Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Praktikum Pengujian dan Evaluasi Tekstil I

Cara Identifikasi Kerusakan Serat Secara Kuanitatif


Barium Activity Number

Disusun oleh :
Nama

: Tiana Hidayati Setiawan

NPM/Grup

: 14020009/K1

Dosen

: Khairul U., S.ST.

Asisten Dosen : Eka O., S.ST.


Witri A. S., S.ST.

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2016

1. Maksud dan Tujuan


1.1 Maksud
Mengidentifikasi kerusakan serat kapas secara kuantitatif dengan kimia
1.2 Tujuan
Mengidentifikasi benang dan kain dari kapas yang telah di merserisasi baik yang telah
maupun yang tidak di celup, secara kuantitatif
2. Teori Dasar
2.1 Serat Kapas
Serat kapas terutama tersusun atas selulosa. Selulosa merupakan polimer linier yang tersusun dari
kondensasi molekul-molekul glukosa yang dihubung-hubungkan pada posisi 1 dan 4.
CH2OH

OH

OH

HOOH

OH

CH2OH
H

OHOH

CH2OH

OH

OH

OH

H
OH

CH2OH

Serat kapas memiliki komposisi sebagai berikut:


1. Selulosa 80-90 %.
2. Protein dan zat yang mengandung nitrogen 5%.
3. Lemak, minyak dan malam 0,5-1%.
4. Pektat 0,5-1%.
5. Mineral dan warna alam 1%.
6. Air 8%.
Sifat fisika serat kapas sebagai berikut :
1. Warna serat kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit cream atau menjadi keabu-abuan
karena pengaruh cuaca yang lama, debu dan kotoran.
2. Kekuatan serat kapas dalam keadaan basah makin tinggi dan dalam keadaan kering makin
rendah.
3. Mulur serat kapas rata-rata adalah 7%.
4. Moisture Regain pada kondisi standar 7-8,5%.
5. Berat jenis serat kapas 1,50 1,56.
6. Indeks bias serat kapas sumbu serat 1,58 dan indeks bias melintang sumbu serat 1,53.
7. Bentuk penampang melintang serat kapas pada umumnya seperti ginjal. Penampang
lintangnya terdiri dari 6 bagian yaitu kutikula, dinding primer, lapisan antara dinding primer
dan sekunder, dinding sekunder, dinding lumen dan lumen.
8. Bentuk penampang membujur serat kapas adalah pipih seperti pita terpilin. Penampang
membujurnya terdiri dari 3 bagian yaitu dasar, badan dan ujung.
Sifat kimia serat kapas sebagai berikut :

1.

Beberapa zat pengoksidasi menyebabkan terjadinya oksi selulosa dan penghidrolisa kuat
menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan kekuatan.

2.

Asam kuat menyebabkan hidro selulosa yang akan menyebabkan penurunan kekuatan dan
tidak tahan alkali kuat.
2.2 Barium Activity Number
BAN digunakan untuk mengidentifikasi kapas yang dimerser. Proses merserisasi adalah
dengan mengerjakannya dalam NaOH lebih kurang 30 o-36oBe pada suhu kamar dan diikuti
dengan pencucian. Makin tinggi derajat merserisasi kapas, makin banyak barium hidroksida
yang diserap oleh kapas dari larutannya. Sisa barium hidroksida di dalam larutan ditentukan
dengan cara titrasi menggunakan larutan HCl ditambah dengan indikator PP.
Dasar cara ini ialah makin tinggi derajat merserisasi kapas, makin banyak barium hidroksida
yang diserap oleh kapas dari larutan. Sisa barium hidroksida didalam larutan ditentukan
dengan cara titrasi menggunakan larutan asam klorida.
Dalam cara ini diperlukan kapas yang tidak dimerser, biasanya berbentuk benang sebagai
kapas standar; dan larutan barium hidroksida 0,25 N yang dibuat dengan cara melarutkan
serpih Ba(OH)2 , 8 H2O 39,43 gram didalam 1 liter air.
Kain yang diuji harus bebas dari bahan penyempurnaan, kemudian 2,5 gram (atau 5 gram
untuk dua pengujian) kain yang diuji bersama-sama kapas standar dengan berat yang sama
dimasak didalam larutan yang mengandung 10 gram sabun netral dan 2 gram natrium
karbonat dalam 1 liter air, pada suhu didih selama 1 jam. Setelah dicuci berkali-kali dengan
air hingga bebas alkali, kemudian dikeringkan kemudian dikondisikan didalam atmosfer
standar selama beberapa jam.
Kain yang telah dimurnikan seberat 2 gram dan kapas standar seberat 2 gram masing-masing
dimasukkan kedalam tabung Erlenmeyer berisi 30 ml. Larutan barium hidroksida 0,25 N dan
ditutup rapat. Kain direndam dalam larutan tersebut selama paling sedikit 2 jam pada suhu
kamar sambil dikocok.
Setelah 2 jam masing-masing larutan diambil 10 ml. dan dititrasi dengan larutan asam klorida
0,1 N dengan indicator fenoptalein. Selain itu juga dilakukan titrasi terhadap 10 ml larutan
barium hidroksida 0,25 N asli.
Dari hasil titrasi tersebut angka aktifitas barium dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Angka aktifitas barium = a - b / a - c x 100

Dimana:
a : Volume asam klorida ( dalam ml) untuk titrasi 10 ml. Larutan barium hidroksida 0,25 N
asli
b : Volume asam klorida ( dalam ml) untuk titrasi 10 ml. Larutan yang mengandung contoh
uji
c : Volume asam klorida (dalam ml) untuk titrasi 10 ml. Larutan yang mengandung kapas
standar
Benang dan kain kapas yang dimerser dalam perdagangan akan mempunyai angka aktifitas
barium 115 130, dan kapas dimerser sempurna (laboratorium) dapat mencapai 155.
3. Alat dan Pereaksi
Alat yang digunakan :
1. Erlenmeyer tutup asah ukuran kecil
2. Gelas ukur
3. Beaker gelas
4. Saringan
5. Pipet volume
6. Shaker (200 rpm)
7. Buret 50 mL
8. Pipet tetes
9. Timbangan digital
10. Sampel kain kapas belum dicelup (No. 8)
Bahan yang digunakan :
1. BaOH
2. HCl 0,1 N
3. Indikator PP

4. Cara Kerja
menimbang sampel
hingga 1 gram

memotong kain
sampel hingga
ukuran kecil dan
memasukkannya
ke dalam
erlenmeyer

menyiapkan kapas
pembanding dan
blanko dengan
perlakuan yang
sama

menambahkan
BaOH sebanyak 30
mL ke dalam
erlenmeyer

mengatur alat
shaker hingga
kecepatannya 200
rpm selama 2 jam

mengambil 10 mL
larutan kemudian
tetesi dengan
indikator PP

menitarnya
menggunakan HCl
0,1 N hingga tidak
berwarna

melakukan
penitaran pada
kapas pembanding
dan blanko

melakukan
percobaan secara
duplo

5. Hasil Pengujian
Data pengamatan :
kain sampel bernomor 8
Berat awal kain
Volume titrasi blanko (a)
Volume titrasi kapas pembanding (c)
Volume titrasi percobaan 1 (b)
Volume titrasi percobaan 2 (b)
Warna awal - akhir titrasi

ab
100
ac

= 1,1 gram
= 22,6 mL
= 19,9 mL
= 19,8 mL
= 19,8 mL
= merah muda - tidak berwarna

Rumus perhitungan BAN

Keterangan :
a = volume titrasi blanko
b = volume titrasi sampel
c = volume titrasi kapas pembanding
Percobaan 1 dan 2 (hasil volume titrasi sama)
BAN

22,620,2
100 = 103,70
22,619,9

6. Pembahasan
Pengujian kali ini dinamakan barium activity number. Tujuan pengujian ini adalah untuk
mengidentifikasi kain kapas yang dimerserisasi. Selain untuk mengidentifikasi hal tersebut diatas,
cara ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan reaksi yang sempurna antara kapas dan larutan
merserisasi. Ada beberapa cara untuk mengetahui suatu kain dilakukan merserisasi ataupun belum

dimerser yaitu dengan cara barium activity number ini ataupun dengan uji mikroskopik dan
dengan cara pewarnaan. Cara BAN dilakukan sebagai cara kuantitatif.
Proses merserisasi adalah salah satu proses finishing yang bertujuan untuk meningkatkan
daya kilau serta kekuatan suatu kain kapas. Proses merserisasi adalah proses menggelembungkan
serat kapas menggunakan NaOH dengan konsentrasi tertentu dan waktu yang telah ditentukan.
Serat kapas bisa menggelembung oleh NaOH dikarenakan struktur selulosa tersebut telah berubah
yang membuat penampang melintangnya yang semula pipih (seperti ginjal) menjadi bulat. Serat
atau kain kapas yang telah dimerserisasi memiliki daya serap yang lebih tinggi dibandingkan
dengan serat atau kain kapas sebelum dimerserisasi.
Langkah kerja pengerjaan BAN ini adalah dengan mereaksikan kain kapas sampel dengan
larutan Barium hidroksida Ba(OH)2 0,25 N. Kain sampel yang belum terwarnai (kain kapas putih)
dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer ukuran kecil. Setelah
ditambahkan Barium hidroksida selanjutnya dilakukan pengocokan menggunakan alat shaker
selama 2 jam yang telah diatur kecepatannya hingga 200 rpm. Setelah 2 jam kemudian dilakukan
titrasi asidimetri menggunakan asam klorida 0,1 N dan sebelum dilakukan penitaran ditetesi
terlebih dahulu oleh indikator PP. Setelah terlihat warna merah muda setelah ditetesi indiator
maka selanjutnya dilakukan penitaran dengan HCl hingga warna larutan tidak berwarna. Pada
pengujian ini juga dibutuhkan volume titrasi blanko dan volume titrasi kapas pembanding. Kedua
hal tersebut diperlakukan sama seperti sampel. Setelah dilakukan penitaran terhadap sampel,
blanko dan kapas maka selanjutnya dilakukan evaluasi dengan cara perhitungan.
Serat kapas yang telah dilakukan merserisasi akan memiliki daya serap yang tinggi. Dengan
daya serap yang tinggi itu maka sangat dimungkinkan Barium oksida akan terserap kedalam serat
kain sampel. Semakin banyak Ba(OH)2 yang terserap ke dalam serat maka semakin besar juga
merserisasi yang dilakukan. Proses merserisasi terbagi tiga yaitu tanpa merserisasi, merserisasi
lemah dan merserisasi kuat (normal). Semakin kecil volume titrasi pada suatu contoh uji maka
angka aktifitas barium juga semakin besar. Pada kain BAN dengan rentang nilai 100 105
merupakan contoh uji yang tidak dimerserisasi. BAN dengan rentang 106 115 menyatakan kain
yang dimerserisasi lemah dan BAN dengan nilai 116 keatas menunjukkan sampel dimerserisasi.
Evaluasi pengujian angka aktifitas barium ini adalah menentukan seberapa besar angka aktifitas
barium tersebut. Pada sampel kain yang diuji didapatkan nilai sebesar 103,70 (dibulatkan menjadi
104). Dengan angka tersebut menyatakan bahwa kain kapas yang diuji termasuk kain sampel yang
tidak simerserisasi berdasarkan pernyataan di atas.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengujian BAN diantaranya
sebaiknya dalam menambahkan Barium hidroksida, pastikan larutan tersebut terhindar dari
pengendapan karena Ba(OH)2 mudak sekali mengandap dan akan mengurangi kemurnian larutan.
Dalam melakukan penitaran lakukan dengan teliti dan tepat karena hal tersebut akan
mempengaruhi hasil akhir evaluasi. Lakukan penitaran sebanyak dua kali untuk mendapatkan
ketelitian yang lebih baik. Selama penambahan Ba(OH) 2 hidari kontak dengan udara yang terlalu

lama karena dapat mempengaruhi konsentrasi membentuk barium karbonat. Selain itu akan
menimbulkan lapisan tipis yang akan menyebabkan kesalahan pembacaan.
7. Kesimpulan
Dari pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa kain sampel bernomor 8 dengan ciri-ciri kain
kapas putih yang belum terwarnai adalah termasuk kain yang tidak dilakukan merserisasi sebab
angka aktifitas barium yang didapatkan setelah dihitung adalah sebesar 104.