Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM

LAPANGAN
GEOLOGI STRUKTUR
BANTIMURUNG 22-24 FEBRUARI 2012

OLEH:
NAMA
: ARABUS JAIRI
STAMBUK
: 010 31 131
KELOMPOK : VII
KELAS
:A
GELOMBANG : I

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS VETERAN REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR

2012
1

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu
Wa Taala atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
laporan ini dengan baik, dimana laporan ini merupakan salah satu
persyaratan studi lapangan mata kuliah Geologi Struktur dan Petrologi.
Laporan ini berdasarkan hasil pengamatan selama di lapangan

yang

dilakukan di daerah Kab. Pangkep, Bantimala, Desa Tondong Tallasa.


Dalam penulisan laporan ini kami menyadari, bahwa laporan ini masihg
jauh dari kesempurnaan dan harapan kita semua, hal ini disebabkan
kemampuan kami yang terbatas. Oleh karena itu kami mengucapkan banyak
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Ir. Hasanuddin, Msi, selaku Dosen matakuliah Geologi Struktur.
2. Bapak Ir. H. Rafiuddin, MT, selaku Dosen mata kuliah Petrologi.
3. Para asisten Lab. Geologi Struktur dan Petrologi.
4. Bapak

Mantan

kepala

desa

Bantimala

yang

telah

bersedia

memberikan kami fasilitas berupa rumah pada khususnya dan


masyarakat desa Bantimala yang menyambut kami dengan sangat
ramah.
5. Kawan-kawan seperjuangan Mining Engineering 2009 Uvri Makassar.
Kami

sadar

bahwa

penulisan

laporan

ini

masih

jauh

dari

kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan
sebagai acuan untuk penulisan laporan berikutnya.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini
bermanfaat bagi kami sendiri dan bagi pembaca lainnya. Amin Ya Robbal
Alamin.
Makassar,
Februari 2012
Penyusun

-- Arabus Jairi
STB . 2010 31 131

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................

DAFTAR ISI ................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ............................................................

A.
B.
C.
D.

LATAR BELAKANG ............................................................


MAKSUD DAN TUJUAN PRAKTIKUM LAPANGAN ................
MANFAAT KEGIATAN .........................................................
LOKASI DAN KESAMPAIAN DAERAH .................................

6
6
7
7

BAB II KONDISI GEOLOGI ........................................................

II.1.........................................................................................GEOLOGI
REGIONAL ........................................................................ 9
II.2.........................................................................................GEOLOGI
LOKAL .............................................................................. 9
II.3.........................................................................................STRATIGRA
FI ..................................................................................... 11
II.4.........................................................................................STRUKTUR
GEOLOGI ..........................................................................

11

BAB III.........................................................................HASIL
KEGIATAN ..................................................................................

13

III.1 PENJELASAN UMUM TENTANG DAERAH KEGIATAN PRAKTIKUM


13
III.2 DESKRIPSI BATUAN ............................................................

13

A. BATUAN SEDIMEN ............................................................


B. BATUAN METAMORF .........................................................
C. BATUAN PENYUSUN DAERAH PENYELIDIKAN.....................

13
14
15

III.3 STRUKTUR LOKAL ...............................................................

16

III.4 BAHAN GALIAN ..................................................................

17

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN............................................

19

BAB V .........................................................................DAFTAR
PUSTAKA ..................................................................................

20

LAMPIRAN .................................................................................

21

a. Peta topografi kawasan Bantimala.............................


b. Base Camp .................................................................
c. Stasiun 1 ....................................................................
d. Stasiun 2 ....................................................................
e. Stasiun 3 ....................................................................
f. Stasiun 4 ....................................................................
g. Stasiun 5 ....................................................................
h. Stasiun 6 ....................................................................
i. Stasiun 7 ....................................................................
j. Stasiun 8 ....................................................................
k. Stasiun 9 ....................................................................
l. Stasiun 10 ..................................................................
m. Stasiun 11...................................................................
n. Stasiun 12 ..................................................................
o. Stasiun 13 ..................................................................
p. Stasiun 14 ..................................................................
q. Stasiun 15 ..................................................................
r. Stasiun 16 ..................................................................
s. Stasiun 17...................................................................
t. Stasiun 18 ..................................................................
u. Stasiun 19 ..................................................................
v. Stasiun 20 ..................................................................
w. Stasiun 21 ..................................................................
x. Stasiun 22 ..................................................................
y. Stasiun 23 ..................................................................

22
23
23
24
26
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
41
42
43
44
45
46
47
48
50
51

Tabel tabulasi data diagram kipas ...................................

53

Tabel tabulasi data diagram roset ...................................

56

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Ilmu

Geologi

merupakan

suatu

ilmu

pengetahuan

yang

mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ilmu Pertambangan,


seperti untuk kegiatan eksplorasi bahan galian dan mineral, penentuan
metode penambangan yang tepat dan perhitungan cadangan. Oleh
karena itu dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia khususnya
dalam bidang pertambangan dimana harus menguasai ilmu geologi

secara

umum,

khususnya

Geologi

Struktur

Dan

Petrologi,

maka

diadakanlah kegiatan praktikum lapangan yang dimaksud.


Sesuai

dengan

kurikulum

yang

ditetapkan,

maka

perlu

mengadakan praktek studi lapangan Geologi struktur dan Petrologi,


dimana hal ini merupakan aplikasi dari teori, praktek laboratorium yang
didapat dari kampus dan juga disebabkan oleh pertimbangan bahwa teori
dan praktek harus sejalan dan adanya keseimbangan antara teori,
praktek laboratorium, dan praktek di lapangan

I.2 Maksud dan Tujuan


Kegiatan studi lapangan Geologi Struktur Dan Petrologi ini
dimaksudkan untuk menyesuaikan teori dan praktek di lapangan
dengan keadaan geologi yang sebenarnya.
Adapun tujuan dari praktek studi lapangan ini :
1. Agar Mahasiswa dapat mengamati secara langsung keadaan
geologi regional termasuk geomorfologi, stratigrafi, struktur-struktur
geologi, baik struktur primer maupun sekunder dan keadaan
topografi suatu daerah.
2. Untuk mengetahui perubahan-perubahan struktur geologi, serta
singkapan-singkapan batuan yang ada didaerah penelitian.
3. Agar Mahasiswa dapat mengetahui cara-cara pengambilan data di
lapangan serta cara-cara pengolahan data yang dimaksud.
4. Agar Mahasiswa dapat mengetahui jenis bahan galian yang
terdapat pada daerah penelitian.
5. Agar Mahasiswa dapat mendeterminasi langsung contoh batuan
yang terdapat di lapangan.
6. Sebagai salah satu syarat kelulusan dalam mata kuliah Geologi
Struktur Dan Petrologi.
I.3 Manfaat Kegiatan

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum lapangan Geologi


Struktur dan Petrologi adalah :
1. Mahasiswa dapat melihat langsung struktur-stuktur Geologi
secara langsung dilapangan, seperti : stratigrafi (perlapisan),
perlipatan (fold), sesar (fault) dan cross bedding.
2. Mahasiswa
dapat
mengetahui
kondisi
lapangan

yang

sebenarnya baik itu medan maupun keadaan asli di lapangan.


3. Mahasiswa dapat mengetahui cara-cara pengambilan data
secara langsung seperti pengukuran slope, ploting lokasi,
pengukuran

strike

dan

dip,

merekonstruksi

lipatan,

menggunakan diagram aligment, penggunaan kompas geologi,


serta determinasi batuan.
4. Mahasiswa dapat lebih memahami struktur yang ada di
lapangan, tanpa terpaku hanya pada teori semata, sehingga
dapat melakukan pengembangan ilmu secara individual.
I.4 Lokasi Dan Kesampaian daerah
Waktu pelaksanaan kegiatan kegiatan praktek lapangan Geologi
Struktur dan Petrologi dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 24
Februari 2012. Daerah yang menjadi tempat praktek lapangan Geologi
Struktur Dan Petrologi adalah di Desa Bantimurung Kec.Tondong
Tallasa, Kab.Pangkep, Prov. Sulawesi selatan terletak di sebelah utara
kota Makassar yang dapat di tempuh dengan menggunakan roda dua
ataupun kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Base camp
bertempat di rumah mantan kepala desa Bantimala dengan Koordinat
S 04o 43 09 E 119o 50 07.
Lokasi praktek lapangan dapat di tempuh dengan waktu kurang
lebih 3 jam perjalanan dari kota Makassar ke daerah Bantimurung kab.
Pangkep dengan jarak kurang lebih 70 km, melewati kantor pusat PT.
Semen Tonasa dan beberapa tambang marmer serta tambang pasir
silika.

Jalur pengamatan hari pertama kearah timur base camp menuju


ke ujung bassi dengan melewati desa Bulu Tondong Tellue dan Salo
Elle. Hari kedua kearah barat base camp munuju cole-cole melalui
jalan tambang.

BAB II
KONDISI GEOLOGI
II. 1 Geologi Regional
Daerah Bantimala termasuk dalam lembah Pangkajene dan
Watampone yang dibatasi oleh dua baris pegunungan yang memanjang

hampir sejajar pada arah utara barat-laut dan dipisahkan oleh lembah
Walanae.
Pegunungan

yang barat menempati

hampir

setengah luas

daerah,melebar dibagian selatan (50 km) dan menyempit hampir


dibagian utara (22 km). Puncak tertingginya 1694 m, sedangkan
ketinggian rata-ratanya 1500 m. Terdapat pencerminan adanya batu
gamping, bisa dilihat dengan adanya topografi karst pada lereng
sebelah barat dan beberapa tempat dibagian timur diantara topografi
karst terdapat daerah perbukitan yang dibentuk oleh pratersier.
Pegunungan yang di timur relatif lebih sempit dan lebih rendah
dengan puncaknya rata-rata 700 m dan yang tertinggi 787 m, bagian
selatan melebar (20 km) dan lebih tinggi, tetapi keutara lebih
menyempit dan merendah dan akhirnya menunjam kebawah pada
perbatasan antara lembah Walanae dan dataran Bone. Bagian utara
pegunungan

ini

bertopografi

karst

yang

permukaannya

sebagian

kerucut, batasnya di timur laut dengan dataran Bone.


II. 2 Geologi Lokal
2.1 Geomorfologi
Dilihat dari peta topografi daerah Bantimala memiliki tiga jenis
morfologi yaitu :
1. Satuan morfologi berelief tinggi
Mempunyai ketinggian 200-400 m, diatas permukaan air laut, yang
meliputi : B. Malaka (272 m), B Como (280 m) dan B. Sampindien
(305 m).

2. Satuan morfologi berelief sedang


Mempunyai ketinggian 50-200 m diatas permukaan air laut, yang
meliputi daerah Bantimurung, Tondokura Malaka.

3. Satuan morfologi berelief rendah


Meliputi daerah Bantimurung khususnya daerah pertanian. Lereng
B. Malaka sebelah timur dari stasiun yang mempunyai kemiringan
kurang lebih 40o sedangkan kemiringan lereng dari B. Como bagian
barat kurang lebih 35o.
Sungai-sungai yeng mengalir searah dengan arah perlapisan
batuan seperti pada stasiun 4 dimana batu pasir searah dengan
aliran sungai. Induk sungai umumnya berstadia dewasa yang
dicirikan dengan adanya erosi vertikal pada bagian tengah dan
penampang berbentuk U, juga ditemukan kelokan sungai dan
dataran banjir, sedangkan cabang dari sungai tersebut erosinya
tegak, masih intensif dibandingkan dengan erosi mendatar, dimana
penampang sungainya masih terlihat berbentuk V, sehingga bisa
disebut sebagai sungai berstadia muda menjelang dewasa.
2.2 Topografi
Secara umum daerah Bantimurung dan sekitarnya seperti
cole-cole dan ujung bassi merupakan daerah perbukitan yang
berelief tinggi. Di daerah ini umumnya di jumpai variasi bentukbentuk tofografi sepeti : bukit, lembah, dan sungai. Di daerah
lembah umumnya di manfaatkan sebagai lahan pertanian dengan
memanfaatkan air sungai sebagai irigasi, seperti daerah lembah
disebelah barat dan barat laut desa Bantimurung. Di daerah ini juga
banyak di jumpai cukup banyak sungai. Daerah satuan morfologi
berelief tinggi mempunyai ketinggian rata-rata 150-290 m dari
permukaan air laut. Seperti daerah perbukitan di sebelah barat desa
Bantimurung dengan ketinggian 230-252 m dari permukaan air laut,
daerah perbukitan di timur laut desa Bantimurung menuju cole-cole
merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 153-170 m
dari permukaan air laut. Disebelah barat dan bagian selatan Ujung

10

bassi di jumpai bukit dengan ketinggian rata-rata 132-290 m dari


permukaan air laut.
II.3 Stratigraf
Formasi batuan yang ada didaerah Bantimala dapat dibagi dalam
empat satuan (dari yang tua kemuda) yaitu :
1. Komplek Malange
2. Formasi Balang baru
3. Formasi Mallawa
4. Formasi Tonasa
5. Formasi Camba
Kelompok Malange dicirikan dengan adanya batuan
merah, skiss dll. Formasi balang baru dicirikan dengan

lempung
adanya

lempung berselingan dengan batu pasir dan juga ditemukannya batu


bara. Formasi Mallawa dicirikan dengan adanya batu pasir. Formasi
Tonasa dicirikan dengan adanya batu gamping koral. Formasi Camba
dicirikan dengan adanya Breksi konglomerat, batu pasir, dan batu
gamping.

II.4 Struktur Geologi


Terbentuknya struktur geologi baik struktur perlapisan, patahan,
perlipatan maupun pergeseran, ini disebabkan karena adanya
tenaga

yang

bekerja

dari

dalam

bumi

yamg

mempunyai

kecenderungan mengubah permukaan bumi. Struktur primer sudah


jarang ditemui pada daerah ini, diakibatkan kegiatan gunung api
(vulkanisme) pada masa pleosen sehingga terbentuk struktur
beragam.
Batuan tertua di Mandala Sulawesi barat berupa komplek alas
daripada skiss dan batuan ultra basa dibagian selatan, sedangkan
skiss dan genes dibagian utara. Batuan sedimen yang menindih alas
batuan hablur yang terendapkan dalam suatu palung yang dalam

11

dan kemudian mendangkal dan akhirnya menjadi sebuah punggung


api dibawah laut sehingga mudah ditemukan batuan-batuan klastika
dengan corak yang menandakan adanya pendangkalan palung
tersebut yang berada dibawah batuan sedimen yang diendapkan.
Serpih termetamorfisme lemah meningkat selaras dibagian selatan
tertindih oleh serpih dan batu pasir yang diikuti oleh batuan sedimen
klastika dan batubara, yang didalamnya tersisip batu gamping eosen
dan batu gunung api bawah laut yang meluas pada waktu meosen.
Suatu sistem yang penting dari pada sesar lipatan yang
meyertainya kira-kira berarah utara barat laut. Sesar sungkup
mandala Sulawesi barat menyungkup batuan-batuan Paleogen dan
yang lebih tua keatas batuan-batuan meosen tengah sebagian dan
bagian keatas batuan-batuan eosen atas kebanyakan bersentuhan
antara

batuan

metamorf,

ultra

basa

dan

batuan

sedimen

mesozoikum adalah dengan persentuhan yang cukup besar.


Gerakan-gerakan
sulawesi

menyebabkan

pengkubahan

dan

orogenesa selama masa neogen diderah


sesar

menghasilkan

bongkah,

perlipatan

pembentukan

lemah,

sembul-sembul

kasar, terban-terban, pentelukkan dan lekuk-lekuk mengerupsi yang


oleh karenanya terisi oleh sedimen klastika molasa Celebes dari
sarasin dan sarasin ( 1901 ). Ketektonikan telah berlangsung terusmenerus sehingga sekarang telah menjadi kompleks

karena

meluasnya persungkupan dan persesaran.

12

BAB III
HASIL PENGAMATAN
III. 1 Penjelasan umum tentang Batuan penyusun daerah kegiatan
Praktikum
Batuan Penyusun daerah Praktikum terdiri dari :
Batuan sedimen
- Konglomerat
- Batu Lempung
- Rijang radiolaria / Chert
- Batu Lanau
- Batu Pasir Halus
- Breksi sesar
- Batu gamping
- Batubara
- Breksi Schist
- Breksi Gamping
Batuan Metamorf
- Mika Schist
- Marmer
III.2 Deskripsi Batuan
A. Batuan Sedimen
Batuan sedimen merupakan batuan yang terbentuk melalui proses
sedimentasi baik secara fisika maupun secara kimia dan organik. Pada
sebagian sedimen organik dapat terbentuk melalui proses diagenesis
langsung terhadap bahan-bahan organisme seperti pada pembentukan
batugamping

terumbu.

Proses

fisika

yang

berlangsung

selama

13

sedimentasi melalui proses perombakan batuan induk, transportasi,


perubahan-perubahan sifat fisik material rombakan, pengendapan,
kompaksi, dan untuk derajat litifikasi harus disertai dengan proses
kimiawi, yaitu proses diagenesis dan sementasi. Poses kimiawi dapat
berlangsung bersamaan dengan proses fisika dan dapat pula bekerja
secara terpisah seperti pada pembentukan mineral-mineral dari hasil
proses fisika dan dapat pula bekerja secara terpisah seperti pada
pembentukan mineral-mineral dari hasil proses atau reaksi kimia yang
menyusun batuan sedimen. Batuan sedimen yang terbentuk melalui
proses sedimentasi mempunyai suatu kenampakan yang berbeda
dengan

batuan

kenampakan

lainnya.

Bentuk

dan

pencerminan

adanya

kesan

coraknya

memberikan

pengendapan

selama

pembentukannya.Pembentukannya secara pelan dan bertahap dengan


urutan susunan yang teratur dapat memberikan suatu ciri yang khas
dengan struktur perlapisan yang bervariasi.
B. Batuan metamorf
Batuan metamorf adalah batuan beku, sedimen ataupun metamorf,
yang telah mengalami metamorfisme, yaitu perubahan fisik, dan kimia
batuan yang diakibatkan oleh temperatur dan tekanan yang tinggi.
Perubahan fisik dalam wujud batuan atau kristal, yang mana berubah
bentuk diakibatkan oleh kenaikan tekanan. Perubahan kimia terjadi
dari pengaruh kenaikan temperatur, sehingga komposisi mineralmineral akan berubah, baik dalam bentuk ubahan, raplacemen, addisi
dan lain-lain, seperti perubahan mineral-mineral ferromagnesium
menjadi klorit.
Perubahan yang terjadi dalam proses metamorfisme dapat diakibatkan
oleh kenaikan temperatur, tekanan dan aktifitas larutan kimia, melalui
proses rekristalisasi tanpa melalui fase cair. Karena apabila fase ini
telah mencapai fase cair, maka keadaan tersebut telah berubah
menjadi proses kristalisasi dalam pembentukan batuan beku.
Suatu kenampakan lapangan yang menarik pada batuan metamorf
yaitu

memperlihatkan

foliasi

dan

penjajaran

mineral-mineral

14

penyusuunnya yang berbeda dengan batuan lainnya. Foliasi yang


ditimbulkan oleh proses metamorfisme, banyak dikontrol oleh tekanan
yang kuat, sehingga terjadi perubahan bentuk mineral menjadi pipih
dan terarah membentuk bidang/lapisan foliasi. Tanpa pengamatan
seksama, maka seringkali terjadi kekeliruan terhadap penentuan foliasi
dengan struktur lapisan dan cermin sesar. Foliasi yang kuat dapat
lepas-lepas menjadi suatu bidang lembaran-lembaran batuan melalui
arah penjajaran mineral pipihnya yang berbeda dengan lapisan
sedimen.
C. Batuan Penyusun Daerah Penyelidikan
Litologi
Berdasarkan pada hasil pengamatan praktek lapangan Geologi
Struktur dan Petrologi di desa Bantimurung kecamatan tondong
tallasa dijumpai variasi litologi yaitu:
Batuan yang dijumpai pada lokasi praktek lapangan antara lain :
1. Rijang
Rijang ditemukan pada stasiun 13. Rijang terbentuk dari proses
replacement terhadap batu gamping oleh silika organik atau
anorganik. Rijang berbutir sangat halus yang umumnya berwarna
merah hati dan kadang-kadang berwarna hijau atau kehitaman,
rijang memiliki komposisi mineral silika dengan tekstur Nonklastik.
2. Breksi Sesar
Breksi sesar ini terbentuk oleh akibat adanya sesar atan
patahan.Breksi merupakan batuan sedimen klastik kasar (rudit)
yang tersusun oleh komponen-komponen dengan fragmen dan
matriks yang berbentuk tajam-tajam atau menyudut.
3. Batugamping
Batugamping ditemukan pada stasiun 15 dan 17, batugamping
terbentuk secara kimiawi, dengan tekstur nonklastik dan struktur
tidak berlapis dengan komposisi mineral adalah kalsit (CaCo 2). Batu
gampiung nonklastik merupakan koloni dari binatang laut antara
lain

Coelenterata,

moluska,

dan

protozoa,

foraminifera

dan

sebagian jenis batugamping ini sering disebut sebagai batu


gamping koral karena penyusun utamanya adalah koral yang

15

merupakan anggota dari Coelenterata, oleh sebab itu di lapangan


tidak menunjukkan perlapisan yang baik dan belum banyak
mengalami pengotoran mineral lain.
4. Konglomerat
Konglomerat ditemukan pada stasiun 10, berwarna cokelat
dan memiliki komposisi mineral sebagai berikut:
Fragmen : batuan beku (10-30 Cm)
Matriks : batu pasir
Semen : silika (SiO2)
5. Batupasir
Batupasir ditemukan pada stasiun 1, 2, 3, 4, 5 (pasir silika),
11, 15 dan 17 (pasir silika), 19 dijumpai berwarna abu-abu
kecoklatan dengan komposisi penyusunnya:
Matriks : kuarsa, plagioklas, biotit, ortoklas serta mineralmineral lainnya.
Semen : silika
Batupasir merupakan batuan sedimen yang bertekstur
klastik dan mengalami proses transportasi yang jauh dan
kemudian terendapkan di suatu tempat. Batupasir ini umumnya
dijumpai dalam bentuk perlapisan dengan batuan lain seperti
lanau dan lempung, dengan tebal antara 0,5-2 m.
6. Lanau
Batulanau yaitu batuan sedimen klastik berukuran halus
(lutit) yang mengandung mineral-mineral kuarsa, feldspar, dan
lain-lain.
7. Lempung
Lempung juga banyak ditemukan dalam bentuk perlapisan
dengan batupasir halus. Lempung ini memilliki warna abu-abu
kehitaman atau cokelat, berbutir halus dengan ukuran < 0,004
mm, yang tersusun oleh mineral-mineral lempung dan kalsit.
III.3 Struktur Lokal
3.1 Patahan

16

Pada daerah Bantimala terdapat patahan atau sesar turun yang


terjadi pada stasiun 5 oleh batuan rijang yang dicirikan dengan
adanya cermin sesar, batuan tersebut ditutupi oleh tanah sekitar 3
meter, lebar sekitar 4 meter, tinggi sekitar 3 meter,

dimana

memiliki strike dan Dip N 149o E/24o, batu rijang berasosiasi dengan
batuan konglomerat dengan panjang singkapan 3 meter lebar 2
meter tinggi 0,75 meter. Pada stasiun lain juga terdapat sesar turun
oleh breksi sesar dengan strike dan dip N 165o E dengan rake 30o
dan adanya cermin sesar yang menunjukkan terjadinya sesar
tersebut.
3.2

Lipatan
Pada

daerah

Bantimala

di

temukan

juga

lipatan

yang

membentuk antiklin asimetri yang di sebabkan oleh gaya tekan


atau tension. Lipatan ini di temukan pada stasiun 6 dengan stike/dip
N 240 E/6.pada stasiun 13b juga ditemukan suatu perlipatan yang
membentuk sinklin, antiklin,lipatan terbuka,lipatan tertutup, antiklin
simertri dan asimetri. Disini kami mengamati keadaan suatu daerah
yang mengalami struktur geologi kompleks akibat dari gaya yang
bekerja dari berbagai arah.
3.3

Kekar
Terjadinya kekar pada satu batuan didaerah aliran sungai pada
stasiun 13 yang memotong arah perlapisan, dimana kekar tersebut
terjadi pada daerah tertentu yang sudah mengalami perlipatan.
pada stasiun 13 kondisi geologinya adalah geologi kompleks,
dimana berdasarkan hasil pengamatan kami bahwa lapisan batuan
di daerah ini mendapatkan gaya dari berbagai arah, sehingga
strukturnya kompleks.

III.4 Bahan Galian


Endapan bahan galian yang dapat dijumpai selama praktikum lapangan
terdapat dalam bentuk singkapan-singkapan di sekitar daerah sungai, lahan

17

pertanian/perkebunan rakyat, lahan bekas tambang dan pada beberapa


stasiun pengamatan. Beberapa bahan galian tersebut antara lain :
a. Batugamping
Batugamping umumnya dipakai sebagai bahan dasar industri
semen.

Nilai

ekonomis

batugamping

yang

ditemukan

dapat

diperkirakan dengan penelitian yang lebih mendalam. Batugamping


tersebut banyak ditemukan disekitar wilayah barat laut bantimurung
yang dicirikan dengan kontur yang rapat pada peta topografi. Lebih
khusus lagi pada stasiun 15 dan 16.
Batugamping juga dapat berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sumber air karena terdapat mata air disekitar karst tersebut sehingga
dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar.
Batugamping merupakan bahan galian

golongan

yang

mempunyai nilai ekonomis jika ditambang dengan metode yang tepat.


Batugamping

kawasan

metamorfisme

sehingga

Bantimala
berubah

sudah

menjadi

mengalami
batuan

proses

metagamping.

Meskipun belum sepenuhnya menjadi marmer, namun sangat menarik


minat dunia industri karena sudah diminati oleh pasar sehingga layak
ditambang.
b. Batupasir silika
Batupasir silika merupakan salah satu bahan galian golongan C
dengan nilai yang ekonomis jika ditambang dengan metode yang
tepat. Pada kawasan ini, batupasir silika berasosiasi dengan batuan
atau lapisan tanah yang berada disekitar daerah tersebut, misalnya
pada stasiun 5. Pada dasarnya, batupasir silika bantimala mempunyai
cadangan sekitar 70 %.
c. Batubara
Batubara adalah barang tambang golongan A dengan nilai yang
sangat tinggi yang tentunya juga harus ditambang dengan metode
yang tepat. Batubara termasuk batuan sedimen organik karena
terbentuk dari sedimentasi dan akumulasi bahan-bahan organik
utamanya dari tumbuhan. Singkapan batubara di daerah ini ditemukan
pada stasiun 23.

18

Batubara di daerah bantimala didominasi oleh batubara dengan


peringkat yang rendah, lapisan yang tipis dan penyebaran yang
terpisah-pisah. Kesimpulannya, batubara dari kawasan ini belum layak
ditambang.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan observai lapangan yang dilakukan
selama 2 hari, serta analisa data lapangan maka penyuasun dapat
menarik kesimpulan sebagai berikut :
Daerah Bantimurung didominasi oleh batuan sedimen.
Daerah
bantimurung
dan
sekitarnya
dalam

proses

pembentukannya mengalami gaya yang cukup besar dan telah


terjadi berulang kali sehingga terbentuk struktur-struktur sekunder

seperti perlipatan, patahan dan kekar.


Daerah Bantimurung dan sekitarnya dahulu merupakan daerah laut
yang kemudian mengalami pengangkatan membentuk daratan,
kali ini dapat dilihat dari banyaknya batuan sedimen dan batu
gamping yang menyusun daerah tersebut, batuan ini merupakan
batuan sedimen yang terbentuk dilingkungan pengendapan laut.

B. Saran
Berdasarkan pelaksanaan kegiatan praktikum yang telah dilakukan
selama 2 hari di desa Bantimurung, maka penyusun dapat memberikan
saran-saran sebagai berikut :

19

Waktu

pengamatan di lapangan bisa lebih baik dan optimal.


Penjelasan terhadap proses geologi pada setiap stasiun ditambah

pelaksanaan

praktikum

lebih

baik

ditambah

agar

lagi sehingga mahasiswa bisa lebih mengerti mengenai proses


pembentukan maupun komposisi mineral dari suatu batuan.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Hasanuddin, Msi, Ir., Penuntun Praktikum Geologi Fisik, Laboratorium Geologi
Fisik Jurusan Teknik Pertambangan UVRI, Makassar, 2010
Hasanuddin, Msi, Ir., Penuntun Praktikum Geologi Struktur, Laboratorium
Geologi Struktur Jurusan Teknik Pertambangan UVRI, Makassar, 2011
Rafiuddin, Ir., MT. 2011. Penuntun Praktikum Petrologi. Universitas Veteran
Republik Indonesia, Makassar.
Munir Moch. H. Ir. MS. Dr. 1995. Geologi Dan Mineralogi Tanah. Pustaka jaya,
Jakarta.
Sukamto Rab. 1982. Geologi Lembar Pangkajene Dan Watampone Bagian
Barat, Sulawesi. Departemen pertambangan dan energi, Bandung.

20

21

PETA TOPOGRAFI
DAERAH BANTIMALA DAN SEKITARNYA
(Peta Daerah Praktikum Lapangan)

22

HASIL PENGAMATAN
Base Camp
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Cuaca

: Cerah

Jam

: 07.30

Titik koordinat: - LS

: 045007

- BT

: 1194309

- Elevasi

: 163 m DPL

Stasiun 1
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Cuaca

: Cerah

Jam

: 07.40

Titik koordinat: - S
-E

: 045030,6
: 1194313,2

- Elevasi : 164 m DPL


Vegetasi
: Semak belukar
Jenis kegiatan :
Mengukur Tinggi, Panjang dan Lebar Singkapan

23

Pada stasiun ini dijumpai struktur perlapisan batu pasir, lanau


dan lempung dengan kondisi singkapan panjang 7,1 m dan tebal
singkapan 3,5 m. Terdapat 3 perlapisan :
1. Batu lanau tebal 70 cm
2. Batu lempung tebal 73 cm
3. Batupasir tebal 30 cm
Mengukur Strike/Dip
Dip Sesar minor sebesar 25
Singkapan pada struktur perlapisan ini memiliki strike/ dip N 198
E/ 37.
Pengambilan Sampel

Lapisan Batuan Pada Stasiun 1 Dengan posisi 100 M dari camp


sebelah kiri menuju arah utara.

Stasiun 2
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Cuaca

: Cerah

Jam

: 08.10

Titik koordinat

Vegetasi

:-S

: 045027,1

-E

: 119 4316,4

- Elevasi

: 165 m DPL

: Semak belukar

24

Jenis kegiatan :
Mengukur tinggi, panjang dan lebar singkapan
Pada stasiun ini juga dijumpai struktur perlapisan dengan jenis
batuan yang sama yang di jumpai pada stasiun 1 yaitu Batu lanau,
Batu Pasir dan batu lempung, dengan panjang singkapan 46 m dan
tebal 1,90 m. Terdapat 4 perlapisan pada stasiun ini:
1. Batu Pasir dengan tebal 32 cm
2. Batu Lanau dengan tebal 43 cm
3. Batu Lempung dengan tebal 30 cm
Mengukur Strike/Dip
Singkapan pada srtuktur perlapisan ini memiliki strike/ dip N 320
E/ 11.
Pengambilan Sampel

Lapisan Batuan Pada Stasiun 2, Dengan posisi 200 M dari stasiun


1 menuju arah utara.

Stasiun 3.a
Hari

: Kamis

25

Tgl

: 23 Februari 2012

Cuaca

: Cerah

Jam

: 08.30

Titik koordinat

:-S
-E

: 045024,9
: 119 4319,8

- Elevasi : 166 m DPL


Vegetasi
: Semak belukar
Jenis kegiatan :
Mengukur tinggi, panjang dan lebar singkapan
Pada stasiun ini dijumpai struktur perlapisan dengan jenis batuan
yang berbeda yaitu Batu lanau, Batupasir, batu lempung, batu lanau,
batu lempung dan batupasir dengan panjang singkapan 21,4 m dan
tebal 3,90 m. Terdapat 6 perlapisan pada stasiun ini:
1. Batu Lanau dengan tebal 60 cm
2. Batu Lempung dengan tebal 18 cm
3. Batu lanau dengan tebal 25 cm
Mengukur Strike/Dip
Singkapan pada srtuktur perlapisan ini memiliki strike/ dip N 323
E/ 24.
Pengambilan Sampel

26

Lapisan Batuan Pada Stasiun 3, Dengan posisi 200 M dari stasiun


2 menuju arah utara.

Stasiun 3.b
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Cuaca

: Cerah

Jam

: 08.40

Titik koordinat

:-S

: 045027

-E

: 119 4317

- Elevasi

: 165 m DPL

Jenis kegiatan :
Mengukur tinggi, panjang dan lebar singkapan
Pada stasiun ini juga dijumpai struktur perlapisan dengan jenis
batuan yang sama yang di jumpai pada stasiun 1 yaitu Batu lanau,
Batupasir dan batu lempung, dengan panjang singkapan 46 m dan
tebal 180 cm. Terdapat 4 perlapisan pada stasiun ini:
1. Batu Pasir dengan tebal 60 cm
2. Batu Lempung dengan tebal 28 cm
3. Batu Lanau dengan tebal 13 cm
4. Batu lempung dengan tebal 17 cm
Mengukur Strike/Dip
Singkapan pada srtuktur perlapisan ini memiliki strike/ dip N 305
E/ 10.
Pengambilan Sampel

27

Lapisan Batuan Pada Stasiun 3, Dengan posisi 200 M dari stasiun


2 menuju arah utara.

Stasiun 4
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 09.00

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat
-E

:-S

: 045019
: 1194321,9

- Elevasi : 199 m DPL


Vegetasi
: Semak belukar
Jenis kegiatan :
Pengambilan gambar pada bekas penambangan pasir silika.

28

Stasiun 5
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 09.20

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

:-S
-E

: 045014
: 1194332

- Elevasi : 178 m dpl


Vegetasi

: Semak belukar

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur strike / Dip : N290/28E
- Mengukur struktur kekar, perlapisan dan (tebal, lebar,tinggi)
singkapan
- Pengambilan sampel
Pada stasiun ini terdapat singkapan batu pasir dan dan di
lakukan pengambilan sampel.

29

Pengukuran rake

Stasiun 6
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 09.40

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

:-S
-E

: 045011
: 1194319

- Elevasi : 199 m
: N 240 E/6
: Semak belukar

Strike / Dip
Vegetasi
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
Pada stasiun ini kami mengamati struktur Perlipatan, yaitu
Perlipatan antiklin asimetri

Singkapan pasir kuarsa dan l

30

Stasiun 7
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 10.05

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

:-S

: 045029

-E

: 1194317

Strike/Dip

- Elevasi : 115 m
: N 288 E/8

Vegetasi

: alang-alang, bambu dan pisang

Panjang Singkapan

: 44,4 m

Tinggi Singkapan : 4,02 m


Tebal Tiap lapisan
Lanau

: 60 Cm

Lempung

: 20 Cm

Lanau

: 40 Cm

Jenis kegiatan

Ploting lokasi
Mengukur struktur perlapisan
Pengambilan sampel
Pengukuran sudut penyimpangan

31

Pada stasiun ini di temukan singkapan Lempung dan lanau dan di


lakukan pengambilan sampel.

Stasiun 8
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 10.25

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat: - S

: 045030

-E

: 1194331

- Elevasi : 124 mDPL


Vegetasi
Strike / Dip

: Semak belukar
: N135E/15

Panjang singkapan : 25,3 m


Lebar Singkapan

: 190 cm

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Pengambilan sampel

32

Pada stasiun ini di temukan singkapan Batu Pasir dan Lempung karbonat

Lempung Karbonat

Batu Pasir

Stasiun 9
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 11.00

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

:-S
-E

: 045028
: 1194333

- Elevasi
: 128 mDPL
Strike / Dip
: N 149 E / 24
Rake
: 30
Vegetasi
: Semak belukar
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur struktur Cermin sesar, Rake dan Strike/dip.
- Pengambilan sampel
Pada stasiun ini di temukan singkapan konglomerat yang terdiri dari
fragmen Batuan beku, matriks pasir kasar, dan semen karbonat.

33

Struktur Cermin sesar

konglomerat

Stasiun 10
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 11.30

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

:-S
-E

Strike/Dip
Rake
Vegetasi

: 045033,6
: 1194406,3

- Elevasi : 125 mDPL


: N 165 E/25o
: 30
: Pohon jati dan alang-alang.

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur struktur cermin sesar dan Rake Pada patahan normal.
- Pengambilan sampel.
Pada stasiun ini terdapat singkapan breksi sesar yang terlatak di
pinggiran sungai.

34

Stasiun 11
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 11.50

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

:-S
-E
- Elevasi
: Rake

: 045003
: 1194408,7
: 142 mDPL
: 50

Strike / dip
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Pengambilan sampel.
Pada stasiun ini terdapat Breksi.

Rake 15 pada
konglomerat

35

Stasiun 12
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Cuaca

: Mendung

Jam

: 12.10

Titik koordinat

:-S
-E

: 045026
: 1194418

- Elevasi
: 106 mDPL
Vegetasi
: Semak belukar
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Pengambilan sampel
Pada stasiun ini di temukan singkapan batu pasir dan dilakukan
pengambilan sampel.

Breksi Schist

Schist Klorit

Stasiun 13
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 12.35

Cuaca

: Mendung

Titik koordinat

:-S
-E

Vegetasi

: 045023,7
: 1194421,3

- Elevasi : 140 mDPL


: Semak belukar

36

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur arah kekar, Pengamatan sinklin antiklin, lipatan terbuka,
lipatan tertutup, lipatan simetri dan Asimetri
- Mengukur sudut penunjaman Antiklin
- Pengambilan sampel.
Data Strike kekar yang di ambil di lapangan :
1. N 15o E
26. N 95o E
2. N 90o E
27. N 15o E
o
3. N 45 E
28. N 15o E
4. N 20o E
26. N 35o E
o
5. N 210 E
26. N 20o E
6. N 110o E
26. N 10o E
o
7. N 350 E
26. N 183o E
8. N 160o E
26. N 40o E
o
9. N 160 E
26. N 130o E
10.
N 65o E
26. N 60o E
o
11.
N 175 E
26. N 70o E
12.
N 300o E
26. N 140o E
o
13.
N 30 E
26. N 120o E
14.
N 220o E
26. N 230o E
o
15.
N5 E
26. N 240o E
16.
N 40o E
26. N 135o E
o
17.
N 10 E
26. N 50o E
18.
N 220o E
26. N 335o E
o
19.
N 245 E
26. N 275o E
20.
N 25o E
26. N 15o E
o
21.
N 350 E
26. N 205o E
22.
N 210o E
26. N 220o E
o
23.
N 180 E
26. N 100o E
24.
N 210o E
26. N 280o E
o
25.
N 80 E
26. N 110o E
STRUKTUR GEOLOGI KOMPLEKS AKIBAT BANYAKNYA GAYA YANG BEKERJA

37

Stasiun 14
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 14.10

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

: -S
-E

: 045018
: 1194419

- Elevasi : 178 m dpl


Vegetasi

: Hutan dan Semak belukar

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur slope : 6o
- Pengambilan sampel

38

Stasiun 15
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 14.30

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

: -S
-E

: 045018
: 1194430

- Elevasi : 188 m dpl


Vegetasi

: Hutan dan Semak belukar

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Pengambilan dokumentasi
- Pengambilan sampel

39

Stasiun 16
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 15.20

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

: -S
-E

: 045017
: 1194438

- Elevasi : 196 m dpl


Vegetasi

: Hutan dan Semak belukar

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Pengambilan dokumentasi
- Pengambilan sampel

40

Stasiun 17
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 15.20

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

: -S
-E

: 045017
: 1194438

- Elevasi : 196 m dpl


Vegetasi

: Hutan dan Semak belukar

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Pengambilan dokumentasi
- Pengambilan sampel

41

Stasiun 18
Hari

: Kamis

Tgl

: 23 Februari 2012

Jam

: 15.50

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

: -S
-E

: 045018
: 1194428

- Elevasi : 201 m dpl


Vegetasi

: Hutan dan Semak belukar

Jenis kegiatan
-

Ploting lokasi
Pengambilan dokumentasi
Pengambilan sampel
Pengukuran dan rekonstruksi lipatan
a. N 84o E/65o W, panjang 2 m

42

b. N
c. N
d. N
e. N
f. N
g. N
h. N
i. N
j. N
k. N
l. N
m. N
n. N
o. N
p. N

120o E/60o W, panjang 27 m


290o E/34o E, panjang 25,5 m
90o E/25o W, panjang 18,3 m
290o E/31o E, panjang 68 m
100o E/26o W, panjang 1 m
120o E/20o E, panjang 1,7 m
295o E/25o W, panjang 2 m
85o E/56o E, panjang 50 cm
272o E/23o W, panjang 5,6 m
265o E/40o W, panjang 13,4 m
110o E/22o W, panjang 9,4 m
175o E/35o E, panjang 19 m
305o E/39o W, panjang 8,9 m
110o E/40o E, panjang 5 m
237o E/31o W, panjang 34,8 m

Stasiun 19
Hari

: Jumat

Tgl

: 24 Febuari 2012

Cuaca

: Cerah

Jam

: 08.40

Titik koordinat : - S
-E

: 045021
: 1194305

- Elevasi : 199 m
Vegetasi
: Area persawahan
Tebal tiap lapisan Batu 1
Lapisan atas 33 cm
Lapisan bawah 61 cm
Panjang singkapan 25 m
Tebal Tiap lapisan Batu 2
Lapisan atas 50 cm
Lapisan Bawah 65 cm
Panjang singkapan 35 m
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur strike/dip.
- Mengukur Tebal tiap lapisan dari batuan sedimen, slope, dan panjang
lapisan.
- Pengambilan sampel

43

Pada stasiun ini di temukan singkapan Batuan sedimen campuran antara


batu pasir dan batugamping.

Stasiun 20
Hari

: Jumat

Tgl

: 24 Febuari 2012

Jam

: 09.00

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat

:-S
-E

Vegetasi

: 045017,3
: 1194353,8

- Elevasi : 125 mDPL


: Area persawahan

Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Pengambilan sampel

44

Pada stasiun ini di temukan singkapan Batu gamping yang muncul ke


permukaan akibat adanya gaya endogen dari dalam bumi.

Stasiun 21
Hari

: Jumat

Tgl

: 24 Febuari 2012

Jam

: 09.15

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat : - S
-E

: 045015,7
: 1194258

- Elevasi : 199 m
Jenis perlapisan batuan
Batu bara 80 cm
Batu lempung 4,3 m
Tebal singkapan 4 m
Panjang singkapan 7,10 m
Vegetasi
: Area persawahan
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur Tebal tiap lapisan dari batuan sedimen, dan panjang lapisan.
- Pengambilan sampel

45

Pada stasiun ini di temukan perlapisan batu bara di mana kadar dari
batu bara ini masih tergolong batu bara muda

sehingga belum layak

untuk di tambang.

Stasiun 22
Hari

: Jumat

Tgl

: 24 Febuari 2012

Jam

: 09.30

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat : - S
-E

: 04518,3
: 1194239,6

- Elevasi :186 m
Vegetasi
: Hutan dan semak belukar
Jenis perlapisan batuan
Batu Pasir 24 cm
Batu lempung 24 cm
Batu lanau 20 cm
Batu lempung 4 cm
Batu lanau 6 cm
Batu lempung 3 cm
Batu pasir 24 cm
Batu lempung 42 cm
Batu lanau 32 cm

46

Tebal singkapan 5 m
Panjang singkapan 14,30 m
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
-

Pengambilan Sampel tiap lapisan


Pengukuran Panjang, tinggi dan tebal tiap lapisan.

Pada stasiun ini terdapat perlapisan Batuan.

Stasiun 23
Hari

: Jumat

Tgl

: 24 Febuari 2012

Cuaca

: Cerah

Jam

: 10.00

Titik koordinat : - S
-E

: 045011,2
: 1194238,6

47

- Elevasi : 178 m
Vegetasi

: Alang alang

Strike / dip

: N166 / 15E

Jenis

perlapisan batuan
Batu lanau 6 m
Batu pasir 65 cm
Batu lanau 105 cm
Batu lempung 5 m

Panjang singkapan 22 m
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur Tebal tiap lapisan dari batuan sedimen, dan panjang lapisan.
- Pengambilan sampel tiap lapisan
Pada stasiun ini di temukan perlapisan batuan

Stasiun 24
Hari

: Jumat

Tgl

: 22 Febuari 2012

Jam

: 10.20

Cuaca

: Cerah

Titik koordinat : - LS
- BT

: 045015,4
: 1194223,31

48

Vegetasi

: Alang alang

Strike / dip

: N129 / 10E

Jenis

perlapisan batuan
Batu pasir sedang 1,5 m
Batu bara 1,5 m
Batu pasir halus 20 cm
Batu pasir sedang 10 cm
Batu pasir sangat kasar 25 cm
Batu pasir sedang 1 m
Batu lempung 0,5 m

Panjang singkapan 22 m
Jenis kegiatan
- Ploting lokasi
- Mengukur Tebal tiap lapisan dari batuan sedimen, dan panjang lapisan.
- Pengambilan sampel tiap lapisan

Pada stasiun ini di temukan perlapisan batuan

49

Tabulasi data diagram kipas


Arah ( o )
o

N ..... E
0-5
5-10
10-15
15-20
20-25
25-30
30-35
35-40
40-45
45-50
50-55
55-60
60-65
65-70
70-75
75-80
80-85
85-90
90-95
95-100
100-105
105-110
110-115
115-120
120-125
125-130
130-135
135-140
140-145
145-150
150-155
155-160
160-165
165-170
170-175
175-180

N .....o E
180-185
185-190
190-195
195-200
200-205
205-210
210-215
215-220
220-225
225-230
230-235
235-240
240-245
245-250
250-255
255-260
260-265
265-270
270-275
275-280
280-285
285-290
290-295
295-300
300-305
305-310
310-315
315-320
320-325
325-330
330-335
335-340
340-345
345-350
350-355
355-360

Notasi

Jumlah

Persentasi

I
II
IIII
II
I
I
I
II
I
I

1
2
4
2
1
1
1
2
1
1

3,7
7,4
14,8
7,4
3.7
3.7
3,7
7,4
3,7
3,7

I
I
I

1
1
1

3,7
3,7
3,7

3,7

I
I
I

1
1
1

3,7
3,7
3,7

3,7

3,7

50

Tabulasi data diagram kipas


Arah ( o )

Notasi

Jumlah

0-5
5-10
10-15
15-20
20-25
25-30
30-35
35-40
40-45
45-50
50-55
55-60
60-65
65-70
70-75
75-80
80-85
85-90
90-95
95-100
100-105
105-110
110-115
115-120
120-125
125-130
130-135
135-140
140-145
145-150
150-155
155-160
160-165
165-170
170-175
175-180

I
II
IIII
II
I
I
I
II
I
I

1
2
4
2
1
1
1
2
1
1

2
4
8
4
2
2
2
4
2
2

I
I
I

1
1
1

2
2
2

I
I
I

1
1
1

2
2
2

II

I
I
I

1
1
1

2
2
2

II

I
II

1
2

2
4

Arah ( o )
180185
185190
190195
195200
200205
205210
210215
215220
220225
225230
230235
235240
240245
245250
250255
255260
260265
265270
270275

Notasi

Jumlah
1

%
2

1
2

2
4

I
II

III

1
1

2
2

I
I

51

275280
280285
285290
290295
295300
300305
305310
310315
315320
320325
325330
330335
335340
340345
345350
350355
355360

52

53

CATATAN

54

........................................................
.............................

55