Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fraktur radius distal ataupun Fraktur Colles adalah salah satu dari macam fraktur
yang biasa terjadi pada pergelangan tangan. Umumnya terjadi karena jatuh dalam keadaan
tangan menumpu dan biasanya terjadi pada anak-anak dan lanjut usia. Bila seseorang jatuh
dengan tangan yang menjulur, tangan akan tiba-tiba menjadi kaku, dan kemudian
menyebabkan tangan memutar dan menekan lengan bawah. Jenis luka yang terjadi akibat
keadaan ini tergantung usia penderita. Pada anak-anak dan lanjut usia, akan menyebabkan
fraktur tulang radius.
Fraktur radius distal merupakan 15 % dari seluruh kejadian fraktur pada dewasa.
Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur radius distalis
pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles. Ini adalah fraktur yang
paling sering ditemukan pada manula, insidensinya yang tinggi berhubungan dengan
permulaan osteoporosis pasca menopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki
riwayat jatuh pada tangan yang terentang.
Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan dalam
posisi terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal yang akan
menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan
persendian pergelangan tangan. Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah
dorsal, radial dan supinasi. Gerakan ke arah radial sering menyebabkan fraktur avulsi dari
prosesus styloideus ulna, sedangkan dislokasi bagian distal ke dorsal dan gerakan ke arah
radial menyebabkan subluksasi sendi radioulnar distal. Momok cedera tungkai atas adalah
kekakuan, terutama bahu tetapi kadang-kadang siku atau tangan. Dua hal yang harus terus
menerus diingat :
(1) pada pasien manula, terbaik untuk tidak mempedulikan fraktur tetapi berkonsentrasi
pada pengembalian gerakan;
(2) apapun jenis cedera itu, dan bagaimanapun cara terapinya, jari harus mendapatkan
latihan sejak awal.1,2
1

Jenis-jenis fraktur :

Greenstick : tulang anak bersifat fleksibel, sehingga fraktur dapat berupa bengkokan
tulang di satu sisi dan patahan korteks di sisi lainnya. Tulang juga dapat melengkung

tanpa disertai patahan yang nyata (fraktur torus).


Comminuted : fraktur dengan fragmen multiple.
Avulsi : sebuah fragmen tulang terlepas dari lokasi ligamen atau insersi tendon.
Patologis : fraktur yang terjadi pada tulang yang memang telah memiliki kelainan,
seringkali terjadi setelah trauma trivial, misalnya penyakit Paget, osteoporosis, atau

tumor.
Fraktur stres atau lelah : akibat trauma minor berulang dan kronis. Daerah yang rentan
antara lain metatarsal kedua atau ketiga (fraktur march), batang tibia proksimal, fibula,

dan batang femoral (pada pelari jarak jauh dan penari balet).
Fraktur impaksi : fragmen-fragmen saling tertekan satu sama lain, tanpa adanya garis

fraktur yang jelas.


Fraktur lempeng epifisis pada anak di bawah usia 16 tahun. Fraktur ini dapat
dikelompokkan menjadi tipe 1 sampai 5 berdasarkan klasifikasi Salter Harris.8

1.2 Tujuan
Case Report ini dibuat untuk memenuhi Tugas Ujian Kepaniteraaan Klinik di RS
Achmad Mochtar Bukittinggi, dan juga sebagai bahan pengayaan materi agar mahasiswa
mengetahui dan memahami lebih jauh tentang Fraktur Tertutup Distal radius ulna sinistra

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. 1 Cedera yang digambarkan oleh
Abraham Colles pada tahun 1814 adalah fraktur melintang pada radius tepat di atas
pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal fragmen distal.2
2.2 EPIDEMIOLOGI
Fraktur distal radius terutama fraktur Colles lebih sering ditemukan pada wanita,
dan jarang ditemui sebelum umur 50 tahun. Secara umum insidennya kira-kira 8 15% dari
seluruh fraktur dan diterapi di ruang gawat darurat. Dari suatu survey epidemiologi yang
dilakukan di Swedia, didapatkan angka 74,5% dari seluruh fraktur pada lengan bawah
merupakan fraktur distal radius. Umur di atas 50 tahun pria dan wanita 1 berbanding 5.
Sebelum umur 50 tahun, insiden pada pria dan wanita lebih kurang sama di mana fraktur
Colles lebih kurang 60% dari seluruh fraktur radius. Sisi kanan lebih sering dari sisi kiri.
Angka kejadian rata-rata pertahun 0,98%. Usia terbanyak dikenai adalah antara umur 50
59 tahun.2
2.3 ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO

usia lanjut

postmenopause

massa otot rendah

osteoporosis

kurang gizi

olahraga seperti sepakbola dll

aktivitas seperti skating, skateboarding atau bike riding

kekerasan

ACR (albumin-creatinin ratio) yang tinggi efek ini kemungkinan disebabkan oleh
gangguan

sekresi

1,25-dihidroksivitamin

D,

yang

menyebabkan

malabsoprsi

kalsium.1,2,3
2.4 ANATOMI
Tulang radius ke arah distal membentuk permukaan yang lebar sampai persendian
dengan tulang carpalia. Dan peralihan antara dense cortex dan cancellous bone pada bagian
distal merupakan bagian yang sangat lemah dan mudah terjadi fraktur. Penting sekali
diketahuii kedudukan anatomis yang normal dari pergelangan tangan, terutama posisi dari
ujung distal radius.
Perlu diperhatikan 3 ukuran yang utama :
1. Radial height :
Yaitu jarak proccesus styloideus radii terhadap ulna. Diukur dari jarak antara garis
horizontal yang ditarik melalui ujung procesus styloideus radii dan melalui ujung distal
ulna. Ukuran normalnya kira-kira 1 cm.
2. Derajat ulna tilt atau ulna deviation dari permukaan sendi ujung distal
radius pada posisi anterior posterior.
Normal, permukaan sendi ini letaknya miring menghadap ke ulnar. Derajat miringnya
diukur dari besarnya sudut antara garis horizontall yang tegak lurus pada sumbu radius
dan garis yang sesuai dengan permukaan sendi. Normal : 15 30 derajat, rata-rata 23
derajat.
3. Derajat volar tilt (volar deviation) dari permukaan sendi radius pada posisi
lateral.
Normal : permukaan sendi ini miring menghadap kebawah dan kedepan. Besarnya
diukur dengan sudut antara garis horizontal tegak lurus sumbu radius dan garis yang
sesuai dengan permukaan sendi. Normal : 1 23 derajat, rata-rata 11 derajat.2,3
4

Alat-alat gerak yang meliputi ini ialah :


1. Posterior :
Berbentuk cembung dan terdapat sekumpulan tendon/otot extensor yang mempunyai
fungsi ekstensi.
2. Anterior :
Berbentuk cekung dan terdapat sekumpulan tendon/otot fleksor yang mempunyai fungsi
fleksi lengan bawah dan tangan. Dan pada bagian dalam ada: m. pronator quadratus
yang berjalan menyilang dan berfungsi terutama untuk pronasi.
3. Lateral :
Tampak m. supinator longus yang mempunyai insersi pada procesus. styloideus radii
yang mempunyai fungsi utama sebagai supinasi.2,3
Radius bagian distal bersendi dengan tulang karpus yaitu tulang lunatum dan
navikulare ke arah distal, dan dengan tulang ulna bagian distal ke arah medial. Bagian distal
sendi radiokarpal diperkuat dengan simpai di sebelah volar dan dorsal, dan ligament
radiokarpal kolateral ulnar dan radial. Antara radius dan ulna selain terdapat ligament dan
simpai yang memperkuat hubungan tersebut, terdapat pula diskus artikularis, yang melekat
dengan semacam meniskus yang berbentuk segitiga, yang melekat pada ligamen kolateral
ulna. Ligamen kolateral ulna bersama dengan meniskus homolognya dan diskus artikularis
bersama ligament radioulnar dorsal dan volar, yang kesemuanya menghubungkan radius dan
ulna, disebut kompleks rawan fibroid triangularis (TFCC = triangular fibro cartilage
complex).
Gerakan sendi radiokarpal adalah fleksi dan ekstensinya pergelangan tangan serta
gerakan deviasi radius dan ulna. Gerakan fleksi dan ekstensi dapat mencapai 90 derajat oleh
karena adanya dua sendi yang bergerak yaitu sendi radiolunatum dan sendi lunatum-

kapitatum dan sendi lain di korpus. Gerakan pada sendi radioulnar distal adalah gerak
rotasi.1

Gambar 1. Sudut normal sendi radiokarpal di bagian ventral (tampak lateral)

Gambar 2. Sudut normal yang dibentuk oleh ulna terhadap sendi radiokarpal
Sendi radiokarpal normalnya memiliki sudut 1 - 23 derajat pada bagian palmar
(ventral) seperti diperlihatkan pada gambar 1a. Fraktur yang melibatkan angulasi ventral
umumnya berhasil baik dalam fungsi, tidak seperti fraktur yang melibatkan angulasi dorsal
sendi radiokarpal yang pemulihan fungsinya tidak begitu baik bila reduksinya tidak
sempurna. Gambar 1b memperlihatkan sudut normal yang dibentuk tulang ulna terhadap
6

sendi radiokarpal, yaitu 15 - 30 derajat. Evaluasi terhadap angulasi penting dalam perawatan
fraktur lengan bawah bagian distal, karena kegagalan atau reduksi inkomplit yang tidak
memperhitungkan angulasi akan menyebabkan hambatan pada gerakan tangan oleh ulna.1
Anatomi dan Biomekanik Antebrakhii Distal
Bagian antebrakhii distal sering disebut pergelangan tangan, batas atasnya kira-kira
1,5 2 inchi distal radius. Pada tempat ini ditemui bagian tulang distal radius yang relatif
lemah karena tempat persambungan antara tulang kortikal dan tulang spongiosa dekat sendi.
Dorsal radius bentuknya cembung dengan permukaan beralur-alur untuk tempat lewatnya
tendon ekstensor.
Bagian volarnya cekung dan ditutupi oleh otot pronator quadratus. Sisi lateral radius
distal memanjang ke bawah membentuk prosesus styloideus radius dengan posisi yang lebih
rendah dari prosesus styloideus ulna. Bagian ini merupakan tempat insersi otot
brakhioradialis.2
Pada antebrakhii distal ini ditemui 2 sendi yaitu sendi radioulna distal dan sendi
radiocarpalia. Kapsul sendi radioulna dan radiocarpalia melekat pada batas permukaan
sendi. Kapsul ini tipis dan lemah tapi diperkuat oleh beberapa ligamen antara lain :
1. Ligamentum Carpeum volare (yang paling kuat).
2. Ligamentum Carpaeum dorsale.
3. Ligamentum Carpal dorsale dan volare.
4. Ligamentum Collateral.
Anatomi Pergelangan Tangan

Gambar 3. Anatomi pergelangan Tangan


Anterior
a. Struktur ini

berjalan superficial terhadap retinaculum musculorum flexorum dari

medial ke lateral
1) Tendo musculus flexor carpi ulnaris
2) N. Ulnaris
3) A. Ulnaris
4) Ramus cutaneus palmaris nervi ulnaris
5) Tendo musculus palmaris longus
6) Ramus cutaneus nervi medianus
b. Struktur ini berjalan di bawah retinaculum musculorum flexorum dari medial ke lateral
1) Tendo musculus flexor digitorum superficialis
2) N. Medianus
3) Tendo musculus flexor policis longus
4) Tendo musculus flexor carpi radialis
Posterior
a. Struktur ini berjalan superficial terhadap retinaculum musculorum extensorum dari
medial ke lateral
1) Ramus cutaneus dorsalis(posterior)nervi ulnaris
8

2) Vena basilica
3) Vena cepalica
4) Ramus superficialis nervi radialis
b. Struktur ini berjalan di bawah retinaculum musculorum extensorum dari medial ke
lateral
1) Tendo musculus extensorum carpi ulnaris
2) Tendo musculus extensor digiti minimi
3) Tendo musculus extensor digitorum et indicis
4) Tendo musculus extensor policis longus

Gambar 4 . Inervasi lengan

Persarafan
1. Lateral cord
a. Lateral pectoral nerve
b. Musculocutaneous nerve
c. Lateral root of median nerve
2. Medial cord
a. Medial pectoral nerve
b. Medial cutaneous nerve of arm
c. and medial cutaneous nerve of forearm
d. Ulnar nerve
e. Medial root of median nerve
3. Posterior cord
a. Upper and lower subscapular nerves
b. Thoracodorsal nerve
c. Axillary nerve
d. Radial nerve
Jenis Pergerakan pada Pergelangan Tangan/Articulatio

radiocarpalis(sendi

pergelangan tangan)
a. Articulatio

: antara ujung distal radius dan discus articulaticularis di sebelah tas


dengan os lunatum, os triquetrum, dan os scapoideum

Tipe

: sendi episoidea sinovial

Persarafan

: N. Interossea anterior dan ramus profundus nervi radialis

1) Flexio, dilakukan oleh M. Flexor carpi radialis, M. Flexor carpu ulnaris, M. Palmaris
longus, dan dibantu otot lain
2) Extentio, dilakuakn oleh M. Carpi radialis longus, M. Extensor capi radialis brevis,
M. Extensor carpi ulnaris
10

3) Abductio, M. Flexor carpi radialis

b. Articulatio radioulnaris distalis


Aryticulatio

: antara caput ulan dan incisura ulanris radii

Tipe

: sendi pivot sinovila

Persarafan

: nervus interosseus anterior dan ranmus profundus nervi radialis

1) Pronatio, dilakukan oleh M. Pronator teres dan M. Pronator quadratus


2) Supinatio, dilakukan oleh M. biceps brachii damn M. Supinator
Berdasarkan anatomi dan hubungan dengan posisi tangan pada saat jatuh, bagian
yang mungkin mengalami kerusakan adalah radius distal, ulna distal, ossa carpal serta
jaringan yang ada disekitar tulang yang mengalami fraktur.
Pada saat jatuh terpeleset, posisi tangan berusaha untuk menahan badan dalam posisi
terbuka dan pronasi. . Lalu dengan terjadinya benturan yang kuat, gaya akan diteruskan ke
daerah metafisis radius distal dan mungkin akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di
mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan.

11

Sehingga tulang yang kemungkinan mengalami fratur pada posisi tersebut adalah radius
distal dan os scaphoideum.

Scaphoid fracture

Colles fracture

Dengan posisi tangan pada saat

jatuh

seperti

gambar di atas, maka gaya yang

kuat

akan

berlawanan arah ke daerah pergelangan tangan. Dan seperti yang telah disebutkan
sebelumnya bahwa yang mungkin mengalami fraktur adalah distal radius sebab dilihat dari
struktur jaringannya saja tulang daerah tersebut memang rawan patah.1,2,3
Gerakan Pada Pergelangan Tangan
Sendi radioulnar distal adalah sendi antara cavum sigmoid radius (yang terletak
pada bahagian dalam radius) dengan ulna. Pada permukaan sendi ini terdapat fibrocartilago
triangular dengan basis melekat pada permukaaan inferior radius dan puncaknya pada
prosesus styloideus ulna. Sendi ini membantu gerakan pronasi dan supinasi lengan bawah,
di mana dalam keadaan normal gerakan ini membutuhkan kedudukan sumbu sendi
radioulnar proksimal dan distal dalam keadaan coaxial.
Adapun nilai maksimal rata-rata lingkup sendi dari pronasi dan supinasi sebagai berikut :
1. pronasi = 80 - 900
2. supinasi = 80 900
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon untuk pengukuran lingkup sendi ini,
siku harus dalam posisi fleksi 90 0 sehingga mencegah gerakan rotasi pada humerus (Kaner,
1980; Kapanji, 1983).
Sendi Radio Carpalia merupakan suatu persendian yang kompleks, dibentuk oleh
radius distal dan tulang carpalia ( os navikulare dan lunatum ) yang terdiri dari inner dan
outer facet. Dengan adanya sendi ini tangan dapat digerakkan ke arah volar, dorsal, radial
12

dan ulnar secara sirkumdiksi. Sedangkan gerakan rotasi tidak mungkin karena bentuk
permukaan sendi ellips.
Rata-rata gerakan maksimal pada pergelangan tangan adalah sebagai berikut :
1. fleksi dorsal = 50 800.
2. fleksi volar/palmar= 60 850
3. deviasi radial = 15 - 290
4. deviasi ulnar = 30 460
Menurut American Acadeny of Orthopaedic Surgeon untuk pengukuran lingkup
sendi ini dilakukan dengan memakai goniometer, dalam posisi pronasi secara normal sendi
radio carpalia ini mempunyai sudut 1 23 0 ke arah palmar polar, jadi fraktur yang mengarah
pada volar akan mempunyai prognosa baik.2
2.5 KLASIFIKASI
Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada fraktur ekstensi dari radius distal.
Namun yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi oleh Frykman. Berdasarkan
sistem ini maka fraktur Colles dibedakan menjadi 4 tipe berikut :
Tipe IA
: Fraktur radius ekstra artikuler
Tipe IB

: Fraktur radius dan ulna ekstra artikuler

Tipe IIA

: Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal

Tipe IIB

: Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radiokarpal

Tipe IIIA

: Fraktur radius distal yang mengenai sendi radioulnar

Tipe IIIB

: Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radioulnar

Tipe IVA

: Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal dan sendi radioulnar

Tipe IVB

: Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radiokarpal dan sendi
radioulnar

13

Gambar 5. sistem klasifikasi oleh Frykman


2.6 PATOGENESIS
Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles dapat timbul setelah penderita
terjatuh dengan tangan posisi meyangga badan.2,3
Pada saat terjatuh sebahagian energi yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan persendian
tangan, kemudian baru diteruskan ke distal radius, hingga dapat menimbulkan patah tulang
pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.
Khusus pada fraktur Colles biasanya fragmen distal bergeser ke dorsal, tertarik ke
proksimal dengan angulasi ke arah radial serta supinasi. Adanya fraktur prosesus styloid
ulna mungkin akibat adanya tarikan triangular fibrokartilago atau ligamen ulnar collateral
Berdasarkan percobaan cadaver didapatkan bahwa fraktur distal radius dapat terjadi,
jika pergelangan tangan berada dalam posisi dorsofleksi 40 900 dengan beban gaya tarikan
sebesar 195 kg pada wanita dan 282 kg pada pria.
Pada bagian dorsal radius frakturnya sering komunited, dengan periosteum masih
utuh, sehingga jarang disertai trauma tendon ekstensor. Sebaliknya pada bahagian volar
14

umumnya fraktur tidak komunited, disertai oleh robekan periosteum, dan dapat disertai
dengan trauma tendon fleksor dan jaringan lunak lainnya seperti n. medianus dan n. ulnaris.
Fraktur pada radius distal ini dapat disertai dengan kerusakan sendi radio carpalia dan radio
ulna distal berupa luksasi atau subluksasi. Pada sendi radio ulna distal umumnya disertai
dengan robekan dari triangular fibrokartilago.3,4,5
Mekanisme terjadinya fraktur :

Biasanya disebabkan karena trauma langsung, atau sebagai akibat jatuh dimana sisi
dorsal lengan bawah menyangga berat badan.

Secara ilmu gaya dapat diterangkan sebagai berikut :Trauma langsung dimana lengan
bawah dalam posisi supinasi penuh yang terkunci dan berat badan waktu jatuh memutar
pronasi pada bagian proximal dengan tangan relatif terfixir pada tanah. Putaran tersebut
merupakan kombinasi tekanan yang kuat dan berat, akan memberikan mekanisme yang
ideal dari penyebab fraktur Smith.

Trauma lain diduga disebabkan karena tekanan yang mendadak pada dorsum manus,
dimana posisi tangan sedang mengepal. Ini biasanya didapatkan pada penderita yang
mengendarai sepeda yang mengalamii trauma langsung pada dorsum manus.1,2,3

2.7 MANIFESTASI KLINIS


Kita dapat mengenali fraktur ini (seperti halnya Colles jauh sebelum radiografi
diciptakan) dengan sebutan deformitas garpu makan malam, dengan penonjolan punggung
pergelangan tangan dan depresi di depan. Pada pasien dengan sedikit deformitas mungkin
hanya terdapat nyeri tekan lokal dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan.1
Selain itu juga didapatkan kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di
daerah yang terkena.

15

Gambar 6. Dinner fork deformity


Pada saat terjadi fraktur, terjadi kerusakan korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan
jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut yaitu terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan
jaringan sekitar. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang
dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Lalu terjadilah respon
inflammasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik dengan ditandai vasodilatasi dari plasma dan
leukosit. Tentunya hal tersebut merupakan salah satu upaya tubuh untuk melakukan proses
penyembuhan dalam memperbaiki cidera, dimana tahap tersebut menunjukkan tahap awal
penyembuhan tulang. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga
meningkatkan tekanan kapiler, lalu menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan
menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal tersebut menyebabkan
terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf nyeri, sehingga
terjadilah nyeri tekan. 1,2,3,4,5,6
2.8iiiDIAGNOSIS
Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan kesulitan. Secara
klinis dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa

16

dislokasi fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis patah
tulang.1,2
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya fraktur
kominutif dan mengetahui letak persis patahannya. Pada gambaran radiologis dapat
diklasifikasikan stabil dan instabil.1,2

Stabil bila hanya terjadi satu garis patahan.

Instabil bila patahnya kominutif dan crushing dari tulang cancellous.


Pada keadaan tipe tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3 distal tetap utuh..

Terdapat fraktur radius melintang pada sambungan kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus
ulnar sering putus. Fragmen radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2) bergeser dan
miring ke radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal mengalami peremukan
dan kominutif yang hebat.2

Gambar 7. (a) deformitas garpu makan malam, (b) fraktur tidak masuk dalam sendi
pergelangan tangan, (c) Pergeseran ke belakang dan ke radial
Proyeksi AP dan lateral biasanya sudah cukup untuk memperlihatkan fragmen fraktur.
Dalam evaluasi fraktur, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
1. Adakah fraktur ini juga menyebabkan fraktur pada prosesus styloideus ulna atau pada
collum ulna ?
2. Apakah melibatkan sendi radioulnar ?
3. Apakah melibatkan sendi radiokarpal ?

17

Proyeksi lateral perlu dievaluasi untuk konfirmasi adanya subluksasi radioulnar


distal. Selain itu, evaluasi sudut radiokarpal dan sudut radioulnar juga diperlukan untuk
memastikan perbaikan fungsi telah lengkap.1,2,3,5

Gambar 8 .Gambaran radiologi fraktur dan abnormalitas distal lengan bawah


Pada x-ray menunjukkan fraktur angulasi dorsal dari metaphysis distal radius (2-3 cm
proksimal ke pergelangan tangan).
Fraktur yang mencapai ke persendian, disebut fraktur intra-artikular sedangkan fraktur yang
tidak mencapai persendian disebut fraktur eksta-artikular.
Dinner fork deformity merupakan temuan klinis klasik dan radiologi pada fraktur colles.
Dislokasi dan angulasi dorsal dari fragmen distal radius mengakibatkan suatu bentuk garis
pada proyeksi lateral yang menyerupai kurva garpu makan malam.1,2,3,5,7

18

Gambar 9. Perbandingan radiologi


Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah :

Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau

menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada fraktur minor.
Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur.
Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada korteks.8
Posisi yang dianjurkan untuk melakukan plain x-ray adalah AP dan lateral view.

Posisi ini dibutuhkan agar letak tulang radius dan tulang ulna tidak bersilangan, serta posisi
lengan bawah menghadap ke arah datangnya sinar (posisi anatomi). Sinar datang dari arah
depan sehingga disebut AP (Antero-Posterior) 13
Terdapat tiga posisi yang diperlukan pada foto pergelangan tangan untuk menilai
sebuah fraktur distal radius yaitu AP, lateral, dan oblik. Posisi AP bertujuan untuk menilai
kemiringan dan panjang os radius, posisi lateral bertujuan untuk menilai permukaan
artikulasi distal radius pada posisi normal volar (posisi anatomis).14
Berikut ini gejala klinis dari beberapa jenis fraktur yang terdapat pada fraktur radius
dan ulna :

Fraktur Kaput Radius

19

Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir tidak pernah
ditemukan pada anak-anak. Fraktur ini kadang-kadang terasa nyeri saat lengan bawah
dirotasi, dan nyeri tekan pada sisi lateral siku memberi petunjuk untuk mendiagnosisnya.

Fraktur Leher Radius


Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan

mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada orang dewasa kaput radius dapat retak atau,
patah sedangkan pada anak-anak tulang lebih mungkin mengalami fraktur pada leher radius.
Setelah jatuh, anak mengeluh nyeri pada siku. Pada fraktur ini kemungkinan terdapat nyeri
tekan pada kaput radius dan nyeri bila lengan berotasi.

Fraktur Diafisis Radius


Kalau terdapat nyeri tekan lokal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan sinar-X

Fraktur Distal Radius


Fraktur Distal Radius dibagi dalam :

1) Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi yaitu Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi radioulna distal. Fragmen distal mengalami pergeseran dan angulasi ke arah dorsal. Dislokasi
mengenai ulna ke arah dorsal dan medial. Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan
terentang dan lengan bawah dalam keadaan pronasi, atau terjadi karena pukulan
langsung pada pergelangan tangan bagian dorsolateral. Fraktur Galeazzi jauh lebih
sering terjadi daripada fraktur Monteggia. Ujung bagian bawah ulna yang menonjol
merupakan tanda yang mencolok. Perlu dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris,
yang sering terjadi.15

20

Gambar 10. Fraktur Galeazzi


2) Fraktur Colles
Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius terjadi di korpus
distal, biasanya sekitar 2 cm dari permukaan artikular. Fragmen distal bergeser ke arah
dorsal dan proksimal, memperlihatkan gambaran deformitas garpu-makan malam
(dinner-fork). Kemungkinan dapat disertai dengan fraktur pada prosesus styloideus
ulna.15
Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) dengan angulasi ke
posterior, dislokasi ke posterior dan deviasi pragmen distal ke radial. Dapat bersifat
kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna. Fraktur collees dapat terjadi
setelah terjatuh, sehingga dapat menyebabkan fraktur pada ujung bawah radius dengan
pergeseran posterior dari fragmen distal
3) Fraktur Smith
Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan atau pukulan keras secara langsung
pada punggung tangan. Pasien mengalami cedera pergelangan tangan, tetapi tidak
terdapat

deformitas. Fraktur radius bagian distal dengan angulasi atau dislokasi

fragmen distal ke arah ventral dengan diviasi radius tangan yang memberikan gambaran
deformitas sekop kebun (garden spade). 15

Gambar 11. Fraktur Colles dan fraktur Smith

21

Gambar 12. Gambaran radiologi fraktur Smith

Gambar 13. Gambaran radiologi fraktur Colles

4) Fraktur Lempeng Epifisis


Fraktur Lempeng Epifisis merupakan fraktur pada tulang panjang di daerah ujung
tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligamen.(21)
Klasifikasi menurut Salter-Harris merupakan klasifikasi yang dianut dan dibagi
dalam 5 tipe :16
2.9 PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
22

b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap


c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal
e. Pemerikasaan rontgen, menentukan luasnya fraktur, trauma.1,2,3

f. Scan tulang, tomogram, memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk


mengidentifikasi jaringan lunak
Ht mungkin meningkat (Hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada
sisi fraktur / organ jauh pada trauma multiple). Kreatmin, trauma otot meningkat beban
creatrinin untuk klirens ginjal.2,3,4
2.10

PENATALAKSANAAN
Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat dalam slab gips
yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan dan dibalut kuat
dalam posisinya.

Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang dengan erat
dan traksi diterapkan di sepanjang tulang itu (kadang-kadang dengan ekstensi
pergelangan tangan untuk melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian didorong ke
tempatnya dengan menekan kuat-kuat pada dorsum sambil memanipulasi pergelangan
23

tangan ke dalam fleksi, deviasi ulnar dan pronasi. Posisi kemudian diperiksa dengan
sinar X. Kalau posisi memuaskan, dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat di
bawah siku sampai leher metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab
ini dipertahankan pada posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi deviasi ulnar yang
ekstrim harus dihindari; cukup 20 derajat saja pada tiap arah.2,3,5

Gambar 14. Reduksi : (a) pelepasan impaksi, (b) pronasi dan pergeseran ke depan, (c)
deviasi ulnar. Pembebatan : (d) penggunaan sarung tangan, (b) slab gips yang
basah, (f) slab yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras
Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan bahu dan jari
segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami sianosis
atau nyeri, harus tidak ada keragu-raguan untuk membuka pembalut.
Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar X yang baru; pergeseran
ulang sering terjadi dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya, sekalipun
manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi.
Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan
secara radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain krep
sementara.1,4,5,6

24

Gam
bar 15. (a) Film pasca reduksi, (b) gerakan-gerakan yang perlu dipraktekkan oleh pasien
secara teratur

Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan gips; untuk
keadaan ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar, dengan pen proksimal yang mentransfiksi
radius dan pen distal, sebaiknya mentransfiksi dasar-dasar metakarpal kedua dan
sepertiga.2,3

Fraktur Colles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap menyebabkan
komplikasi jangka panjang. Karena itulah hanya fraktur Colles tipe IA atau IB dan tipe
IIA yang boleh ditangani oleh dokter IGD. Selebihnya harus dirujuk sebagai kasus
darurat dan diserahkan pada ahli orthopedik. Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip
yang perlu diketahui, sebagai berikut :

Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi untuk menyebabkan tarikan dorsal


sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen

Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi mulai dari 1 sampai 23 derajat di


sebelah palmar, sedangkan angulasi dorsal tidak

Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30 derajat. Sudut ini dapat
dengan mudah dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk waktu yang lama sampai
terjadi proses penyembuhan kecuali difiksasi.
Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik, maka

beberapa hal berikut dapat dilakukan :


1. Lakukan tindakan di bawah anestesi regional

25

2. Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari-jari ditempatkan pada Chinese finger traps
dan siku dielevasi sebanyak 90 derajat dalam keadaan fleksi. Beban seberat 8-10
pon digantungkan pada siku selama 5-10 menit atau sampai fragmen disimpaksi.
3. Kemudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi volar dengan menggunakan
ibu jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen proksimal menggunakan jari-jari
lainnya. Bila posisi yang benar telah didapatkan, maka beban dapat diturunkan.
4. Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau midposisi
terhadap pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan 20 derajat deviasi ulna.
5. Lengan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti dengan pemasangan
anteroposterior long arms splint
6. Lakukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk memastikan bahwa telah
tercapai posisi yang benar, dan juga pemeriksaan pada saraf medianusnya
7. Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama 72 jam untuk
mengurangi bengkak. Latihan gerak pada jari-jari dan bahu sebaiknya dilakukan
sedini mungkin dan pemeriksaan radiologik pada hari ketiga dan dua minggu pasca
trauma. Immobilisasi fraktur yang tak bergeser selama 4-6 minggu, sedangkan
untuk fraktur yang bergeser membutuhkan waktu 6-12 minggu.1,2

26

Gambar 16. Reduksi pada fraktur Colles


PENATALAKSANAAN DAN REHABILITASI
Fraktur dari distal radius adalah jenis fraktur yang paling sering terjadi. Fraktur
radius dan ulna biasanya selalu berupa perubahan posisi dan tidak stabil sehingga umumnya
membutuhkan terapi operatif. Fraktur yang tidak disertai perubahan posisi ekstraartikular
dari distal radius dan fraktur tertutup dari ulna dapat diatasi secara efektif dengan primary
care provider. Fraktur distal radius umumnya terjadi pada anak-anak dan remaja, serta
mudah sembuh pada kebanyakan kasus. 11
Terapi fraktur diperlukan konsep empat R yaitu : rekognisi, reduksi/reposisi,
terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.
1.

Rekognisi atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang benar
sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan terapinya dapat
dipersiapkan lebih sempurna.

2.

Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmen-fragmen fraktur


semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak normal.

27

3.

Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau menahan
fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan.

4.

Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur
tersebut dapat kembali normal.12

Gambar 17 . Proses penyembuhan fraktur


Secara rinci proses penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa tahap sebagai
berikut :
1.

Fase hematoma
Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan lunak,

kemudian terjadi organisasi (proliferasi jaringan penyambung muda dalam daerah radang)
dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya disertai putusnya pembuluh darah
sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar fraktur. Pada ujung tulang yang patah terjadi
ischemia sampai beberapa milimeter dari garis patahan yang mengakibatkan matinya
osteocyt pada daerah fraktur tersebut.

28

2.

Fase proliferatif
Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal, yang menonjol adalah proliferasi sel-sel

lapisan dalam periosteal dekat daerah fraktur. Hematoma terdesak oleh proliferasi ini dan
diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi
aktifitas sel-sel dari kanalis medularis dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masingmasing fragmen. Proses dari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen
bertemu dalam satu preses yang sama, proses terus berlangsung kedalam dan keluar dari
tulang tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Pada saat ini
mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago, yang mungkin banyak
sekali,walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan tulang. Pada fase ini
sudah terjadi pengendapan kalsium.
3.

Fase pembentukan callus


Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik akibat

resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler
yang terdiri dari kolagen dan polisakarida, yang segera bersatu dengan garam-garam
kalsium, membentuk tulang immature atau young callus, karena proses pembauran tersebut,
maka pada akhir stadium ter dapat dua macam callus yaitu didalam disebut internal callus
dan diluar disebut external callus.
4.

Fase konsolidasi
Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh aktivitas

osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamelalamela). Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan sedah lengkap. Pada fase ini
terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus. Pada saat ini sudah mulai
diletakkan sehingga sudah tampak jaringan yang radioopaque. Fase ini terjadi sesudah 4
(empat) minggu, namun pada umur-umur lebih mudah lebih cepat. Secara berangsur-angsur
primary bone callus diresorbsi dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip
dengan jaringan tulang yang normal.

29

5.

Fase remodeling
Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang banyak

dan tulang sedah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan kembali dari medula
tulang. Apabila union sudah lengkap, tulang baru yang terbentuk pada umumnya berlebihan,
mengelilingi daerah fraktur di luar maupun didalam kanal, sehingga dapat membentuk kanal
medularis. Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi
otot dan sebagainya, maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali
dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya. 12
Pertolongan Pertama
1. Rest.
Daerah yang mengalami fraktur harus diposisikan dalam keadaan istirahat. Beri
bantalan dan letakan pada palmar lalu balutkan secara sirkumferensial dan biarkan
ujung jari terbuka, tambahkan papan penahan di bawah pergelangan untuk mencegah
pergerakan.
2. Elevate , tinggikan bagian yang patah,terutama pada 72 jam pertama untuk mereduksi
pembengkakan
3. ICE. Beri es intuk mereduksi pembengkakan dan rasa sakit
4. Segera bawa ke bagian gawat darurat
5. Jangan menggerakkan tangan
Reposisi
Dilakukan apabila terjadi pergeseran yang bermakna. Dilakukan reposisi manipulatif
setelah dilakukan anestesi umum. Dilakukan dengan menekan fragmen bawah yang bergeser
dengan ibu jari operator, pada saat yang sama dilakukan rotasi pada karpus ke posisi. Lalu
dipasang gips selama 6 minggu, lakukan x- ray setelah 2 minggu untuk memeriksa formasi
tulang.
Rehabilitasi
Tujuan rehabilitasi yaitu :

Mempertahankan fungsi otot dan sendi

Mencegah atrophi otot, adhesi, & stiffness


30

Mencegah komplikasi

Cara rehabilitasi :
1. Latihan dini seperti dengan melakukan kontraksi dan disertai gerakan pada daerah yang
terkena fraktur
2. Penggunaan secara aktif
Menggunakan anggota yang fraktur untuk aktivitas senormal mungkin, segera setelah
nyeri hilang.
Tujuan latihan yaitu :
1. Memperbaiki gerakan sendi (ROM)
2. Strengthening pada otot
2.11 KOMPLIKASI
Penting karena komplikasi ini akan mempengaruhi hasil akhir fungsi yang tidak
memuaskan. Umumnya akan selalu ada komplikasi. Menurut Cooney, hanya ada 2,9% kasus
yang tidak mengalami disabiliti dan gangguan fungsi.
Adapun komplikasi yang mungkin terjadi :
A. DINI
1. Kompresi / trauma saraf ulnaris dan medianus
2. Kerusakan tendon
3. Edema paska reposisi
4. Redislokasi
B. LANJUT
1. Arthrosis dan nyeri kronis
2. Shoulder Hand Syndrome
3. Defek kosmetik ( penonjolan styloideus radius )
4. Ruptur tendon
5. Malunion / Non union
6. Stiff hand ( perlengketan antar tendon )
7. Volksman Ischemic Contracture
8. Kompressif Neuropathy
31

9. Ruptur Tendon
10. Redislokasi
11. Stiff Hands
12. Gangguan gerakan dan fungsi
13. Kontraktur Dupuytrens
2.12 PROGNOSIS
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi
pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter pada patahan tulang
tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang, yang disebabkan
oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost yang disebut dengan fase
hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan fibrosis, lalu penyatuan klinis, dan pada
akhirnya fase konsolidasi.17
Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung pada
lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan fraktur:
Lokasi Fraktur
1. Pergelangan tangan
2. Fibula
3. Tibia
4. Pergelangan kaki
5. Tulang rusuk
6. Jones fracture

Masa Penyembuhan
3-4 minggu
4-6 minggu
4-6 minggu
5-8 minggu
4-5 minggu
3-5 minggu

Lokasi Fraktur
7. Kaki
8. Metatarsal
9. Metakarpal
10. Hairline
11. Jari tangan
12. Jari kaki

Masa Penyembuhan
3-4 minggu
5-6 minggu
3-4 minggu
2-4 minggu
2-3 minggu
2-4 minggu

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (> 8
minggu).
Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun 1997.
Tingkat kematian dari fraktur:

Kematian : 11.696

Insiden

0,78% rasio dari kematian per insiden18

: 1.499.999

BAB III
32

LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. A

Jenis Kelamin : Laki-laki


Umur

: 53 tahun

Alamat

: Lubuk basung

II. ANAMNESA
Keluhan Utama:
Nyeri disertai bengkak pada lengan bawah 5 jam sebelum masuk rumah sakit
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengalami kecelakaan jatuh dari tangga saat naik keatas genteng untuk
membetulkan genteng rumah yang bocor pada pukul 15.00, datang ke IGD RS Achmad
Moehtar Bukittinggi. Awalnya Pasien terjatuh karena tergelincir saat menaiki tangga kayu,
pasien terjatuh dari tangga dengan ketinggian 2 meter , dengan posisi tubuh miring kekiri
dengan tangan kiri pasien menahan tubuh pasien dan dengan telapak tangan terbuka. Pasien
merasakan nyeri pada lengan kiri bawah pasien, bengkak, dan tidak mampu digerakkan
karena nyeri. Riwayat kepala terbentur (-), nyeri dada (-), sesak nafas (-). Setelah jatuh
setelah terjatuh terjadi bengkak pada lengan bawah kiri (+), lengan kiri sedikit lebih pendek
(+), bengkok (+), dan jari-jari masih bisa digerakan
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat gangguan perdarahan (-), batuk lama, (-), sesak nafas (-), alergi obat (-)
Riwayat Penyakit Keluarga:
Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini
.
Riwayat Pengobatan:
33

Belum pernah minum obat rutin sebelumnya


Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien seorang petani memiliki seorang istri dan 4 orang anak
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Sakit Sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital
- Tekanan darah

: 130/80 mmHg

- Nadi

: 84 x / menit

- Nafas

: 22 x/ menit

- Suhu

: 36,5 C

Status Generalis
1. Kepala Leher
- kepala

: bentuk simetris, deformitas (-)

- mata

: konjungtiva : anemis (-). sclera : ikterus (-)

- leher

: pembesaran KGB (-)

2. Thorax

: bentuk simetris, jejas (-), sikatrik (-)

Jantung
- inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat

- palpasi

: iktus kordis tidak teraba

- perkusi

: batas jantung : kesan normal

- auskultasi

: S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)

Paru
- inspeksi

: gerakan nafas : simetris, retraksi (-)

- palpasi

: fremitus suara : simetris

- perkusi

: sonor diseluruh lapang paru

- auskultasi

: suara nafas : vesikuler, wheezing (-/-), rhonki (-/-)

3. Abdomen
- inspeksi

: distensi (-)

34

- palpasi

: defans muscular (-), nyeri tekan (-), hepar-lien : tidak


teraba

- perkusi

: hepar, lien redup ; usus timpani

- auskultasi

: bising usus (+) normal

4. Ekstremitas
superior

inferior

Edema

-/+

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

Sianosis

-/-

-/-

IV. STATUS LOKALIS


Antebrachii sinistra :
Look
: Bengkak (+), Pendek (+), angulasi (+),rotasi (-), Vulnus laceratum
(-), Deformitas Dinner Fork (+)
: Nyeri tekan (+), hangat (+), pulsasi arteri radialis (+),pulsasi arteri

Feel

lunaris sulit dinilai, krepitasi tidak dapat dinilai


Move

: nyeri gerak aktif (+), nyeri gerak pasif (+), Gerak jari-jari(+), ROM
terbatas karena nyeri.

Pengukuran : Acromion Processus Styloideus Radii Dextra = 55 cm


Acromion Processus Styloideus Radii Sinistra= 52 cm
Lingkar Antebrachii Distal Dextra = 16 cm
Lingkar Antebrachii Distal Sinistra = 20 cm

V. DIAGNOSA KERJA :
Fraktur Tertutup Distal Radius Ulna Sinistra
VI. DIAGNOSA BANDING:
Fraktur Colles
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Haemoglobin :11, 7 g/dl
Haematokrit

: 36, 5 %

Leukosit

: 14.46 (10^3/ul)
35

Trombosit

: 301 (10^3/UL)

X-rays Antebrachii sinistra AP/L :

VIII. PENATALAKSANAAN
1. Non farmakologis :

Moinitor vital sign

Imobilisasi daerah yg sakit

Pemeriksaan lab rutin

Rencana orif plate and screws dalam GA

Puasa 6 jam sebelum OP

2. Farmakologis :

IVFD RL 20 gtt/i

Ranitidin inj 2x1

Cefotaxime inj 2x1 g iv

X. Follow Up Post ORIF ( 2 Juni 2016)


36

S/ -

Nyeri (+)
Bengkak (-)
Mual & Muntah (-)
Demam (-)

O/ - Tekanan Darah : 120/80


-

Nadi
Nafas
Suhu

: 84 x/i
: 22 x/i
: 36,8 C

A/ Fraktur Tertutup Distal Radius Ulna sinistra


P/ Rontgen Tulang

Foto Ulang Post Orif, Plate dan Screw terpasang baik

BAB IV
DISKUSI

37

Pada tanggal 31 mei 2016 pasien mengalami kecelakaan jatuh dari tangga saat naik
ke atas genting untuk membetulkan genting rumah pasien yang bocor pada pukul 15.00 sore
dan datang ke IGD RSAM Bukittinggi. Pasien terjatuh karena tergelincir saat menaiki
tangga kayu, pasien terjatuh dari tangga dengan ketinggian 2 meter, dengan posisi tubuh
miring ke kiri dengan tangan kiri pasien menahan tubuh pasien dan dengan telapak tangan
yang terbuka. Pasien merasakan nyeri pada lengan kiri bawah pasien, bengkak, berdarah,
dan tidak mampu digerakan karena nyeri. Riwayat kepala terbentur (-), riwayat pingsan (-),
mual (-), muntah (-),nyeri perut (-), nyeri dada (-), sesak napas (-). Setelah jatuh terjadi luka
lengan kiri bawah, bengkak pada lengan kiri bawah (+), jari-jari masih dapat digerakkan.
Pada pemeriksaan TTV didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg , nadi 84 x/ mnt, reguler,
RR 22 x / mnt , suhu 36.5 C, SPO 2 98 %. Pada pemeriksaan status lokalis didapatkan
edema, hematom, shortening, angulasi, pada lengan kiri bawah dan gambaran Fraktur 1/3
Distal Radius Ulna Sinistra Displace (Fraktur Colles). ROM terbatas karena adanya nyeri.
Pada Pemeriksaan rontgen, tampak fraktur tertutup radius ulna sinistra.
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka
diagnosa pasien ini adalah fraktur tertutup distal radius ulna sinistra. Tindakan yang akan
dilakukan adalah ORIF

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidayat.R.. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed.2. Jakarta. EGC : 2004
38

2. Apley. Alan Graham ,

Solomon. Louis. Apley's System of Orthopaedics and

Fractures. Butterworth-Heinemann,
3. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Malang : Yarsif Watampone:
2003
4. Nelson. David L .Distal Fractures of the Radius. Access from www.emedicine.com.
On 28 july 2011
5. Dios.RR. Distal Radial Fracture Imaging.. Access from www.emedicine.com. On 28
july 2011
6. Mansjoer,

A,.

Kapita

Selekta

Aesculapius.Jakarta : 2000
7. Hoynak. Bryan.C. Wrist

Kedokteran.

Fracture

in

Edisi

Emergency

III.

Jilid

II.

Media

Medicine. Access

from

www.emedicine.com. On 29 july 2011


8. Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes Radiologi.
Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221-230.
9. Sjamsuhidayat R., dan de Jong Wim. Patah Tuland dan Dislokasi dalam: Buku Ajar
Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2005. Hal 840854.
10. Bone

Healing,

Komlpikasi

dan

Prognosis

Fraktur.

Diunduh

dari:

http://www.wrongdiagnosis.com/f/fracture/prognosis.html
11. Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For Primary
Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116-119.
12. Weblog
Heris.
Fraktur
dan
Fraktur
Radius
Ulna.

Diunduh

dari:http://heriblog.wordpress.com/page/2/.
13. Begg James D., The Upper Limb in : Accident and Emergency X-Rays Made
Easy. Publisher Churchill Livingstone. UK. 2005. Page 162-167.
14. Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For Primary
Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116-119.
15. Kune Wong Siew, Peh Wilfred C. G., Trauma Ekstremitas dalam : Corr Peter.
Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
2011. Hal 97-107.
16. Rasjad, C. Trauma Pada Tulang dalam : Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi
Ketiga. Penerbit Yarsif Watampone. Jakarta. 2007. Hal 374-377.
17. Puts R and Pabst R.. Ekstremitas Atas dalam: Atlas Anatomi Manusia Sobotta.
Edisi 22. Penerbit Buku Kedokteran EGC Jilid 1. Jakarta. 2006. Hal 158, 166, 167,
dan 169.

39

18. Carter Michel A., Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam: Price Sylvia A,
Wilson Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal 1357-1359.

40