Anda di halaman 1dari 19

Kewenangan Notaris Sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal

Notaris adalah bentuk wujud atau perwujudan dan merupakan personifikasi dari hukum
keadilan, kebenaran, bahkan merupakan jaminan adanya kepastian hukum bagi masyarakat.
Kedudukan seorang notaris sebagi suatu fungsionaris dalam masyarakat hingga sekarang
masih disegani. Seorang notaris biasanya dianggap sebagai seorang pejabat tempat sesorang
dapat memperoleh nasehat yang dapat diandalkan. Segala sesuatu yang ditulis serta
ditetapkan adalah benar. Ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.
[3]
Pasal 15 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut
UUJN) berbunyi :
Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan
ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki
oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal
pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya
itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat
lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang
Kewenangan pokok dari notaris berdasarkan UUJN adalah membuat akta otentik. Akta
sebagai surat bukti yang sengaja diadakan sebagai alat pembuktian, dalam zaman yang
semakin maju akan semakin penting mengingat fungsi akta sebagai dokumen tertulis yang
dapat memberikan bukti akan peristiwa hukum yang menjadi dasar dari hak atau perikatan[4]
Selain kewenangan pokok tadi, notaris juga diberikan kewenangan untuk memberikan
penyuluhan hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam suatu transaksi, khususnya
mengenai syarat-syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh seluruh pihak di dalam suatu
transaksi yang akan di notarilkan, sehingga tidak atau terhindar dari kemungkinan transaksi
tersebut dilaksanakan dengan keadaan yang batal demi hukum atau dapat dimintakan
pembatalan di depan pengadilan. Kewenangan memberikan penyuluhan hukum ini
diinterpretasikan dari Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN yang berbunyi :
Notaris berwenang pula memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan
akta

Dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas Tahun 2007 Pasal 7 Ayat (1) memberikan peranan
yang sebesar-besarnya bagi seorang notaris perihal cara pendirian sebuah perusahaan harus
dibuat secara tertulis (schriftelijk, in writing) dalam bentuk akta yakni:

Berbentuk Akta Notaris (Notariele Akte, Notarial Deed), tidak boleh berbentuk akta
dibawah tangan (underhandse akte, private instrument),

Keharusan Akta Pendirian mesti berbentuk Akta Notaris, tidak hanya berfungsi
sebagai probabilitas causa. Maksudnya Akta Notaris tersebut tidak hanya bersifat sebagai
alat bukti atas perjanjian pendirian perusahaan. Tetapi Akta Notaris itu berdasar Pasal 7
Ayat (1), sekaligus bersifat dan berfungsi sebagaisolemnitas causa yakni tidak dibuat
dalam Akta Notaris, akta pendirian Perseroan itu tidak memenuhi syarat, sehingga
terhadapnya tidak dapat diberikan pengesahan oleh pemerintah dalam hal ini
Menhukum & HAM[5]

Oleh UUPM, profesi notaris telah ditunjuk sebagai salah satu profesi penunjang pasar modal.
Tanggung jawab utama profesi penunjuang pasar modal pada umumnya adalah membantu
emiten dalam proses go public dan memenuhi persyaratan mengenai keterbukaan
(disclousure) yang sifatnya terus menerus[6]. Setiap Profesi Penunjang Pasar Modal termasuk
notaris wajib menaati kode etik dan standar profesi yang ditetapkan oleh asosiasi profesi
masing-masing sepanjang tidak bertentangan dengan UUPM dan atau peraturan
pelaksanaannya. Dalam melakukan kegiatan usaha di bidang Pasar Modal, notaris wajib
memberikan pendapat atau penilaian yang independen.
Peran notaris di bidang pasar modal diperlukan terutama dalam hubungannya dengan
penyusunan AD/ART pihak atau pelaku pasar modal seperti emiten, perusahaan publik,
perusahaan efek, dan reksa dana serta pembuatan kontrak-kontrak penting seperti reksa dana,
kontrak penjaminan emisi, dan perwaliamanatan[7]
Selain itu, jasa Notaris sebagai profesi penunjang pasar modal, dalam aktivitas pasar modal,
diperlukan pula dalam hal-hal antara lain :
1.

Membuat berita acara RUPS dan menyusun pernyataan keputusan RUPS, baik untuk
persiapan go public maupun RUPS setelah go public.

2.

Meneliti keabsahan hal-hal yang menyangkut penyelenggaraan RUPS, seperti


kesesuaian dengan anggaran dasar perusahaan, tata cara pemanggilan untuk RUPS dan
keabsahan dari pemegang saham atau kuasanya untuk menghadiri RUPS.

3.

Meneliti perubahan anggaran dasar tidak terlepas materi pasal-pasal dari anggaran
dasar yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan

diperlukan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian pasal-pasal dalam anggaran dasar


agar sejalan dan memenuhi ketentuan menurut peraturan di bidang pasar modal dalam
rangka melindungi investor dan mayarakat.[8]
Dan secara lebih detail tugas pokok Notaris di Pasar Modal menurut Iman Syahputra antara
lain :
1.

Membuat Akta Otentik, yang diharuskan peraturan perundang-undangan atau yang


dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan.

bentuk akta otentik itu, dibedakan antara:


1)

Akta yang dibuat oleh (akta relaas)

2)

Akta yang dibuat dihadapan (akta partij)

3)

Melegalisasikan tanda tangan akta dibawah tangan.

4)

Membukukan surat dibawah tangan.

5)

Melakukan penyuluhan hukum atas akta yang dibuatnya.

Notaris sebagai pejabat, berkewajiban antara lain:


1.

Bertindak jujur, mandiri, dan tidak berpihak.

2.

Membuat Minuta

3.

Mengeluarkan salinan akta

Pada transaksi di Pasar Modal, maka Notaris memiliki peran antara lain pada pengurusan:[9]
1.
1)

Penawaran Umum Saham (IPO):


Berita Acara RUPS atau Pernyataan Keputusan Rapat Perseroan Tertutup menjadi

Perseroan Terbuka).
2)

Perjanjian Penjaminan Emisi Efek.

3)

Perjanjian Pengelolaan Administrasi Saham. Dan jika akan diterbitkan Waran, maka

akan dibuatkan juga;


4)

Pernyataan Penerbitan Waran

5)

Perjanjian Pengelolaan Administrasi Waran.

Jika pada saat Penawaran Umum Terbatas (PUT):

1.

RUPS-LB (setelah PP Efektif Bapepam-LK)

2.

Perjanjian Pembelian Sisa Saham.

3.

Corporate Action (RUPS Tahunan dan RUPS LB)

Dalam Corporate Action, maka akta-akta yang dibuat adalah:


Berita Acara RUPS Tahunan Perseroan Terbatas.
Berita Acara RUPS Luar Biasa Perseroan Terbuka.
Perjanjian pembelian Sisa Saham.
1.

Penawaran Umum Obligasi Berupa penerbitan obligasi, dan akta notariil yang dibuat
Notaris adalah:

a. Perjanjian Perwaliamanatan
b. Pengakuan Hutang
c. Perjanjian Penjaminan Emisi Efek
d. Perjanjian Agen Pembayaran
1.

Kontrak Investasi Kolektif:

Membuat Akta Kontrak Investasi Kolektif (reksadana).


Selain kewenangan pokok tadi, notaris juga diberikan kewenangan untuk memberikan
penyuluhan hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam suatu transaksi, khususnya
mengenai syarat-syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh seluruh pihak di dalam suatu
transaksi yang akan di notarilkan, sehingga tidak atau terhindar dari kemungkinan transaksi
tersebut dilaksanakan dengan keadaan yang batal demi hukum atau dapat dimintakan
pembatalan di depan pengadilan. Kewenangan memberikan penyuluhan hukum ini
diinterpretasikan dari Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN yang berbunyi :
Notaris berwenang pula memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan
akta
Peran notaris di bidang pasar modal diperlukan terutama dalam hubungannya dengan
penyusunan AD/ART pihak atau pelaku pasar modal seperti emiten, perusahaan publik,
perusahaan efek serta kontrak-kontrak penting seperti Kontrak Insvestasi Kolektif (KIK),
kontrak penjaminan emisi atau akta penting seperti Akta Pembubaran Dan Likuidasi Reksa
Dana.

Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno ethos dalam bentuk tunggal yang berarti adat
kebiasaan, adat istiadat, akhlak yang baik. Sementara bentuk jamaknya ta etha artinya adat
kebiasaan.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan,
etika dirumuskan dalam 3 arti:
1)

Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral

(akhlak).
2)

Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.

3)

Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Bartens menyatakan bahwa urutan arti ketiga tersebut kurang kena, sebaiknya arti ketiga
ditempatkan di depan karena lebih mendasar dari pada arti yang pertama dan rumusannya
juga lebih dipertajam lagi menjadi:
1)

Etika dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan

bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Arti ini disebut juga
sebagai sistem nilai dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat, misalnya
etika orang jawa, orang Sunda, dan lain-lain.
2) Etika dipakai dalam arti kumpulan asas atau nilai norma yang dimaksud , disini adalah
kode etik, misal Kode Etik Notaris Indonesia.
3)

Etika dipakai dalam arti ilmu tentang yang baik atau yang buruk, arti etika disini sama

dengan filsafat moral.


Pembahasan
Allen R Dyer dalam Ethics, Advertising and the definition of legal profession (1985)
menyebutkan bahwa:Profession means to profess religious vows. Legal profession was a
profession along with the law enforcement. [10]
Dihubungakan dengan etika profesi hukum, etika dalam arti pertama dan kedua adalah
relevan, karena kedua arti tersebut berkenaan dengan prilaku seseorang atau kelompok
profesi hukum, artinya perbuatan itu melanggar nilai-nilai dan norma norma moral yang
berlaku dalam kelompok profesinya. Dihubungkan dengan yang kedua, Etika Profesi Hukum
berarti Kode Etik Profesi Hukum.

Pentingya etika profesi hukum sebagaimana dijelaskan oleh Peter MacFarlane[11] dalam The
Importance Of Ethics And The Application Of Ethical Principles To The Legal Profession.
Journal of Pacific Law Volume 6. Yaitu:
First because lawyers are integral to the working-out of the law and the Rule of Law itself is
founded on principles of justice, fairness and equity. If lawyers do not adhere and promote
these ethical principles then the law will fall into disrepute and people will resort to
alternative means of resolving conflict. The Rule of Law will fail with a rise of public
discontent.
Second, lawyers are professionals. This concept conveys the notion that issues of ethical
responsibility and duty are an inherent part of the legal profession. It has been said that a
professions most valuable asset is its collective reputation and the confidence which that
inspires. The legal profession especially must have the confidence of the community. Justice
Kirby of the Australian High Court once noted:
The challenge before the legal profession is to resolve the basic paradoxes which it faces to
re-organize itself in such a way as to provide more effective, real and affordable access to
legal advice and representation by ordinary citizens. To preserve and where necessary, to
defend the best of the old rules requiring honesty, fidelity loyalty, diligence, competence and
dispassion in the service of clients, above mere self-interest and specifically above
commercial self-advantage.
Third, because lawyers are admitted as officers of the court and therefore have an obligation
to serve the court and the administration of justice.
And finally because lawyers are a privileged class for only lawyers can, for reward, take on
the causes of others and bring them before the courts.
Etika dibedakan atas etika perangai dan etika moral. Etika moral ini berkaitan dengan
kebiasaan berprilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila etika ini dilanggar,
timbullah kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal
dari kodrat manusia yang disebut moral. Dan contoh etika moral ini misalnya, berkata dan
berbuat jujur, menghargai hak orang lain,menghormati orang tua dan guru, membela
kebenaran dan keadilan. Etika moral ini terwujud dalam bentuk kehendak manusia
berdasarkan kesadaran dan kesadaran adalah suara hati nurani.
Dalam melakukan interaksi sebagai bagian dari pejabat publik di Pasar Modal, ada etika yang
harus menjadi perhatian Notaris Pasar Modal, seperti:
a.

Aturan Tertulis,Berupa:

1)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

2)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

3)

Peraturan Pemerintah (PP Nomor 45 dan 46).

4)

Peraturan Bapepam LK.

5)

Peraturan di industri terkait.

b.

Aturan Tidak Tertulis (Norma/konvensi/business practise)

1)

Kebiasaaan-kebiasaan yang berlaku di Pasar Modal.

2)

Kebiasaan kebiasaan yang berlaku di industri terkait.

3)

Praktik bisnis yang berlaku.

Bahwa selain itu, Notaris juga wajib memperhatikan ketentuan tentang Good Corporate
Government seperti:
1)

Rambu: struktur dan Proses dalam bentuk peraturan, sistem dan prosedur , untuk

memastikan prinsip tarif bermigrasi menjadi kultur.


2)

Mengarahkan dan mengendalikan

perusahaan untuk mewujudkan pertumbuhan

berkelanjutan.
3)

Meningkatkan nilai tambahan perusahaan, sambil tetap memperhatikan kepentingan

stakeholder.
4)

Sesuai prinsip korporasi yang sehat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5)

Secara ringkas: Rambu agar Amanah, Jujur dan Adil (RAJA).

Kode Etik Notaris


Berdasarkan pasal 64 ayat 1 Undang-Undang tentang Pasar Modal, Notaris merupakan salah
satu profesi penunjang pasar modal, karena merupakan salah satu penunjang kegiatan
dibidang pasar modal, notaries wajib terlebih dahulu terdaftar di Bapepam.
Jabatan Notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud
untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang
bersifat autentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum. Notaris sebagai pejabat
umum pembuat akta-akta, kedudukan dan tanggung jawab notaries sebagai profesi penunjang

pasar modal sangat krusial jika dilihat dari adanya kewajiban pendaftaran yang merupakan
syarat dari bapepam agar notaries dimaksud dapat menjalankan kewenangannya membuat
akta-akta pasar modal. Keputusan ketua Bapepam menentukan kewajiban pendaftaran dan
memenuhi beberapa persyaratan bagi notaries dalam melakukan beberapa kegiatan di pasar
modal sehingga notaries dimaksud dapat menjadi pelaku kegiatan dipasar modal dalam
kategori sebagai profesi penunjang pasar modal. Persyaratan tersebut diatur dalam Lampiran
Keputusan Ketua Bapepam nomor Kep-37/PM/1996 tanggal 17 januari 1996tentang
pendaftaran notaries yang melakukan kegiatan di pasar modalyang isinya adalah sebagai
berikut:[12]
1. Telah diangkat oleh menteri hukum dan Ham
2.

Tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan/atau dihukum karena terbukti melakukan

tindak pidana dibidang keuangan


3.

Memiliki ahlak moral yang baik

4.

Wajib memiliki keahlian dibidang pasar modal dan persyaratan kealhlian dapt di penuhi

melalui program latihan yang diakui oleh Bapepam


5.

Surat pernyataan bahwa notaries sanggup melakukan pemeriksaan sesuai jperaturan

jabatan notaries dan kode etik profesi serta senantiasa bersikap independen dalam melakukan
kegiatannya
Adapun tujuan dari pengawasan tersebut adalah
1. Agar Notaris Pasar Modal dapat memahami seluk beluk Pasar Modal
2.

Memudahkan Pengawasan Bapepam terhadap Notaris dan kegiatan Pasar Modal;

3.

Kemudahan dalam memberikan Teguran, masukan, saran, dan sosialisasi perkembangan

di bidang Pasar Modal


Adanya pendaftaran ini memperkuat kedudukan notaris sebagai pejabat pembuat akta otentik,
sehingga akta-akta yang dibuatnya memenuhi kebutuhan transaksi dan seluruh kegiatan di
pasar modal. Tanggung jawab notaris sebagai profesi penunjang pasar modal bukan hanya
terhadap keabsahan dan keotentikan akta-akta yang dibuatnya saja tetapi juga terhadap
kebenaran Informasi yang dimuat dalam dokumen yang terkait. Tiap akta yang dibuat notaris
selalu berpegang pada asas dan prinsip yang diamanatkan oleh undang-undang jabatan
notaris dan kode etik

Dalam pasal 66 UU Pasar Modal menyatakan bahwa: Setiap Profesi Penunjang Pasar Modal
wajib menaati kode etik dan standar profesi yang ditetapkan oleh asosiasi profesi masing
masing sepanjang tidak bertentangan dengan Undang undang ini dan atau peraturan
pelaksanaannya. Kode etik notaris pasar modal merupakan peraturan tertulis dan tidak
tertulis yang melandasi tingkah laku notaris dalam melaksanakan tugas dan wewenang
notaris pasar modal.
Kode etik notaries meliputi etika kepribadian notaries, etika melaksanakan tugas dan jabatan,
etika pelayanan terhadap klien, etika hubungan sesame rekan notaries dan etika pengawasan
terhadap notaries.
Sebagai pejabat umum notaries harus taat kepada hukum, sumpah jabatan dan kode etik
notaries, menjunjung tinggi kehormatan dan martabat, dimana dalam penjelasan undangundang jabatan notaries ditegaskan bahwa notaries menertibkan diri sesuai dengan fungsi,
kewenangan dan kewajiban sebagaimana diatur dalam undang2 tersebut. Notaris harus
mempunyai integritas moral, jujur serta tidak berpihak. Dalam memberikan pelayanan kepada
kliennya notaries wajib bersikap netral dan memberikan pelayanan hukum yang sebaik2nya.
Berdasarkan Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris menyatakan bahwa :
Organisasi Notaris menetapkan dan menegakkan Kode Etik Notaris
Ketentuan tersebut diatas ditindak lanjuti dengan ketentuan Pasal 13 ayat (1) Anggaran Dasar
Ikatan Notaris Indonesia yaitu untuk menjaga kehormatan dan keluhuran martabat jabatan
Notaris, perkumpulan mempunyai Kode Etik Notaris yang ditetapkan oleh kongres dan
merupakan kaidah moral yang wajib ditaati oleh setiap anggota perkumpulan.
Etika menuntun seseorang untuk dapat membedakan yang baik dan yang buruk sehingga
selalu mengutamakan kejujuran dan kebenaran dalam menjalankan jabatannya. Kode etik
profesi juga penting sebagai sarana kontrol sosial, oleh karena itu Notaris harus senantiasa
menjalankan jabatannya menurut Kode Etik Notaris yang ditetapkan dalam kongres Ikatan
Notaris Indonesia yang telah mengatur mengenai kewajiban, dan larangan yang harus
dipatuhi oleh Notaris dalam menegakkan Kode Etik Notaris dan mematuhi undang-undang
yang mengatur tentang jabatan notaris yaitu Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004, dengan
adanya ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai kode etik perlu diketahui bagaimana

penerapan sanksi yang dijatuhkan kepada Notaris oleh Dewan Kehormatan Ikatan Notaris
Indonesia terhadap Notaris yang melakukan pelanggaran kode etik.
Dalam Bab 1 Pasal 1 mengenai Ketentuan Umum Kode Etik Notaris Ikatan Notaris
Indonesia, yaitu :
Dewan Kehormatan mempunyai kewenangan untuk memberikan saran dan pendapat kepada
Majelis Pengawas atas dugaan pelanggaran kode etik dan jabatan notaris, namun tidak secara
eksplisit dan tegas disebutkan bahwa Dewan Kehormatan dapat memberikan saran dan
pendapat untuk pemecatan terhadap notaris yang melakukan pelanggaran kode etik kepada
Majelis Pengawas, oleh karena itu hendaknya Ikatan Notaris Indonesia dapat lebih
mempertimbangkannya demi perbaikan Citra dan kualitas Notaris dan Ikatan Notaris
Indonesia sebagai satu-satunya perkumpulan yang diakui. Sebagai pengemban amanat dan
kepercayaan masyarakat, sudah selayaknya notaris mendapatkan perlindungan hukum dalam
menjalankan jabatannya termasuk pula dalam hal notaris diduga melakukan pelanggaran
kode etik harus dikedepankan asas praduga tak bersalah dan peranan yang serius dari
perkumpulan untuk memberikan perlindungan hukum.
Menurut pasal 3 Kode Etik, Notaris dan orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan
Notaris wajib:[13]
1.

Memiliki moral, akhlak serta kepribadian yang balk.

2.

Menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat jabatan Notaris.

3.

Menjaga dan membela kehormatan Perkumpulan.

4.

Bertindak jujur, mandiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggung jawab, berdasarkan

peraturan perundang-undangan dan isi sumpah jabatan Notaris.


5.

Meningkatkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki tidak terbatas pada ilmu

pengetahuan hukum dan kenotariatan.


6.

Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dan Negara;

7.

Memberikan jasa pembuatan akta dan jasa keNotarisan lainnya untuk masyarakat yang

tidak mampu tanpa memungut honorarium.

8.

Menetapkan satu kantor di tempat kedudukan dan kantor tersebut merupakan satu-

satunya kantor bagi Notaris yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas jabatan seharihari.
9.

Memasang 1 (satu) buah papan nama di depan / di lingkungan kantornya dengan pilihan

ukuran yaitu 100 cm x 40 cm, 150 cm x 60 cm atau 200 cm x 80 cm, yang memuat :
a. Nama lengkap dan gelar yang sah;
b. Tanggal dan nomor Surat Keputusan pengangkatan yang terakhir sebagai Notaris.
c. Tempat kedudukan;
d.

Alamat kantor dan nomor telepon/fax. Dasar papan nama berwarna putih dengan

huruf berwarna hitam dan tulisan di papan nama harus ielas dan mudah dibaca. Kecuali di
lingkungan kantor tersebut tidak dimungkinkan untuk pemasangan papan nama dimaksud.
10. Hadir, mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh
Perkumpulan; menghormati, mematuhi, melaksanakan setiap dan seluruh keputusan
Perkumpulan.
11. Membayar uang iuran Perkumpulan secara tertib.
12. Membayar uang duka untuk membantu ahli waris teman sejawat yang meninggal dunia.
13. Melaksanakan dan mematuhi semua ketentuan tentang honorarium ditetapkan
Perkumpulan.
14.

Menjalankan

jabatan

Notaris

terutama

dalam

pembuatan,

pembacaan

dan

penandatanganan akta dilakukan di kantornya, kecuali alasan-alasan yang sah.


15. Menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan dalam melaksanakan tugas jabatan
dan kegiatan sehari-hari serta saling memperlakukan rekan sejawat secara baik, saling
menghormati, saling menghargai, saling membantu serta selalu berusaha menjalin
komunikasi dan tali silaturahmi.
16. Memperlakukan setiap klien yang datang dengan baik, tidak membedakan status ekonomi
dan/atau status sosialnya.

17. Melakukan perbuatan-perbuatan yang secara umum disebut sebagai kewajiban untuk
ditaati dan dilaksanakan antara lain namun tidak terbatas pada ketentuan yang tercantum
dalam:
a. UU Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris;
b. Penjelasan Pasal 19 ayat (2) UU Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris;
c. Isi Sumpah Jabatan Notaris;
d.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Notaris Indonesia.

Sementara berdasarkan pasal 4 Kode Etik Notaris dan orang lain yang memangku clan
menjalankan jabatan. Notaris dilarang:[14]
1.

Mempunyai lebih dari 1 (satu) kantor, baik kantor cabang ataupun kantor perwakilan.

2.

Memasang pagan Hama dan/atau tulisan yang berbunyi Notaris/ Kantor Notaris di luar

lingkungan kantor.
3.

Melakukan publikasi atau promosi diri, baik sendiri maupun secara bersama-sama,

dengan mencantumkan nama dan jabatannya, menggunakan sarana media cetak dan/atau
elektronik, dalam bentuk
a. Iklan;
b. Ucapan selamat;
c. Ucapan belasungkawa;
d. Ucapan terima kasih;
e. Kegiatan pemasaran;
f. Kegiatan sponsor, baik dalam bidang sosial, keagamaan, maupun olahraga;
4.

Bekerja sama dengan Biro jasa/orang/Badan Hukum yang pada hakekatnya bertindak

sebagai perantara untuk mencari atau mendapatkan klien.


5.

Menandatangani akta yang proses pembuatan minutanya telah dipersiapkan oleh pihak

lain.
6.

Mengirimkan minuta kepada klien untuk ditanda tangani.

7.

Berusaha atau berupaya dengan jalan apapun, agar seseorang berpindah dari Notaris lain

kepadanya, baik upaya itu ditujukan langsung kepada klien yang bersangkutan maupun
melalui perantara orang lain.
8.

Melakukan pemaksaan kepada klien dengan cara menahan dokumen-dokumen yang telah

diserahkan dan/atau melakukan tekanan psikologis dengan maksud agar klien tersebut tetap
membuat akta padanya.
9.

Melakukan usaha-usaha, baik langsung maupun tidak langsung yang menjurus ke arah

timbulnya persaingan yang tidak sehat dengan sesama rekan Notaris.


10. Menetapkan honorarium yang harus dibayar oleh klien dalam jumlah yang lebih rendah
dari honorarium yang telah ditetapkan Perkumpulan.
11. Mempekerjakan dengan sengaja orang yang masih berstatus karyawan kantor Notaris lain
tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Notaris yang bersangkutan.
12. Menjelekkan dan/atau mempersalahkan rekan Notaris atau akta yang dibuat olehnya.
Dalam hal seorang Notaris menghadapi dan/atau menemukan suatu akta yang dibuat oleh
rekan sejawat yang ternyata didalamnya terdapat kesalahan-kesalahan yang serius dan/atau
membahayakan klien, make Notaris tersebut wajib memberitahukan kepada rekan sejawat
yang bersangkutan atas kesalahan yang dibuatnya dengan cara yang tidak bersifat menggurui,
melainkan untuk mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap klien yang
bersangkutan ataupun rekan sejawat tersebut.
13. Membentuk kelompok sesama rekan sejawat yang bersifat ekslusif dengan tujuan untuk
melayani kepentingan suatu instansi atau lembaga, apalagi menutup kemungkinan bagi
Notaris lain untuk berpartisipasi.
14. Menggunakan dan mencantumkan gelar yang tidak sesuai dengan peraturan
perundangundangan yang berlaku.
15. Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai pelanggaran
terhadap Kode Etik Notaris, antara lain namun tidak terbatas pada pelanggaran-pelanggaran
terhadap :
a.

Ketentuan-ketentuan

JabatanNotaris;

dalam

Undang-undang

Nomor

30

Tahun

2004

tentang

b. Penjelasan pasal 19 ayat (2) Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris;
c. Isi sumpah jabatan Notaris;
d. Hal-hal yang menurut ketentuan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan/atau
Keputusan-Keputusan lain yang telah ditetapkan oleh organisasi Ikatan Notaris Indonesia
tidak boleh dilakukan oleh anggota.
Ada beberapa hal yang dikecualikan yang tidak termasuk pelanggaran yaitu:[15]
1.

Memberikan ucapan selamat, ucapan berdukacita dengan mempergunakan kartu ucapan,

surat, karangan bunga ataupun media lainnya yang tidak mencantumkan Notaris, tetapi hanya
nama saja.
2.

Pemuatan nama dan alamat Notaris dalam buku panduan telepon, fax dan telex, yang

diterbitkan secara resmi oleh PT. Telkom dan/atau instansiinstansi dan/atau lembaga-lembaga
resmi lainnya.
3.

Memasang 1 (satu) tanda penujuk jalan dengan ukuran tidak melebihi 20 cm x 50 cm,

dasar berwarna putih, huruf berwarna hitam, tanpa mencantumkan nama Notaris serta
dipasang dalam radius maksimum 100 meter dari kantor Notaris.
Terhadap pelanggaran Kode Etik dapat dikenakan sanksi berupa[16]
a.

Teguran;

b.

Peringatan;

c.

Schorsing (pemecatan sementara) dari keanggotaan Perkumpulan;

d.

Onzetting (pemecatan) dari keanggotaan Perkumpulan;

e.

Pemberhentian dengan tidak hormat dari keanggotaan Perkumpulan.

Penjatuhan sanksi-sanksi sebagaimana terurai di atas terhadap anggota yang melanggar Kode
Etik disesuaikan dengan kwantitas dan kwalitas pelanggaran yang dilakukan anggota
tersebut.
Fungsi pengawasan terhadap Etika Profesi ini dilakukan oleh
a.

Tingkat pertama oleh Pengurus Daerah INI dan Dewan Kehormatan Daerah

b. Tingkat banding oleh Pengurus Wilayah INI dan Dewan Kehormatan Wilayah
c.

Tingkat terakhir oleh Pengurus Pusat INI dan Dewan Kehormatan Pusat

Seseorang yang menjabat notaries harus memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang jabatan
notaries dan berpegang pada kode etik notaries. Hubungan antara peraturan jabatan notaries
dan kode etik notaries terletak pada ketentuan kode etik notaries yang diangkat dari ketentuan
peraturan jabatan notaries dan pengenaan sanksi terhadap pelanggaran keduanya.
Baik undang-undang maupun kode etik menghendaki supaya notaries menjalankan tugas
dengan sebaik2nya.
Pengawasan terhadap hal tersebut baik berdasarkan UUPJN maupun Kode Etik Notaris
dilakukan oleh majelis pengawas tersebut.
Kode Etik Notaris meliputi:
1.

Etika kepribadian Notaris

Sebagai pejabat umum, Notaris harus:

Berjiwa Pancasila

Taat kepada hukum, sumpah jabatan, Kode Etik Notaris

Bahasa Indonesia yang baik

Sebagai profesional Notaris:

Memiliki prilaku profesional

Ikut serta pembangunan nasional di bidang hukum menjunjung tinggi kehormatan dan

martabat.
Dikatakan bahwa Notaris menertibkan diri sesuai dengan fungsi dan kewenangan, kewajiban
sebagaimana ditentukan dalam Peraturan Jabatan Notaris. Dan selanjutnya Notaris harus
memiliki prilaku profesional (profesional behavior) dengan unsur-unsur:
a.

Keahlian yang didukung oleh pengetahuan dan pengalaman tinggi

b.

Integritas moral, artinya menghindari sesuatu yang tidak baik, walaupun imbalan

jasalnya sangat tinggi, pelaksanaan tugas profesional diselaraskan dengan nilai-nilai


kemasyarakatan, sopan santun dan agama.

c.
d.

Jujur tidak saja pada pihak kedua atau pihak ketiga tetapi juga pada diri sendiri.
Tidak

semata-mata

pertimbangannya

uang,

melainkan

juga

pengabdian,

tidakmembedakan antara orang mampu dan tidak mampu.


e.

Berpegang teguh pada kode etik profesi karenadidalamnya ditentukan segala macam

perilaku yang harus dimiliki oleh Notaris, temasuk berbahasa Indinesia yang sempurna.
2.

Etika melakukan tugas dan jabatan

3.

Etika pelayanan terhadap klien

4.

Etika hubungan sesama rekan notaris

5.

Etika pengawasan terhadap Notaris.

Kesimpulan;
Berdasarkan latar berlakang dan hasil pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa Kode Etik
Notaris dan Undang-Undang Jabatan Nortaris yang mengatur seorang Notaris dalam
Kaitannya Dengan Pasar Modal di Indonesia adalah merupakan fungsi seorang notaris
sebagai profesi penunjang pasar modal yang tidak hanya bertanggung jawab terhadap isi dan
legalitas akta-akta yang dibuatnya berkaitan dengan pasar modal seperti membuat berita
acara rapat, menyusun keputusan rapat umum pemegang saham dan meneliti perubahan
anggaran dasar serta pembuatan akta penjamin efek, tetapi juga mengakomodasi kepentingan
kedua belah pihak yaitu kliennya dan pasar modal sehingga memberikan rasa aman dan
kepastian hukum dari setiap tindakan hukum yang dibuatnya. Selain itu, kerahaisaan
informasi isi akta dan para pihak harus dijaga oleh notaris dengan tidak menggunakan
jabatannya untuk menguntungkan diri sendiri, organisasi mapupun pihak lainnya.
Selain hal yang berhubungan dengan jabatannya, seyogyanya Seorang notaris yang akan
menjalankan praktek sebagai notaris di pasar modal, agar dapat menjalankan fungsi sebagai
profesi penunjang notaris selain diangkat sebagai Notaris sesuai dengan UUJN, juga wajib
memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan Nomor VIII.D.1 perihal
Pendaftaran Notaris Yang Melakukan Kegiatan Di Pasar Modal Lampiran Keputusan Ketua
Badan Pengawas Pasar Modal Nomor : Kep- 37/Pm/1996 yaitu seorang Notaris yang
melakukan kegiatan di bidang Pasar Modal wajib terlebih dahulu terdaftar di Bapepam dan
memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan ini. Selain itu Notaris tersebut
wajib memiliki keahlian di bidang Pasar Modal, dan persyaratan keahlian dapat dipenuhi

melalui program latihan yang diakui Bapepam serta sanggup secara terus menerus mengikuti
program Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) di bidang kenotariatan dan peraturan perundangundangan di bidang Pasar Modal dan yang terakhir sanggup melakukan pemeriksaan sesuai
dengan Peraturan Jabatan Notaris (PJN).
Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan
kewenangan lainnya sebagaimana diatur dalam Undang Undang nomor 30 tahun 2004.
Pejabat umum ini adalah orang yang menjalankan fungsi publik dari negara, khususnya di
bidang hukum perdata. Kebanyakan orang mengenal notaris untuk pembuatan akta tanah.
Padahal notaris memiliki peran yang sangat luas, karena semua kegiatan hukum perdata tidak
akan terlepas dari peranan notaris. Salah satu peran notaris yang sangat diperlukan antara lain
peran

notaris

di

bidang

pasar

modal.

Peran notaris di bidang pasar modal, sangat diperlukan, terutama dalam hubungannya dengan
penyusunan anggaran dasar para pelaku pasar modal, seperti emiten, perusahaan publik,
perusahaan efek, dan reksadana, serta pembuatan kontrak-kontrak penting, seperti kontrak
reksadana, kontrak penjaminan emisi, dan perwaliamanatan. Untuk menjamin keaslian dan
kepercayaan para pihak, pengesahan dari notaris menjadi sesuatu yang sangat penting.
Jasa notaris diperlukan dalam hal-hal lain seperti: Membuat berita acara Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) dan menyusun pernyataan keputusan-keputusan RUPS, baik untuk
persiapan go public maupun RUPS setelah Initial Public Offering (IPO) atau penawaran
saham perdana, meneliti keabsahan hal-hal yang menyangkut penyelenggaraan RUPS, seperti
kesesuaian dengan anggaran dasar perusahaan, tata cara pemanggilan untuk RUPS dan
keabsahan dari pemegang saham atau kuasanya untuk menghadiri RUPS. Notaris juga
meneliti perubahan Anggaran Dasar (AD) agar tidak terdapat materi pasal-pasal dalam AD,
yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan diperlukan
untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian pasal- pasal dalam AD, agar sejalan dan
memenuhi ketentuan menurut peraturan di bidang pasar modal dalam rangka melindungi
investor

dan

masyarakat.

Notaris yang merupakan profesi penunjang pasar modal, harus terlebih dahulu terdaftar di
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam LK) dan memenuhi persyaratan sebagaimana diatur
dalam lampiran Surat Keputusan Ketua Bapepam Nomor Kep-37/PM/1996, tanggal 17

Januari 1996, peraturan nomor VIII D.1 tentang Pendaftaran Notaris, yang melakukan
kegiatan di Pasar Modal. Sementara, persyaratan menjadi notaris di pasar modal, adalah:
- telah diangkat sebagai Notaris oleh Menteri Kehakiman dan telah diambil sumpahnya
sebagai

Notaris

dari

instansi

yang

berwenang;

- tidak pemah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan
tindak
-

pidana
memiliki

di
akhlak

bidang

dan

keuangan;

moral

yang

baik;

- wajib memiliki keahlian di bidang Pasar Modal, dan persyaratan keahlian dapat dipenuhi
melalui

program

latihan

yang

diakui

Bapepam;

- sanggup secara terus menerus mengikuti program Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) di
bidang kenotariatan dan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal;
- sanggup melakukan pemeriksaan sesuai dengan Peraturan Jabatan Notaris (PJN) dan Kode
Etik

Profesi,

serta

senantiasa

bersikap

independen;

- telah menjadi atau bersedia menjadi anggota Ikatan Notaris Indonesia (INI); dan
- bersedia untuk diperiksa oleh Ikatan Notaris Indonesia (INI) atas pemenuhan Peraturan
Jabatan Notaris (PJN) dan Kode Etik Profesi dalam rangka melaksanakan kegiatannya.
Notaris yang sudah memenuhi persyaratan menjadi notaris di pasar modal, dapat mengajukan
permohonan pendaftaran notaris ke Bapepam LK. Permohonan pendaftaran Notaris sebagai
Profesi Penunjang Pasar Modal diajukan kepada Bapepam LK, dalam rangkap 4 (empat)
dengan mempergunakan Formulir Nomor VIII.D.1-1 lampiran 1 Surat Keputusan Ketua
Bapepam Nomor Kep-37/PM/1996, tanggal 17 Januari 1996, disertai dokumen seperti:
-

Nomor

Pokok

Wajib

Pajak

(NPWP);

- surat keputusan pengangkatan selaku Notaris dari Menteri Kehakiman dan Berita Acara
Sumpah

Notaris

dari

instansi

yang

berwenang;

- surat pemyataan bahwa Notaris tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum
karena

terbukti

rnelakukan

tindak

pidana

di

bidang

keuangan;

- sertifikat program pelatihan di bidang Pasar Modal yang diakui Bapepam; surat pernyataan
bahwa

Notaris

sanggup

mengikuti

secara

terus

menerus

program

Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) di bidang kenotariatan dan peraturan perundangundangan

di

bidang

Pasar

Modal;

- surat pemyataan bahwa Notaris sanggup melakukan pemeriksaan sesuai dengan Peraturan
Jabatan Notaris (PJN) dan Kode Etik Profesi, serta senantiasa bersikap independen dalam

melakukan kegiatannya; bukti keanggotaan Ikatan Notaris Indonesia (INI), (Jika ada);
- surat pernyataan bahwa Notaris bersedia menjadi anggota Ikatan Notaris Indonesia (INI)
setelah memperoleh Surat Tanda Terdaftar (STTD) dari Bapepam dan akan menyampaikan
bukti

keanggotaan

tersebut

kepada

Bepepam;

- dan surat pemyataan bahwa Notaris bersedia diperiksa oleh Ikatan Notaris Indonesia (INI)
atas pemenuhan Peraturan Jabatan Notaris (PJN) dan Kode Etik Profesi dalam rangka
melaksanakan

kegiatannya.

Bila permohonan tidak memenuhi syarat, selambat-lambatnya dalam jangka waktu 45 (empat
puluh lima) hari sejak diterimanya permohonan tersebut, Bapepam wajib memberikan surat
pemberitahuan

kepada

pemohon

yang

menyatakan

bahwa:

- permohonan tidak lengkap dengan menggunakan Formulir Nomor VIII.D.1-2 lampiran 2;


atau
- permohonan ditolak dengan menggunakan Formulir Nomor VIII.D.1-3 lampiran 3 peraturan
ini.
Dan bila memenuhi syarat, maka selambat-lambatnya dalam jangka waktu 45 (empat puluh
lima) hari sejak diterimanya permohonan secara lengkap, Bapepam memberikan Surat Tanda
Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal kepada pemohon dengan menggunakan Formulir
Nomor VIII.D.1-4 lampiran 4 peraturan ini. Setiap perubahan yang berkenaan dengan data
dan informasi dari Notaris, wajib dilaporkan kepada Bapepam selambat-lambatnya 14 (empat
belas) hari sejak terjadinya perubahan tersebut.