Anda di halaman 1dari 4

Professional Judgment

Judgment dan professional judgment merupakan bagian penting dari critical thinking
dalam praktik audit. Professional judgment dapat dan harus diterapkan dalam semua proses
audit Yang paling menonjol adalah dalam menilai standar akuntansi yaug diterapkan oleh
perusahaan yang laporan keuangannya diaudit oleh auditor independen dan dalam
menerapkan standar profesi akuntan publik. Jadi, professional judgment sangat erat
hubungannya dengan penerapan standar akuntansi (oleh manajemen perusahaan) serta
evaluasi dan pelaporan men penerapan standar akuntansi (oleh auditor).
Bagaimana professional judgment ditetapkan bergantung pada bentuk dan sifat
standarnya. Ada dua bentuk ekstrem, yakni standar yang berbasis aturan (rules-based
standards) dan standart yang berbasis prinsip principles only based standards).
Judgment dan Professional Judgment
Istilah dan professional judgment akan digunakan secara bergantian dalam arti yang
sama. CPAB merekomendasikan penggunaan istilah professional judgment dalam konteks
auditing, bukan sekadar istilah judgment. CPAB memberikan alasan untuk rekomendasinya
dengan merujuk pada ISA 200 ISA 200 (overall Objective of the Independent Aud andthe
Conduct of Audt n an Accordance with International standards on Auditing) menjelaskan
makna professional judgment sebagai berikut:
1. Penerapan pengetahuan dan pengalaman yang relevan
2. Dalam kontek auditing, akuntansi dan standart etika
3. Untuk mencapai keputusan yang tepat dalam situasi atau keadaan selama
berlangsungnya penugasan audit
4. Kualitas pribadi yang berarti bahwa judgment berbeda diantara yang
berpengalaman. (tetapi pelatihan dan pengalaman dimaksudkan untuk mendorong
konsistensi dalam judgment)
Penerapan profesional judgment dalam kasus apapun menurut exporse raft tersebut
harus dipandang reasonable (layak dapat diterima) jika auditor lain berpengalaman menerima
bahwa kesimpulan itu memang demikian adanya. Menarik Sekali, expose draft itu tidak
menyebut-nyebut kebutuhan akan due care, integrity, dan objektivity, dalam membuat
profesional judgmment.
Berbeda dengan ciri-ciri profesional judgment yang memberi pendapatatau membuat
keputusan yang tidak didasarkan atas pengetahuan atau pengalan, mungkin tidak dalam
konteks standart apapun, dan mungkin tidak samapai padakeputusan yang tepat dalam situasi
yang dihadapi. Pendapat itu mungkin dibut tanpa due care, integrity, dan objektivity. Dengan
perkataan lain orang dapat mempunyai judgment yang sama sekli tidak bertalian dengan
unsur-unsur profesional. Istilah tersebut
Professional Judgment dalam semua Jenis Standar
Sarbanes-Oxley Act of 2002 dimaksudkan antara lain, untuk keuangan melalui
peningkatan checks and balances untuk merebut kepercayaan investor. Principles only
standart akan mengalami penegakannya karena standart-standart ini memberi menerapkan
professional judgment oleh pembuat laporan keuangan dan auditor. Sebaliknya, rules-based
standards merupakan sarana untuk menyimpang dari maksud atau intensi dari standar
tersebut. Sebagai hasil kajian, staf SEC merekomendasikan proses penetapan standar
(standard setting process) yang lebih konsisten dengan principles based atau objecties

oriented basic (standar yang berbasis pada tujuan). Standar semacam ini mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :
1. Didasarkan pada kerangka konseptual (conceptual framework) yang disempurnakan
dan diterapkan secara konsisten
2. Mencantumkan dengan jelas tujuan akuntansi (accounting objective) dari standar itu.
3. Memberikan perincian dan kerangka yang cukup sehingga standar itu dapat
dilaksanakan (menjadi operasional) dan diterapkan secara konsisten.
4. Menekan sedapat mungkin penyimpangan (exceptions) terhadap standar.
5. Menghindari penggunaan uji persentase (percentage tests) yang menunjukkan
ambang batas aman (bright lines"), Uji persentase ini memungkinkan rekayasa
keuangan (financial engineering) untuk mencapai kepatuhan teknis (technical
compliance), namun sesungguhnya bertentangan dengan tujuan standar itu.
Sarbanes-oxiey Act mensyaratkan perubahan dalam berbagai aspek pelaporan
keuangan perusahaan. Beberapa perubahan penting yang sedang diimplementasikan dan
kajian yang sedang dilaksanakan:
1. Keharusan bagi para CEO dan CFO menandatangani surat pernyataan (certification of
information)
2. Pemberdayaan komite audit untuk menugaskan dan menyetujui jasa-jasa yang
diberikan independent auditors.
3. Sandar mengenai independensi (independence standard) yang lebih ketat bagi
Auditor
4. Pengawasan yang lebih besar terhadap auditor melalui pembentukan Public Company
Accounting Oversight Board (PCAOB)
5. Kajian mengenai apakah investment banks memainkan peranan dalam manipulasi
angka laba oleh beberapa perusahaan publik
6. Kebebasan yang lebih besar bagi lembaga yang menetapkan standar akuntansi
Sebagai tambahan, Sarbanes-Oxley Act juga memberikan mandat kepada Securities
untuk melaksanakan kajian ini yang mengadopsi and Exchange Commission principlesbased standard setting process dalam sistem pelaporan keuangan di Amerika Serikat.
Jenis Standar dan Penerapan Professional Judgment
Principles-based accounting standard yang optimal meliputi pernyataan singka
mengenai substantive accounting principle (prinsip akuntansi yang substansif dalam standar
itu), di mana accounting objective tercantum sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
standar itu, walaupun ada perkecualian, penyimpangan, atau intern inconsistencies, hal-hal ini
sangat dibatasi dan harus dicantumkan dengan tegas dalam standar itu. Standar ini harus
memberikan petunjuk pelaksanaan (implementation guidance) yang cukup sesuai dengan
jenis dan sifat transaksi atau peristiwa, dan tidak memuat bright-line tests. Akhirnya, standar
ini harus konsisten dengan dan diturunkan dari kerangka konseptual (conceptual framework)
pelaporan keuangan yang koheren.
Untuk membedakan principles-based approach dalam standard setting yang
diusulkan SEC ini dari pendekatan lainnya, staf SEC menamakannya objectiv standard
setting. Standard yang ditetapkan dengan cara ini (cara SEC) berorientasi pada tujuan
(objectives oriented) dalam beberapa hal:
1. Dalam menerapkan standar ini, pembuat laporan keuangan (dan auditor) harus fokus
pada: Apakah keputusan akuntansi (dan atestasi) memenuhi accounting objective
yang ditetapkan standar itu? Hal ini akan menekan sekecil-kecilnya peluang bagi

rekayasa keuangan (financial engineering) yang dirancang untuk melanggar maksud


standar yang bersangkutan.
2. Setiap standar dibuat sesuai dengan tujuan kerangka konseptual yang merupakan
"payung" yang koheren yang dimraksudkan untuk memadukan sistem akuntansi
secara keseluruhan.
3. Pendekatan ini menolak penyimpangan dan perkecualian karena sifatnya yang
bertentangan dengan pemenuhan principled objective, menciptakan interna
inconsistencies, dan, sebagai akibatnya, mendorong kebutuhan akan petunjuk yang
lebih terperinci.
4. Pendekatan ini juga menolak bright-line tests yang sering kali merupakan hal dari
penyimpangan dan perkecualian. Pada dasarnya ini bertentangan dengan principled
objective apa pun, karena pergeseran kecil sekalipun dalam bentuk atau struktur suatu
transaksi dapat menyebabkan pergeseran yang sangat besar dalam akuntansi untuk
suatu transaksi yang sifat ekonomisnya serupa.
5. Objectives oriented standards dengan jelas mengartikulasikan jenis transaksi terhadap
situasi yang diterapkan dan mengandung petunjuk yang cukup terperinci untuk
membantu pembuat laporan keuangan dan auditor menentukan akuntansi yang tepat
untuk transaksi tersebut.
Objectives oriented standards berbeda dari rules-based accounting standards yang
ditandai dengan bright-line tests, berbagai pengecualian (multiple exceptions), rincian yang
banyak, dan internal inconsistencies. Visi dari suatu rules-based approach adalah memberi
accounting treatment yang tepat untuk segala macam skenario. Harapannya adalah jika kita
dapat memberi jawaban mengenai perlakuan akuntansi dalam segala situasi, maka standar itu
mudah diterapkan dan, secara teoretis, kebutuhan untuk professional judgment dapat
diminimalkan.
Namun, ironisnya, penggunaan judgment secara signifikan masih diperlukan dalam
lingkungan standar yang berbasis aturan (rules-based environment). Fokus dari judgment
tersebut bukannya untuk menangkap substansi ekonomi (economic substan) dari transaksi
atau peristiwa, melainkan pada penentuan accounting treatment dengan petunjuk-petunjuk
yang saling berbenturan, yang dapat diterapkan (applicable).
Di pihak lain, objectives-oriented standards atau principles-based standards
mewajibkan manajemen bertanggung jawab untuk mencerminkan substansi ekonomi secara
abstrak, tetapi didefinisikan secara sangat spesifi dan dipagari oleh tujuan yang built in di
dalam standar bersangkutan. Pada gilirannya, auditor bertanggung jawab untuk melaporkan
apakah manajemen memenuhi tanggung jawabnya.
Oleh karenanya, objectives oriented standards menekankan tanggung jawab yang
lebih besar kepada manajemen dan auditor, dibandingkan rules-based standards maupun
principles only standards.
Jika dikonstruksikan secara tepat objectives-oriented standards memerlukan lebih
sedikit professional judgment dibandingkan rules-based standards maupun principles only
standards, dan oleh karena itu, objectives-oriented standards akan memfasilitasi dengan lebih
baik upaya-upaya untuk menegakkan standar.
Para Penjaga Gawang
Kajian SEC tersebut juga membahas penegakan hukum dalam rezim yang
berdasarkan asas tujuan (objectives-oriented regime). Dalam objectives oriented regime ada
insentif bagi perusahaan untuk"menyampaikan cerita bagus" dengan cara yang transparan.
Bagaimana dengan perusahaan yang mengarang ngarang cerita bagus, tetapi yang

bertentanngan dengan keadaan sebenarnya? Bagaimana mencegah hal ini dalam objectives
oriented regime.
Dalam kenyataannya, ada dua penjaga gawang utama. Penjaga gawang pertama
adalah independent auditor dan audit committee di perusahaan. Reformasi yang didorong
oleh Sarbanes oxley Act mewajibkan perubahan perilaku auditor dan kegigihan yang lebih
kuat dari audit committee. Bahkan, SEC tidak segan-segan meminta pertanggungjawaban
auditor kalau ia gagal dalam perannya sebagai penjaga gawang. Aturan-aturan dalam
Sarbanes-orey Act mengenai pemberdayaan peran audit committee dan audiet independence,
dan pembuatan aturan serupa oleh SEC merupakan komponen penting untuk membuat
oijectives oriented standards menjadi efektif.
Penjaga gawang kedua adalah lembaga penegak hukum (enforcement bod Principles
based regime) di Inggris tidak sukses sampai adanya mekanisme penegakan hukum yang
efektif. Riset membuktikan bahwa penegakan hukum yang kuat yang dibarengi dengan
fleksibilitas pelaporan (dengan objectives oriented standards) dapat bermanfaat bagi investor.
Kalau pembuat laporan keuangan atau auditornya diragukan oleh SEC dan terkena investigasi
(enforcement investigation) dalam objetives oriented regime, mereka pada akhirnya harus
membuktikan apakah judgments mereka didukung dengan fakta dan keadaan pada saat itu.
Pembuat laporan keuangan atau auditor yang hati-hati (prudent) bukan sekadar
membuat judgments yang tepat dalam menerapkan standar sesuai fakta dan keadaan tetapi
mereka juga wajib mendokumentasikan (sesuai dengan keadaan pada saat itu fakta dan
keadaan yang pilihan perlakuan akuntansi (alternative accountins treatments) yang
dipertimbangkan, mana yang dipilih, apa alasan bagi pemilihan alternatif tersebut, dan
penolakan terhadap alternatif tersebut. Dan penolakan terhadap alternatif lainnya.
Selanjutnya, sebagaimana diisyaratkan SEC, auditor wajib mengomunikasikan dengan audit
committee penerapan dari GAAP yang dibahas dengan manajemen.
Dengan mekanisme penegakan hukum yang kuat agar objectives oriented regimt
berfungsi dengan baik, hal utama bagi pembuat laporan dan auditornya ada kemampuan
membuktikan bahwa mereka telah membuat judgment secara wajar dan dengan itikad baik
reasonable good faith dan dengan cara yang sama literatur terkait yang sesuai dengan
transaksi dan peristiwa yang dihadapi yang berpengaruh terhadap posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas perusahaan.
Tidak dapat dipungkiri, dalam lingkungan di mana pembuat laporan dan dasar
evaluasi kewajaran akuntansi perushaan bisa saja dibuat atas dasar hindsight, peristiwanya
sudah terjadi, bisa saja terjadi informasi yang lebih banyak penilaiannya dilakukan sekarang
dibandingkan informasi ketika peristiwa itu tetjadi.
Pertanyaan :
1. Seperti apa contoh, bentuk dan ktakter dari profesional judgment?
2. Standar nanti dikembangkan untuk dijadikan acuan dalam fungsi auditing haruslah
diposisikan sebagai standar, dan bukan sesuatu ukuran kebenaran mutlak. Tetapi
kenapa Setiap standar dibuat sesuai dengan tujuan kerangka konseptual yang
merupakan "payung". Apa maksud dari pernyataan tersebut?