Anda di halaman 1dari 46

REFERAT

TRAUMA TUMPUL ABDOMEN


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di
Bagian Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah Embung Fatimah

Diajukan Kepada :
dr. Indriasari Sp. Rad
Disusun oleh :
Rafika 61111008
RUMAH SAKIT UMUM EMBUNG FATIMAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
2016

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Trauma Tumpul Abdomen sebagai
rangkaian kegiatan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Radiologi Rumah sakit Umum Daerah
Embung Fatimah Kota Batam
Dengan ketulusan hati penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih
kepada dr.Indrisari Sp.Rad selaku pembimbing, serta teman- teman seperjuangan yang telah
banyak membantu terselesaikannya referat ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini tentu tidak terlepas dari kekurangan
karena keterbatasan waktu, tenaga, dan pengetahuan penulis. Maka sangat diperlukan masukan
dan saran yang membangun. Semoga referat ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Batam, oktober 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................ii
BAB. I PENDAHULUAN.........................................................................................1
Latar Belakang....................................................................................................1
Tujan Penulisan....................................................................................................2
Manfaat Penulisan................................................................................................2
BAB. II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................3
Anatomi Abdomen..............................................................................................3
Trauma.................................................................................................................10
Trauma Tumpul Abdomen...................................................................................10
Pemeriksaan Radiologi Pada Trauma Tumpul Abdomen.. 19
BAB III KESIMPULAN. 44
BAB IV DAFTAR PUSTAKA 46

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Trauma adalah penyebab kematian terbanyak pada anak berusia di atas 1 tahun dan
memiliki presentase sebesar 60% dari kematian masa kanak-kanak. Sembilan puluh persen
dari penyebab trauma tersebut adalah trauma tumpul. Selain kepala dan ekstremitas,
abdomen merupakan salah satu regio anatomi yang sering terkena trauma pada anak-anak
dan menempati urutan ketiga. Trauma abdomen memiliki hubungan yang signifikan dengan
morbiditas dan memiliki laju mortalitas setinggi 8,5%. Pada intraperitoneal, trauma tumpul
abdomen paling sering menciderai organ limpa (40-50%), hati (35-45%), dan usus halus (510%). Sedangkan pada retroperitoneal, organ yang paling sering cedera adalah ginjal, dan
organ yang paling jarang cedera adalah pancreas dan ureter.
Trauma tumpul meliputi benturan langsung, pukulan, kompresi, dan deselerasi
(cedera perlambatan). Dapat juga terjadi counter coup, yaitu trauma tumpul yang berat, tidak
ada luka di luar, tapi ada jejas organ di visera akibat desakan luka atau organ viscera. Trauma
intra abdomen karena hantaman sering dikaitkan dengan faktor tumbukan antara orang yang
cedera dan kondisi di luar tubuh individu tersebut, serta kekuatan akselerasi dan deselerasi
yang bekerja terhadap organ dalam abdomen. Cedera struktur intraabdomen dapat
diklasifikasikan ke dalam 2 mekanisme utama, yaitu tenaga kompresi (hantaman) dan tenaga
deselerasi. Tenaga kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa hantaman
langsung atau kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi. Hal yang sering terjadi
hantaman menyebabkan sobek dan hematom subkapsular pada organ padat visera. Hantaman
juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen pada organ berongga dan
menyebabkan ruptur.
Deteksi awal dan penanganan yang tepat pada trauma abdomen anak merupakan hal
yang sangat penting. Pencitraan memiliki peran yang penting dalam pendeteksian awal
adanya abdominal trauma. Mekanisme terjadinya trauma bersama dengan susunan anatomi
dan perbedaan struktur penyusun organ di dalam abdomen anak dapat menyebabkan trauma
multiorgan yang mungkin akan sulit dilihat dalam pencitraannya. Apalagi respon tubuh anak
terhadap trauma berbeda dengan orang dewasa. Mereka cenderung lebih bisa
mempertahankan tekanan darah normal meskipun tubuh sedang dalam keadaan kehilangan

darah yang cukup banyak. Hal inilah yang dapat menyebabkan kesalahan dalam menilai
beratnya trauma pada anak bila hanya dilihat dari pemeriksaan fisik dan tanda vital tubuhnya
saja.
Strategi pencitraan terbaik untuk menunjang diagnosis trauma abdomen anak masih
dalam penelitian. Focused Assesment with Sonography for Trauma (FAST) merupakan salah
satu cara yang sangat mungkin untuk dilakukan. Meskipun sensitivitas untuk laserasi
parenkim masih 30-60%, sensitivitas untuk mendeteksi adanya cairan bebas sudah sangat
tinggi, yaitu mendekati 99%. Computed Tomography (CT) terbukti merupakan alat yang
paling terpercaya untuk mendeteksi trauma abdomen pada anak, dengan sensitivitas dan
spesivitas yang tinggi pada hemoperitoneum dan perdarahan aktif, serta laserasi organ-organ
dalam.
B. TUJUAN
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui akurasi langkah-langkah pencitraan
pada anak dengan trauma tumpul abdomen sehingga diharapkan dapat membantu dalam
pemahaman teori dan dijadikan sebagai acuan dalam praktek sebagai dokter umum.
C. MANFAAT
Penulisan referat ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para tenaga kesehatan dan
khususnya bagi penulis sendiri untuk dijadikan acuan bila menemukan kasus-kasus yang
berhubungan dengan trauma abdomen

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Abdomen
Abdomen dapat didefinisikan sebagai daerah tubuh yang terletak antara diaphragma di
bagian atas dan pintu masuk pelvis dibagian bawah. Untuk kepentingan klinik, biasanya abdomen
dibagi dalam sembilan regio oleh dua garis vertikal, dan dua garis horizontal. Masing-masing garis
vertikal melalui pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan symphisis pubis. Garis

horizontal yang atas merupakan bidang subcostalis, yang mana menghubungkan titik terbawah
pinggir costa satu sama lain. Garis horizontal yang bawah merupakan bidang intertubercularis,
yang menghubungkan tuberculum pada crista iliaca. Bidang ini terletak setinggi corpus vertebrae
lumbalis V (Snell, 2006)..
Pembagian regio pada abdomen yaitu : pada abdomen bagian atas : regio hypochondrium
kanan, regio epigastrium dan regio hypocondrium kiri. Pada abdomen bagian tengah : regio
lumbalis kanan, regio umbilicalis dan regio lumbalis kiri. Pada abdomen bagian bawah : regio
iliaca kanan, regio hypogastrium dan regio iliaca kiri (Snell, 2006).
Sedangkan pembagian abdomen juga dipermudah menjadi empat kuadran dengan
menggunakan satu garis vertikal dan satu garis horisontal yang saling berpotongan pada umbilicus.
Kuadran tersebut adalah kuadran kanan atas, kuadran kiri atas, kuadran kanan bawah dan kuadran
kiri bawah (Snell, 2006).
Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Di bagian
belakang, struktur ini melekat pada tulang belakang, di sebelah atas pada iga, dan di bagian bawah
pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri atas beberapa lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis
kulit yang terdiri dari kutis dan subkutis; lemak subkutan dan fasia superfisial (fasia Scarpa);
kemudian ketiga otot dinding perut, m. oblikus abdominis eksternus, m. oblikus abdominis
internus, dan m. tranversus abdominis; dan akhirnya lapisan preperitoneal, dan peritoneum. Otot di
bagian depan terdiri atas sepasang otot rektus abdominis dengan fasianya yang di garis tengah
dipisahkan oleh linea alba (Snell, 2006).
Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. Perdarahan dinding
perut berasal dari beberapa arah. Dari kranikaudal diperoleh pendarahan dari cabang
aa.interkostales VI s/d XII dan a.epigastrika superior. Dari kaudal, a.iliaka sirkumfleksa
superfisialis, a.pudenda eksterna, dan a.epigastrica inferior. Kekayaan vaskularisasi ini
memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan
pendarahan. Persarafan dinding perut dilayani secara segmental oleh n.torakalis VI s/d XII dan
n.lumbalis I (Snell, 2006).
Rongga perut (cavitas abdominalis) dibatasi oleh membran serosa yang tipis mengkilap
yang juga melipat untuk meliputi organ-organ di dalam rongga abdominal. Lapisan membran yang
membatasi dinding abdomen dinamakan peritoneum parietale, sedangkan bagian yang meliputi
organ dinamakan peritoneum viscerale. Di sekitar dan sekeliling organ ada lapisan ganda
peritoneum yang membatasi dan menyangga organ, menjaganya agar tetap berada di tempatnya,

serta membawa pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf. Bagian-bagian peritoneum sekitar
masing-masing organ diberi nama-nama khusus (Snell, 2006).
Mesenterium ialah bangunan peritoneal yang berlapis ganda, bentuknya seperti kipas,
pangkalnya melekat pada dinding belakang perut dan ujungnya yang mengembang melekat pada
usus halus. Di antara dua lapisan membran yang membentuk mesenterium terdapat pembuluh
darah, saraf dan bangunan lainnya yang memasok usus. Bagian mesenterium di sekitar usus besar
dinamakan mesokolon. Lapisan ganda peritoneum yang berisi lemak, menggantung seperti
celemek di sebelah atas depan usus bernama omentum majus. Bangunan ini memanjang dari tepi
lambung sebelah bawah ke dalam bagian pelvik abdomen dan kemudian melipat kembali dan
melekat pada colon tranversum. Ada juga membran yang lebih kecil bernama omentum minus
yang terentang antara lambung dan liver.
Organ dalam rongga abdomen dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Organ Intraperitoneal
1. Hati
Merupakan kelenjar terbesar dan mempunyai tiga fungsi dasar, yaitu : (1) pembentukan
dan sekresi empedu yang dimasukkan ke dalam usus halus; (2) berperan pada aktivitas
metabolisme yang berhubungan dengan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein; (3)
menyaring darah untuk membuang bakteri dan benda asing lain yang masuk dalam darah dari
lumen usus.
Hati bersifat lunak dan lentur dan menduduki regio hypochondrium kanan, meluas
sampai regio epigastrium. Permukaan atas hati cembung melengkung pada permukaan bawah
diaphragma. Permukaan postero-inferior atau permukaan viseral membentuk cetakan visera yang
berdekatan, permukaan ini berhubungan dengan pars abdominalis oesophagus, lambung,
duodenum, flexura coli dextra, ginjal kanan, kelenjar suprarenalis, dan kandung empedu.
Dibagi dalam lobus kanan yang besar dan lobus kiri yang kecil, yang dipisahkan oleh perlekatan
peritonium ligamentum falciforme. Lobus kanan terbagi menjadi lobus quadratus dan lobus
caudatus oleh adanya kandung empedu, fissura untuk ligamentum teres hepatis, vena cava inferior,
dan fissura untuk ligamentum venosum. Porta hepatis atau hilus hati ditemukan pada permukaan
postero-inferior dengan bagian atas ujung bebas omentum majus melekat pada pinggirnya. Hati
dikelilingi oleh capsula fibrosa yang membentuk lobulus hati. Pada ruang antara lobulus-lobulus
terdapat saluran portal, yang mengandung cabang arteri hepatica, vena porta, dan saluran empedu
(segitiga portal) (Snell, 2006).
2. Limpa

Merupakan massa jaringan limfoid tunggal yang terbesar dan umumnya berbentuk oval, dan
berwarna kemerahan. Terletak pada regio hypochondrium kiri, dengan sumbu panjangnya terletak
sepanjang iga X dan kutub bawahnya berjalan ke depan sampai linea axillaris media, dan tidak
dapat diraba pada pemeriksaan fisik. Batas anterior limpa adalah lambung, cauda pankreas, flexura
coli sinistra. Batas posterior pada diaphragma, pleura kiri ( recessus costodiaphragmatica kiri ),
paru kiri, costa IX, X, dan XI kiri (Snell, 2006).
3. Lambung
Merupakan bagian saluran pencernaan yang melebar dan mempunyai 3 fungsi utama: (1)
menyimpan makanan dengan kapasitas 1500 ml pada orang dewasa; (2) mencampur makanan
dengan getah lambung untuk membentuk kimus yang setengah padat, dan (3) mengatur kecepatan
pengiriman kimus ke usus halus sehingga pencernaan dan absorbsi yang efisien dapat berlangsung.
Lambung terletak pada bagian atas abdomen, dari regio hipochondrium kiri sampai regio
epigastrium dan regio umbilikalis. Sebagian besar lambung terletak di bawah iga-iga bagian
bawah. Batas anterior lambung adalah dinding anterior abdomen, arcus costa kiri, pleura dan paru
kiri, diaphragma, dan lobus kiri hati. Sedangkan batas posterior lambung adalah bursa omentalis,
diaphragma, limpa, kelenjar suprarenal kiri, bagian atas ginjal kiri, arteri lienalis, pankreas,
mesocolon tranversum, dan colon tranversum. Secara kasar lambung berbentuk huruf J dan
mempunyai dua lubang, ostium cardiacum dan ostium pyloricum, dua curvatura yang disebut
curvatura mayor dan minor, serta dua permukaan anterior dan posterior. Lambung dibagi menjadi
fundus, corpus dan antrum. Fundus berbentuk kubah dan menonjol ke atas terletak di sebelah kiri
ostium cardiacum. Biasanya fundus terisi gas. Sedangkan corpus adalah badan dari lambung.
Antrum merupakan bagian bawah dari lambung yang berbentuk seperti tabung. Dinding ototnya
membentuk sphincter pyloricum, yang berfungsi mengatur kecepatan pengeluaran isi lambung ke
duodenum.
Membran mukosa lambung tebal dan memiliki banyak pembuluh darah yang terdiri dari
banyak lipatan atau rugae. Dinding otot lambung mengandung serabut longitudinal, serabut
sirkular dan serabut oblik. Serabut longitudinal terletak paling superficial dan paling banyak
sepanjang curvatura, serabut sirkular yang lebih dalam mengelilingi fundus lambung,dan menebal
pada pylorus untuk membentuk sphincter pyloricum. Sedangkan serabut oblik membentuk lapisan
otot yang paling dalam, mengelilingi fundus berjalan sepanjang anterior dan posterior (Snell,
2006).
4. Kandung empedu (Vesica Fellia)

Vesica Fellia adalah kantong seperti buah pear yang terletak pada permukaan viseral hati.
Secara umum dibagi menjadi tiga bagian yaitu : fundus, corpus dan collum. Fundus berbentuk
bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir inferior hati; dimana fundus berhubungan dengan
dinding anterior abdomen setinggi ujung rawan costa IX kanan. Corpus bersentuhan dengan
permukaan viseral hati dana arahnya keatas, belakang dan kiri. Sedangkan collum dilanjutkan
sebagai ductus cysticus yang berjalan dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan
ductus hepaticus communis membentuk ductus choledochus. Batas anterior vesica fellia pada
dinding anterior abdomen dan bagian pertama dan kedua duodenum. Batas posterior pada colon
tranversum dan bagian pertama dan kedua duodenum.
Vesica Fellia berperan sebagai reservoir empedu dengan kapasitas 50 ml. Vesica Fellia
mempunyai kemampuan memekatkan empedu. Untuk membantu proses ini, maka mukosanya
mempunyai lipatan-lipatan permanen yang satu sama lain saling berhubungan seperti sarang
tawon. Empedu dialirkan ke duodenum sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung
empedu. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak ke dalam duodenum . lemak
menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum; hormon kemudian
masuk ke dalam darah menyebabkan kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang sama otot
polos yang terletak pada ujung distal ductus choledochus dan ampula relaksasi sehingga
memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum. Garam-garam empedu dalam
cairan empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan serta
absorbsi lemak (Snell, 2006).
5. Usus halus
Usus halus merupakan bagian pencernaan yang paling panjang, dibagi menjadi 3 bagian :
duodenum, jejunum, dan ileum. Fungsi utama usus halus adalah pencernaan dan absorpsi hasilhasil pencernaan.
Duodenum berbentuk huruf C yang panjangnya sekitar 25 cm, melengkung sekitar caput
pankreas, dan menghubungkan lambung dengan jejunum. Di dalam duodenum terdapat muara
saluran empedu dan saluran pankreas. Sebagian duodenum diliputi peritonium, dan sisanya
terletak retroperitonial. Duodenum terletak pada regio epigastrium dan regio umbilikalis. Dibagi
menjadi 4 bagian :
1. Bagian pertama duodenum.
Panjangnya 5 cm, mulai pada pylorus dan berjalan keatas dan ke belakang pada sisi kanan
vertebra lumbalis pertama. Bagian ini terletak pada bidang transpilorica. Batas anterior pada lobus
quadratus hati dan kandung empedu. Batas posterior pada bursa omentalis ( 2,5 cm pertama), arteri

gastroduodenalis, ductus choledochus dan vena porta, serta vena cava inferior. Batas superior pada
foramen epiploicum Winslow dan batas inferior pada caput pankreas.
2. Bagian kedua duodenum
Panjangnya 8 cm, berjalan ke bawah di depan hilus ginjal kanan di sebelah vertebra lumbalis
kedua dan ketiga. Batas anterior pada fundus kandung empedu dan lobus kanan hati, colon
tranversum, dan lekukan- lekukan usus halus. Batas posterior pada hilus ginjal kanan dan ureter
kanan. Batas lateral pada colon ascenden, flexura coli dextra, dan lobus kanan hati. Batas medial
pada caput pancreas.
3. Bagian ketiga duodenum
Panjangnya 8 cm, berjalan horisontal ke kiri pada bidang subcostalis, mengikuti pinggir
bawah caput pankreas. Batas anterior pada pangkal mesenterium usus halus, dan lekukan-lekukan
jejunum. Batas posterior pada ureter kanan, muskulus psoas kanan, vena cava inferior, dan aorta.
Batas superior pada caput pankreas, dan batas inferior pada lekukan-lekukan jejunum.
4. Bagian keempat duodenum
Panjangnya 5 cm, berjalan ke atas dan kiri, kemudian memutar ke depan pada perbatasan
duodenum dan jejunum. Terdapat ligamentum Treitz yang menahan junctura duodeno-jejunalis.
Batas anterior pada permulaan pangkal mesenterium dan lekukan-lekukan jejunum. Batas
posterior pada pinggir kiri aorta dan pinggir medial muskulus psoas kiri (Snell, 2006).
6. Usus besar
Usus besar dibagi dalam caecum, appendix vermiformis, colon ascenden, colon tranversum,
colon descenden, dan colon sigmoideum, rectum dan anus. Fungsi utama usus besar adalah
absorpsi air dan elektrolit dan menyimpan bahan yang tidak dicernakan sampai dapat dikeluarkan
dari tubuh sebagai feses.
b. Organ Retroperitoneal
1. Ginjal
Berperan penting dalam mengatur keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh dan
mempertahankan keseimbangan asam basa darah. Kedua ginjal berfungsi mengekskresi sebagian
besar zat sampah metabolisme dalam bentuk urin. Ginjal berwarna coklat-kemerahan, terletak
tinggi pada dinding posterior abdomen, sebagian besar ditutupi oleh tulang iga. Ginjal kanan
terletak lebih rendah dibanding ginjal kiri, dikarenakan adanya lobus kanan hati yang besar.
Ginjal dikelilingi oleh capsula fibrosa yang melekat erat dengan cortex ginjal. Di luar capsula
fibrosa terdapat jaringan lemak yang disebut lemak perirenal. Fascia renalis mengelilingi lemak

perirenal dan meliputi ginjal dan kelenjar suprarenalis. Fascia renalis merupakan kondensasi
jaringan areolar, yang di lateral melanjutkan diri sebagai fascia tranversus. Di belakang fascia
renalis terdapat banyak lemak yang disebut lemak pararenal.
Batas anterior ginjal kanan pada kelenjar suprarenalis, hati, bagian kedua duodenum, flexura
coli dextra. Batas posterior pada diaphragma, recessus costodiaphragmatica pleura, costa XII, m.
Psoas, m. Quadratus lumborum, dan m. Tranversus abdominis. Pada ginjal kiri, batas anterior
pada kelenjar suprarenalis, limpa, lambung, pankreas, flexura coli kiri, dan lekukan-lekukan
jejunum. Batas posterior pada diaphragma, recessus costodiaphragmatica pleura, costa XI, XII, m.
Psoas, m. Quadratus lumborum, dan m. Tranversus abdominis (Snell, 2006).
2. Ureter
Mengalirkan urin dari ginjal ke vesica urinaria, dengan didorong sepanjang ureter oleh
kontraksi peristaltik selubung otot, dibantu tekanan filtrasi glomerulus. Panjang ureter 25 cm dan
memiliki tiga penyempitan : (1) di mana piala ginjal berhubungan dengan ureter;(2) waktu ureter
menjadi kaku ketika melewati pinggir pelvis;(3) waktu ureter menembus dinding vesica urinaria.
Ureter keluar dari hilus ginjal dan berjalan vertikal ke bawah di belakang peritonium parietal pada
m. Psoas, memisahkannya dari ujung processus tranversus vertebra lumbalis. Ureter masuk ke
pelvis dengan menyilang bifurcatio a. Iliaca comunis di depan articulatio sacroiliaca, kemudian
berjalan ke bawah pada dinding lateral pelvis menuju regio ischiospinalis dan memutar menuju
angulus lateral vesica urinaria. Pada ureter kanan, batas anterior pada duodenum, bagian terminal
ileum, av. Colica dextra, av. Iliocolica, av. Testicularis atau ovarica dextra, dan pangkal
mesenterium usus halus. Batas posterior pada m. Psoas dextra. Batas anterior ginjal kiri pada colon
sigmoideum, mesocolon sigmoideum, av. Colica sinistra, dan av. Testicularis atau ovarica sinistra.
Batas posterior pada m. Psoas sinistra (Snell, 2006).
3. Pankreas
Merupakan kelenjer eksokrin dan endokrin, organ lunak berlobus yang terletak pada dinding
posterior abdomen di belakang peritonium. Bagian eksokrin kelenjer menghasilkan sekret yang
mengandung enzim yang dapat menghidrolisis protein, lemak, dan karbohirat. Bagian endokrin
kelenjer, yaitu pulau langerhans, menghasilkan hormon insulin dan glukagon yang berperan
penting

dalam

metabolisme

karbohidrat.

Pankreas

menyilang

bidang

transpilorica.

Dibagi menjadi empat bagian, yaitu : (1) caput pankreas berbentuki seperti cakram, terletak pada
bagian cekung duodenum. Sebagian caput meluas ke kiri di belakang av. Mesenterica superior dan

dinamakan processus uncinatus; (2) collum pancreas merupakan bagian yang mengecil dan
menghubungkan caput dengan corpus pankreas. Terletak di depan pangkal vena porta dan pangkal
arteri mesenterica superior dari aorta; (3) corpus berjalan ke atas dan kiri menyilang garis tengah;
(4) cauda berjalan menuju ke ligamentum lienorenalis dan berhubungan dengan hilus limpa.
Batas anterior pankreas dari kanan ke kiri : colon tranversum, perlekatan mesocolon
tranversum, bursa omentalis, dan lambung. Sedangkan batas posterior pankreas dari kanan ke kiri :
ductus choledochus, vena porta, vena lienalis, vena cava inferior, aorta, pangkal arteri mesenterica
superior, m. Psoas kiri, kelenjer suprarenalis kiri, ginjal kiri, dan hilus limpa (Snell, 2006).
B. Trauma
Trauma adalah sebuah mekanisme yang disengaja ataupun tidak disengaja sehingga
menyebabkan luka (Amro, 2006). Trauma pada abdomen terbagi berdasarkan kejadian, yaitu
trauma tumpul dan trauma tembus (Srivathsan, 2009).
Pada trauma tembus perbedaan antara benda-benda berkecepatan tinggi dan rendah
mempunyai arti penting. Luka kecepatan rendah yang biasa terjadi ialah pada penikaman
dengan senjata tajam. Proses penikaman dapat dibedakan menjadi dua macam berdasarkan
energinya, yaitu tikaman dengan energi kinetik rendah dan energi kinetik tinggi. Pada tikaman
dengan energi kinetik yang rendah, korban sering dapat melihat datangnya dan mengelak pada
saat tikaman tersebut terjadi. Dengan demikian, penetrasi rongga perut yang dalam jarang
terjadi. Tikaman dengan energi kinetik yang tinggi dipakai dengan maksud terang-terangan
membunuh. Luka-luka tersebut menembus dalam dan sering kompleks. Peluru berkecepatan
tinggi dari pistol atau pecahan-pecahan granat yang meledak dapat menembus dalam dan
mengikuti jalan yang aneh, secara luas merusak segala sesuatu atau apa saja di sekitar
lintasannya (Dudley, 1992).
Trauma tumpul meliputi benturan langsung, pukulan, kompresi, dan deselerasi (cedera
perlambatan). Dapat juga terjadi counter coup, yaitu trauma tumpul yang berat, tidak ada luka
di luar, tapi ada jejas organ di visera akibat desakan luka atau organ viscera. Trauma intra
abdomen karena hantaman sering dikaitkan dengan faktor tumbukan antara orang yang cedera
dan kondisi di luar tubuh individu tersebut, serta kekuatan akselerasi dan deselerasi yang
bekerja terhadap organ dalam abdomen.
Pada penderita ini mengalami trauma dalam kecelakaan bis dikarenakan benturan
langsung dan proses kompresi akibat himpitan kursi. Bagian tubuh penderita yang terhimpit

adalah bagian perut hingga kaki serta tangan kanan. Himpitan meninggalkan jejas dan
menyebabkan tangan kanan serta kaki penderita terasa lemah untuk digerakkan.
C. Trauma Tumpul Abdomen
1. Mekanisme
Trauma yang didapat dari kecelakaan menjadi penyebab terbanyak dari trauma abdomen.
Kecelakaan mobil dengan mobil dan antara mobil dengan pejalan kaki menduduki 50-75%
dari keseluruhan kasus trauma tumpul abdomen (Udeani & Steinberg,2011).
Cedera struktur intraabdomen dapat diklasifikasikan ke dalam 2 mekanisme utama, yaitu
tenaga kompresi (hantaman) dan tenaga deselerasi. Tenaga kompresi (compression or
concussive forces) dapat berupa hantaman langsung atau kompresi eksternal terhadap objek
yang terfiksasi. Hal yang sering terjadi hantaman menyebabkan sobek dan hematom
subkapsular pada organ padat visera. Hantaman juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen pada organ berongga dan menyebabkan ruptur (Salomone & Salomone,2011).
Tenaga deselerasi menyebabkan regangan dan sobekan linier organ-organ yang terfiksasi.
Cidera deselerasi klasik termasuk hepatic tear sepanjang ligamentum teres dan cidera intima
pada arteri renalis (Salomone & Salomone,2011).
Salomone & Salomone (2011) menyatakan bahwa trauma tumpul akibat hantaman
secara umum dibagi ke dalam 3 mekanisme, yang pertama adalah ketika tenaga deselerasi
hantaman menyebabkan pergerakan yang berbeda arah dari struktur tubuh yang permanen.
Akibatnya, kekuatan hantaman menyebabkan organ viseral yang padat serta vaskularisasi
abdomen menjadi ruptur, terutama yang berada di daerah hantaman.
Yang kedua adalah ketika isi dari intra abdomen terhimpit antara dinding depan
abdomen dan kolumna vertebralis atau posterior kavum thorak. Hal ini dapat merusak organorgan padat visera seperti hepar, limpa dan ginjal.
Ketiga adalah kekuatan kompresi eksternal yang mengakibatkan peningkatan tekanan
intra abdomen secara mendadak dan mencapai puncaknya ketika terjadi ruptur organ.
2. Patofisiologi
Menurut Anonim (2008), patofisiologi dari trauma tumpul abdomen terdiri dari :
a. Kehilangan darah

Limpa dan hati memiliki banyak suplai dan simpanan darah sehingga terjadi

kehilangan darah dengan cepat.


.Konsistensi jaringan hati dan lien menyebabkan jaringan sulit melakukan proses

homeostasis.
Perdarahan pada kavum retroperitoneal sulit untuk dievaluasi dan di diagnosis.

b. Nyeri

Nyeri, kekakuan, tegang pada abdomen merupakan tanda klasik patologi

intraabdomen.
Nyeri tekan dan defans muscular disebabkan karena pergerakan yang tiba-tiba dan

iritasi membrane peritoneal hingga ke dinding abdomen.


Iritasi disebabkan adanya darah atau isi lambung pada kavum peritoneal.
Cidera duodenum dan pankreas menyebabkan perdarahan dan berefek mengaktifkan

enzim di sekitar jaringan sehingga memicu peritonitis kimiawi area retroperitoneal.


Tanda dan gejalan cidera pankreas dan duodenum adalah :

Nyeri tekan abdomen yang difus


penjalaran nyeri pada area epigastrium sampai ke punggung.
3. Klasifikasi
Berdasaran jenis organ yang cedera dapat dibagi dua :
1. Pada organ padat seperti hepar dan limpa dengan gejala utama perdarahan
2. Pada organ berongga seperti usus dan saluran empedu dengan gejala utama adalah peritonitis
Berdasarkan daerah organ yang cedera dapat dibagi dua, yaitu :
a. Organ Intraperitoneal
Intraperitoneal abdomen terdiri dari organ-organ seperti hati, limpa, lambung, colon
transversum, usus halus, dan colon sigmoid.
Ruptur Hati
Hati dapat mengalami laserasi dikarenakan trauma tumpul ataupun trauma tembus. Hati
merupakan organ yang sering mengalami laserasi, sedangkan empedu jarang terjadi dan sulit untuk
didiagnosis. Pada trauma tumpul abdomen dengan ruptur hati sering ditemukan adanya fraktur
costa VII IX. Pada pemeriksaan fisik sering ditemukan nyeri pada abdomen kuadran kanan atas.
Nyeri tekan dan Defans muskuler tidak akan tampak sampai perdarahan pada abdomen dapat
menyebabkan iritasi peritoneum ( 2 jam post trauma). Kecurigaan laserasi hati pada trauma
tumpul abdomen apabila terdapat nyeri pada abdomen kuadran kanan atas. Jika keadaan umum
pasien baik, dapat dilakukan CT Scan pada abdomen yang hasilnya menunjukkan adanya laserasi.
Jika kondisi pasien syok, atau pasien trauma dengan kegawatan dapat dilakukan laparotomi untuk
melihat perdarahan intraperitoneal. Ditemukannya cairan empedu pada lavase peritoneal
menandakan adanya trauma pada saluran empedu (Khan, 2007)
Ruptur Limpa
Limpa merupakan organ yang paling sering cedera pada saat terjadi trauma tumpul
abdomen. Ruptur limpa merupakan kondisi yang membahayakan jiwa karena adanya perdarahan
yang hebat. Limpa terletak tepat di bawah rangka thorak kiri, tempat yang rentan untuk

mengalami perlukaan. Limpa membantu tubuh kita untuk melawan infeksi yang ada di dalam
tubuh dan menyaring semua material yang tidak dibutuhkan lagi dalam tubuh seperti sel tubuh
yang sudah rusak. Limpa juga memproduksi sel darah merah dan berbagai jenis dari sel darah
putih. Robeknya limpa menyebabkan banyaknya darah yang ada di rongga abdomen. Ruptur pada
limpa biasanya disebabkan hantaman pada abdomen kiri atas atau abdomen kiri bawah. Kejadian
yang paling sering meyebabkan ruptur limpa adalah kecelakaan olahraga, perkelahian dan
kecelakaan mobil. Perlukaan pada limpa akan menjadi robeknya limpa segera setelah terjadi
trauma pada abdomen.
Pada pemeriksaan fisik, gejala yang khas adanya hipotensi karena perdarahan.
Kecurigaan terjadinya ruptur limpa dengan ditemukan adanya fraktur costa IX dan X kiri, atau
saat abdomen kuadran kiri atas terasa sakit serta ditemui takikardi. Biasanya pasien juga
mengeluhkan sakit pada bahu kiri, yang tidak termanifestasi pada jam pertama atau jam kedua
setelah terjadi trauma. Tanda peritoneal seperti nyeri tekan dan defans muskuler akan muncul
setelah terjadi perdarahan yang mengiritasi peritoneum. Semua pasien dengan gejala takikardi
atau hipotensi dan nyeri pada abdomen kuadran kiri atas harus dicurigai terdapat ruptur limpa
sampai dapat diperiksa lebih lanjut. Penegakan diagnosis dengan menggunakan CT scan. Ruptur
pada limpa dapat diatasi dengan splenectomy, yaitu pembedahan dengan pengangkatan limpa.
Walaupun manusia tetap bisa hidup tanpa limpa, tapi pengangkatan limpa dapat berakibat
mudahnya infeksi masuk dalam tubuh sehingga setelah pengangkatan limpa dianjurkan
melakukan vaksinasi terutama terhadap pneumonia dan flu diberikan antibiotik sebagai usaha
preventif terhadap terjadinya infeksi (Odle, 2007).
Ruptur Usus Halus
Sebagian besar, perlukaan yang merobek dinding usus halus karena trauma tumpul menciderai
usus dua belas jari. Dari pemeriksaan fisik didapatkan gejala burning epigastric pain yang diikuti
dengan nyeri tekan dan defans muskuler pada abdomen. Perdarahan pada usus besar dan usus halus
akan diikuti dengan gejala peritonitis secara umum pada jam berikutnya. Sedangkan perdarahan
pada usus dua belas jari biasanya bergejala adanya nyeri pada bagian punggung. Diagnosis ruptur
usus ditegakkan dengan ditemukannya udara bebas dalam pemeriksaan Rontgen abdomen.
Sedangkan pada pasien dengan perlukaan pada usus dua belas jari dan colon sigmoid didapatkan
hasil pemeriksaan pada Rontgen abdomen dengan ditemukannya udara dalam retroperitoneal (Odle,
2007).
b. Organ Retroperitoneal

Retroperitoneal abdomen terdiri dari ginjal, ureter, pancreas, aorta, dan vena cava. Trauma
pada struktur ini sulit ditegakkan diagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik. Evaluasi regio ini
memerlukan CT scan, angiografi, dan intravenous pyelogram.
Ruptur Ginjal
Trauma pada ginjal biasanya terjadi karena jatuh dan kecelakaan kendaraan bermotor.
Dicurigai terjadi trauma pada ginjal dengan adanya fraktur pada costa ke XI XII atau adanya
tendensi pada flank. Jika terjadi hematuri, lokasi perlukaan harus segera ditentukan. Laserasi pada
ginjal dapat berdarah secara ekstensif ke dalam ruang retroperitonial. Gejala klinis : Pada ruptur
ginjal biasanya terjadi nyeri saat inspirasi di abdomen dan flank, dan tendensi CVA. Hematuri
yang hebat hampir selalu timbul, tapi pada mikroscopic hematuri juga dapat menunjukkan adanya
ruptur pada ginjal.
Ruptur Pankreas
Trauma pada pankreas sangat sulit untuk di diagnosis. Kebanyakan kasus diketahui dengan
eksplorasi pada pembedahan. Perlukaan harus dicurigai setelah terjadinya trauma pada bagian tengah
abdomen, contohnya pada benturan stang sepeda motor atau benturan setir mobil. Perlukaan pada
pankreas memiliki tingkat kematian yang tinggi. Perlukaan pada duodenum atau saluran kandung
empedu

juga

memiliki

tingkat

kematian

yang

tinggi.

Gejala klinis, kecurigaan perlukaan pada setiap trauma yang terjadi pada abdomen. Pasien dapat
memperlihatkan gejala nyeri pada bagian atas dan pertengahan abdomen yang menjalar sampai ke
punggung. Beberapa jam setelah perlukaan, trauma pada pankreas dapat terlihat dengan adanya
gejala iritasi peritonial.
Ruptur Ureter
Trauma pada ureter jarang terjadi tetapi berpotensi menimbulkan luka yang mematikan.
Trauma sering kali tak dikenali pada saat pasien datang atau pada pasien dengan multipel trauma.
Kecurigaan adanya cedera ureter bisa ditemukan dengan adanya hematuria paska trauma (Odle,
2007).
Mekanisme trauma tumpul pada ureter dapat terjadi karena keadaan tiba-tiba dari deselerasi/
akselerasi yang berkaitan dengan hiperekstensi, benturan langsung pada Lumbal 2 3, gerakan
tiba-tiba dari ginjal sehingga terjadi gerakan naik turun pada ureter yang menyebabkan terjadinya
tarikan pada ureteropelvic junction. Pada pasien dengan kecurigaan trauma tumpul ureter biasanya
didapatkan gambaran nyeri yang hebat dan adanya multipel trauma. Gambaran syok timbul pada
53% kasus, yang menandakan terjadinya perdarahan lebih dari 2000 cc. Diagnosis dari trauma

tumpul ureter seringkali terlambat diketahui karena seringnya ditemukan trauma lain, sehingga
tingkat kecurigaan tertinggi ditetapkan pada trauma dengan gejala yang jelas.
Pilihan terapi yang tepat tergantung pada lokasi, jenis trauma, waktu kejadian, kondisi
pasien, dan prognosis penyelamatan. Hal terpenting dalam pemilihan tindakan operasi adalah
mengetahui dengan pasti fungsi ginjal yang kontralateral dengan lokasi trauma.
4. Pemeriksaan
a. Anamnesis
Secara umum, jangan menanyakan riwayat lengkap hingga cidera yang mengancam
nyawa teridentifikasi dan mendapatkan penatalaksanaan yang sesuai. AMPLE sering
digunakan untuk mengingat kunci dari anamnesis, yaitu Allergies,Medications, Past medical
history, Last meal or other intake, Events leading to presentation (Salomone &
Salomone,2011) .
Udeani & Seinberg (2011) menyatakan bahwa faktor penting yang berhubungan dengan
pasien trauma tumpul abdomen, khususnya yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan
bermotor perlu digali lebih lanjut, baik itu dari pasien, keluarga, saksi, ataupun polisi dan
paramedis. Hal-hal tersebut mencakup:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Proses kecelakaan dan kerusakan kendaraan


Waktu pembebasan (evakuasi) yang dibutuhkan
Apakah pasien meninggal
Apakah pasien terlempar dari kendaraan
Bagaimana fungsi peralatan keselamatan seperti sabuk pengaman dan airbags
Apakah pasien dalam pengaruh obat atau alcohol
Apakah ada cidera kepala atau tulang belakang
Apakah ada masalah psikiatri

b. Pemeriksaan Fisik
Evaluasi pasien dengan trauma tumpul abdomen harus dilakukan dengan semua cidera
merupakan prioritas. Perlu digali apakah ada cidera kepala, sistem respirasi, atau sistem
kardiovaskular diluar cidera abdomen (Salomone & Salomone, 2011 ; Udeani & Steinberg,
2011). Pemeriksaan yang diperlukan adalah :
Pemeriksaan awal

Setelah survey primer dan resusitasi dilakukan, fokus dilakukan pada survey sekunder

abdomen.
Untuk cidera yang mengancam jiwa yang membutuhkan pembedahan segera, survei
sekunder yang komprehensif dapat ditunda sampai kondisi pasien stabil.

Pada akhir pemeriksaan awal dilihat kembali luka-luka ringan pada penderita. Banyak
cedera yang samar dan baru termanifestasikan kemudian.

Inspeksi

Pemeriksaan abdomen untuk menentukan tanda-tanda eksternal dari cedera. Perlu

diperhatikan adanya area yang abrasi dan atau ekimosis.


Catat pola cedera yang potensial untuk trauma intra abdomen (seperti abrasi karena sabuk
pengaman, hantaman dengan papan kemudi-yang membentuk contusio). Pada banyak
penelitian, tanda (bekas) sabuk pengaman dapat dihubungkan dengan ruptur usus halus

dan peningkatan insidensi cidera intra abdomen.


Observasi pola pernafasan karena pernafasan perut dapat mengindikasikan cedera
medulla spinalis. Perhatikan distensi abdomen, yang kemungkinan berhubungan dengan

pneumoperitoneum, dilatasi gastrik, atau ileus yang diakibatkan iritasi peritoneal.


Bradikardi mengindikasikan adanya darah bebas di intra peritoneal pada pasien dengan

cedera trauma tumpul abdomen.


Cullen sign (ekimosis periumbilikal) menandakan adanya perdarahan peritoneal, namun
gejala ini biasanya muncul dalam beberapa jam sampai hari. Memar dan edema panggul

meningkatkan kecurigaan adanya cedera retroperitoneal.


Inspeksi genital dan perineum dilakukan untuk melihat cedera jaringan lunak,
perdarahan, dan hematom.

Auskultasi

Bising pada abdomen menandakan adanya penyakit vaskular atau fistula arteriovenosa

traumatik.
Suara usus pada rongga thoraks menandakan adanya cedera diafragmatika.
Selama auskultasi, palpasi perlahan dinding abdomen dan perhatikan reaksinya.

Palpasi

Palpasi seluruh dinding abdomen dengan hati-hati sembari menilai respon pasien.

Perhatikan massa abnormal, nyeri tekan, dan deformitas.


Konsistensi yang lunak dan terasa penuh dapat mengindikasikan perdarahan

intraabdomen.
Krepitasi atau ketidakstabilan kavum thoraks bagian bawah dapat menjadi tanda potensial
untuk cidera limpa atau hati yang berhubungan dengan cedera tulang rusuk.

Ketidakstabilan pelvis merupakan tanda potensial untuk cedera traktus urinarius bagian
bawah, seperti hematom pelvis dan retroperitoneal. Fraktur pelvis terbuka berhubungan

tingkat kematian sebesar 50%.


Pemeriksaan rektal dan bimanual vagina dilakukan untuk menilai perdarahan dan cedera.
Feces semestinya juga diperiksa untuk menilai adakah perdarahan berat atau tersamar.

Tonus rectal juga dinilai untuk mengetahui status neurologis dari pasien.
Pemeriksaan sensori pada thorak dan abdomen dilakukan untuk evaluasi adanya cedera
medulla spinalis. Cedera medulla spinalis bisa berhubungan dengan penurunan atau

bahkan tidak adanya persepsi nyeri abdomen pada pasien.


Distensi abdomen dapat merupakan hasil dari dilatasi gastrik sekunder karena bantuan

ventilasi atau terlalu banyak udara.


Tanda peritonitits (seperti tahanan perut yang involunter, kekakuan) segera setelah cedera
menandakan adanya kebocoran isi usus.

Perkusi

Nyeri pada perkusi merupakan tanda peritoneal


Nyeri pada perkusi membutuhkan evaluasi lebih lanjut dan kemungkinan besar konsultasi
pembedahan.
Pipa nasogastrik seharusnya dipasang (jika tidak ada kontraindikasi seperti fraktur
basal kranii) untuk menurunkan tekanan lambung dan menilai apakah ada perdarahan.
Jika pasien mengalami cidera maxillofacial, lebih baik dipasang pipa orogastrik.
Selanjutnya kateter foley juga dipasang untuk mengetahui produksi urin dan pengambilan
sample urinalisis untuk pemeriksaan hematuri mikroskopis. Jika cedera urethra atau
vesika urinaria diduga karena fraktur pelvis, maka perlu dilakukan retrograde
urethrogram terlebih dahulu sebelum pemasangan kateter. Karena luasnya spektrum
cidera pada trauma tumpul abdomen, maka frekuensi evaluasi ulang menjadi komponen
penting dari menejemen pasien dengan trauma tumpul abdomen. Survei tersier
merupakan pengulangan survei primer dan sekunder serta revisi semua hasil laboratorium
dan radiografi. Pada sebuah penelitian, survey tersier pada trauma dapat mendeteksi 56%

cidera yang terlewatkan selama penilaian awal dalam 24 jam pertama.


c. Pemeriksaan Laboratorium
Menurut Salomone & Salomone (2011), pemeriksaan laboratorium

yang

direkomendasikan untuk korban trauma biasanya termasuk glukosa serum, darah lengkap,

kimia serum, amylase serum, urinalisis, pembekuan darah, golongan darah, arterial blood gas
(ABG), ethanol darah, dan tes kehamilan (untuk wanita usia produktif).
d. Pemeriksaan darah lengkap
Hasil yang normal untuk kadar hemoglobin dan hematokrit tidak bisa dijadikan acuan
bahwa tidak terjadi perdarahan. Pasien pendarahan mengeluarkan darah lengkap. Hingga
volume darah tergantikan dengan cairan kristaloid atau efek hormonal (seperti
adrenocorticotropic hormone [ACTH], aldosteron, antidiuretic hormone [ADH]) dan muncul
pengisian ulang transkapiler, anemia masih dapat meningkat. Jangan menahan pemberian
transfusi pada pasien dengan kadar hematokrit yang relatif normal (>30%) tapi memiliki bukti
klinis syok, cidera berat (seperti fraktur pelvis terbuka), atau kehilangan darah yang
signifikan.
Pemberian transfusi trombosit pada pasien dengan trombositopenia berat (jumlah
trombosit<50,000/mL) dan terjadi perdarahan. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan
antara rendahnya kadar hematokrit (<30%) dengan cidera berat. Peningkatan sel darah putih
tidak spesifik dan tidak dapat menunjukkan adanya cidera organ berongga.

D. Pemeriksaan Radiologi Pada Trauma Tumpul Abdomen

1. Foto Polos Abdomen

Teknik radiografi yang optimal penting pada kecurigaan preforasi abdomen. Paling
tidak diambil 2 radiografi, meliputi radiografi abdomen posisi supine dan foto dada posisi
erect atau left lateral dekubitus. Udara bebas walaupun dalam jumlah yang sedikit dapat
terdeteksi pada foto polos. Pasien tetap berada pada posisi tersebut selama 5-10 menit
sebelum foto diambil.
Pada foto polos abdomen atau foto dada posisi tegak, terdapat gambaran udara
(radiolusen) berupa daerah berbentuk bulan sabit (semilunar shadow) diantara diafragma
kanan dan hepar atau diafragma kiri dan lien.Juga bisa tampak area lusen bentuk oval
(perihepatik) di anterior hepar. Pada posisi lateral dekubitus kiri, didapatkan radiolusen
antara batas lateral kanan dari hepar dan permukaan peritoneum. Pada posisi lateral
dekubitus kanan, tampak triangular sign seperti segitiga (triangular) yang kecil-kecil dan
berjumlah banyak karena pada posisi miring udara cenderung bergerak ke atas sehingga
udara mengisi ruang-ruang di antara incisura dan dinding abdomen lateral. Pada proyeksi
abdomen supine, berbagai gambaran radiologi dapat terlihat yang meliputi falciform
ligament sign dan Rigler`s sign.
Proyeksi yang paling baik adalah lateral dekubitus kiri dimana udara bebas dapat
terlihat antara batas lateral kanan dari hati dan permukaan peritoneum dan dapat
digunakan untuk setiap pasien yang sangat sakit.
Tanda peritoneum pada foto polos diklasifikasikan menjadi pneumoperitoneum kecil
dan pneumoperitoneum dalam jumlah besar yang berkaitan dengan lebih dari 1000 ml

udara bebas. Gambaran pneumoperitoneum dengan udara dalam jumlah besar antara lain:
Football sign, yang biasanya menggambarkan pengumpulan udara di dalam
kantung dalam jumlah besar sehingga udara tampak membungkus seluruh
kavum abdomen, mengelilingi ligamen falsiformis sehingga memberi jejak
seperti bola sepak.
Gas-relief sign, Rigler sign, dan double wall sign yang memvisualisasikan
dinding terluar lingkaran usus disebabkan udara di luar lingkaran usus dan
udara normal intralumen.
Urachus merupakan refleksi peritoneal vestigial yang biasanya tidak terlihat
pada foto polos abdomen. Urachus memiliki opasitas yang sama dengan
struktur

jaringan

lunak

intraabdomen

lainnya,

tapi

ketika

terjadi

pneumoperitoneum, udara tampak melapisi urachus. Urachus tampak seperti


garis tipis linier di tengah bagian bawah abdomen yang berjalam dari kubah
vesika urinaria ke arah kepala.Dasar urachus tampak sedikit lebih tebal
daripada apeks.
Ligamen umbilical lateral yang mengandung pembuluh darah epigastrik
inferior dapat terlihat sebagai huruf V terbalik di daerah pelvis sebagai akibat
pneumoperitoneum dalam jumlah banyak.
Telltale triangle sign menggambarkan daerah segitiga udara diantara 2
lingkaran usus dengan dinding abdomen.
Udara skrotal dapat terlihat akibat ekstensi intraskrotal peritoneal (melalui
prosesus vaginalis yang paten).
Udara di dalam sakus lesser dapat terlihat, terutama jika perforasi dinding
posterior abdomen.
Tanda obstruksi usus besar parsial dengan perforasi divertikulum sigmoid dapat
terjadi yang berkaitan dengan tanda pneumoperitoneum
Udara bebas intraperitoneal tidak terlihat pada sekitar 20-30% yang lebih disebabkan
karena standardisasi yang rendah dan teknik yang tidak adekuat.Foto polos abdomen
menjadi pencitraan utama pada akut abdomen, termasuk pada perforasi viskus abdomen.
Udara sesedikit 1 ml dapat dideteksi dengan foto polos, baik foto torak posisi berdiri atau
foto abdomen posisi left lateral decubitus.
Tidak jarang, pasien dengan akut abdomen dan dicurigai mengalami perforasi
tidak menunjukkan udara bebas pada foto polos abdomen.Diagnosis banding biasanya
meliputi kolesistitis akut, pankreatitis, dan perforasi ulkus. Sebagai tambahan

pemeriksaan, sekitar 50 ml kontras terlarut air diberikan secara oral atau lewat NGT pada
pasien dengan posisi berbaring miring ke kanan.

2. DIAGNOSTIC PERITONEAL LAVAGE (DPL)


Root and Collagnes 1965 Metode pemeriksaan ini cepat, murah, akurat, aman
untuk menilai cedera intraperitonal trauma tumpul maupun trauma tembus abdomen
Indikasi DPL
1. Equivocal : Gejala klinik yg meragukan misalnya trauma jaringan lunak lokal
disertai dengan trauma tulang yang gejala kliniknya saling mengaburkan.
2. Unreliable : Kesadaran pasien menurun setelah trauma kepala /intoksikasi.
3. Impractical : Mengantisipasi kemungkinan pasien membutuhkan pemeriksaan
yang lama waktunya seperti angiografi atau anastesi umum yg lama untuk trauma
lainnya.
Kontra Indikasi
1. Absolute: indikasi yang jelas untuk tindakan laparotomi
2. Relative: secara teknik sulit dilakukan seperti kegemukan, pembedahan
abdominal sebelumnya, kehamilan lanjut
Kelemahan DPL : Tidak bisa evaluasi trauma diaphragma dan retroperitoneal.
Komplikasi DPL : Perdarahan sekunder pd injeksi anestesi lokal, insisi kulit atau
jaringan bawah kulit yang akan memberikan false positif. Peritonitis akibat perforasi
usus. Robek kandung kencing, Cidera pada struktur abdomen, Infeksi luka didaerah
pencucian (komplikasi tertunda)

3. CT SCAN ABDOMEN
CT merupakan kriteria standar untuk mendeteksi pneumoperitoneum, yang lebih

sensitif dibanding foto polos abdomen. Namun, CT tidak selalu dibutuhkan jika dicurigai
pneumoperitoneum dan lebih mahal dan memiliki efek radiasi yang besar. CT berguna
untuk mengidentifikasi bahkan sejumlah kecil udara intraluminal, terutama ketika temuan
foto polos abdomen tidak spesifik. CT kurang terpengaruh oleh posisi pasien dan teknik
yang digunakan. Namun, CT tidak selalu dapat menbedakan antara pneumoperitoneum
yang disebabkan oleh kondisi benigna atau kondisi lain yang membutuhkan operasi
segera. Pneumoperitoneum dengan udara di anterior kadang sulit dibedakan dengan udara
pada usus yang dilatasi. Sebagai tambahan, dengan CT sulit untuk melokalisasi perforasi,
adanya udara bebas pada peritoneum merupakan temuan nonspesifik. Hal ini dapat
disebabkan oleh perforasi usus, paska operasi, atau dialisis peritoneal.
Pada posisi supine, udara yang terletak di anterior dapat dibedakan dengan udara di
dalam usus.Jika ada perforasi, cairan inflamasi yang bocor juga dapat diamati di dalam
peritoneum.Penyebab perforasi kadang dapat didiagnosis.
Pada CT dan radiologi konvensional, kontras oral digunakan untuk mengopasitaskan
lumen GIT dan memperlihatkan adanya kebocoran.Pemeriksaan kontras dapat
mendeteksi adanya kebocoran kontras melalui diniding usus yang mengalami perforasi;
namun, dengan adanya ulkus duodenum perforasi dengan cepat ditutupi oleh omentum
sehingga bisa tidak terjadi ekstravasasi kontras.
Indikasi CT SCAN Abdomen:
Pasien dengan keadaan umum yang stabil
Delayed presentation gejala muncul lebih dari 24 jam setelah trauma
Trauma pada limpa ( spleen )
Class
Criteria
I
Capsular gangguan, subcapsular hematoma
Ii
Peripheral laceration, hematoma < 3cm
Iii
Fraktur memperluas ke hilus, hematoma > 3cm
Iv
Shattered spleen, gangguan vascular

Anatomi normal , liver , spleen

Grade 4 ruptur spleen (arrow).

Grade 3 laserasi spleen (arrow) dengan cairan di hepar


Fluidsuch seperti darah


Grade 3 laserasi spleen dengan perdarahan atif (arrows).
Trauma tumpul hepar :
Class
I
Ii
Iii

criteria
Parenchymal tear, 1-3cm parenchymal depth
Parenchymal disruption, > 3cm parenchymal depth but < 25% of

Iv
V
Vi

hepatic lobe
Parenchymal disruption, 25-50% of heptic lobe
Parenchymal disruption, > 50% of hepatic lobe
Hepatic avulsion

fragmentasi lobus kanan dengan hematoma intrahepatik.

cairan perihepatik (darah) sekitar lobus kanan (arrow).

Grade 4 hematoma intraparenchymal dari lobus kanan (arrow).

Grade 5 hematoma intrahepatik dari lobus kanan dengan perdarahan aktif (arrow).
Trauma pancreas :
Anatomi setinggi pancreas

laserasi Pankreas (arrow).


pseudokista pankreas (panah) yang dihasilkan dari bocornya cairan dari laserasi pankreas.

Trauma ginjal :
Class
I

Criteria
Contusions,

small

corticomedullary lacerations

that

communicate
Ii
Iii
Iv

With the collection system


Laceration that communicates with the collection system
Shattered kidney, injury to the vascular pedicle
Upj avulsion, laceration of the renal pelvis

Anatomi normal setinggi ginjal .

do not

Grade I laserasi ginjal menampilkan perpanjangan cedera pada pedikel vaskular.

Cedera ginjal kanan telah mengakibatkan extavasation kontras ke retroperitoneal

A post-traumatic adrenal hematoma (arrow).


Cedera kanan telah mengakibatkan extavasation kontras ke retroperitoneal

A post-traumatic adrenal hematoma (arrow).


Trauma pada usus :


Perforasi dengan ekstravasasi kontras dari duodenum (arrow).

laserasi mesenterika dengan hemoperitoneum (arrows).

skemik karena trauma ("shock usus ").


usus perforasi dengan ekstravasasi karena di isi kontras dengan padat
rongga peritoneum kanan ligamentum falsiforme).

Trauma vesica urinaria :

Pecahnya kandung kemih dengan ekstravasasi urine ke dalam rongga peritoneum


(arrow).

Ekstravasasi urine / campuran kontras ke

rongga intraperitoneal (panah) dan ekstraperitoneal


Juga perhatikan luas acetabular fraktur (bintang).

4. ULTRASONOGRAFI - FAST
Ultrasonografi (US) pertama kali digunakan pada pasien trauma di Eropa tahun 1970-an.
Sejak tahun 1980-an di Amerika, penggunaan US pada trauma telah digunakan secara luas dan
banyak

menggantikan

Diagnostic

Peritoneal

Lavage

(DPL)

di

kebanyakan

trauma

center.pemeriksaan FAST (Focused Assessment Sonography for Trauma) telah dimasukkan dalam
bagian dari Advanced Trauma Life Support sejak tahun 1997.
Tujuan pemeriksaan FAST adalah untuk mendeteksi cairan bebas intraperitoneal dan
pericardial dalam kasus trauma. DPL lebih sensitif dalam mendeteksi adanya darah
intraperitoneal dibanding US (100.000 sel darah merah/mm3 dianggap positif dengan
perbandingan 20 cc dari 1 liter cairan lavase), namun DPL mempunyai kelemahan yaitu bersifat
invasif yang dapat mempunyai komplikasi pada pasien hamil, pembedahan sebelumnya, dan
operator yang kurang berpengalaman, serta tidak sensitif untuk trauma yang melibatkan organ
retroperitoneal. Dibanding DPL, US merupakan pemeriksaan yang murah, cepat dan dapat
diulang, seta mempunyai spesifisitas lebih tinggi untuk laparotomi terapeutik. US dapat
mendeteksi minimal 250 mL cairan bebas Morissons pouch. Sensitifitas FAST untuk mendeteksi
cairan bebas intraperitoneal dari berbagai penelitian adalah 64-98%, sedangkan spesifisitasnya
86-100%. Variasi yang besar dalam hasil tersebut disebabkan adanya perbedaan tingkat
pengalaman operator (sonografer berpengalaman, ahli radiologi, ahli bedah dan residen) dan
standar referensi yang digunakan.

FAST umumnya digunakan untuk metode imejing diagnostik pada pasien dengan trauma
abdomen, namun diagnosis cedera organ solid abdomen sangat terbatas.
Kecepatan sangat penting karena jika perdarahan intraabdominal ada, probabilitas kematian akan
meningkat sekitar 1% tiap 3 menit penundaan dilakukannya intervensi.Tempat akumulasi cairan
jika ada cedera organ solid, adalah : Hepatorenal recess (Morissons pouch), Splenorenal recess,
Paracolic gutter, Retrovesical pouch (pada pria) dan Pouch of Dauglas (pada wanita).
Ultrasonografi FAST juga dapat digunakan untuk mendeteksi adanya cedera pada jantung dan
pericardium, namun kurang tepat untuk mendeteksi cedera usus, mesenterium, dan vesika
urinaria, dimana CT merupakan modalitas yang tepat.
Keuntungan FAST yang paling penting yaitu US merupakan metode imejing bedside
yang cepat dan dapat diintegrasikan dalam resusitasi. Kemampuan ini sangat membantu terutama
pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil dimana ahli bedah traumatologi dapat
membuat keputusan klinikyang cepat. Sebagai tambahan, US bersifat non-ionisasi dan tidak
menggunakan kontras nefrotoksik sehingga merupakan prosedur tindakan yang aman. DPL juga
memiliki peranan dalam diagnosis trauma abdomen pada pasien hemodinamik yang tidak stabil
yang tidak dapat dimobilisasi ke scanner CT, namun tidak banyak dilakukan lagi karena prosedur
invasif memiliki angka kekerapan terjadi komplikasi antara 0,6-2,3% dan dikontraindikasikan
pada pasien post-surgical, terlalu gemuk, atau sedang hamil, serta memakan waktu.

TEKNIK PEMERIKSAAN
1. Posisi pasien
Posisi pasien sebaiknya diperiksa dalam posisi supine. posisi lain (Trendelenburg, dan dekubitus)
dapat memfasilitasi penyatuan cairan di daerah tergantung, sehingga berpotensi meningkatkan hasil
deteksi, dan harus dipertimbangkan jika izin skenario klinis.
2. Transduser (Probe)
Pemilihan Probe tergantung pada ukuran pasien. Untuk orang dewasa yang khas, penetrasi gelombang
suara harus minimal 20 cm, oleh karena itu digunakan 2,5-5 MHz, bentuk melengkung pada Probe ini
memungkinkan medan pandang jauh lebih luas tetapi memiliki resolusi yang terbatas. Pada pasien
anak, Probe curvilinier dengan frekuensi tinggi memiliki resolusi yang lebih baik dan masih dapat
menghasilkan gelombang suara dengan penetrasi kedalaman yang memadai.

Gambar B.1. Teknik pemeriksaan FAST pada abdomen

DAERAH PEMERIKSAAN
FAST scan terdiri dari 6 posisi dasar dalam mendeteksi ada atau tidaknya cairan pada rongga
peritoneum dan pericardium. Mampu mendeteksi lebih dari 100-250 ml cairan bebas. CT scan sebagai
pembandingnya mampu mendeteksi lebih dari kira-kira 100 ml cairan bebas dalam rongga abdomen.
Untuk mencari cairan abnormal transduser ditempatkan pada :
1.
2.
3.
4.
5.

Subcostal atau Subxiphoid


Right Upper Quadrant (kuadran kanan atas)
Left Upper Quadrant (kuadran kiri atas)
Paracolic gutter
Regio Pelvis

Gambar C.1. Regio abdomen pada pemeriksaan FAST dan


Posisi Transduser pada Pemeriksaan dasar FAST

FAST view pada abdomen


1. Right Upper Quadrant view (Kuadran kanan atas) menilai Hepatorenal recess (Morissons
pouch )
Probe diposisikan di garis axilaris anterior kanan pada intercosta 7-9, posisi probe marker
kearah kepala, sagital terhadap tubuh.

Tampilannya harus menunjukkan hati, ginjal dan

diafragma. Hepatorenal recess (Morissons pouch) adalah ruang potensial yang terletak d kuadran
kanan atas diantara kapsul Glisson dari hepar dan fascia Gerota dari ginjal kanan. Dalam keadaan
normal, tidak terdapat cairan diantara organ tersebut, dan fascia tampak sebagai garis hiperekhoik
yang memisahkan hepar dan ginjal.

Gambar C.2. US FAST Normal pada Hepatorenal recess (Morissons pouch)


pada kuadran kanan atas.

Gambar C.3. US FAST Abnormal pada Hepatorenal recess: adanya celah berwarna hitam yang
berada diantara dua organ menunjukkan adanya cairan bebas dalam rongga peritoneum.
2. Left Upper Quadrant view (Kuadran Kiri Atas) menilai Splenorenal recess
Probe diposisikan di garis aksilaris anterior kiri pada intercosta 10 dan 11 bidang sagital
terhadap tubuh untuk melihat splenorenal recess, marker ke arah kepala. Tampilannya harus
menunjukkan limpa, ginjal dan diafragma. Probe

diputar untuk mendapatkan tampilan

longitudinal dan menunjukkan adanya suatu cairan antara limpa dan ginjal. Pandangan ini dapat
dirusak oleh proyeksi dari bayangan akustik di atas gambaran dari costa.
Splenorenal recess adalah ruang potensial di kuadran kiri atas abdomen antara Spleen dengan
facia Gerotas dari Renal kiri. Normalnya tidak terdapat cairan bebas, dan fascia tampak sebagai
garis hiperekhoik yang memisahkan kedua organ.

Gambar C.4. US FAST Normal pada Splenorenal recess pada kuadran kiri atas

Gambar C.5. US FAST Abnormal pada Saplenorenal recess : Adanya bercak kehitaman diantara
dua organ menunjukkan adanya cairan bebas di dalam rongga peritoneum. Cedera pada organ
terkadang dapat terlihat.
3. Paracolic Gutter view
Paracolic gutter kanan terbentang dari Morissons pouch sampai ke pelvis. Sedangkan
paracolic gutter kiri tidak sedalam yang kanan, dan ligamentum phrenocolic menghambat
pergerakan cairan ke paracolic gutter kiri, sehingga mengalir secara bebas ke kanan.
Gambar C.6. Paracolic gutter kanan, tampak adanya bayangan berwarna gelap yang diduga adanya cairan
bebas.
4.

Suprapubik view menilai Pelvis


Probe ditempatkan
longitudinal di garis tengah
abdomen sekitar 4 cm dari
simfisis pubis dan mengarah
ke bawah kesudut panggul .
Tampilan USG menunjukkan
kandung kemih. Probe

ini

kemudian diputar 90 derajat


untuk memindahkan tampilan pada posisi sagital yang mana memberikan pandangan dari rektum,
kandung kemih dan cavum Dauglass.
Retrovesical pouch erbentuk dari lipatan peritoneum dari rektum ke vesika urinaria (lakilaki), sedangkan pouch of Dauglas adalah kantung yang terbentuk dari lipatan peritoneum dari
rektum ke dinding belakang uterus (wanita).

Gambar C.7. US FAST Pelvis normal

Gambar C.8. US FAST pelvis Abnormal : adanya cairan pada Cavum Dauglass
5. Subkostal view menilai Pericardium
Transduser yang ditempatkan di daerah subxiphoid pada thorax dengan berkas pancaran
USG memproyeksikan pada bidang koronal. Sedikit agak menekan terhadap dinding abdomen
dengan seluruh transduser mungkin diperlukan untuk mengarahkan berkas pancaran retrosternally
untuk mendapatkan gambar. Ini menunjukkan gambaran pergerakan jantung, dalam 4 tampilan
ruang. Jantung mudah dikenali, karena geraknya yang karakteristik. Jantung akan dikelilingi oleh
lapisan echogenic perikardium.

Gambar C.9. FAST Subcostal Normal

Gambar C.10. FAST Subcostal Abnormal : tampak adanya celah hitam di berada
diantara lapisan dinding jantung yang diduga cairan dalam kantung pericardial.

Gambaran yang dapat mengimitasi pneumoperitoneum meliputi bayangan sebuah


costa, artifak ring-down dari paru yang terisi udara, dan udara kolon anterior yang
interposisi terhadap liver. Udara di kuadran kanan atas dapat keliru dengan kolesistitis
emfisematosa, kalsifikasi mural, kalsifikasi vesika fellea, vesika fellea porselen,
adenomiosis, udara di dalam abses, tumor, udara bilier, atau udara di dalam vena porta.
Udara intraperitoneal sering sulit dideteksi daripada udara di lokasi abnormal karena udara
intralumen di sekitar.Namun, bahkan sejumlah kecil udara bebas dapat dideteksi secara
anterior atau anterolateral diantara dinding abdomen dan dekat liver, dimana lingkaran usus
biasanya tidak ditemukan.Sulit untuk membedakan udara ekstralumen dengan udara

intramural atau intraluminal.


FAST Subcostal View normal dan abnormal

FAST Kuadran kanan atas normal

dan abnormal
FAST Kuadran Kiri atas normal dan abnormal
FAST suprapubik view normal dan abnormal

5. KEUNGGULAN PEMERIKSAAN USG FAST


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pemeriksaan USG bisa dikerjakan oleh dokter emergency maupun residen bedah.
Pemeriksaan cepat hanya berkisar 2 menit.
Tidak mahal, non-invasif, dan sangat portabel.
Bersifat non-ionisasi dan tidak menggunakan kontras.
Dapat menilai toraks, dan rongga retro peritoneal disamping rongga peritoneum.
Pemeriksaan serial dapat mendeteksi perdarahan yang terus berlangsung dan meningkatkan
ketepatan diagnostik.

6. KEKURANGAN PEMERIKSAAN USG FAST


1. Untuk mendapatkan hasil positif diperlukan cairan intraperitoneal minimal 70 cc dibandingkan
DPL yang hanya 20 cc.
2. Akurasinya tergantung pada kemampuan operator atau pembaca hasil dan turun akurasinya bila
pernah operasi abdomen.
3. Secara teknik sulit pada pasien yang tidak suportif/ gelisah, pada pasien yang terlalu gemuk atau
adanya emfisema subkutis yang masif, dan pada pasien dengan kehamilan dari trimester 3.
4. Sensitifitasnya rendah untuk perforasi usus halus dan cedera pancreas.
5. Tidak dapat mendeteksi secara langsung adanya perdarahan aktif dan asal perdarahan tersebut.
6. Meskipun bekuan darah memberikan gambaran yang khas, tapi FAST tidak dapat dengan tepat
menentukan jenis cairan bebas intraperitoneal.

Keuntungan Kerugian

Pem. Klinik
DPL

USG FAST

Keuntungan
Cepat, noninvasif
Cepat, tidak mahal
Sensitive >90% deteksi darah
Complikasi minimal
Cepat, Noninvasif, Mudah, dapat

CT Scan

dilakukan bed side


Organ
specific,

Laparoskopi

retroperitoneal
Penentuan Grading injury
Estimasi jumlah perdaharan
Dapat untuk Follow Up Serial
Organ specifik

Laparotomi

Sangat spesifik

informasi

Kerugian
Tidak meyakinkan
Invasif, terlalu sensitif,
spesifiknya terbatas
False (+) pada pelvic
fracture
Tergantung operator
Butuh jarak waktu ke
ruang CT Scan
Potensial

alergi

thd

kontras
Nyeri,

perlu

anastesi

umum
Komplikasi, mahal

BAB III
KESIMPULAN
Trauma tumpul abdomen dapat menimbulkan perforasi organ berongga yang
menyebabkan

terkumpulnya

udara

bebas

dalam

kavum

abdomen

yang

disebut

pneumoperitoneum. Pneumoperitoneum dideteksi dengan pemeriksaan radiologis foto polos


abdomen, CT scan, dan ultrasonografi. Pada foto polos abdomen, pneumoperitoneum paling
baik terlihat dengan posisi lateral dekubitus kiri yang menunjukkan gambaran radiolusen
antara batas lateral kanan dari hati dan permukaan peritoneum. CT scan merupakan kriteria
standar untuk mendeteksi pneumoperitoneum, namun tidak selalu dibutuhkan jika dicurigai
pneumoperitoneum dan lebih mahal serta memiliki efek radiasi yang besar. Dengan USG,
pneumoperitoneum tampak sebagai daerah linier peningkatan ekogenisitas dengan artifak
reverberasi atau distal ring down. Foto polos abdomen menjadi pencitraan utama pada akut
abdomen, termasuk pada perforasi viskus abdomen, walaupun pencitraan standar adalah
dengan USG.
Telah jelas bahwa USG memandu penilaian trauma dengan cepat, menjadi suatu standar
perawatan dan telah diterima secara internasional di bagian Kegawatdaruratan. Untuk melakukan
pemeriksaan FAST dapat dilakukan oleh dokter IGD atau ahli Bedah, dengan penilaian pasien cepat,

akurat, dan alatnya murah, dan yang dapat dengan mudah diintegrasikan ke jalur trauma saat ini.
Teknik ini mudah dipelajari dan telah dibuktikan, di tangan yang tepat, untuk menjadi sensitif dan
spesifik untuk menilai adanya cairan bebas intraperitoneal. Seperti halnya modalitas pencitraan, USG
memiliki keterbatasan sendiri, dan perlu pelatihan yang adekuat dan pengawasan mutu adalah sangat
penting. USG pada bidang kegawatdaruratan memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan
pemberian perawatan pada pasien dengan trauma, tumpul dan menyelamatkan banyak nyawa dengan
melakukannya.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Alexander Ng. Trauma Ultrasonography The FAST and Beyond. Trauma.org. 2001; 6:12 URL
http//trauma.org./us/html.2001.
Dudley, H. A. F. 1992 Hamilton Bailey's Emergency Surgery. Yogyakarta : UGM Press.
Fabian TC, Croce MA. Abdominal Trauma, Including Indications for Celiotomy in Trauma.
Feliciano DV. Editors. Ed. 3. London : Appleton S Lange Co; 1991. Hal 441-459.
Feldman, G. 2006 Blunt Abdominal Trauma : Evaluation. Diakses pada 17 Januari 2014 dari
http://www.docstoc.com/docs/30321684/Blunt-Abdominal-Trauma-Evaluation.
Fukuda M, Cogrove DO. Abdominal Ultrasound A Basic TextBook. Tokyo :IgakuShoin Ltd;
1997. Hal. 1-45.
Gordon, Julian. 2006.

Trauma

Urogenital.

Diakses

pada

21

januari

2014

dari

http://www.emedicine.com
Hoff. W S., Holevar M., Nagy K. K., Patterson L., Young .J S., Arrillaga A., Najarian M. P.,
Valenziano C. P. 2001 PRACTICE MANAGEMENT GUIDELINES FOR THE
EVALUATION. Coatesville : Eastern Association for the Surgery of Trauma.
Jehangir B., Bhat A. H., Nazir, A. 2002 The Role of Ultrasonography in Blunt Abdominal
Trauma. JK-practitioner.
Jong, De Wim. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta
Khan, Nawas Ali. 2007. Liver Trauma. Chairman of Medical Imaging, Professor of Radiology,
NGHA, King Fahad Hospital, King Abdul Aziz Medical City Riyadh, Saudi Arabia
Diakses pada 21 Januari 2014 dari http://www.emedicine.com.
King M., Bewes P. 2002 Bedah Primer Trauma. Jakarta : EGC.

Mackersie RC. Abdominal Trauma, in : Norton AJ, Boliinger B, Chang, Lowry, Mulvihil, Pass,
dll (editor). Surgery Basic Science and Clinical Evidence Vol. 1. New York : SpringerVerlaginc; 2001. Hal. 825-45.
Molmenti,
Hebe,
2004.
Peritonitis.

Medical

Encyclopedia.

Medline

Plus

Diakses pada 21 Januari 2014 dari http://medlineplus.gov.


Odle, Teresa. 2007. Blunt Abdominal Trauma. Diakses pada 21 Januari 2014 dari
http://www.emedicine.com.
Rozycki GS, Ochner GM, Feliciano, Thomas B, Boulanger BR, Davis FE, dll. Early Detection of
Hemoperitoneum by Ultrasound Examination of the Right Upper Quadrant. J of Trauma.
1998; 45:878-83.
Salomone A. J., Salomone,
Trauma.Emedicine.

J.

WebMD.

P. 2011

Emergency

Diakses

pada

Medicine:
17

Abdominal

Januari

2014

Blunt
dari

http://emedicine.medscape.com/article/433404-print.
Salomone, Joseph. 2007. Blunt Abdominal Trauma. Department of Emergency Medicine,
Truman Medical Center, University of Missouri at Kansas City School of Medicine.
Diakses pada 21 Januari 2014 dari http://www.emedicine.com.
Snell, R S. 2006 Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta : EGC.
Udeani, J., Steinberg S. R. 2011 Trauma Medicine: Blunt Abdominal Trauma.Emedicine.
WebMD.

Diakses

pada

17

http://emedicine.medscape.com/article/821995-print

Januari

2014

dari