepat
memantulkan gelombang, sedangkan pantai dengan slope yang kecil pemantulan
gelombangnya relatif lambat.
Gross (1993) mengklasifikasikan tipe empasan gelombang yaitu: tipe
plunging, spilling dan surging
1. Plunging, terjadi karena seluruh puncak gelombang melewati kecepatan
gelombang, tipe empasan ini berbentuk cembung kebelakang dan cekung
kearah depan. Gelombang ini sering timbul dari empasan pada periode yang
lama dari suatu gelombang yang besar, dan biasanya terjadi pada dasar pantai

16
yang hampir lebih miring di bandingkan pada tipe Spilling. Walaupun sangat
menarik, namun umumnya gelombang ini tidak terjadi lama dan juga tidak
baik untuk berselancar. Bahkan tipe empasan ini mampu menimbulkan
kehancuran yang cukup hebat.
2. Spilling, terjadi dimana gelombang sudah pecah sebelum tiba di depan pantai
Gelombang ini lebih sering terjadi, dimana kemiringan dasarnya lebih kecil
sekali, oleh karena itu reaksinya lebih lambat, sangat lama dan biasanya
digunakan untuk berselancar.
3. Surging, adalah tipe empasan dimana gelombang pecah tepat di tepi pantai.
Tipe empasan ini sangat mempengaruhi lebarnya zona surf suatu perairan
karena jenis gelombang yang pecah tepat di tepi pantai akan mengakibatkan
semakin sempitnya zona surf. Gelombangnya lebih lemah saat mencapai
pantai dengan dasar yang lebih curam dan kemudian gelombang akan pecah
tepat pada tepi pantai.

III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1

Waktu dan Lokasi


Penelitian ini dilakukan pada Perairan Maluku dengan posisi 00-80 LS dan

1250-1350 BT pada musim timur (Juni-Agustus) 2013.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian

3.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Komputer untuk mengolah data.
2. Data angin yang diperoleh dari satelit ERS dari lembaga penelitian
IRFREMER.
3. Software ODV dan Surfer 8.

18
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data angin di peroleh dari IFREMER yaitu lembaga penelitian Prancis
untuk eksploitasi laut, yang diperoleh dari situs : http://cersat.ifremer.fr/. Data
tersebut merupakan data dari CERSAT (Center ERS dArchuvage et de
Trautment) yakni pusat fasilitas pengelolaan dan pengarsipan ERS Prancis. ERS
(Earth Resource Satellite) merupakan satelit observasi bumi yang dimiliki oleh
konsorium Eropa, ESA (Europen Space Agency). Data ini direkam dengan
menggunakan sensor ASCAT dengan resolusi spasial 0.250 x 0.250 dalam format
NetCDF. Untuk mengeksport data dalam format exel digunakan software ODV
(Ocean Data View). Data yang digunakan adalah data kecepatan angin komponen
timur-barat (zonal) dan komponen utara-selatan (meridional). Data angin yang
digunakan adalah rata-rata harian bulan Juni, Juli dan Agustus.

3.4 Metode Analisa Data


3.4.1 Sebaran Angin
Pola sebaran angin dikaji dengan melihat arah dan kecepatannya. Data
vektor angin untuk setiap komponen zonal dan meridonal yang diperoleh
dirata-ratakan per minggu. Dari hasil rata-rata kemudian hasil rata-rata
kecepatan dan arah angin ini ditampilkan dalam bentuk gambar pola sebaran
angin mingguan dengan bantuan software Surfer 8.
Kecepatan dihitung dengan menggunakan penurunan rumus phytagoras,
sebagai berikut :
W = 2 + 2

19
Dimana :
W

: resultan kecepatan angin (m/det)

: kecepatan angin komponen zonal (barat-timur) (m/det)

: kecepatan angin komponen meridional (utara-selatan) (m/det)

sedangkan arah angin dihituang dengan menggunakan rumus :


sin =

Dimana :

: arah angin

: resultan kecepatan angin (m/det)

: kecepatan angin komponen meridonal (utara-selatan) (m/det)

3.4.2

Klasifikasi angin
Untuk mengetahui klasifikasi dan kecepatan angin yang terjadi

digunakan skala Beaufort. Skala ini ditemukan oleh Francis Beaufort pada
tahun 1805. Beaufort mengukur kecepatan angin dengan menggambarkan
pengaruhnya pada kecepatan kapal dan gelombang laut (BMKG, 2012).

20
Table 1. Angin Menurut Skala Beaufort
Skala
Beaufort

m/s

O
1

0 ~ 0.2
0.3 ~
1.5
1.6 ~
3.3

3.4 ~
5.4
5.5 ~
7.9
8.0 ~
10.7

4
5

Kecepatan
Rata-Rata
Angin
Tenang
Sedikit
tenang
Sedikit
hembusan
angin
Hembusan
angin pelan
Hembusan
angin sedang
Hembusan
angin sejuk

10.8 ~ Hembusan
13.8
angin kuat
13.9 ~ Mendekati
17.2
kencang

17.2 ~ Kencang
20.7

20.8 ~ Kencang
24.4
sekali

10

24.5 ~ Badai
28.4

11

28.5 ~ Badai
32.6
dahsyat
>32.6
Badai topan

12

3.4.3

Keadaan Laut

Laut mengkilat bagaikan cermin


Laut beriak, terbentuk ombak kecil tanpa
pecahan ombak
Ombak-ombak kecil masih pendek tetapi
terlihat jelas, puncak ombak seperti kaca
tetapi tidak pecah
Ombak-ombak kecil puncak mulai
pecah, dengan buih-buih seperti kaca
Ombak-ombak kecil menjadi panjang
Gelombang-gelombang agak besar lebih
panjang.banyak terjadi buih putih
kemungkinan terjadi semburan air
Gelombang-gelombang besar terbentuk
buih,puncak gelombang lebih banyak
Laut seolah-olah mulai naik dan buih
putih terbentuk, dari pecahan gelombang
mulai tertiup dalam gais-garis sepanjang
arah angin
Gelombang agak tinggi dan lebuh
panjang, puncak gelombang menyembur,
terlihat garis-garis buih putih sepanjang
arah angin
Gelombang tinggi, garis-garis buih putih
yang padat, puncak gelombang mulai
pecah, dan semburan air mengganggu
Gelombang sangat tinggi dengan puncak
yang panjang, buih tang terbentuk
merupakan gugusan putih yang padat .
Secara keseluruhan laut terlihat putih .
Udara penuh dengan semburan air dan
buih. Laut seluruhnya putih karena
semburan air. Pemandangan sangat
terpengaruh

Tinggi gelombang

Perhitungan

gelombang

dihitung

menggunakan

persamaan

dikemukakan oleh SPM (1984) dalam Yulaitakar (2008), sebagai berikut :

yang

21

Hmo = 0.2433

Dimana :
Hmo

: tinggi gelombang signifikan (wave height).

UA

faktor tegangan angin (wind stres factor)

gravitasi

Untuk mengetahui nilai faktor tegangan angin digunakan persamaan sebagai


berikut :
UA = 0.71 x W1.23
Dimana :
UA

: faktor tegangan angin

: resultan kecepatan angin (m/det)

Perhitungan rata-rata tinggi gelombang adalah sebagai berikut:


Rata-rata (h) =

h1+h2++hn
n

dimana, h adalah tinggi gelombang dan n adalah jumlah data hasil perhitungan.

3.4.4 Kalsifikasi jenis gelombang


Klasifikasi gelombang di kelompokkan berdasarkan periode gelombang
yang dikemukakan oleh Munk (1950).
Tabel 2. Klasifikasi gelombang berdasarkan periode
Periode
0 0.2 Detik
0.2 0.9 Detik

Jenis Gelombang
Riak (Riplles)
Gelombang angin (Chop)

0.9 -15 Detik


15 30 Detik

Gelombang besar (Swell)


Long Swell

0.5 menit 1 jam


5. 12. 25 jam

Gelombang
(Tsunami)

dengan

Pasang surut (Tide)

periode

yang

panjang

22
Perhitungan periode gelombang dihitung menggunakan persamaan yang
dikemukakan oleh SPM (1984) dalam Yulaitakar (2008), sebagai berikut :

Tmo = 8.134.

Dimana :
Tmo

Periode Gelombang (wave period)

Ua

faktor tegangan angin (wind stres factor)

gravitasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Deskripsi Lokasi
Provinsi Maluku merupakan salah satu wilayah kepulauan di Indonesia.
Karakteristik wilayah yang heterogen dengan ribuan pulau menjadikan provinsi
ini berbeda dari wilayah-wilayah lain. Secara keseluruhan luas wilayahnya adalah
seluas 581.376 km2, dengan luas wilayahnya 90 persen merupakan lautan seluas
527.191 km2 dan 10 persen daratan 54.185 km2. Perairan Maluku terletak antara
Paparan Sunda di sebelah barat dan Paparan Sahul disebelah timur, serta antara
Samudera Pasifik disebelah utara dan Samudera Hindia disebelah selatan.
Perairan Maluku terdiri dari Laut Banda di bagian selatan, Laut Maluku dibagian
barat, Laut Seram dibagian utara, Laut Arafura disebelah timur.
Secara klimatologis Perairan Maluku dipengaruhi oleh angin musim barat
dan timur, dinamika ini berepengaruh secara langsung terhadap dinamika
gelombang yang terjadi. Menurut Kurniawan, dkk., (2011) di Perairan Maluku
umumnya gelombang tinggi terjadi pada musim barat dan timur dibandingkan
musim peralihan. Secara keseluruhan iklim Perairan Maluku bersifat tropis
dengan ciri-ciri khas perbedaan suhu sepanjang tahun relatif kecil, tetapi suhu
harian relatif tinggi dengan suhu yang lebih besar dari 180C dalam bulan terdingin
(Schimdt dan Ferguson, 1915 dalam Sumadhiharga dan Suwartana, 1975).
Perairan Maluku merupakan pertemuan antara Samudera Hindia dan Samudera
Pasifik, sehingga secara langsung atau tidak berpengaruh terhadap keadaan
perairan ini. Pengaruh Samudera Hindia terutama di bagian selatan Perairan
Banda, sedangkan pengaruh Samudera Pasifik diperoleh melalui Laut Maluku
dan Laut Seram. Kontak langsung antara kedua samudera tersebut dengan

24
Perairan Maluku akan menimbulkan terjadinya peristiwa turbulensi, upwelling,
dan lain sebagainya.

4.2 Pola Angin Dan Variasi Angin Di Perairan Maluku


Selama bulan Juni di wilayah Indonesia memasuki musim timur, dimana
pada bulan ini angin Monsun Australia bertiup dari tenggara melintasi wilayah
Perairan Maluku menuju ke barat laut. Pada minggu pertama bulan Juni kecepatan
angin di Perairan Maluku berkisar antara 1.42-9.68 m/det. Pada minggu kedua
bulan Juni kecepatan angin mulai melemah, kecepatan angin berkisar antara 1.289.54 m/det. Pada minggu ketiga bulan Juni kecepatan angin kembali meningkat,
kecepatan angin berkisar antara 1.51-9.01 m/det. Pada minggu keempat bulan Juni
kecepatan angin berkisar antara 2.08-8.88 m/det.
Arah dan kecepatan angin dari minggu keminggu umumnya hampir
seragam, secara keseluruhan pada bulan Juni di perairan Maluku kecepatan angin
berkisar antara 1.28-9.68 m/det. Kecepatan angin tertinggi berada di sekitar
perairan Laut Banda mulai dari 4 o-8o LS dan terlemah di perairan Laut Seram.
Pola angin di perairan Maluku bergerak dari tenggara menuju barat laut namun di
sekitar perairan Laut Seram arah angin berubah dari utara ke barat (Gambar. 2)

25

Gambar 2. Arah Dan kecepatan angin di perairan Maluku pada bulan Juni

26
Sama seperti bulan Juni pada bulan Juli angin di perairan Maluku masih
dominan bertiup dari tenggara menuju barat laut. Pada minggu pertama bulan Juli
kecepatan angin di Perairan Maluku berkisar antara 1.83-9.82 m/det. Pada minggu
kedua bulan Juli kecepatan angin mulai meningkat, kecepatan angin berkisar
antara 1.97-10.50 m/det. Pada minggu ketiga bulan Juli kecepatan angin berkisar
antara 2.37-8.97 m/det. Pada minggu keempat bulan Juli kecepatan angin kian
melemah, kecepatan angin berkisar antara 1.54-9.48 m/det.
Kecepatan angin pada bulan Juli lebih meningkat dibanding bulan Juni.
Secara keseluruhan pada bulan Juli di perairan Maluku kecepatan angin berkisar
antara 1.54-10.5 m/det. Kecepatan angin tertinggi berada di sekitar Perairan Laut
Banda mulai dari 3o-8o LS dan terlemah di perairan Laut Seram (Gambar 3). Dari
minggu pertama sampai minggu keempat, disekitar Laut Banda angin bertiup
seragam dari tenggara menuju barat laut, pada minggu pertama dan minggu kedua
di sekitar Laut Seram arah angin bertiup seragam dari timur ke barat namun pada
minggu ketiga dan keempat di sekitar perairan Laut Seram arah angin tidak tentu
dari utara ke selatan.

27

Gambar 3. Arah Dan kecepatan angin di perairan Maluku pada bulan Juli

28
Pola dan distribusi angin di perairan Maluku pada bulan Agustus bertiup
dari tenggara menuju barat laut. Di belahan bumi utara khususnya benua Asia
temperaturnya tinggi dan tekanan udara rendah. Sebaliknya di benua Australia
yang telah ditinggalkan matahari, temperaturnya rendah dan tekanan udara tinggi.
Terjadilah pergerakan angin dari benua Australia ke benua Asia melalui Indonesia
sebagai angin muson timur (Wrykti, 1961).
Pada minggu pertama bulan Agustus kecepatan angin di Perairan Maluku
berkisar antara 2.15-9.60 m/det. Pada minggu kedua bulan Agustus kecepatan
angin mulai melemah, kecepatan angin berkisar antara 1.86-7.92 m/det. Pada
minggu ketiga bulan Agustus kecepatan angin mulai meningkat, kecepatan angin
berkisar antara 2.49-8.17 m/det. Pada minggu keempat bulan Agustus kecepatan
angin makin meningkat, kecepatan angin berkisar antara 2.42-8.78 m/det.
Secara keseluruhan pada bulan Agustus di Perairan Maluku kecepatan
angin berkisar antara 1.86-9.60 m/det. Berbeda dengan bulan Juni dan Juli
kecepatan angin meningkat dari Laut Banda sampai Laut Seram (2 o-8oLS). Pola
pergerakan anginpun berbeda setiap minggunya, minggu pertama angin dominan
bergerak dari tenggara menuju barat laut, minggu kedua disekitar Laut Seram
angin bertiup dari timur kebarat, minggu ketiga di sekitar Laut Seram angin
bertiup dari utara ke selatan sedangkan di perairan Laut Banda arah angin
dominan dari tenggara. Pada minggu keempat arah angin sama dengan minggu
kedua, disekitar Laut Seram angin bertiup dari timur kebarat.

29

Gambar 4. Arah Dan kecepatan angin di perairan Maluku pada bulan Agustus

30
Dari keseluruhan gambar yang diamatai dapat dilihat umumnya pola angin
pada musim timur dari minggu ke minggu memiliki arah tiupan yang hampir sama
(seragam). Di Laut Banda umumnya angin bertiup dari arah tenggara, namun di
sekitar Laut Seram terjadi pembelokan arah angin yang berebeda dibandingkan
laut sebelah selatan (Laut Banda), pembelokan arah angin ini disebabkan karena
adanya gaya coriolis yang terjadi disekitar daerah ekuator. Di belahan bumi utara
angin berbelok ke kanan, sedangkan di belahan bumi selatan angin berbelok ke
kiri (Supangat dan Susana, 2003).
Dinamika angin di perairan Maluku mempunyai variasi dari minggu ke
minggu, kecepatan angin rata-rata tertinggi yang terjadi pada musim timur di
Perairan Maluku adalah 8.97 m/s terjadi pada minggu kedua bulan Juli disekitar
perairan Laut Banda. Sedangkan kecepatan angin terlemah terjadi pada minggu

kecepatan (m/det)

pertama bulan Juni dengan kecepatan 3.05 m/s di sekitar perairan Laut Seram.
10.00
9.00
8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00

Laut Banda
Laut Seram

Gambar 5. Grafik kecepatan angin rata-rata di perairan Maluku pada musim timur

31
Adanya variasi nilai kecepatan angin ini disebabkan karena adanya
perbedaan tekanan akibat pemanasan yang tidak merata di permukaan tiap
harinya. Kecepatan angin mengalami kenaikan gradien tekanan udara sehingga
angin bertiup lebih cepat dan kembali melemah ketika terjadi penurunan tekanan
gradien (Bishop, 1984 dalam Ratuhalin, 2011).

4.3 Klasifikasi Angin Berdasarkan Skala Beaufort


Pada bulan Juni 364-500 stasiun bertiup pada skala 4 dengan dengan
hembusan angin sedang dan keadaan laut terjadi ombak-ombak kecil menjadi
besar. Jumlah stasiun terendah berada pada skala 1 dengan jumlah stasiun 2-8
dengan hembusan angin sedikit tenang dan keadaan laut beriak, terbentuk ombak
kecil tanpa pecahan ombak. Pada bulan Juli 193-505 stasiun bertiup pada skala 4
dengan dengan hembusan angin sedang dan keadaan laut terjadi ombak-ombak
kecil menjadi besar. Jumlah stasiun terendah berada pada skala 1 dengan jumlah
stasiun 1 dengan hembusan angin sedikit tenang dan keadaan laut beriak,
terbentuk ombak kecil tanpa pecahan ombak. Pada bulan Agustus 433-777 stasiun
bertiup pada skala 4 dengan dengan hembusan angin sedang dan keadaan laut
terjadi ombak-ombak kecil menjadi besar. Jumlah stasiun terendah berada pada
skala 2 dengan jumlah stasiun 37-72 dengan hembusan angin sedikit dan keadaan
laut Ombak-ombak kecil masih pendek tetapi terlihat jelas, puncak ombak seperti
kaca tetapi tidak pecah.

32

900

juni minggu 1
juni minggu 2
juni minggu 3
juni minggu 4
juli minggu 1
juli minngu 2
juli minggu 3
juli minggu 4
agustus minggu 1
agustus minggu 2
agustus minggu 3
agustus minggu 4

800

jumlah stasiun

700
600
500
400

300
200
100
0
O

10

11

12

skala beaufort

Gambar 6. Grafik skala beaufort di perairan Maluku


Secara keseluruhan pada musim timur di perairan Maluku angin bertiup
pada skala 25 dengan kecepatan antara 0.310.7 m/s. Kecepatan angin lebih
dominan pada skala 4 dengan tiupan angin sedang dan keadaan laut terjadi
ombak-ombak kecil menjadi panjang. Pada musim timur angin yang bertiup relatif
kuat berbeda dengan musim peralihan, hal ini diperkuat dengan pernyataan
Young (1999), yang menyatakan bahwa pada musim peralihan kecepatan angin
lebih lemah jika dibandingkan dengan musim barat dan musim timur karena
adanya pola sirkulasi atmosfer.

4.4 Variasi Gelombang Di Perairan Maluku


Dari hasil perhitungan gelombang diketahui bahwa pada minggu pertama
bulan Juni tinggi gelombang di Perairan Maluku berkisar antara 0.04-3.39 m.
Pada minggu kedua bulan Juni tinggi gelombang berkisar antara 0.04-3.65 m.
Pada minggu ketiga bulan Juni tinggi tinggi gelombang berkisar antara 0.05-2.84
m. Pada minggu keempat bulan Juni tinggi gelombang berkisar antara 0.13-2.86

33
m. Umumnya tinggi gelombang diperairan Maluku pada bulan Juni setiap
minggunya sama, gelombang tinggi berada di sekitar perairan Laut Banda (5 o-8o
LS) dan mulai melemah di perairan diatasnya. (Gambar 7).
Pada minggu pertama bulan Juli tinggi gelombang di Perairan Maluku
berkisar antara 0.08-3.80 m. Pada minggu kedua bulan Juli tinggi gelombang
berkisar antara 0.08-3.82 m. Pada minggu ketiga bulan Juli tinggi gelombang
berkisar antara 0.15-4.09 m. Pada minggu keempat bulan Juli tinggi tinggi
gelombang berkisar antara 0.05-3.19 m. Secara keseluruhan pada bulan Juli di
perairan Maluku tinggi gelombang berkisar antara 0.05-4.09 m. Pada minggu
pertama dan kedua gelombang tinggi terjadi di perairan Laut Banda (3 o-8o LS)
dan mulai melemah di perairan diatasnya. Pada minggu ketiga dan keempat
gelombang mulai tinggi disekitar Laut Banda dan sebagian Laut Seram (2o-8o LS)
dan melemah di perairan diatasnya. (Gambar 8).
Pada minggu pertama bulan Agustus tinggi gelombang di Perairan Maluku
berkisar antara 0.12-3.28 m. Pada minggu kedua bulan Agustus tinggi gelombang
berkisar antara 0.08-2.07 m. Pada minggu ketiga bulan Agustus tinggi gelombang
berkisar antara 0.18-2.36 m. Pada minggu keempat bulan Agustus tinggi
gelombang berkisar antara 0.12-2.68 m.Secara keseluruhan pada bulan Agustus
di perairan Maluku tinggi gelombang berkisar antara 0.08-3.28 m. Pada minggu
pertama gelombang tinggi dominan terjadi di sekitar perairan Laut Banda dan
Laut Seram (2o-8o LS), namun pada minggu kedua gelombang mulai melemah
hampir seluruh perairan Maluku. Pada minggu ketiga dan keempat gelombang
kembali tinggi di sekitar Laut Banda dan sebagian Laut Seram (2 o-8o LS )
(Gambar 9).

34

Gambar 7. Tinggi gelombang di perairan Maluku pada bulan Juni

35

Gambar 8. Tinggi gelombang di perairan Maluku pada bulan Juli

36

Gambar 9. Tinggi gelombang di perairan Maluku pada bulan Agustus

37
Dari keseluruhan gambar yang diamatai dapat dilihat umumnya dinamika
tinggi gelombang di Perairan Maluku memiliki variasi dari minggu ke minggu.
Rata-rata gelombang tertinggi terjadi pada minggu kedua bulan Juli dengan ratarata tinggi gelombang 2.75 m, sedangkan tinggi gelombang terendah terjadi pada
minggu pertama bulan Juni dengan tinggi gelombang rata-rata 0.30 m.

Tinggi gelombang (m)

3.00
2.50
2.00
1.50
1.00

Laut Banda

0.50

Laut Seram

0.00

Gambar 10. Grafik tinggi gelombang rata-rata di perairan Maluku


Karena angin mempunyai pengaruh besar terhadap gelombang yeng terjadi
di lautan dapat dilihat tinggi gelombang yang terjadi di sekitar Perairan Maluku
sebanding dengan kecepatan angin yang bertiup diatasnya. Dari keseluruhan
gambar dapat diamati bahwa di sekitar perairan Laut Banda memiliki tinggi
gelombang yang relatif besar dibandingkan tinggi gelombang di Laut Seram.
Perairan Laut Banda merupakan perairan yang lebih luas di bandingkan perairan
laut Seram, Gelombang yang terbentuk pada kolom air yang relatif lebih kecil di
banding dengan gelombang yang terbentuk di lautan bebas (Pond dan Picard,
1983). Selain itu arah tiupan angin juga berpengaruh terhadap tinggi gelombang
yang terjadi, pada umumnya arah tiupan angin di perairan Laut Banda seragam

38
dibandingkan perairan Laut Seram. Semakin seragam arah tiupan angin di suatu
wilayah, maka gelombang yang terjadi akan semakin besar. Hal ini terjadi karena
arah tiupan yang sama akan menyebabkan terbentuknya gelombang konstruktif
yang saling menguatkan, sehingga energi yang dibangkitkan oleh tiupan angin
akan terkumpul (Kurniawan, dkk., 2011)

39

4.5 Klasifikasi Gelombang


Table 3. klasifikasi gelombang berdasarkan periode gelombang pada musim timur
Periode
1
0 0,2
Detik
0,2 0,9
Detik
0,9 -15
Detik
15 30
Detik
0,5 menit
1 jam
5, 12, 25
jam

Agustus
2
3

Jumlah Stasiun
Juli
2
3

Jenis Gelombang
4

4
Riak (Riplles)
Gelombang angin

1074 1074 1074 1074 1074 1074 1074 1074 1074 1074 1074 1074 Gelombang besar (Swell)
Long Swell
Gelombang dengan periode yang
panjang (termasuk Tsunami)
Pasang surut

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada musim timur keseluruhan stasiun di perairan Maluku mempunyai periode gelombang
yang sama yang berkisar antara 0.9-10.2 detik dan jenis gelombang yang terjadi yaitu gelombang besar (Swell). Swell adalah gelombang
yang sudah berada jauh dari daerah pembentukannya. Swell merupakan gelombang panjang, mempunyai periode yang tinggi, oleh karena
itu gelombang ini sulit teredam. Swell bisa merambat sampai ribuan kilometer. Periodenya biasanya lebih besar dari 10 detik.

40
Menurut Hutabarat dan Evans (1984), gelombang yang dibangkitkan oleh
angin di kelompokkan menjadi 2 yaitu sea dan swell. Hal ini menunjukkan
gelombang yang terbentuk di perairan ini karakteristiknya sangat dipengaruhi
oleh kondisi angin yang terjadi.
Menurut kurniawan (2011), gelombang swell pada musim timur di
Perairan Maluku berkisar antara 0.5-3 m. Badan Meteorologi, Klimatologi dan
Geofisika (BMKG), menyatakan gelombang di atas 3 m sudah termasuk dalam
kategori berbahaya untuk pelayaran rakyat, apalagi nelayan, sementara ketinggian
gelombang yang normal 1 hingga 1,5 m. Di Perairan Maluku yang termasuk
dalam zona kritis (gelombang tinggi) yaitu perairan Laut Banda dengan rata-rata
tinggi gelombang berkisar antara 1.17-2.75 m. sedangkan di perairan Laut Seram
tinggi gelombang masih dalam kategori normal dengan tinggi gelomang rata-rata
berkisar antara 0.3-1.18 m.

V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat
dirumuskan beberapa kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Pola angin di perairan Maluku pada musim timur dari minggu ke minggu
memiliki arah tiupan yang hampir sama (seragam). Di laut Banda
umumnya angin bertiup dari arah tenggara, namun di sekitar laut Seram
terjadi pembelokan arah angin yang berebeda.
2. Kecepatan angin rata-rata tertinggi yang terjadi pada musim timur di
Perairan Maluku adalah 8.97 m/s terjadi pada minggu kedua bulan Juli
disekitar perairan laut Banda. Sedangkan kecepatan angin terlemah terjadi
pada minggu pertama bulan Juni dengan kecepatan 3.05 m/s di sekitar
perairan Laut Seram.
3. Secara keseluruhan pada musim timur di Perairan Maluku angin bertiup
pada skala 2-5 skala beaufort dengan kecepatan antara 0.3-10.7 m/s.
kecepatan angin lebih dominan pada skala 4 dengan tiupan angin sedang
dan keadaan laut terjadi ombak-ombak kecil menjadi panjang.
4. Gelombang di perairan Maluku memiliki variasi dari minggu ke minggu.
Rata-rata gelombang tertinggi terjadi pada minggu kedua bulan Juli
dengan rata-rata tinggi gelombang 2.75 m, sedangkan tinggi gelombang
terendah terjadi pada minggu pertama bulan Juni dengan tinggi gelombang
rata-rata 0.30 m.

42
5. Secara keseluruhan di perairan Maluku mempunyai periode gelombang
yang sama yang berkisar antara 0.9-10.2 detik, jenis gelombang yang
terjadi yaitu gelombang besar (Swell).

5.2 Saran
Dari penelitian ini diharapkan ada penelitian lanjutan mengenai dinamika
angin dan variasi gelombang di Perairan Maluku pada musim yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA
Aldrian, E. 2008. Meteorology Laut Indonesia. BMKG. Jakarta
BMKG.

2012.

http://www.staklim-bengkulu.net/index.php/artikel/85-skala-

beaufort
BMKG.2014.
http://maritim.bmkg.go.id/index.php/main/peta_prakiraan/peta_swell
Dyer, K. R. 1986. Coastal And Estuarine Sediment Dynamics. Jhon Wiley &
Sons, Inc. New York
Gross, M. 1990. Oceanography Sixth Edition. New Jersey : Prentice-Hall.Inc.
Holthuijsen L.H. (2007). Waves in Oceanic and Coastal Waters.

New York:

Cambridge University Press.


Hutabarat, S Dan S.M. Evans. 1985. Pengantar Oseanografi. Universitas
Indonesia Press. Jakarta.
IFREMER. 2013. http://cersat.ifremer.fr/.
Kalay, D. E. 2008. Perubahan Garis Pantai Di Sepanjang Pesisir Pantai
Indramayu. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kurniawan, Dkk. 2011. Variasi Bulanan Gelombang Laut Di Indonesia.
Puslitbang BMKG. Jakarta
Nichols, C.R., & Williams R.G. (2009). Encyclopedia of Marine Science. New
York: Fact on File Inc.
Notji, A. 2007. Laut Nusantara. Cetakan 5. Djambatan. Jakarta
Pond, S. and G. L, Pickard. 1983. Introductory Dynamical Oceanography. British
Library Cataloguing In Publication. Data
Praseno, D. P. 1991. Perairan Maluku Dan Sekitarnya. Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Osanologi LIPI. Ambon.
Ratuluhain, E. S. 2011. Variasi Transport Massa Air Permukaan Laut Banda
Selama Bulan Januari 2009. Universitas Pattimura. Ambon
Sumadhiharga, K Dan Atjep, S. 1975. Poetensi Perairan Maluku Sebagai Sumber
Hayati Laut. Lembaga Oseanologi Nasional. Ambon
Supangat, A. Dan Susana. 2003. Pengantar Oseanografi. Pusat Riset Wilayah Laut
Dan Sumberdaya Non-Hayati, Badan Riset Kelautan Dan Perikanan, DKP.
Jakarta

Sverdrup, H. U. dan Munk, W. H. 1992, Wind, Sea and Swell: Theory of Relations for Forecasting, Publication 601, U. S. Navy Hydrographic
Oce,Washington, DC.Cappenberg. 1992
Tarigan , M. s dan D. Sapulette. 1987. Perubahan Musiman Suhu Air Laut Di
Teluk Ambon Bagian Dalam. LIPI. Ambon
Wibisono, M.S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan, PT Gramedia Widiasarana
Indonesia. Jakarta
Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography Of Southeasy Asian Waters. NAGA
Rep,2. Sripps Inst Of Oceanography La Jolla. California
Young, I. R. 1999. Wind Generated Ocean Waves. University Of Adelaide.
Australia
Yualitakar. 2008. Pengolaha Data Angin Dan Pasang Surut; Laporan Tugas Akhir
Desain Dermaga General Cargo Dan Trestie. Makassar
Yuwono, N. 1982 Teknik Pantai Volume I. Biro Penerbit Keluarga Mahasiswa