Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang biasanya disertai
dengan luka sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon, kerusakan pembuluh
darah, dan luka organ-organ tubuh dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer,
2001).
Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dalam taraf
halusinasi menuju industrialisasi tentunya akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi
masyarakat /mobilitas masyarakat yang meningkat otomatisasi terjadi peningkatan
penggunaan alat-alat transportasi /kendaraan bermotor khususnya bagi masyarakat yang
tinggal diperkotaan. Sehingga menambah kesemrawutan arus lalu lintas. Arus lalu
lintas yang tidak teratur dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya kecelakaan
kendaraan bermotor. Kecelakaan tersebut sering kali menyebabkan cidera tulang atau
disebut fraktur.
Menurut Smeltzer (2001 : 2357) fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang
dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
Berdasarkan data dari rekam medik RS Fatmawati di ruang Orthopedi periode
Januari 2005 s/d Juli 2005 berjumlah 323 yang mengalami gangguan muskuloskletel,
termasuk yang mengalami fraktur Tibia Fibula berjumlah 31 orang (5,59%).
Penanganan segera pada klien yang dicurigai terjadinya fraktur adalah dengan
mengimobilisasi bagian fraktur adalah salah satu metode mobilisasi fraktur adalah
fiksasi Interna melalui operasi Orif (Smeltzer, 2001 : 2361). Penanganan tersebut
dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi umumnya oleh akibat
tiga fraktur utama yaitu penekanan lokal, traksi yang berlebihan dan infeksi (Rasjad,
1998 : 363).
Cruris berasal dari bahasa latin crus atau cruca yang berarti tungkai bawah yang
terdiri dari tulang tibia dan fibula (Ahmad Ramali, 1987). 1/3 distal adalah tulang dibagi
menjadi tiga bagian kemudian bagian paling bawah yang diambil.
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula (Brunner & Suddart, 2000).
1.2 Tujuan
Case Report ini dibuat untuk memenuhi Tugas Ujian Kepaniteraaan Klinik di RS

Achmad Mochtar Bukittinggi, dan juga sebagai bahan pengayaan materi agar
mahasiswa mengetahui dan memahami lebih jauh tentang Fraktur Cruris

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI
Regio Cruris
Regio cruris terletak di tungkai bawah dan terdiri dari 2 tulang yaitu tibia dan
fibula. Fascia profunda membungkus tungkai bawah dan di atas menyatu dengan fascia
profunda tungkai atas. Dibawah condylus tibia, fascia melekat pada margo anterior dan
medial dari tibia, disini fascia ini akan bergabung dengan periosteum. Dua septum
intermusculorum berjalan dari aspek profundanya untuk melekat pada fibula. Septum

ini bersama dengan membrana interossea membagi tungkai bawah menjadi tiga ruang
yaitu ruang anterior, lateral dan posterior. [2]
Ruang anterior tungkai bawah berisi :
Otot

: m. tibialis anterior, m. extensor digitorum longus, m.peroneus tertius, dan

m.extensorum hallucis longus


Vascularisasi : a. tibialis anterior
Persarafan

: n.peroneus profundus

Ruang Lateral tungkai bawah berisi :


Otot

: m. peroneus longus, m. peroneus brevis

Vascularisasi : cabang a.peronea


Persarafan

: n. peroneus superficialis

Ruang Posterior tungkai bawah berisi :


Otot superficial: m.gastrognemius, m.plantaris, dan m.soleus
Otot profundus: m. popliteus, m.flexor digitorum longus, m.hallucis longus, dan m.
tibialis posterior.
Vascularisasi : a.tibialis posterior
Persarafan

: n. tibialis [2]

(Gambar.1 ruang anterior cruris)

(Gambar.2 ruang lateral cruris)

Membrana interossea adalah membrane tipis tapi kuat yang menghubungkan


margo interosseus tibia dan fibula. Kebanyakan serabut berjalan miring kebawah dan
lateral. Terdapat lubang besar dibagian atas membran untuk tempat lewatnya arteri dan
vena tibialis anterior menuju ke ruang fascia anterior tungkai bawah. Lubang kecil
terdapat pada bagian bawah membrane untuk ramus perforans arteri peronea masuk ke
ruang fascia anterior. Di distal membrane ini berhubungan dengan ligamentum
interosseus dari articulation tibiofibularis. Membrana interossea menyatukan tibia dan
fibula serta menyediakan tempat untuk perlekatan otot-otot yang ada disekitarnya.[2]

(Gambar.3 Tulang pada regio cruris)


Os Tibia
Tibia merupakan tulang medial tungkai bawah yang besar dan berfungsi
menyanggah berat badan. Tibia bersendi di atas dengan condylus femoris dan caput
fibulae, dibawah dengan talus dan ujung distal fibula. Tibia mempunyai ujung atas yang
melebar dan ujung bawah yang lebih kecil. [AK]
Periosteum yang melapisi tibia agak tipis terutama pada daerah depan yang
hanya dilapisi kulit, sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya
bergeser. Karena berada langsung dibawah kulit sering ditemukan juga fraktur terbuka.
[3]

Os Fibula
Fibula adalah tulang lateral tungkai bawah yang langsing. Tulang ini tidak ikut
berartikulasi pada artikulatio genus, tetapi dibawah tulang ini membentuk malleolus
lateralis dari artikulatio talocruralis. Tulang ini tidak berperan dalam menyalurkan berat

badan, tetapi merupakan tempat melekat otot-otot. Fibula mempunyai ujung atas yang
melebar, corpus dan ujung bawah.[2]
2.1.1 Fisiologi 3
Tibia atau tulang kering merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawah
dan terletak medial dari fibula atau tulang betis, tibia adalah tulang pipa dengan sebuah
batang dan dua ujung yaitu : Ujung atas yang merupakan permukaan dua dataran
permukaan persendian femur dan sendi lutut. Ujung bawah yang membuat sendi dengan
tiga tulang, yaitu femur fibula dan talus.
Fibula atau tulang betis adalah tulang sebelah lateral tungkai bawah, tulang ini
adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung. Fungsi Tulang:
1) Memberi kekuatan pada kerangka tubuh.
2) Tempat melekatnya otot.
3) Melindungi organ penting.
4) Tempat pembuatan sel darah.
5) Tempat penyimpanan garam mineral.
2.1.2 Patofisiologi
Fraktur paling sering disebabkan oleh trauma. Hantaman yang keras akibat
kecelakaan yang mengenai tulang akan mengakibatkan tulang menjadi patah dan
fragmen tulang tidak beraturan atau terjadi discontinuitas di tulang tersebut.3
Ketika patah tulang, terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum
tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut terjadi perdarahan, kerusakan tulang
dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medul antara
tepi tulang bawah periostrium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur.
Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik ditandai dengan fase
vasodilatasi dari plasma dan leukosit, ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai
melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cedera, tahap ini menunjukkan
tahap awal penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk biasa menyebabkan
peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan
lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai
organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga
meningkatkan tekanan kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler,

kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskemik dan menyebabkan protein
plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema
yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa
menyebabkan syndrom comportement.4
Pada fraktur tibia dan fibula lebih sering terjadi dibanding fraktur batang tulang
panjang lainnya karena periost yang melapisi tibia agak tipis, terutama pada daerah
depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan karena berada
langsung di bawah kulit maka sering ditemukan adanya fraktur terbuka.
Fraktur dapat diseba kan oleh :5
a. Trauma
1) Trauma langsung : benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut
2) Trauma tidak langsung : titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan
3) Trauma karena tarikan otot yang kuat
b.Patologis
Fraktur disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang,
dll.
c. Degenerasi
Terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri (usia lanjut)
d.Spontan

Tibia kurang dilindungi oleh jaringan lunak sehingga sangat mudah terjadi
fraktur akibat adanya trauma eksternal, dan seringkali terjadi open fraktur

Pada fraktur terbuka, biasanya terjadi fraktur obliq atau spiral, sedangkan pada
fraktur tertutup sering terjadi fraktur transversal

Ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh darah di bagian korteks, sumsum
tulang dan jaringan lunak didekatnya (otot) cidera pembuluh darah ini merupakan
keadaan derajat yang memerlukan pembedahan segera sebab dapat menimbulkan syok
hipovolemik. Pendarahan yang terakumulasi menimbulkan pembengkakan jaringan
sekitar daerah cidera yang apabila di tekan atau di gerakan dapat timbul rasa nyeri yang
hebat yang mengakibatkn syok neurogenik. (Mansjoer Arief, 2002)
Sedangkan kerusakan pada system persyarafan akan menimbulkan kehilangan
sensasi yang dapat berakibat paralysis yang menetap pada fraktur juga terjadi

keterbatasan gerak oleh karena fungsi pada daerah cidera. Sewaktu tulang patah
pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah, kedalam jaringan lemak tulang
tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi perdarahan
biasanya timbul hebat setelah fraktur.
Sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah
ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa sisa sel mati di mulai. Di tempat
patah terdapat fibrin hematoma fraktur dan berfungsi sebagai jala-jala untuk
membentukan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru
umatur yg disebut callus.Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tuulang baru mengalmi
remodelling untuk membentuk tulang sejati. (Mansjoer Arief, 2002)
2.2 Definisi
Fraktur Cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikena
stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 1800).
2.3 Epidemiologi
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat di tahun 2011 terdapat lebih dari 5,6
juta orang meninggal karena insiden kecelakaan dan sekitar 1,3 juta orang mengalami
kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi
yaitu insiden fraktur ekstremitas bawah, sekitar 40% dari insiden kecelakaan yang
terjadi. Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi diintegritas pada tulang.
Penyebab terbanyaknya adalah insiden kecelakaan tetapi faktor lain seperti proses
degenerative dan osteoporosis juga dapat berpengaru terjadinya fraktur.
2.4 Klasifikasi Fraktur
1. Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi menjadi :
a. Fraktur complete, dimana tulang patah terbagi menjadi dua bagian
(fragmen) atau lebih,
b. Fraktur incomplete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi :
1) Fissure/Crack/Hairline, tulang terputus seluruhnya tetapi masih di
tempat, biasa terjadi di tulang pipih.
2) Greenstick Fracture, biasa terjadi pada anak-anak dan pada os.
radius, ulna, clavikula dan costae.
3) Buckle Fracture, fraktur dimana korteksnya melipat ke dalam.

2. Berdasarkan garis patah atau konfigurasi tulang:


a. Transversal, garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-1000 dari
b.

sumbu tulang)
Oblik, garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80 0 atau >1000 dari

sumbu tulang)
c. Longitudinal, garis patah mengikuti sumbu tulang
d. Spiral, garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih
e. Comminuted, terdapat dua atau lebih garis fraktur.
3. Berdasarkan hubungan antar fragman fraktur :
a. Undisplace, fragment tulang fraktur masih terdapat pada tempat
anatomisnya
b. Displace, fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya,
terbagi atas :
1) Shifted Sideways, menggeser ke samping tapi dekat
2) Angulated, membentuk sudut tertentu
3) Rotated, memutar
4) Distracted, saling menjauh karena ada interposisi
5) Overriding, garis fraktur tumpang tindih
6) Impacted, satu fragmen masuk ke fragmen yang lain.
4. Secara umum berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur
dengan dunia luar, fraktur juga dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Fraktur tertutup, apabila kulit diatas tulang yang fraktur masih utuh
b. Fraktur terbuka, apabila kulit diatasnya tertembus dan terdapat luka
yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan dunia luar yang
memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke
tulang sehingga cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi.
fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat, yaitu :
1) Derajat I
a) luka kurang dari 1 cm
b) kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk
c) fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.
d) Kontaminasi ringan
2) Derajat II

a) Laserasi lebih dari 1 cm


b) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse
3) Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur
kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.
2.5 Etiologi Fraktur
Penyebab fraktur diantaranya (Apley, G.A. 1995 : 840):
1. Trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat
yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak
disekitarnya. jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi
fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan
lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada. Fraktur karena trauma dapat dibagi
menjadi 2 yaitu:
a. Trauma langsung. Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat
tersebut.
b. Trauma tidak langsung. Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan.
2. Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses
pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase
atau osteoporosis.
3. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang juga bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut
tidak mampu mengabsorpsi energi atau kekuatan yang menimpanya.
4. Spontan . Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.
5. Fraktur tibia dan fibula yang terjadi akibat pukulan langsung, jatuh dengan
kaki dalam posisi fleksi atau gerakan memuntir yang keras.
6. Fraktur tibia dan fibula secara umum akibat dari pemutaran pergelangan kaki
yang kuat dan sering dikait dengan gangguan kesejajaran.
(Apley, G.A. 1995 : 840)
Manifestasi Klinis Fraktur
1. Deformitas

10

2. Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang brrpindah dari


tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti :
a. Rotasi pemendekan tulang
b. Penekanan tulang
3. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah
4.
5.
6.
7.

dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur


Echumosis dan perdarahan subculaneus
Spasme otot spasme involunters dekat fraktur.
Tendernes
Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya

dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan


8. Kehilangan sensasi (Mati rasa, munkin terjadi dari rusaknya saraf /
perdarahan)
9. Pergerakan abnormal
10. Syock hipovolemik dari hilangnya darah
11. Krepitasi

2.6 Penatalaksanaan
1. Selama imobilisasi
Tujuan fisioterapi selama imobilisasi adalah:
a.

Mengurangi edema. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya

pembentukan adhesi dan juga dapat membantu menurunkan rasa nyeri


b. Membantu menjaga sirkulasi.Latihan aktif yang giat pada ankle, jari-jari
kaki, gluteus dan hamstring memainkan peranan penting dalam
meningkatkan sirkulasi seluruh anggota badan dan juga memudahkan
early healing pada area yang mengalami luka.
c. Memelihara fungsi otot dengan kontraksi aktif/statis
d. Memelihara jarak sendi (Range of motion) yang possible
e. Memberikan edukasi pada pasien bagaimana cara menggunakan alat
khusus
2. Setelah pelepasan fiksasi
Tujuan fisioterapi setelah pelepasan fiksasi adalah:
a. Untuk mengurangi pembengkakan. Bengkak tidak akan menjadi masalah
yang besar jika latihan dan aktivitas secara umum di perhatikan selama
periode imobilisasi. Hal ini dapat menjadi sebuah masalah pada tunkai
bawah jika otot ototnya sangat lemah dan kehilangan jarak sendi sebagai
faktor kedua yang akan mencegah aksi pompa adekuat pada vena.

11

b. Untuk mendapatkan kembali jarak gerak sendi. Sebelum mencoba untuk


mengembalikan jarak gerak sendi, yang berkurang, fisioterapis harus
menentukan penyebab hilangnya jarak. Hal ini seharusnya untuk
memelihara edema, adhesi atau kelemahan otot.
c. Untuk mendapatkan kembali kekuatan otot. Kekuatan otot akan
bergantung dalam memperoleh aktivitas maksimal dari otot dan
penggunaannya disetiap gerakan-gerakan utama, antagonis, fixator dan
gerakan tambahan dengan beberapa grup otot.
d. Untuk mengembalikan fungsi optimal. Sebagian besar dari kasus ini
seharusnya memungkinkan untuk mendapatkan kembali fungsi penuh
tetapi jika tidak, fisioterapis harus mengembalikan fungsi optimum, dan
besarnya pengembalian fungsi optimal ini bergantung pada komplikasi
yang menghambat pemulihan sepenuhnya.
Prinsip penanganan fraktur meliputi rekognisi, traksi, reduksi

imobilisasi dan

pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.


1. Rekognasi
Pergerakan relatif sesudah cidera dapat mengganggu suplai neurovascular
ekstremitas yang terlibat. Karena itu begitu diketahui kemungkinan fraktur
tulang panjang, maka ekstremitas yang cedera harus dipasang bidai untuk
melindunginya dari kerusakan yang lebih parah. Kerusakan jaringan lunak
yang nyata dapat juga dipakai sebagai petunjuk kemungkinan adanya fraktur,
dan dibutuhkan pemasangan bidai segera dan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini
khususnya harus dilakukan pada cidera tulang belakang bagian servikal, di
mana contusio dan laserasio pada wajah dan kulit kepala menunjukkan
perlunya evaluasi radiografik, yang dapat memperlihatkan fraktur tulang
belakang bagian servikal dan/atau dislokasi, serta kemungkinan diperlukannya
pembedahan untuk menstabilkannya (Smeltzer C dan B. G Bare, 2001)
2. Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk
meluruskan bentuk tulang. Ada 2 macam yaitu:
a. Skin Traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan

12

menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk,


membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera, dan
biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).
b. Skeletal traksi : adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang
yang cedera pada sendi panjang untuk mempertahankan bentuk dengan
memasukkan pins / kawat ke dalam tulang.
3. Reduksi
Dalam penatalaksanaan fraktur dengan reduksi dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Reduksi Tertutup/ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragment tulang
pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup, traksi, dapat
dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode tertentu yang dipilih
bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama.
Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur, pasien harus disiapkan untuk
menjalani prosedur dan harus diperoleh izin untuk melakukan prosedur,
dan analgetika diberikan sesuai ketentuan. Mungkin perlu dilakukan
anesthesia. Ekstremitas yang akan dimanipulasi harus ditangani dengan
lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Reduksi tertutup pada
banyak kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragment
tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan
manipulasi dan traksi manual.
b. Reduksi Terbuka/OREF (Open Reduction Eksternal Fixation)
Pada Fraktur tertentu dapat dilakukan dengan reduksi eksternal atau yang
biasa dikenal dengan OREF, biasanya dilakukan pada fraktur yang terjadi
pada tulang panjang dan fraktur fragmented. Eksternal dengan fiksasi, pin
dimasukkan melalui kulit ke dalam tulang dan dihubungkan dengan fiksasi
yang ada dibagian luar. Indikasi yang biasa dilakukan penatalaksanaan
dengan eksternal fiksasi adalah fraktur terbuka pada tulang kering yang
memerlukan perawatan untuk dressings. Tetapi dapat juga dilakukan pada
fraktur tertutup radius ulna. Eksternal fiksasi yang paling sering berhasil
adalah pada tulang dangkal tulang misalnya tibial batang.
4. Imobilisasi Fraktur
Setelah fraktur di reduksi, fragment tulang harus diimobilisasi, atau
13

dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi


penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna.
Metode fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin
dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk
fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi
fraktur.

2.7 Proses Penyambungan Tulang


1. Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di sekitar dan di dalam fraktur
(Apley, 1995). Hal ini mengakibatkan gangguan suplay darah pada tulang yang
berdekatan dengan fraktur dan mematikannya (Maurice King, 2001).
2. Proliferasi
Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel
di bawah periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus. Hematoma
yang membeku perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus
berkembang ke dalam daerah itu (Apley, 1995).
3. Pembentukan callus
Selama beberapa minggu berikutnya, periosteum dan endosteum menghasilkan
callus yang penuh dengan sel kumparan yang aktif. Dengan pergerakan yang
lembut dapat merangsang pembentukan callus pada fraktur tersebut (Maurice
King, 2001).
4. Konsolidasi
Selama stadium ini tulang mengalami penyembuhan terus-menerus. Fragmen
yang patah tetap dipertahankan oleh callus sedangkan tulang mati pada ujung
dari masing-masing fragmen dihilangkan secara perlahan, dan ujungnya
mendapat lebih banyak callus yang akhirnya menjadi tulang padat (Maurice
King, 2001). Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan
sebelum tulang cukup kuat untuk membawa beban yang normal (Apley, 1995).
5. Remodeling
Tulang yang baru terbentuk, dibentuk kembali sehingga mirip dengan struktur
normal (Appley, 1995). Semakin sering pasien menggunakan anggota

14

geraknya, semakin kuat tulang baru tersebut (Maurice King, 2001).


2.8 Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Rontgen
a. Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung
b. Mengetahui tempat atau tipe fraktur. Biasanya diambil sebelum dan
sesudah serta selama proses penyembuhan secara periodik.

2. Artelogram bila ada kerusakan vaskuler


3. Hitung darah lengkap HT mungkin terjadi (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada organ multiple).
Peningkatan jumlah SDP adalah kompensasi normal setelah fraktur.
4. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi
5.

multiple atau trauma hati.


Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan
menggunakan sinar rontgen (x-ray). Hal yang harus dibaca pada x-ray:
a. Bayangan jaringan lunak.
b. Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik

atau juga rotasi.


c. Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
d. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
6. Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:

15

a. Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang


lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan
struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada
struktur lain juga mengalaminya
b. Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh
darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma
c. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena
ruda paksa.
d. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara
transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang
rusak.
7. Pemeriksaan Laboratorium
a. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang
b. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang
c. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5),
Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.
8. Pemeriksaan lain-lain
a. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi
b. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
c. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan
fraktur.
d. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan
e. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada
tulang.
f. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
(Ignatavicius, Donna D, 1995)
2.9 Komplikasi
1. Dini
a. Compartement syndrome

16

Merupakan komlikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang,


saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh
oedem atau perdarahan yang menekan otot, saraf dan pembuluh darah.
Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips, dan embebatan yang terlalu
kuat
b. Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi di mulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam.
Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi juga bisa karena
penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat
c. Avaskuler nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau
terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan
adanya Volkmans Ischemia
d. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini
biasanya terjadi pada fraktur.
Padila, 2012 : 306)
2. Lanjut
a. Malunion: biasanya terjadi pada fraktur yang komminutiva sedang
immobilisasinya longgar, sehingga terjadi angulasi dan rotasi. Untuk
memperbaiki perlu dilakukan osteotomi.
b. Delayed union: terutama terjadi pada fraktur terbuka yang diikuti dengan
infeksi atau pada fraktur yang communitiva. Hal ini dapat diatasi dengan
operasi bonegraft alih tulang spongiosa.
c. Non union: Disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang tibia
disertai dengan infeksi. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan bone
grafting menurut cara papineau.
d. Kekakuan sendi: Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang terlalu
lama. Pada persendian kaki dan jari-jari biasanya terjadi hambatan gerak,
hal ini dapat diatasi dengan fisioterapi .
(Padila, 2012 : 306)
17

2.10 PROGNOSIS
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi
pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter pada patahan
tulang tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang, yang
disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost yang disebut
dengan fase hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan fibrosis, lalu
penyatuan klinis, dan pada akhirnya fase konsolidasi.
Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung
pada lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan fraktur:
Lokasi Fraktur
1. Pergelangan tangan
2. Fibula
3. Tibia
4. Pergelangan kaki
5. Tulang rusuk
6. Jones fracture

Masa Penyembuhan
3-4 minggu
4-6 minggu
4-6 minggu
5-8 minggu
4-5 minggu
3-5 minggu

Lokasi Fraktur
7. Kaki
8. Metatarsal
9. Metakarpal
10. Hairline
11. Jari tangan
12. Jari kaki

Masa Penyembuhan
3-4 minggu
5-6 minggu
3-4 minggu
2-4 minggu
2-3 minggu
2-4 minggu

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (>
8 minggu).
Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun
1997.
Tingkat kematian dari fraktur:

Kematian : 11.696

Insiden

0,78% rasio dari kematian per insiden11

: 1.499.999

BAB III
Laporan Kasus
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. A

Jenis Kelamin : Laki-laki


Umur

: 53 tahun

Alamat

: Lubuk basung

18

II. ANAMNESA
Keluhan Utama:
Nyeri disertai bengkak pada lengan bawah 5 jam sebelum masuk rumah sakit
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengalami kecelakaan jatuh dari tangga saat naik keatas genteng untuk
membetulkan genteng rumah yang bocor pada pukul 15.00, datang ke IGD RS Achmad
Moehtar Bukittinggi. Awalnya Pasien terjatuh karena tergelincir saat menaiki tangga
kayu, pasien terjatuh dari tangga dengan ketinggian 2 meter , dengan posisi tubuh
miring kekiri dengan tangan kiri pasien menahan tubuh pasien dan dengan telapak
tangan terbuka. Pasien merasakan nyeri pada lengan kiri bawah pasien, bengkak, dan
tidak mampu digerakkan karena nyeri. Riwayat kepala terbentur (-), nyeri dada (-),
sesak nafas (-). Setelah jatuh setelah terjatuh terjadi bengkak pada lengan bawah kiri
(+), lengan kiri sedikit lebih pendek (+), bengkok (+), dan jari-jari masih bisa digerakan
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat gangguan perdarahan (-), batuk lama, (-), sesak nafas (-), alergi obat (-)
Riwayat Penyakit Keluarga:
Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini.
Riwayat Pengobatan:
Belum pernah minum obat rutin sebelumnya
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien seorang petani memiliki seorang istri dan 4 orang anak
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Sakit Sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital
- Tekanan darah

: 130/80 mmHg

- Nadi

: 84 x / menit

- Nafas

: 22 x/ menit

- Suhu

: 36,5 C

Status Generalis

19

1. Kepala Leher
- kepala

: bentuk simetris, deformitas (-)

- mata

: konjungtiva : anemis (-). sclera : ikterus (-)

- leher

: pembesaran KGB (-)

2. Thorax

: bentuk simetris, jejas (-), sikatrik (-)

Jantung
- inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat

- palpasi

: iktus kordis tidak teraba

- perkusi

: batas jantung : kesan normal

- auskultasi

: S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)

Paru
- inspeksi

: gerakan nafas : simetris, retraksi (-)

- palpasi

: fremitus suara : simetris

- perkusi

: sonor diseluruh lapang paru

- auskultasi

: suara nafas : vesikuler, wheezing (-/-), rhonki (-/-)

3. Abdomen
- inspeksi

: distensi (-)

- palpasi

: defans muscular (-), nyeri tekan (-), hepar-lien : tidak


teraba

- perkusi

: hepar, lien redup ; usus timpani

- auskultasi

: bising usus (+) normal

4. Ekstremitas
superior

inferior

Edema

-/+

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

Sianosis

-/-

-/-

IV. STATUS LOKALIS


Antebrachii sinistra :
Look
:
Bengkak (+), Pendek (+), angulasi (+),rotasi (-), Vulnus
Feel

laceratum (-), Deformitas Dinner Fork (+)


: Nyeri tekan (+), hangat (+), pulsasi arteri radialis (+),pulsasi

20

arteri
Move

lunaris sulit dinilai, krepitasi tidak dapat dinilai

: nyeri gerak aktif (+), nyeri gerak pasif (+), Gerak jari-jari(+),
ROM terbatas karena nyeri.

Pengukuran : Acromion Processus Styloideus Radii Dextra = 55 cm


Acromion Processus Styloideus Radii Sinistra= 52 cm
Lingkar Antebrachii Distal Dextra = 16 cm
Lingkar Antebrachii Distal Sinistra = 20 cm

V. DIAGNOSA SEMENTARA :
Fraktur Tertutup Distal Radius Ulna Sinistra
VI. DIAGNOSA BANDING:
Fraktur Colles
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Haemoglobin :11, 7 g/dl
Haematokrit

: 36, 5 %

Leukosit

: 14.46 (10^3/ul)

Trombosit

: 301 (10^3/UL)

X-rays Antebrachii sinistra AP/L :

21

VIII. PENATALAKSANAAN
1. Non farmakologis :

Moinitor vital sign

Imobilisasi daerah yg sakit

Pemeriksaan lab rutin

Rencana orif plate and screws dalam GA

Puasa 6 jam sebelum OP

2. Farmakologis :

IVFD RL 20 gtt/i

Ranitidin inj 2x1

Cefotaxime inj 2x1 g iv

X. Follow Up Post ORIF ( 2 Juni 2016)


S/ -

Nyeri (+)
Bengkak (-)
Mual & Muntah (-)
Demam (-)

22

O/ - Tekanan Darah : 120/80


-

Nadi
Nafas
Suhu

: 84 x/i
: 22 x/i
: 36,8 C

A/ Fraktur Tertutup Distal Radius Ulna sinistra


P/ Rontgen Tulang

Foto Ulang Post Orif, Plate dan Screw terpasang baik

BAB IV
DISKUSI

23

Pada tanggal 31 mei 2016 pasien mengalami kecelakaan jatuh dari tangga saat
naik ke atas genting untuk membetulkan genting rumah pasien yang bocor pada pukul
15.00 sore dan datang ke IGD RSAM Bukittinggi. Pasien terjatuh karena tergelincir saat
menaiki tangga kayu, pasien terjatuh dari tangga dengan ketinggian 2 meter, dengan
posisi tubuh miring ke kiri dengan tangan kiri pasien menahan tubuh pasien dan dengan
telapak tangan yang terbuka. Pasien merasakan nyeri pada lengan kiri bawah pasien,
bengkak, berdarah, dan tidak mampu digerakan karena nyeri. Riwayat kepala terbentur
(-), riwayat pingsan (-), mual (-), muntah (-),nyeri perut (-), nyeri dada (-), sesak napas
(-). Setelah jatuh terjadi luka lengan kiri bawah, bengkak pada lengan kiri bawah (+),
jari-jari masih dapat digerakkan. Pada pemeriksaan TTV didapatkan tekanan darah
120/80 mmHg , nadi 84 x/ mnt, reguler, RR 22 x / mnt , suhu 36.5 C, SPO 2 98 %. Pada
pemeriksaan status lokalis didapatkan edema, hematom, shortening, angulasi, pada
lengan kiri bawah dan gambaran Fraktur 1/3 Distal Radius Ulna Sinistra Displace
(Fraktur Colles). ROM terbatas karena adanya nyeri. Pada Pemeriksaan rontgen, tampak
fraktur tertutup radius ulna sinistra.
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka
diagnosa pasien ini adalah fraktur tertutup distal radius ulna sinistra. Tindakan yang
akan dilakukan adalah ORIF

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidayat.R.. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed.2. Jakarta. EGC : 2004

24

2. Apley. Alan Graham , Solomon. Louis. Apley's System of Orthopaedics and


Fractures. Butterworth-Heinemann,
3. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Malang : Yarsif
Watampone: 2003
4. Nelson.

David

.Distal

Fractures

of

the

Radius.

Access

from

www.emedicine.com. On 28 july 2011


5. Dios.RR. Distal Radial Fracture Imaging.. Access from www.emedicine.com.
On 28 july 2011
6. Mansjoer, A,. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Media
Aesculapius.Jakarta : 2000
7. Hoynak. Bryan.C. Wrist Fracture in Emergency Medicine. Access from
www.emedicine.com. On 29 july 2011
8. Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R.

Lecture Notes

Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221-230.
9. Sjamsuhidayat R., dan de Jong Wim. Patah Tuland dan Dislokasi dalam: Buku
Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2005.
Hal 840-854.
10. Bone Healing,

Komlpikasi

dan

Prognosis

Fraktur. Diunduh

dari:

http://www.wrongdiagnosis.com/f/fracture/prognosis.html
11. Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For Primary
Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116-119.
12. Weblog

Heris.

Fraktur

dan

Fraktur

Radius

Ulna.

Diunduh

dari:http://heriblog.wordpress.com/page/2/.
13. Begg James D., The Upper Limb in : Accident and Emergency X-Rays Made
Easy. Publisher Churchill Livingstone. UK. 2005. Page 162-167.
14. Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For Primary
Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116-119.

25

15. Kune Wong Siew, Peh Wilfred C. G., Trauma Ekstremitas dalam : Corr Peter.
Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 2011. Hal 97-107.
16. Rasjad, C. Trauma Pada Tulang dalam : Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.
Edisi Ketiga. Penerbit Yarsif Watampone. Jakarta. 2007. Hal 374-377.
17. Puts R and Pabst R.. Ekstremitas Atas dalam: Atlas Anatomi Manusia Sobotta.
Edisi 22. Penerbit Buku Kedokteran EGC Jilid 1. Jakarta. 2006. Hal 158, 166,
167, dan 169.
18. Carter Michel A., Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam: Price Sylvia
A, Wilson Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal 13571359.

26