Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap pekerja akan dihadapkan pada kondisi lingkungan kerja yang
berbeda beda. Lingkungan kerja diharapkan memiliki kondisi yang aman dan
nyaman bagi pekerjanya agar pekerja merasa nyaman dan fokus pada
pekerjaannya.

Lingkungan kerja yang baik tidak hanya mendatangkan

keuntungan bagi pekerja itu sendiri, tetapi juga bagi perusahaan karena
semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik dan selesai sesuai dengan
waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.
Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa di lingkungan kerja banyak
sekali potensi
bahaya yang mengancam keselamatan baik secara fisik maupun secara
mental atau pikiran. Kondisi di lingkungan kerja seperti ini tentu saja merugikan
terutama bagi pekerja yang berhadapan langsung dengan gangguan-gangguan
di lingkungan kerja tersebut. Gangguan-gangguan tersebut dapat berakibat fatal
bagi pekerja apabila waktu terpaparnya cukup lama. Gangguan-gangguan

di

lingkungan kerja bervariasi sesuai dengan jenis maupun lokasi pekerjaannya,


seperti adalah kebisingan.
Kebisingan merupakan bunyi yang

tidak

diinginkan

dan

bersifat

mengganggu, kebisingan dapat ditimbulkan dari suatu kegiatan atau alat


kerja. Biasanya suatu kebisingan terdiri dari campuran sejumlah gelombang
dari berbagai macam frekuensi. Selain kebisingan, ada faktor-faktor lain yang
dapat mempengaruhi kenyamanan lingkungan

kerja

contohnya

seperti

penerangan. Penerangan yang baik akan meciptakan suasana yang baik pula
di lingkungan kerja, sehingga pekerja dapat berkonsentrasi dengan baik serta
nyaman saat bekerja. Tetapi sebaliknya, jika sumber penerangan atau
pencahayaan di lingkungan kerja buruk, maka akan menimbulkan masalah
bagi pekerjanya, apalagi indera penglihatan merupakan bagian penting dalam
setiap pekerjaan. Sayangnya, gangguan-gangguan di lingkungan kerja tersebut

Labor K3 |1

seperti kebisingan dan faktor penerangan ini sering diabaikan oleh pekerja.
Karena ingin mengejar target kerja selesai dengan waktu yang singkat serta
ingin mendapatkan keuntungan, pekerja maupun pihak perusahaan seringkali
mengesampingkan kesehatan dan keselamatan kerja.
Disini kami melakukan pengukuran kebisingan dan pencahayaan di
Bengkel Las yng ada di Paus jalan Garuda, kegiatan yang dilakukan di tempat
kerja tersebut antara lain pengelasan dan pemakaian gerinda, yang mana kegiatan
tersebut dapat menimbulkan kebisingan. Oleh karena itu kami dari kelompok 6
melakukan pengukuran kebisingan di bengkel las ini, karena kebisingan yang
ditimbulkan cukup tinggi dan dapat menimbulkan dampak buruk bagi pekerja
khususnya pada gangguan pendengaran.
Selanjutnya untuk pengukuran pencahayaan di tempat ini kami lakukan
karena penerangan yang baik akan meciptakan suasana yang baik pula di
lingkungan kerja, sehingga pekerja dapat berkonsentrasi dengan baik serta
nyaman saat bekerja. Tetapi sebaliknya, jika sumber penerangan atau
pencahayaan di lingkungan kerja buruk, maka akan menimbulkan masalah
bagi pekerjanya, apalagi indera penglihatan merupakan bagian penting dalam
setiap pekerjaan, khususnya dalam pengelasan.
Tetapi, gangguan-gangguan

di

lingkungan

kerja

tersebut

seperti

kebisingan dan penerangan ini sering diabaikan oleh pekerja.


Untuk itu, tindakan pengendalian dan pengelolaan dari gangguangangguan tersebut perlu dilakukan agar kerugian-kerugian yang diakibatkan dari
gangguan tersebut dapat diminimalisasi sehingga kondisi lingkungan kerja yang
baik dapat tercapai dan dapat memberi keuntungan, baik pihak perusahaan
maupun pihak pekerjanya.

Labor K3 |2

B. Pelaksanaan Pengukuran Pencahayaan dan Kebisingan


Nama Perusahaan
: Bengkel Las Garuda
Hari/Tanggal
: Sabtu, 11 Juni 2016.
Waktu
: Pukul 11.15 - 12.05 WIB.
Tempat
: Paus, jalan Garuda.
Kondisi cuaca
: Cerah
Jumlah Tenaga Kerja
: 4 pekerja
C. Tujuan Pengukuran Pencahayaan dan Kebisingan
Untuk mengetahui langkah dan cara kerja pengukuran pencahayaan

Bengkel Las Garuda Jaya


Untuk mengetahui tingkat kebisingan dan intensitas penerangan pada

lingkungan kerja di Bengkel Las Garuda Jaya.


Untuk dapat menganalisa data hasil pengukuran di Bengkel Las Garuda

Jaya
Untuk mengetahui alat pengukuran tingkat kebisingan dan intensitas

penerangan.
Untuk mengetahui

usaha

pengendalian

terhadap

kebisingan

dan

penerangan di lingkungan kerja.

BAB II
PENGUKURAN PENCAHAYAAN DAN KEBISINGAN
A. Pengukuran Pencahayaan
a) Alat dan Bahan Pencahayaan
Luxmeter atau digital light meter.
Lembar data.
Alat tulis.

Labor K3 |3

Kalkulator.
Meteran
Stopwatch
b) Prinsip Kerja Pencahayaan
Pengukuran intensitas pencahayaan ini memakai alat Luxmeter yang
hasilnya dapat langsung dibaca. Alat ini mengubah energi cahaya menjadi
energi listrik, kemudian energi listrik dalam bentuk arus digunakan untuk
menggerakan jarum skala. Untuk alat digital, energi listrik diubah menjadi
angka yang dapat dibaca pada layar monitor.
c) Cara Kerja Pencahayaan
a. Menentukan Titik Pengukuran
Ukuran ruangan yaitu berukuran panjang 8 meter dan lebar 8 meter.
Denah Posisi Lampu (ada cahaya alami)
Ditempat pengukuran pencahayaan ini hanya menggunakan cahaya
matahari dan tidak memiliki lampu. Pekerja bekerja diluar ruangan
yang memiliki atap pelindung.

Melakukan pengukuran umum, yaitu dengan memotong garis


horisontal panjang dan lebar ruangan pada setiap jarak tertentu setinggi
satu meter dari lantai. Membedakan jarak tersebut berdasarkan luas
ruangan, antara lain:
1) Luas ruangan kurang dari 10 meter persegi: memotong titik garis
horisontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap 1 (satu)
meter.
2) Luas ruangan antara 10 meter persegi sampai 100 meter persegi:
memotong titik garis horisontal panjang dan lebar ruangan adalah pada
jarak setiap 3 (tiga) meter.
3) Luas ruangan lebih dari 100 meter persegi: memotong titik horisontal
panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak 6 meter.

Labor K3 |4

b.
1)
2)
3)

Mempersiapkan Alat Dan Bahan


Memasang baterai pada tempatnya.
Menekan tombol power.
Mengecek garis tanda pada termometer untuk mengetahui baterai

dalam keadaan baik atau tidak.


c. Mengukur penerangan umum
1) Membagi ruangan menjadi beberapa titik pengukuran dengan
jarak antar titik sekitar 3 meter.
2) Tekan tombol power lux meter sampai menunjukkan angka nol jika
angka belum menunjukan angka nol tekan zero.
3) Buka fotosel kemudian tekan record (tanda mulai)
4) Lakukan fotosel sejajar dengan mata sampai muncul tulisan Rec
5) Kita hitung 10 detik pada setiap titik kemudian pindah ke titik
berikutnya sampai titik terakhir.
6) Tekan recall secara otomatis akan menunjukkan angka max, min dan
average tingkat pencahayaannya ruangan tersebut dan catat hasilnya.
7) Melakukan pengukuran dengan tinggi Luxmeter kurang lebih 85 cm
di atas lantai dan posisi photo cell menghadap sumber cahaya.
8) Membaca hasil pengukuran pada layar monitor setelah menunggu
beberapa saat sehingga didapat nilai angka yang stabil.
9) Mencatat hasil pengukuran pada lembar hasil pencatatan.
10) Setelah selesai melakukan pengukuran, matikan lux meter dengan
menekan power.
d) Hasil Pencatatan Pengukuran Pencahayaan
Ruang
Bengkel

Titik 1

Las

716 Lux

Hasil Pengukuran
Titik 2
Titik 3

Titik 4

Terbuka
8 Meter
3m

716 Lux

781 Lux

3m

2m

3m

II
meter

766 Lux

III

938 Lux

IV

3m

Labor K3 |5

2m

Keterangan : pengukuran Pencahayaan Umum


Titik 1 ( P1) =716 Lux
Titik 2 (P2) = 781 Lux
Titik 3 (P3) = 766 Lux
Titik 4 (P4) = 938 Lux
Perhitungan rata-rata pencahayaan pertitik :
= P1+ P2+ P3+P4
P
= 716 +781+ 766 +938
4
= 3201
4
= 800,25 Lux
Jadi, hasil dari pengukuran pencahayaan yang terdapat di area tersebut adalah
800,25 Lux.

e) Pembahasan
a. Perbandingan hasil dengan NAB
Pengukuran pencahayaan yang dilakukan di bengkel las, yaitu
dilaksanakan saat cuaca cerah dengan jenis range 20.000 lux : diluar
ruangan, tetapi tidak menerima sinar matahari langsung. Tempat kerja
yang di ukur memiliki luas ruangan sebesar 8 x 8 m. Pengukuran umum
yang dilakukan pada saat kondisi tempat kerja cerah, di dapat hasil
pengukuran yaitu 800,25 Lux.

Dimana hasil pengukuran tersebut

tersebut melebihi dan tidak sesuai dengan nilai ambang batas

Labor K3 |6

pencahayaan untuk luar ruangan yang tidak menerima sinar matahari


langsung yaitu 500 Lux.
b. Permasalahan yang ditemukan dilokasi pengukuran
Permasalahan yang ditemukan di lokasi pengukuran yaitu salah
satunya adalah masalah bahaya pencahayaan, dimana pencahayaan yang
terpapar oleh pekerja tidak sesuai dengan nilai ambang batas yaitu 800,25
Lux. Pencahayaan yang melebihi standar dapat membuat pekerja dapat
merasa tidak nyaman sehingga mengurangi produktivitas.

Kelelahan mata adalah gangguan yang dialami mata karena ototototnya yang dipaksa bekerja keras terutama saat harus melihat objek dekat
dalam jangka waktu lama. Kelelahan mata disebabkan oleh stress yang terjadi
pada fungsi penglihatan. Stress pada otot akomodasi dapatterjadi pada saat
seseorang yang berupaya untuk melihat objek berukuran kecil dan pada jarak
yang dekat dalam waktu lama. Pencahayaan ruangan, khususnya di tempat kerja yang
kurang memenuhi persyaratan tertentu dapat memperburuk penglihatan,
karena jika pencahayaan terlalu besar atau pun kecil, pupil mata harus
berusaha menyesuaikan cahaya yang diterima oleh mata.Akibatnya mata
harusberkontraksi secara berlebihan, karena jika pencahayaan lebih besar atau lebih
kecil, pupil mata harus berusaha menyesuaikan cahaya yang dapat diterima oleh mata.
c. Solusi
Mengingat dampak negatif dari pemaparan pencahayaan yang berlebihan
bagi pekerja, sebisa mungkin diusahakan agar tingkat pencahayaan yang
terpapar oleh pekerja dapat diterima lebih rendah agar tidak mengganggu
pekerja khususnya bagi penglihatannya. Kemudian hal yang dapat
dilakukan yaitu dengan pengendalian pencahayaan pada sumbernya, yaitu
dengan cara mengurangi dan sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Labor K3 |7

B. Pengukuran Kebisingan

a) Alat dan Bahan Pengukuran Kebisingan


Sound Level Meter
Lembar data.
Alat tulis.
Kalkulator.
Meteran
Stopwatch
b) Prinsip Kerja Pengukuran Kebisingan
Pada umumnya sound level meter (SLM) diarahkan ke sumber suara,
setinggi telinga pekerja (150 cm dari tanah), agar dapat menangkap kebisingan
yang tercipta. Prinsip kerja dari SLM yaitu apabila ada benda bergetar, maka
akan menyebabkan perubahan tekanan udara yang dapat ditangkap oleh alat
ini dan selanjutnya akan menggerakkan meter petunjuk.
c) Cara Kerja Pencahayaan
a. Menentukan Titik Pengukuran
1) Ukuran ruangan yaitu berukuran panjang 8 meter dan lebar 8 meter.
2) pengukuran dilakukan di tempat di mana terdapat keluhan, atau di
mana dilakukan pemantauan secara permanen. Tidak diizinkan untuk
melakukan pengukuran di tempat di mana sehari-hari sama sekali
tidak pernah ada orang lalu lalang.
3) Pengukuran harus dilakukan di tempat terbuka, berjarak 3 meter dari
dinding-dinding untuk menghindari pantulan. Kalau hal ini tidak
mungkin, maka diizinkan untuk melakukan pengukuran pada jarak
0,5 meter di depan jendela terbuka.
4) Tinggi alat ukur sekitar 1,2 meter di atas tanah, harus dipasang pada
statif. Dalam keadaan apapun tidal( diizinkan untuk memegang alat

Labor K3 |8

ukur

terus

menerus,

kecuali

pada

saat

mengubah control

attenuator pada alat ukur. Jarak antara badan operator dan alat ukur
harus cukup jauh agar tidak terjadi pantulan.
b. Mempersiapkan Alat Dan Bahan
1) Memasang baterai pada tempatnya.
2) Menekan tombol power.
3) Mengecek garis tanda pada termometer untuk mengetahui baterai
dalam keadaan baik atau tidak
c. Mengukur kebisingan umum
1) Memastikan posisi alat 1,2 m dari lantai/tanah, tidak terhalang
bangunan,

pohon,

papan

reklame

dan

sejenisnya, ada

jarak

dari barrier ( 3 meter), dan tidak dalam kondisi hujan.


2) Sound Level Meter dapat dipegang atau dipasang pada trifoot dan
mikrofon mengarah kepada sumber bising
3) Sebelum menekan tombol start pastikan alat telah disetting dengan
benar sesuai bising yang akan diukur seperti pada berikut:
a) Mengecek Baterai: Menggeser switch power di sisi kiri alat dari
posisi OFF ke posisi ON,
b) Kemudian memperhatikan skala baterai pada sudut kiri bawah
layar.
c) Mengkalibrasi: Menekan tombol Cal sekali, kemudian layar
menampilkan angka 94,0 dBA sesuai nilai yang tertera di atasnya.
Jika angka yang

tampil kurang atau lebih, atur dengan

memutar adjust cal. pada sisi kiri alat.


d) Mengatur Respon: Menekan tombol

slow/fast

untuk

menentukan respon alat. Untuk pengukuran bising lingkungan


gunakan mode fast.
e) Mengatur Jaringan: Tekan tombol A/C/P berulang-ulang, pilih
mode A untuk Indonesia, karena baku mutu yang digunakan
adalah dBA.
f) Level Range: Menyeesuaikan level range dengan tingkat
kebisingan yang ada di lapangan dengan menekan tombol panah
atas atau bawah pada level range misalnya 40 s.d. 100 dBA.

Labor K3 |9

g) Mode Waktu: Menekan tombol M. Time beberapa kali sampai


muncul angka yang sesuai dengan set waktu pengukuran.
Biasanya digunakan 10 menit.
h) Mode Pengukuran: Menekan tombol Mode beberapa kali
sampai muncul pada layar LAeq
i) Memulai Pengukuran: Pasang alat pada trifoot, kemudian tekan
tombol Start. Data akan terekam dan berhenti dengan
sendirinya pada set waktu yang ditentukan.
4. Melakukan pengukuran selama 5 menit untuk bising tetap dan 10
menit untuk bising fluktuatif;
5. Sound Level Meter akan berhenti secara otomatis sesuai waktu
yang telah ditentukan, data tersimpan di dalam memori alat dan
bisa dipanggil sewaktu-waktu meskipun alat telah dimatikan;
d) Hasil Pencatatan Pengukuran Kebisingan
No

Lokasi

Intensitas Kebisingan (dB A)


3
4
5
6

Range

Tempat

1.

99,6 96,3 95,4 94,5 93,9 91,8 86,0-99,6


pengelasan
Keterangan: Tempat pengelasan; Jenis kebisingan continue (mesin diesel)

Analisa Data
Perhitungan:
Lek

= 10 log 1/n (10 L1/10+10L2/10+10L3/10+10L4/10+10L5/10+10L6/10)


= 10 Log ( 10 9,96 + 10 9,63 + 10 9,54 + 10 9,45 + 10 9,39 + 10 9,18 )

Labor K3 |10

= 10 Log

(9120108394,55 + 4265795188,01 +

3467368505,52 +

2818382931,26 + 2454708916,68 + 1513561248,43 )


= 10 Log (23639925184,45)
= 103,7 dBA
e) Pembahasan
a. Perbandingan Hasil dengan NAB
Setelah melakukan pengukuran terhadap tingkat kebisingan di
Bengkel Las Garuda Jaya pada mesin diesel, maka dari data yang telah
didapatkan dan kemudian dianalisis maka didapatkan hasil yaitu 103,7
dB. Dimana hal tersebut tidak sesuai dengan nilai ambang batas
kebisingan yaitu berkisar 85 dBA.
NAB untuk kebisingan di tempat kerja adalah intensitas tertinggi
dan merupakan nilai rata-rata yang masih dapat diterima oleh tenaga
kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang tetap untuk
waktu terus-menerus tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40 jam
seminggunya.
b. Permasalahan yang ditemukan dilokasi pengukuran
Banyak sekali permasalahan yang ditemukan di lokasi pengukuran
yaitu salah satunya adalah potensi bahaya kebisingan dimana kebisingan
yang terpapar oleh pekerja tidak sesuai dengan nilai ambang batas yaitu
pekerja bekerja lebih dari 8 jam perhari dengan tingkat kebisingan yaitu
103,6 Kemudian pekerja dalam melakukan pekerjaan tidak menggunakan
Alat Pelindung Diri (APD), padahal seharusnya pekerja harus
menggunakan APD untuk menghindari terjadinya gangguan pendengaran
akibat kebisingan. Selain itu kebisingan yang diakibatkan aktivitas
tersebut juga dapat mengganggu masyarakat disekitar lingkungan
bengkel las.
Tingkat

kebisingan

yang

tinggi

di

tempat

kerja

dapat

menyebabkan gangguan pendengaran selain itu stress sehingga


mempercepat timbulnya kelelahan. Kelelahan dapat menurunkan
kekuatan otot yang disebabkan karena kehabisan tenaga dan peningkatan
sisa-sisa metabolisme, seperti asam laktat dan karbondioksida.Kelelahan

Labor K3 |11

juga dapat menurunkan motivasi, menaikkan ambang rangsang, serta


menurunkan kecermatan dan kecepatan pemecahan persoalan. Kemudian
dapat mengganggu terhadap tenaga kerja, seperti gangguan fisiologis,
gangguan psikologis, gangguan komunikasi dan ketulian.
a. Gangguan Fisiologis
Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah, peningkatan nadi,
basal metabolism, konstruksi pembuluh darah kecil terutama pada
bagian kaki, dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris.
b. Gangguan Psikologis
Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang
konsentrasi, susah tidur, emosi, dan lain-lain. Pemaparan jangka waktu
lama dapat menimbulkan penyakit, psikosomatik seperti gastritis,
penyakit jantung koroner, dan lain-lain.
c. Gangguan Komunikasi
Gangguan komunikasi ini menyebabkan terganggunya pekerjaan,
bahkan mungkin terjadi kesalahan, terutama bagi pekerja baru yang
belum berpengalaman. Gangguan komunikasi ini secara tidak
langsung akan mengakibatkan bahaya terhadap keselamatan dan
kesehatan tenaga kerja, karena tidak mendengar teriakan atau isyarat
tanda bahaya dan tentunya akan dapat menurunkan mutu pekerjaan
dan produktifitas kerja.
d. Gangguan Keseimbangan
Gangguan keseimbangan ini mengakibatkan gangguan fisiologis
seperti kepala pusing, mual, dan lain-lain.
e. Gangguan Terhadap Pendengaran (Ketulian)
Diantara sekian banyak gangguan yang ditimbulkan oleh bising,
gangguan terhadap pendengaran adalah gangguan yang paling serius
karena dapat menyebabkan hilangnya pendengaran atau ketulian,
ketulian ini dapat bersifat progresif atau awalnya bersifat sementara
tapi bila bekerja terus menerus ditempat bising tersebut maka daya
dengar akan menghilang secara menetap atau tuli
c. Solusi
Mengingat dampak negatif dari pemaparan kebisingan bagi pekerja,
sebisa mungkin diusahakan agar tingkat kebisingan yang terpapar oleh

Labor K3 |12

pekerja dapat diterima lebih

rendah agar tidak mengganggu pekerja

khususnya bagi pendengarannya. Untuk itu pekerja dalam melakukan


pekerjaannya yang berhubungan dengan kebisingan harus menggunakan
APD (alat Pelindung diri) khususnya pada pelindung telinga yaitu Ear
Muff dan Ear Plug.
Selain itu kebisingan yang ditimbulkan dari kegiatan pengelasan
juga sangat berdampak buruk bagi masyarakat sekitar, hal yang dapat
dilakukan yaitu dengan pengendalian kebisingan pada sumbernya,
penempatan penghalang (barrier) pada jalan transmisi, ataupun proteksi
pada

masyarakat

yang

terpapar. Pengendalian

kebisingan

pada

sumbernya dapat melalui pemberlakukan peraturan yang melarang


sumber bising yang mengeluarkan bunyi dengan tingkat kebisingan yang
tinggi. Penempatan penghalang (barrier) pada jalan transmisi.

f) LAMPIRAN DOKUMENTASI

Labor K3 |13

Saat pengukuran pencahayaan

Labor K3 |14

Labor K3 |15

Saat pengukuran Kebisingan

Labor K3 |16

Labor K3 |17

Labor K3 |18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pengukuran pencahayaan yang kami lakukan dibengkel Las,
maka dapat simpulkan bahwa penggunaan system pencahayaan ditempat kerja,
sangat berpengaruh besar dalam peningkatan efisiensi kinerja pekerja. Karena
itu untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, maka
diperlukan sistem pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Dalam
ruang kerja, kondisi pencahayaan yang baik harus tersedia. Ketika
pencahayaan ditempat kerja kurang memenuhi, pekerja dapat merasa tidak
nyaman dan tidak puas sehingga dapat mengurangi produktivitas. Lingkungan
penerangan mempengaruhi kepuasan pengguna dan suasana tempat kerja
melalui desain ruang kerja dan strategi pencahayaannya.
Selanjutnya dari hasil pengukuran kebisingan yang kami lakukan
dibengkel las, maka dapat disimpulkan bahwa kebisingan merupakan sesuatu
yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti
gangguan pendengaran. Alat yang digunakan untuk mengukur tingkat
intensitas kebisingan yaitu sound level meter (SLM). Berdasarkan hasil analisis
data didapatkan bahwa tingkat kebisingan di bengkel las tidak sesuai standar
yaitu 103,7 dBA. Sedangkan standar kebisingan yang diperbolehkan adalah 85
dbA, dan waktu bekerja tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40 jam seminggunya.
B. Saran
1. Seharusnya sistem pencahayaan yang harus tepat dan sesuai dengan
kebutuhannya karena hal itu sangat berpengaruh besar dalam peningkatan
efisiensi kinerja pekerja.
2. Seharusnya pekerja menggunakan Alat Pelindung Telinga saat melakukan
pekerjaan yang berhubungan dengan kebisingan.
3. Seharusnya pihak perusahaan menempatan penghalang (barrier) pada jalan
transmisi, ataupun proteksi pada masyarakat yang terpapar.

Labor K3 |19

DAFTAR PUSTAKA
Feidihal. 2007. Tingkat Kebisingan dan Pengaruhnya Terhadap Mahasiswa di
Bengkel Teknik Mesin Politeknik Negeri Padang. Jurnal Teknik Mesin.
Vol.4 No.1 2007 ISSN 1829-8958.
Pratiwi,Indah. 2013. Pengaruh Pencahayaan, Kebisingan Dan Temperatur
Terhadap Performansi Kerja. Jurusan Teknik Industri , Yogyakarta :
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Ramita , Ninda dan Rudy Laksmono. Pengaruh Kebisingan Dari Aktifitas Bandara
Internasional Juanda Surabaya. Prodi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik
Sipil Dan Perencanaan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa
Timur
https://www.academia.edu/9330719/Pencegahan_Penyakit_Akibat_Bising_dan_P
encahayaan_yang_Tidak_Baik diakses pada tanggal 28 Juni 2016.

Labor K3 |20