Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN UMUM MENGENAI TANGGUNG JAWAB SOSIAL


KORPORASI (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)

A.

Pengertian dan Dasar Tanggung Jawab Sosial Korporasi (Corporate


Social Responsibility)
Semenjak keruntuhan rezim diktatoriat Orde Baru, masyarakat semakin

berani

untuk

beraspirasi

dan

mengekspresikan

tuntutannya

terhadap

perkembangan dunia bisnis Indonesia. Masyarakat telah semakin kritis dan


mampu melakukan kontrol sosial terhadap dunia usaha. Hal ini menuntut para
pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin bertanggungjawab.
Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan dari lapangan
usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi positif
terhadap lingkungan sosialnya.
Perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat memunculkan kesadararan
baru tentang pentingnya melaksanakan apa yang kita kenal sebagai Corporate
Social Responsibility (CSR). Pemahaman itu memberikan pedoman bahwa
korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri
saja sehingga ter-alienasi atau mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat di
tempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan
adaptasi kultural dengan lingkungan sosialnya.
Dalam Wikipedia Indonesia disebutkan bahwa tanggung jawab sosial
perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah merupakan suatu konsep

27
Universitas Sumatera Utara

bahwa organisasi, khususnya (bukan hanya) perusahaan memiliki suatu tanggung


jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan
lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Lebih lanjut disebutkan
bahwa tanggung

jawab sosial berhubungan erat

dengan pembangunan

berkelanjutan", dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam


melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata hanya
berdasarkan faktor keuangan belaka seperti halnya keuntungan atau deviden
melainkan juga harus berdasarkan konsekwensi sosial dan lingkungan untuk saat
ini maupun untuk jangka panjang.

20

Menurut Baker, tanggung jawab sosial adalah bagaimana cara


perusahaan mengelola proses bisnisnya untuk menghasilkan segala hal yang
positif yang berpengaruh terhadap lingkungannya. Tanggung jawab sosial dapat
dikatakan sebagai cara perusahaan mengatur proses produksi yang berdampak
positif pada komunitas. Dapat pula dikatakan, sebagai proses penting dalam
pengaturan biaya yang dikeluarkan untuk meraih keuntungan, baik internal
(pekerja, shareholder), maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum,
anggota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain).
Esensi tanggung jawab sosial. Pada dasarnya, bentuk tanggung jawab sosial
perushaan dapat beraneka ragam. Dari yang bersifat charity sampai pada kegiatan
yang bersifat pengembangan komunitas (Community Development). 21
Menurut Andi Firman tanggung jawab sosial adalah suatu konsep yang
bermaterikan tanggung jawab sosial dan lingkungan oleh perusahaan kepada
20

http://www.wikipedia.org.
A. Martanti Dwifebri, 2007, Corporate Social Responsibility (CSR) seharusnya ikut
serta perbaiki perekonomian bangsa diakses dari situs : http://72.
14.235.104/search?q=cache:HN9RRTtGGung J:www.isei.or.id/page.php%3Fid%,11/29/20
21

Universitas Sumatera Utara

masyarakat luas, khususnya di wilayah perusahaan tersebut beroperasi. Tanggung


jawab sosial dapat berupa program yang memberikan bantuan modal kerja lunak
bagi para petani, nelayan, pengusaha kecil, pemberian beasiswa bagi pelajar dan
mahasiswa terutama yang tidak mampu dan berprestasi, perbaikan infrastruktur
jalan, gedung-gedung sekolah, sarana keagamaan dan olah raga, pendidikan dan
pelatihan keperempuanan dan pemuda, serta pemberdayaan masyarakat adat.
Termasuk pula memelihara kondisi alam agar tetap dalam kondisi yang sehat dan
seimbang. Pada posisi demikian, perusahaan telah ikut serta meningkatkan
pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) masyarakat dari segi ekonomis dan
ekologis. 22
Menurut Bank Dunia tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari
beberapa komponen utama: perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi
manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha,
pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan,
kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan. 23 Dengan adanya
tanggung jawab sosial sebenarnya perusahaan diuntungkan karena dapat
menciptakan lingkungan sosial yang baik serta dapat menumbuhkan citra positif
perusahaan, tentu hal ini dapat meningkatkan iklim bisnis bagi perusahaan.
Baker menyebutkan bahwa ada dua model penerapan tanggung jawab
sosial. Model tersebut adalah: 1) Model Amerika Tradisional. Model ini lebih
bersifat filantropis/karitas. Pada model ini perusahaan mendapatkan laba
sebesarbesarnya,

melakukan

pemenuhan

kewajiban

perpajakan

dan

menyumbangkan keuntungannya kepada masyarakat. 2) Model Eropa-Modern.


Model ini lebih integrative, memfokuskan diri pada bidang usaha utama
perusahaan yang dijalankan dengan tanggung jawab terhadap masyarakat. 24

22

Yenni Mangoting, Biaya Tanggung Jawab Sosial sebagai Tax Benefit, diakses dari situs :
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting
23
A. Martanti Dwifebri, Op.cit.
24
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

CSR adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun


hubungan harmonis dengan masyarakat tempatan. Secara teoretik, CSR dapat
didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para
strategicstakeholdersnya, terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah
kerja dan operasinya. CSR memandang perusahaan sebagai agen moral. Dengan
atau tanpa aturan hukum, sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas.
Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam sudut pandang CSR adalah
pengedepankan prinsip moral dan etis, yakni menggapai suatu hasil terbaik, tanpa
merugikan kelompok masyarakat lainnya. Salah satu prinsip moral yang sering
digunakan adalah goldenrules, yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak
memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan.
Dengan begitu, perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral
dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat. 25
Menilik sejarahnya, gerakan CSR modern yang berkembang pesat selama
dua puluh tahun terakhir ini lahir akibat desakan organisasi-organisasi masyarakat
sipil dan jaringannya di tingkat global. Keprihatinan utama yang disuarakan
adalah perilaku korporasi, demi maksimalisasi laba, lazim mempraktekkan caracara yang tidak fair dan tidak etis, dan dalam banyak kasus bahkan dapat
dikategorikan

sebagai

kejahatan

korporasi.

Beberapa

raksasa

korporasi

transnasional sempat merasakan jatuhnya reputasi mereka akibat kampanye dalam


skala global tersebut. 26

25

Sambutan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Seminar Sehari "A Promise of Gold
Rating : Sustainable CSR" Tanggal 23 Agustus 2006, dapat juga diakses dari situs :
http://www.menlh.go.id2/36
26
The Business Watch Indonesia, Desember 2007 3/36

Universitas Sumatera Utara

Hingga dekade 1980-90 an, wacana CSR terus berkembang. Munculnya


KTT Bumi di Rio pada 1992 menegaskan konsep sustainibility development
(pembangunan berkelanjutan) sebagai hal yang mesti diperhatikan, tak hanya oleh
negara, tapi terlebih oleh kalangan korporasi yang kekuatan kapitalnya makin
menggurita. Tekanan KTT Rio, terasa bermakna sewaktu James Collins dan Jerry
Porras meluncurkan Built To Last; Succesful Habits of Visionary Companies di
tahun 1994. Lewat riset yang dilakukan, mereka menunjukkan bahwa perusahaanperusahaan yang terus hidup bukanlah perusahaan yang hanya mencetak
keuntungan semata.
Di Indonesia sendiri, munculnya Undang-Undang No. 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas menandai babak baru pengaturan CSR. Selain itu,
pengaturan tentang CSR juga tercantum di dalam Undang-Undang No. 25 tahun
2007 tentang Penanaman Modal. Walaupun sebenarnya pembahasan mengenai
CSR sudah dimulai jauh sebelum kedua undang-undang tersebut disahkan. Salah
satu pendorong perkembangan CSR yang terjadi di Indonesia adalah pergeseran
paradigma dunia usaha yang tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan
saja, melainkan juga bersikap etis dan berperan dalam penciptaan investasi sosial.
Adapun pengaturan CSR di dalam di dalam Pasal 74 UU No. 40 Tahun
2007, diatur sebagai berikut :
1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan.

Universitas Sumatera Utara

2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan
sebagai

biaya

Perseroan

yang

pelaksanaannya

dilakukan

dengan

memperhatikan kepatutan dan kewajaran.


3. Perseroan yang tidak melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Sedangkan pengaturan di dalam No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman
Modal., yaitu di dalam Pasal 15 huruf b adalah sebagai berikut:Setiap penanam
modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.
Kemudian di dalam Pasal 16 huruf d disebutkan sebagai berikut: Setiap
penanam modal bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Namun demikian, pengaturan CSR di dalam peraturan perundanganundangan Indonesia tersebut masih menciptakan kontroversi dan kritikan.
Kalangan pebisnis CSR dipandang sebagai suatu kegiatan sukarela, sehingga tidak
diperlukan pengaturan di dalam peraturan perundang-undangan. Menurut Ketua
Umum Kadin, Mohammad S. Hidayat, CSR adalah kegiatan di luar kewajiban
perusahaan yang umum dan sudah ditetapkan dalam perundang-undangan formal,
sehingga jika diatur akan bertentangan dengan prinsip kerelaan dan akan
memberikan beban baru kepada dunia usaha

B.

Standard Tanggung Jawab Sosial Korporasi (Corporate Social


Responsibility) di Indonesia.
Pertemuan penting UN Global Compact di Jenewa, Swiss, Kamis, 7 Juli

2007 yang dibuka Sekjen PBB mendapat perhatian media dari berbagai penjuru

Universitas Sumatera Utara

dunia. Pertemuan itu bertujuan meminta perusahaan untuk menunjukkan tanggung


jawab dan perilaku bisnis yang sehat yang dikenal dengan corporate social
responsibility.
Sesungguhnya substansi keberadaan CSR adalah dalam rangka
memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun
kerjasama antar stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan
menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya. Atau dalam
pengertian

kemampuan

perusahaan

untuk

dapat

beradaptasi

dengan

lingkungannya, komunitas dan stakeholder yang terkait dengannya, baik lokal,


nasional, maupun global. Karenanya pengembangan CSR ke depan seyogianya
mengacu pada konsep pembangunan yang berkelanjutan. Prinsip keberlanjutan
mengedepankan pertumbuhan, khususnya bagi masyarakat miskin dalam
mengelola lingkungannya dan kemampuan institusinya dalam mengelola
pembangunan, serta strateginya adalah kemampuan untuk mengintegrasikan
dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial yang menghargai kemajemukan ekologi dan
sosial budaya.
Kemudian dalam proses pengembangannya tiga stakeholder inti
diharapkan mendukung penuh, di antaranya adalah; perusahaan, pemerintah dan
masyarakat. Dalam implementasi program-program CSR, diharapkan ketiga
elemen di atas saling berinteraksi dan mendukung, karenanya dibutuhkan
partisipasi aktif masing-masing stakeholder agar dapat bersinergi, untuk
mewujudkan dialog secara komprehensif. Karena dengan partisipasi aktif para

Universitas Sumatera Utara

stakeholder diharapkan pengambilan keputusan, menjalankan keputusan, dan


pertanggungjawaban dari implementasi CSR akan di emban secara bersama.
CSR sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada
tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan
(corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja.
Tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines. Di sini
bottom lines lainnya selain finansial juga adalah sosial dan lingkungan. Karena
kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara
berkelanjutan (sustainable). Keberlanjutan perusahaan hanya akan terjamin
apabila, perusahaan memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan hidup. Sudah
menjadi fakta bagaimana resistensi masyarakat sekitar, di berbagai tempat dan
waktu muncul ke permukaan terhadap perusahaan yang dianggap tidak
memperhatikan aspek-aspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidupnya.
Pada bulan September 2004, ISO (International Organization for
Standardization) sebagai induk organisasi standarisasi internasional, berinisiatif
mengundang berbagai pihak untuk membentuk tim (working group) yang
membidani lahirnya panduan dan standarisasi untuk tanggung jawab sosial yang
diberi nama ISO 26000: Guidance Standard on Social Responsibility. Pengaturan
untuk kegiatan ISO dalam tanggungjawab sosial terletak pada pemahaman umum
bahwa SR adalah sangat penting untuk kelanjutan suatu organisasi. Pemahaman
tersebut tercermin pada dua sidang, yaitu Rio Earth Summit on the Environment
tahun 1992 dan World Summit on Sustainable Development (WSSD) tahun
2002 yang diselenggarakan di Afrika Selatan.

Universitas Sumatera Utara

Pembentukan ISO 26000 ini diawali ketika pada tahun 2001 badan ISO
meminta ISO on Consumer Policy atau COPOLCO merundingkan penyusunan
standar Corporate Social Responsibility. Selanjutnya badan ISO tersebut
mengadopsi laporan COPOLCO mengenai pembentukan Strategic Advisory
Group on Social Responsibility pada tahun 2002. Pada bulan Juni 2004 diadakan
pre-conference dan conference bagi negaranegara berkembang, selanjutnya di
tahun 2004 bulan Oktober, New York Item Proposal atau NWIP diedarkan kepada
seluruh negara anggota, kemudian dilakukan voting pada bulan Januari 2005,
dimana 29 negara menyatakan setuju, sedangkan 4 negara tidak.
Dalam hal ini terjadi perkembangan dalam penyusunan tersebut, dari
CSR atau Corporate Social Responsibility menjadi SR atau Social Responsibility
saja. Perubahan ini, menurut komite bayangan dari Indonesia, disebabkan karena
pedoman ISO 26000 diperuntukan bukan hanya bagi korporasi tetapi bagi semua
bentuk organisasi, baik swasta maupun publik. ISO 26000 menyediakan standar
pedoman yang bersifat sukarela mengenai tanggung tanggung jawab sosial suatu
institusi yang mencakup semua sektor badan publik ataupun badan privat baik di
negara berkembang maupun negara maju. Dengan Iso 26000 ini akan memberikan
tambahan nilai terhadap aktivitas tanggung jawab sosial yang berkembang saat ini
dengan cara: 1) mengembangkan suatu konsensus terhadap pengertian tanggung
jawab sosial dan isunya; 2) menyediakan pedoman tentang penterjemahan prinsipprinsip menjadi kegiatan-kegiatan yang efektif; dan 3) memilah praktek-praktek
terbaik yang sudah berkembang dan disebarluaskan untuk kebaikan komunitas
atau masyarakat internasional.

Universitas Sumatera Utara

Apabila hendak menganut pemahaman yang digunakan oleh para ahli


yang menggodok ISO 26000 Guidance Standard on Social responsibility yang
secara konsisten mengembangkan tanggung jawab sosial maka masalah SR akan
mencakup 7 (tujuh) isu pokok yaitu : 27
1. Pengembangan Masyarakat
2. Konsumen
3. Praktek Kegiatan Institusi yang Sehat
4. Lingkungan
5. Ketenagakerjaan
6. Hak asasi manusia
7. Organisasi Pemerintahan (Organizational Governance)
ISO 26000 menerjemahkan tanggung jawab sosial sebagai tanggung jawab
suatu organisasi atas dampak dari keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat
dan lingkungan, melalui perilaku yang transparan dan etis, yang : 28
a). Konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat;
b). Memperhatikan kepentingan dari para stakeholder
c). Sesuai hukum yang berlaku dan konsisten dengan norma-norma internasional;
d). Terintegrasi di seluruh aktivitas organisasi, dalam pengertian ini meliputi baik
kegiatan, produk maupun jasa.
Berdasarkan konsep

ISO

26000,

penerapan

sosial

responsibility

hendaknya terintegrasi di seluruh aktivitas organisasi yang mencakup 7 isu pokok


diatas. Dengan demikian jika suatu perusahaan hanya memperhatikan isu tertentu
27
28

Ibid.
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

saja, misalnya suatu perusahaan sangat peduli terhadap isu lingkungan, namun
perusahaan

tersebut

masih

mengiklankan

penerimaan

pegawai

dengan

menyebutkan secara khusus kebutuhan pegawai sesuai dengan gender tertentu,


maka sesuai dengan konsep ISO 26000 perusahaan tersebut sesungguhnya belum
melaksanakan tanggung jawab sosialnya secara utuh. Contoh lain, misalnya suatu
perusahaan memberikan kepedulian terhadap pemasok perusahaan yang tergolong
industri kecil dengan mengeluarkan kebijakan pembayaran transaksi yang lebih
cepat kepada pemasok UKM. Secara logika produk atau jasa tertentu yang
dihasilkan UKM pada skala ekonomi tertentu akan lebih efisien jika dilaksanakan
oleh UKM. Namun UKM biasanya tidak memiliki arus kas yang kuat dan jaminan
yang memadai dalam melakukan pinjaman ke bank, sehingga jika perusahaan
membantu pemasok UKM tersebut, maka bisa dikatakan perusahaan tersebut telah
melaksanakan bagian dari tanggung jawab sosialnya.
Prinsip-prinsip dasar tanggung jawab sosial yang menjadi dasar bagi
pelaksanaan yang menjiwai atau menjadi informasi dalam pembuatan keputusan
dan kegiatan tanggung jawab sosial menurut ISO 26000 meliputi : 29
a). Kepatuhan kepada hukum
b). Menghormati instrumen/badan-badan internasional
c). Menghormati stakeholders dan kepentingannya
d). Akuntabilitas
e). Transparansi
f). Perilaku yang beretika
29

Chrysanti Hasibuan, Sekali Lagi, CSR, 10 November 2006, diakses dari situs :
http://www.swa.co.id

Universitas Sumatera Utara

g). Melakukan tindakan pencegahan


h). Menghormati dasar-dasar hak asasi manusia
Ada empat agenda pokok yang menjadi program kerja tim itu hingga tahun
2008, diantaranya adalah menyiapkan draf kerja tim hingga tahun 2006,
penyusunan draf ISO 26000 hingga Desember 2007, finalisasi draf akhir ISO
26000 diperkirakan pada bulan September 2008 dan seluruh tugas tersebut
diperkirakan rampung pada tahun 2009. Pada pertemuan tim yang ketiga tanggal
15-19 Mei 2006 yang dihadiri 320 orang dari 55 negara dan 26 organisasi
internasional itu, telah disepakati bahwa ISO 26000 ini hanya memuat panduan
(guidelines) saja dan bukan pemenuhan terhadap persyaratan karena ISO 26000
ini memang tidak dirancang sebagai standar sistem manajemen dan tidak
digunakan sebagai standar sertifikasi sebagaimana ISO-ISO lainnya.
Adanya ketidakseragaman dalam penerapan CSR diberbagai negara
menimbulkan adanya kecenderungan yang berbeda dalam proses pelaksanaan
CSR itu sendiri di masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu pedoman umum
dalam penerapan CSR di manca negara. Dengan disusunnya ISO 26000 sebagai
panduan (guideline) atau dijadikan rujukan utama dalam pembuatan pedoman SR
yang berlaku umum, sekaligus menjawab tantangan kebutuhan masyarakat global
termasuk Indonesia.

C.

Manajemen Tanggung Jawab Sosial Korporasi (Corporate Social


Responsibility)
Mempunyai program CSR bukanlah hanya sekedar untuk tunduk pada

tekanan publik dan politik., tetapi pelaksanaan CSR (khususnya yang dikaitkan

Universitas Sumatera Utara

pada Community Development) telah dianggap pula sebagai faktor pendukung


daya saing perusahaan bersangkutan. Seperti terungkap dalam suatu survei di
tahun 1999 terhadap ribuan responden di dunia (23 negara di 6 benua), maka
antara lain :
(a) separuh responden care about the social behaviour of companies
(b) duapertiga responden ingin perusahaan meninggalkan peranan perusahaan
yang hanya menekankan pada: membuat keuntungan, membayar pajak, dan
menggunakan tenaga kerja; mereka minta agar fokus perusahaan adalah juga
bagaimana menyumbang pada tujuan-tujuan masyarakat secara lebih luas
(broader societal goals); dan
(c) perhatian masyarakat sekarang lebih pada corporate citizenship, ketimbang
hanya pada brand reputation dan financial factors.
Di Indonesia sendiri, munculnya Undang-Undang No. 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas menandai babak baru pengaturan CSR. Selain itu,
pengaturan tentang CSR juga tercantum di dalam Undang-Undang No. 25 tahun
2007 tentang Penanaman Modal. Walaupun sebenarnya pembahasan mengenai
CSR sudah dimulai jauh sebelum kedua undang-undang tersebut disahkan. Salah
satu pendorong perkembangan CSR yang terjadi di Indonesia adalah pergeseran
paradigma dunia usaha yang tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan
saja, melainkan juga bersikap etis dan berperan dalam penciptaan investasi sosial.
Adapun pengaturan CSR di dalam di dalam Pasal 74 UU No. 40 Tahun
2007, diatur sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan


dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan.
2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan
sebagai

biaya

Perseroan

yang

pelaksanaannya

dilakukan

dengan

memperhatikan kepatutan dan kewajaran.


3. Perseroan yang tidak melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Ketentuan ini bertujuan untuk tetap menciptakan hubungan Perseroan yang
serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya
masyarakat setempat. Yang dimaksud dengan Perseroan yang menjalankan
kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam adalah Perseroan yang kegiatan
usahanya mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam. Dengan adanya
peraturan mengenai penerapan Tanggung jawab sosial ini, perusahaan yang
tadinya hanya secara sukarela melakukan kegiatan-kegiatan sosial dalam bentuk
apapun, menjadi kewajiban bahkan paksaan karena diatur secara hukum.
Sedangkan pengaturan di dalam No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman
Modal, yaitu di dalam Pasal 15 huruf b adalah sebagai berikut:Setiap penanam
modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Kemudian
di dalam Pasal 16 huruf d disebutkan sebagai berikut: Setiap penanam modal
bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan hidup. Namun demikian,
pengaturan CSR di dalam peraturan perundangan-undangan Indonesia tersebut

Universitas Sumatera Utara

masih menciptakan kontroversi dan kritikan. Di kalangan pebisnis CSR dipandang


sebagai suatu kegiatan sukarela, sehingga tidak diperlukan pengaturannya apalagi
sanksi di dalam peraturan perundang-undangan. Kemudian, CSR adalah kegiatan
di luar kewajiban perusahaan yang umum dan sudah ditetapkan dalam perundangundangan formal, sehingga jika diatur akan bertentangan dengan prinsip kerelaan
dan akan memberikan beban baru kepada dunia usaha.
Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang PT, pada Pasal 74 ayat (2)secara
garis besar mengatur mengenai perlakuan akuntansi atas biaya tanggung jawab
sosial, dimana biaya ini dibebankan sebagai biaya perusahaan. Secara lengkap
ayat (2) menyebutkan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan
kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya
perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan
kewajaran.
Dalam iklim reformasi dan demokrasi di Indonesia sekarang ini,
keterbukaan dan akuntabilitas sangat dipentingkan dan diperhatikan oleh publik.
Peranan pengawasan publik dilakukan melalui LSM (NGO), sebagai organisasi
nir-laba yang pendukungnya menyuarakan berbagai public issues, yang punya
dampak besar pada penyelenggaraan bisnis di indonesia. Perusahaan harus
menyadari bahwa suara LSM ini mempunyai pengaruh besar dan sangat
diperhatikan oleh konsumen perusahaan dan karena itu tidak dapat diabaikan. Isu
bagaimana tenaga kerja mempersepsikan suatu perusahaan juga akan berpengaruh
pada rekrutmen pegawai, memotivasi kerja mereka, dan mengusahakan mereka
tidak pindah ke perusahaan lain. Tenaga ahli yang cakap sekarang juga sudah

Universitas Sumatera Utara

mulai memilih perusahaan yang dinilai baik dari segi kepemimpinannya dalam
melaksanakan CSR (CSR leadership). Karena itu faktor pendukung daya saing
juga harus dilihat dari program CSR yang dijalankan oleh perusahaan.

D.

Tanggung Jawab Sosial Korporasi (Corporate Social Responsibility)


sebagai Gerakan Sosial Perusahaan
Salah satu di antaranya diungkap oleh Jennifer A Zerk yang melukiskan

bahwa gerakan sosial terbesar dalam periode saat ini adalah gerakan CSR yang
memberikan tekanan terhadap multinasional, negara, dan bahkan hukum
internasional yang dipandangnya terlalu banyak mengabaikan, jika tidak mau
dikatakan sangat miskin, dalam memerhatikan persoalan globalisasiIa berkata,
penerimaan terhadap prinsip CSR pada dasarnya bukan terletak pada persoalan
hukum, tetapi lebih pada perlawanan ekonomi dan politik.

30

Tak mengherankan ketika RUU PT disetujui untuk disahkan, yang


menjadi fokus hanya kegiatan usaha di bidang sumber daya alam, seolah kegiatan
usaha di luar itu tidak memberikan dampak sosial, budaya, politik, dan ekonomi.
Seolah kegiatan usaha yang mengambil bahan baku produksi dari alam, seperti
furnitur, kosmetik, dan rokok, tak berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan
sosial budaya ketika begitu banyak perusahaan yang memanfaatkan tenaga kerja
dengan upah yang teramat murah. Yang mengherankan adalah ketika banyak
negara sudah menganggap CSR sebagai bagian yang melekat dari dinamika

30

(Multinationals and Corporate Social Responsibility, Limitations and Opportunities in


International Law, Cambridge Studies in International Law, No 48, Cambridge University Press,
2007).

Universitas Sumatera Utara

korporasi, dunia usaha di Indonesia terus menjerit dan menganggap seolah CSR
sebagai beban, bukan soal tanggung jawab.
Inti persoalan kemudian digeser dari masalah prinsip kehidupan manusia
dan lingkungannya ke persoalan yang bersifat teknis perusahaan, yang berakhir
pada masalah perhitungan antara untung dan rugi. Padahal, CSR berkaitan juga
dengan kelangsungan kehidupan setiap korporasi. Meskipun demikian, patut
dicatat, memahami persoalan dunia usaha di Indonesia memang membutuhkan
pendekatan lebih khusus. Jangan berharap berbicara tentang CSR di belahan Bumi
yang lain akan sama nikmatnya jika berbicara soal yang sama dalam konteks
Indonesia.

31

Di belahan Bumi yang lain, ketika korupsi dibabat habis dan seluruh mata
rantai birokrasi dibereskan dengan memberikan tekanan kepada pemberesan
kelembagaan hukum, reformasi birokrasi, remunerasi, dan reformasi hukum
berjalan, dunia usaha mulai bergerak pasti dan siap bicara soal CSR dalam
konotasi yang pahit sekalipun. Sementara itu, di wilayah Nusantara, pengusaha
harus berhadapan dengan semua urusan yang berkonotasi uang, birokrasi yang
panjang dan melelahkan, kepastian hukum yang masih menjadi angan-angan,
merosotnya daya saing, seretnya kredit dari perbankan, relatif tingginya pajak
badan yang dikenakan negara, dan serentetan masalah lainnya yang membuat
dunia usaha bagaikan hidup segan mati tak hendak.
Dalam situasi seperti itu, sangat masuk akal jika adopsi terhadap semua
prinsip-prinsip yang berlaku di negara yang faktor kelembagaan ekonomi, sosial,

31

Ibid.

Universitas Sumatera Utara

budaya, hukum, dan politiknya sudah tertata dengan baik menjadi tak dapat
bekerja dengan baik ketika dicoba untuk diterapkan di Indonesia. Masalahnya
tidak terletak pada adanya UU PT yang baru, tetapi lebih terletak pada bagaimana
pemerintah memberikan ruang yang luas pada kenyamanan berusaha dengan
memerhatikan faktor kelembagaan sebagai faktor yang dominan sebelum adopsi
terhadap konsep apa pun hendak dijalankan. Bantahan terhadap kelemahan ini
dapat dilakukan, tetapi tetap saja akan sia-sia.

E.

Kaitan Tanggung

Jawab Sosial Korporasi (Corporate Social

Responsibility) dengan bidang hukum lainnya.


Di Indonesia sendiri, munculnya Undang-Undang No. 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas menandai babak baru pengaturan CSR. Selain itu,
pengaturan tentang CSR juga tercantum di dalam Undang-Undang No. 25 tahun
2007 tentang Penanaman Modal. Walaupun sebenarnya pembahasan mengenai
CSR sudah dimulai jauh sebelum kedua undang-undang tersebut disahkan. Salah
satu pendorong perkembangan CSR yang terjadi di Indonesia adalah pergeseran
paradigma dunia usaha yang tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan
saja, melainkan juga bersikap etis dan berperan dalam penciptaan investasi sosial.
Adapun pengaturan CSR di dalam di dalam Pasal 74 UU No. 40 Tahun
2007, diatur sebagai berikut :
1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan.

Universitas Sumatera Utara

2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan
sebagai

biaya

Perseroan

yang

pelaksanaannya

dilakukan

dengan

memperhatikan kepatutan dan kewajaran.


3. Perseroan yang tidak melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat
(1)

dikenai

sanksi

sesuai

dengan

ketentuan

perundang-undangan.

Sedangkan pengaturan di dalam No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman


Modal, yaitu di dalam Pasal 15 huruf b adalah sebagai berikut:Setiap
penanam

modal

berkewajiban

melaksanakan

tanggung

jawab

sosial

perusahaan. Kemudian di dalam Pasal 16 huruf d disebutkan sebagai berikut:


Setiap penanam modal bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan
hidup.
Namun demikian, pengaturan CSR di dalam peraturan perundanganundangan Indonesia tersebut masih menciptakan kontroversi dan kritikan. Di
kalangan pebisnis CSR dipandang sebagai suatu kegiatan sukarela, sehingga tidak
diperlukan pengaturannya apalagi sanksi di dalam peraturan perundang-undangan.
Kemudian, CSR adalah kegiatan di luar kewajiban perusahaan yang umum dan
sudah ditetapkan dalam perundang-undangan formal, sehingga jika diatur akan
bertentangan dengan prinsip kerelaan dan akan memberikan beban baru kepada
dunia usaha.
Dalam iklim reformasi dan demokrasi di Indonesia sekarang ini,
keterbukaan dan akuntabilitas sangat dipentingkan dan diperhatikan oleh publik.
Peranan pengawasan publik dilakukan melalui LSM (NGO), sebagai organisasi

Universitas Sumatera Utara

nir-laba yang pendukungnya menyuarakan berbagai public issues, yang punya


dampak besar pada penyelenggaraan bisnis di indonesia. Perusahaan harus
menyadari bahwa suara LSM ini mempunyai pengaruh besar dan sangat
diperhatikan oleh konsumen perusahaan dan karena itu tidak dapat diabaikan. Isu
bagaimana tenaga kerja mempersepsikan suatu perusahaan juga akan berpengaruh
pada rekrutmen pegawai, memotivasi kerja mereka, dan mengusahakan mereka
tidak pindah ke perusahaan lain. Tenaga ahli yang cakap sekarang juga sudah
mulai memilih perusahaan yang dinilai baik dari segi kepemimpinannya dalam
melaksanakan CSR (CSR leadership). Karena itu faktor pendukung daya saing
juga harus dilihat dari program CSR yang dijalankan oleh perusahaan.
Konsep CRS pada dasarnya erat kaitannya Global Compact yang digulirkan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (tahun 1999) dan dokumen PBB tentang
tanggung jawab perusahaan (transnational) terhadap HAM (disahkan dalam tahun
2003). Bersama-sama dengan sepuluh asas Global Compact (GC), maka konsep
Corporate Social Responsibilities (CSR) sudah merupakan bagian pedoman
melaksanakan Good Corporate Governance (GCG). Sekarang, masalah etika
bisnis dan akuntabilitas bisnis makin mendapat perhatian masyarakat di beberapa
negara maju, yang biasanya sangat liberal dalam menghadapi perusahaanperusahaannya, mulai terdengar suara bahwa karena self-regulation terlihat
gagal, maka diperlukan peraturan (undang-undang) baru yang akan memberikan
higher standards for corporate pratice dan tougher penalties for executive
misconduct.

Universitas Sumatera Utara

GC terdiri dari sepuluh asas: dua di bidang HAM, empat di bidang standar
tenaga kerja , tiga di bidang lingkungan hidup, dan satu di bidang anti-korupsi.
Asas-asas dalam GC ini dapat ditemukan pula dalam berbagai peraturan
perundang-undangan kita, khususnya mengenai ketenagakerjaan, perlindungan
lingkungan hidup, dan pemberantasan korupsi. Tentang HAM kita tentu merujuk
kepada HAM dan Konstitusi (UUD 1945) kita yang mempunyai Bab XA tentang
HAM (Pasal 28 A s/d Pasal 28J - Perubahan II tahun 2002). Sebagaimana
diketahui, GC merupakan nilai-nilai yang mempedomani CSR. Dua dari sepuluh
asas dalam GC secara langsung merujuk pada penghormatan HAM sebagaimana
diakui oleh dunia internasional. Dasar internasional tentang HAM adalah
Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Indonesia menghormati UDHR
dan telah memasukkan sebagian asas-asas tersebut dalam konstitusi (UUD 1945
yang telah diamandemen). Meskipun memang pada dasarnya negara yang
bertanggung jawab tentang penegakan HAM ini, tetapi peranan perusahaan juga
tidak kecil dalam turut serta menghormati HAM. Karena GC merupakan pedoman
bagi CSR dan GC merujuk pada penghormatan HAM, maka pelaksanaan CSR
oleh perusahaan berarti pula kewajiban perusahaan untuk menghormati
perlindungan HAM di Indonesia. Ketidaktaatan perusahaan melindungi HAM di
Indonesia, terutama yang tertuang dalam konstitusi, akan merupakan pelanggaran
serius dari perusahaan bersangkutan.
Namun, dalam kenyataan tidaklah mudah untuk menentukan pelanggaran
HAM. Belum ada indikasi yang standard mengenai apakah sebuah perusahaan
telah melakukan pelanggaran atau tidak. Indikasi pelanggaran hanya mungkin

Universitas Sumatera Utara

dilakukan cases by cases, itupun dengan kajian yang rumit dan makan waktu yang
sangat panjang, seperti ketika perusahan mengeluarkan kebijakan yang tidak
berpihak pada buruh, misalnya masalah gaji yang masih dibawah UMR, belum
memadainya jaminan kesehatan (health insurance) kepada para buruh, masalah
lembur, jam kerja, PHK dan sebagainya. Kemudian ketika satuan pengamanan
perusahaan (security) yang tidak cooperative dalam menyikapi demonstrasi kaum
buruh, sepert melakukan tindakan-tindakan (misalnya mulai dari menggeledah
badan buruh sampai dengan menghalau demontrasi buruh).
Tindakan-tindakan seperti tersebut di atas pada dasarnya dapat diindikasikan
sebagai pelanggaran HAM, yang dengan sendirinya akan menyebabkan
perusahaan harus bertanggung jawab baik secara gugatan sipil (civil liability),
maupun dakwaan kriminal (criminal liability). Hal ini juga sesuai dengan asas
Global Compact yang meminta that businesses should make sure that they are
not complicit in human right abuses, berarti bahwa suatu perusahaan harus
memastikan bahwa mereka tidak terlibat dalam melakukan pengeksploitasian dan
pelanggaran terhadap hak asasi manusia.
Kajian berikutnya mengenai indikasi pelanggaran HAM oleh perusahaan
adalah apabila perusahaan tidak mengelola limbah dengan baik sehingga
menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Banyak kasus-kasus yang
terjadi di Indonesia yang memenuhi indikasi ke arah itu. Sebut saja, Kasus PT.
Lapindo Brantas yang tidak saja membuat berhentinya denyut nadi kehidupan
rakyat Sidoarjo, tapi juga telah meluluhlantakkan lingkungan di sekitarnya.
Kemudian kasus PT. Freefort yang telah melongsorkan sungai Wanagon yang

Universitas Sumatera Utara

tentunya mengorbankan rakyat dan lingkungan. Kasus-kasus ini adalah


pelanggaran

HAM

dan

perusahaan

yag

bersangkutan

dapat

dimintai

pertanggungjawaban berdasarkan prinsip corporate liability dan strict liability.


Untuk kedua kasus ini perusahaan dapat dikategorikan telah melanggar apa yang
diatur dalam Pasal 5 ayat (1) UU No. 23 Tahun 1997 yang mengatur, bahwa
setiap orang berhak akan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Kata-kata setiap
orang, ini adalah semua orang tanpa kecuali. Sedangkan kata-kata berhak ini
merupakan hak dalam konotasi subjektif sebagaimana dalam wacana hak asasi.
Pelanggaran terhadap hak asasi tentu saja dapat diperjuangkan, baik melalui jalur
litigasi maupun non litigasi. Akhirnya, CSR sangat bermanfaat untuk
meningkatkan tanggung jawab perusahaan, tidak hanya tanggung jawab secara
internal, tetapi terlebih tanggung jawab secara eksternal terhadap masyarakat dan
lingkungan sekitarnya. Dengan adanya tanggung jawab ini, maka perusahaan
tentunya akan mempertimbangkan berbagai kepentingan.

Universitas Sumatera Utara