Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah

Sering kita bertanya-tanya bagaimana bentuk akuntansi di Indonesia? Kalau kita


melihat realitas didalam praktik ekonomi akuntansi masyarakat kita, hampir seluruh
kegiatan akuntansi Indonesia merupakan hasil adaptasi dari negara barat.
Akuntansi konvensional (Barat) di Indonesia bahkan telah diadaptasi tanpa
perubahan berarti. Hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan, standar, dan praktik
akuntansi di lingkungan bisnis. Kurikulum, materi dan teori yang diajarkan di
Indonesia adalah akuntansi pro Barat. Semua standar akuntansi berinduk pada
landasan teoritis dan teknologi akuntansi IASC (International Accounting Standards
Committee). Indonesia bahkan terang-terangan menyadur Framework for the
Preparation and Presentation of Financial Statements IASC, dengan judul Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dalam Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) yang dikeluarkan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).
Berdasarkan yang kita lihat, semua aktivitas dan sistem akuntansi juga diarahkan
untuk memakai sistem akuntansi Barat. Konsekuensinya akuntansi sekarang
menjadi menara gading dan sulit sekali menyelesaikan masalah lokalitas. Akuntansi
hanya mengakomodasi kepentingan market (pasar modal) dan tidak dapat
menyelesaikan masalah akuntansi untuk UMKM yang mendominasi perekonomian
Indonesia lebih dari 90%. Hal ini sebenarnya telah menegasikan sifat dasar
lokalitas masyarakat Indonesia.[1]
Padahal bila kita lihat lebih jauh, akuntansi secara sosiologis saat ini telah
mengalami perubahan besar. Akuntansi tidak hanya dipandang sebagai bagian dari
pencatatan dan pelaporan keuangan perusahaan. Akuntansi telah dipahami sebagai
sesuatu yang tidak bebas nilai (value laden), tetapi dipengaruhi nilai-nilai yang
melingkupinya. Bahkan akuntansi tidak hanya dipengaruhi, tetapi juga
mempengaruhi lingkungannya.
Ketika akuntansi tidak bebas nilai, tetapi sarat nilai, otomatis akuntansi
konvensional yang saat ini masih didominasi oleh sudut pandang Barat, maka
karakter akuntansi pasti kapitalistik, sekuler, egois, anti-altruistik. Ketika akuntansi
memiliki kepentingan ekonomi-politik MNCs (Multi National Company's) untuk
program neoliberalisme ekonomi, maka akuntansi yang diajarkan dan dipraktikkan
tanpa proses penyaringan, jelas berorientasi pada kepentingan neoliberalisme
ekonomi pula.
Pertanyaan lebih lanjut adalah, apakah memang kita tidak memiliki sistem
akuntansi sesuai realitas kita? Apakah masyarakat Indonesia tidak dapat
mengakomodasi akuntansi dengan tetap melakukan penyesuaian sesuai realitas
masyarakat Indonesia? Lebih jauh lagi sesuai realitas masyarakat Indonesia yang
religius? Religiusitas Indonesia yang didominasi 85% masyarakat Muslim?

Ternyata dalam islam, bukan hanya ilmu agama saja yang dibicarakan, tetapi
ekonomi, politik, social budaya, bahkan ilmu akuntansi juga dibicarakan dalam
literature al-quran dan as-sunnah. Selama ini sebagaimana dipahami banyak
kalangan, hanyalah kumpulan norma dan syariah yang lebih menekankan pada
persoalan moralitas. Dan karenanya prinsip-prinsip kehidupan praktis yang
mengatur tata kehidupan modern dalam bertransaksi yang diatur dalam akuntansi,
tidak masuk dalam cakupan agama. Anggapan terhadap akuntansi Islam (akuntansi
yang berdasarkan syariah Islam) wajar saja menjadi pertanyaan kita. Sama halnya
pada masa lalu orang meragukan dan mempertanyakan seperti apakah ekonomi
islam Jika kita mengkaji lebih jauh dan mendalam terhadap sumber dari ajaran
Islam Al-Quran maka kita akan menemukan ayat-ayat maupun hadits-hadits yang
membuktikan bahwa Islam juga membahas ilmu akuntansi. Agama islam diturunkan
untuk menjawab setiap persoalan manusia, baik dalam tataran makro maupun
mikro.
Ajaran agama memang harus dilaksanakan dalam segala aspek dan bidang
kehidupan. Dalam pelaksanaannya, ajaran agama harus dicari relevansinya
sehingga dapat mewarnai tata kehidupan budaya, politik, dan sosial-ekonomi umat.
Dengan demikian, agama tidak melulu berada dalam tataran normatif dan syariah
saja. Karena Islam adalah agama amal. Sehingga penafsirannya pun harus beranjak
dari normatif menuju teoritis keilmuan yang faktual. Eksistensi akuntansi dalam
Islam dapat kita lihat dari berbagai bukti sejarah maupun dari Al- Quran.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 282, dibahas masalah muamalah. Termasuk di
dalamnya kegiatan jual-beli, utang-piutang dan sewa-menyewa. Dari situ dapat kita
simpulkan bahwa dalam Islam telah ada perintah untuk melakukan sistem
pencatatan yang tekanan utamanya adalah untuk tujuan kebenaran ( truth),
kepastian ( certainty ), keterbukaan ( accountability ) dan keadilan ( fairness )
antara kedua pihak yang memiliki hubungan transaksi (muamalah).[2]
Wacana Akuntansi Islam dan Akuntansi Konvensional yang sekarang berkembang
adalah sebuah disiplin dan praktik yang dibentuk dan membentuk lingkungannya.
Oleh karena itu, jika akuntansi dilahirkan dalam lingkungan kapitalis, maka
informasi yang disampaikannya pun mengandung nilai-nilai kapitalis. Kemudian
keputusan dan tindakan ekonomi yang diambil pengguna informasi tersebut juga
mengandung nilai-nilai kapitalis. Singkatnya, informasi akuntansi yang kapitalistik
akan membentuk jaringan kuasa yang kapitalistik juga. Jaringan inilah yang
akhirnya mengikat manusia dalam samsara kapitalisme.dan nilai-nilai yang
berkembang dalam masyarakat islam dan barat terdapat perbedaan yang sangat
besar.
Dalam masyarakat Islam terdapat sistem nilai yang melandasi setiap aktivitas
masyarakat, baik pribadi maupun kolektif. Hal ini tidak ditemukan dalam kehidupan
masyarakat barat. Perbedaan dalam budaya dan sistem nilai ini menghasilkan
bentuk masyarakat, praktik, serta pola hubungan yang berbeda pula . secara umum
tujuan akuntansi syariah adalah terciptanya peradaban bisnis dengan wawasan
humanis, emansipatoris, transendental, dan teologis. Dengan akuntansi syariah,

realitas sosial yang dibangun mengandung nilai tauhid dan ketundukan kepada
hukum Allah swt.

B. Rumusan Masalah
1. Dapat menjelaskan Sejarah Akuntansi Islam?
2. Dapat Menggambarkan Prinsip Umum Akuntansi Islam?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui bagaimana Sejarah Akuntansi Islam.
2. Untuk mengetahui Gambaran Prinsip Umum Akuntansi Islam.

D. Metode penulisan
Metode yang saya gunakan adalah Metode dengan menggunakan studi
pustaka.dan internet.

E.

Sistematika Penulisan

Pertama
Kedua

BAB II

: Mencari Buku-buku yang berkaitan dengan Akuntansi Islam


: Meringkas bahan-bahan Materi sebagai referensi makalah.

AKUNTANSI ISLAM

A.

Pengertian Akuntansi

Dalam dunia usaha, dunia pendidikan, dunia perbankan, dunia bisnis dan lain jenis
usaha tentunya kita sudah tak asing lagi dengan kata akuntansi.sebagaimana
perkembanagan zaman, akuntansi juga mengalami perkembangan. Akuntansi juga
memiliki beberapa pengertian. definisi akuntansi ini yang selalu berubah mengikuti
perubahan dan perkembangan dunia bisnis.
Kata akuntansi berasal dari bahasa Inggris to account yang berarti
memperhitungkan atau mempertangung jawabkan dan kata accountancy yang
berarti hal-hal yang bersangkutan dengan sesuatu yang dikerjakan oleh akuntan
(accountant).[3]
Definisi akuntansi ini dimuat dalam accounting terminilogy bulletin sebagai
berikut :Akuntansi : seperangkat pengetahuan dan fungsi yang berkepentingan
dengan masalah pengadaan, pengabsahan, pencatatan, penggolongan dan
penyajian secara sistematik informasi yang dapt dipercaya dan berdaya guna
tentang transaksi dan peristiwa yang bersifat keuangan yang diperlukan dalam
pengelolaan dan pengoperasian suatu unit usaha dan yang diperlukan sebagai
dasar penyusunan laporan yang harus disampaikan untuk memenuhi pertanggung
jawaban keuangan dan lainya.
Defenisi akuntansi berikut ini sebagaimana dimuat di dalam statement of
accounting principles board ( 1970) mengatakan bahwa akuntansi adalah kegitan
pengadaan jasa, yang berfungsi sebagai penyedia informasi tentang unit-unit usaha
ekonomi, terutama yang bersifat keuangan unutk selanjutnya sebagai acauan
pengambilan keputusan.
Jadi dari pengertian akuntasi tersebut sebagai untuk mencapai tujuan yaitu
memyediakan informasi keuangan badan usaha yang bermanfaat untuk
pengambilan keputusan.
Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai
informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan pembuat
keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam
perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah seni dalam
mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. [4]
Secara luas, akuntansi juga dikenal sebagai "bahasa bisnis Akuntansi bertujuan
untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan
oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti
pemegang saham, kreditur, atau pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam
proses ini dikenal dengan istilah pembukuan. Akuntansi keuangan adalah suatu
cabang dari akuntansi dimana informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat,
diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan. Auditing, satu
disiplin ilmu yang terkait tapi tetap terpisah dari akuntansi, adalah suatu proses

dimana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan suatu organisasi untuk


memberikan suatu pendapat atau opini yang masuk akal tapi tak dijamin
sepenuhnya mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi
yang berterima umum.
Dengan menelaah pengertian yang umum seperti di atas, maka akuntansi islam
dapat di defenisikan sebagai proses pencatatan, penjabaran, dan kepastian data
dalam suatu usaha yang di bukukan menurut hokum syariat islam yang menjauhi
manipulasi laporannya.

B. Sejarah Akuntansi Islam

Akuntansi, menurut sejarah konvensional, disebutkan muncul di Italia pada abad ke13 yang lahir dari tangan seorang Pendeta Italia bernama Luca Pacioli yang menulis
buku Summa de Arithmatica Geometria et Propotionalita dengan memuat satu
bab mengenai Double Entry Accounting System.[5] Namun apabila kita pelajari
Sejarah Islam ditemukan bahwa setelah munculnya Islam di Semananjung Arab di
bawah pimpinan Rasulullah SAW dan terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah
yang kemudian di lanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang
akuntansi yang diterapkan untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau
perusahaan, akuntansi wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan
anggaran negara.
Rasulullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus
beberapa sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan hafazhatul
amwal (pengawas keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab suci umat Islam
menganggap masalah ini sebagai suatu masalah serius dengan diturunkannya ayat
terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat 282 yang menjelaskan fungsi-fungsi
pencatatan (kitabah) dalam bermuamalah (bertransaksi) penunjukan seorang
pencatat beserta saksinya, dasar-dasarnya, dan manfaat-manfaatnya, sepertiyang
diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum yang harus dipedomani dalam hal tersebut.
Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa ternyata Islam lebih
dahulu mengenal system akuntansi, karena Al Quran telah diturunkan pada tahun
610M, yakni 800 tahun lebih dahulu dar Luca Pacioli yang menerbitkan bukunya
pada tahun 1494M

C. Prinsip Umum Akuntansi Islam

Sebelum kita bicara lebih lanjut tentang akuntansi islam dan prinsipnya, berikut
penulis sajikan beberapa prinsip akuntansi umum ( konvensional ) yaitu:[6]
1. Entitas (kesatuan usaha)
2. Obyektifitas
3. Cost (atas dasar biaya yang sesungguhnya)
Adapun prinsip akuntansi islam yang diaplikasikan dalam operasional ekonomi
adalah sebagai berikut:
1. Cost
2. Revenue
3. Matching
4. Objective
5. Disclosure
6. Consistency
7. Materiality
8. Uniformity
9. Comparability
Dimana persamaannya bersifat aksiomatis, sedangkan perbedaannya bersifat
pokok yaitu:
Bahwa perlakuan terhadap laba dari sumber yang (dimungkinkan) haram tidak
boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampur dengan pokok modal.
Mengapa masih dimungkinkan adanya laba dari factor yang diharamkan.
Dan apa saja yang memungkinkan hal tersebut terjadi?
2. Selanjutnya tentang Cadangan Kerugian untuk antisipasi resiko yang ada. Dalam
Prinsip Akuntansi Konvensional hal tersebut sangat terinci dalam penghitungan
dengan mengesampingkan adanya kemungkinan laba. Sedangkan dalam Prinsip
Akuntansi islam sebaliknya. Sangat memperhitungkan kemungkinan laba
berdasarkan nilai tukar yang berlaku sekaligus membentuk cadangan untuk resiko.
Dalam bentuk apakah cadangan tersebut ? Berasal darimanakah sumber cadangan
resikotersebut?
3. Yang terakhir(semoga saja) tentang laba penjualan.
Di dalam Prinsip Akuntansi islam laba akan ada ketika adanya perkembangan dan
pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum terjual.
Tetapi jual beli adalah keharusan untuk menentukan laba. Laba tidak boleh dibagi
sebelumadanyatransaksi.
Sedangkan dalam Prinsip Akuntansi Konvensional dinyatakan bahwa pengakuan
laba atas dasar terjadinya transaksi dengan nilai tukar yang saat itu terjadi.
kita tidak melihat adanya perbedaan mendasar dalam hal ini. Sama-sama
mengharuskan adanya terjadi transaksi untuk pengakuan laba.
Selain dari sistem operasional yang telah dijelaskan nilai pertanggung jawaban,
keadilan dan kebenaran selalu melekat dalam sistem akuntansi islam.[7]
Ketiga nilai tersebut tentu saja sudah menjadi prinsip dasar yang operasional dalam
prinsip akuntansi islam. Apa makna yang terkandung dalam tiga prinsip tersebut?

Berikut uraian yang ketiga prinsip yang tedapat dalam surat Al-Baqarah:282. Prinsip
pertanggung jawaban, Prinsip pertanggungjawaban (accountability) merupakan
konsep yang tidak asing lagi dikalangan masyarakat muslim. Pertanggungjawaban
selalu berkaitan dengan konsep amanah. Bagi kaum muslim, persoalan amanah
merupakan hasil transaksi manusia dengan sang khalik mulai dari alam
kandungan.. manusia dibebani oleh Allah untuk menjalankan fungsi kekhalifahan di
muka bumi. Inti kekhalifahan adalah menjalankan atau menunaikan amanah.
Banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang proses pertanggungjawaban
manusia sebagai pelaku amanah Allah dimuka bumi. Implikasi dalam bisnis dan
akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam praktik bisnis harus selalu
melakukan pertanggungjawaban apa yang telah diamanatkan dan diperbuat kepada
pihak-pihak yang terkait .
Prinsip keadilan, jika ditafsirkan lebih lanjut, surat Al-Baqarah ayat 282
mengandung prinsip keadilan dalam melakukan transaksi. Prinsip keadilan ini tidak
saja merupakan nilai penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga
merupakan nilai inheren yang melekat dalam fitrah manusia. Hal ini berarti bahwa
manusia itu pada dasarnya memiliki kapasitas dan energi untukberbuat adil dalam
setiap aspek kehidupannya. Dalam konteks akuntansi, menegaskan, kata adil dalam
ayat 282 surat Al-Baqarah, secara sederhana dapat berarti bahwa setiap transaksi
yang dilakukan oleh perusahan harus dicatat dengan benar. Misalnya, bila nilai
transaksi adalah sebesar Rp 100 juta, maka akuntansi (perusahan) harus mencatat
dengan jumlah yang sama .Dengan kata lain tidak ada window dressing dalam
praktik akuntansi perusahaan.
Prinsip kebenaran, prinsip ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip
keadilan. Sebagai contoh, dalam akuntansi kita kan selalu dihadapkan pada
masalah pengakuan, pengukuran laporan. Aktivitas ini akan dapat dilakukan dengan
baik apabila dilandaskan pada nilai kebenaran, kebenaran ini kan dapat
menciptakan nilai keadilan dalam mengakui, mengukur dan melaporkan tansaksitransaksi dalam ekonomi.
Dengan demikian pengembangan akuntansi Islam, nilai-nilai kebenaran, kejujuran
dan keadilan harus diaktualisasikan dalam praktik akuntansi. Secara garis besar,
bagaimana nilai-nilai kebenaran membentuk akuntansi islam dapat diterangkan.
Akuntan muslim harus meyakini bahwa Islam sebagai way of life (Q.S. 3 :
85).Akuntan harus memiliki karakter yang baik, jujur, adil, dan dapat dipercaya
(Q.S. An-Nisa135).Akuntan bertanggung jawab melaporkan semua transaksi yang
terjadi (muamalah) dengan benar jujur serta teliti, sesuai dengan syariah Islam
(Q.S. Al-Baqarah : 7 8) . Dalam penilaian kekayaan (aset), dapat digunakan harga
pasar atau harga pokok. Keakuratan penilaiannya harus dipersaksikan pihak yang
kompeten dan independen (Al-Baqarah : 282). Standar akuntansi yang diterima
umum dapat dilaksanakan sepanjang tidak bertentangan dengan syariah Islam. 6.
Transaksi yang tidak sesuai dengan ketentuan syariah, harus dihindari, sebab setiap
aktivitas usaha harus dinilai halal-haramnya. Faktor ekonomi bukan alasan tunggal
untuk menentukan berlangsungnya kegiatan usaha.
D.

Akuntansi Dalam Pandangan Islam[8]

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya,bahwa al-quran menggambar


jenis tansaksi akuntansi islami, yaitu sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan utang-piutang (bermuamalah tidak secara tunai) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya
dengan adil. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah
mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang
berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada
hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah
(keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah
walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi
dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh)
seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya
jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu
enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu
menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.
Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih
dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu),
kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu,
maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah
apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan.
Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu
kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Albaqarah ayat 282)

Mungkin belum banyak orang yang mengetahui bahwa Akuntansi yang merupakan
cabang ilmu ekonomi yang saat ini sangat pesat perkembangannya disemua sektor
baik swasta maupun publik, ternyata konsep dasarnya telah diperkenalkan oleh Al-

Quran, jauh sebelum Lucas Pacioli yang dikenal dengan bapak akuntansi
memperkenalkan konsep akuntasi double-entry book keeping dalam salah satu
buku yang ditulisnya pada tahun 1494. Hal ini dapat dilihat berdasarkan Surat AlBaqarah ayat 282 di atas, Allah secara garis besar telah menggariskan konsep
akuntansi yang menekankan pada akuntabilitas.
Tujuan perintah dalam ayat tersebut jelas sekali untuk menjaga keadilan dan
kebenaran yang menekankan adanya pertanggung jawaban. Dengan kata lain,
Islam menganggap bahwa transaksi ekonomi (muamalah) memiliki nilai urgensi
yang sangat tinggi, sehingga adanya pencatatan dapat dijadikan sebagai alat bukti
(hitam di atas putih), menggunakan saksi (untuk transaksi yang material) sangat
diperlukan karena dikhawatirkan pihak-pihak tertentu mengingkari perjanjian yang
telah dibuat.
Untuk itulah pembukuan yang disertai penjelasan dan persaksian terhadap
semua aktivitas ekonomi keuangan harus berdasarkan surat-surat bukti berupa:
faktur, nota, bon kuitansi atau akta notaries untuk menghindari perselisihan antara
kedua belah pihak. Dan tentu saja adanya sistem pelaporan yang komprehensif
akan memantapkan manajemen karena semua transaksi dapat dikelola dengan baik
sehingga terhindar dari kebocoran-kebocoran. Menariknya lagi, penempatan ayat
tersebut sangat relevan dengan sifat akuntansi, karena ditempatkan pada surat AlBaqarah yang berarti sapi betina yang sebenarnya merupakan lambang komoditas
ekonomi.
Akuntansi (accounting) dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah al-muhasabah.
Dalam konsep Islam, akuntansi termasuk dalam masalah muamalah, yang berarti
dalam masalah muamalah pengembangannya diserahkan kepada kemampuan akal
pikiran manusia.
Pada perkembangan berikutnya, konsep-konsep praktik akuntansi Islam pada saat
ini mulai mengalami kemajuan. Bahkan di Indonesia, konsep tersebut telah teruji
pada saat krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998. Hal ini terbukti Bank
yang mengunakan konsep akuntansi syariah ternyata lebih bertahan menghadapi
krisis ekonomi, dibandingkan dengan Bank umum lainnya. Tercatat pada saat ini
banyak lembaga-lembaga keuangan Islam, seperti: Bank Syariah, perusahaan
asuransi (takafful), dana reksa syariah dan leasing syariah.
Adapun prinsip akuntansi syariah yang diperkenalkan oleh Islam secara garis
besarnya adalah sebagai berikut:[9]
q Transakasi yang menggunakan prinsip bagi hasil seperti mudharabah dan
musyarakah.
q Transaksi yang menggunakan prinsip jual beli seperti murabahah, salam dan
istishna.
q Transaksi yang menggunakan prinsip sewa, seperti ijarah
q Transaksi yang mengunakan prinsip titipan, seperti wadiah
q Transaksi yang menggunakan prinsip penjaminan, seperti rahn

Karakteristik perbedaan antara prinsip akuntansi islam dengan akuntansi


konvensional adalah akuntansi islam tidak mengenal riba dalam prakteknya, tidak
mengenal konsep time-value of money, uang sebagai alat tukar bukan sebagai
komoditi yang diperdagangkan serta menggunakan konsep bagi hasil. Hal ini
sejalan dengan konsep Islam seperti yang tercantum dalam Al-Quran (2:275-281),
dimana Allah telah menjelaskan tentang hukum riba dan akibatnya bagi orang yang
memakan riba, dan agar terhindar dari riba dianjurkan menunaikan zakat. Selain
itu dalam ayat lain, yang termaktub dalam surat Al- Baqarah ayat 283. yaitu

jika kamu dalam perjalanan, ( dan bermuamalah tidak secara tunai ), sedang
kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan
yang di pegang ( olehyang berpiutang ). Akan tetapi jika kamu mempercayai
sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya
(hutangnya ) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya. Dan janganlah
kamu para saksi menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang
menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya;
dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

dalam bermuamalah dapat dilakukan dalam perjalanan, dan hal ini menuntut
adanya pembuktian agar suatu waktu hendak penagih memiliki bukti yang cukup
atau adanya barang yang dibawa senilai barang dagangan yang ditinggalkan (borg).
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam akuntansi berdasarkan perspektif Islam
adalah dalam rangka menyajikan laporan keuangan secara benar sehingga
diperoleh informasi yang akurat sebagai dasar perhitungan zakat. Selain itu yang
tidak kalah pentingnya adalah akuntansi sebagai bukti tertulis yang dapat
dipertanggug jawabkan dikemudian hari.
Pesan ini mengisyaratkan bahwa Allah senantiasa menganjurkan untuk bertakwa
(takut kepada Allah) dalam menjalankan kegiatan apapun termasuk dalam
menjalankan pekerjaan akuntansi, dan membuktikan bahwa Allah senantiasa
memberi petunjuk dalah hal-hal yang bermanfaat bagi manusia. Terbukti pada saat
Al-Quran diturunkan, kegiatan muamalah belum sekompleks sekarang. Namun
demikian Allah telah mengajarkan untuk melakukan pencatatan (akuntansi/almuhasabah), menganjurkan adanya bukti dan kesaksian hingga lahirlah seperti
sekarang ini adanya notaris, pengacara, akuntan dan sebagainya supaya terhindar
dari masalah.

E.

Dalil Akuntansi Menurut Islam

Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba
mengkonversi bukti dan data menjadi informasi dengan cara melakukan
pengukuran atas berbagai transaksi dan akibatnya yang dikelompokkan dalam
account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya,
dan laba (Dapat dilihat dalam Al-Quran surat A-Baqarah :282, dan juga surat asysyuara ayat 181-184)

Kebenaran dan keadilan dalam mengukur (menakar) tersebut, menurut Dr. Umer
Chapra juga menyangkut pengukuran kekayaan, utang, modal pendapatan, biaya,
dan laba perusahaan, sehingga seorang Akuntan wajib mengukur kekayaan secara
benar dan adil. Agar pengukuran tersebut dilakukan dengan benar, maka perlu
adanya fungsi auditing. Dalam Islam, fungsi Auditing ini disebut tabayyun
sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Hujuraat ayat 6 yang berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu
menyesal atas perbuatanmu itu.

Kemudian, sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran, kita harus


menyempurnakan pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan dalam
Neraca, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Israa ayat 35 yang berbunyi:

dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan


neraca yang benar. Itulahyang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.

Ayat ini tentunya memrintahkan kita untuk berlaku adil dan jujur dalam setiap
transaksi yang kita lakukan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Sejarah akuntansi konvensional muncul di Italia pada abad ke-13 yang pertama kali
ditemukan oleh seorang Pendeta Italia bernama Luca Pacioli yang menulis buku
Summa de Arithmatica Geometria et Propotionalita dengan memuat satu bab
mengenai Double Entry Accounting System.
Namun dengan penelusuran dan penelitian tehadap arus akuntansi dan
aplikasinya di zaman saat pertama perkembangan islam. ditemukan bahwa setelah
munculnya Islam di Semananjung Arab di bawah pimpinan Rasulullah SAW dan
terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah yang kemudian di lanjutkan oleh para
Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan untuk
perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi wakaf, hak-hak
pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara.
Rasulullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus
beberapa sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan hafazhatul
amwal (pengawas keuangan). Bahkan di dalam kitab al-quran sendiri dapat kita
temukan dalam ayat terpanjangnya yaitu surah Al-Baqarah ayat 282 yang
membicarakan hal yang berhubungan dengan akuntansi yang menjelaskan fungsifungsi pencatatan (kitabah) dalam bermuamalah (bertransaksi) penunjukan seorang
pencatat beserta saksinya, dasar-dasarnya, dan manfaat-manfaatnya, seperti yang
diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum yang harus dipedomani dalam hal tersebut
. Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa ternyata Islam lebih
dahulu mengenal system akuntansi, karena Al Quran telah diturunkan pada tahun
610M, yakni 800 tahun jauh lebih dahulu dari Luca Pacioli yang menerbitkan
bukunya pada tahun 1494M.
Dalam akuntansi islam terdapat tiga nilai atau prinsip akuntansi yang secar umum
yaitu pertanggung jawaban, keadilan dan kebenaran yang selalu melekat dalam
sistem akuntansi islam tersebut. Ketiga nilai tersebut tentu saja sudah menjadi
prinsip dasar yang operasional dalam prinsip akuntansi islam.
. Prinsip pertanggung jawaban, Prinsip pertanggungjawaban (accountability)
merupakan konsep yang tidak asing lagi dikalangan masyarakat muslim.
Pertanggungjawaban selalu berkaitan dengan konsep amanah. Bagi kaum muslim,
persoalan amanah merupakan hasil transaksi manusia dengan sang khalik mulai
dari alam kandungan.
Implikasi dalam bisnis dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam
praktik bisnis harus selalu melakukan pertanggungjawaban apa yang telah
diamanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait .
Prinsip keadilan, jika ditafsirkan lebih lanjut, surat Al-Baqarah ayat 282
mengandung prinsip keadilan dalam melakukan transaksi. Prinsip keadilan ini tidak
saja merupakan nilai penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga
merupakan nilai inheren yang melekat dalam fitrah manusia. Hal ini berarti bahwa
manusia itu pada dasarnya memiliki kapasitas dan energi untuk berbuat adil dalam
setiap aspek kehidupannya. Dalam konteks akuntansi, menegaskan, kata adil dalam

ayat 282 surat Al-Baqarah, secara sederhana dapat berarti bahwa setiap transaksi
yang dilakukan oleh perusahan harus dicatat dengan benar.
Prinsip kebenaran, prinsip ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip
keadilan. Sebagai contoh, dalam akuntansi kita kan selalu dihadapkan pada
masalah pengakuan, pengukuran laporan. Aktivitas ini akan dapat dilakukan dengan
baik apabila dilandaskan pada nilai kebenaran, kebenaran ini dapat menciptakan
nilai keadilan dalam mengakui, mengukur dan melaporkan tansaksi-transaksi dalam
ekonomi.
Dengan demikian pengembangan akuntansi Islam, nilai-nilai kebenaran, kejujuran
dan keadilan harus diaktualisasikan dalam praktik akuntansi.

B. Saran
Melihat perkembangan ekonomi dan apalikasinya di dalam masyarakat nampaknya
masih jauh dari nilai-nilai islam. Hal ini terjadi disebabkan pengaruh ekonomi barat
yang berbau kapitalis yang telah tertanam di gaya hidup ekonmi masyarakat
khususnya para pengusaha besar. Seharusnya kita sebagai mayoritasnya adalah
beragama islam adalah wajib menerapkan sistem ekonomi yang berprinsip syariah
islam.
Ekonomi islam tidak akan pernah goyah meskipun diterjang badai krisis seperti
yang telah berlalu. Hal ini justru berbanding terbalik dengan ekonomi konvensional
barat yang hancur oleh krisis itu sendiri. Sebagai otonomi daerah, Mandailing Natal
perlu melakukan penelitian lebih jauh untuk diterapakannya system ekonomi islam
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Habib, Nazir dan Muhammad Hasanudin. 2008.Islamic Finance Keuangan Islam


Dalam Perekonomian Global. Terj. Andriyadi Ramli. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ibrahim, Warde 2009. Ensiklopedi Ekonomi dan Perbankan Syariah. Bandung: Kafa
Publish.
Ibrahim, Warde. 2009. Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan Dan Peransuransian
Syariah Di Indonesia, Edisi Revisi, Jakarta: Badan Penerbit FH UI.
Islamic Finance Keuangan Islam Dalam Perekonomian Global. Terj. Andriyadi Ramli.
Yogyakarta: Pustaka Pelajaring.
Karim,Adi Warman. 1998. Perbankan Syari,ah. Jakarta: Gramedia.
Nasution, Ahmad,SE. 1988. Akuntansi Syariah .Jakarta: Pustaka Sari (Gemala Dewi,
2005. )
Syafri, Sofian Harahap. 2005. Teori Akuntansi. Jakarta: Raja Grafindo.